Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Raja Jawa Mengantar Revolusi

George Donald Larson, dalam: Prelude to Revolution:Palaces and Politics in Surakarta, 1912-1942 – disertasi doktor untuk ilmu sejarah di Northern Illinois University, Dekalb, Amerika Serikat, 1979 – mengungkap peranan raja-raja Jawa. Ternyata Pakubuwono X dan para bangsawan politisi Keraton Surakarta bukan hanya mendukung, tapi terjun langsung dalam kancah pergerakan nasional. Berikut ini nukilan dari disertasi tersebut.

BELANDA mulai menggigit Mataram dari dalam ketika kerajaan itu sedang keropos, di akhir pemerintahan Amangkurat (1645-1677). Berkat campur tangan Kompeni (VOC), dinasti itu bernapas lagi. Tapi, sebagai imbalannya, VOC berhasil memaksakan dua perjanjian penting, mengenai konsesi ekonomi dan teritorial. Selanjutnya sejarah Mataram diwarnai cakar-cakaran dalam istana, pemberontakan bangsawan dan pejabat tinggi, serta permainan Belanda dalam konsensi ekonomi dan luas teritorial. Pada tahun 1746 Pangeran Mangkubumi, saudara Susuhunan Pakubuwono II (1726-1749), membelot dan mengibarkan perang sampai tahun 1755, hingga tercapainya perjanjian Giyanti. Hasilnya, separuh daerah Mataram dan gelar Sultan Hamengku Buwono buat Mangkubumi. Pemberontakan lain pun pecah. Kali ini Raden Mas Said, keponakan Mangkubumi yang membantu Mangkubumi pada tahun-tahun awal pemberontakannya, seorang yang berwibawa dan jago perang. Hasilnya, perjanjian di Salatiga tahun 1757: R.M. Said berhak memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro, dan memperoleh 4.000 cacah dari wilayah Susuhunan Surakarta.

Terkeping-kepingnya Mataram oleh kalangan elite Jawa sempat dianggap kejadian sementara. Tapi setelah tahun 1755 muncul rasa khawatir, jangan-jangan kesatuan Mataram tidak kunjung pulih. Toh cita-cita kesatuan Mataram itu masih lekat, berkat “ramalan” Raja Jayabaya–penguasa daerah Jawa Timur dari abad ke-12. Ramalan itu menyebutkan, setelah didera penjajahan yang lama, akan tiba zaman kemerdekaan yang makmur sejahtera. Pakubuwono IV (1788-1820) terpanggil. Rencananya untuk menegakkan Surakarta dan Jawa Tengah nyaris menimbulkan perang lagi di tahun 1789 hingga 1790. Suhu panas itu baru dapat dikubur setelah Surakarta dikepung oleh pasukan Belanda. Di ekor abad ke-18 kerajaan-kerajaan Jawa semakin kehilangan pamor dan wilayahnya.

Tahun 1799 Kompeni ambruk akibat korupsi. Harta kekayaannya diambil alih oleh negeri Belanda waktu itu merupakan protektorat Prancis. Tangan kanan Napoleon, H.W. Daendels (1808-1811), dikirim ke Jawa dengan kekuasaan mutlak guna memperbaiki pemerintahan dan memperkuat pertahanan di wilayah Hindia. Ia menggebrak para penguasa pribumi. Kekuasaan mereka dikurangi. Para residen kulit putih diberi atribut kerajaan seperti payung emas dan tidak usah angkat topi untuk menghormati penguasa-penguasa pribumi. Wilayah dan penghasilan Keraton Surakarta dan Yogyakarta dipangkas. Walaupun pemerintahan Daendels pendek umurnya karena ditendang oleh Inggris, toh tangan besi Daendels ditiru oleh T.S. Raffles (1811-1816). Baru setahun berkuasa, ia sudah mencium bahwa Sultan dan Susuhunan diam-diam mengepalkan tangan. Sultan segera dicopot lalu dibuang, keratonnya dijarah. Perjanjian dengan kedua kerajaan itu diperbarui. Akibatnya, daerah dan pendapatan kerajaan menciut, administrasi pemerintahan dikontrol. Hak memiliki pasukan pun dicabut, tinggal segelintir kecil pengawal. Pemaksaan perjanjian yang mencekik itu menyalakan amarah.

Di bulan November 1815, hidung Raffles mengendus bau busuk dari Keraton Surakarta. Pemberontakan untuk memulihkan kejayaan Mataram itu dikenal dalam sejarah sebagai Perang Sepei atau Sepoy.Inggris, yang saat itu hendak meninggalkan Jawa, sengaja tidak mendakwa Susuhunan. Sebagai gantinya, salah seorang saudara Susuhunan diasingkan ke Ambon. Ketika kembali ke Jawa, Belanda bertindak lebih hati-hati. Setelah pemberontakan Pangeran Diponegoro – Perang Jawa (1825-1830), Yogyakarta yang dianggap biangnya, dikenai denda wilayah. Agar seimbang, kue Surakarta pun digigit. Banyumas dan Kedu di sebelah barat, Kediri serta Madiun di sebelah timur, lepas dari Yogyakarta dan Surakarta. Pakubuwono VI amat kecewa atas perampasan itu, lalu diam-diam pergi ke pantai Segara Kidul. Tapi ia tertangkap, ditawan atas tuduhan hendak menyulut pemberontakan, lalu dibuang ke Ambon. Setelah semua itu, sepanjang abad ke-19 Surakarta dan Yogyakarta pucat pasi.

Pada awal abad ke-20, Karesidenan Surakarta yang agraris sangat terbelakang dari kaca mata teknologi. Penduduk membengkak. Pada tahun 1905 tercatat 1.593.056 jiwa, tahun 1920 bertambah menjadi 2.049.547 jiwa, dan tahun 1930 meningkat menjadi 2.564.848 jiwa. Surakarta suram. Kekuasaan Susuhunan peot, taring pengadilan pun dirampas pemerintah Hindia Belanda. Pejabat-pejabat Belanda berkembang biak. Keadaan semacam ini membuat Susuhunan masygul dan kecewa.

Pakubuwono X

Dalam tulisan-tulisan ilmiah, peranan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dalam gerakan nasional Indonesia kurang terungkap. Padahal, Yogyakarta melahirkan Budi Utomo (1908) sebagai partai politik yang benar-benar pertama di Indonesia. Awal 1912 di Surakarta muncul Sarekat Islam (SI) sebagai partai politik massa yang juga pertama di Indonesia. Walaupun SI dilahirkan di sebuah kerajaan Jawa, kemungkinan keterlibatan keraton dalam gerakan nasional seperti diabaikan. Bahkan beberapa sarjana menyebutkan, salah satu faktor utama perkembangan SI adalah adanya kejengkelan rakyat terhadap para bangsawan dan hukum keraton yang sudah kuno.

Arsip di Negeri Belanda menjelaskan bahwa sebenarnya pihak keraton terlibat dalam gerakan itu. Munculnya organisasi kebangsaan yang penting di kerajaan Jawa tak mengherankan. Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa, perkembangan teknologi di kerajaan itu tampak terbelakang, tapi perkembangan kebudayaannya amat pesat. J.Th. Petrus Blumberger, penulis tentang gerakan nasionalis Indonesia yang paling perseptif, mengatakan bahwa kerajaan-kerajaan itu merupakan tempat “jantung Jawa berdenyut”. Penulis lain menyebutkan bahwa, terutama sekali di daerah kerajaan, rakyat menunggu-nunggu datangnya Heru Cokro, sang juru selamat, sebagaimana telah diramalkan oleh Raja Jayabaya. Kalangan elite Jawa tahu ini. Kawula kerajaan, rakyat Jawa di daerah gubernemen (daerah Hindia Belanda), para pangeran, terutama Susuhunan, tetap dianggap sebagai poros. Setidak-tidaknya lambang semua kekuasaan di Jawa.

Kendati terpecah-pecah, daerah kerajaan masih dipandang sebagai sisa kejayaan dan kesatuan Mataram. D.A. Rinkes, asisten penasihat urusan pribumi pemerintah Hindia Belanda, menyebut cita-cita munculnya Mataram kembali tidak pernah sirna. Itulah yang memacu gerakan Sarekat Islam (1912 dan 1913), dan selanjutnya mempengaruhi pemikiran para politisi keraton sampai akhir zaman penjajahan, bahkan juga sesudah masa itu. Karena hak-hak dan statusnya dipereteli terus, para bangsawan politisi menerima gerakan nasionalis dengan simpati. Bila ada sikap amat hati-hati, itu agar mereka tidak ditangkap dan tak perlu berkubur di tempat pengasingan. Yang jelas, keraton-keraton Jawa berperan pada awal munculnya gerakan nasional di Indonesia, khusunya Keraton Surakarta dan Pakualaman.

Susuhunan Pakubuwono X di Surakarta merupakan tokoh sentral yang membingungkan. Bahkan mungkin kurang diperhitungkan oleh ke-13 orang residen dan gubernur Belanda yang ditempatkan di Surakarta sejak tahun 1893 hingga 1939. Kebanyakan orang Belanda menganggap Susuhunan lemah, tidak cakap serta patuh. Memang Pakubuwono tidak memperlihatkan sikap keras, apalagi hidupnya mewah, doyan makan enak, senang mengenakan pakalan kebesaran dengan lencana dan bintang-bintang kehormatan. Belanda juga menganggapnya percaya pada takhayul sebagaimana kawulanya percaya bahwa ia punya kekuatan gaib guna menyembuhkan orang sakit, memiliki keris dan senjata yang serba sakti. Nyatanya, dalam perkembangan selanjutnya, gambaran Susuhunan berbeda. Belanda sempat terkecoh oleh kesehatan Susuhunan.

Raja yang lahir tahun 1867 itu, dalam usia 32 tahun, menderita batu ginjal dan tidak dapat membatasi kemauannya. Belanda sudah memperhitungkan usianya dan menyiapkan pengganti yang sesuai dengan politik Hindia Belanda. Tapi ternyata ia baru wafat setelah 72 tahun. Sejalan dengan usianya, sikap dan wataknya semakin tegas. Patihnya yang amat berkuasa diganti atas perintahnya, sehingga kekuasaannya meningkat. Belanda menganggap ia kurang cakap dalam keuangan dan administrasi. Perhatiannya direbut upacara-upacara kebesaran dan politik.

Selama masa takhtanya yang panjang itu, dalam menghadapi 10 orang gubernur jenderal dan 13 residen/gubernur secara silih berganti, ia mampu menjauhkan pertentangan yang serius, bahkan tampil sebagai “teman” pemerintah Hindia Belanda. Tetapi kewibawaannya sebagai raja Jawa di mata rakyat tetap kukuh. Jelas, ini kelihaian membawa diri. “Loyatitasnya” kepada Hindia Belanda memang meragukan Kontrak politik yang ditandatanganinya ketika naik takhta sebagai Susuhunan di tahun 1893 mencantumkan syarat, ia di copot jika ingkar pada persetujuan itu. Dalam pada itu, ia pun sadar sebagai cucu Pakubuwono VI yang di tahun 1831 dibuang Belanda ke Ambon. “Ia memang setia pada pemerintah Belanda. Tapi bahkan dalan tidurnya pun hidup naluri leluhurnya, naluri nenek-moyangnya naluri raja dan prajurit Timur,” kata seorang gubernur. Petunjuk bahwa Susuhunan mempunyai kecenderungan politik dilaporkan oleh Residen Sollewijn Gelpke (1914-1918) padi atasannya. Secara teratur ia memerlukan terjemahan berita-berita penting dari De Locomotief – surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Semarang. Khususnya berita mengenai Perang Dunia I Gelpke memperoleh kesan, Susuhunan bersimpati pada Jerman sebagaimana banyak orang Indonesia, termasuk orang-orang SI.

Sementara itu, Residen L.Th. Schneider (1905-1908) berpendapat bahwa potensi subversif Susuhunan kurang diperhitungkan Schneider merupakan salah seorang yang pertama-tama memperhitungkan pengaruh perjalanan Pakubuwono X ke luar daerah Walaupun perjalanan itu secara teoretis incognito, kunjungannya ke Semarang, Surabaya, Ambarawa, dan Salatiga (antara tahu 1903 dan 1906) benar-benar dapat disebut resmi. Kunjungan itu dapat dianggap sebagai pencerminan politik Pakubuwono X, yang hendak memperluas pengaruhnya sebagai raja Jawa. Ia juga melawat ke Bali dan Lombok, serta Lampung. Peranan Susuhunan sebagai imam bagi masyarakat muslim di Surakarta, dengan gelar Panatagama – sehingga dapat dimengerti hubungannya dengan SI – diperhitungkan Belanda.

Penolakannya terhadap aktivitas misi-misi Kristen disebut-sebut sebagai fakto pesatnya perkembangan SI. Jika peranan Pakubuwono X itu dihubungkan dengan fajar nasionalisme di Asia dan semangat Pan Islamisme, Susuhunan tak boleh diremehkan. Di Surakarta, misi Kristen sulit memperoleh tanah, sekalipun untuk mendirikan rumah sakit. Akhirnya, Belanda meminta kepada Mangkunegoro, dan mendirikan rumah sakit di Jebres Golongan Islam di Laweyan, pusat orang-orang SI, sangat menentang kegiatan misi. Ketika golongan misi menerbitkan berkala dalam bahasa Jawa, Mardi Rahardjo, golongan Islam menerbitkan tandingannya, Medan Muslimin. Suasana agak memanas ketika pada tahun 1912 Pangeran Kusumodiningrat. kakak Pakubuwono X, menghadiri rapat komite anti kegiatan misi Kristen. Residen campur tangan, dan akhirnya sang pangeran menolak permintaan menjadi anggota komite. Memang tidak ada bukti keraton terlibat dalam pembentukan SI. Hubungan itu baru ada setelah terbentuknya sebuah perkumpulan saudagar batik setempat oleh R.M. Tirtoadisuryo, redaktw Medan Priyayi. Tirto telah mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia (Jakarta) tahun 1909, dan selanjutnya membentuk Sarekat Dagang Islam di Bogor tahun 1911. Di tahun 1912 ia mendirikan Sarekat Dagang Islam di Surakarta sebagai cabang perkumpulannya di Bogor. Tak lama kemudian ia mundur dari panggung, dan Haji Samanhudi, saudagar batik terkemuka di Laweyan, tampil sebagai pemimpin yang sesungguhnya.

Beberapa sarjana pengamat mengatakan, perkumpulan pribumi itu berdiri karena timbulnya persaingan dengan para pedagang Cina yang mendirikan industri batik. J.S. Furnivall, misalnya, menulis bahwa penggantian bahan kain batik buatan lokal (tenun) dengan kain impor (cambtics) sehingga para produsen batik pribumi harus membeli kain impor dari pedagang-pedagang Cina sangat menguntungkan pedagang Cina. Menurut Robert van Niel, H. Samanhudi-lah yang menundang R.M. Tirtoadisuryo, agar datang ke Surakarta untuk mendirikan perkumpulan dagang Indonesia di antara para saudagar batik setempat. Dan menurut Blumberger (asisten residen di Surakarta antara tahun 1913 dan 1916) penyebab pertama didirikannya Sarekat Islam ialah munculnya perasaan nasionalisme Jawa. Nasionalisme Jawa inilah yang meletupkan reaksi terhadap dominasi dan meningkatnya campur tangan asing dalam peri kehidupan orang Jawa. Maka, wajarlah bila SI Solo berharap bahwa Susuhunan dan pejabat-pejabat tinggi keraton membantu menentang pejabat-pejabat yang terpengaruh oleh pemerintah Hindia Belanda. Skors pelarangan kegiatan organisasi SI Solo salah satu sebab utamanya keributan Krapyak. Penduduk merasa dirugikan oleh peraturan baru di bidang agraria 70 orang anggota SI marah terhadap asisten residen Belanda dan pejabat kepatihan R.T. Joyonagoro, putra patih, yang ketika itu menjabat sebagai bupati nayoko dan bendaharawan keraton. Koran Bintang Surabaya mewartakan, penduduk Krapyak–anggota-anggota SI – menolak peraturan gubernemen. Karena sikap dan tindakan anti Cina dipandang dapat mengganggu keamanan, pada tanggal 10 Agustus 1912 Residen Van Wijk melarang SI mengadakan rapat dan menerima anggota baru. Rumah-rumah pimpinan SI digeledah. Tapi Van Wijk mencabut larangan itu di bulan September, dengan syarat tidak boleh menerima anggota baru dari luar Surakarta.

Sejarah kemudian mencatat peristiwa lain. Beberapa hari sebelum larangan itu dicabut, gerakan para saudagar Islam memperoleh dorongan baru dari Umar Said Cokroaminoto, pedagang dari Surabaya yang membentuk Sarekat Islam di Surabaya dengan memakai model SI Solo. Jelas, SI telah menusuk rusuk Jawa. Dalam kongres pertamanya di Surabaya tanggal 26 Januari 1913, hadir wakil-wakil dari sepuluh cabang, didukung oleh 8.000–10.000 pengunjung. Jumlah anggota SI waktu itu kira-kira 80.000 orang, 64.000 orang di antaranya di Surakarta. Dalam kongres itu ditetapkan kedudukan komite sentral tetap di Solo, dengan tiga departemen yang bertugas melebarkan sayap organisasi ke pelosok-pelosok Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Pada 23 Maret 1913 berlangsung kongres kedua di Surakarta. Setelah kongres itu, SI benarbenar mencuat. Tahun 1916 jumlah cabangnya di dan luar Jawa mencapai 180 buah, yang mengayomi 700.000 anggota.

“Main mata” SI dengan keraton Pakubuwono X boleh dikata berawal di bulan September 1912. Dari sebelas orang pimpinan SI Solo, empat orang di antaranya pejabat tinggi keraton. Kongresnya yang kedua diselenggarakan di Sriwedari, sebuah taman dan tempat pertemuan milik Pakubuwono X. Beberapa hari sebelum kongres dibuka, patih Sosrodiningrat memberi tahu Van Wijk bahwa SI setempat meminta kepada putranya, R.M. Wuryaningrat, agar menjadi anggota kehormatan. Selanjutnya, atas perintah ayahnya, Wuryaningrat menolak permintaan itu dengan pura-pura membuat alasan karena anggaran dasar SI belum mendapat persetujuan dari pemerintah Hindia Belanda. Van Wijk lagi-lagi terkejut ketika pada malam menjelang pembukaan kongres mendengar Pangeran Hangabehi terpilih sebagai pelindung SI. Ketika ditanya oleh residen Belanda, Hangabehi mengatakan bahwa keanggotaannya di SI baru dua hari, ia juga telah diundang hadir pada rapat pendahuluan kongres. Ketika tiba-tiba diminta jadi pelindung, permintaan itu langsung diterimanya, tanpa meminta nasihat dulu dari Susuhunan atau patih. Kehadiran Pangeran Hangabehi memang mendapat sambutan hangat dari kongres. Secara resmi pangeran itu terpilih sebagai pelindung. H. Samanhudi terpilih sebagai ketua, dan Cokroaminoto sebagai wakil ketua. R.M.A. Puspodiningrat – putra R.T. Wiryodiningrat, penasihat Susuhunan yang paling terpercaya jadi ketua cabang Jawa Tengah. Puspodiningrat waktu itu berpangkat bupati nayoko di keraton, ia dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, yang antipati pada orang Eropa. Ia pun jengkel pada Van Wijk, yang selalu mencampuri urusan keraton. Apalagi residen Belanda itu sudah melaporkan kepada atasannya, betapa banyak orang keraton yang menjadi anggota SI.

Ada juga yang menganggap kedudukan P. Hangabehi sebagai pelindung SI itu hanya tituler–bupati Madiun, misalnya. Karena itu, dalam kongres ST tanggal 23 Maret 1913, dua orang utusan SI Madiun ditanya sendiri oleh P. Hangabehi dengan tiga pertanyaan tajam. Mengapa ketua SI Madiun tidak hadir? Mengapa SI Madiun berani mengangkat bupati Madiun sebagai ketua kehormatan tanpa meminta pertimbangan lebih dahulu dari pimpinan pusat SI di Solo? Apakah bupati itu dapat dipercaya dan dapat memberikan bantuan kepada SI? Konon, bupati Madiun – serta kebanyakan bupati lain – sangat hati-hati dan waspada terhadap pengaruh Solo dan keratonnya. Mereka merasa, bila pengaruh Surakarta meningkat terus di mata rakyat Jawa, kedudukan para bupati pemerintah Hindia Belanda akan melemah. Kenyataannya, P. Hangabehi memang tidak boleh lama-lama duduk sebagai pelindung SI. Dalam surat tanggal 24 Mei 1913 Van Wijk melaporkan ke Batavia bahwa pangeran itu telah melepaskan kedudukannya atas perintah ayahandanya, Pakubuwono X. Dan atas anjuran Van Wijk pula, tak lama kemudian pangeran itu dikirimkan ke Eropa, untuk meredam pengaruhnya di kalangan tinggi keraton. Tapi di Negeri Belanda ada yang memperkenalkannya sebagai pelindung SI. Belanda pusing lagi, karena pangeran itu merupakan salah satu calon terkuat untuk menggantikan ayahnya.

Pengundurannya dari SI ternyata tidak mengurangi pamor Hangabehi di SI Solo. Reserse yang memata-matai kegiatan SI melaporkan pada tanggal 18 Agustus 1913, P. langebehi dianggap oleh orang-orang SI sebagai calon ratu adil, juru penyelamat tanah Jawa. Anggota-anggota SI setempat mengatakan kepada temantemannya bahwa pada saatnya nanti akan ada raja adil yang memerintah tanah Jawa. P. Hangabehi-lah orangnya. Ternyata, hanyak anggota SI yang ingin menjadi anggota pasukan Pangeran Hangabehi, sehingga ketua SI Solo menulis surat kepada pangeran itu supaya pulang ke Solo, karena kelak akan menjadi raja tanah. Pengaruh P. Hangabehi juga amat besar di Yogyakarta. Dalam laporan rahasia reserse pada bulan Februari 1914, anggota SI Yogya masih tetap menganggapnya sebagai ketua SI. Mereka mendukung pencalonannya sebagai pewaris takhta Surakarta. Mereka siap membantunya jika sampai terjadi perkara yang serius. Konon, SI Yogya sudah terbentuk dalam bulan Maret 1913 atas prakarsa Pangeran Notodirjo, putra Pakualam V. Sebulan setelah pembentukannya, SI Yogya mempunyai 657 anggota, termasuk kira-kira 100 orang pejabat keraton Sultan dan 50 pejabat Pakualaman.

SI cepat berkembang ke seluruh pelosok Jawa, bahkan sampai Madura sisten residen Belanda di Banyuwangi melaporkan ke Batavia bahwa penduduk setempat merasa resah di bawah pemerintahan Hindia Belanda, dan mengalihkan pandangan ke SI Solo. Saya kira, bukannya tidak mungkin bahwa gerakan itu berasal dari kelompok atau orang-orang dari kalangan istana Solo, tulisnya. Residen Madura meminta perhatian yang serius terhadap desas-desus yang tersebar di karesidenannya, bahwa Susuhunan pun adalah anggota SI. Dan residen Surabaya melaporkan hanyak orang di Surabaya menyatakan SI dibentuk atas pemltah Susuhunan dan Mangkunegoro. Seorang anggota SI yang diinterogasi mengatakan, tujuan SI ialah membentuk pemerintahan baru yang akan melancarkan peperangan guna mengusir orang-orang Belanda dan Cina dari Jawa. Sedang seorang bekas anggota SI di Surabaya mengaku, SI bertujuan mengambil alih tanah Jawa dari Belanda melalui revolusi, dan menyerahkan kembali Jawa kerja dan Susuhunan. Asisten residen Nganjuk memperkuat bahwa anggota-anggota baru SI, setelah mengucapkan sumpah, lantas diingatkan, “Jangan lupa, di tanah Jawa hanya ada seorang raja yang sah.”

Desas-desus yang beredar selagi kongres SI berlangsung di Solo tanggal 23 Maret 1913 dilaporkan oleh bupati Bojonegoro sebagai berikut: “Di Solo SI pertama-tama didirikan sehubungan dengan kenyataan bahwa Suuhunan X tidak mempunyai putra lelaki dari permaisuri, pun belum punya putra yang diberinya gelar Pangeran Adipati sebagai pewaris takhta, padahal Baginda semakin berusia juga. Orang-orang mengatakan, Baginda berniat mengawini seorang putri Sulfan Yogya. Tapi, jika ini terlaksana dan permaisuri baru itu melahirkan putra mahkota, tentunya sang putra itu masih terlalu muda untuk menggantikan ayahandanya. Orang-orang mengutip kata Joyoboyo, bahwa sepeninggal Susuhunan X, takhta kerajaan akan diduduki oleh raja yang dipilih oleh rakyat, yaitu Susuhunan XI.” Lebih lanjut dikatakan bahwa pendiri SI yang sebenarnya ialah Pangeran Hangabehi, putra Susuhunan sekarang. Ia sengaja mendirikannya dengan harapan, kelak, melalui kerja sama dengan perkumpulan itu, ia terpilih menjadi Susuhunan. Salah seorang asisten residen di Batavia melaporkan bahwa anggota-anggota SI di Bekasi dianjurkan agar tidak menghormati pemerintah Hindia Belanda lagi, dan, jika sampai terjadi sesuatu, akan ada seseorang yapg menolong. Siapa orangnya tidak disebutkan. Tapi, setelah diketahui bahwa orang-orang Bekasi yakin iuran masing-masing sebesar 50 sen akan dikirimkan kepada Susuhunan di Solo, dapat ditebak siapa yang dimaksudkan. Memasuki tahun 1915 SI mengalami kemunduran. Terjadi pergantian pimpinan, dan pusatnya pun pindah dari Solo. Hubungan antara keraton dan SI menipis.

Budi Utomo

Lalu di Surakarta bertiup angin politik yang penting. Pada tahun 1914 terjadi perpindahan pimpinan Budi Utomo dari Yogya ke Solo. Mula-mula ketertiban Keraton Surakarta dalam kegiatan Budi Utomo masih samar-samar dan dlakukan dengan hati-hati sekali. Pada akhir tahun 1921, setelah Pakubuwono X melakukan kunjungan lagi ke daerah-daerah lain, dua orang putra raja itu masuk dalam pimpinan Budi Utomo. Belanda pun resah, lalu berusaha membatasi kegiatan politik keraton. Dalam catatan sejarah, Budi Utomo didirikan oleh sekelompok mahasiswa kedokteran di Batavia Dada Mei 1908. dan merupakan organisasi nasionalis yang pertama kali dibentuk di Hindia Belanda. Dalam sejarah Indonesia, lahirnya Budi Utomo merupakan awal kebangkitan nasional. Kongres pertamanya, yang dipimpin oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, berlangsung pada bulan Oktober 1908. Kongres itu dilangsungkan di Yogyakarta, antara lain karena simpati Pangeran Notodirjo dan keraton Pakualaman. Kira-kira 300 orang hadir baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat. Karena Dr. Wahidin sakit, pada hari kedua Panji Brotoatmodjo – pegawai tingkat menengah (kliwon) dari keraton Pakualaman – memimpin kongres.

Pembentukan Budi Utomo cabang Solo mungkin terjadi pada akhir tahun 1908, dan selanjutnya cabang ini berkembang pesat. Pada tahun 1912 ia mampu mengambil alih koran Darmo Kondo. Koran itu terbit sejak tahun 1904 di bawah manajemen orang-orang Cina. Seorang bangsawan, R.M.A. Suryosuparto, yang kemudian menjadi Mangkunegoro VII, memainkan peranan penting pada tahun-tahun awal Budi Utomo Solo. Tahun 1916, Pangeran Hadiwijoyo, salah seorang putra terkemuka Pakubuwono X, menjadi ketua cabang. Dan bulan Juni 1919, dua orang pangeran yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Susuhunan Pangeran Hangabehi dan Pangeran Kusumoyudo – ikut ambil bagian dalam armada itu. P. Hangabehi putra tertua Pakubuwono X, sedangkan P. Kusumoyudo putra tertua kedua, yang konon merupakan putra kesayangan ayahanda.

Mula-mula Budi Utomo hanya bergerak dalam bidang sosial dan kebudayaan. Tapi sejak September 1914, setelah organisasi ini dipimpin oleh dr. Radjiman Wedjodiningrat, seorang dokter keraton Susuhunan, bidang politik dikebut. Dalam rapat pimpinan di Bandung tanggal 5 dan 6 Agustus 1915, tampillah mosi M. Sutedjo, utusan dari Surakarta, yang menyerukan dibentuknya parlemen sebagai pengganti milisi.

Dalam kongres Budi Utomo di Surabaya, 8 dan 9 Juli 1919, R.M.A. Wuryaningrat terpilih sebagai ketua. Pejabat tinggi dan bangsawan Keraton Surakarta yang sangat anti Belanda ini kelak menjadi seorang pemimpin gerakan nasional yang terkemuka. Wuryaningrat adalah putra patih Surakarta R.A.A. Sosrodiningrat, yang menjabat patih sejak tahun 1889, semasa Pakubuwono IX bertakhta. Pakubuwono IX memberi Sosrodiningrat cukup batasan kekuasaan, sedangkan Pakubuwono X beberapa tahun bersikap longgar. Tapi karena cukup tua, dan menurut pandangan Belanda amat konservatif, Gubernur Jenderal Idenburg dalam tahun 1915 memensiunkannya. Sekaligus menggantinya dengan putra sulung patih dari selir R.A. Joyonagoro. Sosrodiningrat menyangka rajalah yang mencopotnya.

Joyonagoro cakap sebagai administrator. Ia kawin dengan putri raja, kakak Kusumoyudo. Tapi pengangkatan Joyonagoro kurang menyenangkan sementara kalangan keraton, yang menginginkan Wuryaningrat. Alasannya, Wuryaningrat adalah putra tertua dari istri pertama, bukan anak selir. Dan istri pertama itu adalah kakak Susuhunan. Pakubuwono X sudah mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah – Hindia Belanda agar Wuryaningrat yang diangkat. Pangkatnya pun waktu itu sudah bupati nayoko. Apalagi patih lama sudah memberinya kedudukan sebagai “sekjen” di kepatihan. Sebenarnya, ia tokoh pejabat tinggi yang penting. Tapi Belanda memang mencari calon yang lebih pasif dan tenang sikapnya. Wuryaningrat dengan kekuasaan yang besar, bersama-sama dengan tokoh-tokoh keraton yang anti Belanda dapat menggelisahkan Batavia. Ia pun dipindahkan dari kepatihan, sehingga kedudukannya hanya di keraton. Akibatnya, Wuryaningrat semakin benci kepada Belanda, sehingga gubernur Belanda menyebutnya “setan jahat” keraton.

Setelah kedudukan pimpinan pusat pindah dari Yogya ke Solo di tahun 1914, Budi Utomo lebih mantap geraknya. Cabang Surakarta maju, didukung 315 anggota. Cabang Weltevreden 601 orang. Gltatan anggota tahun 1918 sebagai berikut: Surabaya 139, Batavia 94, Yogya 70. Klaten, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri juga mencatat jumlah cukup. Pada tahun 1909 ada 40 buah cabang, pada tahun 1918 menjadi 51. Kenyataan ini mengesankan bahwa meskipun sebagai organisasi tidak besar, ia berpengaruh. Wuryaningrat berusaha memperluas cabang. Hasilnya, pada tahun 1920 naik jadi 63 cabang, setahun kemudian meningkat jadi 90. Motif utama keraton melibatkan diri dalam gerakan politik tentu saja karena makin tajamnya cakar Belanda mengganggu urusan dalam kerajaan. Tujuan utamanya otonomi politik. Itu juga dilakukannya pada berbagai kerajaan di daerah lain. Dalam pemilihan anggota Volksraad, Januari 1918, empat di antara 10 orang pribumi yang terpilih adalah anggota Budi Utomo. Termasuk Dr. Radjiman dan R. Sastrowidjono. Untuk mengimbangi anggota yang konservatif, pada bulan Maret 1918 diangkat lagi lima orang pribumi yang progresif: Cipto Mangunkusumo dari Insulinde, Cokroaminoto dari SI, Dwidjosewojo dari Budi Utomo, Prangwedono (Mangkunegoro VII), dan T.T. Mohamad Thayeb dari Aceh. Budi Utomo merupakan partai terbesar kedua dalam Volksraad, setelah NIVB (Nederlandsch Indische Vrijzinnige Bond).

Batavia terus mengendalikan keraton-keraton di Jawa Tengah. Pada pertengahan tahun 1920 Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921) menyatakan ingin turun dari takhta – terlaksana pada tahun berikutnya. Alasan resminya: sudah uzur (lahir tahun 1839). Tapi sebuah artikel dalam koran Sumatra Post yang ditulis oleh salah seorang yang sangat paham persoalan keraton membeberkan, Sultan mundur karena tidak dapat mengikuti reformasi sosial nihak Yubernemen. Di Surakarta, seorang bangsawan yang anti Belanda, P. Hadiwijoyo, terpilih menjadi ketua cabang Budi Utomo. Di bawah kepemimpinannya muncullah mosi dalam tahun 1920 yang menuntut otonomi bagi kerajaan Surakarta.

Pada bulan Desember 1921 Susuhunan melakukan perjalanan ke daerah Priangan, diiringi oleh 52 bangsawan dan abdi. Setelah singgah di Semarang, Pekalongan, dan Cirebon, ia tinggal agak lama di Garut dan Tasikmalaya. Di Garut ratusan orang berkumpul, sehingga polisi repot. Orang-orang itu ingin membeli air bekas mandi Pangkubuwono X termasuk sisa makanannya, karena dianggap mendatangkan berkah. Pada bulan Februari 1922 Pakubuwono X mengadakan perjalanan lagi ke Madiun, disertai oleh 58 bangsawan dan abdi. Perjalanan itu resminya disebut incognito, tapi benar-benar membuatnya populer. Ia mengobral banyak hadiah tanda mata dengan lambang PB X. Bupati-bupati menerima keris dengan hiasan permata, wedana dan asisten wedana memperoleh arloji anan itu “memberikan kesan mendalam pada rakya akan prestise, kekayaan, dan kesaktian raja Jawa, sebuah aspiras dengan tendensi nasionalistis yang kuat,” tulis Residen Harloff.

Dalam musyawarah nasional Budi Utomo di Surakarta tangga 24-26 Desember 1921, sasarannya politik. Wuryaningrat berpida to mengulas berbagai kejadian setelah Perang Dunia I. Pergola kan yang terjadi di berbagai bagian dunia serta gerakan-gerakan kemerdekaan di Arab, Irlandia, dan India. Budi Utomo, katanya sekarang mengemban tiga program: meningkatkan pendidikan membangkitkan rasa cinta tanah air, dan memajukan perekonomian rakyat. Dalam mosi yang diumumkan, diserukan aga dalam badan-badan perwakilan kaum pribumi memperoleh keanggotaan paling sedikit lima puluh persen. Keterlibatan keraton dalam Budi Utomo berlangsung terus Wuryaningrat, yang mundur dari jabatan ketua, digantikan olel P. Hadiwijoyo, juga putra Pakubuwono X. Dalam babak kepeng urusan selanjutnya Dr. Radjiman Wedjodiningrat, dokter Keraton Surakarta, tampil lagi sebagai ketua.

***

Antara pertengahan 1918 dan pertengahan tahu ada topan inflasi, sementa tidak berubah. Pada bulan Agustus 1919 harga makanan dan pakaian naik 50 persen. Harga gula di pasar dunia merosot, sehingga petani tebu keok. Ketidakpuasan muncul di daerah. Kebun tebu dibakar tentara dikerahkan untuk mengatasi kekacauan Kediri dan di Jawa Barat, serangkaian insiden akibat pengumpulan beras secara paksa. Pada bulan Juli 1919, dalam insiden yang paling parah – Peristiwa Garut – seorang anggota SI, Hasan, dan beberapa orang anggota keluarganya tewas ditembak. Cipto Mangunkusumo berpidato di depan sidang Volksrat tanggal 20 Februari 1919: menyalahkan gubernemen dan industri gula. Kata dia, menjelang tahun 1915 sebenarnya dapat dibayangkan akan terjadi kekurangan pangan, dan gambaran buruk itu makin parah di tahun 1917.

Pada bulan Agustus dalam masa perang di Eropa, Inggris memerlukan bantuan banyak kapal Belanda. Selanjutnya Inggris melarang ekspor ke India ke Hindia Belanda, bahkan ekspor beras ke Singapura pun dicegah. Akibatnya, harga beras naik lima kali lipat. Namun gubernemen tetap tidak mau mendesak pemilik-pemilik gula mengurangi luas kebun-kebun tebu agar dapat ditanam dengan padi. Kata Cipto, gubernemen tidak berbicara demi rakyatnya, tapi demi kapitalis-kapitalis pabrik gula. Penderitaan rakyat Surakarta semakin menggalakkan pemuka-pemuka. Dalam rapat istimewa Budi Utomo di Yogya ta dan 5 November 1922, dr. Radjiman memperingatkan gubermen dengan berkobar-kobar, “Ingat, sekaranglah saatnya meluluskan tuntutan kami. Sekarang memang kamu memimpin kami, tapi tunggu, tidak lama lagi saatnya akan bila kesabaran rakyat sudah habis!” Selanjutnya Budi Utomo juga mengadakan pertemuan-pertemuan. Dalam manifesto, yang diumumkan pada pertemuan November 1922, diajukan protes atas larangan yang dikenakan gubernemen terhadap pemimpin-pemimpin politik, peng polisi, dan “penyedotan” oleh kaum kapitalis dari bumi Hindia. Pada tahun 1923 dr. Radjiman digantikan oleh Wuryaningrat sebagai ketua pimpinan pusat Budi Utomo. Ia meneruskan moderat, tapi tetap mengecam gubernemen. Pernah Budi tertarik oleh politik non-kooperasi-nya Gandhi. R. Wonoboyo, seorang anggota pimpinan pusat, mengusulkan mengirimkan utusan ke India untuk memperoleh keterangan tangan pertama tentang gerakan itu.

Menuju Nasionalisme Indonesia Pakubuwono X terus mengadakan perjalanan ke daerah-daerah di luar Surakarta. Belanda keberatan, dengan alasan biaya. Padahal, benarnya hendak membatasi popularitas Susuhunan. Sekalipun perjalanan itu bersifat incognito, tapi Susuhunan selalu mengesankan sebagai Kaisar Tanah Jawa”. Setelah perjalanannya ke Jawa Barat dan Jawa Timur pada tahun 1922, yang bersamaan dengan meningkatnya semangat radikalisme Budi Utomo, Pakubuwono X tidak mengadakan perjalanan lagi di tahun 1923. Tapi tahun berikutnya, ia berangkat ke Malang. Penampilannya di sana menyebabkan Gubernur Jenderal Fock menyuruh Residen Nieuwenhuys mempersilakan suhunan pulang. Alasannya, persyaratan “incognito” dilanggar. Setelah Nieuwenhuys pindah dari Surakarta, Pakubuwono mengadakan perjalanan lagi di tahun 1927. Diiring 44 orang bangsawan dan abdi, ia memasuki Gresik, Surabaya, dan Bangkalan lama seminggu. Jumlah pengiringnya tiga kali lipat persyaratan yang dibuat oleh Belanda. Pada tahun 1929, selama dua minggu, ia ke Bali dan Lombok. Juga dengan 44 orang pengiring. Tahun berikutnya ke Bandung. Tahun 1933 ke Cepu dan tahun 1935 ke Bogor, Batavia, dan Lampung, dengan 51 orang. Susuhunan terus lakukan kunjungan di Jawa sampai wafatnya tahun 1939.

Pada tahun-tahun itulah, di Surakarta muncul R.T. Djaksodipujo, tokoh baru dari kalangan keraton. Tamatan sekolah hukum tinggi di Batavia. Bergelar R.T. Mr. Wongsonegoro, yang di kemudian hari menjadi Menteri Dalam Negeri RI. Ia salah satu tangan kanan Wuryaningrat. Pada tahun 1920-an, ia memegang berapa jabatan dalam keraton dan kepatihan. Ia menjadi ketua di Utomo cabang Solo, dan juga ketua pimpinan pusat Jong Java. Selama belajar di Rechls Hoge School di Batavia, ia dikenal sebagai mahasiswa yang pandai. Pada tahun 1924, dr. Sutomo membentuk Indonesische Studie Club di Surabaya. Dua tahun kemudian, di Solo terbentuk kumpulan serupa. Keanggotaannya tidak besar, tapi Wuryaningrat, dr. Radjiman, dan beberapa politisi yang berpengaruh ikut kudeta. Salah satu kegiatannya yang terpenting ialah menerbitkan Majalah Timbul, yang pro keraton dan nasionalis. Terbit dua bulan sekali sejak Januari 1927. Redaksinya dr. Radjiman dan R.P. Mr. Singgih. Majalah ini menerima subsidi 200 gulden setiap bulan dari , keraton dan dompet pribadi Pangeran Kusumoyudo. Enam tahun lamanya Timbul berkampanye menyerang politik yang dijalankan Belanda terhadap kerajaan-kerajaan Jawa, dan terus-menerus menuntut otonomi yang lebih longgar. Mr. Singgih merupakan tokoh baru yang memperkuat suara Keraton. Sebenarnya, ia berasal dari Pasuruan. Ketika belajar ilmu Hukum di Negeri Belanda, ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia, perkumpulan mahasiswa-mahasiswa nasionalis. Sekembalinya di Indonesia, banyak di antara anggota perhimpunan ini menjadi pemuka gerakan nasionalis. Setelah mengantungi ijazah sebagai ahli hukum dengan gelar Meester in de Rechten Mr. Singgih kembali ke Jawa. Selama setahun ia bekerja di kantor pengadilan Hindia Belanda di Ambon. Tahun 1924 ia mengundurkan diri, lalu pindah ke Surabaya, menjadi pengacara dan propagandis bagi Indonesische Studie Club-nya dr. Sutomo. Namanya berkibar sebagai pemuka nasionalis dan gerakan non-kooperasi. Ia pun aktif sekali di dalam Budi Utomo, dan terpilih sebagai sekretaris pertama pimpinan pusat dalam kongres bulan April 1928. Sebelum pindah ke Solo pada akhir 1926, ia berkeliling ke pelosok-pelosok Jawa, menyerukan pembentukan front persatuan semua golongan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menjadi anggota PNI-nya Sukarno, yang dibentuk di Bandung bulan Juli 1927.

Keraton akrab kembali dengan Budi Utomo setelah kongres bulan April 1928 di Solo. Pimpinan pusat organisasi nasional yang tertua itu kembali menetap di Solo. Dari susunan pimpinan pusat tampak menonjolnya tokoh-tokoh dari pihak keraton: R.M.A.A. Kusumo Utoyo (ketua), R. M.H. Wuryaningrat (wakil ketua), R.P. Mr Singgih (sekretaris pertama), R.M . Sudaryo (sekretaris kedua) S. Martodihardjo (sekretaris kedua), dr. Radjiman Wedjodiningrat (komisaris), R.Mr.dr. Supomo (komisaris), dan R. Slamet (komisaris). Tak lama kemudian, setelah kongres itu, Kusumo Utoyo pindah ke Batavia karena terpilih sebagai anggota Volksraad. Wuryaningrat, yang bertugas memimpin sehari-hari, secara defacto menjadi pemimpin utama. Akhirnya, kepemimpinannya mendapatkan pengakuan, seperti yang terjadi pada bulan Desember 1934 ketika ia dan Kusumo Utoyo bertukar kedudukan dalam pimpinan pusat.

Dalam memimpin Budi Utomo, Wuryaningrat menyalurkan kehendak Pakubuwono X yang memang menaruh perhatian besar dalam politik. Pada bulan Mei 1928, pimpinan pusat Budi Utomo mengeluarkan manifesto yang mengecam perbedaan perlakuan yang diumumkan oleh Gubernur Jenderal De Graef. Perbedaan perlakuan terhadap kaum nasionalis yang evolusioner dan revolusioner. Manifesto itu diakhiri dengan semboyan: “Dengan persatuan yang tak terpecahkan menuju kemerdekaan Indonesia.” Banyak yang mengatakan bahwa perencana manifesto itu adalah Mr. Singgih.

Dalam kongresnya di Yogya, 31 Desember 1927 hingga 1 Januari 1928, Budi Utomo memutuskan ikut serta dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) – federasi partai-partai politik Indonesia. Federasi itu baru terbentuk dua minggu sebelumnya, terutama atas prakarsa PNI Sukarno. Menginjak awal tahun 1930, langkah Budi Utomo makin jelas menuju nasionalisme Indonesia. Dalam kongres awal April 1931 di Batavia, secara tegas dibuka keanggotaan untuk “semua orang Indonesia.” Ejaannya pun diganti dari Budi Utomo menjadi Budi Utama. Dan dalam konperensi pimpinan pusat di Solo bulan Desember 1932, perubahan radikal terjadi dalam anggaran dasarnya. Tujuannya demi “perkembangan harmonis negeri dan rakyat Jawa dan Madura”, berubah jadi demi “Indonesia Merdeka.” Budi Utomo juga ikut serta melakukan protes terhadap rencana gubernemen untuk mengekang pendidikan pada sekolah-sekolah swasta – Wilde Scholen Ordonnantie – terutama pengekangan terhadap Taman Siswa. Sejak pendirian Taman Siswa di tahun 1922 oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), gubernemen telah melakukan berbagai pengawasan. Padahal, sekolah swasta tidak menerima subsidi dari Belanda. Tapi, peraturan baru yang hendak dikenakan pada sekolah swasta yang disebutnya “sekolah liar” itu lebih menjerat lagi, yaitu bahwa gubernemen dapat melarang dan mencabut izin sekolah itu jika dicurigai telh mengajarkan hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya bagi tata tertib masyarakat. Suwardi Suryaningrat segera mengirimkan kawat protes kepada Gubernur Jenderal B.C. de Jonge yang terkenal kolot. Pers nasional dan hampir semua organisasi nasional ikut berkoar. Budi Utomo pun mengadakan rapat, lalu menyampaikan ultimatum kepada pemerintah Hindia Belanda. Jika ordonansi itu tidak ditarik kembali, Budi Utomo akan menarik pula semua anggotanya dari badan-badan perwakilan di seluruh Hindia Belanda, menutup sekolah-sekolahnya, dan memberikan bantuan keuangan kepada “korban” peraturan itu. Setelah diserbu protes, baru Belanda menarik ordonansi tersebut. Pada tahun 1933 Budi Utomo berkonfrontasi lagi dengan gubernemen, yang berlangsung dua tahun lamanya.

Konon, pada akhir bulan April 1933, PPPKI yang mengadakan rapat di Solo bersepakat hendak mendirikan tugu di Solo, guna memperingati 25 tahun kebangkitan nasional. Organisasi-organisasi yang tergabung dalam PPPKI mengumpulkan iuran, lalu membentuk panitia yang terdiri atas tujuh orang. Panitia itu diberi nama Comite Tugu Kebangsaan, diketuai oleh Mr. Singgih. Tempat untuk mendirikan tugu disediakan oleh sebuah sekolah dasar swasta di Kampung Penumping, Laweyan, sedangkan pemilik tanah adalah Susuhunan. Izin pendirian diberikan oleh bupati kota pada akhir bulan November tahuh itu, tapi tidak diberitakan kepada residen Belanda M.J.J. Treur. Menurut rencana, peletakan batu pertama tugu itu akan dilakukan bersamaan dengan kongres PPPKI bulan Desember 1933 di Solo. Ternyata, pada saat-saat terakhir, penyelenggaraan kongres tidak diizinkan oleh Treur. Akibatnya, beberapa bulan lamanya rencana pendirian tugu itu terbengkalai. Tapi akhirnya rencana itu secara diam-diam dilanjutkan, diharapkan tugu itu sudah selesai sebelum gubernemen tahu. Tapi pada pertengahan bulan Oktober ketika pembuatan tugu itu hampir selesai hidung Treur menciumnya. Bulan berikutnya Budi Utomo menyampaikan permintaan izin resmi kepada residen, bahwa tugu itu akan diresmikan dalam kongres yang akan diadakan tanggal 24-26 Desember 1934 di Solo, dengan prasasti: “Toegoe peringatan pergerakan Kebangsaan 1908- 1933″. Permintaan izin ditolak, Batavia menyuruh Treur melakukan penyelidiki Setelah Treur menyampaikan laporan ke Batavia pertengahan Januari 19 keputusan baru menyebutkan tugu boleh tetap berdiri, asal dalam rangka peringatan berdirinya Budi Utomo, bukan sebagai peringatan kebangkitan nasional. Akhirnya Januari 1935 kebetulan Pakubuwono X ada di Batavia dalam rangka perjalanannya ke Lampung. Gubernur Jenderal menggunakan kesempatan untuk memberitahukan hal itu, dan Pakubuwono X pun berjanji akan membicarakan hal itu dengan Budi Utomo sekem- balinya di Solo nanti. Tapi usahanya tidak berhasil, sebab dalam pertengahan Maret 1935 Budi Utomo menyampaikan usul balasan kepada Belanda, yang menyatakan tetap menggunakan tahun “1908-1933″ atau tanpa prasasti sama sekali. Belanda makin jengkel, apalagi Budi Utomo tanpa izin telah mengubah bunyi tujuan dan anggaran dasarnya yang tera terangan demi Indonesia Merdeka. Pada awal April 1935 Bata memberi instruksi pada Treur agar mengultimatum Budi Utor tugu itu akan dibongkar dalam waktu sebulan jika menolak bu prasasti “Toegoe peringatan kemajoean ra’yat 1908-1933″. Pe tujuan akhirnya tercapai seperti tersebut di atas. Tugu den bentuk lilin menyala itu sampai sekarang masih berdiri, dan dike dengan nama Tugu Lilin.

Pada bulan Oktober 1930 di Surabaya terbentuk organisasi baru yang didirikan oleh Dr. Sutomo: Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Dan perjalanan sejarah menunjukkan bahwa dalam tahun-tahun terakhir penjajahan Belanda di Indonesia, Keraton Surakarta mulai melibatkan diri lebih jelas dalam gerakan nasional, yaitu setelah bergabungnya Budi Utomo dan PBI dalam bulan Desember 1935. Gabungan kedua organisasi ini ditambah dengan beberapa organisasi kebangsaan lain yang lebih ke akhirnya melahirkan partai yang paling besar dan paling penting dalam dekade itu, yaitu Partai Indonesia Raya (Parindra). Dr. Sutomo menjadi ketuanya, dan Wuryaningrat wakilnya Tujuan partai itu “Indonesia Mulia” tapi Belanda tahu benar bahwa maksudnya adalah kemerdekaan. Semua organisasi yang masih bergabung dalam PPPKI, kecuali Pasundan, masuk dalam Parindra. Pada bulan Februari 1936, Parindra telah mempunyai 54 cabang, dengan jumlah anggota 3.445. Pendukungnya yang terbesar dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi selanjutnya pulau-pulau lain pun segera berdiri cabang-cabangnya, sehin pada akhir masa penjajahan Belanda cabang Parindra tercatat sebanyak 121 buah, dan anggotanya kira-kira 20.000 orang. Inti Parindra, paling tidak pada permulaannya, adalah gabungan para pengikut Dr. Sutomo di Surabaya dan kaum politisi Keraton Surakarta. Pucuk pimpinan Parindra resminya di Surabaya. Tapi Solo, yang pada umumnya oleh orang-orang Jawa masih dipandang sebagai pusat politik yang terutama di Jawa, berfungsi sebagai pembantu pusat yang berada di Surabaya.

Persekutuan antara Surakarta dan Surabaya dapat mengingatkan pada tahun-tahun pertama Sarekat Islam, sekalipun persekutuan semacam itu dalam perjalanan waktu juga dapat menimbulkan ketegangan. Dalam kongres fusinya tujuh dari tiga puluh orang yang terpilih menjadi pengurus pimpinan pusat berasal dari Solo. Tapi dalam kongresnya yang diadakan tahun 1937, di antara sebelas anggota pengurus pusat yang terpilih hanya Wuryaningrat yang masih tinggal. Setelah Dr. Sutomo meninggal tahun 1938, Wuryaningrat yang mengganti jadi ketua, tapi badan pekerja harian tetap berada di’ Surabaya di bawah pimpinan R. Sudirman. Dalam kongres berikutnya pada bulan Desember 1938, Wuryaningrat kembali terpilih sebagai Ketua Parindra, dan M. Sutedjo dari Solo terpilih pula sebagai salah seorang anggota pengurus pusat. Kedudukan pengurus pusat pindah ke Solo, tapi lima dari tujuh di antaranya berasal dari Surabaya, dan pimpinan harian tetap di Surabaya di bawah R. Sudirman yang terpilih sebagai wakil ketua baru.

Dalam pada itu, nama dan peranan Jepang mulai muncul. Akibat devaluasi yen di Jepang pada tahun 1931, Hindia Belanda dibanjiri barang-barang Jepang, yang mendapat sambutan baik sekali karena harganya yang murah dan lebih baik dari saingannya. Selanjutnya orang-orang Jepang pun membuka toko di kota-kota Hindia serta mempekerjakan tenaga-tenaga pribumi. Furnivall, seorang pengamat sejarah Indonesia, mengatakan, jika kaum pribumi “tidak memperoleh ruang gerak dalam perdagangan modern, orang-orang Jepang memberinya kesempatan awal.” Sejak akhir tahun 1932 Belanda mulai benar-benar memperhitungkan ekspansi Jepang dalam segala bidang. Dalam bulan Juni 1933 Dr. H. Colijn, menteri urusan jajahan Belanda, memberi nstruksi kepada gubernur jenderal Hindia De Jonge agar nelakukan “cara yang lengkap, sistematis, dan sangat rahasia” dalam laporan intelijennya mengenai kehadiran orang-orang Jepang di Hindia. Belanda mengkhawatirkan bukan saja penetrasi ekonomi, tapi juga spionase dan pengaruh dan pers pribumi, gerakan nasional, dan raja-raja pribumi. Kekhawatiran Belanda itu memang beralasan setelah melihat keadaan di Surakarta. Tampaknya, Jepang menaruh perhatian kepada dua kerajaan di sana. Pada bulan Februari 1936, penasihat dan kepala biro urusan Asia Timur, A.H.J. Lovink, membuat laporan bahwa banyak orang Jepang mengunjungi Surakarta. Di Wonogiri perusahaan Jepang Ishihara Mining Company memperoleh hak eksplorasi tembaga dari Mangkunegoro pada tahun 1932. Di Wonogiri Selatan sebelumnya memang pernah diselidiki kemungkinan adanya kandungan tembaga, tapi tidak dilanjutkan karena diperhitungkan kurang menguntungkan. Tapi kenyataannya orang Jepang berani melakukannya. Dengan demikian, Belanda patut menaruh curiga akan kemungkinan adanya aspek politik. Dan karena perusahaan Jepang itu merencanakan mengapalkan hasil galiannya dari pantai dekat Teluk Pacitan, mungkin sekali juga sekalian mengumpulkan data topografis yang strategis. Sampai bulan September 1936 di Surakarta terdapat 57 orang Jepang, belum termasuk perempuan dan anak-anak Jepang. Kebanyakan tinggal di Solo, lainnya di Klaten, Boyolali, Sragen, Wonogiri, dan Tawangsari. Pada umumnya mereka pemilik dan pegawai toko dan bisnis kecil. Sampai Februari 1940 di Surakarta terdapat 27 toko dan perdagangan kecil Jepang lainnya. Di daerah Wonogiri selain mengusahakan tembaga, Jepang juga menangkarkan ulat sutera, mengusahakan pembuatan katun, pabrik karet, dan pabrik gula. Mereka memiliki perkumpulan bisnis tidak begitu aktif tapi mempunyai hubungan dengan beberapa orang terpelajar dan bangsawan setempat. Mereka sering ikut bermain tenis di lapangan tenis milik Pangeran Suryohamijoyo, seorang putra Pakubuwono X yang juga menjadi anggota Parindra.

Pada bulan Juli 1939 Gubernur Orie melaporkan ke Batavia bahwa di antara kunjungan yang paling sering dilakukan oleh orang-orang Jepang pada para bangsawan ialah kunjungan pada Pangeran Hadiwijoyo, salah seorang politisi keraton yang terkemuka. Dan di antara orang Jepang penduduk Solo yang paling rajin membina hubungan dengan pihak keraton ialah Sawabe, pemilik toko Fujiyoko, yang sering menyampaikan hadiah kepada Pakubuwono maupun Mangkunegoro. Laporan ke Batavia menyebutkan bahwa Pangeran Purbonagoro, komandan pasukan Keraton Surakarta, sering berkunjung ke toko Fujiyoko, dan diterima di kantor pribadi Sawabe. Pada bulan Februari 1941, dilaporkan Sawabe menerima kunjungan P. Kusumoyudo dan putra tertuanya, keduanya anggota Parindra, dan bulan berikutnya menerima priayi-priayi luhur Keraton Surakarta. Sawabe juga menerima kunjungan Mangkunegoro beserta istri dan anak-anaknya. Semula penyelidikan yang dilakukan oleh Belanda mengenai hubungan itu sebagian besar mengenai soal uang dan utang. Tapi pada bulan Juni 1939 dalam suatu penggeledahan yang dilakukan terhadap seorang wartawan Jepang yang tinggal di Batavia, ditemukan laporan yang dibuat oleh seorang Jepang mengenai gerakan nasional di Indonesia. Ada juga disebut-sebut adanya pertemuan rahasia para pemimpin, yang menghendaki P. Suryohamijoyo menjadi “raja Indonesia” di kemudian hari.

Pada bulan Juli 1939, untuk memenuhi undangan pihak Jepang Narpowandowo (organisasi kerabat dan pejabat Keraton Surakarta) mengirimkan utusan ke kapal penumpang Jepang Nichiran Maru yang lagi berlabuh di Semarang. Utusan yang berkunjung ke kapal selama dua jam itu terdiri dari priayi-priayi kelas menengah diketuai oleh R.M.N. Wiroatmojo, pegawai keraton berpangkat mantri dan juga wartawan. Sejak berdirinya Parindra, Belanda memang memperhatikan partai ini dalam hubungannya dengan gerakan kebangsaan di Surakarta. Tiga orang bangsawan tinggi semua pangeran putra Pakubuwono X, giat dalam partai itu: Hadiwijoyo, Kusumoyudo, dan Suryohamijoyo. Pada hari kedua kongresnya yang berlangsung di Solo, semua peserta diundang ke keraton. Pasukan Susuhunan berbaris di depan keraton memberikan penghormatan.

*********

Masalah suksesi dan pergantian raja di Surakarta hangat. Siapa yang bakal naik takhta bila Pakubuwono X wafat? Pangeran Hangabehi, atau Pangeran Kusumoyudo yang disayangi oleh ayahandanya? Konon, P. Kusumoyudo mempunyai seorang putra (sulung) bernama R.M.H. Mr. Kartodipuro (kemudian bernama B.P.H. Mr. Sumodiningraf), ahli hukum lulusan Universitas Leiden tahun 1935. Sekembalinya di Surakarta ia diangkat menjadi bupati anom di kepatihan, dan tak lama kemudian menceburkan diri dalam kegiatan politik. Ia bergabung dalam Parindra, dan menjadi wakil ketua cabang Solo sejak Agustus 1939. Ia juga menjadi pemimpin redaksi Sara Murti (Panah Wisnu), pengganti Timbul, yang terbit sejak Juli 1936. Setahun kemudian nama majalah itu diganti menjadi Bangun. Kritik-kritik pedas yang dilancarkan oleh Sumodiningrat dalam majalah itu menimbulkan kemarahan Belanda. Gubernur Orie pernah memanggilnya dan menumpahkan kemarahannya selama tiga jam.

Pakubuwono X merupakan raja yang paling lama duduk di singgasana dinasti Mataram (1893-1939). Putranya kira-kira 70 orang, yang masih hidup 44 orang – 20 putra, 24 putri. Masalah yang mengganjal ialah bahwa Pakubuwono tidak memperoleh putra dari kedua permaisurinya. Dua putra yang tertua, Hangabehi dan Kusumoyudo, yang memiliki kemungkinan besar menjadi penggantinya, lahir dari selir. Menurut keinginannya, Kusumoyudo-lah yang hendak dijadikan putra mahkota, meski usianya 40 hari lebih muda dari Hangabehi. Pada tahun 1898 ia sudah berniat mengangkat Kusumoyudo sebagai putra mahkota, tapi diurungkannya karena sebagian besar kalangan keraton termasuk patih lebih memilih Hangabehi. Belanda pun menilainya cukup dapat dipercaya dan “loyal”. Ia mendapatkan dukungan kuat dari Gubernur Orie.

Pada akhir bulan November 1938 Pakubuwono X sakit keras, dan akhirnya wafat pada tanggal 20 Februari 1939. Atas nasihat Den Haag, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachouwer memilih P. Hangabehi mengganti ayahandanya sebagai Pakubuwono XI. Pengangkatan P. Hangabehi disertai dengan kontrak politik yang menurunkan kewibawaan raja. Dalam kontrak politik itu disebutkan bahwa Hangabehi bisa diturunkan dari kedudukan Susuhunan jika ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan plus motongan anggar belanja keraton secara drastis.

Seperti Benedict Andersa pengamat sejarah modern Indonesia, yang mengutip kata khlayak Jawa. Pakuwono X dianggap sebagai “Susuhunan yang terakhir. ” Sebagaimana juga kata seorang penduduk Surakarta, “Rasa hormat dan patuh rasa kagum dan pengabdian kepada raja yang bertakhta, mulai padam. Orang mulai mengucapkan hal-hal yang sumbang, terutama bila raja baru itu pergi ke gubernuran untuk rapat! Kata orang-orang keraton: Beliau bukan lagi raja yang sesungguhnya Seperti Mangkunegoro saja. Setiap hari beliau pergi mengunjungi gubernur. Pada zaman Pakubuwono X, raja Surakarta hendak pernah pergi ke gubernuran gubernur Belandalah yang menemui beliau dan harus mengajukan permohonan dulu. Orang mulai berbisik-bisik, bahwa keraton koncatan wahyu – keraton telah kehilangan wahyu. Dapat dikatakan, tamatnya keraton Solo bukan dalam zaman revolusi tapi di tahun 1939.

Dalam zaman pendudukan Jepang Keraton Surakarta makin kehilangan cahayanya. Inflasi mengakibatkan keuangan keraton dan bangsawan amat menderita. Pakubuwono XI meninggal tahun 1944, sedangkan putra penggantinya masih amat muda. Pada tahun itu juga Mangkunegoro pun meninggal, dan putra penggantinya pun masih muda.

Sekalipun pamor keraton semakin mundur, politisi keraton tetap memikirkan masa depan. Bahkan sebelum proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, pertemuan-pertemuan diadakan tempat kediaman Suryohamijoyo, Hadiwijoyo, atau Kusumoyu membicarakan bentuk negara Indonesia setelah merdeka nanti. Pada suatu hari di akhir bulan Juli 1945, pertemuan semacam diadakan di rumah Kusumoyudo, yang dihadiri pula oleh pemuka- pemuka berbagai golongan, termasuk kalangan Islam.

Pada awal zaman kemerdekaan para bangsawan yang pada zaman Belanda dulu dikenal sebagai kaum politisi keraton segera menjadi “bangsawan revolusioner” yang menggunakan rumah-rumahnya untuk pertemuan politik dan dengan komandan-komandan gerilya. Di antara para bangsawan revolusioner termasuk Mr. Sumodiningrat, orang yang mungkin menjadi putra mahkota seandainya ayahnya, yaitu P. Kusumoyudo, yang diangkat menjadi pengganti Pakubuwono X. Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Surakarta pun di bentuk (setelah KNI Pusat terbentuk di Jakarta), diketuai Wuryaningrat, yang dulu dikenal sebagai politisi keraton yang Belanda. Tapi karena usia dan kesehatannya yang terganggu ia hanya sebentar memegang kedudukan itu, selanjutnya diganti Mr. Sumodiningrat. Rapat pertama KNI di bawah pimpinan Sumodiningrat diadakan pada bulan September 1945 di pendapat rumah Wuryaningrat. Pada bulan September itu juga Sumodiningrat memimpin KNI dan pemuda-pemuda melucuti senjata tentara Jepang, mengambil alih kekuasaan, dan mulai menjalankan gerakan anti kerajaan.

*Sumber : Majalah Tempo Edisi 19 Agustus 1989

About these ads

12 comments on “Raja Jawa Mengantar Revolusi

  1. Mila
    Juni 23, 2011

    Mantabb….jadi inged pelajaran sejarah jaman SMP :), eh SMA jga denk :)

  2. Usup Supriyadi
    Juni 24, 2011

    sejarah perjalanan sebuah kerajaan yang pernah bersingguhan dengan penjajajahan senantiasa pasti ada generasi yang malah ngikut penjajah ada juga yang revolusioner. baguslah ini, saya baru tahu soal raja-raja jawa yang bersikap revolusioner tersebut. anehnya, kenapa kebanyakan presiden Indonesia yang notabene kebanyakan berasal dari jawa, tidak meneruskan sikap raja-raja jawa yang revolusioner itu. kebanyakan hanya pada tataran bersorak, belum bertindak turun ke lapangan sebagaimana di atas dijelaskan bahwa raja-rajanya benar-benar turun tangan.

    semogalah akan segera hadir, tidak semata ratu adil, tapi sang revolusioner yang tidak hanya berkutat pada sosialisasi jargon semata, tapi lebih kepada hal nyata agar realita yang pedih ini tidak berkepanjangan, kasihan anak cucu kita nanti. duh.

    apa kabar, kang?
    rada lila oge yeuh karak posting deui nyah?
    nuju sibuk nyah. hehehe
    mugia sing sarekat, salam ka istri jeung anaknya.

    ——————–
    Kopral Cepot : Alhamdulillah sehat wal afiat … hatur nuhun pidu’ana .. ;)

  3. kawer
    Juli 4, 2011

    tanah jawa dan kolonisasi, dari anyer – panarukan belanda bukti nyata
    bahwa imperalisme di orientasikan di jawa tanpa menegaskan kolonialisme di tanah nusantara lainnya
    ingat,dari jaman galuh pakuan sampai demak yang berevolusi menjadi kasultanan jogya dan kasunanan surakarta. dan bukti bahwa ada jaman kesengsaraan akan timbul jaman kemerdekaan yang menjadi awal dari berdirinya negara ini. ketika VOC memonopoli penebangan hutan jati di madiun serta oportunismenya masyarakat berwarna munculnya perang jawa. belum adu domba serta perselisihan kekuasan bangsawan dengan tunjuan2 mereka

  4. AbuRazziq
    Juli 20, 2011

    agak oot dikit….budi oetomo sekarang ini banyak di beritakan sebagai organisasi (partai??) yang sekuler (anti islam)
    bagaimana menurut kang kopral

    ———–
    Kopral Cepot : kedekatannya dengan kaum theosofi dan berbagai tulisan kaum budi oetomo, kesimpulan itu cukup beralasan. sedikit tentang budi oetomo ada disini “Kenapa Menggugat Boedi Oetomo

  5. Rani fitriyani
    Agustus 24, 2011

    Sejarah zaman dulu ya mas,,,

  6. Nuraeni
    Agustus 24, 2011

    artikel yang sangat lengkap sekali..:)

  7. putra sumsel
    Januari 19, 2014

    INDONESIA BUKAN NEGARA JAWA BUKAN NEGARA MAJAPAHIT. INDONESIA TERBENTUK KAARENA PERSAMAAN NASIB SEBAGAI BANGSA TERJAJAH OLEH KARENA ITULAH INDONESIA BERSATU DAN MERDEKA. DAN INDONESIA LEPAS DARI HINDIA BELANDA BUKAN KARENA JAWA ATAU MAJA PAHIT TETAPI KARENA SERANGAN JEPANG DALAM PERANG DUNIA KEDUA. DAN JEPANG PERGI DARI INDONESIA BUKAN PULA KARENA JAWA DAN MAJA PAHIT TAPI KARENA KALAH PERANG DENGAN SEKUTU. JANGAN LAGI BAWA BAWA MITOLOGI-MITOLOGI JAWA DALAM NEGARA INDONESIA. BICARA JAWA JAWA SAJA JANGAN BAWA BAWA INDONESIA. INDONESIA MILIK RAKYAT DARI SABANG SAMPAI MEROKE YANG MEMPUNYAI DERAJAT HAK DAN KEWAJIBAN SAMA.

    JAWA-JAWA FITNAH DAN DONGENG BABAD JAWI AJA YANG KALIAN BESAR-BESARKAN. APALAGI SABDO PALON SERAT GONDAL GANDUL JAWA ITU KAMU TAUKAN SABDOPALON APA ISINYA??? ITU ADALAH FITNAH KEJI TERHADAP ISLAM DAN RADEN FATAH. SABDOPALON ITU PENGHUNI KERAK NERAKA JAHANNAM.

    Kalau kalian orang Jawa nulis sejarah, rusak semua sejarah acak-acakan semua sejarah gak tersusun semua dilabrak yang penting Jawa. Arya Damar/Adityawarman kata orang Jawa adalah anak Brawijaya menikah dengan ibu Raden Patah sedangkan Raden Patah adalah putra Brawijaya juga. Artinya Raden Patah itu adalah anak tiri Arya Damar dan sekaligus adek Arya Damar gak mungkin Arya Damar penganut Islam yang taat itu menikahi dan mengawini ibunya sendiri dan punya anak yang bernama Raden Husen jadi bagaimana Arya Damar Raden Patah, Raden Husen ibu Raden Patah. gak mungkin itu terjadi. bukan Ken Arok Arya Damar itu yang tukang berzina dengan istri majikan. Gak ada orang Sumatra seperti itu. Entah kalau Jawa hal seperti itu mungkin biasa. Berzina dan kawin punya anak dengan ibu kandung saja mungkin biasa kalau di Jawa

    Jika ibu raden patah orang campa keturunan cina dan keturunan sayyid Alsamarkhan, maka ibu raden fatah itu adalah syarifah. Sedangkan Ayah Raden Fattah adalah Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam ) ibni Jamaluddin Al-Husain ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammad Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW .
    ibu raden fatah sebenarnya masih mempunyai kekerabatan dengan ayahnya raden fatah (wan bo/ yang menjadi raja di campa) pernikahannya adalah kaffah sama sama keturunan Rasulullah SAW. tidak ada hubungannya dengan jawa apalagi dengan brawijaya V.
    Raden fatah kejawa untuk menemui paman/ wak dan sekaligus berguru kepadanya. paman/ wak raden fatah itu bernama sunan ampel.
    sedangkan arya damar juga sayyid masih mempunyai kekerabatan dengan campa dan melayu seriwijaya.
    arya damar tidak ada hubungannya dengan jawa apalagi dengan brawijayaV. arya damar adlah raja palembang. hubungan palembang dengan majapahit adlah setara bukan sebagai taklukkan. JANGAN LAGI DIKATAKAN PALEMBANG ADALAH TAKLUKKAN MAJAPAHIT TIDAK ADA PRASASTINYA DIPALEMBANG.
    kemudian ibu raden fatah ini setelah suaminya meninggal karena campa mendapat serangan dari cina /Khemer maka dia hendak menemui sunan ampel yang masih sepupunya. dan ketika berada dipalembang dinikahkanlah oleh sunan ampel dengan raja palembang yang bernama arya damar
    jadi pernikahan ibu raden fatah dengan arya damar ini juga kaffah ( sayyid dan syarifah/ keturunan rasulullah SAW). tidak ada sedikitpun hubungan dengan jawa baik itu raden fatah ataupun arya damar ataupun ibu raden fatah
    kalau raden patah di isukan anak brawijaya/ keturunan jawa sebenarnya adalah mungkin rekayasa wali songo untuk mendapat dukungan dari orang jawa dan sekalgus legitimasi sebagai ahliwaris majapahit/ brawijayaV. untuk mendirikan kerajaan islam dijawa yang rajanya adalah raden fatah

    ketika demak hancur maka keturunan raden patah kepalembang sebenarnya merka kepalembang pulang kampung. kareana memang palembang adalah negerileluhurnya, nenek moyang mereka memang orang palembang.
    demak itu bukanlah kelanjutan maja pahit. demak adalah perpanjangan tangan palembang.
    deamak menghancurkan jawa majapahit yang sudah pindah ke daha dengan raja girindra. girindra ini adalah menantu brawijaya V raja majapahit mojokerto. brawijaya V dan majapahit dimojokerto dihancurkan oleh daha. Dan raden fatah dengan pasukannya yang terdiri dari 80% orang palembang yang datang langsung dari palembang dan 20% santrri/ murid wali songo. demak belum punya tentara. demak belum jadi kerajaan. setelah demak menghancurkan maja pahit didaha dan membunuh girindra barulah kerajaan demak berdiri. peristiwa ini di gambarkan pasukan palembang datang menyerang majapahit daha bagaikan ombak yang bergulung gulung dan bagaikan air bah yang membumi hanguskan majaphit daha. peristiwa ini sama persis dengan peristiwa pralaya yang melenyapkan kerajaan medang dan membunuh semua pembesarnya yang mana medang pada waktu itu dihancurkan seriwijaya dan air langga lari ke bali

    JADI KERAJAAN DEMAK ITU BUKANLAH PEMBERIAN / WARISAN BRAWIJAYA V ATAU KELANJUTAN MAJAPAHIT. KERAJAAN ISLAM DEMAK ITU BERDIRI KARENA USAHANYA SENDIRI YAKNI perjuangan etapak demi setapak hasil kerja keras para WALI SONGO DAN PARA SANTRINYA/ MURID- MURIDNYA yang berasal dari seluruh nusantara terutama santri sunan ampel sunan kudus, sunan giri dan pesantren raden fatah itu sendiri, yaitu pesantren gelagah wangi. DAN PASUKKAN TENTARA PALEMBANG. PERANG ANTARA DEMAK DAN MAJAPAHIT DAHA PENGGING ITU ADALAH PERANG SABILILLAH ANTARA HIDUP DAN MATI. ANDAI DEMAK KALAH PADA WAKTU ITU MUNGKIN TIDAK AKAN PERNAH ADALAGI ISLAM DIJAWA sebab hindu majapahit daha pengging itu pasti menghabisi islam sampai keakar akarnya karena telah ketahuan ingin mendirikan kerajaan islam dijawa dan orang hindu majapahit daha pengging itu yang selamt lari kebali sama persis dengan peristiwa pralaya.. PAHAM KALIAN SUKU JAWA..
    pengiriman raden fatah dan raden husen ke jawa dari palembang itu adalah misi khusus arya damar dan wali songo.

    Adapun kemudian raden patah menjadi raja islam dijawa. tentu beranak pinak dan berasimilasi dengan suku jawa. Maka wajar keturunan raden fatah yang kesekian telah menggunakan bahasa keraton jawa sebagai bahasa keraton. Jadi wajar cicit-cicit raden patah yang kemudian ke palembang pasca hancurnya kerajaan demak yang kemudian mendirikan kesultanan palembang darussalam itu berbahasa keraton jawa. dan wajar pula kesultanan palembang darussalam ini mengatakan kalau kesultanan palembang darussalam adalah kesultanan melayu. karena memang asalnya dari melayu nenek moyang mereka memang orang melayu. dan wajar pula kesultanan palembang darussalam ini adalah kesultanan habaib/ para habib, karena kakek moyang mereka memang para habib/keturunan Rasulullah SAW dari mekkah sana. Tidak pernah kesultanan palembang darussalam ini mengatakan kesultanan jawa walaupun mereka berbahasa keraton jawa. Kalau mereka mengatakan kelanjutan demak ya betul.

    KITAB NEGARA KERTAGAMA ADALAH PITNAH BESAR YANG DILAKUKAN OLEH EMPU PRAPANCA, GAJAHMADA, SUKU JAWA TERHADAP SUNDA, MADURA, LUMAJANG, NUANTARA, ASIA TENGGARA

    PERBEDAAN SERIWIJAYA DENGAN MAJAPAHIT
    Kedua kerajaan ini di kabarkan konon katanya adalah kerajaan besar yang menguasai nusantara.
    Cuman pertannyaan muncul apa benar? kalau benar apa buktinya?
    Tentu untuk membuktikannya adalah dengan bukti sejarah/ pakta sejarah otentik dan catatan2 asing yang sezaman dengan seriwijaya atau maja pahit yang netral yang tidak ada kepentingan. Kalau catatan belanda semuanya bohong tidak ada yang benar catatan belanda itu karena belanda jelas ada kepentingan untuk memecah belah dan menguasai nusantara. Dan belanda tidak tau zaman majapahit apalagi zaman seriwijaya, mana mungkin orang belanda bisa bercerita tentang majapahit apalagi seriwijaya.
    Sebagai bukti kalau belanda tukang pembohong. Orang belanda menulis sejarah islam pertama disebarkan dinusantara oleh orang gujarat Pada abad 13. Kenyataannya islam disebarkan pertama dinusantara langsung dari pusatnya yakitu mekkah dan madinah pada masa nabi Muhammad SAW. Bahkan Muawiyah pernah datang ke nusantara. Kerajaan islam pertama adalah samudra pasai padahal jauh sebelum samudra pasai sudah ada kerajaan islam perlak yang diserang oleh seriwijaya yang dalam peperangan itu sultan perlak gugur sebagai syuhada. Patahillah adalah syarip hidayatullah adalah sunan gunung jati padahal mereka adalah lain patahillah bukanlah syarif hidayatullah atau sunan gunung jati. Raja nusantara pertama yang beragama islam adalah marah siluh padahal raja islam pertama nusantara adalah seri indrawarman raja seriwijaya. Seriwijaya adalah seratus persen kerajaan budah. Padahal sesungguhnya kerajaan seriwijaya itu adalah kerajan budah, islam, hindu. Yang ketiganya salaing berebut pengaruh dan kekuasaan. Semua sejarah yang ditulis orang belanda tidak ada yang benar
    Kembali ke tantang seriwijaya dan majapahit yang katanya sama sama besar tetapi jika kita perhatikan dan teliti dan kaji lagi dengan koreksi kritis ada perbedaan yang mencolok antara seriwijaya dan maja pahit.
    Perbedaan itu antara lain
    1. Kalau majapahit lebih dulu menceritakan sumpah palapa gajah mada yang menguasai nusantara. Sumpah palapa itu sebenarnya baru rencana gajahmada untuk menyatukan nusantara. Berdasarkan rencana gajahmada itu langsung dimasukkan semua kewilayah majapahit dan peta wilayah majapahit sama persis dengan indonesia sekarang bahkan malaysia dimasukkan kewilayah majapahit. Padahal belum tentu berhasil cita cita gajah mada itu jangan2 gagal total
    2. Sedangkan seriwijaya lebih dulu berdasarkn prasasti dan catatan asing kalau wilayah itu telah dikuasai oleh seriwijaya. Dan peta wilayah seriwijaya hanya sebagian sumatra, jawa barat, sebagian kecil kalimantan barat dan malaysia.
    3. Kalau seriwijaya banyak sekali yang mengklaim bahkan semua mengklaim.
    4. Kalau majapahit satupun tidak ada yang mengklaim. Selain dari jawa timur bahkan madura saja enggan mengklaim majapahit. Padahal berdasarkan sejarah majapahit itu bisa tegak karena madura. Sunda juga malas mengklaim majapahit padahal ayah raden wijaya adalah orang sunda.
    Berdasarkan 4 poin ini mari sama-sama kita teliti lagi dengan koreksi kritis tentang kebesaran seriwijaya dan majapahit atau jangan-jangan bohong semua keduanya.

    1. Rencana gajah mada yang terkenal dengan sumpah palapanya yang tidak akan bersenang senang jikalau nusantara belum menjadi wilayah majapahit. Kemudian sertamerta peta wilayah majapahit adalah indonesia sekarang dan malaysia. Sekarang koreksi kritisnya. Tidak ada prasasti majapahit diwilayah itu atau tanda tangan gajah mada diwilayah wilyah yang disebutkan oleh gajah mada dalam sumpah palapanya itu kalau wilayah itu telah di serang atau ditaklukkan oleh gajah mada / majapahit kecuali hanya di bali bagian selatan saja. Itupun adityawarman yang menyerang dan menghabisi orang-orang bali itu. Yang pada awalnya adityawarman menyerang bali bagian utara dan gajah mada menyerang bali bagian selatan. Adityawarman lebih dulu kembali ke majapahit dengan membawa kepala raja bali sedangkan gajah mada gak tuntas tuntas menghadapi perlawanan bali. Bahkan kocar kacir gajah mada. Kemudian adityawarman kembali menyerang bali dan menghabisi raja bali gajah mada bukanlah panglima perang lapangan gajah mada ini lebih cendrung jendral konseptor/ahli strategi. Sedangkan panglima perang majapahit adalah adityawarman. Adityawarman-lah jendral lapangan ahli perang dilapangan. Entah apa jadinya majapahit kalau tidak ada adityawarman. Kemudian adalagi jasa panglima majapahit yaitu laksamana nala. Sebenarnya armada laut majapahit laksamana nala ini yang berperan bukan gajah mada.

    Sepertinya gajahmada ini orang penakut buktinya untuk menaklukkan pajajaran di negeri sunda gajah mada membawa pasukkan 15.000 untuk menghadapi rombongan calon penganten yang hanya berjumlah 300 orang sungguh sangat memalukan dan menjijikkan. Dan buktinyata pajajaran tidak pernah takluk kepada majapahit. Pajajaran masih eksis. Kapan gajahmada menyerang palembang tidak ada prasastinya di palembang tidak pernah majapahit menyerang palembang. Palembang masuk ke wilayah majapahit atas jasa adityawarman/arya dillah bukan dengan pertumpahan darah tetapi dengan diplomasi hubugan kekeluargaan. Begitu juga dengan dharmasraya atau sumatra barat tidak pernah gajah mada ke situ tetapi jasa adityawarman yang menjadikan sumatra barat menjadi wilayah majapahit. Tidak pernah pasukkan majapahit menghancurkan sumatra barat. Bahkan pasukan majapahit dibantai habis oleh adityawarman di sumatra barat ketika adityawarman mendirikan kerajaan pagarruyung. Dan majapahit mana berani menyerang adityawarman.
    Begitu juga malaysia tidak ada satupun prasasti majapahit di malaysia kalau malaysia menjadi wilayah majapahit/diserang dan dihancurkan oleh majapahit atau gajah mada.

    Bahkan di lampung saja tidak ada prasasti majapahit kalau lampung di taklukkan majapahit. Bahkan dalam catatan naskah jawa dikatakan si jawa raja majapahit, si sunda raja pajajaran, si lampung ratu balaw. Artinya ketiga kerajaan ini ada rajanya masing masing dan bukan wilayah majapahit. Dan ditulis dalam sejarah majapahit menyerang pemberontakan palembang. Sebenarnya yang melakukan pemberontakan itu bukan orang palembang tetapi bajak laut cina. Karena palembang telah menjadi sarang bajak laut cina di asia. Dan yang menumpasnya adalah laksamana cengho dengan membawa seluruh angkatan laut cina yang sangat besar yang terkenal dengan kisah pelayaran laksamana cengho. Sepertinya gajah mada itu tukang pembual. Besak mulut saje. Sumpah palapa itu sepertinya gagal. Dan dalam catatan luar tidak ada yang mengatakan majapahit itu sebesar yang di buat di peta wilayah majapahit itu. Dan dalam akhir hayat gajahmada sepertinya dia hidupnya tersisih dan terasing dan merana dikucilkan orang tidak ada istri, tidak ada keturunan, tidak ada sanak saudara, tidak ada teman. dan itulah sumpah palapa gajahmada yang tidak akan bersenang senang selama hidupnya sebelum wilayah nusantara dipersatukan dan untuk menebus rasa bersalahnya itu gajahmada memenuhi sumpahnya gajah mada mati dengan sangat memalukan dengan minum racun.

    Sekarang kita bandingkan dengan seriwijaya. Yang wilayahnya di gambarkan dipeta sebagian sumatra sebagian kecil kalimantan barat, jawa barat, dan malaysia. Dan ditulis dalam sejarah yang dimaksud bumi jawa yang di taklukkan seriwijaya itu adalah tarumanegara atau jelasnya adalah jawa barat. Tetapi prasasti kekuasaan kerajaan seriwijaya dan dinasti selendranya ada dimana mana. Jelas seluruh jawa adalah wilayah kerajaan seriwijaya dengan penguasa dinasti selendranya. Seluruh prasastinya ada. Jelas yang dimaksud bumi jawa oleh dapunta itu adalah jawa bukan jawa barat. Jaman dulu jawa barat itu adalah tanah sunda/bumi parahyangan/galuh. Sedangkan yang ditulis oleh dapunta adalah bumi jawa. Bahkan sebenarnya tanah sunda itu mengakui kedaulatan seriwijaya karena dapunta menikah dengan putri raja sunda. Sedangkan yang dihancurkan oleh dapunta adalah kerajaan kaling jawa tengah perasastinya terdapat di kabupaten batang jawa tengah. Kemudian keturunan raja galuh yang bernama sanjaya menyingkir ke jawa tengah karena mendapat desakan dari seriwijaya mendirikan kerajaan mataram hindu kemudian itupun dikuasai oleh dinasti selendra dan sebenarnya sanjaya pun adalah masih keturunan yang berasal dari galuh yang masih keturunan dinasti selendra/raja raja seriwijaya. Dan gelar gelar raja mataram hindu itu adalah rakai dan mengakui kedaulatan seriwijaya. Dan kerajaan mataram hindu itu dihancurkan oleh seriwijaya. Dan patih kerajan mataram hindu mpu sendok menyingkir ke jawa timur dengan mendirikan kerajaan medang. Jelas sudah musuh bebuyutan jawa adalah seriwijaya prasasti prasasti seriwijaya/ dapunta/ dinasti selendra yang berada dijawa itu berbahasa melayu rumpun pasemah sumatra selatan. Kemudian raja jawa timur ini yang bernama teguh darmawangsa nekat menyerang seriwijaya yang berakibat patal dengan serangan balik seriwijaya yang memusnahkan seluruh jawa timur. Satu satunya yang selamat adalah air langga yakni menantu darmawangsa, yang berasal dari bali. Sebenarnya itu sengaja dibiarkan oleh seriwijaya karena airlangga adalah keturunan seriwijaya juga karena seriwijaya juga menyerang bali dan mendirikan kerajaan bali dan prasastinya ada di bali artinya seluruh jawa dan bali adalah wilayah kerajaan seriwijaya ada prasastinya dan ada catatan dari luar tentang hal itu, kenapa dipeta wilayah seriwijaya hanya jawa barat saja yang dimasukkan.

    Kemudian dalam peta seriwijaya dimasukkan hanya sebagian kecil kalimantan barat. Padahal prasasti di kalimantan selatan menjelaskan kalau seriwijaya menguasai kalimantan selatan dengan kedatangan pasukaan seriwijaya di banjar yang berasimilasi dengan dayak . sedangkan majapahit kapan menyerang kalimantan tidak ada prasasti di kalimantan kalau majapahit pernah menyerang kalimantan. Begitu juga dengan sulawesi kapan gajah mada menyerang dan menaklukkan sulawesi di sulawesi satupun tidak ada prasasti kalau majapahit menyerang dan menaklukkan sulawesi. Apalagi maluku dan papua mana ada prasasti majapahit disitu kalau wilayah itu dihancurkan dan ditaklukkan gajahmada/majapahit. Satu satunya sumber tentang kebesaran wilayah majapahit hanyalah kitab negara kertagama yang mencatat rencana gajahmada yang bersumpah dihadapan maha rani majapahit tribuwana tunggadewi, yang terkenal dengan sumpah palapa. Itu baru rencana. Dan bila melihat akhir kehidupan gajah mada yang merana karena menanggung malu itu sepertinya rencana gajahmada itu gagal total.

    Kitab negara kertagama dan pararaton itu adalah karangan orang gila orang gak waras orang setres mpu prapanca itu adalah guru sepiritual kerajaan yang dipecat oleh hayam wuruk dan dibuang ke desa terpencil. Kitab itu untuk menjilat untuk mengambil hati hayam wuruk dasar tua bangka keparat mpu prapanca ini yang mengarang kitab semau mau jidat dia saja hal hal yang membesarkan dirinya sendiri ditulis dan hal hal yang mengagung agungkan majapahit tanpa ada bukti sedangkan kisah kisah sejarah perang bubat pemberontakan ranggalawe sedikitpun tidak di sebut sebut. Mpu penjilat ini memasukkan semua wilayah yang disebut oleh gajah mada dalam rencana gajah mada itu ke dalam majapahit. Padahal itu baru rencana gajah mada dan rencana itu gagal total. Jangankan menguasai nusantara menguasai jawa timur saja maja pahit tidak bisa. Maja pahit itu dibagi dua sebelah timur adalah kerajaan lumajang dengan rajanya arya wira raja sebagaimana sumpah raden wijaya yang akan membagi dua maja pahit dengan arya wira raja jika berhasil menggulingkan jaya katwang. Karean atas pertolongan dan jasa arya wira raja. Dan sampai majapahit lenyap di bumi, lumajang tetap merdeka. Apa lagi sulawesi, kalimantan, sumatra, maluku, papua sedikitpun tidak ada hubungannya dengan majapahit.

    Dasar besar omong saja si gajah mada ini. Kalau sumatra itu adalah wilayah aditya warman/ arya damar. Dan semua orang maja pahit dibantai habis oleh adityawarman bagaimana bisa dikatakan kalau sumatra adalah wilayah majapahit orang orang maja pahit dicincang oleh adityawarman. Bahkan 10 kali lebih besar pagarruyung daripada majapahit. Maja pahit hanyalah seujung kuku pagarruyung , hanya sebagian jawa timur, bali, lombok saja wilayah majapahit itu. Itupun keluarga adityawarman yang menaklukkannya dan menguasainya bukan gajah mada. Gajah mada adalah si besar mulut dan penakut dan pengecut dan licik, sedangkan mpu prapanca sipengarang kitab dongeng negara kertagama adalah si penjilat dan orang setres.karena dipecat dari jabatannya sebagai resi kerajaan.

    Kalau dikatakan majapahit yang menyerang dan menghancurkan seriwijaya itu adalah salah besar ketara betul orang itu bodoh gak punya otak di zaman majapahit sudah tidak adalagi kerajaan seriwijaya bodoh. Yang ada dharmasraya dan pagarruyung yang raja-rajanya adalah keturunan seriwijaya/berasal dari seriwijaya. Dan seriwijaya sudah bukan di palembang lagi pusatnya.

    2. Perbedaan yang mendasar antara seriwijaya dan majapahit adalah seriwijaya di setiap wilayah kekuasaannya selalu ada prasastinya kalau wilayah itu telh diserang dan ditaklukkan oleh seriwijaya. Dan hampir semua wilayah taklukkan seriwijaya itu di peroleh dengan jalan peperangan hanya sunda saja dengan jalan damai yak ni pernikahan dapunta dengan putri sunda. Sedangkan majapahit gagal memperistri putri sunda akibat ulah gajah mada. Dan pajajaran tidak pernah mengakui kedaulatan majapahit atas tanah sunda. Dan pajajaran masih tetap exis berbarengan dengan majapahit. Sedangkan seriwijaya yang memperistri putri tarumanegara menakibatkan hilangnya kerajaan tarumanegara. Tarumanegara tidak pernah ada lagi setelah pernikahan dapunta dengan putri sunda itu. Sedangkan wilayah majapahit sebagian besar diperoleh dengan jalan diplomasi sepertinya hanya bali dan pumbawa saja yang diperoleh dengan jalan peperangan.
    3. Perbedaan ketiga yang mendasar antara seriwijaya dan majapahit adalah seriwijaya banyak sekali yang mengklaim bahkan hampir semua wilayah yang ditaklukkan seriwijaya mengklaim seriwijaya. Ini adalah sebagai bukti kalau wilayah itu benar benar menjadi wilayah kerajaan seriwijaya. Semakin banyak yang mengklaim seriwijaya maka semakin luas pula wilayah seriwjaya itu sesungguhnya. Padahal sudah jelas seriwijaya itu terletak dan berasal dari wilayah/kerajaan yang berada di antara kerajaan melayu (jambi sekarang) dan kerajaan tulang bawang (lampung sekarang) jadi antara kerajaan melayu dan kerajaan tulang bawang/antara jambi dan lampung itu lah seriwijaya yang sesungguhnya. Tetapi masih banyak yang mengklaimnya membuktikan kalau wilayah itu benar benar wilayah seriwijaya.
    4. Majapahit satupun tidak ada yang mengklaim. Sunda saja tidak mau padahal ayah raden wijaya (raja pertama majapahit) adalah orang sunda. Kenapa sunda tidak mau mengakui majapahit karena sunda bukan wilayah majapahit sampai majapahit lenyap sunda tetap ada. Jangankan sunda, madura saja tidak mau mengakui majapahit dan madura sampai majapahit runtuh tetap merdeka bukan wilayah majapahit. Jangankan madura, lumajang saja bukan wilayah majapahit, apa lagi sulawesi, kalimantan, sumatra, maluku, papua. Dan bali beserta lombok yang menaklukkan dan menguasainya adalah keluarga adityawarman. Mana gajah mada besar mulut aja. Gajah mada pernah dua kali menyerang pajajaran kedua duanya gagal hampir semua pasukkan gajah mada dibantai lari terbirit birit. Sebenarnya gajah mada menghadang rombongan penganten diyah pitaloka putri seri baduga yang bejumlah 300 orang sedangkan gajah mada membawa 15.000. Bayangkan apa tidak gila dan kalap gajah mada ini. Sebenarnya gajah mada ini adalah dendam dengan pajajaran yang telah meluluh lantahkan pasukkannya dulu.

    Adityawarman datang ke pajajaran untuk minta ma’af atas nama majapahit. Adityawarman ini adalah anak dari dara jingga dengan abyabrahman dan aditya warman adik cakra dara cakra dara adalah ayah hayam wuruk jadi adityawarman adalah pak cik nya hayam wuruk. Wajar adityawarman mewakili hayam wuruk selaku keponakannya untuk minta ma’af kepada pajajaran. Dara jingga adalah kakak dara petak, dara petak adalah istri raden wijaya dan ibu jayanegara. Dara petak dan dara jingga adalah putri kerajaan dharmasraya yang berasal dari keturunan raja-raja seriwijaya.

    Ya sumatra ditaklukkan adityawarman/arya damar/arya dillah dan nenek moyangnya di dharmasraya dan seriwijaya. Tapi kemudian adityawarman tidak pernah tunduk kepada majapahit dan mendirikan kerajaan pagarruyung. Jadi sumatra bukanlah wilayah majapahit tetapi wilayah adityawarman dan pagarruyung.
    Jangan pernah lagi jawa mengatakan semua nusantara adalah majapahit, semua nusantara ditaklukkan oleh gajah mada sebelum ada prasastinya yang membuktikan kalau wilayah itu telah di taklukan oleh gajah mada atau telah menjadi wilayah majapahit. Jangan dikira kitab negara kertagama itu benar isinya kitab itu adalah kitab penjilat. Jangan dikira gajahmada itu berhasil mewujudkan hayalannya dalam ucapan sumpah palapa itu. Dan kitab negara kertagama itu karangan siorang gila yang bernama mpu prapanca itu adalah karang- karangan mpu prapanca saja

    Ya sekarang orang jawa bisa banga karena jumalah penduduk terbesar di indonesia. Tetapi jangan lupa jawa secara willayah adalah minoritas, hanya 3 propensi ( jawa tengah, jogja, jawa timur) jawa barat bukan lagi suku jawa tetapi sunda, banten, betawi. Dan madura bukan lagi suku jawa tetapi suku madura. Bandingkan dengan 33 propensi di indonesia. Dan indonesia terbentuk karena persamaan nasib dan harkat martabat Sebagai bangsa yang dijajah oleh belanda, sebagai masyarakat kelas 3/ bumi putra/ kelas paling bawah sebagai bangsa yang tertindas. Atas persamaan nasib itulah indonesia bersatu dan merdeka.
    Indonesia ini bukan jawa, rakyat dari sabang sampai meroke mempunyai hak kewajiban yang sama atas indonesia. Kamu orang suku jawa jangan pernah bepikir presiden harus suku jawa buang jauh- jauh pikiran itu sebab kalau tidak bubar indonesia.
    Timor leste/ timor timur mereka sebenarnya bukan menbenci indonesia, mereka tau kalau mereka adalah bangsa indonesia dan mereka sebenarnya sangat mencintai indonesia. Tetapi orang2 timor leste sebenarnya sangat membeci dan muak dengan suku jawa. Begitu juga papua, maluku/ RMS, sulawesi/ permesta, aceh/ GAM, PRRI, mereka semua sangat mencintai indonesia. Tetapi merka semua sangat membenci dan sangat muak dengan suku jawa. Begitu juga malaysia dan singapura tau mereka darimana asal mereka mereka sangat menghormati indonesia terlebih palembang, minang kabaw, bugis, aceh. Tetapi mereka sangat muak dan jijik dengan suku jawa. Semua orang benci dengan jawa bukan karena iri atau benci dengan orangnya, tetapi semua orang benci dengan suku jawa karena sipatnya yang sangat licik, culas rakus, gila kekuasaan, merasa paling berkuasa, tukang pitnah, tukang adu domba, tukang berzina dengan istri majikan seperti ken arok, tukang MELET perempuan, tukang santet, tukang dukunin orang, itulah sipat watak dan kelakuan suku jawa.

    Menulis sejarah jangan lagi asal tulis saja semau mau pengarang saja. Sekarang orang cerdas semua dan berpikiran kritis semua. Dan akan di buktikan orang betul. Gak akan orang enggiih- enggih aja, Nanti dulu teliti dulu buktikan dulu
    Kitab negara kerta gama Majapahit menguasai asia tenggara adalah suatu fitnah yang terbesar terhadap nusantara dan asia tenggara yang dilakukan oleh mpu prapanca dan gajahmada dan suku jawa.

    Kartu Jawa Kartu Majapahit Yang Pegang Adalah Orang- Orang Yang Menjadi Cikal Bakal Seriwijaya Yaitu Propensi Sumatera Selatan Dan Bengkulu. Apa Mau Dibuka???????????????
    Bukti sejarah yang paling kuat adalah prasasti dibatu dan istana. Kedua dunya tidak ada dinusantara prasasti majapahit kecuali dibali dan lombok saja. Itupun bergandeng dengan aditya warman dan saudara- saudaranya.
    adapun tentang kitab negara kertagama itu adalah buku karangan mpu prapanca. Mengarang buku siapa saja bisa dan mengarang buku bisa sambil tidur sambil mimpi dan sambil menghayal dan semau mau pengarang. Dan bisa hanya berada didalam kamar saja kalau mengarang buku entah benar entah tidak
    sedangkan prasasti di batu tidak bisa asal tulis saja kalau tempat itu belum ditaklukkan . Bunuh orang kalau asal tulis saja, asal ancam, saja, asal kutuk saja tempat orang kalau belum wilayah itu benar- benar telah ditaklukkan.. dan membuat prasasti dibatu tidak bisa sambil tidur, sambil mimpi, sambil menghayal.
    Mana prasasti gajah mada yang menegaskan kalau wilayah wilayah husantara telah ditaklukkan oleh gajah mada gak ada, cuman di Bali dan lombok saja, itu juga aditya warman yang menaklukkan dan menguasainya.
    Gajah mada mati dalam keadaan hina, tidak ada istri, tidak ada keturunan, tidak ada kawan tidak ada pengikut, tidak ada saudara. Itulah akibat orang besar omong hingga akhirnya makan sumpah nya sendiri.
    Mungkin setelah peristiwa bubat kesabaran hayam wuruk habis sehingga gajah mada diusir oleh hayam wuruk. Karena satupun tidak ada yang terbukti sumpah palapa itu ditambah pula dengan peristiwa bubat yang sangat memalukan majapahit.
    Dan untuk mengingatkan hayamwuruk akan jasa gajah mada yang telah menyelamatkan jaya negara dan menumpas pembrontakan rakuti walaupun sumpah palapa itu gagal ditulislah negara kerta gama oleh seorang empu penjilat situa bangka keparat yang bernama prapanca.
    Kalian suku jawa menggung agungkan ken arok, wikramawardana, jakatingkir dan melecehkan tunggul ametung, bre wirabumi, arya penangsang.
    Kalian tau tidak siapa kenarok, wikramawrdan, jaka tingkir
    Ken arok adalah manusia paling bejat didunia, manusia iblis,licik, culas, tak tau balas budi, gila kekuasaan gila pangkat, tukang berzina dengan istri majikan, pembunuh majikan/ suami kendedes, pembunuh kebo ireng dengan pitnah keji, pembunuh mpu gandring gurunya sendiri yang membuatkan keris mpu gandring, tukang pitnah, itu nenek moyang kamu orang suku jawa yang kalian agung agungkan .
    Berhati- hatilah dengan orang jawa yang menjadi pembantu, tukang kebun, sopir, selip sedikit bisa berzina istri dengan pembantu/ pelayan , sopir, tukang kebun orang jawa. Belajarlah dari sejarah ken arok dan kendedes. Sebenarnya raja2 singao sari dan maja pahit itu darah tunggul ametung lebih kental daripada darah kenarok. Kerta negara adalah anak rangga wuni. Ranggawuni adalah anak anusapati, anusa pati adalah anak tunngul ametung. Gayatri adalah anak kerta negara berarti keturunan gayatri adalah keturunan tunggul ametung. Sedangkan raden wijaya ayahnya adalah orang sunda tidak ada sedikitpun hubungan dengan ken arok. Garis keturunan kenarok dari pihak ibu raden wijaya yaitu dyah lembutal. Dyah lembutal anak singamurti singamurti adalah ank mahisa wong ateleng. Mahisa wong ateleng adalah anak ken arok.
    Raden wijaya menikah dengan dara petak putri dharmasraya yang keturunan raja raja seriwijaya. Mempunyai putra bernama jaya negara ( raja kedua maja pahit)
    Kakak dara petak yang bernama darajingga kawin dengan abya brahman berputra cakra dara, arya damar/ aditya warman, arya sentong, cakra dara kawin dengan ratu tribuwana tungga dewi, jadi arya damar/ aditya warman, arya sentong adalah adik ratu/ maha rani tribuwana tungga dewi sekaligus menjadi ipar tribuwana tungg dewi.cakra dara dan tribuwana tunggadewi berputra yang bernama hayam wuruk. Hayam wuruk berputri kusumawardani. Kemudian cakra dara kawin lagi dan berputra yang bernama raden sotor. Raden sotor berputra bernama prameswara yang menjadi raja malaka.
    Hayam wuruk kawin lagi berputra brewirabumi. Jadi brewirabumi, kusumawardani, prameswara adalah bersaudara, kakek mereka sama yaitu cakra dara. Cakra dara anak darajingga, darajingga anak raja dharmas raya. Dharmasraya berasal dari raja raja seriwijaya. Seriwijaya berasal dari rumpun suku bangsa pasemah/ besemah( wilayah gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musirawas/ lubuk linggau, musi ulu, musi banyu asin, kubu rawas, empat lawang, muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, manak, padang guci/ wilayah propensi sumatera selatan dan Bengkulu).
    Kalau kusumawardani dan wirabumi saudara satu ayah. Kusuma wardani dan wirabumi saudara satu kakek dengan prameswara.
    Brewirabumi dan prameswara tidak mempermasalahkan kusuma wardani. Tetapi yang membuwat brewirabumi dan prameswara naik darah ngapain wikramawardana yang menjadi raja maja pahit.
    Kalau kusumawardani adlah putri hayam wuruk dan cucu cakra dara sama dengan brewirabumi dan prameswara cucu cakra dara. Tapi wikramawardana siapa??? Damarwulan. Gak ada hubungannya sedikitpun dengan majapahit.
    Cakra dara kakek kusumawardani, berewirabumi, prameswara tidak menjadi raja majapahit. Tau diri cakradara. Tetap istrinya yang menjadi maha rani tribuwana tunggadewi. Lah wikramawardana datang datang jadi raja maja pahit sungguh taktau diri taktau malau. WAJAR BRE WIRABUMI DAN PRAMESWARA NAIK DARAH DAN BERSATU MEMERANGI WIKRAMAWARDANA.
    Dan bila melihat garis leluhur prameswara dari cakra dara, darajingga, dharmasraya, seriwijaya, wajar prameswara mengaku keturunan palembang yang berasal dari raja- raja seriwijaya. Ketika prameswara lari ke tumasik/ singapura disana berkuasa gubernur kerajaan siyam yang mana tumasik adalah wilayah kerajaan siyam mana ada tumasik masuk wilayah majapahit palak bapak gajah mada dan mpu prapanca saja gila memasukkan tumasik wilayah majapahit.. Kemudian gubernur kerajaan siyam yang berkuasa di tumasik itu dibunuh oleh prameswara kemudian lari ke malaysia dan mendirikan kerajaan malaka. Adapaun kemudian prmeswara beragama islam karena leluhurnya dari seriwijaya memang sudah banyak yang beragama islam. Arya damar, seri indra warman ( raja kedua seriwijaya) beragama islam. Dan seriwijaya itu sebenarnya adalah kerajaan budah, islam, hindu, yang ketiganya berebut pengaruh dan kekuasaan.
    Sekarang jaka tingkir yang bagi orang jawa diagung- agungkan dan orang jawa melecehkan arya penangsang. Jaka tingkir itu adalah manusia sombong, licik, culas, gila kekuaaan, gila pangkat, taktau malu, taktau diri. Siapa jaka tingkir? Tidak ada sedikitpun mempunyai hubungan darah dengan demak/ raden patah. Jaka tingkir hanyalah menantu terenggono.
    Sedangkan arya penangsang adalah cucu raden patah anak sedainglepen. Setelah wapat pati unus seharusnya yang menjadi raja demak adalah adiknya yang kedua / sedoing lepen/ ayah arya penangsag karena pati unus tidak mempunyai keturunan. Tapi sedoing lepen dibunuh prawoto anak trenggono. Sehingga ayah prawoto/ adik sedoing lepen yang menjadi raja yaitu ternggono. Wajar arya penangsang membunuh prawoto orang yang telah membunuh ayahnya. Arya penangsang tidak membunuh trenggono/ adik ayahnya/ pamannya. Setelah wapat ternggono maka lebih berhak arya penagsang daripada putri trenggono. Wajar arya penangsang yang menjadi raja demak tetapi kenapa jaka tingkir ikut campur. Kenapa jaka tingkir yang ingin menjadi raja/ sultan. Putri ternggono saja/ istri jaka tingkir saja tidak mau menjadi ratu/ sultanah dia tau arya penangsang jauh lebih berhak daripada dia. Lalu kenapa jaka tingkir yang menjadi raja/ sultan, dasar tak tau diri tak tau malau jaka tingkir ini. Wajar arya penangsang naik darah dengan jaka tingkir.
    Kata orang jawa arya penangsang mati kena kerisnya sendiri padahal arya penagsang selamat pergi ke sumatra selatan kedaerah komering dan ogan ilir dan prabu mulih dan keturunanya banyak di prabumulih dan ogan ilir sumatra selatan.
    Pada saat seminar nasional tentang peradaban rumpun suku bangsa pasemah sebagai pendahulu serwijaya yang diadakan di kota pagar alam sumatera selatan raja bali dan seri sultan HBX datang.
    Untung saja sultan jawa ini dan raja bali ini tidak membantah. Seandainya membantah bisa kehilangan muka raja jawa dan raja bali ini. Bisa diungkit semua bagaimana bali dan jawa itu bagaimana hubungannya dengan rumpun pasemah, apa isi prasasti sojomerto batang jawa tengah apa ada bahasa jawa disitu yang menuliskan nama dapunta selendra tulen prasasti itu berbahasa melayu rumpun pasemah . unutung sultan jawa ini baik malah mengadakan silaturahmi dengan tokoh- tokoh rumpun pasemah baik yang berada disumsel dan bengkulu, Malah seri sultan HBX mengatakan kalau dia dan keluarganya berasal dari rumpun pasemah dan datang kepagar alam- sumsel adalah pulang kampung. Adapun tentang asal usul seriwijaya perlu penelitian lagi. Sedangkan raja bali sepertinya sedih dan kecewa karena jejak hindu budah pada masyarakat rumpun pasemah sebagai asal usul dapunta selendra lenyap sama sekali dan telah menjadi masyarakat islam semua. Sedangkan bukti- bukti tentang rumpun pasemah sebagai asal usul seriwijaya dan dapunta selendra sudah sangat jelas kalau masih ingin diteliti lagi tambah bagus. Tapi teliti lagi juga semua seluruh sejarah di Indonesia termsuk teliti lagi juga maja pahit yang katanya menguasai nusantara sedangkan tidak ada bukti kebesaran majapahit, baik itu prasasti gajah mada/ maja pahit ditempat tempat yang disebut dalam hayalan gajah mada dan ditulis mpu prapanca dalam kitab negara kerta gama, istana maja pahit tidak ada, Satu satunya rujukan majapahit hanya kitab dongeng Negara kerta gama saja, yang menulis rencana dan hayalan gajah mada.
    Kalau ada prasastinya mana?????????????????
    Kartu jawa dan majapahit yang pegang orang-orang yang menjadi cikal bakall seriwijaya yaitu orang- orang sumatera selatan dan bengkulu. Apa mau dibuka??????????????????????????????????

    Kamu orang orang suku jawa tidak usah banya tingkah semua kerajaan dijawa itu berasal dari sunda semua . gak ada kerajaan dan raja dijawa apa lagi dijawa timur. Baru ada setelah empu sendok lari kejawa timur baru ada kerajaan dijawatimur itupun dimusnahkan oleh kerajaan seriwijaya. kalau mataram hindu itu berasal dari sunda dari galuh tanah sunda. siapa sanjaya itu?? anak sana raja galuh tanah sunda.
    Gak ada kerjaan gak ada raja dijawa. Semua berasal dari sunda dan seriwijaya semua. Dari arah barat kerajaan2 dijawa itu dari banten, sunda, jawa tengah terakhir jawa timur dan sekarang yang paling akhir jogja dan solo. Kamu suku jawa gak usah gaya. Selendra dijawa itu adalah orng orang seriwijaya yang menikah dengan orang- orang sunda itulah yang menjadi raja- raja dijawa itu paham kalian suku jawa ( jawa tengah, jogja, jawatimur) dinasti selendra berasal dari jawa dari mana dari hongkong. Gak ada kerajaan gak ada raja dijawa itu dulu. Semua berasal dari sunda dan seriwijaya. Kerajaan kaling itu lenyap dihancurkan seriwijaya.
    Kartu jawa dan majapahit yang pegang orang-orang yang menjadi cikal bakall seriwijaya yaitu orang- orang sumatera selatan dan bengkulu. Apa mau dibuka??????????????????????????????????
    putra sumsel | 12 Januari 2014 pada 20.00

    0

    0

    Rate This

    KITAB NEGARA KERTA GAMA ADALAH PITNAH BESAR YANG DILAKUKAN OLEH EMPU PRAPANCA, GAJAH MADA, SUKU JAWA. TERHADAP SUNDA, MADURA, LUMAJANG, NUSANTARA DAN ASIA TENGGARA..

    DIBAWAH INI ADALAH BUKTI KALAU BALI ADALAH WILAYAH SERIWIJAYA.
    Shri Kesari Warmadewa adalah Wangsa Warmadewa yang pernah berkuasa di Pulau Bali, Indonesia dari Tahun 882 M s/d 914 M.
    Dalem Shri Kesari pendiri Dinasti Warmadewa di Bali. Raja dinasti Warmadewa pertama di Bali adalah Shri Kesari Warmadewa [ yang bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha] yang dikenal juga dengan Dalem Selonding, datang ke Bali pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, beliau berasal dari Sriwijaya(Sumatra) di mana sebelumnya pendahulu beliau dari Sriwijaya telah menaklukkan Tarumanegara( tahun 686) dan Kerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah/Semarang sekarang. Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan raja berwangsa Syailendra( dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali.

    Di dalam sebuah kitab kuna yang bernama “Raja Purana”, tersebutlah seorang raja di Bali yang bernama Shri Wira Dalem Kesari dan keberadaan beliau dapat juga diketahui pada prasati ( piagam ) yang ada di Pura Belanjong di Desa Sanur, Denpasar, Bali. Di pura itu terdapat sebuah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuna, sebagian mempergunakan bahasa Bali kuna dan sebagian lagi mempergunakan bahasa Sansekerta. Tulisan-tulisan itu menyebutkan nama seorang raja bernama “Kesari Warmadewa”, beristana di Singhadwala. Tersebut juga di dalam tulisan bilangan tahun Isaka dengan mempergunakan “Candra Sengkala” yang berbunyi : “Kecara Wahni Murti”. Kecara berarti angka 9, Wahni berarti angka 3 dan Murti berarti angka 8. Jadi Candra Sekala itu menunjukan bilangan tahun Isaka 839 ( 917 M ). Ada pula beberapa ahli sejarah yang membaca bahwa Candra Sengkala itu berbunyi “Sara Wahni Murti”, sehingga menunjukkan bilangan tahun Isaka 835 ( 913 M ). Pendapat yang belakangan ini dibenarkan oleh kebanyakan para ahli sejarah.
    Dengan terdapatnya piagam tersebut, dapatlah dipastikan bahwa Shri Wira Dalem Kesari tiada lain adalah Shri Kesari Warmadewa yang terletak di lingkungan Desa Besakih. Beliau memerintah di Bali kira-kira dari tahun 882 M s/d 914 M, seperti tersebut di dalam prasasti-prasasti yang kini masih tersimpan di Desa Sukawana, Bebetin, Terunyan, Bangli (di Pura Kehen), Gobleg dan Angsari. Memperhatikan gelar beliau yang mempergunakan sebutan Warmadewa, para ahli sejarah menyimpulkan bahwa beliau adalah keturunan raja-raja Syailendra di Kerajaan Sriwijaya (Palembang), yang datang ke Bali untuk mengembangkan Agama Budha Mahayana. Sebagaimana diketahui Kerajaan Sriwijaya adalah menjadi pusat Agama Budha Mahayana di Asia Tenggara kala itu.
    Beliau mendirikan istana di lingkungan desa Besakih, yang bernama Singhadwala atau Singhamandawa, Baginda amat tekun beribadat, memuja dewa-dewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau terdapat di situ bernama “Pemerajan Selonding”. Ada peninggalan beliau sebuah benda besar yang terbuat dari perunggu, yang merupakan “lonceng”, yang didatangkan dari Kamboja. Lonceng itu digunakan untuk memberikan isyarat agar para Biksu-Biksu Budha dapat serentak melakukan kewajibannya beribadat di biaranya masing-masing. Benda itu kini disimpan di Desa Pejeng, Gianyar pada sebuah pura yang bernama “Pura Penataran Sasih”
    Pada zaman pemerintahaan beliau penduduk Pulau Bali merasa aman, damai, dan makmur. Kebudayaan berkembang dengan pesat. Beliau memperbesar dan memperluas Pura Penataran Besakih, yang ketika itu bentuknya masih amat sederhana. Keindahan dan kemegahan Pura Besakih hingga sekarang tetap dikagumi oleh dunia.
    Shri Kesari Warmadewa merupakan tokoh sejarah, ini bisa dibuktikan dari beberapa prasasti yang beliau tinggalkan seperti Prasasti Blanjong di Sanur, Prasasti Panempahan di Tampaksiring dan Prasasti Malatgede yang ketiga-tiganya ditulis pada bagian paro bulan gelap Phalguna 835 S atau bulan Februari 913. Shri Kesari Warmadewa menyatakan dirinya raja Adhipati yang berarti dia merupakan penguasa di Bali mewakili kekuasaan kerajaan lain yaitu Sriwijaya. Kemungkinan beliau adalah keturunan dari Balaputradewa, hal ini berdasarkan kesamaan cara penulisan prasasti , kesamaan dalam menganut agama Budha Mahayana dan kesamaan nama dinasti Warmadewa.
    Raja-raja Dinasti Warmadewa Di Bali
    1. 882M – 914M Shri Kesari Warmadewa
    2. 915M – 942M Shri Ugrasena
    • Setelah pemerintahan Sri Kesari Warmadewa berakhir, tersebutlah seorang raja bernama Sri Ugrasena memerintah di Bali. Walaupun Baginda raja tidak memepergunakan gelar Warmadewa sebagai gelar keturunan, dapatlah dipastikan, bahwa baginda adalah putra Sri Kesari Warmadewa. Hal itu tersebut di dalam prasasti-prasasti (aantara lain Prasasti Srokadan) yang dibuat pada waktu beliau memerintah yakni dari tahun 915 s/d 942, dengan pusat pemerintahan masih tetap di Singha-Mandawa yang terletak di sekitar desa Besakih. Prasasti-Prasasti itu kini disimpan di Desa Babahan, Sembiran, Pengotan, Batunya (dekat Danau Beratan), Dausa, Serai (Kintamani), dan Desa Gobleg.
    3. 943M – 961M Shri Tabanendra Warmadewa
    • Baginda raja Sri Tabanendra Warmadewa yang berkuasa di Bali adalah raja yang ke tiga dari keturunan Sri Kesari Warmadewa. Baginda adalah putra Sri Ugrasena, yang mewarisi kerajaan Singhamandawa. Istri Baginda berasal dari Jawa, adalah seorang putri dari Baginda Raja Mpu Sendok yang menguasai Jawa Timur. Di dalam prasasti yang kini tersimpan di Desa Manikliyu (Kintamani), selain menyebut nama Baginda Sri Tabanendra Warmadewa, dicantumkan pula nama Baginda Putri. Beliau memerintah dari tahun 943 s/d 961.
    4. 961M – 975M Shri Candrabhaya Singha Warmadewa
    5. 975M – 983M Shri Janasadhu Warmadewa
    6. 983M – 989M Shri Maharaja Sriwijaya Mahadewi
    7. 989M – 1011M Shri Udayana Warmadewa (Dharmodayana Warmadewa)- Gunaprya Dharmapatni
    • Shri Udayana Warmadewa, menurunkan tiga putra:
    o 1. Airlangga
    o 2. Marakata
    o 3. Anak Wungsu
    8. 1011M – 1022M Shri Adnyadewi / Dharmawangsa Wardhana
    9. 1022M – 1025M Shri Dharmawangsa Wardhana Marakatapangkaja
    10. 1049M – 1077M Anak Wungsu
    11. 1079M – 1088M Shri Walaprabu
    12. 1088M – 1098M Shri Sakalendukirana
    13. 1115M – 1119M Shri Suradhipa
    Sumber
    • Buku “Riwayat Pulau Bali Dari Djaman Ke Djaman”, Disusun oleh: I Made Subaga, Gianyar – Bali
    • Sejarah Bali. Nyoka, Penerbit & Toko Buku Ria, Denpasar, 1990.
    • Ardana, I Gusti Gede,[1988], Udayana, Peranannya dalam Sejarah Bali pada Abad X, Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
    • Munoz, Paul Michel[2009], Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia, Penerbit Mitra Abadi, Yogyakarta

    KENAPA WILAYAH SERIWIJAYA HANYA JAWA BARAT SAJA????
    BAHASA SERIWIJAYA (MELAYU RUMPUN PASEMAH) BANYAK YANG TERSISA DI BALI
    SEPERTI ade= ada, juge= juga, au= ya, marge= marga dan semua bahasa bali berujung e.

    • pada saat peristiwa pralaya yang mana kerajaan jawa timur beserta raja dan seluruh keturunannya dan pembesar2nya dibantai habis oleh seriwijaya. hanya air langga seorang yang dibiarkan hidup oleh seriwijaya yang menjadi menantu darmawangsa. karena air langga berasal dari darah seriwijaya. yang kemudian air langga menikah dengan putri seriwijaya pula. yang keturunannya menjadi raja2 kahuripan, jenggala, panjalu, dan menjadi kerajaan kediri, yang salah satu keturunan darah kediri adalah tunggul ametung, keturunan tunggul ametung adalah raja raja singa sari dan raja2 maja pahit. paham kamu suku jawa. kamu suku jawa mau kwalat durhaka dengan orang2 sumatra.
    Reply

    putra sumsel on January 11, 2014 at 9:39 pm said:
    Your comment is awaiting moderation.
    pada saat adityawarman dan gajahmada menaklukkan bali aditya warman tidak mau menyerang bali selatan karena raja rajanya adlah keturunan langsung seriwijaya. gajah mada yang sangat bersemangat menyarang bali selatan.
    aditya warman membunuh raja bali utara yang masih wilayah bali selatan. gajah mada kalah oleh orang bali keturunan seriwijaya. gajah mada mundur stelah aditya warman datang aditya warman langsung menyerang bali tanpa sepengetahuan gajah mada. karena sama2 berdarah seriwijaya dengan aditya warman raja bali itu mengakui aditya warman dan diajak kemaja pahit oleh aditya warman. pada saat dibali itu gajah mada sudah kehilangan muka. dan benih2 permusuhan aditya warman denagan gajah mada semakin meruncing.
    karena aditya warman mencurigai kematian jaya negara raja maja pahit kedua yang merupakan sepupu aditya warman ( anak bibi aditya warman) adalah konspirasi gajah mada dan tribuwana tunggadewi. atas ini pula adityawarman kemudian melawan majapahit.
    yang membunuh jaya negara adalah ratanca atas perintah gajah mada. buktinya gajah mada langsung membunuh ratanca tanpa diadili terlebih dahulu untuk menghilangkan jejak.
    paham kamu suku jawa

    Ya sekarang orang Jawa bisa bangga karena jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Tetapi jangan lupa Jawa secara wilayah adalah minoritas, hanya 3 propensi (Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur), Jawa Barat bukan lagi suku Jawa tetapi Sunda, Banten, Betawi. Dan Madura bukan lagi suku Jawa tetapi suku Madura. Bandingkan dengan 33 propensi di Indonesia. Dan Indonesia terbentuk karena persamaan nasib dan harkat martabat sebagai bangsa yang dijajah oleh Belanda, sebagai masyarakat kelas 3/bumiputra/kelas paling bawah sebagai bangsa yang tertindas. Atas persamaan nasib itulah Indonesia bersatu dan merdeka.
    Indonesia ini bukan Jawa, rakyat dari sabang sampai merauke mempunyai hak kewajiban yang sama atas Indonesia. Kamu orang suku Jawa jangan pernah berpikir presiden harus suku Jawa. Buang jauh-jauh pikiran itu sebab kalau tidak bubar Indonesia.

    Timor Leste/Timor Timur mereka sebenarnya bukan menbenci Indonesia, mereka tau kalau mereka adalah bangsa Indonesia dan mereka sebenarnya sangat mencintai Indonesia. Tetapi orang2 Timor Leste sebenarnya sangat membeci dan muak dengan suku Jawa. Begitu juga Papua, Maluku/RMS, Sulawesi/Permesta, Aceh/GAM, PRRI, mereka semua sangat mencintai Indonesia. Tetapi mereka semua sangat membenci dan sangat muak dengan suku Jawa. Begitu juga Malaysia dan Singapura tau mereka darimana asal mereka. Mereka sangat menghormati Indonesia terlebih Palembang, Minangkabaw, Bugis, Aceh. Tetapi mereka sangat muak dan jijik dengan suku Jawa. Semua orang benci dengan Jawa bukan karena iri atau benci dengan orangnya, tetapi semua orang benci dengan suku Jawa karena sipatnya yang sangat licik, culas rakus, gila kekuasaan, merasa paling berkuasa, tukang pitnah, tukang adu domba, tukang berzina dengan istri majikan seperti Ken Arok, tukang MELET perempuan, tukang santet, tukang dukunin orang, itulah sipat watak dan kelakuan suku Jawa.

    Menulis sejarah jangan lagi asal tulis saja semau mau pengarang saja. Sekarang orang cerdas semua dan berpikiran kritis semua. Dan akan di buktikan orang betul. Gak akan orang enggiih- enggih aja, Nanti dulu teliti dulu buktikan dulu
    Kitab negarakertagama Majapahit menguasai asia tenggara adalah suatu fitnah yang terbesar terhadap nusantara dan asia tenggara yang dilakukan oleh mpu prapanca dan gajah mada dan suku jawa.

    KALAU ORANG JAWA MENYEBAR DIMANA MANA BUKAN KARENA MAJAPAHIT TELAH MENAKLUKANNYA. SEPERTI DI MALAYSIA BANYAK SUKU JAWA BUKAN BERARTI MALAYSIA ITU DITAKLUKKAN OLEH MAJAPAHIT GAK ADA PRASASTI MAJAPAHIT DI MALAYSIA. BEGITU JUGA ORANG JAWA BANYAK DI PAPUA PHILIPINA, ALIRAN SILAT KALI MAJAPAHIT PHILIPINA ITU BUKAN BERARTI PHILIPINA ITU TELAH DITAKLUKAN MAJAPAHIT OLEH GAJAH MADA SEBAB TIDAK ADA PRASASTI GAJAH MADA ATAU MAJAPAHIT DI PHILIPINA. ALIRAN SILAT KALI MAJAPAHIT ITU ADALAH SILAT YANG BERASAL DARI JAWA YANG DIBAWA KE PHILIPINA BUKAN PADA ZAMAN MAJAPAHIT. SEPERTI ALIRAN2 SILAT LAIN DIMANAPUN TEMPATNYA TETAP MEMBAWA ASALNYA DARIMANA SEPERTI WUSHU DISELURUH DUNIA TETAP WUSHU, BEGITU JUGA TAKWONDO, KUNTAU KUNGFU WINGCUN. ADA DIMANA-MANA BUKAN BERARTI TEMPAT ITU TELAH DITAKLUKAN OLEH CINA/KOREA.
    BEGITU JUGA ORANG JAWA ADA DI SURINAME. BUKAN BERARTI SURINAME TELAH DITAKLUKKAN MAJAPAHIT/GAJAH MADA. ORANG JAWA DISITU ADALAH BUDAK YANG DIPAKSA OLEH BELANDA. SAMPAI SEKARANG SURINAME ITU MASIH JAJAHAN BELANDA.

  8. tengah
    Januari 24, 2014

    Bener loe Putra sumsel WONG Kito? Ato ngaku2? mau pilpres ato mengkaji sejarah? Kalo orang bugis yg berkeliaran di nusantara ampe jadi bala tentara kerajaan thailand, bisa jadi pertimbangan, karena mereka lebih maritim drpd anda. Apa benar basa cirebon ada dipake kesultanan palembang? Ada pengaruh pangeran sabrang lo? Apa mslahnya dgn jawa?

  9. tengah
    Januari 24, 2014

    Kok di gebyah uyah, emang apa definisi suku jawa? Ras murni genetik?

  10. tengah
    Januari 24, 2014

    Maksud e sing nulis iku, wong kraton iku uga salah satu unsur dari sekian banyak unsur.

  11. Pandu Rakyat
    Maret 3, 2014

    Kita seharusnya melihat sejarah bukan untuk membanggakan kemasyuran masing2 sehingga menimbulkan chauvinisme kesukuan yang menganggap tinggi atau rendahnya drajat suku tertentu, toh ujung2nya anak cucu adam, seperti tulisan diatas itu jangan kita kembali jatuh ke lubang yang sama selama 350tahun, sesama saudara sebangsa berantem pepesan kosong sudah jadi pepes belanda masuk,jangan jadi bangsa sontoloyo! sejarah kelam itu kita harus akui bahwa itu kesalahan leluhur kita yang mau diadu domba,kita yang lahir sekarang ini jangan ulangi lagi kesalahan leluhur kita. bagi yang ngotot biarkanlah ntar juga keram otot kalau terus otot2an :) Jangan pakai ktp Indonesia kalau tetep ngotot sana aja buat negara sendiri tapi hadapi dulu KOMANDO kami!

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh Bhatara Simatupang September 17, 2014
    Mmng kalo kita brbicara sejarah Bangsa Batak baik tokoh maupun adat selalu trbentur dgn Agama. Dr literatur sejarah yg saya baca karangan Lance Castle - Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera ; TAPANULI, d situ d singgung ttng ajaran dan agama yg d jalankan SM RAJA XII agama "PARMALIM" tp coba kita telaah dari segi dan turunan Bahasa dari […]
    Bhatara Simatupang
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh Borpati September 17, 2014
    Benar adanya dan saya sependapat bahwa Sisingamangaraja tidak menganut agama mana pun (tidak: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha). Tidak juga agama atau kepercayaan PARMALIM. Perlu dicatat bahwa Istilah "agama/Kepercayaan PARMALIM" baru muncul pasca Sisingamangaraja XII, bersendikan ajaran BATAK asli dan kepercayaan Batak Asli yang dijalankan o […]
    Borpati
  • Komentar di Syarif Hidayatullah; Sunan Gunung Jati oleh Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten September 17, 2014
    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain semoga tuhan mempercepat kebangkitan kaum Muslim, memulihkan kejayaan kaum Muslim, melindungi kaum Muslim dari kesesatan – terutama kemurtadan, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat (khususnya Syarif Hidayatullah) – terutama mempertemukan kita di surga dengan […]
    Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten
  • Komentar di Raden Fatah alias Al-Fatah; Sang Pemimpin Muda oleh Raden Fadzly September 17, 2014
    saya adalah salah seorang keturunan Raden yg hidup di Pulau Pinang Malaysia... Terima kasih kerana berkongsi.... apa yang saya ingin tekankan adalah Moyang Raden Fatah memperjuangkan agama Islam dengan kuat pada usia beliau... Islam begitu gemilang ketika itu...
    Raden Fadzly

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: