Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

PUTERA FAJAR

TAMPAKNYA Jepang semakin besar menaruh kepercayaan pada Sukarno. Sehingga oleh karenanya ia diundang untuk berdialog dengan pemerintah pusat. Suatu saat Sukarno diundang ke Tokyo. Pada upacara kenegaraan untuk menyambut kedatangannya, Tenno Heika menyematkan medali penghargaan di dadanya.

Bagi Sukarno kesempatan itu digunakannya untuk mengamati situasi Jepang khususnya dan dunia pada umumnya. Hasil selidik mata cermatnya memperlihatkan kenyataan padanya, bahwa posisi Jepang di peta pertarungan dunia sangat memburuk. Karena itu dalam hati Sukarno memperhitungkan, sikap Jepang terhadap Indonesia pasti akan makin melunak. Kemudian selanjutnya, asal topeng loyalitas tetap bisa dimainkannya dengan pandai dan selamat, pasti Jepang akan makin bersedia memberi konsesi-konsesi lebih luas.

Sungguh suatu manuver politik yang tak lepas dari aspek petualangan. Vivere peri coloso! Begitu menurut kata-kata Sukarno sendiri. Politikus lain, jika harus dalam posisi seperti Sukarno ketika itu, barangkali tidak akan bisa tahan. Tapi beda dengan Sukarno. Ia sudah berpengalaman ketika menghadapi Belanda. Selain itu ia pun mendapat kepercayaan besar dari rakyat. Jelas bahwa rakyat mencintainya. Bahkan orang-orang yang harus bekerja sebagai romusha, membangun rel-rel kereta api dan jalan raya di pedalaman Burma, dan kemudian mati karena kelaparan atau siksaan, sebelum hembusan nafas terakhir terputus, mereka masih sempat membisikkan sepatah kata: “Merdeka!”

PADA saat itu Sukarno menikah untuk ketiga kali. Istri keduanya bernama Fatmawati, yang jauh lebih muda ketimbang Inggit Garnasih – istrinya yang terdahulu. Tidak lama setelah mereka menikah, lahirlah anak mereka yang pertama. Anak laki-laki. Dalam tahun 1944 atau tahun Showa 2604.

Sementara itu situasi dan posisi Jepang di medan perang makin memburuk. Tetapi semakin ia terdesak dari gelanggang internasional, semakin pula ia berusaha mati-matian untuk mempertahankan kekuasaannya di Indonesia. Meskipun untuk itu ia harus menempuh jalan dengan membuka banyak peluang dan kelonggaran. Contoh-contoh tentang ini, misalnya, Sang Merah Putih boleh dikibarkan, selama di samping kiri bendera Hinomaru. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” boleh dinyanyikan, selama didahului oleh lagu “Kimigayo”. Tidak lama sesudah kelonggaran-kelonggaran itu diberikan, dibentuk pula Chuo Sangi In, yaitu semacam badan penasihat bagi pemerintah Balatentara Dai Nippon yang terdiri atas orang-orang Indonesia. Sukarno diberi kuasa untuk memilih dan mengangkat orang-orang untuk duduk di badan ini. Kelak, jika Indonesia sudah merdeka, para anggota Chuo Sangi In itulah tokoh-tokoh terkemuka pertama di dalam pemerintah Republik Indonesia.

Namun demikian, bersamaan pada waktu itu juga, komando-komando tentara pendudukan Jepang di dalam negeri semakin ganas. Pengejaran dan penangkapan, pembunuhan dan pembasmian tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok perlawanan fisik makin meningkat. Ratusan cendekiawan dengan berencana ditangkapi, dibawa ke pedalaman Kalimantan untuk dibunuh di sana. Sedikit saja dari mereka itu yang dapat diselamatkan oleh Sukarno, sesudah secara pribadi ia menghubungi beberapa orang jenderal tertentu. Meskipun begitu perjuangan revolusioner tetap berkobar dengan gagah di sana-sini. Di Blitar, misalnya, terjadi pemberontakan bersenjata oleh satu kelompok pasukanDaidan (setingkat batalyon) PETA kota itu.

Di tengah kegentingan yang semakin memuncak itu, Sukarno seolah-olah bersikap ambil jarak dengan kelompok-kelompok kiri yang aktif di bawah tanah. Ia tahu benar, andaikata ia serukan komando “angkat senjata!”, rakyat pasti akan mendengarnya. Dan situasi seluruh negeri seketika akan berubah menjadi gelombang lautan api, atau gunung berapi yang meletus dan memuntahkan lahar, yang akan menelan lenyap kekuasaan Jepang.

Tetapi Sukarno diam. Menahan diri. Menjaga agar jangan terjadi pertumpahan darah para pemuda, yang kelak akan menjadi tulang punggung pembangunan negara muda Indonesia.

Dalam hati ia mengharap terbukanya jalan yang paling aman. Jepang yang kalah perang akan dienyahkan oleh Sekutu. Ia mengakui kenyataan, bahwa sumbangan paling besar dan penuh pengorbanan dalam usaha mencapai kemerdekaan, datang dari kaum proletar revolusioner. Jika peristilahan perang dunia dipakai dalam hubungan ini, mereka itulah para partisan yang sejati di dalam kancah Revolusi Nasional.

Tetapi Sukarno seorang politikus yang setia pada ide klasnya sendiri, yaitu burjuasi nasional. Cita-citanya ialah agar golongan menengah itu yang akan tampil sebagai pemenang dalam revolusi, dan agar mereka ini jugalah yang kelak akan mengambil alih kekuasaan di alam Indonesia yang merdeka. Oleh cita-citanya yang seperti itu, maka Sukarno tidak bersedia menempuh jalan yang sama dengan kaum proletar revolusioner di dalam perjuangan mengusir fasisme Jepang.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang kapitulasi. Pada tanggal 17 Agustus, yaitu dua hari berselang sesudah Jepang bertekuk lutut, Republik Indonesia diproklamasikan. Tetapi sikap Sukarno masih waswas. Sikapnya yang demikian ini disertai pula dengan kebimbangan. Sikap waswas bercampur bimbang dalam menghadapi situasi yang menentukan seperti itu, kelak akan acap kali terulang padanya, dan akan membawa akibat- akibat fatal bagi bangsa, negara dan bahkan dirinya sendiri.

Gelak tertawa yang riuh menghentikan lamunan Kasto. Ia tidak bisa ikut mendengar lelucon Presiden. Tapi agaknya sangat mengena, karena para tamu tertawa terpingkal-pingkal. Kasto ikut juga bersenyum-senyum. Sukarno menoleh pada Kasto, sambil berseru meneruskan guraunya: “Coba lihat! Aku ini pelawak yang paling konyol di sini. Catat ini! Biar dunia luar mengetahui!”

HARI sudah menjelang siang, ketika pada akhirnya mereka tinggal berdua. Duduk di satu ruangan yang tenang dan sejuk. Segera sesudah tamu-tamu pergi, Presiden melepas kemeja putihnya dan melempar sandalnya ke pojok ruangan.

Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang wanita, ajudan kepresidenan, masuk membawa baki berisi obat-obatan. Dengan patuh Sukarno menelan beberapa kapsul dan pil, jatah siang hari yang diberikan ajudan itu.

Dengan pandang matanya Presiden mengantar wanita itu, sampai ia menghilang di balik pintu. Lalu yang terdengar suara gerutunya: “Beginilah keadaanku, To! Bukan diberinya aku ciuman, malah pil-pil pahit yang harus aku telan. Padahal orang-orang menuduh aku seorang Don Juan! Ah To! Aku sudah tua dan terpenjara. Menjadi budak protokol. Terkurung dalam kurungan emas. Rasanya ingin aku tinggalkan semua ini, demi mendapat kesempatan sebentar melayap, di gang-gang perkampungan kita dahulu …”

“Siapa yang mencegahmu?” Suaranya sendiri terdengar bertanya.
“Siapa? Rakyat bangsa ini!” Jawab Sukarno pula pada diri sendiri, sambil tampak merenung sejurus. Lalu ia lagi meneruskan bicara.

“Tidak mungkin lagi aku tampil sebagai orang awam. Di mata rakyat aku ini Presiden. Pemimpin bangsa. Padahal justru itulah yang selalu aku rindukan: Menjadi diriku sebagai orang biasa!”

About these ads

11 comments on “PUTERA FAJAR

  1. alamendah
    April 29, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sampai 12 halaman?. Wah musti nyicil beberapa kali, nih….

    • kopral cepot
      April 29, 2010

      alon-alon asal kelakon ajah ;)
      hatur tararengkyu pertamaxnyah :P

  2. andipeace
    April 29, 2010

    karena saya beranggapan bahwa seorang penulis itu tidak butuh banyak komentar alias sedikit komentar yang penting tidak OOT (out of topik) maka saya ijin copas duluh ini artikelnya dan komentarnya menyusul besok siang..
    :D tidak apa-apakan pak?? :D

    salam piss

    ——————
    Kopral Cepot : Pissss ;)

  3. Ping-balik: Tweets that mention PUTERA FAJAR « Biar sejarah yang bicara …….. -- Topsy.com

  4. andipeace
    April 30, 2010

    Ternyata ITB sekolah tinggi yang penuh sejarah :D sama sekali saya tidak mengetahui tentang hal ini.Terus apakah buku sejarah indonesia yang dibuat kasto rekso tersebut disetujui oleh sahabatnya (bung karno).membaca tulisan ini sampai habis dan sedikit mengerti tentang makna yang terkandung dalam tulisan ini, apakah setelah berhentinya presiden soekarno.sudahkah indonesia tercinta ini menemukan sosok yang menyerupai penyambung lidah rakyat dengan gaya bicara dan kepribadian yang tidak dibikin-bikin…??berpendapat bahwa cerita tersebut belum selesai, karena :
    1. Tidak ada keterangan bahwa buku sejarah indonesia itu disetujui atau disukai oleh bung karno apa tidak.
    2. Sahabat bung karno belum menemukan definisi argument, apakah sahabatnya yang kini menjadi tokoh bangsa besar masih seperti duluh dikalah masa perjuangan berbagi periuk nasi dan tikar tetap seperti duluh apakah sudah berubah semaikin positif apa negatif.
    3. Respon apa yang dilontarkan sahabat kasto rekso ketika mendengar berita dari seorang jendral tentang terjadi insiden dibrunei dan Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing (selain respon lelucon).
    Demikian batas daya nalar cah lapindo ini bercuap-cuap setelah membaca tulisan sejarah ini.saya sangat menyukai cerita ini.
    Ditunggu cerita lain yang tidak kalah serum dan penuh ilmu pengetahuan.

    Salam adem ayem dan sejahterah pak

  5. andee
    Mei 12, 2010

    good post friend….like this

  6. andee
    Mei 12, 2010

    blogwalking here guys

  7. trusted ptc
    Juli 3, 2010

    Ceritanya menarik untuk dibaca…kayaknya perlu nyicil buat bisa baca semua halaman,, I like it… BOS

    —————-
    Kopral Cepot : Silaken Bos … nyante ajach ;)

  8. baitul hikmah
    Juli 16, 2010

    sejarah bukan lah barang baru, karena dia ada sebelum kita. Tapi juga bukan barang usang yang layak kita buang. Sejarah ibarat mutiara yang terpendam, tertimbun dalam ditumpukan sampah kehidupan. Beruntunglah orang yang mendapatkan mutiara tesebut karena dia telah mendapatkan harta yang sangat berharga…..

    tengkyuh ah…..!!!
    tarik maaaa…ng!!!

    ———————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu …. heu heu heu heu :D

  9. Dini S.Setyowati
    Oktober 14, 2011

    Trimakasih Kopral Cepot salam perkenalan silahkan kitaberkaan di Face Book.

    ——————-
    Kopral Cepot : Terimakasih kembali … mohon maaf sebelumnya tidak minta ijin untuk dimuat disini, krn tdk tau harus kemana … ;)

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: