Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

PUTERA FAJAR

Menuju Jalan Perundingan

SEMENTARA itu Pemerintah Sukarno mempertaruhkan segala-galanya untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional terhadap eksistensi Republik Indonesia. Intervensi Sekutu secara militer dihadapi dengan dua jalan: jalan militer, yaitu perlawanan rakyat bersenjata bersama tentara, dan jalan diplomasi politik. Pemerintah Sukarno ingin memperlihatkan kepada dunia, bahwa dengan jalan demokrasi Indonesia sanggup menjamin ketertiban dan ketenangan dalam negeri. Dengan demikian Sukarno sekaligus hendak membantah propaganda Belanda, bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintah boneka Jepang.

Pada tanggal 16 Oktober 1945 Komite Nasional Indonesia Pusat dibentuk. Ini merupakan semacam badan penasihat pemerintah, di mana duduk wakil-wakil lasykar rakyat, pemuda, pimpinan golongan agama, tokoh-tokoh daerah, dan para saudagar. Dengan lahirnya badan baru ini hak legisilatif Presiden diambil alih, yang dilakukan atas dasar “Dekrit Presiden Nr. X” (bukan Nomer 10, tetapi “x” karena saat itu sistem kearsipannya belum teratur. Red. IqrA), sebagai dasar politik multipartai yang ditempuh Indonesia kemudian hari.

Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, dua tokoh politik yang telah mengambil bagian aktif dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang, diangkat sebagai ketua kabinet pertama. Tidak lama sesudah itu, pada tanggal 14 November 1945, Sutan Sjahrir mendapat mandat dari Presiden Sukarno untuk membentuk kabinet baru.  Dengan demikian sistem pemerintahan parlementer demokrasi burjuis mulai mengambil langkah pertama di Indonesia. Sementara itu di seluruh pelosok tanahair, pertempuran sengit terus berlangsung di medan perang, di mana para pejuang Republik mempertaruhkan hidup-
mati mereka untuk melawan intervensi Sekutu.

Memang suatu kenyataan, bahwa Belanda sama sekali tidak acuh terhadap upaya diplomatik yang ditempuh Sukarno. Sebaliknya, dengan ganas Belanda terus melancarkan agresinya ke berbagai pelosok Indonesia, dengan berlindung di balik kedok “aksi polisionil” atau gerakan penertiban kedamaian dan dengan mempersenjatai kembali tawanan-tawanan Jepang. Di Sulawesi Selatan, misalnya, tentara Nica di bawah komando Kapten Westerling, membunuh 30.000 rakyat di sekaligus di sebuah lapangan rumput.

Untuk kesekian kalinya, kembali kaum Komunis tampil di medan pertempuran bersama para pejuang kemerdekaan umumnya. Dengan demikian mereka memperlihatkan kepada masyarakat, baik di dalam maupun di luar negeri, bahwa membela kemerdekaan Indonesia dari ancaman kolonialisme menjadi tujuan utama perjuangan.

ARAH perjuangan politik Republik muda ini juga memberi pengaruh pada moral bangsa pada umumnya dan para pejuang bangsa pada khususnya. Di mana saja, apabila kesempatan memungkinkan, timbul aksi-aksi perlawanan terhadap ancaman kembalinya kolonialisme. Di daerah-daerah yang ada di bawah kekuasaan tentara pendudukan Belanda, sikap “non-koperasi” penduduk terhadap kekuasaan Belanda menampak terang-terangan.

Di kalangan para pekerja angkutan umum, kereta api terutama, pelayanan jasa seperti rumah sakit, bahkan di beberapa kalangan pamongpraja kabupaten. Di daerah-daerah pendudukan, di mana Belanda berhasil “membersihkan” kaum “ekstremis”, gerakan perlawanan diteruskan dalam bentuk perjuangan bawah tanah dan gerilya. Sikap “non-ko” yang sering dinyatakan dengan terang-terangan itu seringkali harus ditebus dengan hilangnya nyawa bagi yang bersangkutan.

Dunia internasional, terutama dari negeri-negeri yang baru merdeka dan yang sedang berjuang untuk kemerdekaan, mengikuti perkembangan situasi Indonesia dengan perasaan cemas dan marah. Perasaan simpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia itu juga datang dari negeri-negeri blok Timur, khususnya Uni Soviet. Protes terhadap agresi Belanda membanjir di meja sidang Perserikatan Bangsa Bangsa. Uni Soviet, disokong India, menuntut kepada PBB agar dibentuk Komisi Keamanan Khusus untuk Indonesia.

Dari sudut politik dan ekonomi memang situasi dan posisi Indonesia sangat terancam. Belanda memblokade ketat semua pintu jaringan ekspor dan impor Indonesia, agar dengan demikian Republik muda ini segera bertekuk lutut. Tapi keadaan yang kritis ini dapat ditembus dengan jalan penyelundupan, melalui jalan laut dengan Singapura dan jalan udara dengan India. Dengan demikian kebutuhan barang-barang untuk strategi perang, seperti senjata dan amunisi serta obat-obatan dapat sedikit teratasi.

Sementara itu tekanan dari dunia internasional yang semakin kuat terhadap kaum agresor, merupakan salah satu sebab yang membuat kedudukan mereka menjadi goyah. Di samping itu ada faktor-faktor penyebab lainnya yang bahkan sangat penting. Pertama, sebagai negeri kecil yang baru keluar dari Perang Dunia II melawan Jerman yang dahsyat, Belanda dalam keadaan krisis ekonomi. Pembangunan kembali negerinya yang mendesak, menyebabkan perang kolonial dengan Indonesia yang sementara itu berlangsung, menjadi dirasa terlalu mahal.

Tambahan pula gelombang protes anti-perang kolonial tidak hanya datang dari luar negeri, tapi tak kurang kuatnya juga datang dari dalam negeri sendiri. Kedua, Inggris merasakan pengaruh pikiran Nehru yang kuat di kalangan para prajurit Gurkha. Sehingga ketika Nehru menuntut agar semua personil Gurkha dalam tentara Sekutu ditarik dari medan perang melawan Indonesia, pemerintah Inggris tak bisa berbuat lain kecuali terpaksa bernegosiasi dengan Belanda. Pihak Belanda pun tidak bisa lain kecuali harus menerima kenyataan. Pasukan Gurkha dan Inggris mulai ditarik, tapi Belanda menuntut agar semua perlengkapan perang dan telekomunikasi ditinggalkan.

Pada akhir tahun 1946 Indonesia sudah bersih dari tentara Gurkha dan Inggris. Sepeninggal pasukan Sekutu ini kekuatan tentara Belanda menjadi sangat jauh berkurang, sehingga Belanda terpaksa harus menempuh jalan meja perundingan dengan pihak Indonesia.

PERUNDINGAN bersejarah antara dua pihak, Indonesia dan Belanda, dimulai untuk pertama kali di Jakarta dalam bulan Maret 1946. Kemudian diteruskan di Linggajati.

Linggajati sebuah desa, atau kota kecil, terletak di kawasan kota pelabuhan Cirebon. Sampai pada saat itu penduduk desa yang damai dan tenteram ini hampir tidak tahu tentang situasi politik di luar. Tapi mulai bulan September 1946 semuanya menjadi berubah seketika. Datanglah ke desa mereka beberapa orang utusan pemerintah Belanda dan Indonesia, yang segera mulai menyiapkan segala sesuatu untuk acara perundingan antara dua negara. Kabel-kabel telekomunikasi dipasang, mobil- mobil bertanda asing diparkir berderet, di sepanjang pinggir jalan desa. Losmen-losmen darurat segera dibangun.

Sutan Sjahrir disertai beberapa anggota kabinet yang baru dibentuknya datang (kabinet ke-4 RI terbentuk pada 2 Oktober 1946). Perundingan Linggarjadi berlangsung selama lima hari, yaitu tanggal 11 sampai 15 November 1946. Di antara anggota delegasi St. Sjahrir tampak beberapa pemuka partai politik Islam, dan juga Hamengku Buwono IX tokoh yang berpengaruh besar. Sjahrir maju ke meja perundingan dengan dasar pemikiran mencapai kesepakatan damai dengan pihak Belanda, tidak ingin memutuskan hubungan sama sekali dengan negara bekas penjajah, terutama untuk hubungan perdagangan. Di pihak lain utusan Belanda juga bersedia bertemu dengan beberapa konsesi, tapi dengan syarat semua perkebunan dan pabrik milik Belanda agar kembali menjadi hak miliknya.

Akhirnya pada tanggal 15 November 1946 dicapai kesepakatan yang disyahkan dalam satu Piagam Perjanjian. Pada 25 Maret 1947 desa Linggajati telah kembali tenang dan sepi. Kabel-kabel telekomunikasi sudah dicopoti dan dibongkar, mobil-mobil asing hilang dari pemandangan. Berarti perundingan telah mencapai kesepakatan. Piagam bersama telah ditandatangani, setelah melewati perdebatan sengit antara dua pihak. Butir-butir sangat penting dari kesepakatan damai itu ialah: pertama, gencatan senjata oleh kedua pihak yang sengketa; pemerintah Belanda mengakui Republik Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Tapi suasana damai yang diciptakan oleh Perjanjian Linggajati ternyata tidak lama berlangsung. Kalangan konservatif pemerintah Kerajaan Belanda tidak mau menerima hasil Linggajati yang dilihatnya sebagai kekalahan. Linggajati harus dikoreksi, demi tegaknya kembali hukum Kerajaan Belanda. Menjelang bulan Juli 1947, pengaruh politik kaum konservatif di parlemen Belanda sangat besar. Sehingga ambisi untuk melancarkan “aksi polisionil” terhadap Indonesia tidak bisa dicegah oleh golongan-golongan lain yang lebih maju. Maka terjadilah pada 21 Juli 1947 agresi pertama terhadap wilayah Republik Indonesia, yang kedaulatannya telah diakui oleh Perjanjian Linggarjati itu.

Walaupun begitu sebenarnya “aksi polisionil” ke-1 ini tidak terjadi tiba-tiba. Butir-butir ketetapan Perjanjian Linggajati sedikit demi sedikit sudah terus menerus diingkarinya segera setelah kesepakatan dicapai. Di kawasan pulau-pulau di luar Jawa yang dikuasai oleh Belanda, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil pemerintahan otonomi setempat dijamin. Tapi untuk urusan-urusan penting, seperti pertahanan, anggaran belanja, perdagangan, pendidikan dan politik perekonomian, semuanya ini diatur oleh pemerintah Kerajaan di Den Haag (Woodman: 208). Bukti lain lagi tentang pelanggaran Perjanjian Linggajati oleh Belanda, yaitu bahwa pihaknya tidak menarik mundur pasukan-pasukannya dari Jawa dan Sumatra, wilayah sah RI yang diakui kedaulatannya oleh perjanjian bersama itu. Sebaliknya dari menarik mundur pasukan, Belanda bahkan memperluas terus-menerus daerah pendudukannya. Nafsu agresinya itu kemudian disembunyikannya di balik dalih demi bantuan kemanusiaan, karena pemerintah RI tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Blokade ekonomi secara ketat yang dilakukannya bersama Inggris sejakakhir 1945, yang berakibat lumpuhnya perekonomian Indonesia itu, tentu saja tidak pernah disebut-sebut.

Pada tanggal 20 Juli 1947 Van Mook menyatakan tidak merasa terikat lagi oleh persetujuan Linggajati dan perjanjian gencatan senjata. Kedua perihal pokok hasil perundingan telah dilanggar sama sekali oleh Belanda.

Pada tanggal 21 Juli 1947 “aksi polisionil” ke-1 dilancarkan. Di atas udara RI kembali terdengar suara pesawat-pesawat pembom Belanda berderu-deru. Tank-tank dan mobil lapis baja bermunculan. Perang meletus kembali. Madura dan Surabaya direbut dan diduduki. Tapi tujuan utamanya ialah menguasai seluruh Sumatra, khususnya daerah Palembang di mana terdapat tambang minyak. Sebagian besar kota-kota besar di Jawa diserbu dan diduduki. Kembali lagi tentara nasional Indonesia, bersama dengan kekuatan rakyat bersenjata, bertempur bersama-sama untuk menangkis serangan lawan yang jauh lebih unggul persenjataannya. Mereka menderita kerusakan besar, tapi dipihak Belanda juga jatuh korban yang tidak kecil.

About these ads

11 comments on “PUTERA FAJAR

  1. alamendah
    April 29, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sampai 12 halaman?. Wah musti nyicil beberapa kali, nih….

    • kopral cepot
      April 29, 2010

      alon-alon asal kelakon ajah ;)
      hatur tararengkyu pertamaxnyah :P

  2. andipeace
    April 29, 2010

    karena saya beranggapan bahwa seorang penulis itu tidak butuh banyak komentar alias sedikit komentar yang penting tidak OOT (out of topik) maka saya ijin copas duluh ini artikelnya dan komentarnya menyusul besok siang..
    :D tidak apa-apakan pak?? :D

    salam piss

    ——————
    Kopral Cepot : Pissss ;)

  3. Ping-balik: Tweets that mention PUTERA FAJAR « Biar sejarah yang bicara …….. -- Topsy.com

  4. andipeace
    April 30, 2010

    Ternyata ITB sekolah tinggi yang penuh sejarah :D sama sekali saya tidak mengetahui tentang hal ini.Terus apakah buku sejarah indonesia yang dibuat kasto rekso tersebut disetujui oleh sahabatnya (bung karno).membaca tulisan ini sampai habis dan sedikit mengerti tentang makna yang terkandung dalam tulisan ini, apakah setelah berhentinya presiden soekarno.sudahkah indonesia tercinta ini menemukan sosok yang menyerupai penyambung lidah rakyat dengan gaya bicara dan kepribadian yang tidak dibikin-bikin…??berpendapat bahwa cerita tersebut belum selesai, karena :
    1. Tidak ada keterangan bahwa buku sejarah indonesia itu disetujui atau disukai oleh bung karno apa tidak.
    2. Sahabat bung karno belum menemukan definisi argument, apakah sahabatnya yang kini menjadi tokoh bangsa besar masih seperti duluh dikalah masa perjuangan berbagi periuk nasi dan tikar tetap seperti duluh apakah sudah berubah semaikin positif apa negatif.
    3. Respon apa yang dilontarkan sahabat kasto rekso ketika mendengar berita dari seorang jendral tentang terjadi insiden dibrunei dan Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing (selain respon lelucon).
    Demikian batas daya nalar cah lapindo ini bercuap-cuap setelah membaca tulisan sejarah ini.saya sangat menyukai cerita ini.
    Ditunggu cerita lain yang tidak kalah serum dan penuh ilmu pengetahuan.

    Salam adem ayem dan sejahterah pak

  5. andee
    Mei 12, 2010

    good post friend….like this

  6. andee
    Mei 12, 2010

    blogwalking here guys

  7. trusted ptc
    Juli 3, 2010

    Ceritanya menarik untuk dibaca…kayaknya perlu nyicil buat bisa baca semua halaman,, I like it… BOS

    —————-
    Kopral Cepot : Silaken Bos … nyante ajach ;)

  8. baitul hikmah
    Juli 16, 2010

    sejarah bukan lah barang baru, karena dia ada sebelum kita. Tapi juga bukan barang usang yang layak kita buang. Sejarah ibarat mutiara yang terpendam, tertimbun dalam ditumpukan sampah kehidupan. Beruntunglah orang yang mendapatkan mutiara tesebut karena dia telah mendapatkan harta yang sangat berharga…..

    tengkyuh ah…..!!!
    tarik maaaa…ng!!!

    ———————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu …. heu heu heu heu :D

  9. Dini S.Setyowati
    Oktober 14, 2011

    Trimakasih Kopral Cepot salam perkenalan silahkan kitaberkaan di Face Book.

    ——————-
    Kopral Cepot : Terimakasih kembali … mohon maaf sebelumnya tidak minta ijin untuk dimuat disini, krn tdk tau harus kemana … ;)

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: