Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Zulkifli Lubis Komandan Intelijen Pertama …

Peristiwa Cikini

Nah, karena muncul bermacam-macam pemberontakan daerah, timbul suatu maksud Perdamaian Nasional. Artinya, segala macam selisih akan dikuburkan. Dalam rangka Perdamaian Nasional itulah mereka itu ingin ketemu saya. Waktu itu, sudah ditentukan, Sudirman – ayah Basofi Sudirman – dan Mokoginta mau bertemu saya.

Saya tahu bakal ada Konperensi Nasional itu dari surat kabar, di mana Sukarno dan Hatta akan hadir dan teman-teman lainnya. Kemudian, ada yang datang memberitahukan pada saya. Saya diminta untuk bisa bertemu dengan Sudirman dan Mokoginta. Pertemuan itu akan dilangsungkan tepat pada hari kejadian Cikini itu, mestinya. Saya bersedia bertemu. Nah, itu maksud Konperensi Nasional itu, sava beritahukan pada teman-teman yan berhubungan pada saya, supaya jangan berbuat kekerasan. Sebab. pikiran saya berpegang pada ajaran Nabi Muham mad Kalau ada kehendak damai, kita harus terima. Jadi. segala bentuk kekerasan tidak diperbolehkan. Itu yang say tekankan. Itu saya beritahukan melalui teman-teman saya termasuk Ibrahim Saleh, asisten saya yang juga ikut buron yang juga ikut buron.

Maksud pertemuan itu untuk berbicara bagaimana pikiran-pikiran saya. Saya sudah siap. Nah, ketika esok harinya akan bertemu itu, tahu-tahu terjadi Peristiwa Cikini itu. Saya jadi kecewa sekali. Tidak betul kalau peristiwa Cikini gara-gara saya. Malah saya mencegah segala kekerasan. Ibrahim Saleh tahu itu. Malah pada orang berbuat pada Peristwa Cikini itu, juga saya beritahukan. Waktu kejadian itu, saya sedang berada di Cideng, di tempat Kolonel Prajitno. Sekarang dia sudah meninggal. Saya mengetahui peristiwa itu dari radio, malam hari di Cideng itu. Saya juga heran, siapa yang berbuat begitu.

Pada waktu itu saya katakan pada Ibrahim Saleh, “Ini .pasti kita kena tuduh,” kata saya. Itu memang biasa. Sebab, saya masih buron. Sungguhpun itu berbeda sekali. Eh, tak lama kemudian, sekitar satu jam lebih, datanglah Ismail, anak Sumbawa yang dihukum mati karena Peristiwa Cikini itu. Bram – panggilan Ibrahim Saleh, orang Sunda, istrinya orang Minang – mau memukul Ismail. Dia mau memukul, karena kenapa melanggar perintah. Kan sudah ada penntah jangan berbuat kekerasan. Tapi saya cegah. Saya bilang, kalau terjadi, ya sudahlah. Kembalikan saja pada Tuhan.

Pada waktu Ismail pulang mengajar – Ismail ini guru dan juga pramuka – dia bercerita pada saya, “Pak, pada waktu saya pulang mengajar, saya lewat di depan Sekolah Cikini. Saya lihat mobil Bung Karno. Bung Karno di dalamnya. Timbul dalam perasaan saya, ini kesempatan baik untuk berbuat.”

“Kan ada perintah saya supaya jangan berbuat kekerasan?” kata saya. “Betul, Pak. Saya ingat Bapak melarang jangan berbuat kekerasan. Tapi datang dorongan perasaan saya untuk berbuat,” katanya. Ceritanya lagi, sesampainya di asramanya di Gang Ampiun dekat Pasar Cikini, di situ memang asrama anak Sumbawa yang umumnya Islam, dia bilang sama ketua mereka, Saleh Ibrahim. “Saleh Ibrahim melarang kami, Pak. Karena ada larangan dari Bapak Haji itu,” kata Ismail. “Tapi kami yakin, itu kesempatan bagus untuk menghabiskan Bung Karno. Kemudian Saleh Ibrahim menganjurkan kami untuk sembahyang istikharah. Lalu kami sembahyang. Habis sembahyang itu, kami merasa lapang, Pak. Lalu kami ambil granat.”

“Granat siapa?” Tanya saya lagi. “Bekas granat simpanan Pak Nasuhi dulu – Nasuhi bekas Wagub Ja-Bar. Kami terus ke Cikini, Pak. Waktu itu Bung Karno mau keluar. Lalu kami lempar dengan granat. Bung Karno kena, lalu jatuh,” kata Ismail.

Tak lama kemudian, Saleh Ibrahim datang. Dia bercerita kembali. “Memang, Pak, mereka berkeras. Lalu saya suruh sembahyang. Saya bilang, tanyalah pada Tuhan. Sementara mereka sembahyang, saya bermaksud datang pada Bapak untuk memberitahukannya. Tapi sampai di depan UI Salemba, sepeda motor saya rusak. Tidak bisa diperbaiki. Karena itulah saya terlambat ke sini. Itulah, sudah terjadi. Sudah telat, Pak Haji,” kata Saleh Ibrahim. Saya bertemu dengan Ismail kira-kira 1 jam setelah kejadian. Saya katakan pada Saleh Ibrahim, “Menyingkirlah. Sekarang kita kembalikan pada Tuhan.” Dia pergi. Sejak itu saya tidak ketemu-ketemu lagi.

Jauh sebelum kejadian Cikini itu, saya sudah lama kenal dengan Ismail dan Saleh Ibrahim. Mereka itu masuk kelompok Islam. Saya kan dianggap seorang tokoh yang dekat dengan Islam. Karena saya lama di intelijen, saya kan banyak kenalan. Memang, saya kalau boleh dibilang, dianggap sebagai “ketua” penentang Sukarno. Oleh golongan anak-anak muda ini, saya dipercayai. Saya kenal dengan mereka sejak hampir mendekati pemilu 1955 itu. Nah, waktu sebagai Wa-KSAD itu, mereka berusaha bertemu dengan saya. Saya dianggap sebagai pemuka yang perlu didekati. Pada waktu peristiwa Bambang Utoyo itulah, oleh mereka saya dianggap sebagai tokoh yang bisa menghadapi Bung Karno.

Kelompok Ismail dan Saleh Ibrahim itu sebenarnya orang-orang haik. Tidak merupakan orang jahat. Waktu di depan pengadilan pun, mereka mengakui bahwa saya melarang untuk berbuat kekerasan. Kalau Sukendro mengatakan saya terlibat dengan Peristiwa Cikini itu, tidak benar. Saya memang kenal orang-orangnya. Tersangkut boleh saja. Tapi kalau saya dikatakan menyuruh mereka itu, itu sangat keliru sama sekali. Memang, waktu itu, lawan-lawan saya berusaha menuduh saya macam-macam. Waktu itu Sukendro masuk kelompok Nasution.

Saya kira, berkas peradilan Peristiwa Cikini itu bisa dilihat kembali. Bagaimana pengakuan mereka itu.

Ikut PRRI Sesudah peristiwa itu, saya yang masih buron, lalu ke Palembang, terus ke Padang. Saya ke sana untuk konsolidasi perjuangan, karena saya merasa satu ide. Tidak ada yang mengundang saya. Sasaran perjuangan saya sama, dalam arti ingin mengoreksi pemerintah pusat. Termasuk Nasution. Sama saya lihat. Maupun dengan Dewan Garuda atau Dewan Banteng. Selama gerakan mereka itu, mereka juga banyak berhubungan dengan saya. Baik yang di Sumatera Barat maupun yang di Permesta, Sulawesi.

Saya ke Palembang kira-kira sebulan setelah Peristiwa Cikini. Say.. cuma berdua dengan Bram. Di Palembang saya bertemu dengan Nawawi, Dahlan Djambek. Pikiran saya bergabung dengan mereka itu, karena saya kecewa dengan teman-teman yang sealiran yang ingin mengoreksi pemerintah pusat. Teman-teman saya itu kebanyakan politisi. Di situ, saya lihat, kesetiakawanan perjuangan tipis.

Di Palembang ada diskusi mengenai kelanjutan perjuangan, juga menyampaikan informasi, juga mendengar informasi. Setelah itu, saya ke Padang. Di Sungai Dareh, Sumatera Barat, semua berkumpul, baik dan Dewan Banteng, Garuda, Husein, Vence Sumual. Pertemuan itu merupakan konsolidasi program perjuangan selanjutnya. Kedua, bagaimana menghadapi pemerintah pusat. Dalam menghadapi pemerintah pusat, di situ ada beberapa segmen dan segi yang perlu didudukkan. Satu, bagaimana usaha mempertemukan kembali Dwitunggal SukamoHatta. Kedua, perlu ketegasan menghadapi angkatan perang. Dalam menghadapi itu, disepakati konsolidasi bantu-membantu agar kuat menghadapi pemerintah pusat. Segi politisnya, dibuat program perjuangan. Pertama, dibuat program jalan damai. Kalau jalan damai tidak ada, akan diciptakan pemerintahan tandingan. Umumnya, semua sependapat.

Pada pertemuan pertama di Sungai Dareh, politisi tidak ikut. Mereka ada di situ. Tapi di ruang pertemuan, cuma tentara. Kalau tak salah, pertemuan itu ada di sebuah sekolah. Setelah ada kesepakatan di kalangan militer, baru pertemuan dengan kaum politisi, antara lain Pak Natsir, Pak Prawiranegara, Pak Burhanuddin Harahap. Pak Sumitro Djojohadikusumo waktu itu belum ada. Waktu itu belum dibentuk PRRI. Masih dalam taraf mengajak kembali Sukarno-Hatta sebagai Dwitunggal. Kita mengirimkan delegasi ke Jakarta, tapi saya lupa namanya. Tapi tidak berhasil. Lalu diadakan pertemuan di Padang. Juga begitu. Dikirim lagi delegasi jalan damai. Tapi delegasi itu tak sempat jumpa. Tidak berhasil.

Kenapa saya ikut PRRI atau ikut dengan kelompok Zuchro, alasan saya begini. Memang benar saya ikut konstitusi. Tapi, di atas konstitusi itu, ada lagi kebenaran. Sebab, saya lihat yang lain itu tidak benar, maka itu saya tantang. Konstitusi itu benar. Tapi saya lihat sudah mereka itu sudah tidak benar lagi. Jadi, harus dirombak. Jangan didiamkan. Jalan lain tidak ada. Sungguhpun melawan konstitusi. Bagi saya, yang utama itu adalah keyakinan pada yang benar.

Setelah saya uji, keyakinan saya itu benar. Kalau didiamkan, bisa rusak negara ini. Sedangkan kalau menuruti konstitusi, kita bisa terbelenggu. Ketidakbenaran Nasution dan kaum politisi waktu itu, yang saya lihat, pertama, dalam arti mengembangkan politik yang stabil, dalam arti dalam permainan politik maupun dalam menghadapi keamanan. Pada masa-masa itu, keuangan negara sudah begitu berat. Lalu kita hadapi DI dengan kekerasan. Mana mungkin. Bukankah akhirnya semua melalui jalan damai, to?

Dalam menghadapi DI, saya tidak setuju dengan jalan kekerasan. Harus dengan jalan damai. Dan saya yakin, itu bisa. Kenapa saya yakin? Karena mereka itu Islam. Kalau sudah jalan damai, berarti mesti bisa. Tidak mungkin tidak Bukankah ajaran Islam begitu. Baik itu menghadapi Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, dan Daud Beureuh. Harus jalan damai.

Sebab, saya anggap, timbulnya semua itu bukan karena semata-mata mau mendirikan negara dalam negara, pada hakikatnya. Tidak. Kemudian memang berkembang begitu. Pada awalnya tidak. Semuanya karena kecewa. Karto Suwiryo pernah kecewa dengan pemerintah pusat karena bersikap kompromostis. Daud Beureuh juga begitu, karena kecewa dianaktirikan, kasarnya. Kahar Muzakkar, apalagi. Karena tidak mau dianggap cuma gerombolan, jadi mesti ada bentuk suatu negara. Supaya ada hukum yang berlaku pada mereka.

Saya lihat, pemerintah pusat, dalam menghadapi itu, bukannva mendudukkan masalah pada yang baik, tapi malah untuk mendominasi. Makanya, saya lihat, tindakan itu lebih banyak subyektivitasnya. Baik dari segi PNI-nya maupun dari segi Nasution-nya. Kenapa Nasution berbuat begitu pada mulanya, saya kira dia merasa belum yakin dengan kekuatannya, baik terhadap kaum politik maupun terhadap angkatan darat. Mungkin, sesudah itu, dia merasa telah mantap, baru dia mengambil suatu jalan yang pada mulanya sebenarnya dia setuju dengan jalan damai. Makanya, dia setuju jalan damai dengan Daud Beureueh, karena dia merasa sudah stabil kekuatannya.

Di PRRI itu, saya sebagai koordinator militer. Lebih banyak di bidang koordinasi dan informasi, sebetulnya. Tidak merupakan command. Saya banyak bergerak di Kabupaten Sijunjung, dekat perbatasan Jambi.

Kegagalan PRRI/Permesta itu, kalau saya lihat karena beberapa faktor. Faktor pertama, kalau saya ambil dari segi metafisisnya, memang tidak clean. Pejuang-pejuang di daerah itu juga tidak bersih. Masih ada akunya. Ada rasa ingin dapat kuasa, ingin dapat harta. Tidak clean leadership. Belum. Kedua keberanian itu tidak kelihatan. Hanya beberapa kelompok kecil yang berani. Banyak yang lari kalau ketemu musuh. Ketiga, karena kami itu pencar-pencar. Jauh-jauh. Di samping itu, segi materiil juga sangat terbatas.

Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa kami yang membuka jalan perang saudara, itu tidak betul. Kami sadari bahwa kami lemah. Maka, ditempuh jalan damai. Kita kirim beberapa delegasi. Tapi karena dibom, itu tak ada jalan lagi. Ya, hadapilah apa yang bisa dihadapi. Memang, dalam perjuangan, siapa saja yang kita anggap teman, ya, dijadikan teman. Kebetulan, Amerika paling dekat, karena sama-sama antikomunis. Kita lihat, saat itu perkembangan komunis mulai pesat di mana-mana. Karena itu, kami berusaha dekat mereka itu. Saya sendiri secara pribadi tidak punya hubungan dengan Amerika.

Yang berhubungan, teman-teman dari Dewan Banteng dan Permesta. Saya bermarkas di Kewalian Nagari Sungai Limau, di sebelah barat Sungai Dareh. Anak buah saya yang aktif ikut saya cuma 3-4 orang. Memang kami latih 2 regu. Senjata cuma 2-3 buah.

Yang banyak berhubungan dengan pihak luar negeri seperti Amerika itu memang tidak langsung Sumitro, tapi ada memakai jalur dia. Juga jalur Mister Rasyid, dan jalur Simbolon. Pak Sjafruddin juga punya channel, tapi yang bertanggung jawab dalam itu, ya Simbolon, sebagai Menteri Luar Negeri. Pak Sjaf sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan. Saya tidak masuk dalam kabinet itu.

***

Setelah diumumkan amnesti dan abolisi di radio, saya tidak membantahnya. Saya menerima apa adanya. Saya termasuk yang terakhir turun. Saya bebas setelah Orde Baru. Lalu saya tinggal di Bogor, hingga sekarang ini. Waktu mula-mula bebas itu, saya berusaha jumpa dengan Bung Karno. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan padanya. Karena dia satu-satunya yang tahu segala macam personalia kita. Saya yakin, Bung Karno akan mau bercerita pada saya. Karena saya dulu dekat dengan dia. Saya minta izin pada Pangkopkamtib Sumitro dan KaBakin Suprijono. Tapi tidak dikasih.

Setelah bebas, saya bermaksud menciptakan kerja intelijen di luar pemerintah. Karena itulah pengalaman saya. Saya jumpa dengan Sutopo Yuwono, Ali Murtopo. Kelihatannya ide saya diterima. Maksud saya membuat suatu elemen yang komplementer pada badan intelijen resmi. Dalam rangka itu, saya minta kesempatan keliling dunia untuk mengunjungi negara-negara komunis dan nonkomunis serta yang antikomunis. Seluruhnya, ada setahun saya keliling. Hampir semua negara saya kunjungi. Kesimpulan saya, di situ saya lihat, dunia di masa yang akan datang ini tidak semata-mata ideologis, dasarnya. Sudah banyak aspek teknologis. Menuntut perubahan. Kata Bung Karno, Panta Re.

Waktu saya keliling dunia itulah, saya kenal Mr. Leet, Cina muslim. Dia menawarkan usaha pasir untuk bangunan di Singapura. Maka, berdiri PT Riau Timas ini. Lokasi proyeknya di Riau, karena dekat Singapura. Dari segi keamanan, tempat itu baik sebagai tempat foolhold, karena pintu gerbang masuknya komunis. Sekiranya komunis masuk, bisa diketahui. Di samping aspek ekonomisnya, juga ada aspek sekuriti politisnya, perusahaan ini berada di sana. Peralatan disediakan oleh pihak Singapura, yang dipotong dengan produksi, sampai akhirnya peralatan jadi milik sendiri. Jadi, boleh dikatakan, dari nol kapital, karena dibantu teman-teman saja, sekarang aset perusahaan ini sudah mencapai lebih dari Rp 1 milyar.

Tak Mampu Lagi

Istri saya adalah adik kandung Sultan Kanoman, Cirebon. Ceritanya, waktu itu semangat antifeodal. Jadi, para pemuda kita mau menghantam semua. Termasuk di Solo dan Cirebon. Saya ikut membela. Di Solo juga begitu. Barisan Banteng di Solo mau mengambil tindakan terhadap Keraton Solo. Saya cegah. Itu pun saya dicurigai.

Sampai saya dipanggil Ketua Komisariat 111 di Solo. Waktu itu pemerintahan di Solo bukan gubernur, tapi komisariat. Ketuanya Pak Suroso, kakak mertua Nasution.

Saya tidak setuju dengan tindakan Bansan Banteng itu. Memang kita anti feodal, tapi jangan mengambil tindakan semau-mau kita. Jangan anarki. Akhirnya, Pak Suroso mengadu pada Bung Karno. Saya lalu dipanggil Bung Karno. Sukarno tanya pada saya, “Bis, apa betul mencegah gerakan antifeodal itu?”

“Betul, Pak. Saya mencegah bukan berarti saya pro feodal. Tapi jangan anarki. Kita arus menurut hukum.”

“Itu betul, Bis. Suroso, kamu salah,” kata Bung Karno.

Pada suatu hari saya ditawari oleh Sultan Kanoman. Bukan saya cari perempuan . . . he-he. “Bapak apa sudah beristri atau belum?” Belum, kata saya. Saya lalu ditawari adik beliau. Tapi saya bilang, saya belum berminat berumah tangga. Beberapa bulan kemudian, saya ditawari lagi. Lalu saya lapor pada Bung Karno. “Bagaimana, Bung Karno. Apakah saya boleh berumah tangga?” Bung Karno bilang, boleh saja.

Pernikahan saya di Linggarjati, pada saat pertemuan Linggarjati ada. Persis pada waktu yang sama. Masih sempat saya lihat Bung Amir berenang di kolam renang di Linggarjati. Di sana keluarga saya juga ikut berenang. Jadi, saya dapat istri bukan cari-cari, tapi ditawari, ditawari. Istri saya namanya Ratu Zainab. Beda usia kami 2-3 tahun.

Waktu PRRI, istri saya ikut. Katanya, dia tidak mau ditinggal. Dia kuat jalan. Saya berjalan kaki dari Sungai Dareh masuk hutan, terus keluar Sungai Abesia. Itu hutan. Orang rumah saya, kakinya sudah bengkakbengkak. Sesampainya di Bidara Alam, sebelum Tanjung Gadang, saya ditemui Wali Nagari Bidara Alam. Dia memberikan dua tongkat untuk dipilih. Saya di sana dikenal sebagai Pak Haji. Ada cerita yang mengatakan saya bisa menghilang dan sebagainya. Jadi, banyak orang mau kenal, termasuk Wali Nagari ini.

Anak saya sembilan yang masih hidup. Lima pria, empat wanita. Dari lima pria itu, empat orang sarjana teknik. Yang perempuan, keempatnya sudah berumah tangga. Paling kecil, anak perempuan, masih kuliah di Kedokteran Yarsi. Menantu saya, baik laki-laki atau perempuan, semua suku Jawa dan Sunda. Anak saya semuanya saya larang jadi militer. Cukup saya saja. Mudah-mudahan, anak saya sekarang bisa berdiri sendiri. Bukan karena saya bantu. Tidak ada model relasi. Mereka harus bisa berdiri sendiri.

Sehari hari sekarang saya banyak membaca. Karena itu, saya juga banyak kecewa, karena tidak clean. Kurang demokratis. Menurut saya, pemilu itu jangan lagi pakai tanda gambar lagi. Itu sudah kolot. Kita sudah maju. Kenapa India itu bisa berdasarkan orang? Memang ada yang khawatir, kalau orang yang dipilih, nanti kiai-kiai yang dipilih. Kiai itu kan juga bersekolah. Kiai itu juga intelektual. Dia itu pemimpin rakyat. Tapi apa salahnya?

Kegiatan saya sehari-hari, setiap pagi saya bangun jam tiga atau jam setengah empat paling lambat. Saya sembahyang tahajud. Terus, tak berhenti, lalu berzikir hingga sembahyang subuh. Setelah itu saya gerak badan. Saya melakukan gerak pernapasan, tapi dengan zikir. Bukan dengan cara waitangkung-waitangkung itu. Lalu saya menggerakkan kepala, tangan, terus kaki. Selesai itu, saya mandi, lalu ke kantor.

Biasanya, pagi saya keliling ke departemen-departemen. Kita kan pengusaha. Jadi, harus dekat dengan pejabat. Apalagi sekarang ini kan pejabat kita public service-nya kurang. Mesti dihormati. Bukan seperti di Malaysia. Kalau di sana memang “budak rakyat”. Pejabat kita kan belum menjadi public servant. Belum. Masih jauh itu.

Jadi, kalau saya disuruh tunggu, ya tunggu. Memang ada sesama teman-teman saya bekas tentara tidak tahan begitu. Ya, memang harus datang pada pejabat yang lebih muda usianya, yang tidak tahu soal perjuangan malah, eh, tahu-tahu harus dihormati. Memang kadang-kadang menyakitkan. Tapi kegiatan itu saya ikuti.

Saya pulang ke rumah mendekati magrib. Membaca surat kabar. Kalau dulu, paling cepat pukul 12 malam saya tidur. Sekarang ini, pukul setengah sepuluh sudah tidur. Kalau bangun pagi itu, memang dari ajaran orangtua saya. Katanya, “Siapa yang bangun pagi, emas sudah ada di mulutnya.” Sungguhpun dulu ketika saya masih punya jabatan, saya harus tidur pukul 2-3 malam karena banyak kerja, pukul 5 pagi saya sudah bangun.

Biasanya, hari Minggu saya kumpul dengan cucu di rumah saya di Bogor. Saya memang suka anak-anak. Bawa jalan-jalan. Kalau ada duit, bawa jalan-jalan cucu, terkadang ke Puncak, terkadang ke laut. Berkumpul dengan keluarga, memang pada hari Minggu. Hari lain tidak sempat.

Filsafat hidup saya cuma dua. Pertama, berpegang teguh pada kebenaran, dan amalkan kebenaran itu. Kedua, berbuat sebanyak mungkin pada orang lain. Dari apa yang kita cita-citakan dulu waktu berjuang, sekarang masih jauh sekali dari yang diharapkan. Yang benar itu masih jauh. Yang saya lihat, makin di atas dia, makin jauh dia dari kebenaran. Kalau masih bisa memberontak, saya akan memberontak. Tapi saya tidak mampu berontak. Sekarang ini, orang-orang semakin egoistis.

About these ads

15 Comments on “Zulkifli Lubis Komandan Intelijen Pertama …

  1. alamendah
    April 16, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    panjang juga ya sejarah intelejen di negeri kita

  2. alamendah biru
    April 16, 2010

    (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Masalah beginian kang cepot emang yahuuud

  3. kang cepot, kalo yg beginian emang ok bgt.. dulu pernah teman bertanya dalam diskusi “apakah PRRI di Sumatera Barat kelanjutan dari PDRI (pemerintahan darurat ketika ibukota negara Jogja jatuh ke tangan NICA) mohon maaf kalo salah-salah, .. mohon pencerahannya

  4. Just Revolution
    April 16, 2010

    Sampai berkeringat bacanya…but, i like it

  5. melly
    April 16, 2010

    Blognya keren bgt, penuh dengan sejarah :)

  6. rusydi
    April 18, 2010

    sebatas apa isi blog ini bisa dipercaya sebagai karya ilmiah. karena tanpa refremsi, isi blog ini bisa menjadi ahistoris, sebtas teks saja.

    ———————–
    Kopral Cepot : Coba teliti membacanya, kami berupaya untuk slalu menampilkan referensinya. Ingat .. blog bukan “buku” dan kami tidak menganggap ini sebagai “karya ilmiah” tapi ini “karya anak negeri” … Ilmiah itu di mindset bung ..
    Hatur tararengkyu ;)

    • adi
      Juni 30, 2011

      kisah ini menemui kecocokan dengan buku Intel : Inside Indonesia’s Intelligence Service, karya Kenneth Conboy, yang diterjemahkan oleh Pustaka Primatama menjadi Intel:Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. Jadi, menurutku, artikel ini cukup valid

  7. jokjaicon
    Agustus 30, 2010

    mohon ijin sedot dalam2 n sebar lebar-lebar tulisan na ya kang…. menarik bwanget neeeh..

  8. rudi
    Januari 25, 2011

    Mantafffffffffff………………..

  9. Ping-balik: Peristiwa Cikini beragam versi « Biar sejarah yang bicara …….

  10. kokocepoe
    April 13, 2011

    hebat banget dedikasi dan loyalitas terhadap nkri….engkau pemimpin besar yg harus jd contoh bg generasi muda bangsa ini….semoga engkau tenang di pelukan bumi pertiwi dan mendapat rumah megah di haribaan ALLAH SWT….smg ‘eyang jenggot’ bahagia disana dan bisa bertemu eyang kakung prabu…kalian telah meninggalkan sejarah tinta emas utk TNI koe…majjulah seperti yg di cita2kan para pendiri2 moe terdahulu…

  11. Rani fitriyani
    September 12, 2011

    siep bangets tuh informasinya,,,
    Semoga sukses selalu ya ,,,

  12. rhara
    Agustus 11, 2012

    proud to read this blog, i am one of his grandchildren :’)

  13. Mustiko Laut
    Januari 6, 2013

    Sejarah Bpk.Zulkifli Lubis benar sekali, disamping beliau sahabat Ayahku, saya jg pernah bertemu. Beliau orangnya sangat sederhana di klasnya, kalau dibanding petinggi sekarang jauh langit dan bumi. Masih banyak sejarah yg belum dibukukan atau ditulis, disamping ybs tdk mau publikasi nanti di bilang pamrih, karena pada masa orba orang2 tsb menjadi incaran krn dianggap musuh, krn pro Sukarno. Saat ini (reformasi) beliau2 sdh pada mangkat. Jadi ya doa kita semua yg bisa diberikan….karena pahlawan sejati adalah tdk dikenal dan tdk butuh apapun kecuali sumbangsehnya bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara….

    Salam
    Mustiko

  14. Ping-balik: Sejarah Perguruan Cikini « khalisapra

بسم الله الرحمن الرحيم

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Megatruh Kambuh oleh Noer Mei 25, 2013
    Rendra hebat, bagaimana pertanian yang seharusnya dilakukan diulas dengan baik juga. Karena pola pertanian yg telah dibikin begitu tergantungan oleh teknologi "impor", bagi petani alam tidak hanya berkat tetapi sekaligus dapat menjadi kutukan ... Salam kang.
    Noer
  • Komentar di Jong Islamieten Bond : Meng-Islam-kan Kaum Terpelajar oleh herman Mei 25, 2013
    Saya melihat Jong Islamieten Bond ini sebagai usaha awal para pemuda Islam untuk membendung merebaknya sekulerisme dan ajaran2 Theosofi yang mewabah di kalangan intelektual2 muda. Sementara jika PII memiliki spirit yg sama (pada mulanya), yang jadi pertanyaan saya, kemana "mereka" hari ini? Padahal pemuda-pemuda Islam saat ini jadi sasaran empuk un […]
    herman
  • Komentar di Jong Islamieten Bond : Meng-Islam-kan Kaum Terpelajar oleh Ibnu Sunarka Mei 25, 2013
    Didalem kita poenja sedjarah, memang kaoem moeda selaloe tampil dimoeka. Kita soeka tjerita en pengalaman dahoeloe diketahoei bersama. Pemoeda tiang negara, pemoedi tiang isteri. Pemoeda harapan bangsa, pemoedi jang baik harapan pemoeda...Landjoetken pot...
    Ibnu Sunarka
  • Komentar di Unduh e-Book Sejarah oleh Suwarno Cakramenggala Mei 25, 2013
    Terimakasih bang Kopral atas buku bukunya, bisa menghemat beberapa ratus ribu pengeluaran saya hehe hatur nuhun
    Suwarno Cakramenggala

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: