Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Soekarno ~ Takdir Sejarah Sang Hamlet ~

Sukarno barangkali adalah contoh klasik yang tragis: seorang pemimpin idealistis yang dirusak oleh kekuasaan dan dikhianati oleh kebanggaan dirinya yang terlalu besar. Lahir di bawah rasi bintang Gemini, Sukarno memang manusia penuh paradoks, seperti dikatakannya sendiri. “Gemini adalah lambang kekembaran; dua sifat yang berlawanan.” Dia idealistis sekaligus pragmatis. Pemberang sekaligus pemaaf. Ekspresi kata-katanya kasar, tapi dia menyukai seni dan keindahan yang halus.

Dan di balik penampilannya yang sangat percaya diri, langkahnya yang tegap, suaranya yang mengguntur, Sukarno adalah pribadi yang rapuh. Sukarno bermimpi menjadi Hercules seperti yang digambarkan dalam sebuah plakat pada dinding Istana Bogor: bayi Hercules dalam pangkuan ibunya, dikelilingi empat belas bidadari cantik, semuanya telanjang. “Cobalah bayangkan betapa bahagianya dilahirkan di tengah empat belas orang cantik seperti ini.” Keperkasaan Hercules menuntut kasih sayang, haus kelembutan. Sebagai orang yang percaya bisa memindahkan gunung dengan kata-kata, Sukarno membutuhkan dukungan total dari lingkungannya: cinta, pujian, dan penerimaan, jika bukan tepuk tangan.

Di masa kecil, dia memperolehnya dari Sarinah, pembantu rumah tangga yang namanya kemudian dia abadikan dalam judul sebuah bukunya dan pada sebuah toko serba ada di Jalan Thamrin, Jakarta. Dan ketika dewasa, Sukarno memperoleh tenaga Hercules-nya dari Inggit Garnasih, janda dengan usia selosin tahun lebih tua yang dikawininya di Bandung pada 1923. Inggit menjadi sumber semangat yang menyala dan ia menemaninya di masa-masa sulit. Tanpa Inggit, Sukarno barangkali benar-benar habis setelah ditahan di Penjara Sukamiskin dan diasingkan ke Ende. Kesendirian akan mudah membunuhnya.

Ketika mengantarkan buku biografi Inggit, Kuantar ke Gerbang, sejarawan S.I. Poeradisastra melukiskan paradoks Sukarno yang lain: dia bisa tampak seperkasa Herakles, tapi juga serapuh “Hamlet yang tercabik-cabik dalam kebimbangan“. Sayang, Inggit tak bisa memberinya anak. Banyak orang masih mafhum ketika Sukarno kemudian berpaling pada Fatmawati. Namun, ketika atletisme seksualnya justru kian menjadi-jadi setelah perkawinannya dengan Hartini, wanita keempat dalam hidup pribadinya, orang melihatnya secara lain. Gelar internasionalnya sebagai “Le Grand Seducteur” mengundang kekaguman, tapi sekaligus membenamkannya lebih jauh. Alih-alih menunjukkan kejantanan, obsesi itu membuka kedok dari ketakutannya, dari perasaan tidak amannya.

“Soekarno adalah Herakles di tengah-tengah gemuruh tepuk tangan masa. Dengan pidato-pidatonya ia dapat meruntuhkan gunung-gunung dan menimbun lembah. Tetapi terpisah dari gemuruh orang banyak, ia seorang Hamlet yang disobek-sobek kebimbangan. Ia sanggup mengomandokan Trikora dan Dwikora, tetapi secara pribadi ia tak berani menyembelih ayam sekalipun. Ia juru bedah ecek-ecek yang pingsan kalau melihat darah. (Ialah satu-satunya pemimpin revolusi yang tak tahu alif bengkoknya strategi perang!)” (S.I. Peoradisastra dalam pengantar  “Kuantar ke Gerbang – Kisah Cinta Ibu Inggit Dengan Bung Karno)

Sukarno seperti ingin memaksakan diri menunjukkan potensinya di tengah kemampuan politiknya yang kian merosot. Tragis. Namun, fakta bahwa banyak wanita memang ingin dijamahnya, seperti juga banyak politisi menghamba dalam Demokrasi Terpimpin-nya, bahkan kemudian membolehkannya menjadi presiden seumur hidup, menunjukkan Sukarno tidak sendiri dalam cacatnya, dia manusia tak sempurna dalam dunia tak sempurna. Hatta, seorang pengkritiknya yang paling keras, punya penilaian yang lebih adil terhadapnya. Sukarno, tulis Hatta suatu ketika, adalah kebalikan dari tokoh Memphistopheles dalam Faust-nya Goethe. “Tujuan Sukarno selalu baik, tapi langkah-langkah yang diambilnya sering menjauhkannya dari tujuan itu.” Tapi, Sukarno punya ungkapan sendiri untuk meringkaskan hidupnya. “Dia mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai wanita, dia mencintai seni, dan melebihi segalanya, dia cinta kepada dirinya sendiri.

Salah satu bagian yang menonjol dalam garis silsilah Sukarno adalah perkawinannya dengan sembilan wanita. Tak semuanya menghasilkan keturunan dan tak semuanya berakhir dengan perceraian. Ia melewatkan dua perkawinan pertama dengan Oetari dan Inggit. Bung Karno tak memperoleh keturunan dari Inggit. Pasangan itu lalu mengasuh dua anak angkat, Ratna Djuami dan Kartika, yang hingga akhir 1980-an hidup amat sederhana dengan berjualan jamu di Bandung.

Setelah bercerai dengan Inggit, Bung Karno menikahi Fatmawati. Perkawinan ini menghasilkan lima anak. Dari Hartini, istri keempatnya, mantan presiden itu mendapat dua anak lelaki: Taufan Sukarnoputra dan Bayu Sukarnoputra. Taufan meninggal tahun 1981 pada usia 30 tahun karena sakit, di Jakarta. Ratna Sari Dewi kemudian masuk ke kehidupan Sukarno, menjadi istrinya, dan melahirkan putri tunggal mereka, Kartika Sari Sukarno, yang kini bermukim di New York.

Sukarno juga memiliki istri-istri yang jarang dikenal publik. Salah satunya adalah Haryati. Mantan penari ini tadinya pegawai urusan kesenian di Sekretariat Negara. Keduanya menikah pada Mei 1963. Perkawinan ini tak membuahkan keturunan, dan perceraian Haryati-Bung Karno terjadi tiga tahun kemudian. Yurike Sanger masuk dalam “daftar istri” Bung Karno berikutnya. Gadis asal Poso itu disunting Bung Karno pada 1964. Perkawinan yang tak membuahkan anak ini bubar tiga tahun kemudian. Yurike memang pernah mengandung setahun setelah perkawinannya, tapi ia melahirkan bayi prematur sehingga dokter menyarankannya agar tak hamil selama tiga tahun.

Kartini Manoppo juga nama yang banyak dibicarakan orang. Bekas pramugari Garuda Indonesia ini pernah menjadi model lukisan Basuki Abdullah. Tatkala melihat lukisan itu, Sukarno mengagumi sang model, lantas memintanya ikut terbang setiap kali Presiden melawat ke luar negeri. Sekitar akhir 1959, pasangan ini menikah. Pada 1967, Kartini Manoppo melahirkan Totok Suryawan Sukarno-Bung Karno yang memberikan nama ini? di Nurenberg, Jerman.

Pertautan Sukarno dengan wanita berawal pada usia amat belia. Ia sudah kesengsem pada noni-noni Belanda pada umur 14 tahun. “Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih,” ujar Sukarno kepada Cindy Adams dalam biografinya, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Mien Hessels adalah salah satu gadis Belanda teman sekolah Sukarno yang sempat membuat remaja Sukarno tergila-gila. Ia nekat mendatangi orang tua Hessels dan mencoba peruntungannya untuk hanya disambut dengan semburan kasar: “Kamu inlander kotor. Kenapa kamu berani-beranian mendekati anakku? Keluar!” ujar Tuan Hessels.

Pengalaman ini tak membuatnya jera menjerat hati perempuan. “Tuhan menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Saya kira setiap laki-laki normal senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita,” Bambang Widjanarko mengutip ucapan Sukarno ini dalam bukunya, Sewindu Dekat Bung Karno. Maka, muncullah daftar panjang nama wanita dalam hidup Sukarno. Dari Inggit Garnasih, yang lebih tua 12 tahun, Fatmawati, Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger, hingga Heldy Djafar. Bahkan Putri Monique, istri bekas Raja Kamboja Norodom Sihanouk, pun sempat menggetarkan hati Sukarno: “Monique, tanpa sadar, telah mempesona Sukarno dan menimbulkan api di dalam hatinya yang mudah terbakar,” ujar Sihanouk dalam buku Norodom Sihanouk Pemimpin Dunia yang Saya Kenal. Kendati mengaku “iri” dan menjuluki rekannya sebagai don juan, Sihanouk menganggap Sukarno sebagai seorang laki-laki sopan yang sempurna karena tak pernah berusaha menaklukkan satu pun wanita Kamboja “secara nyata” betapapun cantiknya. Tapi, di Indonesia, lain ceritanya. Kemahiran Sukarno memikat wanita tak kalah populer dengan kisah-kisah tentang figurnya sebagai pemimpin. Sukarno tampaknya tidak membeda-bedakan usia ataupun latar belakang seorang wanita.

Hartini bercerita tentang kegemaran suaminya pada kecantikan: “Cintanya kepada wanita yang cantik adalah beban bagi saya, walaupun saya sudah berusaha menerima dia sebagaimana adanya. Dia sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita.” Bung Karno mahir melumerkan kemarahan wanita dengan rupa-rupa cara: dari menulis kata-kata mesra di atas potongan-potongan kertas hingga memberi limpahan hadiah.

Dewi, antara Bisnis dan Politik

Prof. Masashi Nishihara, ahli politik Asia Tenggara dari Akademi Pertahanan Nasional Jepang, menggambarkan bahwa Dewi tak cuma menjadi istri paling muda dan paling disayang. Dewi juga istri yang paling berpengaruh terhadap Soekarno. ”Perusahaan Jepang, pedagang Cina, dan pejabat pemerintahan berlomba mendekati Dewi untuk memperoleh bantuan istimewanya,” tulis Nishihara dalam bukunya The Japanese and Soekarno’s Indonesia, yang telah diterjemahkan dalam “Sukarno, Ratnasari Dewi, dan Pampasan Perang” oleh penerbit Pustaka Grafiti. Sedikitnya ada 60 perusahaan Jepang yang beroperasi di Jakarta ketika itu. Perusahaan Jepang itu mengincar proyek- proyek pemerintah, terutama yang dibiayai dari dana pampasan perang, yang jumlahnya sekitar US$ 223 juta. Dewi punya peran penting di balik proyek-proyek itu. ”Sedikit sekali transaksi yang bisa berlangsung tanpa persetujuannya,” tulis Nishihara. Doktor ilmu politik lulusan Universitas Michigan, Amerika, itu juga ”mencurigai” Dewi tahu banyak urusan politik suaminya.

Perkenalan Dewi dengan Bung Karno berlangsung Juni 1959, ketika Presiden RI itu berkunjung ke Tokyo. Yang menjadi makcomblangnya adalah Masao Kubo, Direktur Utama Tonichi Inc., yang ketika itu sedang mencari peluang bisnis di Indonesia. Menurut satu versi, perkenalan itu terjadi lewat sebuah pertemuan bisnis di Hotel Imperial Tokyo. Tapi ada versi lain yang mengatakan perkenalan itu terjadi di klub malam Copacobana, tempat Dewi yang ketika itu bernama Naomo Nemoto bekerja sebagai pramuria merangkap penyanyi.

Perkenalan itu ternyata membuat Bung Karno ketika itu berumur 58 tahun jatuh hati pada gadis berusia 19 tahun itu. Umpan yang dipasang Masao Kubo mengenai sasaran. Sepulang dari Tokyo, Bung Karno menulis surat bernada mesra kepada Dewi. Lantas, Naomo Nemoto diundang ke Jakarta. Kubo-San memanfaatkan situasi. Naomo Nemoto dibujuk untuk terbang ke Jakarta, tak cuma memenuhi undangan Bung Karno. Ia malah bermukim di Jakarta, dengan status sekretaris perwakilan Tonichi, sejak September 1959.

Hubungannya dengan Bung Karno makin akrab. Kedatangan Naomo Nemoto tak sia-sia. Perusahaan Tonichi menggaet sejumlah proyek: tugu Monas, menara transmisi untuk TVRI, gedung Wisma Indonesia berlantai empat di Tokyo, renovasi KBRI di Tokyo, dan pengadaan kapal patroli cepat, serta menjadi subkontraktor pembangunan Hotel Bali Beach di Sanur, Bali, Ambarukmo di Yogya, dan Samudra Beach di Pelabuhanratu, Sukabumi. Bung Karno pun berhasil menggaet Naomo Nemoto, yang setelah menjadi istri sah berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Sejumlah hadiah diberikan Bung Karno untuk Dewi, di antaranya Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, yang sekarang menjadi Museum ABRI Satria Mandala.

Peran Dewi ternyata bukan semata untuk kepentingan pengusaha Jepang. Ia kemudian menjadi pelobi politik. Apalagi Bung Karno yang ketika itu menjadi pusat kekuasaan. Keputusan penting diambilnya dan sebagian sering setahu Dewi. Beberapa politikus mencoba memanfaatkan kedekatan Dewi dengan Bung Karno untuk mempengaruhi keputusan politiknya.

Hal itu tampak, misalnya, pada saat-saat kritis ketika G30S-PKI meletus. Di harian KAMI edisi 12 sampai 14 Oktober 1966, misalnya, Dewi menceritakan kegelisahannya ketika Bung Karno, pada tanggal 30 September 1965 malam, pergi dari Wisma Yaso. Keesokan harinya, 1 Oktober 1965, pukul 10, ia menerima surat singkat dari Bung Karno yang menyatakan dirinya aman, dan ”jangan khawatir”.

Dalam surat itu Bung Karno memberi tahu Dewi: ”Ada sesuatu di kalangan Angkatan Darat, yang boleh disebut ‘revolusi’, yang menurut mereka untuk menyelamatkan aku, bukan melawan aku”. Sementara puluhan tentara bersenjata lengkap bersiaga di Wisma Yaso, sorenya sekitar pukul 5, Bung Karno mengirim surat lagi: ”Aku ingin melihatmu secepat mungkin, karena sesuatu yang tak dapat kutuliskan dalam surat”. Tiga jam kemudian seorang utusan menjemput Dewi untuk menemui Bung Karno di Pangkalan AU Halim Perdanakusuma. Pukul 21.00 Dewi tiba di Halim. Ia melihat Bung Karno ditemani sekitar 10 orang lelaki, di antaranya Menteri Leimena dan KSAU Omar Dhani, Brigjen Suparjo. Begitu tahu Bung Karno akan terbang ke Madiun, basis PKI waktu itu, Dewi minta ikut serta. Namun, dengan halus Bung Karno mencegahnya.

Tapi Dewi tak kurang akal. Entah bagaimana, ia merasa bahwa penerbangan ke Madiun itu tak aman. Dewi segera minta kepada Leimena untuk membujuk Bung Karno agar mengurungkan penerbangannya ke Madiun. Tapi Bung Karno dan rombongan meneruskan rencananya, dan Dewi kembali ke Wisma Yaso. Keesokan harinya barulah Dewi tahu bahwa 15 menit setelah terbang, Bung Karno berubah pikiran dan putar haluan kembali ke pangkalan. Dewi yakin, hal itu berkat bujukan Leimena.

Mengenai masalah AURI dan ALRI, Bung Karno menerima saran Dewi dalam hal pergantian pimpinan puncak kedua angkatan itu. Dalam surat bertanggal 2 Oktober 1965, Bung Karno menceritakan kesibukannya menyelesaikan konflik dalam tubuh militer. Keesokan harinya Dewi menerima lagi surat Bung Karno yang mengungkapkan rencana pengangkatan Mayjen Pranoto Reksosamodro sebagai penjabat KSAD. Meski dianggap ”lemah”, Pranoto dinilai satu-satunya orang di Mabes AD yang bisa menengahi pihak kiri dan kanan. Ketika KSAD Jenderal A. Yani diculik pasukan G30S-PKI itu, Bung Karno menulis kepada Dewi: ”tak tahu di mana Yani berada dan apa yang terjadi dengannya.” Dan di tengah gejolak politik dan konflik bersenjata kala itu, Bung Karno tak lupa menutup suratnya dengan kata-kata mesra: ”Aku senantiasa memikirkanmu. Engkau tahu betapa aku mencintaimu. Ribuan cium, dari Soekarno”.

Alkisah, pada tanggal 11 Maret 1966 Mayjen Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno, untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban. Sehari kemudian, Pak Harto pun membubarkan PKI. Di saat peralihan kekuasaan inilah, sekali lagi Dewi berusaha merukunkan Bung Karno dengan ABRI. Pada tanggal 14 Maret 1966 ia menyelenggarakan pesta di Wisma Yaso. Sejumlah istri tokoh militer diundang ”untuk menyambut pembubaran PKI”. Entah siapa yang mengajari, Dewi tampil tangkas berpolitik praktis. Lima hari kemudian, dalam jumpa pers, ia menyatakan, pesta itu sekadar untuk membantah desas- desus adanya keretakan antara Bung Karno dan ABRI.

Heldy Cinta Terakhir Bung Karno

Darimana asal kamu?” “Dari Kalimantan Pak.” “Oh… aku kira dari Sunda. Oh… ada orang Kalimantan cantik.” Itulah awal pertama percakapan Heldy dengan Bung Karno.

Kertas putih itu mulai buram dimakan waktu. Tapi tulisan di atasnya dalam huruf-huruf sambung yang indah masih jelas terbaca: “Dear Dik Heldy. I am sending you some dollars, Miss Dior, Diorissimo, Diorama. Of course, also my love.Mas” Surat pendek yang menyertai kiriman uang dan beberapa botol parfum itu dikirim Sukarno dari tempat penahanannya di Wisma Yaso, Jakarta, kepada Heldy Djafar. Sukarno menikahi istri terakhirnya itu setahun sebelum kejatuhannya. Sukarno meminang Heldy, yang sekarang tampak masih menawan di umur 54 tahun, tatkala ia masih gadis ranum yang mekar pada usia 18 tahun. Perjumpaan pertama mereka terjadi tatkala Heldy menjadi anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang menyambut kedatangan Tim Piala Thomas, pada 1964.

Setahun kemudian, Bung Karno mengajaknya berdansa dalam sebuah acara di Istora Senayan. “Waktu itu Bapak bertanya,’Kamu kok lama enggak kelihatan. Sombong ya, pacaran saja.’Saya gugup dan menjawab:’Saya enggak pacaran, Pak’,” tutur Heldy. Enam bulan kemudian, pengantin dan mempelai yang berbeda usia 48 tahun itu menikah di Jakarta pada 11 Mei 1966. Pernikahan secara Islam diadakan di Wisma Negara, 11 Juni 1966. Saksinya Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Perkawinan itu cuma berusia dua tahun. Heldy kian sulit bertemu suaminya tatkala Bung Karno masuk tahanan di Wisma Yaso. Heldy yang dikenal sebagai ibu Maya Ari Sigit Soeharto menjanda dalam usia amat muda. Perkawinan ini memang tak banyak diketahui orang.

Saat Soekarno dikucilkan di Wisma Yaso, Heldy, lalu menikah dengan pria lain. Pria itu bernama Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar. Belakangan, satu dari enam orang anaknya, menikah dengan cucu Presiden RI Soeharto.

Referensi :

  • Sensasi Seorang Dewi, Majalah Tempo 4 November 1993
  • Dewi, Antara Bisnis dan Politik, Majalah Tempo 4 November 1993
  • Don Juan Yang Mahir Mencinta, Majalah Tempo 4 Juni 2001
  • Garis Darah Tiga Generasi, Majalah Tempo 4 Juni 2001
  • Dia Yang Lahir Dari Kegelapan, Majalah Tempo 4 Juni 2001
  • Kuantar Ke Gerbang; Kisah Cinta Ibu Inggit Dengan Bung Karno, Ramadhan KH, Sinar Harapan 1981
  • Heldy Cinta Terakhir Bung Karno, Uli Hermono dan Peter Kasenda, Penerbit Buku Kompas, Juni 2011
  • Cinta Terakhir Bung Karno, Tribun Jambi
About these ads

34 comments on “Soekarno ~ Takdir Sejarah Sang Hamlet ~

  1. ra melok2
    September 25, 2011

    menurut info yg kudengar, penunjukkan mayjen pranoto reksosamodro, sempat diintercept kayak komputerku, hehehe…, datang ke markas kostrad, dan ditahan di sana, sempat ‘bertengkar’/bonyok, jadi gagal untuk menjadi panglima AD. ada yg mengusulkan pak harto, tapi ditolak oleh pak karno karena dianggap koppig/keras kepala. tapi kenapa bukan Nasution sebagai pangab u rangkap jabatan? apa karena kondisi kesehatan dan mental?

  2. ra melok2
    September 25, 2011

    pak jenderal pranoto bukannya sempat masuk penjara bung? karakternya orgnya ga kiri ga kanan, tengah ,idealis dan keras? jigana lempeng2 wae, ga berpolitik, hehehehe….

  3. Endy
    September 26, 2011

    lengkap sekali penjelasan yang anda berikan mas..bagus menurut saya..
    sangat menjelaskan kehidupan soekarno beserta hiruk-pikuknya..
    agak lama yah mas ngumpulin bahannya…

    artikelnya panjang+ isinya berisi=hasilnya mantap:D

    —————–
    Kopral Cepot : ngak lama sih, butuh googling aja … kebetulan referensi bukunya juga ada … Hatur tararengkyu dah kemari :D

  4. SITI FATIMAH AHMAD
    September 26, 2011

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang KC….

    Kronologi sang Hamlet yang mengasyikkan dalam sebuah drama kehidupan di sebalik kekuasaannya yang hebat rupanya punya kelemahan nyata saat berhadapan dengan wanita cantik.

    Senang ya, kalau lelaki sudah punya kuasa, jawatan dan wang yang banyak, bisa meraih apa sahaja keinginannya lantaran nafsu yang menggoda. Wanita adalah senjata hebat dalam membangun dan meruntuhkan kekuasaan seorang lelaki. Lelaki harus berakal ketika berhadapan dengan wanita cantik.. betulkan Kang ? hehehe..

    Saya mengkagumi banyak pidato dan kata hebat Bapak Soekarno ini tanpa mengetahui sejarah kehidupan peribadinya secara holistik. Kiranya tulisan Kang KC telah memberi sedikit informasi buat saya mengenali beliau.

    Sayang sekali berakhirnya hidup beliau hanya meninggalkan kehebatan pidatonya bukan kemanusiaan dari aspek rohani yang mantap sebagai seorang muslim. Semoga Allah mengampuni Bapak Soekarno atas jasa beliau terhadap negara dan rakyat Indonesia sepanjang sejarah pemerintahnnya.

    Salam mesra selalu.

    —————
    Kopral Cepot : Satu hal yg dirindui dari Bunda … komentarnya luar biasa .. hatur terimakasih ;)

    • dildaar80
      Oktober 29, 2011

      Bung Karno juga hampir jadian dengan wanita Malaysia sekitar 1962-63an. sayang sekali gagal. seandainaya berhasil mungkin nggak jadi perang. hehe

    • ahmad
      Februari 12, 2012

      soekarno hanyalah manusia biasa yg punya kekurangan..
      kalo dalam bidang keagamaan mungkin bung karno adalah pencetus berdirinya istiqlal,,
      dan pernah mengarsiteki masjidil haram menjadi lantai,,sehingga pada waktu melakyu kan sa’i bisa dari dua arah :)

      baca wikipedia

    • ahmad
      Februari 12, 2012

      soekarno hanyalah manusia biasa yg punya kekurangan..
      kalo dalam bidang keagamaan mungkin bung karno adalah pencetus berdirinya istiqlal,,
      dan pernah mengarsiteki masjidil haram menjadi 2 lantai,,sehingga pada waktu melakyu kan sa’i bisa dari dua arah :)

      baca wikipedia

  5. Faiz Ezra
    September 26, 2011

    Sudah lama aku vakum di dunai blogger, tulisanmu makin greget, teruslah berkarya, apa kabar Bro?

    ——————
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu ;) Alhamdulillah baek2 saja … sukses kontesnya yah !

  6. gogo
    September 27, 2011

    gila mantab neh artikel, ane jadi tau secara gamblang dan sudut yg lain tentang kehidupan bung karno..

    —————-
    Kopral Cepot : Slalu ada sisi lain ;)

  7. Rumah
    September 28, 2011

    Mengingat perjuangan para pahlawan membuat kita senantiasa bersemangat untuk memajukan bangsa ini.
    Makasih ^_^

    Nice Artikel ..

    —————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu ;)

  8. nirwan
    September 29, 2011

    Sejarahwan kadang membagi Soekarno kayak Karl Marx juga; Soekarno muda, Soekarno dewasa dan Soekarno tua. Tapi satu benang merah yang selalu sama di tiga kurun waktu itu adalah soal perempuan. Di situ, Soekarno berbeda jauh dengan Karl Marx yang dikaguminya itu.

    Soekarno itu politikus indonesia yang paling hebat. Dia punya satu modal utama; kejam.

    ———————-
    Kopral Cepot : kejam ;)

  9. Hafidh
    September 29, 2011

    verry good …?

  10. Samaranji
    Oktober 3, 2011

    Sy pernah pinjem di perpus buku ttg biografi beliau, Ir. Soekarno. tapi tebel bangeth…. kalo baca seringnya melompat2 pilih subjudul yg asik aja… Membaca post di atas cukup 7 menit dah kelar ***thank’s @kang*** dan bisa mendapatkan gambaran yang memberi pelajaran bahwa masing2 kita hanyalah manusia biasa.

    Oiaa,,,kang. Kirain @kang mo posting masalah 30-S/PKI dan Kesaktian Pancasila, ditunggu yah… Sekalian request ***k’banyakan tuntutan, nih anak ya ?*** tentang “Wali Songo” namun bukan yang kisah mistisnya, kalo yang kisah mistisnya sih malah jadi kayak cerita komik inuyasha…

    Salam…

    —————–
    Kopral Cepot : Mas Samaranji kalo masalah g30s udah pernah posting … tentang “wali” juga, hanya emang belum sempurna betul ma’lum masih belajar .. klo mau singgah bisa liat2 dlu di “mirip daftar isi” atawa di “arsip serba sejarah” siapa tau ada yg kecantol he he he :) Hatur tararengkyu.

  11. Zaid
    Oktober 4, 2011

    wew..Jadi inget biografi nya Julius Caesar…Menikah dengan 3 orang wanita, lalu terpikat oleh rayuannya Cleopatra dan hidupnya berakhir ditangan bawahannya..tragiss..Yah, agak2 mirip gituh..Betul gak kopral?
    Eh belum kenalan nih kopral, salam kenal yaa.. :)

    —————
    Kopral Cepot : yah … agak-agak he he he .. salam kenal juga n hatur tararengkyu sudah singgah kemari ;)

  12. Tanto
    Oktober 6, 2011

    Artikel bagus dan mendidik.

  13. SITI FATIMAH AHMAD
    Oktober 6, 2011

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang KC yang dihormati…

    Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.

    Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.

    Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.

    Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.

    ——————
    Kopral Cepot : :( :( :( Moga Bunda sekeluarga sehat slalu … susah sy mau bilang apa … hanya bisa liat warna warni dari gambar yg indah

  14. sitekno
    Oktober 7, 2011

    Assalamu’alaikum…
    Sajian informasi sejarah yg baru saya ketahui, sungguh blog yang lengkap tentang sejarah. Luar biasa.
    Salam kenal, salam hangat.

    ———————
    Kopral Cepot : Waalaikum salam wr.wb … hatur tararengkyu n salam kenal juga … ;)

  15. Dangstars Weblog
    Oktober 7, 2011

    Sajian yang perlu dibaca secara hati-hati…tararengkyuuuu

  16. anin
    Oktober 10, 2011

    jadi mengetahui biografi Bung Karno dari sisi lain, sangat lengkap cerita. semoga bermanfaat bagi kita semua, jangan hanya melihat dari sisi negatifnya saja, alangkah lebih baiknya kita melihat dari segi positifnya.

    ——————-
    Kopral Cepot : Perasaan yang ditulis ini sisi positif ngak negatif ;)

  17. miftah
    Oktober 11, 2011

    analisis yang sangat cemerlang, .. :D iya mas kita memang hidup pada pemerintahan phallocrasy, dimana (maaf) phalus menjadi sebuah simbol kekuatan, setiap penguasa jaman dulu yang terobsesi dengan kekuasaan pribadinya maka memiliki kecendrungan untuk membangun monumen layaknya phalus.. dan itu telah di lakukan oleh Sukarno dengan membangun Monas.., sebagaimana pula kisa Eifel dll..

    ———————
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu n salam kenal ;)

  18. wulan
    Oktober 11, 2011

    seruuuu…lengkap..kap..kap??? makasi buat infonya…

  19. omagus
    Oktober 14, 2011

    tapi sampai saat ini belum ada pemimpin sedigdaya bung karno

  20. Faiz Ezra
    Oktober 15, 2011

    salam, mas….gimana kabarnya? ko ga update lagi blognya, jangan seperti faiz yg malas posting…tulisan mas itu membuatku berfikir banyak

    —————–
    Kopral Cepot : Iyaa .. nih lagie buntu dikit … ;)

  21. Dokter Toeloes Malang
    November 14, 2011

    dalam suatu pekerjaan kelelahan kemudian melihat wanita yang cantik maka semangat kerjaku akan bangkit kembali ( autobiografi beliau dibawah bendera revolusi oleh cindy adams ) . dalam kesempatan lain bpk. roeslan abdoelgani ( alm ) : beliaunya bung karno adalah orang besar pemimpin besar dan kesalahanyapun besar. ( doktertoeloes malang ).

  22. pratama74
    November 21, 2011

    jasa besarnya adalah menyatukan indonesia.kl bkn bung karno ada negara jawa smtra slweasi papua rms dan lain2 yg lainnya nol besar

  23. deeka
    Maret 11, 2012

    harta, tahta, wanita.

  24. hadi
    September 28, 2012

    cukup lumayan artikel tsb namun tdk obyekti…dengan segala kelemahannya ir sukarno memiliki lebih banyak kelebihan dan orang besar bangsa besar adalah yg mampu melihat kebesaran pahlawannya, silahkan lihat kesaksian dr subandrio tentang kesaksian peristiwa g30s pki, sukarno membangkitkan kepercayaan bangsa, mempunyai visi jauh ke depan tentang negara nusantara, tdk pernah menghamba pd imperialis, tdk berzina dan menodai wanita, dia menikah dlm hukum islam yg dihalalkan, tdk merupakan dosa, jauh lebih baik dibanding pemimpin di barat dan di timur yg munafik n menyimpan banyak wanita simpanan secara haram baik di indonesia, di malaysia dll seluruh dunia bknkah demikian saat ini, sukarno adalah orang besar pemersatu nusantara n orang besar di jamannya dan pendiri bangsa, hatta menjadi anggota freemason dan banyak ekonom baik di indonesia malaysia jg melayani kepentingan barat, politik ekonomi sukarno berhasil greakan nonblok industri strategis dan ekonomi diruntuhkan barat bkerjasama dg suharto utk menjatuhkan bung karno..sy kira tulisan di atas kurang baik menjelaskan figur besar bungkarno sebagaimana gajah mada kita ditipu belanda akan adanya perang bubat yg tdk pernah terjadi silahkan dilacak tulisan itu prtma dibuat oleh siapa..mari lebih cerdas lebih kiritis dan lebih jujur menyampaikan fakta sejarah..terimakasih

    • Anak Bangsa
      Desember 27, 2012

      @hadi…
      Sy setuju dengan koment anda..

      Koment” diatas, banyakan yg masih masa deSoekarnoisasi,, jadi sedikit dimaklumkan…
      Karena orBAU, 32 tahun telah banyak sekali kekejian (dengan dalih pancasila) tapi PALSU….

      Tapi ALLAH SWT tidak mengantuk dan tidak tidur…
      akan ditampakkan “kebenaran” walau sebesar debupun..
      Mana Pahlawan,,, mana Pengkhianat…

      Sekarang telah terbukti…
      Buku” yg beredar dijaman orBAU, khususnya tentang Bung Karno.. Hampir semua berisi pelecehan, bik terang”an.. sampai yg berkesan halus, tapi tajem….

      Contoh : Buku Bung Karno penyambung lidah Rakyat Indonesia…
      Itu berapa kali dicetak ulang.. dan ternyata orBAu telah merekayasa isi buku tsb… Jauh dari isi aslinya yg berbahasa Inggris…
      Itu salah satu dari 32 tahun, menenggelamkan BUNG KARNO…

      Salam…
      JASMERAH !

    • apri budi (@Ampiik)
      April 21, 2013

      Banyak kritik-kritik yang pasti membikin telinga para pengagum Bung Karno (seperti saya) menjadi panas. Namun, setiap ilmu pengetahuan memang menuntut keterbukaan, kelapang-dadaan dan kepala dingin. Setiap konsepsi apa pun adanya selalu harus terbuka kepada kritik pihak lain, baik kawan maupun lawan. Kritik yang benar akan berguna untuk memperbaiki kesalahan, demi kelanjutan atau kehidupan ajaran di masa depan. Sedang kritik-kritik yang tidak benar pasti akan hilang sendiri seperti angin lalu, sebab seperti Bung Karno sendiri sering mengatakan: ‘sejarahlah yang akan memberikan penilaian akhir’ . Dan ini semua merupakan tantangan bagi para kawan Soekarnois lain ataupun penganut ajaranya untuk lebih banyak belajar lagi, mendalami lagi ajaran-ajaran dari jejak sejarah yang baik.

      Sangat-sangat setuju dengan komentar Mas Hadi. Karena telah berani beragumen dengan cerdas untuk beradu pendapat yang tidak subjektif melainkan objektif.

      Terima kasih mas Hadi, I appreciate it very much! by doing critical discourse analyses

  25. Indri Novianti
    Desember 29, 2012

    Artikelnya bagus…lumayan bs buat nambah wawasan…
    salam persaudaraan aja

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: