Zulkifli Lubis Komandan Intelijen Pertama …

Pemberontakan Peta

Setelah kira-kira dua bulan dilatih, ada penawaran khusus untuk mendapat pendidikan perwira militer. Ada beberapa ratus dites. Hanya beberapa orang yang diterima, termasuk saya. Dari Yokya hanya sekitar 4-5 orang, termasuk Kemal Id is. Saya angkatan pertama bersama Kemal dan Daan Mogot. Kalau boleh dibilang, itu sekolah akademi intelijen sebetulnya. Cuma dalam istilahnya disebut Seinen Dojo – Tempat Gemblengan Pemuda. Karena itu, kami di bawah Markas Besar Intelijen Jepang. Itulah pertama kali saya belajar intelijen, sekitar awal 1943. Saya masih berumur 19 tahun.

Kami terdiri dari dua kamar. Nihan (kamar pertama) dan Ichihan (kamar kedua). Saya bersama Kemal Idns, Yonosewoyo di Nihan. Daan Mogot masuk di Ichihan. Nihan adalah kamar yang terbaik. Baik ilmu, latihan militer, maupun sumo, Nihan tetap menang dibanding Ichihan. Selalu dapat penghargaan maupun spanduk. Dalam latihan itu, badan saya paling kecil. Tapi dalam latihan ilmu militer saya nomor satu. Saya nomor satu di Nihan, dari seluruhnya. Dalam ilmu saya jadi Mohan, jadi contoh. Saya siswa yang tidak pernah dapat tempelengan Jepang. Karena saya memang tidak rernah dilihat bersalah.

Sewaktu di Seinen Dojo Tangerang, semua instruktur itu rapi dan bersih. Dan sungguh-sungguh mengajar. Tapi sampai kita di Renseitai Bogor, di situ tentara Jepang tidak baik lagi. Karena banyak pelatih berasal dari pasukan. Mereka kotor. Bajunya lusuh. Pokoknya, gambaran waktu dulu Jepang itu terbaik, kini tidak lagi. Banyak Jepang yang rusak. Mereka mengajar sambil lalu.

Di situlah awalnya Soeprijadi tidak senang dengan Jepang. Di situ awalnya. Saya dengan Soeprijadi satu nihan di Seinen Dojo. Dia dari MOSVIA. Sewaktu di Seinen Dojo kita masih kagum melihat Jepang itu masih tinggi, tapi di Renseirai Bogor, semuanya berbalik. Jadi, hilang semangat untuk menghargai Jepang. Sejak itu Soeprijadi berubah melihat Jepang. Sejak itu pula, teman-teman, termasuk Soeprijadi, lari malam’ hari keluar pagar, mencari makanan. Saya tidak ikut. mencari makanan. Saya tidak ikut.

Dari situ awalnya, kita melihat, sewaktu di gyugun di daerah, polisi-polisi bersikap kasar dengan rakyat, dalam rangka mengumpulkan beras. Karena dipaksa oleh Jepang Sipil Kalau Jepang Militer masih baik. Jepang Sipil ini. dengan menggunakan polisi, memeras rakyat. Di situ, kita lihat, banyak Peta yang membela rakyat. Seperti kejadian di Banten, kami menghadapi polisi, membela rakyat. Di Indramayu, di Banyuwangi. Sampailah Soeprijadi memberontak di Blitar, 14 Februari 1945. Karena dia melihat Jepang sipil memaksa rakyat menank beras, karena rakyat sudah susah. Rakyat sudah berpakaian kulit kayu. Rakyat ditekan, melalui Romusha, dan lain-lain. Di situ memuncak antipati Soeprijadi. Timbullah semangat untuk mengatur pemberontakan.

Saya melihat perubahan sikap Soeprijadi ini sejak di Bogor itu. Dia melihat sikap Jepang sudah berubah. Soeprijadi bilang sama saya, “Kalau begini, ya, Jepang sama saja. Tidak bisa kita harapkan.” Hubungan kami dekat sekali sewaktu di Bogor. Soeprijadi sebenarnya pendiam, seperti waktu di Semen Dojo Tangerang. Tapi waktu di Bogor, dia banyak bicara, “Ah, Jepang itu tidak bisa kita percaya,” kata Soeprijadi.

Saya sendin dibawa oleh Rokugawa (bekas taicho komandan – komidi seinen Dojo) pertengahan tahun 1944 ke Malaysia. Sewaktu pemberontakan Soeprijadi – Peristiwa Soeprijadi di Blitar (Februari 1945) – saya berada di Malaysia. Saya dipanggil Rokugawa, karena saya satu hang (kamar) dengan Soeprijadi. Tapi karena Rokugawa sayang pada saya, saya tidak sampai ditahan. Tapi Kemal sempat dipanggil Kempeitai, termasuk Daan Mogot, teman-teman Soeprijadi. Kempeitai takut kami ini terbawa-bawa oleh Soeprijadi. Kemal di suruh tegak di kantor Kempeitai Jepang di Menhankam sekarang ini.

Bersama-sama Rokugawa saya ke Singapura naik pesawat pemburu. Di Singapura itu, saya berjumpa dengan seorang perwira Jepang, Mayor Ogi. Wajahnya seperti orang Barat. Dia bisa bahasa Prancis. Dia dipersiapkan untuk aktivitas intelijen di Vietnam. Saya tidur satu kamar dengannya. Melalui dia, Jepang berhasil menguasai Vietnam tanpa melalui perang. Sebulan kemudian, dia kembali. Dan berhasil. Tentara Prancis menyerah melalui psywar.

Dari Mayor Ogi itu saya mendapat pelajaran, bagaimana caranya di negara asing dapat mempengaruhi komandan musuh sedemikian rupa, sampai bisa menyerah, tanpa melalui pertempuran. Saya sebagai pembantu Rokugawa. Saya satu-satunya orang Indonesia di situ. Semua Jepang. Kami berdua sama-sama melapor pada komandan tentara Jepang untuk wilayah Asia Tenggara di Singapura itu. Di situlah saya pertama kali diperkenalkan dengan Fujiwara Kikan (Badan rahasia Jepang untuk Asia Tenggara). Semuanya serba rahasia.

Mayor Ogi bercerita pada saya, bagaimana dia masuk ke Vietnam sampai komandan tentara Prancis di Vietnam itu menyerah. Ogi, tentu saja melalui agen-agennya bisa masuk sampai ketemu dengan Panglima Prancis itu. Tentu saja mereka kaget. Di situ Ogi cerita supaya tentara Prancis menyerah saja, daripada celaka. Akhirnya Vietnam menyerah pada Jepang.

Dari Singapura, saya naik kereta api ke Kuala Lumpur. Di situ banyak sekali tentara Jepang yang mau dikirim ke Birma. Gerakan Bawah Tanah di Burma juga kuat melawan Jepang. Di Kuala Lumpur, Malaysia, gerakan bawah tanah Cina juga kuat. Sambil berjalan di Kuala Lumpur itulah, Rokugawa mengajar saya dalam intelijen. Misalnya, bagaimana caranya mengetahui jumlah penduduk dalam satu kota. Lalu bagaimana mengetahui rakyat itu anti atau pro dengan Jepang. Setiap sore saya kembali dan melapor pada Rokugawa. Olehnya, saya dilatih baik teori dan praktek intelijen.

Baik di Singapura, Kuala Lumpur. dan Malaka (sekarang Penang), saya disuruh meneliti keadaan masyarakatnya, jumlahnya, intelektual masyarakat. Itu ada kunci-kuncinya. Ada rumus-rumusnya. Saya diajari gerak intelijen di lapangan dari segi informasi. Misalnya, sebagai orang asing, kita mengetahui kira-kira jumlah penduduk tanpa melalui kantor statistik. Saya bisa tahu.

Di Kuala Lumpur itu, saya mendapat tambahan ilmu tuntunan intelijen di masyarakat dari Rokugawa, maupun pengalaman orientasi intehJen kenegaraan di Vietnam yang diberikan oleh Mayor Ogi di Singapura. Saya masuk ke kampung-kampung. Ketemu guru, tanya. Jadi, misalnya, untuk mengetahui jumlah penduduk suatu kota, kita lihat saja berapa sekolahnya. Saya tanya gurunya, berapa muridnya, umurnya berapa. Dari sini bisa dipersentasi, kira-kira berapa penduduk kota tersebut. Saya juga naik becak, tanya bagaimana pandangan masyarakat terhadap Jepang atau Cina. Susahkah kehidupan mereka. Pelajaran itu dalam bahasa Jepang disebut Ippan Joho – pemberitaan intelijen umum.

Awal Pembentukan Intelijen

Setelah Jepang menyerah, saya ditahan pergi oleh A.K.Gani supaya bertahan di Palembang saja. Saya bilang pada A.K. Gani, pusat pergerakan itu di Jawa, dan teman-teman saya banyak di sana. Dia tidak setuju. Tapi saya tidak ambil perhatian. Saya tetap ke Jawa.

Saya lalu ke Jakarta, bertemu dengan Kemal dan Daan Mogot. Juga jumpa dengan pihak-pihak Jepang yang saya kenal, Yanagawa, Yamazaki. Di situlah saya mempersiapkan untuk membentuk suatu Intelijen Awal. Saya anggap, setiap gerakan apa pun, intelijen itu penting, harus ada.

Istilahnya waktu itu, mudah sekali, kita sebut Badan Istimewa. Di mana mesti tempelannya? Waktu itu dibentuk BKR Pusat yang dipimpin oleh Kafrawi, bekas daidancho dan pembantunya, Arifin, bekas shodancho. Saya bertemu dengan keduanya, kebetulan saya kenal. Waktu itu, BKR (Badan Keselamatan Rakyat) masih di bawah KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang diketuai Kasman Singodimedja dengan wakilnya Latuharhary.

Saya merekrut kebanyakan dari gyugun. Markasnya waktu itu masih di gedung juang Jalan Pejambon. Di samping itu, juga ada di Lapangan Banteng, tempat bekas Mahkamah Agung, bersama-sama BKR Pusat. Pembentukan pertama kali, termasuk almarhum Sunarjo, Djatikusumo sempat ikut sebentar, Juwahir dari Semarang, ya ada kira-kira 40 orang dari bekas perwira gyugun dari seluruh Jawa. Saya tidak ingat tanggal pembentukannya. Yang jelas, kira-kira sesudah 17 Agustus 1945, sebelum 5 Oktober 1945. Lalu saya didik sekitar seminggu untuk aplikasi intelijen, terutama untuk informasi, sabotase, dan psywar. Bukan aplikasi teori. Mereka saya rekrutmelalui alamat yang saya tahu, lalu dipanggil melalui BKR. Tempat latihannya di Pasar Ikan, asrama pelayaran yang saya pinjam melalui almarhum Untoro Kusmarjo dan Suryadi.

Dari situlah kemudian dibentuk organisasi yang bercabang-cabang. Cabang di seluruh residensi, di seluruh Jawa. Pemimpinnya adalah yang ikut latihan itu. Mereka harus berhubungan baik dengan BKR setempat serta organisasi perjuangan setempat. Arahnya waktu itu, selain untuk mengumpulkan informasi dari pihak musuh dan dari luar, juga mengadakan psywar.

Sementara saya terus membentuk sel-sel, saya juga membentuk pendidikan intelijen, tak lama kemudian Amir Sjarifuddin pindah ke Yogya dan Moestopo tidak lagi jadi menteri pertahanan, dia kembali ke Yogya. Karena PMC itu ruangnya dianggap terlalu sempit, lalu diprakarsai oleh Moestopo, mula-mula, saya menghadap Presiden Sukarno, bertemu dengan Amir Sjarifuddin, Pak Dirman yang sudah terpilih sebagai panglima besar, lalu dibentuklah badan Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani). Bagian dari Brani, dibentuk FP (Field Preperation). Saya ketuanya. Sebelumnya, PMC dibubarkan. Itu, kalau tak salah, sekitar April 1946. Yang bertugas di lapangan adalah FP, yang dibentuk di daerah-daerah.

Sewaktu masih PMC, tugas utama selain menghadapi musuh juga mengembangkan arti Republik Indonesia. Lalu kita kirim ekspedisi ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, pada akhir tahun 1945.

Kahar Muzakkar sendiri dulu datang pada saya untuk mengembangkan pasukan di daerah, di seberang. Lalu saya tanya, orangnya dari mana. Dia bilang, diambil dari Nusakambangan. Kemudian, penjahat berat itu, termasuk yang dari Sulawesi Selatan, orang Bugis maupun dari Timor, direkrut. Ada ratusan orang yang dia bawa. Lalu mereka dibawa ke Pingit, di barat Yogya, untuk dilatih beberapa bulan. Sementara itu, oleh Bung Amir dibentuk Biro Perjuangan. Kahar Muzakar beralih ke Biro Perjuangan. Sungguhpun saya tidak begitu setuju, saya anggap Biro Perjuangan seperti di Surabaya itu tidak akan terkendali dengan baik. Tapi karena Kahar Muzakkar menghendaki, ya saya iyakan.

Memang, kami juga menyelundupkan senjata dari Singapura, tapi sedikit. Itu dilakukan oleh organisasi kami di Sumatera yang ada di Kuala Enoh atau Kuala Tungkal. Penyelundupan itu untuk membantu operasi.di Kalimantan yang di bawah pimpinan Mulyono. Termasuk di dalamnya Cilik Riwut. Jadi, boleh dikatakan, organ intelijenlah yang pertama mengembangkan secara riil beroperasi ke seluruh Indonesia. Ada juga yang tertangkap. Saya juga mengirimkan dua kapal ke Maluku dari Tegal. Satu kapal tertangkap, satu lolos. Pimpinannya Ibrahim Saleh, yang panggilannya Bram, yang kemudian ikut dengan saya. Keponakan Latuharhary juga ikut.

Sedangkan Bambang Sunarjo (kini masih bekerja di majalah TEMPO – Red.) juga ikut operasi intelijen semacam itu. Bambang Sunarjo dikirim ke Bali, bersama Yasin. Kelompok mereka tidak tertangkap. Kalau yang ke Maluku itu sebagian memang tertangkap. Sedangkan yang ke Sulawesi, dipimpin Warsito, tidak tertangkap. Kelompok Warsito, di dalamnya termasuk Wolter Mongisidi, ikut orang saya. Maksud saya mengirimkan orang-orang ke seluruh Indonesia itu memang untuk membangkitkan pemberontakan terhadap kolonial. Dan itu tidak diharapkan untuk menang.

Intelijen itu dasarnya, kesatu, dia harus obyektif, kedua. harus pandai menilai suatu benta, untuk mencari obyektivitas, ketiga, harus memberitakan apa adanya. Tidak boleh disimpan. Tapi jangan lupa dengan nilai. Sesudah itu, kita harus security minded, dan intelijen itu harus tanpa pamrih. Total abdi mutlak. TNI masih bisa dapat bintang, naik pangkat, kalau mati masih bisa dimakamkan di makam pahlawan. Kalau intelijen, tidak boleh begitu. Dia harus betul-betul mengabdi, semata-mata untuk negara dan orang banyak.

Waktu di FP atau Brani, saya kebanyakan menggunakan pelajar. Selain itu, juga bekas dari Seinen Dojo atau Yugekki. Yugekki ini suatu kumpulan gerilya di Salatiga. Jadi, semacam pasukan gerilya, tapi lebih bersifat politis. Termasuk di dalamnya Bambang Supeno di Malang, Kusno Wibowo. Jadi, seperti Dirgo, Sakri, Suprapto bekas gubernur, Tjokropranolo, itu bekas Yugekki. Mereka banyak ikut dengan saya.

Mereka direkrut tanpa klasifikasi. Hanya dilihat sekolahnya, lalu dilatih. Semuanya pada awalnya dididik di Pingit. Semua. Pada waktu itu, kita bisa membentuknya di seluruh Jawa ini sedemikian rupa seperti jaringan laba-laba. Ya, semacam pembelahan sel. Jadi, semua gerakan kita ketahui. Makanya, PKI tidak senang pada saya. Sebab itu, diakali untuk dibubarkan, ataupun saya ditempatkan di bawah. Waktu pembentukan Kementerian Pertahanan Bagian V (KP V), saya di bawah. Kepalanya Abdulrahman.

Karena mereka tidak bisa menguasai saya, FP dan Brani dibubarkan. Sementara itu, Bung Amir sudah punya alat sendiri, yakni Badan Pertahanan B, di bawah pimpinan. kalau tak salah, Sukardiman bekas komisaris polisi. Dalam rangka konsolidasi politik Bung Amir, Badan Pertahanan B ini dibubarkan, Brani juga dibubarkan, kemudian dijadikan satu. Langsung di bawah Kementerian Pertahanan. Waktu itu Bagian V (KP V), jadi langsung di bawah Amir Sjarifuddin, sebagai menteri pertahanan. Saya jadi wakil Abdulrahman. Di situ ikut orang-orang PKI, seperti Fatkur, Tjugito. Jadi, saya mengalami beberapa kali pembubaran. Ada yang karena kebutuhan organisasi, tapi ada juga karena politis, karena orang tidak bisa menguasai saya.

Sewaktu FP dan Brani, itu memang langsung di bawah Bung Karno, lalu saya dipisahkan dari Bung Karno, oleh Amir Sjarifuddin. Memang, pada saat itu, saya salah satu pejabat yang bisa langsung melapor pada Bung Karno di kamar tidurnya. Jadi, karena itulah saya dicegah ketemu dengan dia. Selain secara organisasi saya tidak ada hubungan dengan Bung Karno lagi, saya selalu dicegah ke istana. Saya tidak bisa semudah dulu lagi. Karena ada Sugandhi. Gandhi MKGR itu. Dia itu aliran kiri, dari kelompok sosial Mahameru. Sugandhi jadi ajudan II Bung Karno. Ajudan I Moerahardjo. Pokoknya, di antara dua orang itu. Pak Moerahardjo, itu saya yang memasukkan. Karena itu, Gandhi tak menyokong saya kalau mau ketemu Bung Karno. Gandhi tak menentang saya, tapi ada bawaan-bawaan lain. Jadi, Brani dibubarkan dijadikan KP V yang di bawah Amir Sjarifuddin. Kepalanya Abdulrahman, dia orang komunis, bekas angkatan laut, dari Australia. Sebagai wakil, saya memegang bagian eksekutif.

Pada saya diperbantukan Fatkur dan ada lagi orang tua. tapi saya lupa namanya, dia komunis. Di situ saya tahu praktek-praktek PKI. Bagaimana cara PKI menghantam lawan politiknya, dengan tidak memakai kekuatan sendiri. Pinjam kekuatan lain untuk menghantam lawannya. Kalau mau dibilang, laporan tentang Sukiman – Masyumi toh lawannya – bertubi-tubi kepada saya. Tapi saya cek, tidak betul. Itu terus-menerus, tidak habis-habisnya buat laporan, sungguhpun laporannya tidak betul. Itulah cara PKI.

Akibat Renville, Bung Amir tidak jadi perdana menteri. Kabinet jatuh pada Bung Hatta. Lalu ada Re-Ra dan ada Undang-Undang Pertahanan. Maka, bubarlah KP V itu. Dibentuk SUAD-I. Saya ditunjuk jadi kepalanya, merangkap sebagai kepala MBKD-I. Di situlah saya ketemu dengan Nasution yang sebagai Panglima PTTD (Panglima Tentara Teritorium Djawa). Waktu itu, Kepala Staf Angkatan Darat dipegang Djatikusumo. Waktu Re-Ra itu, semua diturunkan pangkatnya satu tingkat. Saya jadi letnan kolonel.

Selesai Agresi II, MBKD-I dipindahkan ke Kementerian Pertahanan. Menjadi intelijen Kementerian Pertahanan. Sifatnya agak tertutup. Kalau ke luar, kami memakai nama Biro Redaksi. Kalau ke dalam, namanya IKP (Intelijen Kementerian Pertahanan), di bawah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dengan kepala stafnya Simatupang. Markasnya ya di Jalan Merdeka Barat itu. Itu tahun 1950. Hingga sampai timbul Peristiwa 17 Oktober 1952.

Yoga Sugama sendiri mula pertama ikut dengan saya sejak Re-Ra pertama di Yogya di KP V, lalu di SUAD I. Sedang Sutopo Yuwono, sebelum itu, sudah ikut saya sejak PMC. Kalau Aswismarmo, ikut saya sama-sama dengan Sutopo Yuwono.

Sampai tanun 1950-an pendidikan masih bersifat aplikasi intelijen, untuk lapangan. Sesudah itu baru diadakan pendidikan tersendiri, semacam advanced course bagi tenaga-tenaga yang sudah berpengalaman, termasuk Karno Hadiwibowo. Pendidikannya di Kaliurang, Yogya. Jadi, bagi yang sudah berpengalaman dan punya jabatan di intelijen, itu dididik di Kaliurang, berganti-ganti, liching per lichting. Sesudah itu ada lanjutannya, berupa pendidikan kader khusus. Yakni kader intelijen yang utuh. Itu tidak banyak, ada sekitar 12 orang.

Pendidikan itu tidak memakai tenaga dari luar negen. Saya memperdalam intelijen sendiri. Dengan adanya badan pendidikan itu, saya punya kesempatan mempelajan bermacam-macam buku. Malah saya mempersiapkan intelijen itu sebagai ilmu tersendiri. Tapi tak sampai demikian, lalu bubar setelah peristiwa 17 Oktober 1952 itu. Waktu mau dibubarkan itu, saya mendatangi Simatupang. “Semua boleh bubar, asal pendidikan ini jangan,” kata saya. Tapi dibubarkan juga. Ya, sejak itu saya tidak aktif lagi di intelijen. Setelah jadi buron, lalu jadi Wa-KSAD itu. Intelijen lalu dipegang orang lain.

Laman: 1 2 3 4

15 respons untuk ‘Zulkifli Lubis Komandan Intelijen Pertama …

Add yours

  1. kang cepot, kalo yg beginian emang ok bgt.. dulu pernah teman bertanya dalam diskusi “apakah PRRI di Sumatera Barat kelanjutan dari PDRI (pemerintahan darurat ketika ibukota negara Jogja jatuh ke tangan NICA) mohon maaf kalo salah-salah, .. mohon pencerahannya

  2. sebatas apa isi blog ini bisa dipercaya sebagai karya ilmiah. karena tanpa refremsi, isi blog ini bisa menjadi ahistoris, sebtas teks saja.

    ———————–
    Kopral Cepot : Coba teliti membacanya, kami berupaya untuk slalu menampilkan referensinya. Ingat .. blog bukan “buku” dan kami tidak menganggap ini sebagai “karya ilmiah” tapi ini “karya anak negeri” … Ilmiah itu di mindset bung ..
    Hatur tararengkyu 😉

    1. kisah ini menemui kecocokan dengan buku Intel : Inside Indonesia’s Intelligence Service, karya Kenneth Conboy, yang diterjemahkan oleh Pustaka Primatama menjadi Intel:Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. Jadi, menurutku, artikel ini cukup valid

  3. hebat banget dedikasi dan loyalitas terhadap nkri….engkau pemimpin besar yg harus jd contoh bg generasi muda bangsa ini….semoga engkau tenang di pelukan bumi pertiwi dan mendapat rumah megah di haribaan ALLAH SWT….smg ‘eyang jenggot’ bahagia disana dan bisa bertemu eyang kakung prabu…kalian telah meninggalkan sejarah tinta emas utk TNI koe…majjulah seperti yg di cita2kan para pendiri2 moe terdahulu…

  4. Sejarah Bpk.Zulkifli Lubis benar sekali, disamping beliau sahabat Ayahku, saya jg pernah bertemu. Beliau orangnya sangat sederhana di klasnya, kalau dibanding petinggi sekarang jauh langit dan bumi. Masih banyak sejarah yg belum dibukukan atau ditulis, disamping ybs tdk mau publikasi nanti di bilang pamrih, karena pada masa orba orang2 tsb menjadi incaran krn dianggap musuh, krn pro Sukarno. Saat ini (reformasi) beliau2 sdh pada mangkat. Jadi ya doa kita semua yg bisa diberikan….karena pahlawan sejati adalah tdk dikenal dan tdk butuh apapun kecuali sumbangsehnya bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara….

    Salam
    Mustiko

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: