Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Pengakuan Dedengkot CIA

Telegram Gelap Buat Jakarta

PAUL Linebarger adalah konsultan kami untuk masalah-masalah perang urat saraf di Asia Tenggara. Ia kerap memberikan kami seminar-seminar tentang perkembangan poleksosbud wilayah itu. Sering pula ia menasihatkan tentang langkah-langkah apa yang perlu kami ambil untuk mempengaruhi keadaan di sana.

Dalam salah satu seminarnya, Paul mendorong saya untuk mengusulkan pada Seksi Indonesia agar melancarkan sebuah operasi gelap terhadap negara itu. Itu dilaksanakan ketika ada info bahwa Indonesia dan Uni Soviet akan segera membuka hubungan diplomatik. Sebagai akibat operasi kami itu, pembukaan formal hubungan tersebut tertunda enam bulan.

Unsur-unsur Islam konservatif di Indonesia, kami tahu mendesak pemerintah agar mempertimbangkan kembali keputusan itu dan memperhatikan berapa orang Rusia yang akan tinggal di Jakarta atas dasar persetujuan dwipihak tersebut. Rencana operasi kemudian disusun oleh ahli perang urat saraf senior dan diperlihatkan kepada semua anggota Biro Klandestin agar meniadl suatu gerakan yang mulus.

Saya ingat betul, Uni Soviet memiliki kedutaan yang besar di Bangkok. Saya juga ingat bahwa OPC punya seorang agen kawakan Bob North di Bangkok, yang bekerja dengan topeng produser film. Saya yakin, ia akan senang membantu kami. Info yang didapat dari teman-teman yang bekerja untuk Seksi Indonesia mengatakan bahwa Jakarta mengalami kekurangan perumahan. Dan, pada kenyataannya, keadaan itu telah menyebabkan pos Jakarta tak begitu menarik buat agen-agen kami untuk ditempatkan di sana.

Dari keterangan-keterangan itu, saya menyarankan agar pos Bangkok mengatur supaya mengirim kawat palsu ke Jakarta. Kawat itu dibuat seolah-olah berasal dari petugas administratif Kedubes Soviet di Bangkok yang ditujukan kepada seorang pejabat Indonesia di Kementerian Luar Negeri. Isinya merupakan suatu permintaan agar petugas itu sudi mengatur untuk memperoleh perumahan buat staf Kedubes Soviet yang jumlahnya sangat besar. Kebetulan Seksi Indonesia tahu nama petugas Indonesia itu. Jadi, yang kami perlukan sekarang hanyalah nama pejabat Kedubes Soviet di Bangkok. Tapi itu juga beres. Atas usaha Seksi Muangthai kami berhasil mengetahui nama pejabat itu.

Maka, dikirimlah sebuah rencana dan dikawatkan ke pos Bangkok kami. Kami sarankan agar rumah yang ditanyakan oleh kawat palsu itu jumlahnya 200. Kami sadar, jumlah itu terlalu banyak. Tapi kami juga tahu bahwa orang Indonesia sudah biasa melayani permintaan orang asing, paling tidak orang Amerika, yang meminta dan ingin melihat lebih dari satu rumah. Dengan demikian, walaupun jumlah itu terlampau besar, itulah yang kami inginkan. Kami yakin, jumlah itu tidak akan meleset dalam perhitungan kami orang-orang Indonesia akan mempercayainya.

Kami juga mendesak Bangkok agar tak ada pesan lain. Makin pendek kawatnya, makin besar kemungkinan untuk dipercaya. Pengumuman pemerintah Indonesia kemudian — mengenai segera dibukanya sebuah kedutaan Soviet — membawa kami pada kesimpulan: tak perlu mengatakan apa-apa lagi. Pertimbangan lain: pada waktu itu Kedubes Soviet di Bangkok merupakan yang paling besar di Asia Tenggara. Dengan demikian, kami berkesimpulan bahwa pemerintah Indonesia akan berpendapat: logis saja kalau permintaan informasi administratif semacam itu datang dari Bangkok, tidak dari Moskow. Pada hemat kami, besar kemungkinan Indonesia akan berpikir, Moskow telah mendelegasikan persoalan itu kepada Bangkok. Karena Bangkok begitu dekat dengan Jakarta, dan karena besarnya Kedubes Soviet di sana, masuk akal kalau ia memiliki anggota staf yang mengurusi tetek bengek semacam itu.

Asumsi kami ternyata jitu. Pejabat Indonesia yang menerima telegram itu begitu kesal dan kaget. Ia menunjukkan itu kepada para pejabat lain, termasuk ke kalangan Islam konservatif yang saya terangkan di atas.

Segera saja mereka menuntut suatu penyelidikan tentang jumlah personel kedutaan Rusia yang akan ditempatkan di Jakarta. Mereka akhirnya menuntut agar jumlah itu ditekan setepos mungkin.

Memerlukan waktu beberapa hari buat Uni Soviet untuk bereaksi. Dalam pada itu, koneksi kami di media massa menambahkan “warna” dalam berita tentang jumlah petugas kedutaan Soviet yang akan ditempatkan di Jakarta. Kami juga sudah memperhitungkan bahwa Moskow akan terlambat bereaksi. Birokrasi Uni Soviet begitu ketat, sehingga memerlukan waktu buat bereaksi atas segala hal yang terjadi.

Jadi, sebelum Moskow muncul dengan pernyataan yang menjelaskan bahwa telegram itu tidak berasal dari pihaknya, sedikitnya sudah ada kalangan di Indonesia yang percaya. Mereka sudah mendengar dan membaca demikian banyak jumlah personel yang akan diboyong oleh kedutaan negara komunis itu. Mereka mesti sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Moskow untuk keluar dari persoalan yang memalukan itu.

Siasat yang Gagal

Sementara Republik Filipina sedang dirancang sebagai, etalase demokrasi di Asia, saya sedang menempuh latihan operasi CIA. Itu merupakan pelajaran intensif yang berlangsung selama 12 minggu dan menyangkut kemahiran sebagai spion. Ketika latihan berakhir, Magsaysay telah terpilih menjadi Presiden Filipina. Latihan itu baru saya ambil setelah bergabung dengan CIA selama dua tahun, dan akan saya terangkan mengapa.

Menjelang 1953, sesuai dengan keadaan dunia yang terus berubah, ada lagi perubahan yang berpengaruh atas karier saya. Di tahun itu saya dipindahkan ke Biro Indonesia/Malaya/Australia sebagai anggota pengganti seorang pejabat yang nasibnya tak begitu beruntung. Selagi menjabat Kepala Bagian Psikologi dan Politik (PP), ia mencoba bunuh diri, tapi gagal.

Di dalam Divisi Timur Jauh (Divisi FE) yang telah digabungkan masalah-masalah Asia Tenggara ditangani oleh tiga cabang. Itu berbeda dengan keadaan pada masa FE/OPC, sewaktu hanya satu divisi yang bertanggung jawab. Sekarang, FE/4 bertanggung jawab atas Indocina, Muangthai, dan Burma. FE/5 memperhatikan Indonesia, Malaya, dan berhubungan erat dengan Badan Intelijen Australia. Sedangkan Filipina ditangani khusus oleh satu cabang.

Alasan percobaan bunuh diri pendahulu saya merupakan hal yang pribadi dan tragis. Tapi proyek utama yang sedang dikerjakan dan didukungnya adalah gagasan Rube Goldberg. Barangkali justru rencana itulah yang menyeretnya ke percobaan bunuh diri. Proyek itu dimaksudkan untuk menyediakan fasilitas “selimut untuk status” dan “selimut untuk aksi” — dua istilah yang saya pelajari dari latihan 12 minggu buat kegiatan PP di seluruh kepulauan Indonesia.

Sarana yang dipilih untuk mencapai maksud itu adalah serangkaian toko buku yang akan didirikan Indonesia. Sebagai induknya, akan di bentuk sebuah perusahaan yang menjual buku dan alat-alat tulis. Perusahaan “samaran” itu berkantor di New York. Ternyata, gagasan ini merupakan produk yang lahir dari pemikiran seseorang yang telah kelewat harfiah menerima doktrin latihan operasi. Boleh jadi, orang itu telah membaca terlalu banyak cerita spion yang menggunakan toko-toko buku sebagai tempat rendezvous, tempat mata-mata bis meninggalkan, menerima pesan rahasia — tak lupa, melancarkan intrik.

“Samaran status” adalah istilah spionase yang berarti: pekerjaan keahlian atau kegiatan yang menjadi alasan jelas atau legal buat seseorang untuk berada dl suatu tempat atau negara. Tapi alasan sebenarnya dia berada di sana adalah kegiatan spionase atau kegiatan lain yang bersifat klandestin dan tidak legal. “Samaran kegiatan” berarti suatu aksi yang dapat diterangkan alasannya dengan cerita yang bisa dipercaya, atau hal-hal lain yang bukan sebenarnya. Seorang Amerika muda yang lalulalang ke sana-kemari di Indonesia sebagai wakil sebuah perusahaan Amerika (samaran status) secara teoretis sebenarnya merupakan sebuah gagasan yang hebat. Tapi tak akan ada seorang pun dari kalangan bisnis yang melakukan itu di Indonesia pada 1953.

Sebagaimana halnya dengan negara-negara baru, Indonesia menjalankan struktur tarif preferensial untuk mendorong usaha-usaha lokal. Tingkat tarif itu demikian tingginya untuk produk-produk yang dibuat di luar negeri, termasuk buku-buku dan perlengkapan sekolah/kantor. Selain pajak yang demikian tinggi, seorang importir harus membayar denda tambahan yang dikenakan pada kegiatannya yang dianggap “tidak patriotik”. Di samping itu, ada juga pajak yang dikenakan pada setiap transaksi bisnis.

Ketika saya mengambil alih proyek itu, hasilnya sudah bisa diduga. Walaupun telah berjalan dua tahun, sebegitu jauh hanya sebuah toko buku yang dapat didirikan, dan hanya seorang agen yang dikirim ke Indonesia. Di sana pun ia menghabiskan waktunya untuk mengurus pengeluaran buku yang dikirim melalui birokrasi Indonesia yang berliku, tanpa bisa mengerJakan tugas operasional apa pun. Proyek itu pun tak berhasil mengerjakan tugas minimalnya, yakni menyalurkan buku-buku antikomunis bermutu ke Indonesia.

Sebagian buku tersebut telah dikirim, tapi petugas kami di Jakarta tak berhasil mengeluarkannya dari pabean, lantaran setiap buku politik pasti dicurigai. Ia memohon kepada kami dan kepada New York agar hanya mengirim buku-buku teks, supaya ia tidak diinterogasi dan didepak ke luar. Dalam istilah spionase, ia sedang berusaha “terus untuk membangun penyamarannya”. Tapi ini pun membuat para bos tingkat tinggi khawatir, ketika mereka meninjau proyek itu setiap tahunnya.

Yang membuat keadaan memburuk adalah bahwa proyek itu menjadi sasaran penilaian kembali oleh Divisi Komersial. Divisi itu dibentuk untuk menilai berbagai proyek yang dijalankan. Proyek-proyek semacam itu adalah usaha bisnis dan kerja sama dengan sekumpulan orang yang meminjamkan nama, tapi aktif dalam bisnis dengan memakai modal CIA. Divisi Komersial itu sangat kecewa dengan proyek kami, lantaran setiap tahunnya proyek itu menyerap dana 100.000 dolar AS, selalu merugi, hampir tak punya cash flow.

Yang paling menyedihkan adalah nasib spion kami yang malang di Indonesia. Ia didesak oleh dua kekuatan. Di satu pihak ia mesti terus-menerus adu argumentasi dengan petugas pabean kami untuk mengeluarkan buku-buku kiriman. Tapi, di pihak lain, ia pun harus menjawab segala pertanyaan Divisi Komersial mengapa usaha tersebut rugi.

Tak lupa, ia pun harus memuaskan para operator di PP, yang biasanya terdiri atas anggota staf senior, dengan mengatakan bahwa proyeknya itu baru saja dimulai. Ia pun harus mengatakan bahwa itu tidak dimaksudkan buat mengubah Indonesia sebagai pameran demokrasi. Paling tidak, kami sedang berusaha membanjiri negeri itu dengan bahan-bahan propaganda yang diinginkan oleh anggota-anggota staf senior, agar dibaca di seluruh dunia.

Dilemanya menjadi lebih tegang, karena baik staf senior PP maupun Divisi Komersial tak mau bertanggung jawab atas proyek itu. Malah keduanya tak berminat pada kepentingan yang ingin dicapai oleh masing-masing. PP mengatakan, mereka tak peduli kalau itu rugi, asal saja memberi jaminan akan menghasilkan sesuatu dalam waktu enam bulan. Divisi Komersial sebaliknya mengatakan bahwa mereka tak ingin turut campur ke dalam urusan itu. Tapi mereka tak menyetujui terus kelangsungannya apabila keadaan keuangan tetap tak membaik. Alasannya, proyek itu bukan saja menghabiskan terlalu banyak uang, tapi juga takkan bisa bertahan kalau bank dan para kreditor ingin mengadakan inspeksi.

Lewat beberapa pertemuan yang selalu tak konklusif, akhirnya kami mengambil jalan kompromi. Suatu ketika, ketika rapat berakhir, Desmond Fitzgerald, Asisten Direktur Perencanaan meminta saya memberikan pendapat. Dengan terus terang saya jawab bahwa saya tak tahu banyak tentang keadaan sebenarnya di Indonesia.

Dan karenanya juga tak bisa memberi rekomendasi yang jelas. Ia meminta saya agar menulis sebuah memo perubahan atas proyek yang sedang berjalan itu, dan membuat usulan agar direktur firma bayangan tersebut bersama saya berangkat ke Indonesia.

Desmond Fitzgerald mengatakan akan menemani saya ke pertemuan Komisi Pertimbangan Proyek — suatu badan tingkat tinggi yang meninjau dan mempertimbangan rencana-rencana yang memerlukan biaya 100.000 dolar ke atas. Proyek itu akan diperbarui berdasarkan hasil perjalanan kami, yang akan mengadakan reorganisasi kegiatan. Atas dasar langkah itu, toko buku tersebut akan segera berdiri. Fitzgerald berpesan agar saya membuat rencana dan persiapan matang, karena kemungkinan besar Allan Dulles, itu Direktur CIA, akan hadir dalam pertemuan tersebut.

Di sebuah dokumen tentang proyek toko buku yang ada dalam file, saya baca: perlunya posisi samaran yang tak resmi di Indonesia, dengan potensi operasionalnya yang memungkinkan merekrut orang di kalangan pers dan politik. Dan itu bisa dilakukan oleh anggota-anggota staf pada toko buku tersebut. Hal-hal tersebut di atas bisa dieksploatasi bukan saja untuk maksud-maksud perang psikologis, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan intelijen akan laporan keadaan.

Lalu kami bertemu dengan komite, tapi ternyata Allen Dulles tak hadir. Rapat dipimpin oleh Asisten Khusus Richard Helm, dan pertemuannya sangat singkat. Fitzgerald mengajukan usulan kami dan Helm menjawab, “Saya kira, kami tak dapat memberi kalian masa perpanjangan satu tahun. Kami setuju untuk mengeluarkan 10.000 dolar buat biaya perjalanan berdua, tapi kami hanya akan memberi kalian waktu tiga bulan untuk menyusun sebuah rekomendasi.” Pertemuan itu berakhir, dan saya tak diminta mengatakan satu patah kata pun.

Dengan demikian, sampailah saya di Jakarta pada musim panas 1953. Dokumen-dokumen perjalanan saya menyatakan saya sebagai wakil perusahaan New York itu. Saya datang dengan menggunakan KLM lewat Amsterdam, agar tak disangka sebagai pejabat pemerintah Amerika yang harus naik pesawat Amerika. Direktur perusahaan New York itu mengadakan perjalanan terpisah, dan kami bertemu di Jakarta. Ia datang lewat Tokyo, Taipei, Saigon, Hong Kong, Bangkok, dan Singapura. Ia menjadikan itu suatu perjalanan keliling dunia dengan kembali via Eropa. Katanya, itu baik untuk penyamaran dirinya dan penyamaran operasinya sendiri. Ia bersikeras mengatakan, lebih banyak tempat yang ia singgahi akan membuatnya seolah-olah seorang wakil suatu perusahaan raksasa dengan kepentingannya yang tersebar di seluruh dunia. Dan tentu saja menyembunyikan fakta bahwa ia hanya memasok sebuah toko buku kecil di Indonesia.

Jakarta pada 1953 dicirikan oleh keadaan bahwa segala sesuatu tak berjalan baik. Aliran listrik lebih sering mati, sistem telepon buruk, makanan busuk di lemari es yang rusak, kipas angin di langit-langit copot, dan malah kelambu pun banyak lubang besarnya. Pusat kehidupan lebih banyak di sekitar kali, saluran air yang mengalir di tengah kota. Para penduduk kota sebagian besar setiap harinya bisa ditemui di sekitar kali itulah. Mereka menggunakan kali untuk mengambil air minum, mencuci pakaian, mandi, dan juga WC umum.

Ketika sudah terbiasa dengan kejutan budaya dan mencret setiap hari, barulah saya bisa mengerjakan tugas sebenarnya. Setelah tiga minggu ditemani oleh “direktur” New York dan melihat sendiri toko buku tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa salah satu perbaikan atas proyek itu adalah dengan menghilangkan “perusahaan” di New York. Dengan demikian, kami akan dapat menekan biaya pengeluaran yang berlebih-lebihan.

Lebih dari kesimpulan di atas, saya sekarang dapat mengerti macam apa sebenarnya orang Indonesia itu. Pengertian itu saya dapatkan dari percakapan dengan seorang penulis politik yang menjadi konco usaha kami, dan juga dan orang-orang yang diperkenalkannya kepada saya. Di samping itu, tentu saja dan pengalaman saya tinggal di Jakarta untuk beberapa pekan.

Kesimpulan itu mungkin saja datang dan plklran yang merasa lebih tinggi sebagai orang Amerika. Tapi selagi berjalan di teras hotel dengan membawa handuk dan jubah mandi menuju ke satu-satunya kamar mandi di hotel itu saya berpikir bahwa Amerika tak ‘kan dapat mengkomunikasikan sistem nilainya kepada mereka. Bahkan Amerika jangan berusaha untuk itu. Mereka tak keberatan mandi dengan cara menciduk air yang ada di bak pojok kamar mandi. Kemiskinan merupakan cara hidup yang telah dipelajari oleh nenek moyang mereka, dan mereka pun mengajarkan itu ke generasi berikutnya.

Selagi saya menciduk air dingin yang merasuk ke tulang, terdengar suara gamelan — versi Indonesia alat musik xylophone — dan nyanyian terdengar dari keremangan. Mereka tak akan punya waktu buat membaca buku-buku antikomunis. Barangkali lebih baik kami memperkenalkan sistem pengaliran air kami untuk mandi dan minum. Barangkali mereka sendiri akan menemukan cara mereka sendiri untuk melemparkan ideologi asing seperti komunisme keluar negeri mereka sendiri.

Ada lagi hasil lain dari tinggal di Jakarta selama enam minggu itu. Saya memutuskan bahwa saya tak akan mau ditempatkan di sana. Dan yang lain: isi perut (gastrointestinal) saya sudah berubah.

Begitu kembali ke Washington kami menuliskan ulang proyek. Kami menghapuskan kantor New York yang demikian mahal pengoperasiannya. Untunglah, Kantor Penerangan Kedutaan Besar Amerika (USIS) melancarkan sebuah program untuk menyumbangkan buku di seluruh Asia, dan dengan demikian mengatasi masalah keuangan kami. Kami menghapuskan proyek tersebut, tapi petugas muda yang mengurus pengiriman buku di Jakarta beruntung. Ia mendapat pengalaman berharga dan berhasil memperoleh pekerjaan sah di sebuah perusahaan penerbitan di Amerika.

Ketika saya kembali, CIA sedang mencari-cari seseorang untuk ditempatkan di Singapura buat menggantikan orang yang telah selesai tugasnya sebagai kepala OPC di sana. Pengalaman yang baru saya dapat mendorong saya untuk melamar, sebelum orang-orang itu berpikir bahwa tugas sementara saya di Jakarta merupakan pertanda saya akan ditugasi secara tetap di sana. Akhirnya, disetujui saya akan ditempatkan di Singapura.

About these ads

7 comments on “Pengakuan Dedengkot CIA

  1. mulia
    April 12, 2012

    ……..aduh panjaaang pissan kang cepot, tapi memang SANGAT !! informatif dan educatif. Minta saran atau tips2 nya. biar tidak cepat bosan membaca dan apalagi bisa menulis kaya KOPRAL ginih ! makasih..www

    ———–
    Kopral Cepot : Kalo membaca Online u/ artikel panjang memang cukup melelahkan … tipsnyah bisa di copas saja artikelnya lalu di print … membaca print outnya bisa lebih nyaman dan kapan saja ;)

  2. Gogo
    April 14, 2012

    sip.. lengkap bahasannya..
    tambahin donk, operasi CIA sekarang2 ini..

  3. mulia
    April 15, 2012

    oia… makasih mas copral. sdh ku copas.

  4. 1 park residences
    April 26, 2012

    wooowww…CIA …nice posting…:)

  5. doktertoeloes malang
    April 30, 2012

    ini baru pengakuan yang kelas untul2nya dedengkot , apalagi yang mengaku kakek buyutnya dedengkot pasti lebih seru – lebih rame dan tentunya menghabis -
    kan waktu yang banyak untuk membaca sampai tuntas.

  6. doktertoeloes malang
    April 30, 2012

    SEANDAINYA BISA SAYA INGIN MELIHAT WAJAH – RUPA DARI AGEN2 CIA APALA-

    GI MELIHAT WAJAH – RUPA PARA DEDENGKOTNYA. boleh dibantu dong a’a kopral

  7. mira sukmawati
    Juli 18, 2013

    kopral,mau tanya dong ada ga sih perbedaan fisik antara anggota CIA dan FBI kaya cara berpakaian,cara jalan atau bhasa yang mereka gunain?kalo ada apa ja ya kopral? plis dibantu,terimakasih sebelumnya

    nice posting. :)

    —————
    Kopral Cepot : Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Central Intelligence Agency (CIA) adalah dua lembaga di Amerika Serikat yang mengumpulkan informasi sekaligus menindaklanjuti berbagai kejahatan atau tindakan yang membahayakan keamanan nasional. Meskipun kedua lembaga ini sering bekerja sama, namun keduanya memiliki area fokus yang berbeda.

    FBI terutama berperan sebagai badan penegak hukum, mengumpulkan informasi intelijen berkaitan dengan keamanan dalam negeri dan melakukan penyelidikan kejahatan. CIA adalah lembaga intelijen internasional yang tidak bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri. Perbedaan utama antara keduanya dapat digambarkan dalam nama mereka: FBI menyelidiki kejahatan, sedang CIA mengumpulkan informasi intelijen.

    Nah klo perbedaan fisiknya sya ngak tau karena sama-sama Amriki he he he… klo liat di filem FBI umumnya berseragam atau berpakaian formal tapi klo CIA pakaian biasa.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: