“Detasemen khusus ini telah berhasil melakukan aksi penggerebekan dan pengejaran terhadap jaringan atau networking terorisme. Tetapi itu tadi, yang masih perlu ditingkatkan, adalah, tindakan pencegahan dini, melalui program deradikalisasi yang sudah dicanangkan ,” kata Andreas Pareira (Anggota Komisi I DPR)

Peluncuran Buku “Deradikalisasi Terorisme”

Penanganan masalah terorisme begitu kompleks sehingga memerlukan keterlibatan dan peran serta dari berbagai disiplin ilmu. Serentetan aksi teror yang marak terjadi dalam satu dasawarsa terakhir telah memacu Dr Petrus Reinhard Golose, salah seorang dosen luar biasa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, untuk menulis suatu program tentang deradikalisasi terorisme.

Program deradikalisasi terorisme sendiri merupakan salah satu program yang dinilai dapat membantu upaya pemberantasan terorisme. “Sebab, bagaikan membersihkan rumput ilalang walau sudah ditebas dan dibakar akan tumbuh kembali dengan cepat, pemberantasan terorisme harus dilakukan sampai ke akar-akarnya dan harus pastikan tidak ada yang tertinggal,” ujar Petrus dalam sambutannya di acara peluncuran buku Deradikalisasi Terorisme di Gedung F FISIP Universitas Indonesia, Depok, Kamis (20/8).

peluncuran bukuDalam program deradikalisasi, menurutnya, terdapat tiga kunci yang amat penting, yakni humanis, soul approach, dan menyentuh akar rumput. Humanis berarti upaya pemberantasan terorisme haruslah sesuai dengan upaya penegakan hak asasi manusia.

Selain itu, pemberantasan terorisme, menurutnya, harus mampu menciptakan kesejahteraan, kesetaraan, dan keadilan bagi seluruh masyarakat, bagi para tersangka, ataupun terpidana terorisme. “Soul approach artinya pemberantasan terorisme dilakukan melalui suatu komunikasi yang baik dan mendidik antara aparat penegak hukum dan para tersangka ataupun narapidana terorisme, bukan dengan cara-cara kekerasan dan intimidasi,” tuturnya.

Sementara itu, kunci terakhir, menyentuh akar rumput, adalah suatu program yang tidak hanya ditujukan kepada para tersangka ataupun terpidana terorisme, tetapi program ini juga, menurutnya, diarahkan kepada simpatisan dan anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal. “Serta menanamkan multikulturalisme kepada masyarakat luas,” katanya.

Di dalam buku yang memiliki tebal 143 halaman itu dijabarkan tentang permasalahan terorisme di Indonesia dan luar negeri.(kompas.com)

‘Eks Teroris Jangan Dibiarkan Bebas’

INILAH.COM, Depok – Para mantan terpidana teroris terbukti masih setia membantu jaringannya dalam melakukan aksi teror. Karena itu polisi disarankan untuk membiarkan eks teroris tersebut berkeliaran bebas tanpa pemantauan.

“Orang yang telah bebas karena tindakan terorisme harus diawasi bukan hanya satu tahun, tapi misalnya lima tahun,” imbuh Direktur Internasional Crisis Group Sidney Jones dalam diskusi peluncuran buku ‘Deradikalisasi Terorisme’ di FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (20/8).

Menurut dia, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah para eks teroris tersebut mengikuti program lapor dalam rentang waktu yang ditentukan pihak kepolisian. Selain itu, intelijen kepolisian juga tidak membiarkan mereka bergerak leluasa tanpa pemantauan.

“Ini penting karena mereka mungkin akan kembali lagi walau minimnya peran. Apakah mereka akan kembali pada jihad?,” tanya Sidney yang juga pengamat terorisme ini.

Ia mengatakan, untuk lebih melegalkan berbagai program tersebut, pemerintah Indonesia perlu mengeluarkan peraturan yang mengatur para eks tahanan teroris. Sementara mengenai upaya deradikalisasi terorisme, dianggap dia, agak sukar dilakukan.

“Di Indonesia membutuhkan dana yang besar untuk upaya deradikalisme,” jelas Sidney.

Deradikalisasi ala Belanda

Oleh : Endang Suryadinata *

Polisi Indonesia, khususnya tim Densus 88, terus memburu teroris pasca ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuni­ngan pada 17 Juli 2009. Meski penyergapan di Temanggung hanya menangkap Ibrohim dan bukan Noordin, itu bukan hasil yang terlalu buruk, mengingat peran Ibrohim dominan.

Dalam melawan terorisme, pendekatan senjata semata jelas tidak cukup. Seperti ditulis Tomy Su, yang mengutip Presiden SBY, terorisme adalah perang merebut hati dan pikiran (Jawa Pos, 12 Agustus 2009). Tajuk koran tersebut juga mengajak kita mencabut akar radikalisme (Jawa Pos, 11 Agustus 2009). Tentu yang dimaksudkan adalah radikalisme agama. Maklum, ada juga radikalisme politik.

Sneevliet, Perintis Radikalisme

Mencabut radikalisme agama tidak lengkap tanpa menengok ke Belanda. Apalagi, kalau membicarakan radikalisme, konon Belanda pula yang membawanya untuk kali pertama ke nusantara. Memang kalau menengok sejarah, radikalisme di Indonesia tak lepas dari sosok Hendricus J.F.M. Sneevliet yang lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883.

Pada 1914, sosok yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Surabaya itu mendirikan organisasi Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Lewat ISDV, radikalisme diperkenalkan dan direspons luas ketika itu. Maklum, ISDV bercorak komunis.

Kita tentu tahu sepak terjang komunisme di negeri ini, seperti pemberontakan 1926, 1948, dan 1965. Mereka yang mengalami tahun-tahun itu pasti bisa merasakan nuansa teror komunis.

Ada teori yang menyebutkan radikalisme Islam pertama muncul ketika Sarikat Islam (SI) yang didirikan H O.S. Cokroaminoto terpecah. Kita kenal SI kiri yang disebut SI Merah yang sangat mungkin mengadopsi ide-ide Sneevliet. Setelah SI Merah berakhir, lahir DI/TII, yaitu sebuah gerakan yang ingin mendirikan negara Islam. Yang semula jadi sasaran adalah Belanda. Mengingat Belanda hengkang dari negeri kita, kemudian gerakan itu membidik pemerintah yang dinilai bersikap tidak adil terhadap umat Islam. Meski pemberontakan DI/TII bisa dikalahkan, negeri ini selalu dibayangi radikalisme Islam.

Radikalisme itu seperti lahir lagi setelah 2001. Pasca Tragedi 11/9 atau sera­ngan teroris ke AS pada 2001, berbagai negara, termasuk Indonesia, justru direpotkan oleh munculnya jaringan terorisme global dengan membawa-bawa ajaran Islam. Menurut A.M. Hendropriyono, Al Qaidah ada di balik jaringan teroris di Indonesia. Berbagai ledakan bom dengan korban besar terjadi, mulai bom Bali I pada 2002, bom Bali II 2005, hingga bom Mega Kuningan 2009. Padahal, negeri ini lama dikenal sebagai negara yang damai, penuh toleransi, dan menjadi model dialog antaragama.

Belajar dari Belanda

Tak berbeda jauh dengan Indonesia, negara yang pernah dijajahnya, Belanda juga menghadapi ancaman radikalisme yang muncul di kalangan kaum imigran asal Maroko, Somalia, atau Timur Tengah lain. Radikalisme itu memuncak pada terbunuhnya politikus Belanda Pim Fortuijn pada 2002 dan sineas Theo van Gogh pada 2004, yang dinilai telah melecehkan Islam.

Terbunuhnya kedua sosok itu mendorong pemerintah Belanda mencari jalan untuk mengatasi radikalisme agama. Pemerintah Belanda menggandeng para pemikir dan perguruan tinggi guna menghadapi radikalisme agama. Froukje Demant merupakan peneliti radikalisme yang terkenal. Dia menyarankan agar pemerintah Belanda yang sekuler lebih terbuka untuk argumen-argumen religius dan kaum muslim moderat harus mengajak sesama muslim yang radikal masuk ke mainstream Islam yang damai. Tentu itu bukan saran yang mudah.

Dalam hal radikalisme, pemerintah Belanda juga menghargai jasa para pemikir Islam Timur Tengah yang ditampung sebagai akademisi migran di sejumlah kampus atau pusat riset di Belanda. Abdul Karim Soroush yang asal Iran, misalnya, segaris dengan iklim kebebasan Belanda dan berkontribusi dalam proses deradikalisasi kaum radikal.

Kecuali itu, pemerintah Belanda terus memantau atau melakukan supervisi atas lembaga-lembaga agama yang dianggap rentan menumbuhkan ide-ide radikal. Dinas intelijen Belanda AIVD juga selalu proaktif dalam melihat sesuatu yang berpotensi membahayakan keselamatan banyak orang.

Polisi Belanda akan menyelidiki siapa pun yang berani memuji aksi kaum radikal. Itu senada dengan yang diucapkan Ansad Mbai, mantan ketua desk antiteror kita. Dia menyayangkan sikap beberapa ustad yang justru memuji teroris yang mati sebagai martir. Ansad menambahkan, percuma polisi bekerja keras di lapangan, sementara setiap saat muncul teroris baru karena apa yang dilakukan dianggap sebagai pahlawan atau suhada.

Yang penting lagi, menurut media Belanda, salah satu kekeliruan pemerintah Indonesia adalah terlalu membiarkan atau tidak melakukan supervisi atas lembaga agama yang terbukti menyuburkan paham radikalisme.

Saran dari Belanda di atas boleh jadi tidak sepenuhnya cocok atau mujarab guna mengatasi suburnya gerakan radikalisme di tanah air. Tapi setidaknya, apa yang sudah dipaparkan bisa menjadi bahan perbandingan. Silakan dipertimbangkan pemerintah, tokoh agama, polisi, intelijen, dan siapa pun yang ingin berperan dalam membabat radikalisme.

Dengan demikian, Indonesia kembali dikenal sebagai bangsa yang toleran, menghargai perbedaan, dan bukan negeri sarang teroris yang mengagungkan kekerasan dan memuja kematian. (*)

*) Endang Suryadinata, tinggal di Belanda

KESIMPULAN

Dr Petrus Reinhard Golose dalam bukunya “Deradikalisasi Terorisme” menawarkan 3 langkah deradikalisasi terorisme, yaitu :

  • humanis berarti upaya pemberantasan terorisme haruslah sesuai dengan upaya penegakan hak asasi manusia.
  • Soul approach artinya pemberantasan terorisme dilakukan melalui suatu komunikasi yang baik dan mendidik antara aparat penegak hukum dan para tersangka ataupun narapidana terorisme, bukan dengan cara-cara kekerasan dan intimidasi,”
  • Menyentuh akar rumput, adalah suatu program yang tidak hanya ditujukan kepada para tersangka ataupun terpidana terorisme, tetapi program ini juga, menurutnya, diarahkan kepada simpatisan dan anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal. “Serta menanamkan multikulturalisme kepada masyarakat luas,”

Sementara Endang Suryadinata melansir media Belanda menyatakan bahwa salah satu kekeliruan pemerintah Indonesia adalah terlalu membiarkan atau tidak melakukan supervisi atas lembaga agama yang terbukti menyuburkan paham radikalisme.

Pendapat

Sebage Hamba yang OON berpandangan “TAK AKAN ADA ASAP KALO TAK ADA API” … Rahayat hanyalah sekumpulan sekam, bila dibakar jadilah dia abu gosok … yang semakin digosok semangkin siip (gosip kale 🙂 ) jadi wahai para penyulut API berhentilah membakar sekam … nah yang jadi persoalennye siapa tuh yang penyulut API 😆 ..