Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Tahun Baru Momentum Pembaruan Peradaban yang Beradab

Oleh : Usup Supriadi (Mahasiswa, Blogger dan Penulis. Tinggal di Bogor)

Semalam (24/11) saya menyaksikan sebuah siaran ulang diskusi tentang pendidikan dan penyiaran di sebuah stasiun televisi lokal, salah satu hal yang diperbincangkan ialah soal karakter bangsa. Ya, pendidikan karakter saat ini memang tengah gencar-gencarnya diusung oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dan salah satu masalah yang mencuat ialah soal apa itu karakter bangsa? Hampir kesemua narasumber memiliki cara pandangnya sendiri, namun kemudian sepakat kepada satu patron normatif bahwa karakter bangsa itu harus merujuk kepada tujuan berdirinya Indonesia sebagaimana ada pada pembukaan undang-undang dasar tahun 1945.

Setidaknya hal tersebut menjadi jalan tengah sejauh ini. Sebab bicara karakter bangsa maka karakter dari manusia Indonesia yang manakah? Saya rasa jawabannya tidak sulit jika saja kita bisa memiliki pola pikir yang sehat terhadap sejarah di negeri ini. Alhamdulillah, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemegang blog Serba Sejarah yang tetap teguh dalam upayanya memberikan terang atau cela agar kita mau berpikir dan berzikir.

Saya kira, menjelang tahun baru Islam, ini adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan pembaruan atas segala hal yang terjadi, khususnya pada dirinya sendiri, terlebih terhadap umat dan tempat dimana umat berada saat ini: Indonesia. Sebab, Allah berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)“. (QS. Ali Imran: 140).

Salah satu faktor penyebab digilirkannya sebuah peradaban ialah tingkah laku para penduduk suatu negeri, misalnya sikap boros, hidup bermewah-mewah di tengah berlimpahnya rakyat jelata yang tak sejahtera, penguasa yang tidak adil pada rakyat, dan sebagainya. Dan itu semua, tidak serta-merta ulah satu dua individu saja, tapi lebih kepada efek domino sikap latah bangsa ini terhadap patron-patron asing yang kebanyakan menyesatkan.

Apakah ini karakter manusia Indonesia, mudah silau atau latah terhadap sesuatu yang ada di pihak asing, mereka merah kita merah, mereka ambil langkah kiri, kita ambil langkah kiri, jangan-jangan, mereka jatuh, pasti kalau kita menjadi pembebek sudah pasti akan jatuh juga, hanya masalah waktu saja. Untuk itu sudah saatnyalah, kita sebagai manusia Indonesia berbenah diri, melakukan hijrah ke arah yang lebih baik, menghasilkan sebuah peradaban yang beradab. Sebab yang lebih penting dari sebuah karakter ialah dirinya harus beradab! Tentu saja, tidak semua apa yang ada di pihak asing itu buruk. Hanya saja, budaya menelan mentah-mentah itu janganlah dibiasakan!

Kita sebagai umat Islam patut berbangga dan seharusnya jangan malah minder, kita memiliki banyak teladan yang baik dan beradab, meskipun banyak di antara mereka sejarahnya masih diliputi kabut buatan. Dan, Api Sejarah, sebuah buku yang telah berupaya sedikit banyak menyingkap kabut tersebut. Nyatalah bahwa sejarah kita ya sejarah Islam. Hanya saja, karena doktrin sejarah palsu yang sudah terlanjur mengakar dan sampai saat ini masih dipertahankan, banyak dari orang-orang yang memang tidak sehat akalnya, malah menyudutkan Islam, saya sempat baca sebuah pemeo, kok semua pahlawan dianggap Islam. Itu adalah salah satu risiko.

Bagaimana pun kebenaran harus diungkap, walaupun ada yang bilang bahwa fakta tak harus semuanya menjadi konsumsi publik. Memang benar, contohnya tawuran yang kerap terjadi antar mahasiswa itu fakta tapi lebih baik janganlah terus ditayangkan berulang-ulang! Atau demo rusuh, janganlah hanya rusuhnya saja yang disorot, sedangkan substansi dari demo itu tidak terungkap.

Semua memang membutuhkan perjuangan yang tidak singkat, semuanya butuh tahap, dan memang Rasulullah sendiri, tidaklah serta merta dalam mendirikan sebuah negara kota, yakni Madinah yang memiliki peradaban yang beradab, tapi dengan beberapa tahap, termasuk upaya menggandeng kaum Yahudi dan Nasrani pada saat itu yang memang sudah ada di Yastrib.

Janganlah kita sebagai umat Islam malah fobia terhadap Islamisasi, sungguh terkesannya “isasi” itu selalu terkesan memaksa, sebenarnya fakta sejarah menyatakan berbedanya antara Islamisasi dan Westernisasi. Contoh kasus, Islamisasi Spanyol, menghasilkan peradaban yang luhur, tanpa upaya mengambil apa yang ada di Spanyol ke pusat kerajaan Islam pada saat itu, malah justru memakmurkan Spanyol, namun orang-orang yang buta mata hatinya karena motif agama dan politik malah menyerang pihak yang memberikan kemakmuran tersebut.

Berbeda dengan Westernisasi, contoh paling kentara misalnya, Belanda, mereka benar-benar “isasi” yang menjajah, dan selalu ada udang di balik batu! Atau Amerika Serikat, misalnya. Dan, adalah aneh, jika Indonesia yang punya berlimpah sumber daya alam ini, bisa dikatakan lebih miskin dibandingkan dengan Singapura. Ini semua karena sumber daya manusia di negeri ini malah ngikut para tukang pukul ekonomi dari bank dunia, dan lembaga keuangan internasional lainnya, seolah-olah kalau kita ikut mereka, negera kita akan makmur. mana buktinya. Kita adalah pemilik sah republik ini, kita jelas tahu yang terbaik, hanya saja beranikah kita melawan arus gelombang tua?

Mulailah dengan semangat tahun baru kita melihat diri-diri kita, dan langkah agar terlahirnya sebuah peradaban yang beradab lagi berkarakter ialah dengan kembalinya kita kepada tradisi ilmu pengetahuan Islam yang gemilang. Jika pun ada sesuatu dari Barat, maka dengan ilmu yang ada kita takar, apakah baik atau tidak bagi bangsa ini.

Selamat berhijrah, selamat berhaji, hijrah dan haji dua hal yang baru dikatakan berhasil apabila ada perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Dan Allah tentu tidak akan menyia-nyiakan upaya berpahala setiap hamba-Nya yang bertakwa, malah jika penduduk suatu negeri bertakwa berkah akan berlimpah. Selamat menjadi pembaru bagi diri-diri kita. Dengan memohon rida Allah, semogalah akan ada perbaikan pada diri kita serta bangsa Indonesia ini.

*********

~ Hatur tararengkyu buat kang Usup Supriadi ;) yang telah berpartisipasi dalam proyek ” Yuuk! Menulis Sejarah dan Muharram“.

* Gambar “mutilasi karakter bangsa” dari politikana.com

About these ads

4 comments on “Tahun Baru Momentum Pembaruan Peradaban yang Beradab

  1. Asshuffah
    November 27, 2011

    luar biasa tulisanya

  2. Ping-balik: PAKTA (Pejuang Anti Korupsi Tanpa Akhir) « Jakarta 45

  3. Ping-balik: Hatur Tangkyu Muharram « Biar sejarah yang bicara …….

  4. gogo
    Desember 18, 2011

    ntah kenapa tahun baru Islam tidak semeriah Tahun baru Masehi, padahal bagi orang muslim Tahun baru muharaam lebih berkah ketimbang masehi..

    ———–
    Kopral Cepot : Betul skali brader … budaya dominan itu yang diikuti.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 24, 2011 by in Blog n Me and tagged .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: