Biar sejarah yang bicara ……

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

sisingamangaraja-xiiSisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.

Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.

Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.

Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.

Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.

Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.

Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.

Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.

Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.

Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.

Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.

Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.

“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.

Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.

Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.

“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.

Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.

Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.

sumber :
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

(Up-date ; 7 Mei 2009)
Tanggapan Dari syariffuddin hutabarat : Tentang Agama Sisingamangaraja XII

Suatu kehormatan bagi saya mendapat tanggapan dan respon terhadap apa yang ditulis di blog ini, khususnya berkenaan dengan sejarah pahlawan nasional Sisingamangaraja XII dan apresiasi dari Bang Syariffudin Hutabarat terhadap tulisan ini maupun terhadap pribadi yang empunya blog, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dari tiga tanggapan yang diberikan oleh Bang Syariffudin, dua tanggapan terakhir saya masukan dalam update posting ini.

Tanggapan kedua dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.

saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.

saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam

Tanggapan ketiga dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam

Kopral Cepot mencoba merespon.
@ Bang Syariffudin ; tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja, meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agama apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan.

Kopral Cepot ; Tanks atas sarannya.. tapi jujur ajach bang, aku bukan sejarawan aku hanya orang yang mau dan sedang belajar sejarah. Secara pribadi aku tidak punya kepentingan apa2 terhadap agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII atau siapapun juga. Tetapi aku sangat menghargai dan saluuut terhadap ‘daya juang’ dari para pahlawan kita. berkenaan dengan posting ini aku ambil dari ;
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

Jadi skali lagi aku hanya “sang pembelajar”

@ Bang Syariffudin Hutabarat : anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII.

Kopral Cepot : Memang aku tak layak menulis sejarah bukan hanya sejarah Sisingamangaraja XII saja sejarah yang lainnya juga aku tak layak bang. skali lagi aku hanya “sang pembelajar”. Setiap posting sejarah di serba sejarah aku berupaya untuk mencantumkan referensi baik berupa buku sejarah maupun hasil pencarian yang dibantu oleh mbah google. Kalo aku boleh jujur…. aku tuh berterima kasih sama mbah google yang telah membantu aku “sang pembelajar”.

@ Bang Syariffudin Hutabarat : kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan republik Indonesia

Kopral Cepot : he he he he … emang sih aku terlalu memaksakan diri untuk menulis sejarah di “serba sejarah” ini. Tapi klo aku engak memaksakan diri, kapan aku bisa belajar… ?😀

@ Bang Syariffudin Hutabarat : ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.

Kopral Cepot : ……….. ? pusing jawabnya

@ Bang Syariffudin Hutabarat : tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih

Kopral Cepot :Terima kasih sarannya bang, tapi maaf dah terlanjur di posting di internet. kalo menurut aku pembaca internet itu pinter-pinter, bisa milih dan milah mana yang benar mana yang salah. kalo kebetulan tulisan aku salah… yang jangan diterima tapi kalo bener mudah-mudahan bermanfaat. Sesuatu yang “kontroversial” bisa mengasah otak kita untuk cerdas… dan kecerdasan awal dari pencerahan umat.

demikian tanggapan dari “sang pembelajar” KOPRAL CEPOT. dan beribu-ribu terima kasih buat Bang Syariffudin atas saran dan kritikannya, ini membuat aku semakin giat untuk belajar sejarah.

Aku tunggu balik responya… salam


 

611 comments on “Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

  1. Inspirasi Negeri
    Desember 24, 2014

    subhanallah… banyak cerita sejarah dengan sumber sumber yang banyak dan bervariasi, mudah-mudahan semakin mendekatkan kepada kebenaran.

  2. Anton
    Februari 4, 2015

    aneh2 dibuat tulisan oleh orang yang ga bertanggung jawab ini.
    malah respon di balas sindiran.
    coba pemilik blog ini saya tanya
    marga apa sisingamangaraja XII?
    sebelum ia tewas, siapa anggota keluarganya yang tewas?
    lebih condong kemanakah ia, ke aceh atau ke padang?

    oi cepot coba ko bedakan dulu nyebut a-pi-vi dengan a-pi-pi
    kenapa kusinggung soal itu, soalnya orang sunda susah bedakan arif dengan arip.
    enak kalau suku di main2kan?
    nah bijaksanalah kalau merasa tidak, dan anutlah pepatah “mulutmu, adalah harimau mu”

    kurangi becanda2 ya

  3. Anak Tapanuli
    Februari 15, 2015

    Na rittik do hu roha jolma namambaen blog on…oi gilo..tau apa kau tentang Sisingamangaraja XII, jangan kau maen2 dengan cerita ini, jika masih baca komentar ini, cepat kau hapus tulisan anda ini. Gayamu macam orang senge, udah salah, manis pula kau jawab. Dari mana ijinmu nulis sejarah oppui seperti itu. Terlalu pintar-pintaran kau. Jolma do ho ? manang aha do?

    • asal ngomong loe sampah
      September 9, 2015

      satonga jolma satonga binatang ibana lae :v😀

      • sobar
        Juli 31, 2016

        Ho do satonga jolma satonga binatang dang adong pikkiranmu… molo dang olo ho di postingan blog on.. balas dohot ilmu pengetahuan/analisa na boi dipertanggungjawabhon..

    • Alexa
      November 11, 2015

      Perang Toba berdasarkan catatan harian Nommensen

      Akhir 1877 Desas-desus Aceh akan bersekutu dengan Toba
      Info dari Zendeling J.H Meerwadlt melalui buletin Jerman Rheinische Missionsgessellschaft bahwa SSM XII telah menjadi MUSLIM.
      Info dari Letnan L. van Vuuren dan Berenshot yang juga memberitakan bahwa SSM XII telah menjadi MUSLIM.
      17Des 77 Penginjil di Bahal Batu menerima surat dari Silindung bahwa para ulubalang sudah tiba di Bangkara
      Jan. 78 Utusan Singamangaraja datang mengancam misionaris dan orang Kristen
      Akhir Janʻ78 Para Penginjil minta agar Belanda mengirim pasukannya
      1 Feb 78 Pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevel menuju Pearaja
      6 Feb 78 Pasukan dengan 80 tentara dan seorang Kontrolir tiba di Pearaja
      15Feb 78 Pasukan tiba di Bahal Batu bersama dengan penginjil dari Silindung
      16Feb 78 Pengumuman perang dari pihak SSM
      17Feb 78 Metzler disuruh membawa istrinya ke Silindung. Ibu Metzler diantar suaminya dan Johannsen ke Pansur na Pitu
      19Feb 78 Metzler kembali ke Bahal Batu, tetapi tanggal 20 Feb 1878 kembali lagi ke Silindung
      Feb. 1878 Pasukan Singamangaraja menyerang Bahal Batu
      1 Marʻ78 Pasukan tambahan berangkat dari Sibolga
      14Mar 78 Residen Boyle datang bersama 250 tentara dan Kolonel Engels dari Sibolga
      15Mar 78 Silindung dinyatakan menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda
      16Mar 78 Pasukan berangkat ke Bahal Batu. Bahal Batu pun dinyatakan menjadi wilayah Hindia-Belanda
      17Mar 78 Butar, Lobu Siregar dan Naga Saribu diserang (17–20 Maret)
      Maret Pasukan tambahan 300 tentara dan 100 narapidana diberangkatkan
      30Apr 78 Ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda. Lintong ni Huta ditaklukkan
      1 Mei 78 Bangkara diserang
      2 Mei 78 Kampung-kampung di sekitar Bangkara diserang
      3 Mei 78 Raja-raja di Bangkara dipaksa melakukan sumpah setia mengakui kedaulatan Belanda
      4 Mei 78 Pasukan maju ke Paranginan
      5 Mei 78 Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Paranginan
      8 Mei 78 Huta Ginjang, Meat dan Gugur ditaklukkan. Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Gurgur
      11Mei’78 Pasukan menaklukkan Lintong ni Huta Pohan, Panghodia dan Tara Bunga.
      12 Mei 1878 Pasukan kembali ke Bahal Batu melalui Onan Geang-Geang, Pintu Bosi, Parik Sabungan dan Lobu Siregar
      akhir Mei Nommensen membantu Residen di Bahal Batu
      Benteng untuk 80 tentara dibangun di Sipoholon
      27Des’78 Nommensen dan Simoneit menerima penghargaan dari pemerintah Belanda

  4. Juntak
    Maret 17, 2015

    Dari postingan yang saya baca , postingan ini lebih menjurus menceritakan apakah SM raja itu beragama muslim atau tidak? Dan pendapat saya itu tidak jadi masalah , namun yang perlu disadari dalam membuat tulisan artikel atau postingan hendaknya jangan langsung membuat suatu kesimpulan yang masih tidak jelas. Contohnya seperti stempel dan bendera SM raja mirip dengan simbol kerajaan arab. Kalo saya bisa kasi saran jangan cuman itu yang dijadikan acuan. Tapi coba dicari apakah arti stempel dan simbol bendera SM raja itu pada masyarakat batak. Coba ditanya pada sejarawan batak , jangan cuma menyamakan atau mengkondisikan secara visual. Bijaknya , jika ingin menulis postingan atau artikel tentang sejarah seorang pahlawan seperti SM Raja harus banyak yang digali , tanya sama sejarawan batak , tanya tentang arti-arti simbol , aksara tulisan pada orang batak. Baru setelah dapat arti simbol dan bentuk aksara menurut sejarawan batak atau orang yang kompeten barulah posting. Soalna ini menyangkut kepentingan orang banyak. Karena apa? yang anda bicarakan merupakan orang yang dibanggakan , diagungkan , dianggap pahlawan di daerahnya.Oleh sebab itu hati-hatilah dalam menulis postingan. Apalagi postingan yang anda publikasikan mengenai pahlawan nasional. Ini postingan atau gossippppp……!@!!!! Ingat gosip adalah radionya iblis bro.

  5. wendy
    Maret 25, 2015

    trimakasi informasinya. maaf saya cuman ingin comentar..
    Sudah banyak saya simak dan buku” saya baca tentang sejarah dinasti batak,rata-rata berbeda fersi. kemungkinan belum ada fakta yang asli.
    saya berfikir mungkin ada cara untuk mengungkapkan dibalik agama sisingamaharaja dan sejarahnya.
    Lakukan “Ritual” nya.
    seperti ritual pemanggilan ratu pantai selatan yang di sebut nyi roro kidul mungkin dengan singkat teman” sudah mengetahi ciritanya. semua berbeda pendapat . tp akhirnya semua terungkap saat ritual berlangsung ada pecakapan yang sudah dirasuki roh nyi roro kidul, itu ternyata benar dia berkata : ya saya lah putri dari raja batak sayalah bernama biding laut. singkat cerita.

  6. sehaty
    April 1, 2015

    Yang kontra dengan tulisan ini baiknya baca reference yg diberikan Kopral Cepot. Dia sudah mengakui kekurangannya dan mengakui bukan sejarawan. Kalau tidak setuju balas tulisannya dengan argumen yg berbeda bukan dengan mencela. Salut Kopral Cepot. Jangan berhenti berkarya. Kekurangan pasti ada tinggal di perbaiki.

    • Rahmat koto
      April 2, 2015

      untuk yang berkomentar dan membantah keras teori sejarah di atas, mungkin bisa memberikan bantahan berupa rujukan atau sumber yang menjadi pegangang sejarahnya. karena yang membuat sejarah adalah yang memenangkan peperangan, sehingga kebanyakan sejarah ditulis berdasarkan cerita para penguasa. kita sebagai orang yang tidak pernah hidup di masa tersebut hanya bisa meraba melalui bukti-bukti yang di temukan.  komentar-komentar menghina tanpa dasar hanya menjadi bumbu untuk membuat artikel ini menjadi lebih sedap dan menarik untuk dibaca.

  7. imbalo sihombing
    Juni 14, 2015

    TAU…apa kau cepot mengenai raja batak,kamu tau nggak,,,,sich keturunannya masih ada yg hidup sampai sekarang,kau tau nggak sich sisingamangaraja marganya apa…,pernah nggal kamu datang ke tanah batak dan mencari informasi mengenai raja batak ? kalau mau menceritakan sejarah jangan hanya berpedoman dari postingan2 ,tetapi buktikan ke lapangan…..

  8. evanelita
    Juli 4, 2015

    Hoii..
    Oto ..loak..heang…
    molo dang adong na di attusan mu..tumagon ma pasip baba mi…

    kalo kamu nggak ngerti apa apa tutup mulut mu

    dalam sejarah Batak
    kami memiliki mata uang sendiri..
    kami pun memiliki tulisan batak

    jangan kau samakan Tulisan Islam mu itu
    sama tulisan batak begoo ellu ngga ketulungan

    oh ya..Bendera itu milik kerajaan sisingamaharaja

    • Barat
      September 9, 2015

      betul doi lae, pas na di dokkon lae i
      ai na menyembah berhala halaki, molo dang di boto ibana halak batk uang di pagogo suara na tu mensos on kan lae.

      au sandiri partarutung magigi au mamering na di baen na

    • sobar
      Juli 31, 2016

      untuk yg coment berlebihan :1 saja saran saya, lebih banyak belajar, dan jangan beropini berdasar emosi semata yg didasarkan pd egoisme sempit… ingat : Batak bukan Kristen, dan Kristen bukan Batak… itu adalah suatu hal yg berbeda..

  9. pardamean sitorus
    Agustus 8, 2015

    Babi kau cepot… Sama kau seperti uli kozok anjing itu..jgn kau permainkan raja batak kami .
    Bodat

  10. Rayray
    Agustus 20, 2015

    lhaa…emang kenapa kalo sisingamangaraja islam?? saya yang batak asli dan tentu saja bukan islam, tiba-tiba langsung ikutan jadi islam?? ogahh, makasi aja… agamamu agamamu, agamaku agamaku. dan saya pikir gak perlu tokoh idola spt sisingamangaraja utk menjalani ajaran agama…

  11. Vanbel
    Agustus 24, 2015

    JIJIK gw baca postingan ini . Kalau ada orang yang ejek ejek suku Batak itu Kanibal, masih sabar lah aku . Tapi kalau sampai Raja Batak dipermalukan kaya gini, pengen rasanya balik lagi jadi kanibal . Oto, bodat!

  12. Vanbel
    Agustus 24, 2015

    Gausah tulis tulis seakan Islam itu udah lama ada di tanah Batak! NAJIS WOI! Islam itu pendatang di tanah Batak! AGAMA ASLI LELUHUR BATAK ITU PARMALIM! Kemudian datang Kristen! ISLAM BELAKANGAN!

    MAAF SAYA RASIS , KARNA YANG POSTING BERUSAHA MEMBELOKKAN SEJARAH!

    • Barat
      September 9, 2015

      islam kalau di tanah batak terutama di tapanuli utara sudah di buang jauh2.
      kenyataan emang begitu. klw mau koment si kawan itu tentang tanah batak dan orang batak mikir dlu lahh dia lae.

      • Alexa
        November 11, 2015

        Memang benar pasca kekalahan SM IX islam dilarang masuk tanah Batak dan Orang Batak yang membantu orang islam atau masuk Islam duhukum kerja Paksa dan dikeluarkan dari Marga.

    • Alexa
      November 11, 2015

      Sejak kekalahan SM IX Islam memang dilarang di tanah Batak oleh pemerintah Kolonial belanda. Residen Tapanuli dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 mengutip catatan harian seorang zendeling bernama Muller. Alkisah, seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban dalam urusan menyangkut enam orang Batak pelebegu yang menyatakan keinginannya masuk Islam. Muller berusaha, tetapi tidak berhasil menarik mereka dari Islam. meskipun keenam orang tersebut diancam akan dibuang. (Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916). Catatan ini terdapat pada Koleksi G.A.J Hazeu. Disitu dilaporkan pula, adanya 5 orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang kemudian dapat diterjemahkan sebagai usaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak. Kepada mereka itu (dituduh telah menyebarkan agama Islam) dikenai hukuman dengan satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. (Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916).

      Lance Castle juga melaporkan kejadian para petani di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut (Laporan penelitian anggota Dewan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917). Lance Castle juga melaporkan kejadian para petani di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut (Laporan penelitian anggota Dewan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917). https://gerep.wordpress.com/2010/07/25/pertanyaan-pertanyaan-minggu-pagi-pekan-terakhir-juli-2010/

    • sobar
      Juli 31, 2016

      cok ko pelajari tentang PARMALIM itu dengan mendalam, pada saat ko mempelajarinya jgn ada bagian bagian yang kau sangkal ya sobat, abis itu ko postingkan disini apa yang ko pelajari itu, itu baru fair play, kalo mmg menurut ko postingan ini membelokkan sejarah, coba ko cari link sejarah yang berimbang dgn postingan ini

  13. asal ngomong loe sampah
    September 9, 2015

    hahahha, tak tau amalu, jangan mentang2 islam itu agama terbesar di indonesia suka hati kau memijak2 agama lain
    sebelum opung nya mamak kau laihr pun ak tau agama apa yg di anut.
    jafi gx sah komet dan posting tentang agama Pahlawan Raja batak.
    urus agamu na jgn urus agama orang.
    dah salah sok tau, bilang SM.Raja Islam alagi. cuihh, sma kw bangke itu

    • sobar
      Juli 31, 2016

      hei krucuk dia tidak mengatakan kalau Tuanku Sisingamangaraja itu beragama Islam, tetapi besar kemungkinan telah memeluk Islam berdasarkan bukti otentik pada saat itu, kita sama2 tidak menyaksikan peristiwa masa lalu, jadi jangan saling menghujat, aku yakin ilmu kau pun cuma seujung kuku, jadi jangan panggaron kau krucuk, OKEEEE???

  14. NLP Trainer 0821.4150.2649
    November 30, 2015

    intinya Hati hati dalam berbuat😀
    Pelatihan NLP Indonesia

  15. mekatukan
    Maret 26, 2016

    Agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII adalah agama asli Batak. Namun sudah sejak zaman Belanda terdengar isu bahwa menjelang tahun 1880-an Sisingamangaraja memeluk agama Islam[butuh rujukan]. Yang pertama menyebarkan desas-desus bahwa Singamangaraja XII telah menjadi seorang Muslim adalah para penginjil RMG (Rheinische Missionsgesellschaft)[butuh rujukan]. Mereka tiba pada kesimpulan tersebut karena pada saat itu Singamangaraja XII mulai menyalin kerjasama dengan pihak Aceh[butuh rujukan]. Hal itu dilakukannya karena ia mencari sekutu melawan para penginjil RMG yang pengaruhnya di Silindung menjadi semakin terasa dan yang menjalin hubungan erat dengan pemerintah dan tentara Belanda. Namun alasan utama maka para misionaris RMG menyebarkan isu bahwa Singamangaraja telah menjadi seorang Muslim adalah untuk meyakinkan pemerintah Belanda untuk menganeksasi Tanah Batak[butuh rujukan]. Atas permintaan penginjil RMG, terutama I.L. Nommensen, tentara kolonial Belanda akhirnya menyerang markas Singamangaraja XII di Bangkara[butuh rujukan] dan memasukkan Toba dan Silindung ke dalam wilayah jajahan Belanda.

    Kontroversi perihal agama Singamangaraja hingga kini tidak pernah reda. Juga sesudah wilayah Batak menjadi bagian dari Hindia Belanda desas-desus bahwa Singamangaraja XII memeluk agama Islam tidak pernah berhenti, sampai ada yang menulis[butuh rujukan] bahwa “Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam zijn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op zijn omgeving uit om zich te bekeeren” (“menurut laporan dari penduduk maka sang raja sekitar lima tahun yang lalu memeluk agama Islam, namun ia tidak menjadi seorang Islam fanatis dan tidak berusaha untuk meyakinkan rakyat supaya turut menggatikan agamanya”). Kemudian dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog (Departemen Pertahanan), maka Letnan L. van Vuuren dan Berenschot pada tanggal 19 Juli 1907 menyatakan, “Dat het vaststaat dat de oude S.S.M. met zijn zoons tot den Islam waren overgegaan, al zullen zij wel niet Mohamedanen in merg en been geworden zijn” (“Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya”).

    Selain laporan oleh para misionaris Jerman dan oleh koran-koran Belanda, petunjuk lainnya bahwa Singamangaraja XII beralih agama ke agama Islam termasuk:

    Singamangaraja XII tidak makan babi;
    pengaruh Islam terlihat pada bendera perang Singamangaraja dalam gambar kelewang, matahari dan bulan; dan
    Sisingamangaraja XII memiliki cap yang bertuliskan huruf Jawi (tulisan Arab-Melayu).
    Untuk butir 1 dapat dikatakan bahwa bukan hanya Singamangaraja XII yang tidak boleh makan babi, melainkan hal itu berlaku juga untuk semua Singamangaraja sebelumnya. Pantangan makan babi tidak ada kaitan dengan agama Islam melainkan juga berlaku untuk para raja yang beragama Hindu. Dalam hal ini perlu diingatkan bahwa agama asli Batak sangat kuat pengaruh Hindu. Untuk butir 2, kelewang, matahari, dan bulan bukan lambang yang eksklusif Islam. Selain daripada itu perlu diingatkan bahwa kerajaan Singamangaraja XII dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan Islam sehingga tidak mengherankan kalau ia sangat terinspirasi lambang yang juga digunakan oleh para raja Melayu. Khususnya untuk butir 3. cap Singamangaraja telah dianalisis oleh Prof. Uli Kozok.[5] Selain sebuah teks yang memakai surat Batak (aksara Batak) terdapat pula sebuah teks berhuruf Jawi (Arab Melayu) yang berbunyi; Inilah cap maharaja di negeri Teba kampung Bakara nama kotanya hijrat nabi 1304 [?] sedangkan dalam aksara Batak pada cap itu tertulis Ahu ma sap tuan Si Singamangaraja tian Bangkara, artinya “Akulah cap Tuan Si Singamangaraja dari Bangkara”. Berdasarkan analisis empat cap Singamangaraja maka Profesor Kozok tiba pada kesimpulan bahwa keempat cap Singamangaraja masih relatif baru, dan diilhami oleh cap para raja Melayu, terutama oleh kerajaan Barus. Pada abad ke-19 huruf Arab-Melayu (Jawi) umum dipakai oleh semua raja di Sumatra sehingga sangat masuk akal bahwa Singamangaraja XII juga menggunakan huruf yang sama agar capnya dapat dibaca tidak hanya oleh orang Batak sendiri melainkan juga oleh orang luar.

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa argumentasi bahwa Singamangaraja XII telah berpindah agama cukup lemah. Sekiranya Singamangaraja memang memeluk agama Islam maka pasti ia akan mengimbau agar rakyatnya juga memeluk agama Islam. Laporan para penginjil[butuh rujukan] seperti I.L. Nommensen bahwa Singamangaraja telah memeluk agama Islam terutama dimaksud untuk mendiskreditkan Singamangaraja dan untuk menggambarkannya sebagai musuh pemerintah Belanda. Stop claimer n cocoklogi!!!

    • sobar
      Juli 31, 2016

      “Laporan para penginjil[butuh rujukan] seperti I.L. Nommensen bahwa Singamangaraja telah memeluk agama Islam terutama dimaksud untuk mendiskreditkan Singamangaraja dan untuk menggambarkannya sebagai musuh pemerintah Belanda.”
      Berdasarkan ulasanmu diatas berarti nommensen jahat dong, sudah mendiskreditkan Sisingamangaraja, apakah kita masih mau mengikuti seseorang yang sudah mendiskreditkan raja kita yang sudah membela rakyatnya hingga akhir hayatnya?? kalau saya TIDAK.

    • Micra Simatupang
      Agustus 2, 2016
  16. Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela, dari Bakkara, yang lebih dikenal dengan nama jabatan kebesarannya sebagai Sisingamangaraja ke dua belas adalah raja terakhir dari dinasti ini yang oleh banyak literatur berbahasa Inggeris kerap pula disebut dengan kedudukannya yang amat magis “the last priest-king of the Batak peoples of North Sumatra”.

    Tidak ada keraguan Indonesia atas jasa-jasanya melawan kolonial Belanda, melalui gerilyanya yang panjang. Pada tahun 1961, untuk semua jasa-jasanya itu, almarhum Sisingamangaraja ke dua belas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

    Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela lahir tahun 1849, dan dinobatkan menjadi Sisingamangaraja ke dua belas menggantikan ayahandanya yang wafat pada tahun 1867.

    Jika boleh tidak mombang marsundut (turun-temurun), saya Shohibul Anshor Siregar dari Pahae, ingin naik tahta menjadi Sisingamangaraja ke tiga belas. Itu pertanyaan yang saya sasarkan pertama. Jawabannya sudah saya tahu lama sebelum ini, bahkan sejak saya mendengar cerita heroisme raja ini dari guru saya di bangku SR tahun 1960-an.

    Lalu mengapa saya ajukan pertanyaan ini? Ya, saya hanya memerlukan landasan yang kuat untuk memasuki pertanyaan berikutnya, yakni mengapa dinasti Sisingamangaraja tidak berlanjut.

    Teman marnonang saya menolak. Dinasti Sisingamangaraja harus mombang marsundut, suksesinya harus di kalangan marga Sinambela, dan dari keturunannya langsung, serta yang mustahak. Sekiranya hari ini akan dilangsungkan penentuan siapa di antara keturunan yang mustahak untuk diamanahkan jabatan kerajaan Sisingamangaraja ke tiga belas, maka menurut mitos lama dan juga yang dikuatkan oleh teman nonang saya, metodenya adalah mencabut Piso Gaja Dompak dari sarungnya.

    Piso Gaja Dompak adalah pisau simbol penting kerajaan dengan gagang berbentuk kepala gajah. Tentu diyakini amat magis, dan kekuatannya begitu tinggi hingga mampu menjadi alat seleksi yang diterima oleh seluruh orang Batak untuk menjadi satu-satunya cara melakukan suksesi.

    Teman nonang saya berkata: “Piso Gaja Dompak itu katanya dibawa Belanda ke negerinya (Leiden), disimpan di sebuah musem dan mereka tak akan bersedia menyerahkannya sebelum Indonesia memiliki sebuah museum penyimpanan yang standar untuk pengamanan dan pengawetan sebuah dan banyak benda-benda berharga warisan leluhur Batak, termasuk piso Gaja Dompak itu”.

    Beberapa hal saya kemukakan sebagai sangkalan. Pertama, siapa yang mengatakan bahwa sukses dinasti Sisingamangaraja harus melalui ujian mencabut piso Gaja Dompak dari Sarungnya? Seberapa percaya kita terhadap “mitos” ini sedangkan kita semua tahu bahwa Belanda dan para missionaris dari RMG menginginkan Batak, struktur dan nilai di sana diporak-porandakan untuk dibentuk dengan nilai kekristenan yang ramah kepada penjajah Belanda?

    Saya harus curiga. Saya anggap ini mitos yang wajib ditolak. Dalam kisah yang diceritakan oleh beberapa literatur, setelah Sisingamangaraja ke dua belas dinyatakan terbunuh, mayatnya “dipamerkan” di Balige untuk memastikan kepada seluruh halayak bahwa raja dan pemimpin sakti mereka sudah meninggal. Sisa pasukan Sisingamangaraja ke dua belas terus dikejar. Keluarganya ditahan dan dibuang ke berbagai tempat. Semua itu lazim dilakukan oleh Belanda untuk memutus jaringan dan mengikis habis potensi munculnya perlawanan baru oleh keturunan yang dianggap mampu dan berharisma.

    Saya menduga RMG dan Belanda sengaja menciptakan mitos prasyarat suksesi dengan mencabut piso Gaja Dompak dari sarungnya, sedangkan mereka membawa piso Gaja Dompak itu ke Belanda. Dalam catatan banyak penulis perlawanan terhadap Belanda tidak serta-merta berhenti pasca dinyatakannya Sisingamangaraja ke dua belas wafat. Tetapi wacana untuk meneruskan kerajaan itu tidak muncul. Berarti tujuan mereka (RMG dan Belanda) tercapat dengan sangat efektif.

    Kedua, jika hukum selalu memberi ganjaran kepada pencuri, maka apa hukuman yang harus kita berikan kepada Belanda dengan membawa piso Gaja Dompak yang menjadi simbol penting kerajaan ke negerinya? Batak yang besar harus marah, dan mengambil piso Gaja Dompak dari tangan penjajah Belanda sekaligus menghukum negeri itu setimpal. Pertanyaan-pertanyaan lain agak lebih sensitif, tidak akan saya kemukakan dalam tulisan ini.

    “Angan-angan nama i” (tampaknya semua itu terasa hanya menjadi sebuah hayalan belaka), kata teman nonang saya itu menjawab. Saya menilai bahwa ia merasa semua yang saya kemukakan sangat masuk akal. Ini saya pastikan setelah berulang kali mencermati video yang saya buat khusus selama nonang. Tetapi dalam ketak-berdayaan seperti sekarang ini sangat tidak mungkin untuk melakukan semua yang saya bayangkan, yakni mengambil piso Gaja Dompak ke Leiden, menghukum Belanda karena telah mencuri simbol kerajaan Batak, dan mengukuhkan seseorang di antara keturunan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela menjadi Sisingamangaraja ke tiga belas.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 30, 2009 by in Biografi Tokoh, Kumpulan Artikel Sejarah and tagged , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: