Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

PUTERA FAJAR

Masa Pergolakan Yang Besar

DI BULAN Agustus 1945 Indonesia tengah berada dalam situasi pergolakan nasional. Jepang berusaha menutupi situasi medan perang dan perkembangannya yang buruk bagi pihaknya. Tapi hampir semua kaum terpelajar dan pergerakan di Indonesia mendengar berita-berita tentang perkembangan perang dunia di Barat. Rezim fasis Jerman yang di ambang kekalahan, Berlin telah direbut tentara Soviet dan Hitler telah bunuh diri di markas persembunyiannya.

Yang banyak berjasa dalam penyebaran informasi penting itu adalah para pekerja koran ilegal “Menara Merah”. Koran ini terbit stensilan di bawah tanah, dan dibagi-bagi dari tangan ke tangan. Ini juga yang menyebabkan semangat perlawanan rakyat makin bertambah besar. Meskipun teror berdarah Jepang semakin membabi buta, namun grup-grup perlawanan baru banyak bermunculan. Terutama banyak grup-grup perlawanan baru yang dipimpin oleh kader-kader PKI bawah tanah. Sidik Kertapati, Wikana, Aidit dan Lukman, adalah beberapa nama di antara tokoh-tokoh pimpinan gerakan perlawanan ilegal itu. Organisasi- organisasi seperti “Indonesia Merdeka” dan “Gerakan Indonesia Baru”, telah memberikan sumbangan besar dalam mempersiapkan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan nasional.

Tidak terhitung betapa banyak orang-orang komunis dan sosialis kiri yang telah membayar dengan nyawa mereka, demi sikap patrotik yang mereka nyatakan secara konsekuen. Termasuk mereka yang bernama Pamuji dan Sukayat, serta masih banyak lagi nama-nama kader PKI ilegal, yang gugur dalam mempersiapkan pemberontakan-pemberontakan melawan Jepang, oleh batalyon-batalyon PETA di Blitar pada 14 Februari 1945.

Memang kelompok-kelompok komunis bersenjata itulah yang memimpin perlawanan fisik. Tokoh-tokoh muda terkemuka, seperti Aidit Nyoto dan Wikana, tampil di barisan depan dalam memimpin perjuangan bersenjata ini.

Seperti halnya kaum Komunis Vietnam, juga PKI berangkat dari titik tolak analisis, bahwa dalam sekitar bulan Agustus 1945 itu fasisme Jepang sudah tidak mampu lagi menghadapi perlawanan rakyat di mana-mana. Sedangkan tentara Sekutu, yang baru saja keluar dari perang besar, tidak bisa segera melancarkan aksi pendudukan di seluruh negeri-negeri bekas jajahan Jepang. Maka terjadilah masa kosong yang bisa menimbulkan kesempatan bersejarah.

Kemerdekaan Republik Indonesia berhasil diproklamasikan tanpa pertumpahan darah. Rakyat di seluruh pelosok negeri bangkit melakukan aksi-aksi kemerdekaan sendiri-sendiri. Kaum buruh mengamankan instalasi-instalasi produksi. Buruh kereta api, yang dipimpin oleh kader PKI bawah tanah, Jokosujono, mengambil alih kekuasaan atas prasarana jaringan rel dan stasion. Tapi yang paling penting satuan-satuan tentara Jepang satu demi satu diserbu dan dilumpuhkan, persenjataan mereka direbut oleh aksi-aksi pemuda yang bergerak spontan. Kesatuan PETA dan HEIHO terpaksa dibubarkan. Tapi banyak anggota dua pasukan itu yang sudah tak lagi mau patuh kepada Jepang, tidak mau menyerahkan senjata mereka, malah berdesersi menggabung dengan lasykar-lasykar para pemuda. Pertempuran sengit terjadi di sana-sini, di mana Jepang tidak mau sukarela menyerah. Tapi pada akhirnya tidak ada lagi perlawanan. Jauh sebelum Sekutu mendarat masuk Indonesia, lebih separoh tentara Jepang sudah diinternir di kamp-kamp Republik Indonesia. Mereka yang masih di luar kamp sudah tidak ada lagi yang bersenjata, sehingga sudah tidak ada daya untuk berlawan.

Pada masa pendudukan Jepang kerjasama aksi perlawanan antara gerakan legal dan ilegal masih sangat erat. Sukarno dan kaum politisi dari kalangan burjuasi nasional naik daun, baik di mata rakyat Indonesia maupun di mata dunia internasional. Tapi sementara itu, mereka yang melakukan perlawanan bersenjata dan langsung berhadapan dengan maut, yang sebagian besar terdiri dari kaum buruh, tani dan pemuda, hampir tidak pernah mendapat sorotan perhatian. Tidak banyak diketahui, bahwa mereka itulah sesungguhnya yang mendesak Sukarno-Hatta yang masih tetap dalam bimbang, ketika situasi kritis telah mencapai puncaknya. Bom atom Amerika Serikat sudah jatuh, Jepang menjelang tekuk lutut, dan tentara Sekutu belum sempat masuk Indonesia. Sementara itu seluruh kekuatan rakyat sudah bersatu padu, mendesak agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera diumumkan.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 tokoh-tokoh muda komunis dan sosialis seperti Aidit, Wikana dan Subadio, bersama dengan tokoh pemuda Murba Suroto Kunto masih berdebat dengan Sukarno- Hatta. Namun tanpa hasil yang pasti. Baru ketika perundingan dilanjutkan di Rengasdengklok, dan desakan agar proklamasi kemerdekaan segera diucapkan didukung oleh wakil-wakil pemuda berbagai golongan, Sukarno bersedia memenuhi harapan para pemuda. Perundingan Rengasdengklok itu berlangsung di rumah seorang Tionghwa, yang menyediakan rumah kediamannya sebagai markas bawah tanah gerakan kemerdekaan. Di halaman rumah Tionghwa inilah sesungguhnya, Merah Putih telah berkibar bebas untuk pertama kali di Indonesia. Dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan pada jam 10:00 WIB tanggal 17 Agustus 1945 itudiumumkan.

Kelambatan dan kembimbangan bertindak tegas ketika itu, tenggelam dalam semangat dan perasaan rakyat seluruh negeri, yang bersatu padu berjuang untuk kemerdekaan bangsa dari penjajahan asing. Juga tidak ada orang yang menimbang dan membanding jasa, apakah dia dari kelompok ini atau itu, apakah dia dari gerakan ilegal atau legal. Dalam masa pergolakan hebat itu semua orang menjadi satu sesaudara dan kawanseperjuangan*.

KUMANDANG suara Proklamasi yang diucapkan Soekarno, dan ditandatangani oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia, dari halaman depan rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan 56 Jakarta, telah mengalir bagaikan air bah perjuangan di seluruh pelosok negeri menuju ke satu muara samudera kemerdekaan.

Pemerintah Kerajaan Belanda mengikuti perkembangan di negeri bekas jajahannya yang luas dan kaya itu dengan penuh kekhawatiran. Tetapi luka-luka perang yang dideritanya selama Perang Dunia yang baru saja usai, mencegah kemungkinan negeri kecil di pantai barat Eropa ini mengambil tindakan atas bekas jajahannya. Yang mereka lakukan ialah kampanye politik untuk membangun opini dunia, dengan melancarkan fitnah bahwa Sukarno adalah kolaborator Jepang, dan dengan demikian Republik Indonesia adalah “republik” fasis. Republik Indonesia adalah “Bom Waktu Jepang”, begitu sebutan yang diberikan oleh Perdana Menteri Belanda Gerbrandy**. Tapi tanpa menghiraukan fitnah dan manuver politik kolonial itu, Republik Indonesia telah bertekad: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

Bersama dengan perjalanan waktu, keadaan pergolakan dunia juga berkembang. Juga Indonesia tak terkecuali. Gerakan massa yang terkoordinasi telah menghasilkan kemenangan, negara baru Republik Indonesia telah lahir. Namun demikian lambat-laun kenyataan memperlihatkan adanya konflik-konflik kepentingan antara klas-klas yang berbeda. Tampak jelas betapa besar ambisi kaum burjuasi nasional untuk memonopoli kekuasaan di pucuk pimpinan negara muda ini. Dengan segala daya upaya mereka menentang berbagi kekuasaan dengan wakil-wakil kaum buruh dan tani. Pertentangan demikian juga tercermin di kalangan tentara dan rakyat yang bersenjata.

Jumlah pasukan-pasukan bersenjata republik muda ini masih terlalu kecil untuk bisa mempertahankan seluruh wilayah negerinya yang luas. Di samping jumlah besarnya pasukan bersenjata, juga sebagai negeri kepulauan, kemudahan prasarana angkutan antar-pulau boleh dikata tidak ada. Untunglah, situasi dan kondisi pertahanan dan pembelaan yang rawan ini, bisa diselamatkan oleh banyaknya satuan-satuan bersenjata yang tumbuh di kalangan rakyat. Berbagai macam barisan kelasykaran ini lahir dari semangat spontan untuk pembelaan negara, bersama-sama dengan pasukan-pasukan Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Ternyata tantangan berat segera harus mereka hadapi. Pada tanggal 29 September 1945, Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu wilayah komando Asia Tenggara, Lord Mounbatten, memberi perintah pada sisa-sisa pasukan Jepang yang masih ada di markas-markas di berbagai daerah untuk menghancurkan Republik Indonesia.

Jepang gagal melaksanakan perintah Sekutu. Bersamaan itu pasukan pertama Kerajaan Inggris didaratkan di Jawa, yang diboncengi oleh pasukan sekutunya, yaitu Tentera Kerajaan Belanda. Mereka datang ternyata dengan menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Tidak untuk mengurus tawanan perang, tentara pendudukan Jepang yang telah dilucuti dan ditawan oleh Republik Indonesia. Tapi justru untuk memulihkan Indonesia kembali sebagai negeri jajahannya.

About these ads

11 comments on “PUTERA FAJAR

  1. alamendah
    April 29, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sampai 12 halaman?. Wah musti nyicil beberapa kali, nih….

    • kopral cepot
      April 29, 2010

      alon-alon asal kelakon ajah ;)
      hatur tararengkyu pertamaxnyah :P

  2. andipeace
    April 29, 2010

    karena saya beranggapan bahwa seorang penulis itu tidak butuh banyak komentar alias sedikit komentar yang penting tidak OOT (out of topik) maka saya ijin copas duluh ini artikelnya dan komentarnya menyusul besok siang..
    :D tidak apa-apakan pak?? :D

    salam piss

    ——————
    Kopral Cepot : Pissss ;)

  3. Ping-balik: Tweets that mention PUTERA FAJAR « Biar sejarah yang bicara …….. -- Topsy.com

  4. andipeace
    April 30, 2010

    Ternyata ITB sekolah tinggi yang penuh sejarah :D sama sekali saya tidak mengetahui tentang hal ini.Terus apakah buku sejarah indonesia yang dibuat kasto rekso tersebut disetujui oleh sahabatnya (bung karno).membaca tulisan ini sampai habis dan sedikit mengerti tentang makna yang terkandung dalam tulisan ini, apakah setelah berhentinya presiden soekarno.sudahkah indonesia tercinta ini menemukan sosok yang menyerupai penyambung lidah rakyat dengan gaya bicara dan kepribadian yang tidak dibikin-bikin…??berpendapat bahwa cerita tersebut belum selesai, karena :
    1. Tidak ada keterangan bahwa buku sejarah indonesia itu disetujui atau disukai oleh bung karno apa tidak.
    2. Sahabat bung karno belum menemukan definisi argument, apakah sahabatnya yang kini menjadi tokoh bangsa besar masih seperti duluh dikalah masa perjuangan berbagi periuk nasi dan tikar tetap seperti duluh apakah sudah berubah semaikin positif apa negatif.
    3. Respon apa yang dilontarkan sahabat kasto rekso ketika mendengar berita dari seorang jendral tentang terjadi insiden dibrunei dan Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing (selain respon lelucon).
    Demikian batas daya nalar cah lapindo ini bercuap-cuap setelah membaca tulisan sejarah ini.saya sangat menyukai cerita ini.
    Ditunggu cerita lain yang tidak kalah serum dan penuh ilmu pengetahuan.

    Salam adem ayem dan sejahterah pak

  5. andee
    Mei 12, 2010

    good post friend….like this

  6. andee
    Mei 12, 2010

    blogwalking here guys

  7. trusted ptc
    Juli 3, 2010

    Ceritanya menarik untuk dibaca…kayaknya perlu nyicil buat bisa baca semua halaman,, I like it… BOS

    —————-
    Kopral Cepot : Silaken Bos … nyante ajach ;)

  8. baitul hikmah
    Juli 16, 2010

    sejarah bukan lah barang baru, karena dia ada sebelum kita. Tapi juga bukan barang usang yang layak kita buang. Sejarah ibarat mutiara yang terpendam, tertimbun dalam ditumpukan sampah kehidupan. Beruntunglah orang yang mendapatkan mutiara tesebut karena dia telah mendapatkan harta yang sangat berharga…..

    tengkyuh ah…..!!!
    tarik maaaa…ng!!!

    ———————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu …. heu heu heu heu :D

  9. Dini S.Setyowati
    Oktober 14, 2011

    Trimakasih Kopral Cepot salam perkenalan silahkan kitaberkaan di Face Book.

    ——————-
    Kopral Cepot : Terimakasih kembali … mohon maaf sebelumnya tidak minta ijin untuk dimuat disini, krn tdk tau harus kemana … ;)

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di MENGENAL PARTAI POLITIK oleh NURUL FAJRIAH Juli 23, 2014
    solusi obat herbal untuk penyakit yang sedang anda deerita, mohon dimaafkan jika tidak berkenan bahaya dan resiko bila tertular penyakit sipilis
    NURUL FAJRIAH
  • Komentar di Cerita Dibalik Supersemar oleh andarsihombing Juli 22, 2014
    Soekarno dgn gagah memerdekakan bangsa ini, tp sayang hrus berakhir dgn cara yg tdk elok, seandainya soekarno brani ambil keputusan utk membubarkan PKI mgkin perdebatan ttg supersemar tdk akan terjadi, tp soekarno ttplah soekarno dgnprinsipnya yg teguh, ato mgkn dia yakin kalau G30S/PKI jg mrupakan konspirasi utk menjatuhkannya atas kebijakan luar negerinya. […]
    andarsihombing
  • Komentar di Garis Waktu Sejarah Nusantara oleh GARIS WAKTU Juli 22, 2014
    […] wow, sangat detail and reflective : Garis Waktu Sejarah Nusantara […]
    GARIS WAKTU
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh ISLAM-PERANG Juli 21, 2014
    menurut saya Pemberitaan SISINGAMANGARAJA XII dan THOMAS MATULESSY diberitakan tanpa melibatkan koreksi dari urutan waktu, fungsi dan keikutserta'an pihak keluarga / keturunan dalam memberi kesaksian. SISINGAMANGARAJA XII > > Agama "Batak Asli" THOMAS MATULESSY > > Agama "Nasrani", (Keluarga MATULESSY dan seluruh anggota- […]
    ISLAM-PERANG

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: