Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Bung muda yang menggugat ….

Khalayak awam setidaknya pernah membaca ada empat “Bung” dalam buku sejarah. Yakni, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Dalam suasana perang, bung menemukan wataknya yang revolusioner sehingga digunakan sebagai sapaan kebanggaan di antara para pejuang. Tak mengherankan bila bung yang melekat pada nama para pejuang itu diingat pula sebagai sebutan bagi pahlawan, seperti terpantul dari sajak Chairil Anwar, Krawang-Bekasi. Petikan lariknya: Kenang, kenanglah kami/ Teruskan, teruskan jiwa kami/ Menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Sjahrir. Nama Bung Tomo tak disebut dalam sajak itu, tetapi jelas setidaknya ada empat bung yang dikenal luas dalam sejarah kita.

Foto ini legendaris, selalu muncul di setiap publikasi 10 November, menjadi ilustrasi buku sejarah jika mengulas perang 10 November. Siapa pemotretnya dan bagaimana situasi yang melatarbelakanginya?

Di foto itu Bung Tomo yang ceking terlihat gagah berpidato. Berseragam militer, tangan kanannya menunjuk ke atas. Kumisnya tipis, matanya tajam. Kepalanya dinaungi payung bergaris-garis dan corong bundar menghadang mulutnya.

Namun siapa sangka, foto itu sebenarnya bukan diambil saat perang 10 November 1945, tetapi beberapa tahun setelahnya. Istri Bung Tomo, Sulistina, mengakui foto itu tidak dijepret di Surabaya. “Itu yang motret IPPHOS, di lapangan Mojokerto. Waktu itu Bapak sedang berpidato. Nggak dibuat-buat, kok,” tanya ujar Sulistina. Putra kedua Bung Tomo, Bambang Sulistomo, membenarkan ayahnya tidak sempat diabadikan pada perang 10 November karena perannya yang penting sehingga posisinya selalu dirahasiakan. (ref)

Berkenaan dengan foto diatas Hario Kecik dalam bukunya “Pemikiran Militer 2″ menuliskan : “Perlu saya katakan bahwa foto Sutomo sedang berpidato dengan jari telunjuk diangkat ke atas itu kelihatannya ganjil jika digunakan untuk propaganda pada waktu memimpin revolusi di Surabaya. Keganjilan dari foto itu ada dua : Pertama, semua pemuda yang ber-revolusi di Surabaya pada bulan September, Oktober, November potongan rambutnya tidak ada yang gondrong seperti yang nampak di foto itu terlebih lagi jika ia baru ikut bekerja di Sendenbu Jepang. Tidak mungkin seseorang dengan rambut gondrong bekerja di kantor Jepang itu. Kedua, latar belakang foto itu adalah “payung besar” yang biasanya ada di teras sebuah hotel atau dekat kolam renang. Jadi, foto Sutomo itu tidak mungkin diambil di Surabaya pada tahun 1945. Paling tidak, satu tahun sesudah berada di luar kota Surabaya sewaktu ia mundur dari Surabaya”.

Faktanya, selama periode terakhir 1945, ketika perang Surabaya berkecamuk, ternyata tidak ada satupun surat kabar yang memuat foto Bung Tomo berpayung ini. Foto itu pertama kali muncul dalam majalah dwi bahasa, Mandarin dan Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947. Ada foto Bung Tomo dengan pose dahsyat ini. Dijelaskan dalam keterangan foto itu bahwa Bung Tomo sedang berpidato di lapangan Mojokerto dalam rangka mengumpulkan pakaian untuk korban Perang Surabaya. Saat itu masih banyak warga Surabaya yang bertahan di pengungsian di Mojokerto dan jatuh miskin. Sementara Surabaya sedang diduduki Belanda. Sulistina hanya mengenal nama Mendur, wartawan foto IPPHOS yang mengambil gambar ‘Bapak’.

Siapa Bung Tomo ?

Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo melewati masa kecil hingga dewasa di Surabaya. Arek Suroboyo asli. Tapi, nama masyhurnya bukan Cak Tomo, melainkan Bung Tomo.  Pada masa remaja Sutomo aktif sebagai  anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) Lulus Ujian Pandu Kelas I (yang pertama di Jawa Timur dan kedua untuk seluruh Indonesia), di Indonesia waktu itu hanya ada tiga pandu kelas satu. Di usia 17 tahun Sutomo sudah dipercaya menjadi Sekretaris Parindra ranting anak cabang di tembok duku, Surabaya sekitar tabun 1937 dan menjadi wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya. Setahun kemudian ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat dan menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939.

Pada masa pendudukan Jepang, Sutomo berkerja sebagai Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang). Selanjutnya beliau dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945. (ref)

Ketika meletus pertempuran di Surabaya 10 November 1945, Bung Tomo (saat itu usianya 25 tahun) tampil sebagai pendekar pidato di depan corong radio, membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan tentara Inggris dan Nica-Belanda. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”, berikut petikan pidato Bung Tomo :

Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara….
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini.
Maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian.

Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara….
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara….
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!
(Transkrip pidato Bung Tomo dalam Gerakan 10 Nov 1945 Bagian 1)

Ada yang menarik dari tulisan Hario Kecik atau Soehario K Padmodiwirio Kolonel TKR sebagai Wakil Komandan Polisi TKR dalam revolusi Surabaya 8 Oktober 1945 dalam Memoar Hario Kecik I dan dalam buku “Pemikiran Militer 2″. Hario Kecik menulis :

Dengan ini saya juga ingin menegaskan bahwa Sutomo (kemudian dikenal dengan sebutan Bung Tomo) bersama Mohammad bekas Daidanco beragitasi supaya penduduk kampong tidak merebut senjata, juga dalam benaknya tidak mempunyai Pemikiran Militer tertentu, mengingat ia juga adalah pegawai propaganda militer Jepang Sendenbu. Bahwa kemudian ia berteriakteriak paling keras di radio memang betul. Tetapi Sutomo melakukan hal ini setelah rakyat bergerak dan selesai menyerbu markas-markas Jepang termasuk yang terakhir Markas Besar Kempei Tai pada tanggal  1 oktober 1945. Perlu diketahui bahwa Sutomo leluasa berteriakteriak melalui radio itu sebenarnya adalah jasa kelompok Sukirman dari RRI yang berhasil merebut dan mempertahankan pemancar itu dari petugas RAPWI yang ingin menguasai bersama dengan orang Belanda NICA dan petugas Jepang. Tanpa bantuan Sukirman, radio pemberontakan Sutomo mustahil berhasil. Jika kita perhatikan timingnya, Sutomo mulai berteriak-teriak setelah rakyat Surabaya bergerak berrevolusi. Rakyat bergerak bukan karena Sutomo berteriak-teriak. Buktinya, pada Rapat Raksasa di Pasar Turi dan kemudian di Tambaksari, Sutomo bukan termasuk pemuda yang beragitasi karena pada waktu itu Kempei Tai belum diserbu rakyat yang bersenjata. Yang beragitasi di Rapat raksasa Tambaksari antara lain Wahab (kemudian dinamakan Wahab deglok karena tertembak pahanya) yang mengatakan bahwa ia siap menjadi “bom berjiwa” (bom bunuh diri) dan Soemarsono (dari PRI  – Pemuda Rakyat Indonesia) yang mengatakan bahwa Surabaya akan dijadikan abatoar untuk membunuh tentara Inggris dan tentara Belanda. Lain-lain pemuda dan ada juga pemudi  yang bicara tetapi tidak nampak Sutomo diisitu.

Sedikit berbeda dengan apa yang ditulis oleh Rosihan Anwar dalam tulisannya di Suara Pembaharuan tentang Bung Tomo ; Surabaya Bersiap :

Dalam buku Dr Bussemaker, saya membaca kegiatan Bung Tomo. Secara kronologis dimulai dengan “insiden bendera” di Oranje Hotel di Tunjungan Surabaya. Tanggal 19 September pihak Belanda yang datang bersama tim RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) sehari sebelumnya mengibarkan bendera Rood-Wit-Blauw. Rakyat berkerumun menyatakan amarahnya. Bung Tomo berdiri di mobil berpidato di depan massa. Akibatnya, massa menyerbu bendera Belanda itu dan diturunkan. Bagian birunya disobek, tinggal bagian merah dan putih, lalu dikibarkan kembali. Orang-orang Belanda yang berada di Gedung Palang Merah Internasional dekat Oranye Hotel bereaksi. Timbul perkelahian antara Belanda dan pemuda. Itulah yang disebut vlagincident te Surabaya.

Setelah insiden tersebut, sebagian pemuda di bawah pimpinan Sumarsono mendirikan PRI (Pemuda Republik Indonesia). Pada 23 September Bung Tomo mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Selanjutnya bisa di baca di “Masa Bersiap”

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo pernah aktif dalam politik pada tahun 1950-an. Namun pada awal tahun 1970-an, ia berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara keras terhadap program-program Presiden Soeharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah selama setahun karena kritik-kritiknya yang keras.

Pada tanggal 7 Oktober 1981, Sutomo meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke Indonesia dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.

Sampai akhir hayatnya … Bung Muda ini selalu tampil untuk menggugat .. dan kini pesan “Bung Muda” menginspirasi para arek Suroboyo untuk menyampaikan pesan kepada seluruh Bung Muda di Indonesia sebagai ” Pesan Bung Tomo untuk Suporter Indonesia transkripnya bisa dibaca disini.

Referensi

  1. Pemikiran Militer 2 Sepanjang Masa Bangsa Indonesia, Hario Kecik, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2009.
  2. http://syadiashare.com/sejarah-bung-tomo.html
  3. http://archive.kaskus.us/thread/2591386
  4. http://nusantaranews.wordpress.com/2009/11/10/pidato-bung-tomo-10-nov-45-mp3-dan-refleksi-hari-pahlawan/
  5. http://serbasejarah.wordpress.com/2011/02/19/masa-bersiap/
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Sutomo
  7. http://www.antaranews.com/berita/1282480917/masih-adakah-semangat-bung-tomo-saat-ini
About these ads

16 comments on “Bung muda yang menggugat ….

  1. Ibu Seina
    Maret 4, 2011

    Halo arek-arek. Sebuah himbauan menyejukkan. Kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia bbelum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel.
    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Tifatul itu tidak berguna. Negara mau dikemanakan?

    • seorang manusia yg tak mewakili siapa2
      Maret 5, 2011

      kadang …. lebih baik, kalo tidak mengetahui hakikat perjalanan ‘sejarah’, apalagi karena (sejarah) tidak selalu hidup berdampingan dengan umur kita masing2 atau tidak selalu berada dalam dimensi ruang yg sama dengan kehidupan kita saja, tapi berpendapat dengan kapasitas ilmu dan selera kenyamanan masing2 itu tidak dilarang. semuanya impor, termasuk ahmadiyah. solusinya ttg yg namanya kekerasan apapun hanyalah keadilan distribusi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. sekarang apa bedanya kekerasan yg dilakukan oleh pemerintah libya terhadap rakyatnya sendiri dibandingkan dgn usa dan nato yg melakukan invasi dan kekerasan atas nama demokrasi ke negara irak dan afghanistan tanpa mandat pbb, yg lebih banyak membunuh jutaan rakyat sipil dan menimbulkan kekacauan berbagai bidang secara global?

  2. seorang manusia yg tak mewakili siapa2
    Maret 5, 2011

    bu, ujung2nya kok bawa2 nama parpol dan menteri?hehehehe btw minta ijin reshuffle ke kopral cepot nih?

  3. Ibu Karmila
    Maret 10, 2011

    Atika Sunarya dan TV ONE adalah wartawan dan media televisi tolol dan dan bodoh dan harusnya diadili di PN pagi ini karena telah melakukan trial by the press. Atika Sunarya di TV ONE mengatakan bahwa Abu Bakar Ba’asyir “terlibat” aktivitas terorisme dan pendanaan terorisisme di Aceh. Atika Sunarya dan TV ONE tidak mengatakan “diduga/dituduh” terlibat …. Harusnya Atika Sunarya dan TV ONE yang diadlidi di PN.
    Tak ada wartawan dan media di dunia ini yang berani melakukan trial by the press kecuali Atika Sunaray dan TV ONE. Bagaimana mereka tahu Abu Bakar Ba’asyir adalah teroris? Bagaimana Atika Sunarya dan TV ONE serampangan dan berani main tuduh dan mendakwa? Inilah sebuah bangsa yang sakit akibat media di negara ini sendiri yang tidak akurat dan terbawa misi pemfitnahan keji terhadap anak bangsa sendiri, tanpa bukti dan hanya berangkat dari opini yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Adalah sembrono dan ketololan TV ONE. Media-media TV Barat yang sangat berani tidak pernah melakukan trial by the press dan selalu mengatakan “diduga” maupun disebut-sebut. Dan bila kita membaca di sebuah sumber penting, misalnya, di Wikipedia saja, tak ada yang berani mengatakan seperti Atika Sunarya dan TV ONE. Wikipedia menulis misalnya bahwa: “Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu dan Abdus Somad (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938; umur 72 tahun), merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Ba’asyir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min. Berbagai badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda.” Abu Bakar Ba’asyir membantah karena dia memang bukan teroris. Dia hanya kiyai biasa, punya pesantren, untuk memberikan ilmu agama dan mencari nafkah keluarga dan saudara-saudaranya. Kami adalah wartawan-wartawan investigatif. TV ONE adalah sebuah penyebar kebohongan. Kita harus hati-hati dengan media-media buruk total seperti ini. Atika Sunarya dan TV ONE ternyata adalah wartawan pelanggar kode etik jurnalistik (universal) yang berlaku di seluruh dunia. Negara ini makin hancur karena ulah media-media lokal seperti ini.

    • biasa dari jadul
      Maret 12, 2011

      itu mah biasa, kayak metro tv,persis, media publik katenye sih. hanya penuhi keinginan ‘pengiklan’, napsu kepentingan individu dan golongan, biasa papan dandang sory sandang dan pangan telah terpenuhi yg kaya gitu mah perlu pemenuhan kebutuhan untuk ;berekspresi’ dan ‘berprestasi’,ujungnya juga sama pencitraan dan media provokatif penggedor2 pikiran positif dan putar balikkan fakta ga berisi solusi, tapi ajang ‘adu pintar omong di hadapan rakyat’, kebutuhan pengen ditonton rakyat dan pengen credit poin, satu jaringan lah, tv one kali sepupu the mpok aka fox ya? tapi memang aneh baca komen berita ttg pks,katanya kalo effendi choirie dan lily wahid diPUJA2, pks kok dihujat, dialetika kepentingan golongan “PEMBELA DEMOKRASI”,wuakkakakakak, aneh juga ya dirigen nya?

  4. biasa dari jadul
    Maret 12, 2011

    negeri yg aneh, kok takut pks sich? ADA APA DENGAN SAMPEYAN-SAMPEYAN INI? wueheheheheh

  5. biasa dari jadul
    Maret 12, 2011

    jabatan menkom info strategis, hmmm,ono opo iki?kok ke jeneng e wong tertentu? opo kepentingan ne?

  6. biasa dari jadul
    Maret 12, 2011

    hmmmmmm

  7. xavier
    Maret 28, 2011

    ini sejarah, ini kebenaran (Victor Navorski, The Terminal)

  8. Ibu Saifuddin
    April 2, 2011

    Yok opo Rek. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas. Nek mengkene yok opo Rek.

  9. Elma Hutabarat
    April 9, 2011

    Yok opo Rek. Oh Republik Indonesiaku. Ketika pesawat-pesawat tempur Republik Indonesia yang dibayar angsur itu terbang, perasaanku sempat merinding dan sempat yakin Indonesia masih ada. Konon pesawat-pesawat itu tak bisa terbang karena terbatasnya anggaran. Sedih. Kalau saja sumber-sumber alam Indonesia dikelola lebih menguntungkan Indonesia seperti negara-negara Amerika Latinnya Evo Morales, Hugo Chaves atau Kubanya Fidel Castro, kalau saja negeri ini dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang peduli rakyat negara dan bangsa seperti negara-negara tersebut yang tidak mau dibohongi negara lain, lebih suka berdikari dan sumber alam penting digunakan sebesarnya kemakmuran rakyat, korupsi teri dan kakap diberantas benar, jenderal-jenderal polisi dan tentara semuanya dan anggota-anggota DPR yang ikut bermain sandiwara dan pengkhianat rakyat memang benar-benar sayang rakyat dan negara, mau memberi contoh hidup sederhana dan anti korupsi dan memberantas korupsi benar-benar, bukan pura-pura, atau pencitraan, tapi hidup sederhana sesederhana rakyat yang dibuat miskin, dalam merdeka lama, aku yakin Indonesia akan hebat seperti cita-cita Sukarno dan menjadi seperti negara-negara lain tersebut. Tapi mengapa negeri ini dibuat begini? Ketika aku ingat kenyataan Indonesia saat ini, bukan seperti yang dicita-citakan Sukarno, sekajap pun hilang kebanggaanku melihat pesawat-pesawat tempur itu terbang. Hilang pula perasaanku yang tadi sempat merinding dan sempat yakin Republik Indonesia masih ada. Yok opo Rek.

  10. Garniyah
    April 15, 2011

    Yok opo Rek….Rek…. Aduh, uang sebanyak itu diberikan ke perompak Somalia? Senang dong. Itu kan uang rakyat? Kenapa tidak dikirim saja Kopasus? Inilah kalau negara dipimpin pemimpin tidak berani. Alasannya macam-macam, takut awak kapal meti kek, tokek kek. Habis dong uang rakyat.

    Kalau bom itu, biasa, mengalihan isu juga. Itu agar perhatian masyarakat tidak pada isu pembangunan Gedung Mewah DPR dan tidak ke isu pembahasan dan peradilan skandal Bank Century. Enggak ada hubungannya dengan teoris. Umar Patek dll juga enggak ada. Dibilang TV ONE bahwa Umar Patek ditangkap di Pakistan, itu bohong. Kita memantau TV-TV internasional, enggak ada berita penangkapan itu apalagi berita orang nama Umar Patek, ada-ada saja negeri kita ini. Itu semua tokoh-tokoh rekayasa, yang diciptakan polisi, untuk membodohi publik Indonesia yang bodoh. TV-TV Indonesia membebek polisi. Coba pikirkan. Kita semua tahu itu semua dari versi dan pihak polisi. Tokoh-tokoh perwayangan ala polisi. Itu rekayasa isu juga. Pakai dong otak kita dan logika sehat kita. Allah Maha Mengetahui, rekayasa-rekayasa polisi itu dan pemerintahan SBY.

    Kita orang-orang PKS, kita orang-orang PAN, bahkan saudara-saudara kita orang-orang PDIP, orang-orang Gerindra dan orang-orang Hanura, semuanya tahu permainan PD dan Golkar ini.

  11. Shinta Wijaya
    Mei 22, 2011

    SBY BISA DIKENANG SEPERTI SUHARTO KALAU MAU

    Sejarah yang mana Rek? Sejarah selalu diciptakan, diatur, direkayasa, oleh rezim yang menang dan berkuasa dalam sebuah gerakan damai mauun revolusi serta anti revolusi di negara bersangkutan dan sejarah tidak selalu teruang seperti pepatah, kecuali oleh gerakan rakyat dan kaum intelektual negara itu hendak merubahnya.

    Sementara SBY sebetulnya bisa dikenang seperti Suharto kalau mau. Bukan untuk jahatnya tetapi untuk ketegasan, kejelasan dan cintanya kepada rakyat dengan segudang bukti nyata: Tersedianya pekerjaan yang banyak, harga pangan, sandang dan papan yang murah, serta keamanan yang mantap dimana-mana di semua daerah di Indonesia untuk rakyat pada khususnya serta untuk wisatawan dalam negeri dan wisman pada umumnya.

    Banyak pengamat di negeri kami ini boleh saja berkata semua kehancuran saat ini adalah akibat Soeharto. Tidak benar. Soeharto tetap lebih cinta kepada rakyatnya. Sekolah-sekolah Impres dibangun masip dan di semua desa di seluruh Indonesia Soeharto membangun berbagai irigasi mulai dari primer, sekudner hingga tersier lengkap dengan pintu-pintu irigasi sangat baik. Lalu di mana kebaikan ataupun prestasi SBY? Memberantas korupsi dengan penuh wacana dan tebang pilih itulah prestasi nyata SBY.
    Susilo Bambang Yudhoyono, SBY, akan dikenang seperti Soeharto yang dulu menciptakan semua kebaikan tersebut, jika SBY mau. Caranya tentu presiden itu harus menjalankan yang telah dia janjikan dan pidatokan selama ini, bukan hanya berwacana. Sampai saat ini, “presiden rakyat” hanyalah dan tetaplah Soeharto belum ada yang lain.

    Sampai saat ini SBY terbuai wacananya sendiri yang sering diucapkan dalam banyak pidatonya. Orang-orang berkata bahwa SBY tak lebih hanyalah tong kosong nyaring bunyinya. SBY sering menyatakan dia bertekad akan memberantas korupsi tetapi SBY tidak menciptakan sistem yang menunjang upaya tersebut. Seperti kita dengar tiada hari-hari tanpa SBY berjanji misalnya ingin meningkatkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tetapi bagaimana caranya dan seperti apa tidak jelas. Sesungguhnya, korupsi dan pelanggaran HAM sama sekali bukan buah simalakama, sebab bangsa-bangsa lain, tentu dengan pemimpin yang mengabdi kepada rakyat, buktinya mampu mencegah dan memberantas korupsi. Lihat, negara-negara tetangga itu: Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan bahkan Tiongkok Cina.

    Korupsi di Indonesia sudah seperti kanker berat dan menyebar di seluruh institusi pemerintahan baik di yudikatif, legislatif maupun bahkan di tempat dia sendiri, eksekutif. Hampir setiap pegawai negeri, polisi dan militer korupsi karena mereka tidak mau hidup biasa. Mereka selalu hidup berlebihan atau mewah. Hampir semua pegawai tersebut berlomba menunjukkan prestasi berkorupsi mereka tanpa malu di depan sesama warga negara Indonesia, bahkan di depan tetangga rumah mereka, di hadapan istri dan anak-anak mereka. Mereka dimabuk harta dan ikut hura-hura seperti ayah dan ibu mereka yang koruptor, menikmati uang hasil mencuri uang rakyat atau hasil KKN dari menjarah uang rakyat juga. Rumah-rumah mereka mewah-mewah dan mobil-mobil mereka mahal-mahal dan luks, tentu hasil korupsi, hasil mencuri uang negara, SBY membiarkan. Anak-anak tak berdosa itu seakan-akan diajari langsung di depan mata mereka: “Nak ini lho cara ayahmu, ibumu, dapat uang, mudah sekali.”

    Itu harusnya dicegah pemerintahan SBY yang katanya reformis. Tetapi presiden itu tidak mampu mencegah dan hanya pura-pura mencegah, penuh wacana dan gerak-gerik tangannya yang sangat mempesona di layer televisi. Berbeda dengan SBY, Soeharto dalam hal ini pemberani dan disegani sehingga tidak ada orang-orang bukan dekatnya yang berani berkorupsi terlalu. Soeharto benar-benar mendindak lanjuti setiap laporan masyarakat melalui kotak pos pemerintahannya. Soeharto tidak bohong. Gubernur, bupati dan camat dipecat bila ada laporan masyarakat.

    SBY tidak membangun sistem itu, dan membiarkan sistem itu hilang atas nama otonomi. Sementara, SBY juga penakut dan hanya senang berbicara, berwacana dalam janji-janji, dan tindakannya tidak konkrit. Maka SBY tidak dihiraukan, karena dia hanya bicara dan tidak berbuat konkrit memecat setiap orang dalam pemerintahnya yang menghalangi kebijakan upaya antikorupsinya. Rakyat tidak melihat SBY serius kecuali berwacana untuk sekadar pencitraan. Inilah ketidak jelasan berbahaya yang SBY buat dan pasti akan memukul dirinya sendiri mengejutkan yakni kekalahan partainya Partai Demokrat pada 2014 nanti.

    Dalam pemerintahnya lebih parah lagi, banyak oknum pegawai negeri, kepolisian dan militer kian menggalakkan korupsi berjamaah mereka. Uang negara sangat banyak itu dicuri oknum-oknum koruptor itu dengan macam-macam alasan: Untuk proyek pembangunan, proyek pengentasan kemiskinan, proyek pemberdayaan dan sebagainya. Semua tak jelas dan tidak berjangka panjang, tidak memeratakan apalagi adil, banyak indipidu-indipidu tidak mendapatkan.

    Berbagai dana disunat berkelanjutan oleh mereka yang ada di posisi tinggi dan menengah untuk proyek bernilai kecil dan besar, SBY tidak mengawasi seperti Soeharto, SBY tidak pernah menyamar turba apalagi mampu menghentikan itu semua. Kini pegawai-pegawai yang semula sudah kaya-kaya menjadi semakin kaya. Rumah atau apartemen mereka ada dimana-mana bahkan di perumahan kelas elit dijaga ketat lalat pun tidak bisa masuk. Mantapnya hasil korupsi berjamaah dalam pemerintahan lunak dan tidak peduli SBY ada gaya.

    Sementara, menjadi semakin masuk jurang dan hanya tinggal menanti masa, ekonomi Indonesia digerakkan hanya oleh sektor hasil pajak, yang pun bocor bukan kepalang. Pemerintahan SBY jika selamat hingga 2014 praktis tidak menjalankan apapun. Tidak ada hasil-hasil industri ekspor yang dibangun dan sektor pariwisata sangat payah dan dikerjakan hanya menjual para pelacuran, kebijakan pariwisata amoral, itu sangat berbeda dengan Singapura maupun Malaysia. Dalam industri ekspor ketenagakerjaan, pemerintahan SBY pun tidak profesional. Menteri-menteri itu tidak melakukan apa-apa. Mereka tidak takut SBY akan memecat mereka jika mereka tidak ada mindset membangun cepat dan tidak melaksanakan tugas dengan nyata.

    Karena tak ada tegas, begitu banyak pegawai golongan rendah pun ikut berkorupsi bersama, dengan apapun mereka bisa melakukan korupsi, antara lain dengan alasan beradaptasi dengan berbagai kenaikan harga barang yang SBY ciptakan dengan kian menghancurkan nilau rupiah sampai saat ini, yang tidak kembali-kembali lagi ke masa Soeharto dahulu. Dengan nilai rupiah saat ini yang sangat rendah selalu terhuyung-huyung seputar Rp10,000 di setiap USD1, Indonesia tak lagi dipandang dua mata oleh bangsa-bangsa lain. Itu juga sebagian karena negara berada dalam pemerintahan yang tidak mampu nyata memberantas korupsi yang sudah tiada kepalang.

    Rakyat itu terseok-seok hidup mereka karena antara lain harus membayar sekolah-sekolah di Indonesia yang tidak gratis dan mahal. Ini sebagian mendorong korupsi pegawai negara dan bisnis pendidikan swasta, pemerintah tidak hadir untuk mensejahterakan rakyatnya. Maka sekolah-sekolah yang katanya gratis itu hanya wacana dan bukan gratis dalam arti sesungguhnya. Dan korupsi betul-betul menjadi kejahatan yang memalukan di Indonesia dan ini tentu saja akan mencoreng muka SBY sendiri.

    Padahal SBY harusnya mampu memberantas dan mencegah korupsi. SBY harusnya menindak memecat siapapun termasuk aparat hukum yang terindikasi korupsi. Dengan memilih hanya orang-orang yang memiliki kejujuran dan integritas tinggi di institusi-institusi penting penegakan hukum, SBY mampu menarik simpati
    rakyat. SBY perlu merubah dirinya sendiri.

    Pemberantasan korupsi harus SBY mulai sejak dini. SBY dapat memerintahkan Mendiknas. Siswa SMU adalah tujuan dari kebijakan ini. Siswa SD dan SMP mudah sebab hanya dengan keteladanan antikorupsi cara sederhana yaitu belajar jujur ketika membeli jajanan koperasi, yaitu dengan menaruh uangnya dan mengambi kembaliannya sendiri ke kotak uang. Namun siswa SMU tidak mudah. Mereka terlanjur melihat nyata orangtua mereka mempratekkan korupsi, Bukti itu nyata: rumah baru, mobil baru itu hasil mencuri atau KKN orangtua mereka. Banyak siswa secara berkelompok secara organisasi di sekolah-sekolah SMU kini sudah pandai berkorupsi, meniru langsung maupun tak langsung para orangtua dan guru mereka.

    Contoh paling nyata adalah menyalahgunakan organisasi sekolah untuk biasanya mengadakan acara-acara yang harusnya gratis bagi sesama siswa dan harusnya tidak mengenakan biaya atau tiket masuk ke acara-acara itu untuk sesama siswa. Saar ini acara-acara apapun itu menjadi ajang latihan korupsi. Acara-acara itu membebani para siswa terutama yang kurang mampu. Banyak siswa mengeluhkan masalah ini.

    Kebanyakan kepala sekolah dan guru tidak menyadari hal tersebut dan seolah membiarkan atau seakan mendorong belajar korupsi dengan cara-cara tersebut. Kelompok siswa itu mencari alasan acara itu tidak diberi dana oleh kepala sekolah sehingga mereka terpaksa mencari dana dengan menarik ongkos atau mengeluarkan tiket. “Sebetulnya kami tak suka cara itu karena kami didorong untuk belajar korupsi,” ujar beberapa siswa yang menyadari akan cara-cara tidak terpuji dan komersil itu.

    SBY harus meminta Mendiknas membuat satu pelajaran wajib antikorupsi guna memutus mata rantai ajaran belajar korupsi dengan pengadaan acara-acara macam-macam sekolah dengan membayar tersebut, yang jelas sebuah cikal bakar aktivitas pengadaan proyek-proyek korup dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara buruk di Indonesia. Dalam hal ini kepemimpinan nasionak akan mewarnai baik buruknya atau gagal suksesnya sebuah negara. SMU harusnya bukan tempat belajar korupsi.

    Sejarah korupsi dimulai sejak pertengahan periode pemerintah Soeharto ketika Indonesia mulai bangkit dari keterpurukan masa-masa periode Soekarno. Ketika puteri=puteranya Soeharto sudah mulai besar, Soeharto mulai longgar memberikan keleluasaan mereka terlibat urusan-urusan ekonomi terkait BUMN-BUMN. Anak-anaknya mulai memanfaatkan dan mulai dimanfaatkan banyak orang. Muncul aktivis-aktivis seperti Abdul Gafur, Akbar Tanjung, Kosmas Batubara. Ada pula tokoh-tokoh serupa seperti Jusuf Kalla, Padel Muhammad dan Aburizal Bakrie. Pemerintah Soeharto melibatkan mereka “membangun” negara dan Soeharto lupa tidak lagi mengawasi ketat. SBY lebih parah karena tidak mengawasi karena ketakutan tanpa dasar.

    Mereka menjadi menteri-menteri dan banyak teman-teman mereka anggota DPR/MPR. Mereka menjadi orang-orang terhormat secara jabatan dan ekonomi dan menjadi pemilik-pemilik bisnis pribadi hasil dugaan korupsi dan KKN yang memanfaatkan posisi mereka masing-masing. Mereka kini menjadi sangat besar dan tidak tersentuh. Hal-hal seperti itu tidak berubah sampai sekarang. Padahal untuk menggulirkan reformasi, SBY harusnya membuang orang-orang lama dan mengambil orang-orang yang betul-betul baru yang bukan kelompok mereka. SBY belum membuat reformasi apa-apa.

    SBY bahkan tidak mampu mencegah sistem lama Orba dan dia menjebakkan diri memberi lampu hijau khususnya pada pengesahan UU “anti subversi” baru itu yang banyak pasal-pasalnya pasti dengan sendirinya dirancang untuk menekan pers dan HAM atas nama keamanan dan memberantas terorisme. SBY terjebak di pelukan orang-orang sisa Orba dan orang-orang baru dalam partai utama yang berusaha mengalahkan partainya. Mereka ditakdirkan licik bagai belut tersebut yang harusnya dia cegah. SBY harusnya mencegahnya sebab SBY sebagai pemimpin tertinggi yang harusnya mengikuti kehendak rakyat bukan kelompok tertentu. SBY sebagai pemimpin tertinggi harusnya mengabdi rakyat untuk menuju negara madani yakni mensejahterakan dan menjunjung tinggi HAM dan demokrasi bukan kembali ke Orba yang menekan rakyat dan pers.

    Ketika SBY tidak mampu mencegah orang-orang itu maka dia telah membuat blunder untuk dirinya. Tantu saja jika SBY lebih memilih kompromi dengan orang-orang belut itu, tentu saja partainya, Partai Demokrat, akan lumpuh beserta tunas reputasinya. Dan jika mulai sekarang SBY tidak cerdas melihat itu, partainya akan menjadi tidak popular lagi apapun upaya-upaya yang ditempuh menuju pemilu 2014. Inilah saatnya SBY melakukan revolusi tindakan nyata dirinya: Tidak terperangkap dalam paraturan UU “anti subversi” anti HAM dan demokrasi.

    Antikorupsi sejak dini dan antikorupsi dengan aksi-aksi nyata akan menjadikan SBY bermakna serta yang terpenting SBY jangan terjebak dalam perangkap pengesahan aturan-aturan ala Orba yaitu terutama UU anti subversi rekayasa itu yang akan digunakan untuk memusuhi rakyat dan pers sendiri.
    Presiden itu tidaklah cukup hanya mengaku dalam setiap pidato dirinya selalu berkomitmen akan memberantas korupsi dan menghargai HAM namun tidak membuktikan. Mengesahkan UU “anti subversi” yang jelas-jelas ditunggangi orang-orang belut akan memperangkap dirinya sendiri. SBY akan dipertanyakan komitmennya pada demokrasi dan HAM terutama oleh Amerika. SBY harus memiliki orang-orang terpercaya yang tak akan mengkhianati dirinya di institusi-institusi utama termasuk di institusi-institusi penegakan hukum dan semua itu semata untuk tujuan memberantas korupsi bukan kemana-mana apalagi meletakkan dasar hukum yang memusuhi dan menekan pers dan HAM. Menjsejahterakan tidak harus dengan UU penekan dan pemberangus hak-hak sipil seperti UU “anti subversi” baru tersebut.

    Kedua, agar rakyat tertarik SBY harus memerintahkan Menteri Pendidikan membuat satu saja mata pelajaran etika baru dan antikorupsi bagi siswa SMU seluruh Indonesia, antara lain, berisi boleh mengadakan acara-acara sekolah dan di luars ekolah namun tidak boleh memungut biaya apapun kepada siswa, serta tentu saja harus mengawasi penggunaan BOS secara ketat. Siswa juga didorong untuk berani besama-sama melapor ke kanwil jika kepala sekolah mendorong acara aktivitas yang tidak dibiayai sekolah, yang menyebabkan terciptanya korupsi seperti itu.

    Sebetulnya korupsi dan pelanggaran HAM sama sekali bukan buah simalakama, itu sangat mudah diberantas. Bangsa-bangsa lain telah membuktikan, melalui pemimpin yang dalam tindakan, bukan hanya dalam omongan, memang mengabdi kepada rakyatnya. Buktinya bangsa-bangsa itu mampu mencegah dan memberantas korupsi. Ketika SBY mampu merubah mindset nya sendiri yang selama ini yang suka berbicara, berwacana, suka membuat pencitraan, lalu SBY mulai melakukan langkah-langkah nyata seperti hal-hal tersebut serta menjalankan GBHN walaupun tanpa GBHN, tentu SBY dan partainya pasti akan sukses. SBY akan dikenang rakyatnya seperti kebaikannya Soeharto kalau mau. Bukan untuk kejahatannya melainkan untuk ketegasana dan cintanya kepada rakyat. Karena presiden rakyat saat ini tetaplah Soeharto belum ada yang lain. ****

  12. Surya Kusumah
    Agustus 11, 2011

    Rek rek yok opo. Ini hebat. Jurus dahsyat Presiden SBY. Presiden SBY dipilih rakyat memang untuk menghantam habis kekuatan-kekuatan lama sisa-sisa Orba serta orang-orang bermentalitas Orba di mana saja termasuk yang ada di DPR , militer dan yang lain, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun; mereka banyak tetap bercokol dan bergentayangan di tempat-tempatnya dan bahkan dalam partai- partai pesaing baik berafiliasi dengan Golkar maupun yang lain.
    Bbukan SBY kalau tak hebat. Pada kasus terbaru yakni kasus Nazaruddin misalanya SBY akan mempergunakan dua jurus. Pertama dihantam dengan hebat anak congkak dan banyak omong itu sehingga lunglai akan selesai dalam proses pengadilan kasus tersebut dan rakyat akhirnya kembali bersimpati dengan SBY dan poling-poling berebut menunjukkan peningkatan kinerja SBY khususnya dalam citra pemberantasan korupsi dan juga dalam waktu yang sama kembali menaikkan citra KPK . Untuk saat ini, ketua umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, tak tersentuh. Anas akan tetap aman dan semakin berwibawa. Akbar Tanjungt tak berhasil membalas 1-1. Anas lagi-lagi tak tersentuh. Nazaruddin akan menjadi pesakitan meringkuk di di penjara.
    SBY pintar dan cerdas pelan-pelan memberangus seluruh kekuatan-kekuatan lama dan baru. Partai-partai kekuatan lama terutama Golkar, PDI-P janganlah berkhayal atau sedikit pun bermimpi akan meraih kemenangan berarti. Partai-partai itu sesungguhnya sudah lama selesai, karena memang tidak mempunyai jago-jago mumpuni seperti yang dipunyai dan digenerasi Partai Demokrat meskipun partai ini kesusupan juga beberapa. Partai-partai lama seperti PDI-P dan PAN serta PKB misalnya hanya menjagokan anak-anak tokoh-tokoh reformasi yakni para orangtua mereka, Amien Rais, Megawati dan almarhum Gus Dur. Sementara anak-anak mereka itu sama sekali tidak mewarisi kecerdikan dan keberanian berpolitik para orangtua mereka khususnya Amien Raid dan Gus Dur meski dari sudut pendidikan formal cukup baik. Megawati, sementara, hanya bekas presiden setingkat ibu rumah tangga dan suaminya hanya numpang kren yang selalu kurang ajar menghina dan mengejek SBy sejak masih menkopolkam. S BY dikatakan kekanak-kanakan.
    Partai-partai baru seperti Partai Nasdem dan Partai Sri hanya bermodal pemikiran dangkat tanpa idealism jelas atau bahkan terkesan oportunis dan sama sekali tidak mempunyai satu pun jaringan baik di dalam maupun luar negeri. Itu adalah perjudian ngawur. Apa yang bias dijual dari seorang Sri Mulyani, bekas mekeu itu. Golkar dan PDI-P juga tidak memiliki jaringan pemerintah asing penentu kemenangan yaitu Amerika dan mereka lebih puas disebut sebagai parta-pratia nasionalis tanpa paham apasaja yang harus diperjuangkan sebagai partai nasionalis sesungguhnya. SBY dan Partai Demokrat menang karena antara lain memiliki jaringan kuat dengan lobi-lobi kuat ke pemerintah Amerika.
    Partai Sri, partai berlambang sapu yang salah yaitu menghadap ke atas itu, harusnya sudah dan mulai menjalin lobi-lobi kuat ke orang-orang Tionghoa, bukankah negeri ini dari ujung ke ujung sudah dikuasai Tionghoa, dan ini dibiarkan pemimpin-pemimpin serta tokoh-tokoh pribumi, yang memang tolol, serta melobi konkrit ke pemerintah Amerika misalnya dengan mampu menunjukkan bukti-bukti bahwa pemerintahan Partai Demokrat memang selama ini tidak benar. Lobi bias melalui email ke institusi-insitusi pemerintah Amerika, ke kedutaan mereka dan banyak jalan. Pertanyaannya apakah partai berlambang sapu menyapu ke atas dan juga partai-partai pesaing lain, memiliki ide dan kemamapuan seperti itu adalah tidak ada sama sekali. Itulah maka PD kian di atas angin dan tak terkalahkan termasuk ketua pembinanya SBY dan ketumnya Anas.
    Ini sebetulnya dan terutama tantangan dan PR partai-partai pesaing PD terutama Golkar dan PDI-P kalau hendak merebut kemenangan pada 2014. Tetapi bagaimana akan mampu merebut kalau menciptakan citra negatif, sebuah permainan politik agar PD tidak diminati lagi saja, tidak mampu. Meskipun Nazaruddin dan kasus-kasus besar lainnya jelas dan nyata sebuah pintu masuk strategis untuk menjatuhkan citra dan kelemahan pemerintahan SBY dan SBY serta partai Demokratnya, tetapi kalau hal yang tinggal menjatuhkan telur dari atas tanduk saja tidak mampu sama sekali, bagaimana mungkin memberikan perlawanan kepada SBY dan Partai Demokrat? Jadi janganlah partai-partai lain bermimpi karena sebetulnya partai-partai pesaing itu terlalu miskin siasat dan terlalu tak ebrkualitas dan mungkin terlalu kecil, tidak lawan dengan Partai Demokrat dan kebesaran SBY. Sementara sekali lagi partai-partai cukup besar dan lama seperti Golkar dan PDI-P sudah selesai sudah aus di mata konsituen dan rakyat.
    Adakah jalan lain mengalahkan SBY dan PD. Sebetulnya Partai Demokrat terutama ketua pembinanya yang kini jadi presiden memiliki banyak kelemahan 1001 kelemahan tetapi juga memiliki sedikit kekuatan lumayan, yakni kepandaiannya membuat pencitraan dengan mulai menggabungkan dengan taktik gaya-gaya Orba yaitu memanfaatkan nilai-nilai agama khususnya Islam dalam setiap kesempatan keagamaan seolah berjuang untuk kaum Muslim dan nilai-nilai keislaman. Padahal itu semua palsu seperti yang selama dulu dilakukan Soeharto, hanya untuk mempertahankan kekuasaannya. SBY lebih jago. Dia lemah lembut dan pandai merebut hati dan simpati serta rasa kasihan dari rakyat. Rakyat-rakyat di kampong-kampung selalu mengatakan kasihan dia orangnya baik. Hebat. Kelemahan SBY adalah keterlaluannya dalam mengalihkan isu-isu akibat kelemahannya tidak mampu mengundang banyak pabrik-pabrik asing sehingga tersedianya banyak lapangan kerja bagi banyak buruh, harga-harga tetap melambung tinggi, took-toko kebutuhan sehari-hari jaringan seperti indomart dan toko-toko jaringan asing lainnya kian banyak yang membunuh usaha-usaha pertokoan rakyat, padahal pemilik jaringan itu secara local adalah mantan-mantan anggota DPR.Tokoh-tokoh Golkar lama adalah pemilik jaringan-jaringan bisnis itu. SBy mampu mengalihkan berbagai isu penting ekonomi dan hokum Indonesia termasuk melalui pemanfaatan maksimal blow up kasus Nazaruddin dan lainnya dengan sangat lihai sehingga 1001 pengamat Indonesia larut dan terjebak terus dalam wacana membahas masalah-masalah itu karena nimat mendapat sedikit amplop ongkos capek dari televise-televisi yang ada, sementara masalah-masalah utama ekonomi dan pembangunan tidak jalan dalam pemerintahan SBY karena SBY sendiri memang dipandang sebelah mata atau tidak diindahkan oleh banyak pemprop. Ini beda dengan Soeharto yang memang jebat dari awal dan menunjukkan kewibawaan sejati. Media yang dimiliki konglomerat Tionghoa hampir semuanya tentu mencari aman dan senang terus membahas hal-hal sensasional seperti kasus Nazaruddin di lain pihak. SBY kian diuntungkan dengan media ful cari untung itu yang tidak memkritisi nyata atau mampu menekan apa-apa saja yang telah dia bangun dan sediakan untuk sebagian besar rakyat. Media-media itu hanya menggosok-gosok untuk mendapatkan iklan-iklan kampanye atau pencitraan dari pemerintah bagian pariwisata atau institusi-insitusi partai berkuasa dan lainnya sembari terus memuat iklna-iklan kiat ngentot dan memperpanjanag itunya lelaki atau mempersempit itunya wanita. Tak ada UU yang melarang iklan-iklan bohong di Indonesia.
    Bahkan pembenahan pokok seperti pemberantasan korupsi dan hukum yang berkeadilan juga tak kunjung serius dibenahi kecuali justru hanya untuk memperbesar citra partai karena tidak ada lawan nekad dan tangguh seperti di luar negeri, tidak ada takyat yang didisain dan dipicu mengamuk seperti di Inggris, Perancis, Yunani dll. Maka SBY hapi hapi saja dan kian nikmat untuk melupakan penciptaan sistem ekonomi yang social, pendidikan dan merata, atau jalan menuju kesejahteraan ala konstitusinya.
    Sesungguhnya jalan satu-satunya mengalahkan Partai Demokrat dan pemerintahan SBY adalah kalau pesaing-pesaingnya memang tak impoten. Meski banyak mantan jenderal di partai-partai pesaing tetapi mereka sudah impoten. Mereka pengecut dan tidak berani merancang dan melaksanakan kerusuhan masif terencana dan terkoordinir dengan pemicu apapun terang maupun rahasia seperti di Negara-negara lain yang mampu mencipta kerusuhan besar seperti juga pada tahun 1998. Hanya dengan begitu SBY akan jatuh. Kalau tidak maka dia aman dan justru semakin hebat. Karena tak ada perlawanan nyata maka Partai Demokrat dan SBY, terutama keturunan keluarga itu, pasti semakin bernilai dan akan merebut masa depan kekuasaan di Indonesia. Memang sebetulnya tidak ada yang sederajat kemampuannya dan kehebatan Partai Demokrat. Meskipun banyak orang boleh tak suka partai berlambang bintang mercy itu tetapi dia memang tak ada tandingannya. Enggak lawan, kata anak sekarang.
    Jurus kedua SBY tentu lebih hebat lagi. Anas pada akhirnya akan dikorbankan. Ini hanya soal waktu. SBY sudah banyak belajar dari bekas presiden dan ditator Soeharto. SBY juga sudah banyak ditekan agar mempergunakan strategi-strategi dan kiat-kiat presiden kedua itu. SBY akan telah mulai menekan Polri dan BIN agar mulai menyisihkan lawan-lawanya baik di luar maupun di dalam partai yang disayang oleh Ibu Ani Yudhoyono. Polisi, jaksa dan pengadilan khususnya KPK pun akan menjantur Anas, sebab Anas memang terlibat dalam korupsi dana APBN untuk pembangunan wisma atlet itu untuk memenangkan dirinya sebagai ketua umum Partai Demokrat. Sebetulnya bagi partai-partai pesaing, menjatuhkan Anas dan termasuk menjatuhkan SBY sangat mudah seperti menyentuh telur di ujung tanduk. Melalui kasus-kasus besar yag mana juga, mereka harusnya bias mengalahkan. Tetapi lagi-lagi memang enggak ada lawab, kata anak-anak sekarang. Nazaruddin adalah peniup pluit yang malang. Dia akan memberikan fakta-fakta nyata tetapi negara ini tetaplah negara kekuasaan. Dia akan pada akhirnya dimasukkan penjara. Anas karena tekanan dan lobi-lobi kuat dari partai-partai pesaing, maka akan masuk penjara juga. KPK dan SBY akan didemo masif jika tidak menjebloskan juga Anas. Hebat rek. (SK)

  13. Rani Dwi Purnama
    Agustus 12, 2011

    Domba-domba tolol, keledai-keledai dungu. Dibodohi hingga hari akhir. Oleh penguasa pemain sandiwara, penerus pola-pola lama. Berbulu lebih halus, inti sama: Rakyat tak kebagian apa-apa. Semua birokrasi korup. Pemimpin itu TST. Yang penting partai menang lagi nanti. Aman.

    ‘BPOM DAN KEMENKES DIBUBARKAN SAJA’

    Rutinitas dan kinerja buruk BPOM terjadi setiap tahun dan terus berulang.

    Kepemimpinan tak tegas dan tak jelas di tingkat institusi dan nasional merusak segalanya. Di sebuah radio swasta nasional Elshinta untuk kesekian kali dibahas kinerja BPOM. Di acara tengah malam hingga larut pagi itu muncul berbagai opini atau komentar banyak anggota masyarakat pecinta radio tersebut. Ada banyak yang memberikan apresiasi terhadap BPOM dan ada banyak pula yang memberikan saran-saran dan bahkan menyindir dan mencaci. Yang menyindir dan mencaci lebih banyak ketimbang yang memberi apresiasi. Apa maknanya?

    Dari sangat banyak opini dan komentar tersebut terlihat bahwa sesungguhnya kinerja BPOM kurang efektif dan tidak banyak berubah. Setiap bulan Ramadhan tiap tahun, misalnya, BPOM mengadakan sidak ke berbagai pasar penjual makanan dan minuman dan ke supermarket-supermarket guna memeriksa kemungkinan adanya makanan dan minuman yang kadaluwarsa dan lainnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya tentu saja ditemukan banyak makanan dan minuman kadaluwarsa atau makanan dan minuman terlarang karena mengandung bahan pengawet dan pewarna yang tak diperbolehkan. Ini terutama di pasar-pasar tradisional, pasarnya rakyat kelas bawah.

    Orang-orang BPOM digaji besar oleh uang negara uang rakyat untuk menjalankan tugas penting mengontrol terhadap makanan dan minuman yang ada di pasaran. Namun dari banyak pendengar Elshinta yang memberikan komentar, kita bisa menemukan bahwa BPOM ternyata hanya melakukan rutinitas dan kienrjanya buruk. BPOM tidak membuat terobosan apapun dari tahun ke tahun dan tidak ada pembenahan sistemnya.

    “BPOM hanya seremonial belaka, tiap tahun mereka [BPOM] turun ke pasar-pasar tapi tak ada ahsil, makanan dan minuman berpengawet ilegal tetap banyak,” ujar seorang pendengar. Beberapa pendengar yang lain mengomentari daging sapi di pasaran yang berformalin agar lebih tahan lama. “Kalau ke pasar-pasar pagi di jam-jam siang kita bisa menemukan penjual daging itu sedang melumuri dagingnya dengan larutan formalin lalu disimpan untuk dijual esok. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri,” ujarnya.
    “Saya lihat sendiri bakso, tahu dan ikan direndam di air formalin. Kalau dibau terasa. Tahu dan ikan diformalin berbau kedelai, yang diformalin berbau formalin,” ujar pendengar lainnya.

    Dari beberapa saksi mata atau pengakuan itu bisa ditarik kesimpulan-kesimpulan nyata. 1\ BPOM tidak menghasilkan efektivitas kinerja kontrolnya terhadap makanan dan minuman yang tidak sehat dan bahkan berbahaya bagi kesehatan, terbukti dengan terus beredarnya makanan dan minuman berpewarna dan berpengawet. 2\ BPOM bahkan menunjukkan kemunduran kinerja, terbukti dengan terus merajalelanya daging, bakso, tahu dan ikan berformalin di pasaran umum. 3\ Terus terjadi tindak pidana yang dilakukan banyak penjual tersebut, berarti BPOM hanya menjalankan rutinitas tanpa target kinerja yang jelas untuk dicapai, berarti kemungkinan BPOM tidak melaporkan temuan-temuannya kepada polisi. 4\ Polisi tidak melakukan tindak lanjut atas kemungkinan laporan temuan-temuan BPOM. Pelajaran sangat-sangat penting yang bisa diperoleh dari kebiadaban BPOM adalah sesungguhnya BPOM selalu berkinerja sangat buruk.

    Dari radio rakyat Elshinta banyak orang marah terhadap kinerja sangat buruk BPOM. Mereka kebanyakan melihat bahwa BPOM tidak ada fungsinya dan tak ada manfaatnya publik dan masyarakat luas Indonesia. Mereka minta agar BPOM dibubarkan. “Untuk apa negara menggaji mereka kalau tidak mengawasi efektif,” ujar mereka.

    CARA KORUPSI TAK LANGSUNG

    Beberapa pendengar memberikan komentar dengan mengaitkan korupsi tak langsung BPOM dan Kemenkes baru-baru ini melalui peluncuran produk makanan bayi, sesudah kasus heboh makanan bayi yang disinyalir mengandung racun beberapa waktu sebelunya. Kata mereka, orang-orang di Kemenkes dan BPOM mulai membuat kesepakatan agar Menkes segera mengumumkan produk-produk makanan bayi yang diproduksi beberapa perusahaan tertentu aman dan sehat. Menurut mereka, uang dari perusahaan-perusahaan tersebut yang masuk ke kantong pejabat-pejabat Kemenkes dan BPOM mencapai ratusan juta dan miliaran. “Lihat rumah dan mobil pegawai-pegawai BPOM baru-baru dan bagus-bagus,” ujarnya. Melihat hal-hal tak beres tersebut, mereka juga menyarankan agar BPOM dan Kemenkes dibubarkan saja. (Rdp)

  14. Ilma Aliya
    September 4, 2011

    pidato 10 November Bung Tomo membuat hati miris.. Bung Tomo akan selalu dikenang..

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: