Secangkir Sunyi untuk Ari Pahala

Tak ada kopi untukmu, kawanku, tak ada ruang tamu.
Kau tak hadir di situ, hanya keramik angsa, boneka-boneka tua,
piring-piring cina, dan sebingkai lukisan rimba.
Kukatakan padamu, kawanku: di sini, di ruang tamu ini, aku merasa begitu sunyi.
Terkenang juga suaramu, sebentuk perlawanan pada batu-batu.
Lalu kita pun santai bercerita: tentang sajak-sajak awan dan sungai, tentang ombak yang gelisah mencapai pantai, juga kalimat cemas dalam puisi-puisi Paz.
Barangkali kita harus berjuang tanpa ideologi, tanpa senjata yang membangkitkan anarkhi.
Barangkali bukan luka yang membikin kita tidak berdaya. Barangkali hanya kilatan cahaya, hanya gelembung-gelembung udara yang mencatat perlawanan kita.
Siang ini aku merasa sedikit asing, kawanku, merasa cemas meruncing pada meja dan kursi tamu. Di luar jendela, langit tampak begitu bening, cuaca membentur dinding.
“Apa makna kebebasan bagimu? Apa makna demokrasi yang ditegakkan dengan lemparan batu?” tanyamu, suatu ketika. Lalu kita bercerita tentang teater luka, mencoba menyerap kebenaran dalam diksi-diksi Akutagawa.
Lewat teng 12 siang, aku merenungkan budaya yang hilang, atau negara yang tak pernah bisa berdaulat, mirip kisah-kisah apel yang penuh ulat.
Terkadang kita pun mencoba untuk reda, abai pada suasana, tapi di luar kita, hanya pertikaian dan hunus senjata.
“Ideologi itu, ideologi batu-batu, apa peduliku!” katamu, suatu pagi, sambil mencatat kalimat-kalimat nyeri, mencoba mengaitkan rindu pada rintik-rintik sunyi, lalu awan dan sungai-sungai dalam puisimu kehilangan dasar imagi.
Di sini, di ruang tamu yang sunyi ini, bersama secangkir kopi: aku menyesali suatu bangsa, yang tak pernah dewasa.

Kutemukan sebuah puisi dari seorang yang bernama Ahmad Yulden Erwin, sebuah puisi yang tepatnya dari kumpulan puisi saat saya menelusuri jejak-jejak para pejalan sunyi di dunia maya. Istilah pejalan sunyi saya temukan disini. Pejalan sunyi didefinisikan oleh Merry Magdalena sebagai “orang yang merasa kesepian karena jalan pikirannya tidak sama dengan kebanyakan orang di sekitarnya. Mereka terpaksa berkompromi, berpura-pura menganut pola pikiran mainstream, sependapat dengan suara mayoritas. Padahal para pejalan sunyi punya mimpi, cita-cita, idealisme yang luar biasa hebat, yang terpaksa mereka pasung”.

Sebuah puisi Merry Magdalena Iskandar yang dipersembahkan buat para pejalan sunyi, telah mendetakan asa dan pikiranku…

Aku bersua banyak sesama pejalan sunyi. Di kaki gunung, trotoar berdebu, pojokan kampung kumuh, plaza glamour, hingga warnet bising.

Pejalan sunyi berani mendesahkan bait-bait merdunya ketika bersemayam di dunia maya

Mereka muncul tanpa topeng keseharian, melalui kata, kalimat, alinea, hingga sebuah naskah yang luar biasa.

Dapat kubayangkan para pejalan sunyi itu mengetukkan jari pada keyboard komputer dengan penuh semangat, menyembulkan jati diri yang sesungguhnya.

Sebagai sesama pejalan sunyi, aku menangkap aroma kesepian itu
Dan ketika mereka semua kuperjumpakan, lagi-lagi hanya nyanyi sunyi yang diperdengarkan

Ketika seorang pejalan sunyi bersua sesama pejalan sunyi, mereka hanya saling menatap tak percaya.
Sungguhkah kau betulan ada atau hanya bersembunyi dengan topeng yang kau curi dari wajahku?
Tidakkah kau akan menelepon intel dan menyerahkanku padanya bulat-bulat?
Mereka pun hanya berdendang bisu
Tanpa sepatah kata

Pecahkan segera kesunyian itu, kawan!
Diam tak selalu berarti emas
Aku sudah budek dengan kicau teriakan otak bebal di luar sana
Suara mereka terlalu sumbang namun lantang
Aku lebih memilih berkawan dengan para pejalan sunyi
Namun, tidakkah kau sedemikian kesepian, kawan?
Ikutlah berteriak lantang denganku
Nyanyikanlah mimpi indah kita
Sampai para bebal di luar sana mati dibuatnya

Diantara Para Pejalan Sunyi

Jejak mayaku hari ini telah sampai pada sebuah website dari “para pejalan sunyi”, website “Panorama sastra kontemporer Indonesia”. Disini saya bertemu dengan Sobron Aidit, Ayar Adsa N.H, Ahmad Yulden Erwin, Nana Chang, Koekoeh Achdiat S, Jermia, Penuntun Nugraha, dan Alexander R Nainggolan. Lagi-lagi sebuah catatan dari Ahmad Yulden Edwin meluap-luapkan kepenasaranku ….

Dengan memandang sebutir embun: kumulai revolusi ini. Sungguh, ini bukan revolusi politik atau budaya, bukan revolusi yang akan meledakkan jantung manusia. Ini revolusi sunyi: seperti sebutir embun menetes lembut di daun keladi.
Sungguh, aku tak takut menyebut diriku pengecut; aku tak takut menghujat diriku penipu, bajingan hina, atau pendosa. Ini wajahku: tak ada yang musti disucikan! Mana? Mana wajah agung kalian: biarkan segenap keangkuhan, kebusukan, dan kerakusan tersingkap dari batin yang sakit dan tak sempurna.
Ini satu revolusi: jangan lari! Meski perihnya seperti tak terhingga, tapi!, inilah perlawanan sejati, revolusi yang paling sunyi: tak ada saksi di sini, tak ada penguasa atau yang dikuasai. Di sini, kita berdiri membaca kembali riwayat pribadi, jernih, bening, seperti sebutir embun di daun keladi.
Ya!, kini saatnya kita berani berkata: pandanglah, segenap pikiran kami yang penuh pretensi, ketamakan, dan intimidasi; pandanglah, segenap hati kami yang makin jauh dari nurani, terbelah dalam obsesi, dikejar siklus pemuasan diri.
Inilah kami: anjing yang menggigit ekornya sendiri, bangsa yang menjajah rakyatnya sendiri?
Tidak!, kini saatnya aku musti berkata: dengarlah, aku tak percaya keadilan itu ada, aku tak percaya kebenaran itu nyata, aku tak percaya kebebasan itu milik manusia, aku tak percaya kebaikan itu harkat setiap jiwa, aku tak percaya!, kecuali aku melihat faktanya.
Pandanglah ke dalam diri: jangan lari!, ini satu revolusi: tanpa ambisi untuk mengubah dunia, tanpa dendam atau perasaan terhina, tanpa kebencian atau salvo senjata.
Ya!, inilah revolusi cinta: revolusi sebutir embun, revolusi yang akan membersihkan tangan kotor kita. (Revolusi Sebutir Embun)

Disini saya banyak belajar tentang puisi, ekspresi, yang bukan sekedar estetika tetapi puisi yang dinamakan sebagai puisi sugesti. Puisi dengan maksud sebagai “Pengetahuan yang diberikan dalam puisi adalah pengetahuan yang memanusiakan manusia, pengetahuan yang mencerahkan kemanusiaan: apatah di dalam penderitaan atau kebahagiaan, apatah di dalam penindasan atau kemerdekaan, apatah di dalam kehidupan atau kematian”.

Maka teruslah menulis ….

Teruslah menulis,
Karena kamu sadari atau tidak,
kelak satu hari nanti,
Tulisan kamu akan berguna untuk orang lain.

Tulislah apa yg kamu lihat, kamu dengar,
kamu rasa, kamu suka, kamu alami
secara jujur dan dengan nurani yg murni.

Tulisanlah yg membuka mata yg buta,
tulisanlah yg mengajar orang yg tak tau,
tulisanlah yg memberi kesejukan hati,
tulisan jua yang memberi garis panduan hidup,
tulisanlah yg mengawali sebuah budaya
dan tulaisanlah juga yg bisa menghancurkan Dunia.

Ketika kamu bangun pagi dan yg ada difikiran kamu cuma menulis,
kelak kamu akan menjadi seorang penulis.

Hariku sudah senja,
waktuku hampir tiba,
Kuharap satu hari nanti,
aku bisa mampir ke Jogja.
Kalau takdirku ada.

Akhirnya …
Lewat teng 12 siang, aku merenungkan budaya yang hilang, atau negara yang tak pernah bisa berdaulat, mirip kisah-kisah apel yang penuh ulat.
Terkadang kita pun mencoba untuk reda, abai pada suasana, tapi di luar kita, hanya pertikaian dan hunus senjata.
“Ideologi itu, ideologi batu-batu, apa peduliku!” katamu

Kawan … aku termenung membaca bait kata-katamu…
KARENA …. HARI INI KOJA BERDARAH
Ideologi itu, ideologi batu-batu …
Amarah tumpah ruah …. bau anyir darah …. siapa yang marah ???
Api melalap hati rakyat yang sunyi…
Ideologi itu, ideologi batu-batu …
Negara sembunyi dalam pragmatisme semu
“Ah… apa peduliku!!!” katamu

Buat temen-teman di Koja-Tj.Priuk, maaf’s aku cuman bisa menonton 😦