Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Tersirat dari serat Darmogandul

Serat Darmogandul ??  Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam. Gancaran basa Jawa ngoko; Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara, Surakarta; Cap- capan ingkang kaping sekawan, 1959; Toko Buku “Sadu-Budi” Sala (lihat juga disini).

Serat Darmagandul merupakan kitab yang cukup dikenal dalam kesusasteraan Jawa. Tidak sedikit yang menggunakannya sebagai bahan studi sejarah, terutama terkait keruntuhan Majapahit. Serat Darmogandul merupakan serat yang berisi cerita tentang dialog antara tokoh-tokoh pada jaman dulu kala di Indonesia. Dalam serat ini pula didapatkan cerita berubahnya keyakinan Prabu Brawijaya dari agama Buddha beralih ke agama Islam. Akan tetapi karena serat Darmogandul dinilai banyak pihak sebagai naskah yang bermuatan penghinaan terhadap Islam, maka serat tersebut dilarang beredar. Tapi kini kita bisa menemukan serat Darmogandul di banyak blog baik dalam naskah berbahasa jawa, maupun terjemahannya. Untuk terjemahan Darmogandul bisa dilihat di indo forum atau disini.

Serat Darmagandul merupakan kitab kontroversial yang mengambil ide cerita dari Serat Babad Kadhiri. Meskipun merupakan hasil plagiasi dari Babad Kadhiri, namun Serat Darmagandul tampaknya ditulis berdasarkan motif tertentu yaitu keberpihakan pengarangnya terhadap pemerintah kolonialis Belanda dan kecenderungan terhadap keberadaan misi Kristen di tanah Jawa. Unsur Kristen dalam Serat ini boleh dikatakan dominan dengan menggunakan simbolisasi wit katvruh dan berbagai cerita yang berasal dari Bibel.

Serat Babad Kadhiri ditulis berdasarkan perintah Belanda. Sedangkan serat Darmagandul menunjukkan wujud apresiasi yang baik terhadap Belanda, bukan dalam pandangan sebagai musuh atau penjajah namun justru sebagai kawan. Mengingat pengarang Darmagandul tidak jelas identitasnya, maka kemiripannya dengan Babad Kadhiri ini jelas menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Dapat diduga bahwa Babad Kadhiri yang ditulis atas perintah dari Belanda, kemudian dimanfaatkan untuk membuat Serat Darmagandul dengan tujuan memarginalkan ajaran Islam dan sekaligus memanipulasi sejarah Islam. (ref)

Secara umum buku Darmagandul banyak memiliki kesalahan data dalam mengungkapkan fakta sejarah. Oleh karena itu sulit dipastikan bahwa buku tersebut benar-benar ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak. Bukti lebih kuat justru menekankan bahwa buku tersebut di tulis di era belakangan pasca penjajahan bangsa Eropa di Bumi Nusantara. Oleh karena itu cerita sejarah dalam serat tersebut boleh diabaikan dari kedudukannya sebagai sebuah fakta. (ref)

Buku Darmagandul merupakan tulisan yang sebagian besar mengisahkan tentang keruntuhan kerajaan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak. Dalam versi Darmagandul Majapahit runtuh akibat serangan dari Adipati Demak yang bernama Raden Patah. Sebenarnya Raden Patah masih merupakan putra Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir, dengan seorang putri dari China. Namun, menurut buku Darmagandul, para ulama yang dipimpin sunan Giri dan Sunan Benang (Bonang) yang tergabung dalam majlis dakwah wali sanga, memprovokasi Raden Patah agar merebut tahta kerajaan dari ayahnya yang masih kafir, karena memeluk agama Budha.

Bujukan para wali berhasil, sehingga pada akhirnya Majapahit dapat dibumi hanguskan dan Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Buku darmagandul juga mengupas tentang ‘budi buruk’ para ulama yang oleh Prabu Brawijaya diberi kebebasan untuk berdakwah diwilayah Majapahit, namun pada saat Islam telah menjadi besar mereka berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang raja Brawijaya. Hal ini ditunjukkan dengan ekspresi penulis Darmagandul ketika mengartikan wali adalah walikan (kebalikan). Artinya diberi kebaikan namun membalas dengan keburukan. (ref)

Darmogandul. Di telinga orang ~Jawa pun hal itu terdengar lucu. Tapi buku ini, Serat Darmogandul, memang dimaksud sebagai ejekan yang lucu, yang dikaitkan dengan hal-hal porno. Judul buku fiksi yang mengisahkan masuknya Islam ke Jawa dan runtuhnya Kerajaan Majapahit ini juga menimbulkan gambaran yang tak jauh dari (maa~ kelamin pria. Pada 1920-an, Darmogandul pernah diprotes masyarakat Islam dan Cina ketika pertama kali dimuat dalam sebuah almanak. Darmogandul, yang ditulis dalam bahasa Jawa dan dalam bentuk~ sekar atau puisi Jawa itu, memang mencemooh orang Cina, orang Arab, dan menyerang Islam.

Siapa pengarang Darmogandul, tak jelas. Pada terbitan Dahara Prize memang disebutkan namanya: Ki Kalamwadi. Tapi ini nama samaran (kalam adalah pena, wadi berarti rahasia: “penulis yang merahasiakan namanya”). Pengarang yang sesungguhnya mungkin Raden Budi Sukardi, yang beberapa kali disebut oleh Ki Kalamwadi (pencerita dalam buku itu) sebagai “guru yang dapat dipercaya”. Beberapa ahli juga tak berhasil menemukan nama dan identitas pengarangnya.

Menurut M. Hari Soewarno dalam Serat Darmogandul dan Suluk Gatoloco tentang Islam, pengarangnya adalah Ronggowarsito (1802-1873), sastrawan Jawa terkenal dari Keraton Surakarta. Menurut Simuh, dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Yogya, buku itu ditulis pada zaman Kerajaan Surakarta antara tahun 1755 dan 1881. Tapi doktor yang disertasinya mengenai karya Ronggowarsito Wirid Hidayat Jati itu tidak tahu persis siapa penulisnya.

Dalam pada itu, menurut Prof. Dr. G.W.J. Drewes, dalam The Struggle between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermogandul dan Javanese Poems Dealing with or Attributed to the Saint of Bonang, buku itu karangan seorang bangsawan tinggi di Kediri, dan bersumber dari Babad Kediri yang ditulis sekitar 1873.

Sementara itu, menurut Prof. Dr. H.M. Rasjidi, dalam Islam dan Kebatinan, pengarang Darmogandul adalah Pangeran Suryonegoro, putra Hamengku Buwono VII. Menteri Agama RI yang pertama itu ~ yakin bahwa Darmogandul ditulis pada zaman penjajahan Belanda, terbukti dari adanya beberapa kata Belanda seperti kelah (klacht) dan puisi.

Sebelum Dahara Prize menerbitkannya, pada tahun 1954 (sekitar tiga puluh tahun setelah heboh), penerbit buku-buku Jawa di Kediri yang ketika itu sangat terkenal, Tan Koen Swie, sudah menerbitkannya sebagai cetakan kedua. Sampai kini, buku itu hanya dikenal kalangan terbatas: generasi tua dan para ilmuwan yang khusus mempelajari literatur Jawa yang berkaitan dengan paham kebatinan.

Darmogandul memang pernah jadi salah satu acuan para penganut kepercayaan. Tapi, menurut tokoh kejawen almarhum Mr. Wongsonagoro, Darmogandul kemudian tidak menjadi pedoman para penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Isi Darmogandul sebenarnya mengenai penyebaran Islam di Jawa (dari kawasan pesisir utara) dan runtuhnya Kerajaan Majapahit (di pedalaman), yang dituturkan secara fiktif.

Paham keagamaan di dalamnya merupakan cerminan perbenturan nilai setelah datangnya agama baru, juga antara kerajaan pesisir yang Islam dengan kerajaan pedalaman yang masih Budha-Hindu. Orang Jawa, ketika itu, hanya menerima nilai-nilai Islam yang rada-rada cocok dengan paham lama lalu mencampur-adukkannya — yang belakangan melahirkan paham kepercayaan yang sinkretis.

Yang mengundang keresahan masyarakat Islam ialah penyajian pikiran pikiran tentang seks dalam buku itu, yang dipakai sebagai usaha untuk meletakkan “penafsiran” materi ajaran Islam pada kedudukan pornografis — yang tidak lepas dari kerangka pertentangan politik dan budaya antara kedua kerajaan itu, antara “Jawa” dan “Islam”.

Semangat anti-Islam muncul akibat trauma keruntuhan Majapahit yang diserang oleh Raden Patah, putra raja Majapahit Brawijaya V sendiri yang sebelumnya diangkat sebagai adi~pati di Demak. Raden Patah dinilai sebagai anak~ durhaka, apalagi ia sebenarnya bukan “Jawa asli” tapi lahir dari rahim~ ibundanya yang~ berdarah Cina (tepatnya: Campa,Kamboja). Sampai sekarang “kambing hitam” keruntuhan Majapahit adalah Raden Patah.

Padahal, menurut Tardjan Hadidjaja dan Kamajaya dalam Serat Centhini Dituturkan dalam Bahasa Indonesia Jilid I-A, sesungguhnya Raden Patah hanyalah merebut kekuasaan Girindrawardhana, yang sebelumnya telah lebih dahulu memporak-porandakan Majapahit dari dalam. Darmogandul juga melukiskan, meski Brawijaya V akhirnya dibaiat sebagai muslim oleh Sunan Kalijaga “secara lahir batin”, banyak rakyat dipaksa masuk Islam. Ini tentu penilaian sepihak, sebab para wali di Jawa selama ini dikenal sebagai penyebar Islam yang akulturatif.

Seperti digambarkan oleh Dojosantosa dalam buku Unsur Religius dalam Sastra Jawa, meski agama Budha dan Hindu sudah berakar berabad-abad, orang Jawa menerima Islam “dengan senang hati untuk memperkaya peradaban”. Gara-gara protes masyarakat Islam, menurut Anung Tejo Wirawan, ‘dosen sastra Jawa UGM yang meneliti Darmogandul, buku yang kontroversial ini beberapa kali disunat oleh penerbitnya.

Pada terbitan Dahara Prize kali ini, misalnya, pendapat bahwa “babi dan anjing lebih baik dari kambing curian” sudah dihapus. Begitu pula cara penghinaan dengan gaya jarwodosok terhadap Quran. Jarwodosok atau plesedan adalah gaya bahasa dalam penulisan sastra maupun dalam bahasa lisan para pelawak Jawa, dengan mencari persamaan bunyi yang cenderung lucu dan porno.

Dalam Darmogandul (edisi lama), misalnya, disebut syari’at atau sarengat diartikan “kalau sare (tidur) anunya njengat (ereksi)”. Beberapa kata dalam surah al-Baqarah juga dipeleset-pelesetkan. Misalnya, huda dalam huda lilmuttaqien diartikan wuda alias telanjang. Dan banyak lagi. Dalam penelitian itu Anung menemukan, hanya 10% isi buku itu yang menghina Islam atau porno. (ref)

Sementara itu, menurut dosen sastra Jawa UGM yang lain, Dr. Kuntara Wiryamartana, Darmogandul bukanlah sastra Jawa yang punya arus yang kuat. Karena itu, beberapa ilmuwan, termasuk Simuh, kurang setuju buku itu dilarang beredar. “Kalaupun diedarkan secara luas, penerbit hendaknya memberikan pengantar dan catatan, sehingga pembaca mengerti duduk soalnya,” katanya Namun, bagi A.R. Fachruddin, ketua PP Muhammadiyah, betapapun yang 10% itu tetap berarti penghinaan. Mengapa Dahara Prize berani menerbitkannya? “Karena masyarakat kita sudah maju, dan saya yakin umat Islam tidak tersinggung membaca Darmogandul, yang hanya merupakan imajinasi pengarang itu,” ujar Deradjat Harahap, direktur Dahara Prize. Dalam kata pengantar buku itu, pembaca memang diimbau oleh penerjemah (yang tidak menyebutkan namanya) agar kritis, sehingga “tidak gampang terpengaruh oleh isi buku ini”.

Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI, juga pernah menulis dan menerjemahkan Darmogandul yang banyak memuat pelecehan terhadap Islam. Dalam salah satu bait Pangkur-nya serat ini menulis “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”

Ada lagi ungkapan dalam serat ini “Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah, nabi terakhir. Ia sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.”

“Semua makanan dicela, umpamanya masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera, opor monyet, masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak), masakan anak anjing, panggang babi atau rusa, kodok dan tikus goreng.”

“Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing kebiri, kare kucing besar, bistik gembluk (babi hutan), semua itu dikatakan haram. Lebih-lebih jika mereka melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih. “

“Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau makan dagingnya.”

“Kalau bersetubuh dengan manusia tetapi tidak dengan pengesahan hakim, tindakannya dinamakan makruh. Tetapi kalau partnernya seekor anjing, tentu perkataan najis itu tidak ada lagi. Sebab kemanakah untuk mengesahkan perkawinan dengan anjing?”(ref)

Mencermati bahwa Babad Kadhiri merupakan produk dari proyek penjajah, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Serat Darmagandul adalah kelanjutan langkah Belanda dalam menjinakkan perlawanan Islam. Pada sekitar 1900-an politik Belanda banyak diarahkan untuk mengantisipasi kekuatan Islam yang dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial (Steenbrink, 1984:241-242). Kebijakannya dilakukan dengan kristenisasi dan pemunculan apa yang disebut sebagai “kaum adat” (Benda, 1980:40-46). Kebijakan politik Belanda pasca 1850-an bukan sekedar bermotif ekonomi, beberapa kasus menunjukkan bahwa imperialisme Belanda adalah manifestasi idealisme yang bersifat politik dan agama (Kartodirdjo,1999:4-5).(ref)

Antara misi Kristen dengan penjajahan Belanda memang satu paket. Dan untuk melakukan pelemahan terhadap Islam yang saat itu begitu gigih melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, menghasut dengan membuat cerita-cerita negatif dan melecehkan adalah salah satu cara yang mereka gunakan. Tak tertutup kemungkinan, mereka melakukan politik pecah belah, memukul dengan menggunakan tangan kelompok kebatinan, yang memang sudah dari dulu menyimpan ‘dendam’ dengan umat Islam akibat jatuhnya Mojopahit ke tangan kerajaan Demak…. entahlah.

Terakhir sebuah cuplikkan menarik yang ada dalam Serat Darmogandul pada bagian dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon bisa dibaca disini!

*Sebuah  kompilasi tulisan dari berbagai sumber, sekedar menelusuri hal sedikit dari yang tersirat dan tersurat sebuah serat.

 

About these ads

83 Comments on “Tersirat dari serat Darmogandul

  1. Rusdi
    November 22, 2011

    wah dengan adanya blog dan tulisan ini saya jadi tau , sebab sy punya teman sering bercerita tentang cerita runtuhnya maja pahit gara-gara masuknya islam dan dari ceritanya dia terkesan negatip. mungkin dia selama ini yakin dan pernah membaca serat darmogandul. sehingga pemahaman dia seperti itu. padahal dia seorang muslim juga, ternyata klu hanya belajar dari buku dan tanpa guru ya jadi seperti itu. langsung membuat kesimpulan sendiri. thanks buat kang cepot

    —————-
    Kopral Cepot : Sama-sama kang … smoga tetep semangat untuk belajar dan belajar ;)

    • Wong jowo
      Desember 9, 2012

      Bismillah…
      Blajar sesuai kenyataan..
      *masjid agung demak..
      *singo barong reog ponorogo..
      Kalo anda faham..
      Tentu bkan dr kitab manapun..
      Slamat mengkaji..

    • iswara
      Desember 19, 2012

      mas mas tapi jangan salah belajar mas,……….coba perhatikan candi2 yang indah di pulau jawa sekarang bisa dihitung dengan jari padahal masa dari pemerintahan kerajaan majapahit itu 103 tahun ,

      itu sebabnya yang menjadikan anehnya runtuhnya majaphit oleh gherindawardana ,………ya ga mungkin banget kalau penyerangnya gherindwardana lha koq situs situs candi banyak yang hancur ,,…..dan yang tersisa pun sedikit ,…..

      mas mas kasihan banget kamu belajar koq salah

      sebenarnya majapahit itu di serang oleh demak…yaitu putranya sendiri Prabu brawijaya V namanya Raden Patah

      dan yang menulis serat Dharmagandul itu adalah Kanjeng Sunan Kalijaga Sendiri

      dulu itu merupakan tembang yang di buat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri sebagai Bentuk Penyesalan , , , runtuhnya majapahit yang begitu dalam bahkan sampai ke akar2nya , banyak candi2 yang dihancurkan kitab2 budha yang dibakar karena proses Islamisasi pada waktu itu ,……………dan kanjeng sunan kalijaga pun jarang memakai baju putih melainkan memakai baju Hitam dan banyak melantunkan tembang2 dalam menyebarkan Ajaran Islam

      sebagai Umat Islam Kanjeng sunan Kalijaga Tidak menutup/ ataupun berbohong atau juga tidak membuka secara bahasa Umum tentang rahasia Runtuhnya majapahit, makanya bagi Kanjeng Sunan Kalijaga Mesti LUarnya Hitam tetapi dalamnya Putih karena di setiap tembang yang di buat adalah kebenaran Peristiwa sejarah Runtuhnya Majapahit

      saya sendiri sangat mengagumi Sunan Kalijaga dan Sunan2 walisanga sekalipun Seh sitijenar yang sampai sekarang masih misteri dan kontrofersi keberadaannya dan misteri meninggalnya , bagiku Agama Apapun kalau yang membawanya tidak Fanatik Dan berpikiran Luas dan BIsa menghormati di setiap Ayatnya Semuanya tidak Tumpang Tindih

      memang serat tersebut cenderung menjelek-jelekan agama Islam banyak percakapan2 yang tidak senonoh tentang Agama Islam

      yang namanya juga pada waktu Itu kan kalah perang wajar aja kalau mengumpat dan kata2nya kasar ,,mengutuk dan sebagainya , itu hanya ungkapan kekesalan saja dan jangan sodara2 menunggu buktinya

      Kanjeng sunan membuat tembang yang sangat tidak mudah untuk dipahami tetapi tidak mengurangi dan tidak menambahkan sedikitpun tentang terakhir dia bertemu dengan Prabu Brawijaya V

      seharusnya itu yang perlu kita Tiru Untuk zaman sekarang menjadi Umat Islam Atau Non Islam

      terimakasih , saya tidak menyalahkan atau membenarkan Blog Anda Tapi Sikapilah dengan Baik tanpa menuduh ini itu < yang membuat umat Kristen lah

      yang jelas itu merupakan tembang Tentang Percakapan Yang DibuatnYa si pengarang tentang penyesalan

  2. teguh
    Desember 15, 2011

    pegin beli darmo gandul di mana mas

    ————–
    Kopral Cepot : Sudah ada yg terjemahannya karangan damarshashangka … mungkin di gramedia

  3. sumargo
    Februari 22, 2012

    … saya pernah baca serat darmagandul & terjemahannya, trus saya sempat tanya sama teman saya orang Kristen, apa betul ada hal2 dari Bibel yg masuk ke serat itu? Dia bilang kalo dilihat memang sekilas ada, tapi kalo dilihat dari kesalahan penulisan cerita Bibel yang dilakukan oleh penulis darmagandul, contoh: menyebut Raja Daud adalah Raja Mesir (yg benar Raja israel, pen), maka tidak mungkin penulis darmagandul adalah orang Kristen atau disuruh oleh Belanda, karena banyak hal2 yang berkaitan dengan cerita sejarah Bibel tidak sama dengan yang ada di Bibel… kesimpulannya kemungkinan justru penulis Darmagandul adalah orang Jawa (Kejawen/Hindu/Budha) yang mempelajari Al-Quran & Hadits karena ia sangat paham dengan ajaran Islam dan cerita nabi2 versi Islam yg hampir serupa tapi tak sama dengan versi Bibel…

    • iswara
      Desember 19, 2012

      Benar memang Bukan orang Kristan Atau pun Orang Belanda , melainkan Itu dulu adalah semacam Tembang Yang di buat Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga Sendiri ,

      sebagai Umat Islam padawaktu itu kanjeng sunan kalijaga merasakan penyesalannya yang begitu besar karena Kanjeng sendiri masih Darah keturunan Majapahit yang selama kanjeng hidup adalah di Tanah Majapahit……….

      maka dari itu kanjeng sunan sering membuat tembang tentang runtuhnya majapahit dan berbagai percakapan2 dengan Abdi dalem dan Raja BrawijayaV sendiri , hingga akhir tanpa menambah dan mengurangi tetapi bahasanya yang di pergunakan sulit untuk dipahami secara Umum karena merupakan bahasa Tembang ,…….itu menandakan Kalau Luarnya Hitam tetapi dalamnya Putih

      • iswara wijaya
        Desember 20, 2012

        tambahan dikit : jadi begini sebenarnya bukan serat dharmagandul tetapi tembang

        khusus yang di sesen runtuhnya majapahit dan pertemuannya kanjeng sunan kalijaga dengan Prabu BrawijayaV ……….

        itu kontek kejadian sejarah yang sebenarnya………………

        kemudian yang paling penting ketika percakapan antara Kanjeng sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya V ,,,,,,

        kemudian serat Dharmagandul di buat atau di tulis yang jelas oleh cucu majapahit tetapi dengan beberapa pjangga2 keraton untuk mengartikan Arti kiasan2 pada tembang tersebut ………………

        karena ada tertulis di situ Raden Budi Sukardi …….itu nama kiasan juga bukan nama Asli ………

        nama itu untuk menunjukan orang yang menulis kitab itu keturunan raja tetapi belum atau tidak menjadi raja ……

        ——————————————————————————————————

        khusus untuk percakapan Kanjeng Sunan Kalijaga yang ini

        Sunan kalijaga setelah di beri perintah lantas mengucap : Apakah sang Prabu Tidak memberi izin kepada Putra Handa Prabu Jimbun menjadi raja di tanah jawa ”
        sang Prabu Menjawab ; saya ijinkan tetapi hanya 3 keturunan ……..

        disitulah terbukti setelah yang menjadi raja Di pulau jawa yang tersohor adalah cucu majapahit yang bernama Pangeran Adiwijaya /atau jaka tingkir yang menjadi menanti raja Demak yang terakhir setelah perebutan kekuasaan dan yang memegang pemerintahan Adalah Adiwijaya ,…kemudian pusat pemeritahan di pindahkan ke Pajang

  4. sumargo
    Februari 22, 2012

    Oya, saya baru inget pernah baca di Tempo online, pada saat kemunculannya serat darmogandul dianggap meresahkan masyarakat Islam di Jawa, sehingga konon dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda… Logikanya kalo buku itu bikinan Belanda untuk menyudutkan Islam trus ngapain kemudian dilarang2 sendiri oleh Belanda pada saat buku tersebut berhasil meresahkan umat Islam? …

  5. MasBudi
    Februari 28, 2012

    Lha yang bener bagaimana cerita runtuhnya Majapahit yang sebenarnya?….Masak kerajaan sebesar itu bisa hancur lebur tanpa sebab (tanpa ada unsur kekerasan sama sekali)….Jangan bilang kalau karena bencana alam karena candi-candi masih banyak yang utuh……Lagian juga aneh Belanda bisa menjajah Indonesia selama 350 th (lama amat)….Sebegitu terbelakangnya Indonesia setelah runtuhnya Majapahit shg mudah dijajah bangsa lain? …. Jangan bilang karena Belanda, Majapahit sudah runtuh sebelum Belanda menjajah negeri ini…..Bagaimana bisa bangsa yang begitu cerdas bisa jadi bloon kayak gitu ya? ….. Kalau menurut saya jelas ada yang memeranginya entah dari luar ataupun dari dalam…..Sejak runtuhnya Majapahit, peradaban Indonesia mengalami kemunduran drastis….Tidak ada satupun penjelasan atau dokumen2 asli yang menjelaskan fakta apa yang terjadi saat itu (hilang atau sengaja dihilangkan?)….Yang jelas, saya hanya ingin Indonesia bisa berjaya kembali seperti dulu …. Tentu saja dibutuhkan dokumen2 yang bisa menjelaskan dan mengajari kita tentang pola pikir orang jaman dulu sehingga membawa peradaban Indonesia yang maju….Nggak seperti sekarang ini, maju cuman segelintir saja.

    • Joyoyakti
      Oktober 27, 2012

      Tolong baca lagi mas tulisan di atas,ada di sebut nama Girindrawardana. Untk selengkapnya baca situs2 tentang Majapahit yg ditulis berdasarkan fakta2 sejarah yg kuat,jangan berdasarkan dongeng seperti Babad,Dharmogandul,dll.

      • Joyoyakti
        Oktober 27, 2012

        Sebagai tambahan,peradaban Jawa runtuh bukan oleh masuknya Islam,tapi akibat pengaruh Kolonialisme Eropa pada para penguasa Mataram,pasca Sultan Agung. Tlg baca lagi sejarah tentang raja2 dinasti Mataram.! Jadi apa2 yg sekarang kita anggap sbg budaya Jawa,itu adlh produk konspirasi VOC dgn raja2 dinasti Mataram pasca Sultan Agung.

        • iswara wijaya
          Desember 19, 2012

          mas mas ini yang di tulis dalam serat Dharmagandul bukan runtuhnya peradaban jawa tetapi runtuhnya majapahit ,…….gimana sih

        • iswara wijaya
          Desember 21, 2012

          mas – mas yang menyerang kerajaan majapahit itu bukan Islam mas tetapi Demak ………..mas jangan fanatik dulu

          semisal begini : menurut Ajaran Islam Tidak boleh menyembah berhala seprti patung patung dan candi2………..ok menurut Kitab Umat Islam Benar ………., lha tetapi yang salah nya koq ya merusak candi ataupatung2 itu lho mas ,…….itu yang salah para ulama2 dan para prajurit Demak pada waktu itu ,

          jangan bilang kalau yang merusak adalah kediri atau geridawardana yang sebelumnya telah menyerang duluan ,…….ga mungkin karena jelas ga mungkin kalau kediri merusak candi2 yang juga peninggalan kediri sendiri atau singasari atau kerajaan2 Hinddu Budha sebelumnya

          maka dari itu terasa aneh kalau Fakta sejarah yang di ajarkan di sekolah2 yang menyerang Majapahit adalah grindawardana ….pikir dengan logoka dan kenyataan keadaan2 candi yang masih tersisa

          mas sejarah itu sekarang banyak yang di putar balik mas , jangan jauh jauh lah , lihat aja jaman G30s PKI , Itu saja masih simpang siur koq , semua yang di filemkan dan di ajarkan di sekolah2 semua bohong mas , dulu saja saya percaya soalnya masih kecil , tapi sekarang banyak – banyak pengalaman dan bisa bermain logika dan data2 yang tersembunyi baru saya cermati kalau G 30 s PKI itu ga seperti sejarah2 yang di ajarkan di sekolah2 ,……………

          mas kita sudah di bohongi oleh kekuasaa pada Zaman Resim Suharto , karena yang menjadi Dokumen Asli Supersemar Yang Asli Hilang ,…..yang di ajarkan di sekolah2 itu duplikat tapi Palsu ,………………

          melainkan kalau dulu ( zamanDemak – Malapahit ) kita tidak boleh bilang kalau kita dibohongi tetapi hanya di tutup untuk memperluaskan Ajaran Islam Pada Waktu Itu , sebab Rakyat Indonesia Pada Zaman Majapahit ITu orang orangnya Memang Berperadaban Tinggi Tapi masih KOlot …………….itu salah satu Kutipan JUga Dari Dakwah Kanjeng Sunan Kalijaga , , dan banyak wali – wali yang mempunyai pendirian untuk merangkul, mendekatkan dan bahkan menyatu dengan orang2 jawa yang masih hindu budha ……untuk di ajarkan tentang ajaran Islam Yang secara Batin ( bukan secara LIsan lho ) masih pemahamannya tidak jauh beda dengan Ajaran Hindu Budda ,

          maka dari itu banyak Wali yang memakai cara adat jawa seperti pagelaran Wayang tetapi yang sudah di Gubah menjadi cerita dari Jawa yang sesungguhnya Cerita itu dari India , Tembang2 moco pat , dan pagelaran Opera seperti wayang Uwong Kalau jawa Dll

          gitu ……………coba teliti lagi dech mas cara belajarnya yang unifersal

      • iswara wijaya
        Desember 20, 2012

        @joyoyakti : mas sejarah itu sudah di putar balik mas , seperti kisah yang mungkin kontrofersi aja kayak semacam Siti jenar ,………..padawaktu itu banyak yang tau kalau siti jenar murtad dari ajaran Islam dan mayatnya jadi Seekor Anjing ,..>>>>>>>>cerita lain siti jenar di penggal gulu nya sama sunan griii , terus ada lagi di tusuk dengan keris sunsn Kali jaga . terus menurut pengikutnya siti jenar mati dengan cara memutuskan tali Hidup dengan caranya sendiri ( bukan Bunuh diri) kan cerita nya jadi kabur dan ga karuhan kan………..

        perhatikan Kediri itu Hindu mas
        majapahit Itu hindu mas

        kalau pun saling serang >>>>>candi2 ga akan di hancurkan ,…….tolong Pahami mas >>>>>>>oke kita boleh Fanatik tapi harus berfikir Rasional dan Universal

        txz , semoga bermanfaat untuk mendalami dan belajar jangan sampai salah pengertian menyerang Agama Lain

  6. alfaqir
    Maret 22, 2012

    salam kenal..

    sekedar menambahkan..

    Fakta perbedaan mazhab Syafi’i di Samudra Pasai dan mazhab Syi’ah di Gujarat yang hidup pada abad ke-13 M, dijadikan alasan dasar penolakan Prof. Dr. Buya Hamka terhadap teori Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje yang menyatakan agama Islam yang masuk ke Nusantara Indonesia bermula dari Gujarat India dan waktunya pada abad ke-13 M.

    Dengan sengaja, sejarawan Belanda pada masa pemerintah kolonial Belanda membuat periodisasi sejarah Indonesia, memundurkan waktu masuknya agama Islam berada jauh di belakang atau sesudah keruntuhan kekuasaan politik Hindu atau Keradjaan Hindoe Madjapahit.

    Dengan berdasarkan periodisasi itu, menjadikan Islam baru dibicarakan setelah Keradjaan Hindoe Madjapahit runtuh pada 1478 M. Tidak dijelaskan pula bahwa sejak abad ke-7 M agama Islam sudah mulai didakwahkan ajarannya oleh para wirauswasta di Nusantara Indonesia.

    Ditambahkan, runtuhnya Kerajaan Hindoe Madjapahit akibat serangan dari Keradjaan Islam Demak yang dipimpin oleh Panembahan Fatah. Mengapa Demikian ? N.A. Baloch menjawab strategi pemerintah kolonial Belanda, anti Islam dan bermotivasi divide and rule atau pecah belah untuk dikuasai melalui salah satunya penulisan sejarah. Oleh karena itu, dalam penulisan sejarah Indonesia bertolak dari pandangan Hindoe Sentrisme atau dari Neerlando Sentrisme. Lebih mengutamakan sejarah Hindu Buddha atau sejarah Belanda di Indonesia. Islam yang dijadikan dasar gerakan perlawanan terhadap penjajahan Protestan Belanda, dinegatifkan analisis sejarahnya.

    Dalam penulisan sejarah Indonesia, pada umumnya menuturkan adanya kekuasaan politik Islam atau Kesultanan di Indonesia, terjadi sesudah Keradjaan Hindoe Madjapahit runtuh. Tidak dimengerti bahwa Keradjaan Hindoe Madjapahit didirikan pada 1294 M atau abad ke-13 M. Padahal, sembilan belas tahun sebelumnya di Sumatra telah berdiri Kesoeltanan Samodra Pasai pada 1275 M. Tidak pula bahwa di Aceh telah berdiri kekuasaan politik Islam Aceh pada abad ke-9 M. Tidak dijelaskan pula bahwa di Leran Gresik, Jawa Timur sendiri telah terdapat nisan Soeltanah Fatimah binti Maimun Hibatoellah yang wafat pada abad ke-11 M.

    Pada umumnya, keruntuhan Hindoe Madhapahit sering didongengkan akibat serangan dari Keradjaan Islam Demak. Padahal, realitas sejarahnya yang benar Keradjaan Hindoe Madjapahit runtuh akibat serangan Radja Girindrawardhana dari Kerajaan Hindu Kediri pada 1478 M. Keduanya adalah sama sebagai Keradjaan Hindu.

    Serangan Keradjaan Hindoe Kediri dibawah Girindrawardhana terhadap Kerajaan Hindoe Madjapahit, 1478 M, sebagai serangan balasan terhadap serangan Widjaja(1) pembangun Keradjaan Hindoe Madjapahit terhadap Keradjaan Hindoe Kediri pada saat dipimpin oleh Raja Praboe Djajakatwang, 1292 M. Serangan Widjaja terhadap Keradjaan Hindoe Kediri tersebut dengan menggunakan tentara Kubila Khan.

    Adapun tujuan kedatangan Kubilai Khan tersebut ingin menyerang Radja Kartanegara yang melakukan penghinaan terhadap utusannya, Meng Ki yang dipotong telinganya. Namun, tidak mengerti Radja Kertanegara sudah tidak berkuasa lagi. Ketidakmengertiannya dimanfaatkan oleh Widjaja untuk menyerang Keradjaan Hindoe Kediri dengan rajanya Djajakatwang, 1292 M. Sekitar dua ratus tahun kemudian, pada abad ke-15 atau 1478 M, Keradjaan Hindoe Kediri di bawah Radja Girindrawardhana melancarkan serangan balasan, meruntuhkan Keradjaan Hindoe Madjapahit.

    1. Wijaya sering dituliskan dengan gelar Raden Wijaya adalah menantu Raja Kertanegara dari Keradjaan Hindoe Boeddha Singasari. Gelar Raden tidak terdapat pada Negarakertagama ataupun Pararaton

    disadur dari Buku Api Sejarah, Hal 118 dan 120

    • iswara
      Desember 19, 2012

      mas coba perhatikan : kalau Majapahit diserang oleh kediri tentu saja candi2 justru malah bertambah bukan hancur mas , kebanyakan seperti penemuan situs situs candi banyak yang hancur , seperti zaman majapahit menyarang kediri , majapahit tidak menyerang candi mas bahkan setelah , penggantian pemerintahan menjadi majapahit selam 103 Tahun seharusnya candi malah lebih banyak di banding masa kediri ,…..lha koq ini malah hancur semua candi2 kan ga mungkin kalau yang menyerang majapahit itu kediri mas

      yang jelas majapahit diserang oleh Putra dari Prabu Brawijaya sendiri yang namanya Raden Patah

      dan yang mengarang serat ini adalah Kanjeng Sunan Kalijaga

      merupakan Bentuk Tembang yang tidak dikurangi maupun ditambah unsur2 peristiwanya mulai dari Majapahit sampai terakhir bertemu dengan Prabu Brawijaya Untuk yang terakhir kali menjadi Duta Raden Patah

  7. alfaqir
    Maret 22, 2012

    agama bukan untuk diperdebatkan…

    rahayu…

    • sarno
      April 19, 2012

      setuju….agama bersemayam di roh/hati kita…perilaku adalah potretnya
      Agama ageming aji

    • iswara wijaya
      Desember 20, 2012

      yang di perdebatkan itu bukan agama Mas tetapi sejarah

  8. hati gnipah
    Maret 23, 2012

    HATI HATI kelemahan rakyat indonesia hanya dngn cara d adu domba.

  9. danghyangtanahjawi
    April 25, 2012

    Dharmanggandul (Kebenaran yang cingkrang
    Posted on Juni 25, 2010

    Padha sira ngelingana,
    Carita ing nguni-nguni,
    Kang kocap ing serat babad,
    Babad nagri Mojopahit,
    Nalika duking nguni,
    Sanga Brawijaya Prabu,
    Pan samya pepanggihan,
    Kaliyan Njeng Sunan Kali,
    Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

    Sanga Prabu Brawijaya,
    Sabdanira arum manis,
    Nuntun dhateng punakawan,
    “Sabda palon paran karsi”,
    Jenengsun sapuniki,
    Wus ngrasuk agama Rosul,
    Heh ta kakang manira,
    Meluwa agama suci,
    Luwih becik iki agama kang mulya.

    Sabda Palon matur sugal,
    “Yen kawula boten arsi,
    Ngrasuka agama Islam,
    Wit kula puniki yekti,
    Ratuning Dhang Hyang Jawi;
    Momong marang anak putu,
    Sagung kang para Nata,
    Kang jumeneng Tanah Jawi,
    Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

    Klawan Paduka sang Nata,
    Wangsul maring sunya ruri,
    Mung kula matur petungna,
    Ing benjang sakpungkur mami,
    Yen wus prapta kang wanci,
    Jangkep gangsal atus tahun,
    Wit ing dinten punika,
    Kula gantos kang agami,
    Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

    Sinten tan purun nganggeya,
    Yekti kula rusak sami,
    Sun sajekken putu kula,
    Berkasakan rupi -rupi,
    Dereng lega kang ati,
    Yen durung lebur atempur,
    Kula damel pratandha,
    Pratandha tembayan mami,
    Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

    Ngidul ngilen-purugira,
    Ngganda banger ingkang warih,
    Nggih punika medal kula,
    Wus nyebar agama budi,
    Merapi janji mami,
    Anggereng jagad satuhu,
    Karsanireng Jawata,
    Sadaya gilir gumanti,
    Boten kenging kalamunta kaowahan.

    Sanget-sangeting sangsara,
    Kang tuwuh ing tanah Jawi,
    Sinengkalan tahunira,
    Lawon Sapta Ngesthi Aji,
    Upami nyabrang kali,
    Prapteng tengah-tengahipun,
    Kaline banjir bandhang,
    Jerone ngelebne jalmi,
    Kathah sirna manungsa prapteng.pralaya.

    Bebaya ingkang tumeka,
    Warata sa Tanah Jawi,
    Ginawe kang paring gesang,
    Tan kenging dipun singgahi,
    Wit ing donya puniki,
    Wonten ing sakwasanipun,
    Sedaya pra Jawata,
    Kinarya amertandhani,
    Jagad iki yekti ana kang akarya.

    Warna-warna kang bebaya,
    Angrusaken Tanah Jawi,
    Sagung tiyang nambut karya,
    Pamedal boten nyekapi,
    Priyayi keh beranti,
    Sudagar tuna sadarun,
    Wong glidhik ora mingsra,
    Wong tani ora nyukupi,
    Pametune akeh sirna aneng wana.

    Bumi ilang berkatira,
    Ama kathah kang ndhatengi,
    Kayu kathah ingkang ilang,
    Cinolong dening sujanmi,
    Pan risaknya nglangkungi,
    Karana rebut rinebut,
    Risak tataning janma,
    Yen dalu grimis keh maling,
    Yen rinawa kathah tetiyang ambegal.

    Heru hara sakeh janma,
    Rebutan ngupaya bukti,
    Tan ngetang anggering praja,
    Tan tahan perihing ati,
    Katungka praptaneki,
    Pageblug ingkang linangkung,
    Lelara ngambra-ambra,
    Waradin saktanah Jawi,
    Enjing sakit sorenya sampun; pralaya,

    Kesandung wohing pralaya,
    Kaselak banjir ngemasi,
    Udan barat salah mangsa,
    Angin gung anggegirisi,
    Kayu gung brasta sami,
    Tinempuhing angin agung,
    Kathah rebah amblasah,
    Lepen-lepen samya banjir,
    Lamun tinon pan kados samodra bena.

    Alun minggah ing daratan,
    Karya rusak tepis wiring,
    Kang dumunung kering kanan,
    Kajeng akeh ingkang keli,
    Kang tumuwuh apinggir,
    Samya kentir trusing laut,
    Sela geng sami brasta,
    Kabalebeg katut keli;
    Gumalundhung gumludhug suwaranira.

    Hardi agung-agung samya,
    Huru-hara nggegirisi,
    Gurnleger suwaranira,
    Lahar wutat kanan ketring,
    Ambleber angelebi,
    Nrajang wana lan desagung,
    Manungsanya keh brasta,
    Kebo sapi samya gusis,
    Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

    Lindhu ping pitu sedina,
    Karya sisahing sujanmi,
    Sitinipun samya nela,
    Brekasakan kang ngelesi,
    Anyeret sagung janmi,
    Manungsa pating galuruh,
    Kathah kang nandhang roga,
    Warna-warna ingkang sakit,
    Awis waras akeh kang prapteng pralaya.

    Sabda Palon nulya mukswa,
    Sakedhap boten kaeksi,
    Wangsul ing jaman limunan,
    Langkung ngungun Sri Bupati,
    Njegreg tan bisa angling,
    Ing manah langkung gegetun,
    Keduwung lepatira,
    Mupus karsaning Dewadi,
    Kodrat ikii sayekti tan kena owah.
    Gajah Kencana

    Pasukan telik sandhi Majapahit

  10. awisajus
    Mei 22, 2012

    jangan mencari pembenaran…………..tetapi carilah kebenaran………..ceritera tetap ceritera……………kita hrs bs menyikapi mana yg hrs disikapi…….astungkara!

  11. Kroco Sunting
    Juli 9, 2012

    Tulisan mantab, sempat ingin beli darmogandul, eh uang belum cukup karna harus beli Bukhori Muslim terlebih dahulu. BTW tulisan bagus

  12. endik jenegoro
    Agustus 1, 2012

    kita sudah dewasa tahu,,,,,,,,,, dan banyak sejarah yang di belokan………

    jaman londo atau kumpeni memang menyerang juga dengan sejarah pula terkesan meraka benar.

    rahayu…..

  13. kakik ne
    Agustus 3, 2012

    Cerita darmo gandul bisa benar dan bisa juga salah,sekarang kita lihat faktanya ,mengenai kutukannya itu .
    Kalau kutukan itu terjadi ,,benar lah yg di ceritakan
    Tapi kalau tidak ya artinya belum benar

    • iswara wijaya
      Desember 19, 2012

      maaf mas jangan dilihat dari kutukannya ,….sebab percakapan atau bentuk umpatan atau mencemooh itu wajar dari seorang yang kalah perang

      kalau menunggu buktinya ya ga terbukti gimana sih …?

      tapi lihat dan perhatikan : Kalau Majapahit di serang kediri saya kira di seluruh pulau jawa bahkan seluruh Indonesia banyak dijumpai Candi2 dan Peninggalan arca2 atau batu2 yang bertuliskan tentang keperkasaan Raja Yang memerintah

      seperti pada Zaman Majapahit Dulu menyerang kediri juga tidak Secara brutal masa candi2 juga ikut di hancurkan , terbukti dari berbagai penemuan candi2 seluruhnya hancur bahkan tidak ada bekasnya

      secara Fakta Dari Ajaran Agama Islam Tdak boleh menyembah atau memuja Candi atau batu karena menurut Islam Samahalnya menyembah berhala , maka dari itu Setelah Majapahit Runtuh banyak candi2 yang di bumi hanguskan …….dan yang masih tersisa kebanyakan di daerah pegunungan yang medannya sangat sulit pada wakti itu , atau tempat2 yang dijadikan persinggahan perajurit yang kalah perang dan menetap hinga perang berakhir ,

      berarti secara logika penyerang majapahit bukan kediri yang sesama Hindu melainkan Demak

      kalau isi surat tersebut banyak yang mengumpat atau mencela agam Islam atau mengutuk itu merupakan percakapan kanjeng sunan dengan abdi dhalem Majapahit ataupun Raja BrawijayaV sendiri , ya tentu saja wajarlah kan Kalah Perang , seperti anda2 kalau kalah berkelahi aja pasti yang di keluarkan Umpatan Bukan …….

      lha sekarang yang menjadi pertanyaan yang membuat serat tersebut >>>>>>ya tentusaja Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri ……merupakan bentuk tembang Yang setiap harinya di rasakan Kanjeng sunan Mesti dia Penganut Agama Islam Tetapi Kanjeng sunan Masih Darah Keturunan Majapahit

      gampang kan gitu aja koq repot

  14. gogo
    Agustus 25, 2012

    mantab, baru tau neh tentang darmogandul..
    telat banget rasanya.

    ———-
    Kopral Cepot : Biar telat sing penting nikmat :lol:

  15. panembahan sotya sinarwedhi
    Agustus 26, 2012

    becik ketitik olo yo ben……←

    by sotya®

  16. Joyoyakti
    Oktober 27, 2012

    Majapahit mengalami kemunduran sejak terjadi perang saudara yg terkenal dgn Perang Paragreg. Stlh perang tsb usai,perebutan kekuasaan antar bangsawan2 Majapahit masih terus berlangsung,hingga pd thn 1400 S,Bhre Kertabumi yg diyakini sbg ayahanda Raden Patah diserbu oleh Girindrawardana dari Daha. Girindrawardana lalu di kudeta oleh patihnya sendiri yg bernama Udara
    Dilain pihak Raden Patah (adipati Demak yg kemudian menobatkan diri sbg sultan Demak I) terus membangun kekuatan maritimnya,hingga membuat Prabu Udara cemas,dan membujuk Portugis yg berkedudukan di Malaka agar menyerang Demak. Sejak itu Demak menyatakan perang trhadap Daha maupun Portugis dibawah kepempinan Adipati Abdul Qadir Ibnu Yunus ( Adipati Ibnu Yunus/Pate Unus/Pati Unus) yg kelak kemudian menjadi Sultan Demak II. Daha baru benar2 dapat ditaklukan Demak pada masa Sultan Trenggono (Sultan Demak III).

  17. Jaka Sona
    November 3, 2012

    hahahaha, itu yg dapat dirasakan dengan dongeng dalam darmogandul, sayang sapdo palon belum dateng juga, karena masih sibuk bikin jamu,,,,,,,

  18. joyokencono
    November 14, 2012

    Cape deh….Keruntuhan kerajaan di Indonesia semuanya disebabkan oleh pengkhianatan dari dalam, jadi jangan heran kalau di negara ini banyak pengkhianat demi kepentingannya sendiri. Semoga bangsa ini cepat sadar, karena persatuan dan kesatuan adalah kekuatan !!! jangan diobok-obok oleh bangsa asing walaupun itu dengan ajaran agama yg mengatasnamakan Tuhan.
    Agama tidak lebih hanya alat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, jadi jangan terjebak oleh provokasi menyalahkan agama lainnya. Semua agama tujuannya sama yaitu Sorga, karena iming2 sorga kadang2 kita lupa ada sedikit ” kepentingan ” yg di slipkan untuk keuntungan para pembuat agama tersebut, jadi pada intinya pergunakan ” otak ” kita yg diberikan Tuhan untuk berpikir tentang kebenaran, kebaikan dll. Tidak ada agama yg diturunkan oleh Tuhan, agama tak lebih hanya dibuat oleh manusia yg menerima ” bisikan ” yg lebih kita kenal dengan istilah ” wahyu”. Sedang bisikan tersebut belum dapat dipastikan itu dari Tuhan. Oke. bersatulah bangsaku, jangan demi agama kita harus saling mencelakai bahkan dengan
    tega membunuh bangsa sendiri. Ingatlah, NYawa seekor kecoa dengan
    nyawa manusia sama ” nilainya” di mata Tuhan . Ingat Tuhan tdk pernah mencabut nyawa seseorang walaupun orang tersebut sudah membunuh ribuan orang. Jadi ingat jangan dibodoh-bodohi oleh bangsa asing lagi. Tks

  19. Wong
    Desember 10, 2012

    .

  20. agungprijo
    Desember 18, 2012

    islam benturan lagi dengan dharmogandul dan gatholoc
    kalo saya amati islam itu kesana benturan kesitu benturan kesini benturan bahkan sesama islam aja jotosan antem anteman ngafirne kono ngafirne kene musrykne kono musrykne kene adad budaya banyak dimusryk syirikan rona rono kok akeh mungsuh jarene sesama muslim saudara jare kabah itu omahe gusti allah lha kok setelah ke mekah mau omahe gusti allah kok dilarang ojo maneh mlebub kakbah lha wong arep ndemek lawang kakbah wae eong arab sing njogo wis mbentak karo muring muring saben sholat dikongkon madep kakbah wong sak indenging ndonyo lek sholat kon madep kakbah nganti2 yen ora pas adepe jarene sholate ora afdol ganjarane ora maksimal nganti podo muslime engkel2an gontok2an gara2 adepe neng kakbah lha iyo wis budhal nyang mekah tanah arab kono ongkose larang bareng tekan omahe gusti allah kok ora oleh mlebu piye to iki podo2 muslime podo2 islame wae kok ora oleh mlebu omahe gusti allah ngertiyo ngono ongkos ngge munggah kaji kae luwih becik tak sumbangne fakir miskin malah tepak tur pas tibak e tibak e mbasan aku mbukak googel http://www.isi kakbah.com ternyata isine kakbah kuwi mung arupo jimat2e kaaum pagan mbiyen dadi sembahyang limang waktu madep kakbah ternyata sing di adepi mung berhala2 kaum pagan sing gemrandul piye to iki bareng ngerti mangkene aku lek sholat yo sak karepku dewe

    • iswara wijaya
      Desember 20, 2012

      siip ….sipp siiip ……

      lhayo to gobloke kui ta se ijek sholat madeb e kiblat ………hambok sak sake

      wae , gosti Allah mesti ngerti 2 tenang ae ……nek ra ngerti nak yo malah aneh ta ,……..Lha Wongyo gusti kui Maha Sempurna lan sak kabehe

      arep sholat madeb ngalor ngidol ngetan ngulon nak yo podo ae gusti ngerti

      lha yooo ta…..ora rane nek di biji 0 ,

  21. agungprijo
    Desember 18, 2012

    prabu browidjojo rodjo modjopahit ratu sing bijaksana agomo liyo njaluk ijin nyebarno agamane di ijini diwenehi palilah malah keporo diwenehi panggonan utowo wilayah iku mertandani yen prabu browidjojo iku ratu kang bijaksana berbudibowoleksono nanging opo balesane modjopahit di hancurno goro2 ora gelem ngrasuk agomo songko monco yo koyo ngene iki ajaran songko monco carane ber balas budi coba sak iki jajalen njaluk o ijin adek pure vihara gereja lsp halah paling2 ora oleh gak di ijini biso2 di embrukne karepe lek njaluk ijin dewe gelem nanging bareng genti dijaluki ijin eeeee malah nukari wis nilainen deweeeeeeeee aku malah dadi bingung

  22. agungprijo
    Desember 18, 2012

    lha iyo enek reco peninggalan budoyo nuswantoro recone apik nilai senine tinggi yo ora njawil yo ora ngganggu ngono yo di kepruki jarene marahi musryk syirik jan jane sing syetan kuwi recone opo sing ngepruki wis ngrusak karo nbengok2 muna muni iki sing nyebabne musryk syirik hebat….hebat….hebat….jan hebat tenan sak tenane musryk syirik iku panggonane neng endi to..?! sak weruhku musryk syrik iku panggone khan neng njerone ati ne manungso to..?! lan sing weruh njerone atine manungso iku sopo to..?! khan mung gusti allah piyambak ingkang pirso lha kok enek to wong weruh isi atine wong liyo hebat….hebat…hebat….dewek e madani gusti allah hebat…hebat…hebat dewek e ngembari gusti allah hebat…hebat…hebat… dewek e maha tahu koyo gusti allah lek ngono timbangane nyembah gusti allah sing layu kayafu tan keno kinoyo ngopo laisyakamislihisyaiun sing ora biso dipadak padakne yo ora keno diserupak ake khan luwih becik nyembah wong sing bengak bengok karo ngaku ngaku weruh njerone atine manungso kuwi…. hebat….hebat….hebat….mangkane lek ngomong musryk syirik sing ngati ati yen ora gelem tak dadekne gusti allah

  23. iswara
    Desember 19, 2012

    i

  24. iswara
    Desember 19, 2012

    @ penulis blog : kalau menurut saya penulis dharmagandul itu bukan orang belanda Ataupun sastrawan2 , ataupunorang kristan, pada masa pemerintahan kerajaan surakarta ataupun jogja ……….tetapi surat itu pertama kali di tulis [pakai bahasa tembang dan penulisnya adalah kanjeng sunan kalijaga sendiri ………………..padawaktu itu kanjeng sunan masih memakai bahasa2 yang sulit untuk di terjemahkan ……tentang runtuhnya majapahit seperti tembang tembang yang sekarang jika di terjemahkan memakai bahasa Indonesia sulit untuk di cari kebenarannya jika di terjemahkan oleh beberapa orang

    lha setelah kurun waktu beberapa lama baru diterjemahkan ternyata isi daripada darmagandul menyimpan rahasia peristiwa yang selama ini tejadi di pulau jawa

    coba perhatikan Majapahit saja umurnya 103 Tahun semenjak pendirinya Raden Wijaya sampai Brawijaya v ……………jika majapahit di serang oleh Ghrindawardana saya kira candi2 yang indah dan menyimpan banyak sejarah masih utuh dan yang pasti jumlahnya tidak kurang bahkan bertambah……

    tetapi ini ceritanya beda kelilinglah pulau jawa dan hitunglah candi2 yang masih tersisa di pulau jawa , bisa di hitung dengan jari ,……..

    itu membuktikan kalau Majhapahit diserang oleh Putranya sendiri yaitu raden Patah , Atau Raja Demak , yang telah masuk Islam

    ketika akhir dari kerajaan demak , disitulah proses Islamisasi yang menolak menyembah Batu , jadi supaya candi2 itu tidak di sembah semuanya banyak yang di hancurkan dan yang tidak bisa dihancurkan di tutup dengan pasir menyerupai gunung atau tanah Yang menjulang Tinggi , banyak Buku2 kesussastran yang di bakar pada waktu itu , dan untuk candi2 yang tersisa kebanyakan di daerah pegunungan …….dikarenakan prajurit yang kalah perang banyak melarikan di daerah yang tinggi disitulah prajurit demak tidak bisa mengejar dan memburunya karena banyak prajurit yang tersisa menggunakan Taktik gerilya di daerah pegunungan ,,,…karena banyaknya kekalahan prajurit demak yang tinggal di lereng2 gunung hingga peperangan berakhir…….

    coba perhatikan lagi diantara para Wali hanya sunan Kalijaga sendiri yang tidak pernah memakai Baju putih , pasti Hitam ……karena bentuk penyesalan terhadap Majapahit yang juga sunan sendiri adalah keturunan dari Majapahit ……

    jangan menggabung gabungkan ini dengan penjajahan modernisasi jaman belanda , kalau Belanda menjajah kesini yang diambil cuma bahan2 rempah2 dan tenaga yang bayarannya sedikit

    memang kejam yang namanya juga penjajah , tetapi Belanda banyak membangun juga di sini secara moderen seperti waduk , gedung , rel kereta api , banyak juga dalam pendidikan ,…..tidak merusak adat istiadat orang jawa ,…..malah banyak orang Belanda yang menirunya mempelajari tentang Sastra2 yang di buat di candi2 sisa2 peninggalannya zaman majapahit ,

    kalaupun sekarang Candi2 itu boleh dibeli saya rasa banyak pihak dari negara lain akan membelinya …..

    perlu anda ketahui kalau serat Dharmagandul itu dulu yang nulis adalah Kanjeng Sunan Kalijaga

  25. iswara wijaya
    Desember 19, 2012

    Agama Islam itu memang Benar Agama Dan Nabi Yang terakhir sebagai Nabi Penutup ,…..tapi kalau mencari kebenarannya sendiri malah salah lho………soalnya berbenturan semua ,……..sama Budda Berbenturan , Sama Hindu Berbenturan , Sama Kristen , Khatolik berbenturan ………..ini penyebaran Agama Islam Di jawa Berbenturan Sama Fakta sejarah …….ya kan malah kedengarannya aneh kan

    jadi hati2 kalau menganut Agama Islam Jangan Mengusik Agama Lain

    sebenarnya ini bukan masalah Agama Tetapi sejarah Yang menyangkut penyebaran Agama ,…..jadi kalau kita berbicara sejarah kita harus meninggalkan dulu agama jadi ga saling menuduh………

    seperti serat dharmagandul penulis blog ini bilang bisa jadi yang menulis orang kristen yang di suruh orang belanda sebagai bentuk penjajahan

    kan namanya malah cenderung pengdu domba ,dan membuat fakta yang salah ,

    selama 2012 tahun setelah kelahiran Mesias sampai sekarang kristen dan katholik itu tidak pernah menyangkut nyangkut tentang Agama terdahulunya seperti Budda Dan Hindu yang adanya 5000 tahun SM dan Apalagi Agama Islam Yang Adanya sekitar setelah Masehi……

    saya selama ini belum pernah dengar hindu berbenturan sama budda < hindu sama khatolik , kristen sama budha dan sebaliknya ……..

    aneh………….renungkan bukan masalah kebenaran jangan mencari kebenaran tetapi jadilah Umat yang Benar . titik

    • jumancok kabeh JANCOKKKKKKK
      Desember 24, 2012

      mungkin panjenengan baca sejarah dari india, apakah hindu dan budha tak pernah bentrok? bgm srilangka? waktu lampau di jawa? kenapa di india budha kurang eksis di banding hindu di india? lebih baik daripada banyak repot debat, bgm kalau yg di leiden di angkut kesini semua? apakah kita masih punya hutang ke belanda untuk kemerdekaaN? berapa juta gulden?apakah katolik tidak pernah bentrok dengan protestan? bgm munculnya kaum protestan dan orang agnostik, atau atheis barat? irlandia? apakah atheis tak pernah bentrok dengan yg beragama?

      • Midjo, komandan bebek negara CREW
        Desember 25, 2012

        KWEK KWEK KWEK

بسم الله الرحمن الرحيم

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: