Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

PUTERA FAJAR

Kasto memandanginya. Di atas meja tergeletak naskah bukunya. Pasti Sukarno sudah membacanya. Ia mengharap agar penuturan kejadian-kejadian sesuai dengan apa yang diinginkannya. Tidak bisa lain! Sekarang tinggal bagaimana ia menilai tulisannya itu. Kasto sendiri, dalam usaha memaparkan kejadian-kejadian, tetap bertahan pada kenyataan. Namun dengan tidak meninggalkan wawasannya yang kritis. Tidak ada pemujaan- pemujaan, melainkan hanya mengatakan sebagaimana adanya. Banyak masalah yang belum terjawab dan, menurut Kasto, memang hanya masa depan sejarah sendiri yang akan sanggup memberikan jawabannya.

“Kenapa kau tidak pindah ke Jakarta saja?” Tiba-tiba Presiden memotong lamunannya.

“Di Bandung kau hanya seorang guru SMA. Di sini bisa aku tempatkan kau pada jabatan yang sesuai dengan kemampuanmu”.

Kasto sudah menduga akan datangnya tawaran seperti itu. Memang Sukarno akan selalu senang berada dekat dengan kawan- kawannya dari masa perjuangan dulu. Mungkin hanya terhadap mereka pula Sukarno ikhlas menyerahkan kepercayaannya. Tapi Kasto tidak suka tinggal di ibukota yang baginya terlalu ramai.

“Terimakasih!” Jawab Kasto. “Tawaranmu aku hargai. Tapi biarlah aku tetap di Bandung, dan bekerja sebagai guru biasa. Di sana rasaku lebih tenang untuk bisa menulis.”

Sukarno mengangguk-angguk. Sambil kelihatan berpikir. Raut wajahnya menjadi bersungguh-sungguh, dan bayangan senyumnya yang ironis hilang.

“Aku sedang dalam kesulitan To!” Katanya sambil menarik nafas panjang.

“Kadang-kadang aku tidak tahu lagi, siapa sekarang ini yang masih dapat aku percaya. Orang pada membohongi aku. Banyak hal- hal yang terjadi diam-diam di belakang punggungku. Bahkan melanggar perintah-perintahku. Aku dikelilingi para penjilat yang setiap waktu sanggup mengkhianati tujuan karya hidupku .”

Kasto memandanginya dengan penuh pengertian.

“Ada beberapa pertanyaan padaku, Bung!” Kata Kasto kemudian. “Dan terus terang aku kurang mengerti. Apa sih sebenarnya yang kita maksud dengan kata ‘revolusi’?”

Sukarno menatap wajah Kasto dengan heran. Sejurus saja. Kemudian bicaralah ia berpanjang lebar tentang arti kesatuan nasional, dan ancaman bahaya yang mengintai dari negara tetangga Malaysia. Lalu katanya sambil mengangkat tangannya:

“Seluruh dunia sekarang menghadap ke kita, To! Indonesia menjadi contoh. Tentu karena keberaniannya. Apakah karena itu, maka kita mau mereka hancurkan?”

Kasto berusaha untuk tidak terseret arus emosi. Memang sudah bukan rahasia lagi, bahwa sang Presiden ini sering terbawa oleh patosnya sendiri. Tapi apakah dengan patos, problem negeri akan terselesaikan? Begitu pikir Kasto.

“Bung!” Pelan-pelan ia kembali membuka pembicaraan. “Mungkin karena posisimu sekarang jauh di atas rakyat. Bung terkurung di istana, dan ditambah lagi dengan segala kebohongan para penjilat yang kau ceritakan tadi. Kau lalu menjadi kurang sadar terhadap kenyataan.”

Sukarno diam mendengarkan.

“Aku sebagai guru kecil di daerah, mengalami langsung kenyataan hidup sehari-hari. Dan karena itu aku merasa dicengkam semacam firasat, bahwa negeri ini sedang menuju ke malapetaka …”

Sukarno tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tidak mengucapkan kata-kata bantahan satu patah pun. Ia hanya menarik kursinya lebih mendekat pada Kasto. Dan bertanya perlahan-lahan.

“Coba To! Katakan, apa yang menggelisahkanmu? Apa yang menurutmu kita telah melakukan kesalahan?”

“Sebenarnya kita harus menyelusuri garis benang sejarah, Bung. Karena tidak semua tekanan dan kepincangan adalah hasil dari kesalahan masa kini. Aku bahkan sering merasa, bahwa “rumah” yang bernama Indonesia ini telah dibangun di atas fondasi yang lemah. Fondasi yang tak kuat menopang bobot rumah itu sendiri.”

“Kasto!” Sukarno memotong. “Aku inilah fondasi Indonesia itu! Rumah Indonesia ini aku. Dibangun dengan keringat dan kekuatan rakyat, itu benar! Tapi dengan ilhamku. Tanpa aku Indonesia tidak lahir.”

Penjelasan Sukarno yang berapi-api itu dilewatkan Kasto tanpa tanggapan. Tapi setelah merenung sejenak, kembali Kasto yang bicara.

“Bung! Kau bersama kami, seluruh rakyat, bersama-sama berjuang merebut kemerdekaan dari Belanda. Kau juga yang berhasil menyatukan bangsa ini dalam perjuangan untuk kemerdekaan itu. Tapi, sesudah tujuan mulia itu tercapai, kita lalu menjadi tercerai berai. Tidak ada lagi tujuan dan ide yang menyatukan kita di dalam satu derap langkah bersama. Kita telah terbagi-bagi dalam berlapis-lapis masyarakat, yang masing-masing mempunyai visinya tentang masa depan yang berbeda-beda. Sampai hari ini kita mandek di situ. Kesatuan nasional yang lahir dan menjadi kuat ketika menghadapi perjuangan melawan kolonialisme dulu, sekarang ini sudah mati.”

Sukarno menatap wajah Kasto terheran-heran.

“Kasto! Sudah berkali-kali aku mendengar teori ini. Apa kau Komunis, Kasto? Kau juga ikut-ikut membagi-bagi rakyat dalam klas-klas yang harus saling bentrok satu sama lain?”

“Aku bukan Komunis, Bung! Kau tahu itu. Tapi terbentuknya klas-klas dalam masyarakat, itu bukan gejala yang dikarang- karang oleh Komunis! Itu kenyataan yang objektif!” Bantah Kasto.

“Tidak!” Sahut Sukarno. “Kau keliru. Indonesia lain. Justru keanekaragaman itulah kekuatan kita, Kasto!”

“Ya, aku juga tahu. Juga setuju. Bhineka Tunggal Ika. Tapi, apakah Bung benar-benar percaya? Jika ada satu kelompok kecil korup, yang tanpa batas memperkaya diri di atas kesengsaraan rakyat jelata, apakah itu akan memperkuat kesatuan? Atau, apakah Bung tidak percaya kenyataan? Bahwa hari ini harga satu kilogram beras sudah enam puluh lima kali lebih mahal ketimbang harga lima tahun yang lalu? Enam puluh lima kali, Bung …”

“Aku tahu itu!” Jawab Sukarno. “Itulah memang salah satu dari kesulitan-kesulitan yang kita hadapi sekarang. Tapi kau jangan lupa, bahwa Indonesia adalah negara yang relatif masih muda. Masih dalam proses belajar sesudah tiga ratus tahun diperbudak. Apalagi sekarang! Ketika seluruh kekuatan sedang kita pusatkan pada konfrontasi dengan Malaysia.”

“Tapi Bung!” Kasto belum mau menyerah. “Bukan konfrontasi yang menjadi problem utama. Tapi fakta, sesudah kemerdekaan tercapai, pertentangan dalam negeri antargolongan dan antar- partai menjadi semakin tajam. Dan kau mencoba menyelimuti fakta itu dengan beledu harmoni dan permadani Bhineka Tunggal Ika!”

Sukarno diam.

“Kau letakkan musyawarah sebagai sendi utama dalam haluan negara. Benar. Itu semua karena jasamu. Tapi, Bung! Semuanya itu tidak bisa mengubah kenyataan di dalam negeri kita ini. Kenyataan yang kumaksud ialah, bahwa perbedaan dan kepincangan sosial semakin meruncing, dan sebagai akibatnya lahirlah golongan-golongan yang tujuannya serba berlainan dan bahkan bertentang-tentangan. Satu-satunya perekat yang selama ini bisa agak menyatukan hanyalah engkau, Bung. Ya, Bung Karno sendiri! Tapi, menurut pendapatku, ini bukan basis yang solid untuk bisa membangun negeri, yang dengan tatanan modern dan dengan rakyat yang makmur.”

“Kau keliru, Kasto! Sangat Keliru!” Sukarno memperingatkan dengan sabar. “Bukan. Bukan aku, Bung Karno, kekuatan pemersatu. Tapi Nasakom itulah yang mempersatukan kita dan seluruh kekuatan rakyat. Semua aliran bersatu di dalam front persatuan. Baik yang nasionalis, agama, maupun komunis. Ini, Kasto. Lembaga inilah basis persatuan kita!”

“Tapi Nasakom tidak melakukan politik apa-apa, Bung!” Kasto membantah. “Yang berpolitik adalah Bung Karno. Sekali lagi, Bung Karno. Bukan Nasakom. Memang Nasakomlah yang sebenarnya harus giat. Tapi ternyata lembaga ini hanya menjadi semacam paguyuban. Atau …, karena memang tidak sanggup?”

Sukarno sebentar merenung.

“Mengapa tidak sanggup?” Katanya kemudian. “Ya, mengapa tidak? Kalau kita bersihkan badan ini dari elemen-elemen yang korup? Dan kemudian diserahi tanggungjawab? Termasuk untuk menurunkan harga beras? Mengapa tidak bisa?!”

“Tentu saja itu bisa, Bung. Apalagi kalau bersatu untuk tujuan yang sama. Tapi justru tujuan yang sama inilah yang tidak ada. Sejak republik sudah diproklamasikan, sejak itu pula sebenarnya tujuan bersama telah hilang …”

“Oh, tidak!” Sukarno bangkit melompat dari tempat duduknya. “Tujuan bersama itu masih ada.” Ia melangkah mondar- mandir di ruangan itu, sambil tangannya tak henti-henti bergerak, menyertai setiap ucapan kata-katanya.

“Masih ada tujuan bersama yang agung itu, To!” Katanya meneruskan. “Yaitu meneruskan revolusi nasional yang belum selesai. Ini Kasto! Inilah tujuan bersama yang menggairahkan. Bangsa muda yang sedang bangkit, dan melangkah bersama dalam satu derap barisan …”

***

About these ads

11 comments on “PUTERA FAJAR

  1. alamendah
    April 29, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sampai 12 halaman?. Wah musti nyicil beberapa kali, nih….

    • kopral cepot
      April 29, 2010

      alon-alon asal kelakon ajah ;)
      hatur tararengkyu pertamaxnyah :P

  2. andipeace
    April 29, 2010

    karena saya beranggapan bahwa seorang penulis itu tidak butuh banyak komentar alias sedikit komentar yang penting tidak OOT (out of topik) maka saya ijin copas duluh ini artikelnya dan komentarnya menyusul besok siang..
    :D tidak apa-apakan pak?? :D

    salam piss

    ——————
    Kopral Cepot : Pissss ;)

  3. Ping-balik: Tweets that mention PUTERA FAJAR « Biar sejarah yang bicara …….. -- Topsy.com

  4. andipeace
    April 30, 2010

    Ternyata ITB sekolah tinggi yang penuh sejarah :D sama sekali saya tidak mengetahui tentang hal ini.Terus apakah buku sejarah indonesia yang dibuat kasto rekso tersebut disetujui oleh sahabatnya (bung karno).membaca tulisan ini sampai habis dan sedikit mengerti tentang makna yang terkandung dalam tulisan ini, apakah setelah berhentinya presiden soekarno.sudahkah indonesia tercinta ini menemukan sosok yang menyerupai penyambung lidah rakyat dengan gaya bicara dan kepribadian yang tidak dibikin-bikin…??berpendapat bahwa cerita tersebut belum selesai, karena :
    1. Tidak ada keterangan bahwa buku sejarah indonesia itu disetujui atau disukai oleh bung karno apa tidak.
    2. Sahabat bung karno belum menemukan definisi argument, apakah sahabatnya yang kini menjadi tokoh bangsa besar masih seperti duluh dikalah masa perjuangan berbagi periuk nasi dan tikar tetap seperti duluh apakah sudah berubah semaikin positif apa negatif.
    3. Respon apa yang dilontarkan sahabat kasto rekso ketika mendengar berita dari seorang jendral tentang terjadi insiden dibrunei dan Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing (selain respon lelucon).
    Demikian batas daya nalar cah lapindo ini bercuap-cuap setelah membaca tulisan sejarah ini.saya sangat menyukai cerita ini.
    Ditunggu cerita lain yang tidak kalah serum dan penuh ilmu pengetahuan.

    Salam adem ayem dan sejahterah pak

  5. andee
    Mei 12, 2010

    good post friend….like this

  6. andee
    Mei 12, 2010

    blogwalking here guys

  7. trusted ptc
    Juli 3, 2010

    Ceritanya menarik untuk dibaca…kayaknya perlu nyicil buat bisa baca semua halaman,, I like it… BOS

    —————-
    Kopral Cepot : Silaken Bos … nyante ajach ;)

  8. baitul hikmah
    Juli 16, 2010

    sejarah bukan lah barang baru, karena dia ada sebelum kita. Tapi juga bukan barang usang yang layak kita buang. Sejarah ibarat mutiara yang terpendam, tertimbun dalam ditumpukan sampah kehidupan. Beruntunglah orang yang mendapatkan mutiara tesebut karena dia telah mendapatkan harta yang sangat berharga…..

    tengkyuh ah…..!!!
    tarik maaaa…ng!!!

    ———————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu …. heu heu heu heu :D

  9. Dini S.Setyowati
    Oktober 14, 2011

    Trimakasih Kopral Cepot salam perkenalan silahkan kitaberkaan di Face Book.

    ——————-
    Kopral Cepot : Terimakasih kembali … mohon maaf sebelumnya tidak minta ijin untuk dimuat disini, krn tdk tau harus kemana … ;)

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: