Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Dilema Papua : Ke-papua-an versus Ke-indonesia-an

Pada tanggal 1 Juli 1971 di suatu tempat di Desa Waris, Kabupaten Jayapura, dekat perbatasan Papua New Guinea, yang dijuluki (Markas) Victoria, yang kemudian dijuluki dalam kosakata rakyat Papua Barat sebagai “Mavik” “dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat. Proklamasi ini dicetuskan oleh Seth Jafet Rumkorem  sebagai Presiden Papua Barat, dan didampingi oleh Jakob Prai  sebagai Ketua Senat (Dewan Perwakilan Rakyat), Dorinus Maury sebagai Menteri Kesehatan, Philemon Tablamilena Jarisetou Jufuway sebagai Kepala Staf Tentara Pembebasan Nasional (TEPENAL ), dan Louis Wajoi sebagai Komandan (Panglima) TEPENAL Republik Papua Barat.

“Tidak pernah orang Papua diterima sebagai bagian dari rakyat Indonesia. Warga Papua dianggap sebagai binatang. Saya tidak jamin, warga Papua masih menginginkan jadi bagian Indonesia. Lihat saja, bagaimana orang Papua ditembak atau dibunuh,” tegas Ketua Gereja Baptis Papua, Pendeta Socrates Sofyan Yoman kepada itoday (18/6).

Masalah Papua tak juga kunjung selesai sampai sekarang. Belakangan, berbagai peristiwa penembakan terhadap warga dan aparat sering kali terjadi. Keamanan dan stabilitas di Papua belum juga tercipta. Pendekatan militer yang ditempuh pemerintah Indonesia rupanya justru makin meningkatkan militansi dan perlawanan kaum separatis seperti yang dulu dicurigai sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun, ketika pendekatan ini perlahan-lahan diubah dengan memberi Papua otonomi khusus, ternyata masalah juga tak kunjung selesai. Mengapa Papua terus bergolak?

Sebuah kajian historis tentang Papua dengan rentang waktu 1925 – 1962 yang dikupas secara mendalam oleh sejarawan Bernada Meteray dalam buku yang berjudul “Nasionalisme Ganda Orang Papua“. Buku yang diangkat dari disertasi penulis bertema sejarah ini, mencoba menemukan jawabannya. Beliau mengupas sejarah Papua sejak pertama kali Kerajaan Sriwijaya (abad VIII) menginjakkan kakinya di sini, disusul Majapahit (abad XIV), lalu Ternate dan Tidore (abad XVI). Suatu keterangan yang dapat menunjukkan bahwa Papua pernah merupakan daerah kekuasaan Sultan Tidore dan Bacan sebagaimana yang dikatakan oleh Koentjaraningrat dan Prof.Dr.Harsya W.Bachtiar dalam penelitiannya yang diungkapkan didalam buku yang berjudul : “ Penduduk Irian Barat “ bahwa pertemuan pertama antara orang – orang pribumi Irian Barat dengan orang – orang dari luar daerah terjadi ketika Sultan Tidore berusaha memperluas wilayah. Pada abad XVI Pantai Utara sampai Barat daerah Kepala Burung sampai Namatota ( Kab.Fak-fak ) disebelah Selatan, serta pulau – pulau disekitarnya menjadi daerah kekuasaan Sultan Tidore. , kemudian datanglah Belanda (VOC), Jepang, hingga pemerintah Indonesia.

Istilah “Papua” asal-usulnya masih kontroversi, kata ini tidak dapat dikaitkan dengan suku-suku tertentu di Papua, tetapi hanya sebutan orang Maluku bagi penduduk disebelah timur. Kata papua berasal dari bahasa Melayu, poea-poea, yang artinya “keriting”.  Menurut M. Amir Sutaarga, di Papua terdapat keanekaragaman latar belakang ras, yaitu Negroid, Melanosoid, Mikronesia dan Mongoloid. Keanekaragaman Papua juga tampak dari 250 bahasa yang mereka gunakan. Di beberapa daerah, penduduk menggunakan bahasa lokal dengan dialek berbeda-beda. Misalnya, masyarakat Biak menggunakan satu bahasa, sedang Waropen dua bahasa (hal 3).

Bernada Meteray, mengurai benang pangkal dinamika pergolakan rakyat Papua dari beberapa aspek yaitu historis, ideologis dan politis yang bermuara pada satu titik yaitu nasionalisme. Nasionalisme Papua dan Nasionalisme Indonesia, masalah ke-papua-an dan ke-indonesia-an menjadi pangkal dinamika yang melahirkan pergolakan rakyat Papua sampai hari ini.

Munculnya dua nasionalisme di Papua, yaitu nasionalisme Papua dan nasionalisme Indonesia, merupakan situasi yang dilematis dalam pemahaman sejarah Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, buku ini berupaya menjawab pertanyaan umum :” Apakah generalisasi tentang nation dan nasionalisme yang selama ini bermuara pada nasionalisme Indonesia dalam penulisan sejarah Indonesia tidak bertentangan dengan fakta historis di Papua?” (hal 259)

Melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia mewarisi wilayah Hindia Belanda. Dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945 ditegaskan bahwa Indonesia mewarisi wilayah Hindia Belanda. Wilayah yang dimaksud meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Pada masa itu Papua merupakan bagian dari Provinsi Maluku.

Papua memiliki pengalaman sejarah yang berbeda dengan daerah lain. Perbedaan ini ditandai dengan masih berkuasanya Belanda di Papua hingga 1962. Itulah sebabnya, perkembangan nasionalisme Indonesia di provinsi ini berbeda corak. Perbedaan ini mulai tampak sejak proses tersemainya nasionalisme Papua pada tahun 1925 dan nasionalisme Indonesia pada tahun 1945 di bumi Papua. (hal 11)

Menurut Audrey Kahin (1985), akibat dari batasan wilayah negara Indonesia yang didasarkan pada bekas wilayah Hindia  Belanda, sering dibuat generalisasi dalam sejarah Indonesia. Begitu banyak generalisasi yang dibuat berdasarkan tingkat revolusi sejarah nasional dan sejumlah pengalaman pemimpin Republik Indonesia di pusat pemerintahan yang menciptakan ketidakseimbangan gambaran tentang pengalaman revolusi. Menurut dia, generalisasi yang sering dilakukan para sarjana tidak dapat diterapkan untuk seluruh Indonesia. Memang, harus diakui bahwa Indonesia merupakan satu bangsa dari Sabang sampai Merauke, tetapi harus juga diakui adanya pendapat bahwa bangktinya nasionalisme di Indonesia bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. (hal 16)

Nasionalisme di Papua ?

Secara resmi Pemerintahan Belanda menguasai Papua pada 1828 setelah mendirikan benteng di Lobo, Teluk Triton (Skr wilayah Kabupaten Kaimana) sementara pos pemerintahan Hindia Belanda baru didirikan pada tahun 1898. Sistem administratif yang diterapkan Pemerintah Belanda di Papua berbeda dengan sistem administrasi yang diterapkan di daerah lain dalam wilayah Hindia Belanda. Biasanya Pemerintah Belanda menunjuk pemimpin lokal sebagai pejabat pemerintah. Di Papua, kelompok sosial terdidik sangat sedikit sehingga memanfaatkan dari Maluku, khususnya Ambon, untuk bidang pemerintahan. Sebagai akibatnya muncul dua lapis sistem kolonial di dalam masyarakat Papua. (hal 25)

Sistem pemerintahan yang bersifat dual colonialism yang diperankan kelompok atas, yakni segelintir orang Belanda, dan kelompok bawah, yaitu mayoritas orang Indonesia yang melakukan kontak dengan orang Papua menjadi akar masalah yang akhirnya menimbulkan perasaan saling berbeda antara orang Papua dan orang Indonesia. Dalam berbagai konflik, Orang Papua cenderung memusuhi orang Indonesia daripada orang Belanda. (hal 29)

Menurut Meterey, bersemainya kesadaran kepapuaan sebagai suku bangsa tidak lepas dari peran misi Katolik dan zending Protestan yang sudah dimulai sejak tahun 1855, jauh sebelum pos pemerintah Belanda didirikan pada tahun 1898. Mereka memperkenalkan penggunaan bahasa Melayu dan budaya Melayu serta ide Barat kepada orang Papua. (hlm 31).

Ini berlangsung hingga Jepang menginjakkan kakinya di Hindia pada April 1942 yang selanjutnya menguasai Merauke. Berbeda dengan sikap orang Papua terhadap Belanda, sikap mereka terhadap Jepang lebih cenderung menentang karena Jepang kejam. Karena itu, ketika Sekutu mendarat di Hindia pada April 1944, dianggap sebagai pembebas dari Jepang. Mereka membantu Sekutu mengusir Jepang. Kedatangan Sekutu, menurut Lagerberg (1979), memotivasi masyarakat Papua memikirkan kembali identitas mereka (hlm 49).

Sementara itu, nasionalisme Indonesia di Papua disemai tokoh-tokoh nasionalis mulai akhir 1945 ketika residen Van Eechoud merekrut beberapa orang Indonesia sebagai pegawai pemerintah, di antaranya Soegoro Atmoprasodjo yang ditunjuk sebagai pengajar dan direktur asrama pada Kursus Singkat Pamong Praja di Kota Nica. Kesempatan ini digunakan Soegoro untuk meyakinkan para siswanya untuk berpikir bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia Beberapa orang yang menempuh pendidikan Eechoud dan kemudian menjadi terkemuka dalam aktivitas politik antara lain: Markus dan Frans Kaisepo, Nicolaas Jouwe, Herman Wajoi, Silas Papare, Albert Karubuy, Moses Rumainum, Baldus Mofu, Eliezer Jan Bonay, Likas Rumkorem, Martin Indey, Johan Ariks, Herman Womsiwor dan Abdulah Arfan. (hlm 55).

Strategi Belanda Menghancurkan Impian Indonesia Pasca- KMB

Sebagai konsekuensi dari hasil KMB yang berlangsung pada 27 Desember 1949, Papua akan diserahkan kepada pemerintahan Indonesia setahun sesudah konferensi melalui negosiasi. Dengan demikian, penyerahan kedaulatan mencakup seluruh bekas jajahan Hindia Belanda tanpa Papua. (hal 143)

Memanfaatkan momentum, J.P.K van Eechoud mengeluarkan proklamasi yang menyatakan bahwa warga bekas Keresidenan Nederlands Nieuw Guinea alias Papua telah menjadi penduduk Gubernemen Nederland Nieuw Guinea, “yang pemerintahannya akan dijalankan oleh gubernur atas nama ratu kita semua“. Dengan proklamasi ini, secara administratif Papua tidak mempunyai hubungan dengan pemerintahan pusat di Jakarta. Van Eechoud (seorang Katolik) inilah sejak ditunjuk sebagai pejabat residen tahun 1945 telah menumbuhkan kesadaran nasionalisme kepapuaan.  Resident J. P. K. van Eechoud yang terkenal dengan nama “Vader der Papoea’s” (Bapak Orang Papua) mempunyai misi khusus untuk menanamkam Nasionalisme Papua dan membuat orang Papua setia kepada Pemerintah Belanda.

Tidak ada itikad dari Belanda untuk menyerahkan Papua ketangan pemerintahan Indonesia. Justru sebaliknya, Belanda berupaya untuk menghalangi dukungan rakyat di Papua kepada pemerintahan Indonesia, sejak 1950 Belanda menindak tegas kegiatan yang dilakukan rakyat, baik yang asli Papua maupun non-Papua dengan menangkap dan menahan para aktivis pro-Indonesia. (hal 163)

Selama periode 1945 – 1962 Indonesia tidak memiliki wewenang untuk mengindonesiakan orang Papua secara terbuka. dapat dikatakan proses pengindonesiaan orang Papua yang dilakukan tidak tuntas, baru tahap awal, dan tidak menjangkau sebagian besar masyarakat Papua di pedalaman.

Sebaliknya, berdasarkan pengalaman Belanda di Indonesia atau Hindia-Belanda dalam kemerdekaan tahun 1945, maka Belanda didalam menjajah Papua sangat hati-hati sekali dalam meningkatkan kehidupan Masyarakat di berbagai bidang, dan Belanda sengaja memperlambat perkembangan di Papua/Nieuw Guinea sesuai dengan permintahaan dan kebutuhan orang-orang Papua. Katakanlah bahwa ini suatu bentuk “Etis-Politik Gaya Baru”. Termasuk didalamnya usaha untuk membentuk “Nasionalisme Papua”. Cara Belanda yang demikian itu menyebabkan orang-orang Papua tidak merasa bahwa mereka sedang dijajah sebab mereka hidup dalam suatu keadaan perekonomian yang baik dan tidak merasakan adanya penderitaan dan tekanan dari Belanda.

Sampai di sinilah masyarakat Papua terbelah menjadi dua: yang pro-Indonesia dan Belanda. Babak selanjutnya adalah “perebutan” Papua oleh Indonesia dan Belanda yang berakhir secara resmi melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 yang menggambarkan sebagian besar masyarakat Papua ingin berintegrasi dengan Indonesia.

Penutup

Walaupun hasil Pepera menunjukan bahwa Papua merupakan bagian yang sah dari wilayah NKRI, masalah Papua masih terus bergolak hingga dewasa ini. Munculnya keraguan terhadap hasil Pepera 1969 pada sebagian masyarakat di Papua mungkin dikaitkan dengan pernyataan Amir Mahmud sekembalinya dari peninjauan Pepera 1969, bahwa sebagian besar rakyat Papua belum sadar politik, maka penduduknya cukup menyebut “Soeharto, Merah Putih, dan Indonesia“. Dia juga menegaskan, “kenyataan menunjukan bahwa sebagian terbesar dari penduduk tidak bersimpati kepada RI”.

Kini nasionalisme Papua dan nasionalisme Indonesia masih sebuah dilematis bagi rakyat Papua. IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Nederland) adalah persoalan pengindonesian rakyat Papua yang tidak pernah tertuntaskan sampai sekarang sehingga dilema yang terjadi bukan lagi “ikut RI” atau “ikut Nederland” tetapi sudah pada mencari pilihan lain yaitu  hak menentukan nasib sendiri alias MERDEKA. Sebuah pelajaran yang berharga atas nama Indonesia………..

********

Judul : Nasionalisme Ganda Orang Papua
Penulis : Bernarda Meteray
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2012
Tebal : xxx+302 halaman
ISBN : 978-979-709-644-1

NB : Terima kasih kepada Sociopolitica yang telah memberikan saran untuk membaca buku yang bagus ini. 

About these ads

42 comments on “Dilema Papua : Ke-papua-an versus Ke-indonesia-an

  1. Cokro
    Juli 4, 2012

    saya mau tanya kopral, kapan istilah NKRI itu mucul? dasar hukum NKRI dari mana? Siapa yang memproklamasikan NKRI? dan kenapa istilah NKRI menjadi “harga mati” bagi pemerintahan sekarang,………. Yang saya tahu di proklamasi 17 Agustus 1945 maupun di UUD 1945,UUDS 1950, dan Pancasila tidak ada satu kata pun istilah NKRI . Menurut saya, solusi bagi papua adalah papua menjadi negara bagian (federatif) =PAPUA MERDEKA dan bentuk negara RI diubah jadi Negara federatif…gmn kopral? (punten ah seueur naros)

    • Kopral Cepot
      Juli 4, 2012

      Dalam Konstitusi UUD’45 asli dan amandemennya baik yang pertama (1999), kedua (2000), ketiga (2001) dan keempat (2002) di Bab I Pasal 1 “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik.” sementara dalam UUDS 1950 Bab I “Negara Republik Indonesia” Pasal 1 “Republik Indonesia jang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara-hukum jang demokratis dan berbentuk kesatuan.”

      Dalam konteks historis sejak 18 Agustus 1945 yang dikenal adalah Republik Indonesia bahkan pasca Renville dikenal istilah RI-Yogya. Setelah KMB, Belanda memberikan hadiah kedaulatan kepada RIS (Republik Indonesia Serikat) yang selanjutnya 17 Agustus 1950 atas Mosi Integral Natsir, majelis parlemen RIS sepakat merubahnya kembali kepada “Negara Republik Indonesia” berbentuk kesatuan seperti dalam UUDS 1950.

      Bahkan di jaman orde baru masih memakai istilah Republik Indonesia. Seingat saya sejak SD sampe nguliah belum dikenal istilah NKRI yang ada adalah Republik Indonesia … faktanya sampe sekarang dalam pilpres era reformasipun masih dalam istilah Republik Indonesia. Pemilihan Presiden RI atau RI-1, Capres RI-1 …. ngak ada istilah pemilihan presiden NKRI atau NKRI-1 … he he he.

      Artinya… NKRI adalah sebuah jargon bukan istilah resmi, apalagi dengan embel-embel “Harga Mati” ..

      Secara istilah “Negara Kesatuan” adalah lawan dari “Negara Federatif”. Kedua-duanya berkenaan dengan tata kelola pemerintahan……. Amerika saja federatif bukan kesatuan jadi kalo mau maju seperti Amerika emang kayaknya mendingan federatif atau serikat. ;)

      • Cokro
        Juli 5, 2012

        alhmdulillah, jelas pisan kopral…nuhun ah

    • Dadank Wahyudi
      Desember 3, 2012

      wuaa ternyata anda jauh tak memahami sejarah ! NKRI muncul tatkala negara negara Bagian buatan Belanda sukarela bergabung dengan RI .. .. dan pada Tanggal 17 agustus 1950… setelah penyerahan kedaulatan hasil KMB 27 Des 1949…… merupakan terbentuknya cita cita pendirian negara dimaksud yg telah di Proklamirkan 17 ags 145 … dst .Baca di Teks sejarah tsb!

  2. andinoeg
    Juli 4, 2012

    gak pernah ada habisnya yang mau memecah belah NKRI

  3. doktertoeloes malang
    Juli 5, 2012

    seandainya ( lho yaa ) bisa pilih opsi merdeka atau masih dalam koridor NKRI seperti halnya aceh , maluku ( referendum wilayah2 yang setengah hati ) bagaimana kira2 hasilnya ( bisa di prediksi masing2 kita ) pertanya’an yang muncul kira2 nanti apa ada yang namanya negara malang raya gitu a’a kopral ? terus anak – cucuku mau tinggal dimana ? mohon jawaban yang benar2 akurat ( dengan pisau sejarah yang paling tajam ) ………. hormat kopral !!

    • Kopral Cepot
      Juli 5, 2012

      Wah… berat sekali pertanyaannya… saya mesti menajamkan ulang pisau nya ;) ……… dulu Adam dan Hawa tidak pernah membagi-bagi wilayah bumi ini karena mereka hanya tinggal berdua saja, yang mereka pikirkan hanya satu saja bagaimana menjalankan tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Sang Maha Pencipta…. lalu ibnu Adam beranak pinak memenuhi seisi bumi hingga sekarang semua hanya karena diciptakan Sang Maha Pencipta…. setiap generasi punya ajalnya. Masa silih berganti tetapi Iradah Ilahi tetaplah tak berubah krn waktu yang diharapkannya bagaimana manusia menjadi Hamba-Nya. Hanya karena Iblislah manusia menjadi berbeda… sifat takaburnya Iblis merasuk pada sebagian sukma manusia maka lahirlah angkara murka.

      Dulu tak ada Nusantara lalu dicarilah penyebut nama maka ketemulah Nusantara… Dulu belum ada Indonesia.. lalu dicarilah penyebutan anti Hindia Belanda maka ketemulah Indonesia… semua nama ada jamannya dan setiap jaman ada penghuninya… masa depan anak cucu bukan pada dimana dia berada tapi akan tetapkah anak cucu kita punya Iman pada Sang Pencipta.

      Berapa luas wilayah kekuasaan Romawi, Persia, India atau Cina di Sebelum Masehi (SM) yang sekarang bertransformasi menjadi berpuluh-puluh negara atau kerajaan…. Setiap penguasa dan kekuasaan ada masanya, yang membedakan adalah keberpihakan mereka… di “Jalan Ilahi” atau mengingkarinya.

      Hari Akhir semakin mendekat….. pertanyaanya mendekat kesiapa diri kita? mendekat kesiapa anak cucu kita?

      Dari Majapahit, Sriwijaya, Samudra Pasai sampai Demak semua punya masa-nya …. Tak ada yang kuasa untuk menghindar dari taqdir kejayaan dan kehancuran… yang berbeda adalah berpihak pada siapa kita… Nusantara… Indonesia… Malang… Bandung … semua punya kisah dan cerita.

      Mau dimana tinggal anak cucu kita? maka pertanyaan dasarnya “Apa yang diperbuat kita hari ini untuk anak cucu kita?” … Sejarah adalah tentang pohon yang baik dengan pohon yang jelek ……. Sudahkah kita menanam pohon yang baik “syajarotun thoyyibah”?

      Masa depan adalah perbuatan hari ini. Indonesia tak akan kemana-mana meski suatu saat berganti nama. Maka yang lebih khawatir adalah dimana tempat kembalinya kita…

      Maaf’s pisaunya belum terasah

      Hatur Tangkyu ;)

      • MSF
        Juli 6, 2012

        salut untuk Kopral
        Jawabannya Aqidah sekali.
        salam

      • soe hok gie
        Juli 9, 2012

        ehhmmm nyam nyam………
        lezat kang…. ma’acih…….

    • Dadank Wahyudi
      Desember 3, 2012

      tak akan ada Referendum dalam masalah masalah ketidakpuasan terhadap Pemerintah Pusat … tidak ada istilah coba coba referendum ! Kao diadakan Mungkin Jogja atau DIY atau Jabarpun ingin REFERENDUM tuk Merdeka !

      • sy rasa Jogja /DIY atau Jabar kemungkinannya tipis,

        tapi klo Aceh, Maluku, Bali, Manado, NTT bisa jadi ?!.
        Karena Latar belakang sejarah, masyarakat dll…….

        • abu
          Maret 21, 2013

          Sy rasa kopral keliru,jabar(sunda) tidak pernah takluk kpd majapahit.jauh sebelum republik indonesia ada kerajaan sunda sudah dikenal di eropa dengan menjalin erat perdagangannya,coba baca kidung sunda,disana tercatat hayam wuruk merupakan keturunan sunda dan semua wilayah sudah ditaklukan majapahit termasuk papua hanya satu yg belum yaitu kerajaan sunda,sehingga memicu perang bubat.seandainya papua lepas sy rasa sunda juga ingin melepaskan diri.bila memicu jaman kerajaan.dan itu hasan tiro jg mengakuinya dalam sebuah pernyataannya.silahkan kopral cari dmn ada nama jalan majapahit di bandung?? Jd jgn pernah punya pikiran kans sunda tidak memisahkan diri,makanya jangan adalagi referendum jangan ada lagii isu makar.kita ini satu dan tidak ada negara federal.yg ada NKRI yg ada Indonesia.masalah papua itu kekeliruan pemahaman mereka tentang sejarah kebetulan sy punya rekan keturunan kerajaan bachan.kita tetap satu kita tetap indonesia tak perlu diperdebatkan papua sudah final menjadi bagian dari republik ini.sabang sampai merauke,kaalo soal kesejahteraan jgnkan luar jawa dalam jawa pun banyak yg gaa punya rumah,sudahlah gaa perlu diperdebatkan toh tinggal baca ajaa sejarah sebanyak2nya baca buku sebanyak2nya.jd lebih baik kita berfikir bertahan hidup cari kerja cari lapangan usaha berfikir keras hidupi keluarga.punten nyak upami lepat namina ge ikut ngobrol dgn sodara semua.assalamualaikum.wr.wb

  4. interior consultant
    Juli 5, 2012

    menarik artikelnya…sekaligus berita yaaa..makasih udah share ya

  5. Kang Abe Jasmerah
    Juli 6, 2012

    Bersatu itu menjadi solusi bagi keberagaman namun bagaimana cara kita khususnya cetralisasi di kawasan pulau Jawa bisa dikurangi dan pembangunan bisa merata seluruh daerah… kalo udah begitu mau ditawarin merdeka sama negara asing juga mereka mikir-mikir orang gabung sama Indonesia udah makmur kok… semoga kita masih bisa dalam naungan Allah SWT melalui Negara Kesatuan Republik Indonesia…

  6. Tambahan satu lagi syarat indonesia menjadi ” makmur ” yang namanya pejabat negara tidak lagi berwatak sebagai pejabat parpol yang seperti kita lihat sekarang ini – ” Jadi bingung mana yang pejabat negara dan disisi lain mana yang pejabat parpol , persis ” inkoherent ” “. …..ira maya (SOPHISTICATED).

  7. SITI FATIMAH AHMAD
    Juli 9, 2012

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang KC,

    Jika kepimpinan tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka pasti rakyat tidak bisa merasa aman dalam negeri pemerintahannya. Banyak kepimpinan dunia hari ini lebih memandang kekuasaan dari aspek material berbanding menjaga kebajikan dan keharmonian rakyat bawahan. tentu sahaja rakyat tidak bisa rasa terjamin walaupun berada dalam negeri sendiri.

    Coba aja contohi pemerintahan Rasulullah, 5 Khalifah terkenal, Sultan Sallehuddin Al-Ayubi dan Sultan Muhammad al-Fateh (tentu sekali corak pemerintahan mereka tidak bisa diikuti zaman sekarang kerana mereka adalah pemerintah yang menjalankan perintah Allah dan ‘abid yang zuhud dari dunia walaupun harta dunia bisa mereka miliki dengan izin Allah). \

    negara menjadi kucar kacir dan porak poranda jika sistem pemerintahan tidak diikuti sebagaiman yang tercatat dalam perlembagaan. Saya jadi sayu membaca artikel di atas. Sungguh lelah hidup dalam keadaan yang tidak dihargai dan dipandang hormat sedangkan jasadnya adalah merdeka tetapi hidup dalam cengkaman yang menghinakan.

    Semoga ada solusi yang baik dari pihak pemerintahan kedua-dua kuasa ini. Buku yang bagus untuk dibaca bagi menambah koleksi sejarah bangsa sendiri.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. :D

  8. Munawir Ugar
    Juli 12, 2012

    trimkasih mas udha berbagi,, senang membaca tulisan2mu,

    ———
    Kopral Cepot : Hatur tangkyu kembali ;)

  9. puncakniskala
    Juli 13, 2012

    kayaknya da lupa kapan merasa makmur diindonesia hahaha…
    aku yang salah berfikir tentang indonesia atau pendiri bangsa yang salah telah melahirkan indonesia ya???
    kalo hati nurani ditanya aku lebih bangga sama hasan tiro dari pada sekarno dan suharto.

    • Anggo
      Februari 28, 2013

      udah mati tu orang! lagian bodoh sekali kau, lagi Aceh drurat militer kan di cuma ongkang2 kaki di Finladia dan ngga tau kalau semua rakyatnya sengsara!!

  10. Ferry Asenk
    Juli 13, 2012

    Ijin Komen Kopral…..Setahu saya kopral dan menurut cerita yg saya dengar….indonesia yg asli itu hanya pulau jawa….pulau yg lain secara de jure memang wilayah indonesia sewaktu negara ini di bentuk…tapi secara de facto tidak…misalnya pulau sumatra…secara disana banyak kerajaan2 kecil yg memimpin dan mengfuasai suatu daerah…aceh, siak, palembang misalnya….hanya kerena presiden soekarno menaruh pemimpin militer dan membujuk para penguasanya untuk bergabung dengan NKRI pada awalnya….INGAT Hanya membujuk para penguasa daerahnya …dan b7ukan keinginan rakyat setempat untuk bergabung dengan negara ini…..
    ……saya pernah baca suatu artikel bahwa Sultan Kerajaan siak yg terakhir yaitu Sultan Syarif Kasim didatangi oleh presiden soekarno untuk supaya ikut bergabung dan “menyerahkan ” wilayahnya kepada RI pada saat pembentukan negara pada waktu itu…akhirnya dengan iming2 janji bahwa daerah dan rakyatnya akan dijamin kemakmurannya maka sang sultan menyerahkan dan menggabungkan wilayah kerajaan siak (sebagian dari Provinsi Riau Sekarang ) kedalam Republik ini….tapi kenyataan berkata lain,…..hasil bumu pulau sumatra tidak pernah betul2 di nikmati oleh rakyat sumatera sendiri…..semua dikirim ke pusat……mungkin juga itu adalah salah satu alasan terjadinya PRRI di sumatera pada tahun 50-an silam…akibat kecurangan “Republik Indonesia “itu sendiri……itu baru contoh untuk satu daerah di pulau sumatra kopral……kalo kita bahas aceh…lebih rumit lagi……jadi wajar saja rasanya kalau PAPUA minta merdeka…..bisa jadi kedepannya SUMATRA yg minta merdeka……kalau pemerintah tidak pernah adil dalam membagi kue pembangunan di REPUBLIK Ini…………………..Bukannya saya memecah persatuan dan kesatuan kita…..tapi cobalah untuk lebih membuka mata hati kita semua….SUDAH ADIL KAAAHHH….????

    • Anggo
      Februari 28, 2013

      Tolong belajar sejarah lagi, semua pemimpinn pada masa pergerakan revolusi banyak yang berasal dari luar pulau jawa! dan masalah PRRI itu cuma sekedar sakit hati Syafrudin Prawiranegara! Indonesia itu bukan jawa tapi dari sabang sampai merauke!

      • Anggo
        Februari 28, 2013

        moh. Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahir, KH Agus Salim, AH, Nasution dari Sumatera.
        Tjilik Riwut,Hassan Basry, Idham Chalid dari kaliamantan.
        Robert Wolter Mongfensidi, AA Maramis, Sam Ratulangi, M. Yusuf dari Sulawesi.
        J. Latulahary, Leimena, Siwabessy dari Maluku.
        Marthen Endey, Silas Papare, Frans Kaesepo dari Papua.

        jadi konkritnya mereka berjuang untuk Republik INI dari berbagaimacam suku! Indonesia Sabang sampai Merauke hingga akhir jaman!

  11. indonesiaku THOQ.
    Juli 14, 2012

    - keadilan tidak akan pernah ada di dunia ini , KAWAN !!

  12. Gogo
    Juli 16, 2012

    Nice artikel. Sedari awal, Irian atau Papua barat secara historis n non histrois udah jd bagian dari Nusantara. Ulah barat, terutama belanda aj y bikin kasus Papua g selese2.. blm tangan2 jahil Amrik..

  13. R-Wasp
    Juli 23, 2012

    Papua masalahnya memang kompleks. Penduduknya jauh lebih kompleks & beragam ketimbang yang selama ini terlihat oleh orang awam. Belum ditambah masalah konflik SDA & medan alam Papua yang masih didominasi oleh hutan & pegunungan.

    Pemberian otonomi untuk keperluan pemerataan pembangunan juga malah disalahgunakan oleh para pejabat lokal untuk memperkaya diri

  14. sociopolitica
    September 9, 2012

    Sebuah bahasan buku yang menarik. Ada sebuah buku lainnya tentang Irian Jaya/Papua yang tak kalah menarik, tulisan seorang Belanda, P.G. Drooglever. Diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit Kanisius, Yogyakarta, dengan judul “Tindakan Pilihan Bebas”, sub-judul “Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri”. Sangat memadai sebagai referensi. Tetapi Majalah Prisma menyimpulkan buku ini cenderung ‘menyarankan’ suatu negara Papua Merdeka.

    ————-
    Kopral Cepot : Hatur tangkyu… Moga bisa hunting bukunya.

    • Anggo
      Februari 28, 2013

      ngga usah di edarin buku ini, karena dampaknya jadi luas. dari perbedaan pendapat yang berujung pada opini yg absurd dan menjadikan separatis bersenjata! jadi orang yang sabar, bangsa2 besar diseluruh dunia melalui proses ratusan tahun. tidak ada negara yang begitu saja maju dalam sekejab mata!

      Papua tetap jadi bagian dari Indonesia sampai akhir jaman!!!! NKRI Harga Mati!!! yang ngga setuju Halal di bunuh TNI, karena Demokrasi telah dipraktekan maksimal di Era Reformasi!! kalo masih ngotot silahkan cari tanah air baru!!! diluar NKRI!!!

      Indonesia Sabang sampai Merauke hingga akhir jaman!

  15. Rado
    September 22, 2012

    papua harus merdeka, cukup sudah indonesia menelantarkan negara papua.
    papua sudah layak jadi negara sndri…

    teruskan perjuangan mu warga papua buat jdi negara sndri..
    hidup atau mati……..

    • Anggo
      Februari 28, 2013

      papua tetap jadi bagian dari Indonesia sampai akhir jaman!!!!

  16. h.bonay
    Oktober 26, 2012

    Siap Kopral. Issue Papua makin santer kan. Issue Referenduk koyo Tomor LEste dahulu kian santer. Lalu kami di Papua terkejut ketika ribuan da’i turun dari kapal dakwal AFKN …. untuk alasan dakwah… terjadi beberapa gelombang dan seperti tersamar, upaya islamisasi untuk mengimbangi populasi papua !! sehingga apabila referendum, diharapkan dapat mengimbangi suara orang Papua kan ?
    Yakin atau tidak, perang berdarah akan terjadi di Papua melebihi Timor Leste.

  17. Wanggai
    Oktober 27, 2012

    Setuju Kopral. Beberapa Yayasan di Papua memberikan Pendidikan Gratis dan dikirim ke berbagai sekolah dan pesantren. Mereka terus didoktrin dan diteror untuk di Islamkan !! Biadab betul. Memang kami Papua sangat miskin dan bodoh. Tetapi kami “dibodohi” adalah perbuatan orang laknat lagi kaffirun. Saudara saya salah satu korbannya, dengan harapan bisa mendapat pendidikan yang layak “gratis” dan dikirim ke Makassar dan kemudian ke Lampung, diteror untuk masuk Islam. Akhirnya saudara saya ditolong seseorang dan berhasil melarikan diri. Hai Papua, hati-hati dengan modus-modus ini. God Bless Papua.

    • Anggo
      Februari 28, 2013

      wahai saudaraku, apakah salah mengajarkan kebaikan melalui upaya agama, kalau suka silahkan menjadi mualaf kalau tidak ya tak ada paksaan. tolong pikir pake akal sehat dulu wilayah papua dijajah oleh para misionaris. sekarang orang di papua bisa menjadi pejabat, bisa sekolah dan dapat dana otsus triliunan dan apakah slah para ulama memberikan Dakwah sebagai pembelajaran budi pekerti yang baik.

      • Anggo
        Februari 28, 2013

        dalam islam mengajarkan kebersihan melalui Shalat yg mewajibkan kita utk mengambil air wudhu 5 kali dalam sehari. dari situ Isalam mengajarkan kebersihan untuk orang di pedalaman… yang tidak pernah diajarkan oleh misionaris yang jarang mandi. papua tetap jadi bagian dari Indonesia sampai akhir jaman!!!!

  18. soni
    Oktober 27, 2012

    kalimat yg aneh?

  19. www.Gombel
    Desember 15, 2012

    pusing Saya kenapa tempat yang aku tinggali aneh seperti ini gk kaya tempat lain (negara pada umum nya) pindah planet aja lah ,wkowkowk (gk mungkin ya yaudah) pasrah and berdoa kalo gitu saya,Tuhan kan maha adil pastinya akan berikan jawaban yang adil pula untuk anehnya hidup ku…………Salam saya untuk bangsa” yang aneh !………!wkowkowkwokwokw .Hatur Tengkyu kopral atas info yang aneh nya xixixi

    (pengakuan asli saya sebenar nya hati “Rage” dengan situasi seperti ini)

  20. vICKY
    Februari 2, 2013

    Merdeka atau mati, Bangkit melawan atau tetap tertindas. Papua harus menentukan Pilihan…!!!

    Negara Indonesia ini adalah Negara Jawa, Segala sesuatu yg berkaitan dengan negara ini pasti jawa. kemewahan negara ini hanya ada di jawa, meskipun jawa tidak memiliki potensi sumber daya alam sebesar pulau lain di indonesia.

    Konsep RIS yg seharusnya jadi lebih baik dengan kondisi negara yg lebih banyak air ini, tapi malah di buat menjadi Republik. sengaja di buat republik karena pemimpin tahu kalau jadi negara serikat/federal maka jawa akan menjadi daerah paling terpuruk. ini strategi pemimpin yang dari awal negara ini merdeka sampai sekarang dan mungkin selama negara ini masih republik akan selalu di pimpin oleh orang jawa.

    dari jaman soekarno sampai soeharto, dari mengindonesiakan sampai menjawakan semua daerah republik indonesia. itulah strategi dua pemimpin besar negara ini.

    Pemerintah mengeluarkan Program KB yg di terapkan di seluruh negara ini, apa itu adil…?????
    Program KB itu khusus orang Jawa, dengan jumlah 150jtan (kurang lebih 50% total penduduk ini) harusnya itu khusus orang jawa. kenapa dari dulu tidak diterapkan? sangat lucu kalau Program KB harus diterapkan untuk orang lain selain masyarakat jawa.

    sampai mati negara ini akan selalu menjadi negara jawa,

    saya berharap pulau lain juga memikirkan untukmelihat hal ini, dimana mereka mau berteriak dan berjuang untuk penindasan secara tidak langsung yg di lakukan orang jawa.

    Kalimantan Minta Referendum, Sumatra minta referendum,Kepulauan Nusa minta referendum, sulawesi dan maluku pun minta referendum. maka ….????
    Pulau Jawa TENGGELAM….!!!!

  21. Anggo
    Februari 28, 2013

    Tolong koreksi lagi, sekarang udah ada otonomi, dan banyak pemimpin yang berkuasa di daerah asalnya masing2! kalo anda ngga suka dengan konsep negara kesatuan >>>> bakar KTP, Keluar dari NKRI dan silahkan cari tanah air baru!

  22. wajidi
    Februari 28, 2013

    Wilayah Indonesia kini adalah wilayah wilayah Hindia Belanda dahulu yang meliputi Papua Barat sekarang. Indonesia adalah sebuah persatuan politik, bukan persatuan yang didasarkan faktor keturunan atau kesamaan etnis. Karena alasan itulah mengapa etnis Papua yang berasal dari rumpun Melanesoid dapat berhimpun dengan etnis lainnya di dalam NKRI karena mempunyai kesamaan nasib dan sejarah yang sama di bawah penjajahan Belanda. Berbeda dengan Timor Timur (Timor Leste), meski secara etnisitas mempunyai persamaan dengan penduduk Timor Barat (Provinsi Nusa Tenggara Timur), dorongan untuk melepaskan diri dari NKRI lebih mengakar karena mempunyai nasib dan sejarah di bawah penjajahan Portugis. Dilema nasionalisme ganda pada masyarakat Papua tidak terlepas dari berbagai persoalan yang saling terkait seperti ketidakadilan pemerintah pusat kepada daerah, kesenjangan di bidang ekonomi, pendatang versus masyarakat lokal, pendidikan, dampak negatif keberadaan perusahaan freeport, dlsb yang bercampur aduk dengan sentimen keagamaan, ras atau kesukuan. Tugas pemerintah mengatasi persoalan itu dengan cara bermartabat, sehingga saudara kita di Papua tetap memiliki Indonesia di dadanya, merasa bersaudara dengan etnis lainnya di Indonesia. Untuk bersatu kita tidak perlu menutup perbedaan, karena memang Indonesia itu memang sangat bhinneka, bahkan sangat luar biasa berbeda dan sangat luar biasa pula bisa bersatu hingga detik ini. Sejarawan Australia, Robert Cribb, pernah mengatakan: “memandang peta rasanya cukup untuk memberi kesan bahwa tidak mungkin adanya negara Indonesia. Kesan itu muncul karena Indonesia terdiri dari 17.504 pulau besar dan kecil (13.487 pulau telah didaftarkan ke PBB), yang dipisahkan oleh laut dan selat yang terbentang dari barat ke timur sepanjang lebih kurang dari 5.000 km (setara jarak Moskow ke London) dengan wilayah yurisdiksi ± 5,9 juta km2, garis pantai pantai sepanjang 95.181.000 km (ke empat terpanjang di dunia), dan didiami oleh lebih kurang 1.128 suku bangsa dan memiliki lebih kurang 700 bahasa daerah. Bahkan, Benedict Anderson (2002) menyatakan bahwa ”Indonesia adalah komunitas politik terbayang”. Karena individu-individu dari berbagai suku bangsa di Indonesia membayangkan kebersamaan mereka yang disatukan dalam slogan Bhinneka Tunggal Ika. Kembali ke persoalan Papua, yang pro kemerdekaan seperti OPM tidak mesti harus dimusuhi dengan pendekatan militer tapi harus dirangkul. Pemerintah harus jeli melihat akar persoalan yang menjadi latar belakang mengapa sebagian masyarakat Papua memiliki nasionalisme ganda. Pemerintah jangan berharap banyak dapat “merebut” hati saudara kita masyarakat Papua, jika masih menganggap dan memperlakukan Papua sebagai “halaman belakang” serta membiarkan masyarakat Papua berada dalam ketidakadilan, keterbelakangan, kebodohan, kesenjangan ekonomi, dan persoalan sejenis lainnya…

  23. Pengembara Rimba
    Juli 31, 2013

    Permisi……….. dalam melihat komflik politik yang dewasa ini makin menjamur, marilah kita melihat kembali dari nol apa yang sebenarnya terjadi (dengan cara kita melakukan riset), di sana akan kita temukan apa yang sebenarnya terjadi. karena ada berbagai faktor yang mengancam keingin/ kata hati sehingga melemahkan setiap orang yang tidak pernah se-pakat menjadi sepakat. berbicara mengenai histori indonesia, ada salah satu buku yang menarik untuk kita baca bersama. judul buku ….. Alternatif Histori Of Indonesai……., di dalam buku ini akan kita melihat apa yang di sebut dengan negara Indonesia sejak awal hingga memunculkan berbagai komflik saat ini, di sebabkan oleh terciumnya bangkai yang di kubur diatas tanah.

  24. Alam
    November 29, 2013

    Sbenarnya Ini Kesalahan Pemerintah..
    Pt Freeport ( amerika ) menyewa tanah papua dan uangnya masuk kantong jakarta..
    Eh papua malah gak dibangun apa2.. Malah jawa yang digiatin pembangunannya

  25. Bolang
    Januari 14, 2014

    Maaf jika boleh berbagi saya sebagai pendatang di Papua dengan tulus ingin sekali melihat Papua ini maju dan penduduk aslinya makmur dan sejahtera. Menurut saya Papua ini bisa menjadi lebih baik kalau orang-orang Papua khususnya penduduk asli Papua mau merubah etos kerjanya, kedisiplinannya, dan semangat belajarnya. Hampir 100 persen pimpinan daerah di Papua adalah orang asli Papua asli demikian juga dengan pejabat-pejabat eselonnya dari eselon 1 sampai IV, dari Sekda sampai kepala kampung. Mestinya ini menjadi modal luar biasa untuk menjadikan Papua bangkit, mandiri dan sejahtera seperti visi yang diusung Gubernur Papua pak Klemen. Namun sayang, bukan rahasia umum bahwa orang-orang asli Papua yang menjadi aparatur pemda etos kerja dan disiplinnya masih sangat kurang dan perlu di ubah. Masih sidikit sekali orang asli Papua yang mau memiliki etos kerja dan displin tinggi serta profesional. Sehingga jangan kaget jika kantor pemda sering kali sepi pegawainya, justru yang terlihat kebanyakan para pendatang yg notabene hanya sebagian kecil dari seluruh pegawai pemda. Kondisi etos kerja orang asli Papua ini tidak hanya terjadi di instansi pemda, tetapi di instansi vertikal pemerintah pusat yang ada di Papua juga hampir sama. Orang asli Papua yang bekerja di instansi vertikal etos kerja dan disiplinnya masih belum banyak yang mampu bersaing dengan para pendatang, padahal semua diberi kesempatan dan peluang yang sama untuk berprestasi dan mendapat penghargaan, tetapi hal ini kurang dimanfaatkan oleh pegawai dari asli orang Papua. Demikian juga jiwa untuk mau berusaha atau berwiraswasta/wirausaha. Sangat sedikit sekali orang asli Papua yang mau/bisa menjalankan bisnis/usaha secara profesional. Padahal banyak lembaga-lembaga pemerintah pusat yang ada di Papua yang berkomitmen membangun kompetensi dan keahliian SDM orang asli Papua, tetapi sangat disauangkan hal ini juga kurang diminati sehingga pelatihan yang diselenggarakan tidak memiliki nilai tambah karena kurangnya kemauan menyerap hasil-hasil pelatihan. Lebih parah adalah konsumerisme orang asli Papua yang masih tinggi dibanding dengan pendapatannya. Maka jika boleh memberikan saran, sebaiknya jika ingin orang asli Papua menginginkan Papua seperti apa .. mulailah dengan memperbaiki dan merubah etos kerja, disiplin, semangat belajar dan profesionalismenya…. yakinlah jika orang asli Papua sudah dapat dan mampu mengelola misal bagaimana mengelola keuangan pemerintah daerah dengan baik dan benar sesuai peraturan, bagaimana membangun dengan baik dan benar … maka dengan sendirinya para pendatang tidak dapat bersaing dengan orang asli Papua dan para Kepala Daerah/Pimpinan daerah yang asli orang Papua pasti lebih memilih orang asli Papua yang memang memiliki kualitas dan kapabilitas/kompetensi yang mumpuni.untuk menduduki sebagai pejabat eselon/stafnya. ….dan jika semua orang Papua sudah beretos kerja tinggi, berdisiplin tinggi, profesional, berkesadaran tinggi,dan memiliki daya saing yang tinggi maka kelak mau dijadikan apa Papua ini akan lebih mudah buat orang asli Papua ….karena orang asli Papua sudah mampu mengurus Papua-nya sendiri dengan baik dan benar serta berkeadilan bagi seluruh masyarakatnya baik asli Papua maupun pendatang …. Amiin

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    ya,tapi kami orang toba trauma dengan islam,pasukan islam membantai tanah batak,dan kami tidak takluk dengan pedang.dio bakkara bangga dengan keislam anya,itu boleh saja.tapi alangkah baiknya anda belajar cari sejarah pengislaman tanah batak,walaupun kontroversial tapi jelas lebih mendekati dari pada sejaran yang di tulis pemerintah
    pstruct
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    betul sekali poang,kita tau siapa yang tukang klaim,bagaimana mungkin sisingamangaraja itu islam,apakah begitu bodohnya ompui lupa tanah batak di bantai islam,yang jauuuuuuh lebih mengerikan dari belanda.
    pstruct
  • Komentar di Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah oleh hendriwibowo Juli 29, 2014
    Habis baca artikel Makasih artikelnya. Lebih membuka mata saya bahwa, jadi tertarik menelisik lebih jauh. Beberapa dokumen lain dari wikipedia, unesco, ternyata mendukung fakta liputannya natgeo bahwa perang diponegoro ternyata skalanya besar dan masif. Thxs buat artikelnya -yang Lebih membuka mata saya bahwa perang ini lebih dari sekedar urusan patok jalan. […]
    hendriwibowo
  • Komentar di Cerita Amriki di PRRI dan CIA di Permesta oleh Tri Jtamadji Juli 28, 2014
    Oh...ternyata gitu to? Selama ini banyak rakyat kita yang di benaknya ( hasil pelajaran resmi ) bahwa mereka adalah murni memberontak demi memisahkan dari NKRI. Namun harus diakui, suka atau tidak suka , ya memang runyam kalau tentara ( secara institusi) masuk ke dunia politik.
    Tri Jtamadji

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: