Kebangkitan nasional atau kebangkitan elit Jawa?

Persoalan pertama telah menghadang ketika kita mencoba mempertanyakan tanggal 20 Mei 1908 sebagai hari kebangkitan nasional. Selama ini yang kita tahu dari tanggal tersebut hanyalah merupakan keputusan para siswa Sekolah Pendidikan dokter Boemiputra (School ter Opleiding van Indische Artsen) di weltevreden (sekarang Jakarta Pusat) sebagai permulaan untuk mendirikan suatu perhimpunan orang-orang jawa yang akan menjadiLanjutkan membaca “Kebangkitan nasional atau kebangkitan elit Jawa?”

Pembodohan dan Pemalsuan Sejarah di Lokasi Proklamasi

“Di mana letaknya tempat yang disebut ’Gedung Proklamasi’?” Pertanyaan yang sederhana mengenai tempat kelahiran negara Indonesia, tetapi jawaban yang muncul banyak mengarah kepada “tidak tahu”. Sesungguhnya, jawaban “tidak tahu” jauh lebih baik daripada percaya kepada informasi yang sekarang terdapat di lokasi ini. Sangat menyedihkan, apa yang dimasyarakatkan oleh Pemprov DKI Jakarta mengenai “Gedung Proklamasi” kenyataannyaLanjutkan membaca “Pembodohan dan Pemalsuan Sejarah di Lokasi Proklamasi”

Rakyat tanpa Sejarah, Sejarah tanpa Rakyat

PAULO Freire pernah menulis, adaptasi adalah tindakan yang paling maksimal bagi mereka yang “kalah”. Beradaptasi, meski dalam banyak kasus harus ditempuh dengan cara keras, hakikatnya hanyalah suatu bentuk yang paling lunak untuk mengeliminasi diri, menghilangkan keberdirian, dan menumpas kemandirian. Mereka yang memilih untuk menempuh cara beradaptasi adalah mereka yang sadar maupun tidak telah menyerahkan diriLanjutkan membaca “Rakyat tanpa Sejarah, Sejarah tanpa Rakyat”

Membangkitkan Kesadaran Sejarah

Merangsang individu untuk memperhatikan sejarah! Itulah tema yang diusung oleh para guru besar, dosen dan mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM dalam unjuk rasa tanggal 25 Agustus lalu di bundaran UGM. Mereka tak rela jika ilmu sejarah disepelekan. Mereka tidak terima ilmu sejarah disebut tak mampu menjawab tantangan persoalan bangsa.