Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

PUTERA FAJAR

Lampiran:

Peristiwa Kapten Laut P.J.G. Huyer(1)

BAHWA kekerasan militer bukan merupakan jalan penyelesaian konflik antara Indonesia dan Belanda, sebenarnya juga dirasakan dan menjadi pendirian pihak Sekutu. Ini bisa dilihat dari ucapan Lord Mountbatten, Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara (1943-46), yang menghendaki penyelesaian konflik di meja perundingan antara dua negara sahabat Inggris. Begitu juga laporan Laksamana Muda Tadashi Maeda kepada Sekutu, pada 26 September 1945, sudah memberi peringatan antara lain:

“Keadaan gerakan kemerdekaan di Indonesia sebelum Perang Pasifik tidak bisa disamakan dengan sekarang, baik dari sudut luasnya, organisasinya, dan kesadarannya. Rasa kebencian terhadap Belanda selama Perang Dunia telah menimbulkan perubahan yang sangat mendasar di bidang politik dan sosial di Indonesia. … (Maka), menurut pendapat saya, harus dilihat oleh para penguasa untuk penyelesaian secara damai atas keadaan yang terjadi sekarang ini”.

Tetapi pemerintah Belanda, yang bersikeras hendak merebut kembali tanah jajahannya yang telah terlepas, tidak mau mendengarkan saran-saran akal sehat itu.

Sejak ditinggalkan diam-diam oleh para pembesar Jepang, dan di atas gedung Keresidenan Surabaya berkibar megah bendera Merah Putih, Surabaya merupakan bagian negara Republik Indonesia yang telah menjadi kenyataan secara de jure dan de facto. Belanda cemas melihatnya. Ini bisa dimengerti, mengingat kota ini merupakan kunci pertahanan maritim yang sangat strategis. Persenjataan Jepang saat itu masih utuh, sehingga kalau jatuh ke tangan kaum Republiken akan sangat membahayakan kedudukannya. Karenanya Belanda sangat aktif berusaha, agar kaum Republiken Surabaya tidak sempat memperkuat diri, khususnya dari segi kemiliteran.

Untuk itu Kapten Laut P.J.G Huyer, selaku “utusan” Laksamana Muda Patterson, dikirim ke Surabaya dan tiba di sini pada 23 September 1945. Dengan legalitas surat Patterson bertanggal 22 September 1945, Huyer menghubungi Laksamana Shibata. Surat secarik itu berbunyi (terjemahan kami):

Kepada yang Bersangkutan
Dengan ini dinyatakan, bahwa saya telah memerintahkan
Kapten P.J.G. Huyer pergi ke Surabaya, untuk memeriksa
bangunan-bangunan pelabuhan dan semua instalasi Angkatan Laut
di Tg. Perak.

(Tertanda)
Laksamana Muda
Panglima Skuadron Penjelajah Kelima
Atasnama Panglima Tertinggi Sekutu

Hari-hari berikutnya Huyer melakukan pemeriksaan pangkalan laut, dan mempersiapkan pemakaian kembali pangkalan itu secepatnya, serta pemeliharaan hukum dan ketertiban. Kemudian ia kembali ke Jakarta, untuk melapor pada Laksda Patterson di kapal HMS Cumberland.

Pada 29 September 1945 Huyer kembali lagi ke Surabaya, dengan membawa surat perintah baru dari Patterson. Surat itu berbunyi:

H.M.S. Cumberland.
Batavia, 28 September 1945.

Dengan ini dinyatakan, bahwa saya telah memerintahkan Kapten P.J.G. Huyer pergi ke Surabaya, untuk menyiapkan pendudukan kembali Surabaya. Ia akan bersama Letkol Roelofson, Perwira Jurubahasa Hulseve, Residen Maasen, Mayor Laut Dokter Timmers, dan Letnan Dokter Van der Groot, yang semuanya termasuk staf saya.

(Tertanda)
Laksamana Muda
Panglima Skuadron Penjelajah Kelima
Atasnama Panglima Tertinggi Sekutu

Tiba di Surabaya keadaan sudah berubah dari beberapa hari sebelumnya. Orang-orang asing tampak dalam suasana gelisah dan cemas. Para komandan pasukan Jepang setuju untuk memperkuat penjagaan kamp tawanan perempuan dengan tiga ratus tentera Kenpetai. Tapi pasukan itu tak pernah dikirim.

Bagaimana Kapten Huyer melaksanakan tugas yang dipercayakan atasannya, bisa diketahui sekedarnya melalui sebuah laporan dari sumber Jepang. Laporan ini berupa dokumen tertulis tanpa judul dari S. Tanaka, seorang perwira staf brigade Jepang di Jawa Timur. Halaman 37-38 naskah laporan ini berbunyi sebagai berikut:

Hari ini ada permintaan dari Kolonel Huyer untuk menemui Komandan Brigade di markas brigade. Bersama semua anggota staf kami menunggu, termasuk juga Tuan Mayjen Masaomi Yasuoka, Residen Surabaya, yang baru saja datang dari Jakarta.

Begitu Kol. Huyer tiba, ia langsung minta minum anggur. Tentu untuk menenangkan hati atau membangun keberanian. Lalu, ketika ia mulai membuka pembicaraan, terdengar kata-katanya: “Sekarang tentara Jepang di Surabaya sudah kehilangan kekuatan perangnya sama sekali.” “O, tidak!” Jawab Mayor Jendral Iwabe. “Tidak benar. Korps Okabe dan kami masih tetap utuh.”

“Setelah saya di Surabaya ada lebih tiga ribu orang Jepang, termasuk enam admiral, dipenjarakan oleh Indonesia. Dan nanti malam orang-orang Indonesia akan serentak menyerang markas angkatan darat dan angkatan laut Jepang. Tapi rencana itu dapat digagalkan, dan keamanan dapat dijamin, jika tuan- tuan resmi bersedia menyerah pada saya. Artinya, semua benda perbekalan yang di tangan Jepang akan jatuh ke tangan Sekutu. Dan segala apa yang sudah diambil alih Sekutu, tidak boleh diambil lagi oleh siapa pun dari pihak mana pun. Tentang ini sudah ada persetujuan antara saya dengan Tuan Sudirman, pemimpin tertinggi pihak Indonesia. Karena itu saya minta Tuan bersedia menyerahkan pedang Tuan kepada saya sebagai tanda menyerah kalah. Pedang itu perlu untuk saya perlihatkan pada Tuan Sudirman. Selain itu saya minta supaya tentara Jepang dilarang keras melakukan penembakan.”

Sekalipun kurang menangkap apa yang dimaksud Huyer. Mayjen Iwabe menjawab: “Saya mengerti maksud Tuan. Tapi saya perlu bicara dengan atasan untuk minta petunjuk.” “Tidak ada waktu lagi!” Sahut Huyer sambil melihat arlojinya. “Saya tunggu lima menit!”

Dalam kesempatan sesempit itu Mayjen Iwabe berunding dengan Yasuoka. Ia menyarankan agar tuntutan Huyer diterima. Tepat jam 16:30 waktu Tokio Mayjen Iwabe mengangkat pedangnya ke atas, dan menyerahkannya pada Huyer. Selesailah upacara penyerahan. Kemudian Mayjen Iwabe pamit untuk pergi menemui dua laksamana Gubernur Daerah Angkatan Laut. Saya dengar di sana ia juga mengambil tindakan yang sama, seperti yang dilakukan oleh Angkatan Darat.

Tentang apa yang terjadi di Jawa Timur ini segera dilaporkan dengan telegram ke Markas Tentara di Jawa. Juga dengan telegram kepada pasukan-pasukan di bawah komandonya diperintahkan, agar untuk sementara waktu tidak menggunakan kekuatan senjata; dan diberitahukan, bahwa masalah penyerahan senjata dan perbekalan ke pihak Indonesia, serta masalah keamanan yang timbul bersamaan dengan serah terima tersebut, menjadi tanggung jawab pihak Indonesia.

Demikian itu laporan dari sumber Jepang. Berikut ini laporan Letnan Kolonel Roelofson, yang ikut menyertai penugasan Huyer di Surabaya.

Tanggal 1 Oktober petang hari Surabaya menjadi sangat tidak tenang. Sejumlah kendaraan bermotor penuh orang-orang dari golongan rakyat jelata penduduk kota Surabaya, masing- masing membawa berbagai senjata, berkeliling kota sambil berteriak-teriak: “Merdeka!”

Di Jalan Raya Darmo saya melihat patroli Jepang menghentikan sebuah truk. Dengan mudahnya orang-orang Indonesia penumpang truk itu, disuruh turun. Bambu runcing senjata mereka dikumpulkan, dan truk disuruhnya mereka dorong ke pos keamanan, lalu orang-orang itu diusir pergi. Menurut penglihatan saya orang Indonesia masih takut terhadap Jepang, sikap mereka juga masih lugu. Senjata api tidak ada di tangan
rakyat sepucuk pun.

Tapi pada tanggal 2 Oktober, dan hari-hari berikutnya mereka melucuti tentera Jepang dan memenjarakan mereka. Mula- mula menyergap pos-pos terpencil dan kecil, kemudian satuan- satuan pengawal, akhirnya menyerbu ke markas-markas kesatuan dan pemusatan pasukan. Jepang hampir tidak melakukan perlawanan. Kecuali perlawanan semu pada peristiwa-peristiwa tertentu. Sejak itu massa berani merebut senjata tajam dan senjata api, kemudian senapan mesin dan sebagainya. Akhirnya bahkan berani merebut panser dan tank, yang kemudian mereka kendarai masuk kota dengan kecepatan tinggi.

Tanggal 2 Oktober pemberontakan umum pecah di Surabaya. Komodor Udara RAF Groom mengantar tiga orang wakil Sudirman, yaitu Mr. Dwidjosewojo, dr. Angka Nitisastra, dan satu orang lagi untuk bertemu dengan Huyer. Ketiga utusan Sudirman menjelaskan, bahwa pengambil-alihan kekuasaan dari pihak Jepang sudah dimulai. Sedang Huyer menegaskan, bahwa pihak yang telah melakukan ambil alih harus bertanggungjawab atas pengamanan selanjutnya. Bukan hanya persenjataan dan perbekalan militer, tetapi juga gedung pemerintah, gudang dan sebagainya, karena semuanya itu menjadi milik Komando
Tertinggi Sekutu.

Tanggal 4 Oktober sebagian besar tentara Jepang sudah dilucuti dan dipenjarakan oleh massa. Juga pengawalan untuk Huyer dkk di Hotel “Oranye” tidak oleh tentara Jepang, tapi oleh Polisi RI.

Lain lagi laporan Letnan Satu Laut P.G. de Back yang datang di Surabaya sebagai wakil RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees; Pemulihan Tawanan Perang dan Interniran Sekutu) di Surabaya. Laporan yang berjudul Reports on Events in Soerabaja From 21st to 27th October 1945 itu, melalui Laksamana Helfrich, dikirim ke Laksamana Mountbatten.

Sore hari tanggal 3 Oktober 1945 Kapten Laut P.J.G. Huyer, yang ingin mendapat gambaran tentang keadaan di kota, minta pengawalan Indonesia. Pengawalan Kenpeitai di hotel telah diganti dengan Polisi Indonesia berseragam. Dua hari kemudian juga penghubung Jepang, juru bahasa Matsuda, dan supir-supir Jepang ditarik, dan diganti oleh tenaga-tenaga Indonesia.

Atas permintaan Huyer saya ikut dalam perjalanan keliling kota itu. Kami di atas kendaraan berbendera putih, dan bertuliskan “Allied Command”. Polisi Indonesia bersenjata mengawal kami di atas sepeda motor, di depan dan di belakang.

Kemudian kami menuju lapangan terbang (Sekarang Juanda, Perak. Red.). Di sana beberapa orang Jepang ditahan dalam sel. Dari sana kami menuju gubernuran untuk bertemu Sudirman. Kepada Sudirman dan stafnya Huyer menegaskan, bahwa pemerintah RI yang mengambil alih tawanan dan melucuti tentara Jepang berlawanan dengan perintah Komando Tertinggi Sekutu. Sudirman harus bertanggung jawab penuh atas perdamaian, ketertiban dan keselamatan semua orang yang bersangkutan. Selanjutnya dikatakan Huyer, bahwa Jepang merupakan tawanan perang yang harus diserahkan pada Sekutu, dan bahwa kedatangan- nya di Surabaya adalah sebagai wakil Sekutu itu. Huyer memperlihatkan instruksi Laksamana Patterson, yaitu untuk mempersiapkan kedatangan tentara pendudukan Sekutu di Surabaya.

Untuk melaksanakan itu, dikatakan Huyer pada Sudirman, ia harus mengatur dinas penyapu ranjau Jepang dan menyiapkan pangkalan, hubungan udara dengan Semarang dan Malang dengan pesawat dan pilot Jepang dibuka lagi. Untuk itu pilot Jepang yang ditahan harus dibebaskan, lapangan terbang dan pesawat terbang diserahkan pada Huyer.

Sudirman menyetujui, dan akan mengambil tindakan seperlunya. Kemudian Kapten Huyer, berkata pada Sudirman, akan menemui panglima angkatan laut dan angkatan darat Jepang, untuk memerintahkan mereka menyerahkan diri, dan selanjutnya akan diperlakukan sebagai tawanan.

Saya mengikuti Kapten Huyer dalam tugas itu. Tapi pada malam hari ia bercerita, telah menerima pedang komando dari panglima angkatan laut dan darat tersebut, sebagai tanda bukti penyerahan diri mereka. Tentang ini Huyer telah melaporkannya pada Laksamana Patterson, melalui pemancar radio di salah satu kamar Hotel “Oranje”. Jelas penyerahan angkatan darat dan angkatan laut Jepang terjadi sesudah semua orang Jepang di Surabaya dilucuti dan ditahan.

Sebelum Kapten Huyer ke markas angkatan laut dan angkatan darat Jepang, kami lebih dahulu mengunjungi penjara di mana sekitar 4000 orang Jepang ditahan. Di sana Kapten Huyer saya tinggalkan, bersama juru bahasa Letnan Hulseve yang datang kemudian.

Selama Huyer berunding dengan Sudirman, saya diam-diam bicara dengan Masmoein, Komisaris Polisi Indonesia. Katanya, ia merasa agak susah untuk tidak membukakan rahasia sendiri. Sudirman dan stafnya akan menghadapi sangat banyak kesulitan. Mereka mulai kehilangan kendali kekuasaannya terhadap kaum “ekstremis”.

Demikianlah.

Sepanjang akhir September dan awal Oktober 1945 Surabaya memang telah menjadi panas, seperti sudah digambarkan oleh Roelofson dan de Back. Setelah peristiwa 19 September 1945 para pemuda telah “mencium bau darah”. Sasaran ancaman para pemuda ditujukan pada orang-orang NICA, tetapi dalam praktek menjadi semua orang Belanda, Indo, dan orang-orang yang bersimpati pada mereka.

Saat itu mereka menyebutnya sebagai “siap tijd”, karena siang malam pemuda giat melakukan aksi pembersihan terhadap setiap elemen penghalang kemerdekaan Republik. Sementara itu desas-desus tersiar, bahwa Huyer telah mendrop uang jutaan gulden untuk membiayai kegiatan mereka. Para pemuda semakin giat melakukan pembersihan. Gerak-gerik orang-orang NICA semakin diamati, sehingga akhirnya kedok NICA tersingkap. Huyer diusir dari Surabaya. Tapi kemudian ia ditangkap, ketika di tengah perjalanan dengan kereta api antara Jombang dan Mojokerto, dan dimasukkan di penjara Kalisosok. Pemancar radio dan dokumen-dokumen rahasia Belanda, yang disimpan di Hotel “Oranje” terbongkar dan disita oleh para pemuda.

*******

About these ads

11 comments on “PUTERA FAJAR

  1. alamendah
    April 29, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sampai 12 halaman?. Wah musti nyicil beberapa kali, nih….

    • kopral cepot
      April 29, 2010

      alon-alon asal kelakon ajah ;)
      hatur tararengkyu pertamaxnyah :P

  2. andipeace
    April 29, 2010

    karena saya beranggapan bahwa seorang penulis itu tidak butuh banyak komentar alias sedikit komentar yang penting tidak OOT (out of topik) maka saya ijin copas duluh ini artikelnya dan komentarnya menyusul besok siang..
    :D tidak apa-apakan pak?? :D

    salam piss

    ——————
    Kopral Cepot : Pissss ;)

  3. Ping-balik: Tweets that mention PUTERA FAJAR « Biar sejarah yang bicara …….. -- Topsy.com

  4. andipeace
    April 30, 2010

    Ternyata ITB sekolah tinggi yang penuh sejarah :D sama sekali saya tidak mengetahui tentang hal ini.Terus apakah buku sejarah indonesia yang dibuat kasto rekso tersebut disetujui oleh sahabatnya (bung karno).membaca tulisan ini sampai habis dan sedikit mengerti tentang makna yang terkandung dalam tulisan ini, apakah setelah berhentinya presiden soekarno.sudahkah indonesia tercinta ini menemukan sosok yang menyerupai penyambung lidah rakyat dengan gaya bicara dan kepribadian yang tidak dibikin-bikin…??berpendapat bahwa cerita tersebut belum selesai, karena :
    1. Tidak ada keterangan bahwa buku sejarah indonesia itu disetujui atau disukai oleh bung karno apa tidak.
    2. Sahabat bung karno belum menemukan definisi argument, apakah sahabatnya yang kini menjadi tokoh bangsa besar masih seperti duluh dikalah masa perjuangan berbagi periuk nasi dan tikar tetap seperti duluh apakah sudah berubah semaikin positif apa negatif.
    3. Respon apa yang dilontarkan sahabat kasto rekso ketika mendengar berita dari seorang jendral tentang terjadi insiden dibrunei dan Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing (selain respon lelucon).
    Demikian batas daya nalar cah lapindo ini bercuap-cuap setelah membaca tulisan sejarah ini.saya sangat menyukai cerita ini.
    Ditunggu cerita lain yang tidak kalah serum dan penuh ilmu pengetahuan.

    Salam adem ayem dan sejahterah pak

  5. andee
    Mei 12, 2010

    good post friend….like this

  6. andee
    Mei 12, 2010

    blogwalking here guys

  7. trusted ptc
    Juli 3, 2010

    Ceritanya menarik untuk dibaca…kayaknya perlu nyicil buat bisa baca semua halaman,, I like it… BOS

    —————-
    Kopral Cepot : Silaken Bos … nyante ajach ;)

  8. baitul hikmah
    Juli 16, 2010

    sejarah bukan lah barang baru, karena dia ada sebelum kita. Tapi juga bukan barang usang yang layak kita buang. Sejarah ibarat mutiara yang terpendam, tertimbun dalam ditumpukan sampah kehidupan. Beruntunglah orang yang mendapatkan mutiara tesebut karena dia telah mendapatkan harta yang sangat berharga…..

    tengkyuh ah…..!!!
    tarik maaaa…ng!!!

    ———————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu …. heu heu heu heu :D

  9. Dini S.Setyowati
    Oktober 14, 2011

    Trimakasih Kopral Cepot salam perkenalan silahkan kitaberkaan di Face Book.

    ——————-
    Kopral Cepot : Terimakasih kembali … mohon maaf sebelumnya tidak minta ijin untuk dimuat disini, krn tdk tau harus kemana … ;)

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh Bhatara Simatupang November 25, 2014
    Horass lae,, Sayapun Batak Toba 100%,tp saya tdk prnah trsinggung dgn apa yg d posting Mr.cepot. Buknya saya membenarkan apa yg d posting, tp itu saya anggap sebgai bahan rujukan untk meluruskan sejarah. Mari kita sama2 saling menggali sejarah leluhur kita, jika ada mlenceng dari sejarah harus kita yg meluruskannya secara fakta dan data dgn mengesampingkan p […]
    Bhatara Simatupang
  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh waldy November 25, 2014
    Sebenarna nga cukup be itindas halakon hita.na ikkon mangalo nama hita..sai sabar do hita torus manghadapi halakon.seakan2 naeng mangislamisasi do halakon mambaen songoni. Butima....ale naeng do jumpang nian tu halak sunda heang on (kopral cepot)asa unang palantam hu mussungna.asa ittor niboan langsung tu akka pinompar ni ssm.XII. Horassss......
    waldy
  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh Bhatara Simatupang November 25, 2014
    Horas dongan sa bangso hu,, horas sahabat maya ku. "Hi(o)tang hita saw'ana(nya)kta-{s(c)rivijawa}". Semua kita saling mencari kesalahan n mlibatkan pertentangan agama. Pada dasarnya semua agama itu baik, tetap br-Tuhan Kepada Yang Esa. Disini kita brtukar info tntang sejarah, jk sejarah itu mlenceng mari kita meluruskannya, krna sejarah itu d […]
    Bhatara Simatupang
  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh waldy November 24, 2014
    Ehe bodat....sama lah kau kayak penulis blog ini. .ga ngerti apa2 yg ada sok tahu tanpa ada bukti...yg ada membalikkan fakta disuruh milah milih mana yg baik dan mana yang buruk.aku ingin penulisnya ini bertanggungjawab sama tulisannya.saya asli orang batak bung....dan tinggal di kota balige dimana makam ss.XII bertempat persis di kota saya. Saya ingin sekal […]
    waldy

Ter-apresiasi..