Perang Banjar-2 ; Pangeran Antasari ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’

Setelah Pangeran Hidayat menyerah, maka perjuangan umat Islam Banjar dipimpin sepenuhnya oleh pangeran Antasari, baik sebagai pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan: “Hidup untukLanjutkan membaca “Perang Banjar-2 ; Pangeran Antasari ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’”

Perang Banjar-1 ; Campur Tangan Belanda dalam Kekuasaan Kesultanan Banjar

Sultan Tahmidillah I (1778 – 1808) mempunyai anak tiga orang, yang berhak menggantikannya sebagai sultan, yaitu Pangeran Rahmat, Pangeran Abdullah dan Pangeran Amir. Dalam perebutan kekuasaan, Pangeran Nata salah seorang saudara Sultan Tahmidillah I, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Abdullah. Keberhasilan ini disebabkan bantuan Belanda yang diberikan kepada Pangeran Nata. Oleh karena itu Pangeran NataLanjutkan membaca “Perang Banjar-1 ; Campur Tangan Belanda dalam Kekuasaan Kesultanan Banjar”

Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah

Langkah pertama yang ditempuh oleh Diponegoro adalah mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Mataram untuk sama-sama berjuang menentang penguasa kolonial Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat. Seruan itu antara lain berbunyi: “Saudara-saudara di tanah dataran! Apabila saudura-¬saudara mencintai saya, datanglah dan bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai saya datangdahLanjutkan membaca “Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah”

Perang Jawa-2 ; Latar Belakang Perang Diponegoro

Sebagaimana telah diuraikan di muka bahwa Sultan Hamengku Buwono II dinobatkan pada tanggal 2 April 1792. Dalam masa kesultanannya, Gubernur Jenderal H.W. Daendels telah mengeluarkan peraturan yang men¬sederajatkan pejabat-pejabat Belanda seperti Residen Surakarta dan Yogyakarta dengan sultan dalam upacara-upacara resmi. Selanjutnya Daendels menuntut Patih Danureja II (kaki tangan Belanda) yang dipecat oleh sultan supaya dikembalikanLanjutkan membaca “Perang Jawa-2 ; Latar Belakang Perang Diponegoro”