Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Melanjutkan Perspektif Tragedi Bubat

Tulisan Sebelumnya :

Tragedi Bubat Dalam

Perspektif Jawa Timur

Oleh : Agus Sunyoto, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya Malang

Peristiwa pertempuran Bubat yang terjadi sekitar 650 tahun silam adalah peristiwa sejarah yang paling menarik untuk dikaji. Pasalnya, peristiwa yang menyisakan dendam kolektif itu tidak saja melahirkan aneka versi yang berkaitan dengan cerita-cerita tentang latar alasan kenapa peristiwa itu bisa terjadi, tetapi juga memunculkan pula aneka versi cerita yang berkaitan dengan apa yang terjadi setelah peristiwa Bubat.

Dalam tulisan singkat ini, saya ingin mengungkapkan salah satu cerita yang berkembang secara lisan di lingkungan keluarga-keluarga yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Majapahit, yang berhubungan dengan peristiwa Bubat.

Di dalam naskah Kidung Sunda yang diterbirkan C.C. Berg dengan judul Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundayana) pada 1928, disebutkan bahwa Raja Sunda, permaisuri, dan putri bertolak ke Majapahit disertai 200 kapal besar ditambah kapal-kapal kecil sampai berjumlah 2.000. Raja Sunda dikisahkan menaiki kapal jenis jong buatan Cina. Informasi dari Kidung Sunda ini, meski harus dikonfirmasi dengan sumber lain kesahihannya, menunjukkan bahwa jumlah rombongan dari Kerajaan Sunda beribu-ribu orang.

Kidung Sunda selanjutnya menggambarkan bahwa di Majapahit saat itu diadakan persiapan penyambutan tamu secara besar-besaran. Raja Hayam Wuruk beserta dua pamannya –Raja Kahuripan dan Raja Daha– sudah berkumpul di Bale Agung bersama para menteri dengan sukacita. Namun, semua yang sebelumnya bersukacita, tiba-tiba berdiam diri ketika melihat raut wajah Patih Gajah Mada menunjukkan rasa tidak suka. Bahkan, Gajah Mada mencela Hayam Wuruk dengan mengatakan bahwa kurang tepat raja merendahkan diri menyongsong seorang raja bawahan.

Siapa yang tahu apakah orang-orang Sunda itu tidak datang sebagai musuh yang menyamar sebagai sahabat? Gajah Mada mempersilakan Hayam Wuruk agar tinggal di keraton dan menunggu. Hayam Wuruk yang saat itu usianya belum genap tujuh belas tahun, menurut saja kepada keinginan Gajah Mada de-ngan memerintahkan semua agar kembali ke keraton dan membatalkan semua upacara penyambutan. Para menteri terkejut ketika mendengar pe-rintah tak terduga itu, tetapi mereka takut kepada raja dan patih sehingga semua diam saja tidak menentangnya.

Setelah memaparkan secara panjang lebar perselisihan yang terjadi antara Patih Sunda bernama Anepaken dan pejabat tinggi Sunda dengan Gajah Mada yang berujung pada pecahnya perang (pupuh 1.58-78 sampai pupuh 2.81-98), yang diikuti bela pati permaisuri, putri raja dan istri para mantri Sunda yang melakukan bunuh diri di atas jenazah suami-suami mereka (pupuh 3.l- 26). Setelah itu, secara panjang lebar digambarkan bagaimana penyesalan Hayam Wuruk atas peristiwa itu, yang membuatnya ingin mengikuti jejak mempelainya ke alam baka, yang dilanjutkan upacara mendoakan arwah para korban (pupuh 3.27-42).

**

Langkanya catatan historis dari peristiwa Bubat yang memalukan yang seperti sengaja ditutup-tutupi itu, pada gilirannya menimbulkan banyak tanda tanya yang berujung pada munculnya berbagai spekulasi yang melahirkan berbagai varian cerita bersifat historiografi ataupun lisan seperti cerita bahwa Gajah Mada berasal dari Galuh, cinta terpendam Gajah Mada terhadap Dyah Pitaloka, dan bahkan kisah saling cinta antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Lepas dari pembenaran cerita-cerita semacam itu, dalam aspek kesejarahan langkanya catatan-catatan historis tentang peristiwa tragis di Bubat, telah menimbulkan sejumlah pertanyaan yang tidak mudah dijawab seperti berapakah sesungguhnya jumlah rom-bongan dari Kerajaan Sunda yang gugur dalam pe-ristiwa tersebut? Adakah pejabat atau prajurit Sunda yang mengiringi Raja Sunda masih hidup setelah peristiwa tersebut? Di-dharma-kan di manakah jenazah Raja Sunda beserta permaisuri dan putri serta pengiringnya?

Sekalipun Kidung Sunda menggambarkan kehadiran rombongan Raja Sunda de-ngan hitungan kapal-kapal besar sejumlah 200 ditambah kapal-kapal kecil sampai 2.000 buah, tidak ada penjelasan perinci tentang berapa jumlah pasti rombongan Raja Sunda yang terbunuh dalam peristiwa Bubat. Kidung Sunda hanya mencatat adanya 300 prajurit pengawal yang mengiringi Patih Anepaken ditambah sejumlah pejabat penting Kerajaan Sunda saat berselisih de-ngan Gajah Mada.

Selain itu, Kidung Sunda mencatat bahwa dari sejumlah prajurit pengawal raja yang sudah bertekad untuk gugur bersama sang raja, ternyata masih ada yang hidup, yang digambarkan sebagai mantri Sunda bernama Pitar yang pura-pura mati di antara jenazah para korban dan membiarkan dirinya ditangkap pasukan Majapahit. Setelah dibebaskan pasukan Majapahit, Pitar diki-sahkan melapor kepada permaisuri Raja Sunda dan putrinya tentang peristiwa tragis yang dialami sang raja beserta semua pengikutnya, yang membuat permaisuri, selir, putri, dan istri para mantri Sunda sepakat untuk melakukan bela pati, dengan bunuh diri di atas jenazah suami-suami mereka.

Dari cerita mantri Sunda bernama Pitar, dapat disimpulkan bahwa setelah peristiwa tragis dialami Raja Sunda di Bubat, pasukan Majapahit di bawah Hayam Wuruk datang ke medan tempur Bubat. Pasukan inilah yang menemukan Pitar dan kemudian menangkap, tetapi kemudian membebaskannya. Itu menunjukkan bahwa tidak semua pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada. Bahkan, pada akhir cerita Kidung Sunda digambarkan bagaimana semua orang Majapahit di bawah Raja Kahuripan dan Raja Daha, paman Hayam Wuruk, menyalahkan Gajah Mada, kemudian memerintahkan untuk membunuh patih tersebut.

Kidung Sunda tidak sedikit pun memberitakan letak pasti para korban Bubat di-dharma-kan. Kidung Sunda hanya menuturkan bahwa jenazah putri Raja Sunda ditemukan di pesanggrahan dan bukan di Bubat. Sementara dalam cerita tutur yang berkembang dikisahkan bahwa putri Sunda di-dharma-kan di lingkungan Keraton Majapahit di suatu tempat yang dinamai Citra Wulan (Rembulan yang cantik. Sekarang tersisa pada nama toponimis Trowulan-pen.).

Di kompleks situs Trowulan terdapat satu reruntuhan candi yang dikenal penduduk dengan nama Candi Kenconowungu, yaitu nama seorang ratu wanita Majapahit dalam dongeng yang biasanya dipentaskan dalam cerita Damarwulan. Apakah yang dikenal Candi Kenconowungu itu sebenarnya pen-dharma-an putri Sunda? Perlu dilakukan penelitian lebih dalam.

Sementara masih dalam kompleks situs Trowulan tidak jauh dari Candi Kenconowungu, terdapat tempat bernama Sentanarajya (Keluarga Kerajaan. Sekarang tersisa pada nama toponimis Sentanareja-pen.) di mana ditemukan situs Sumur Upas (sumur beracun). Apakah di Sentanareja ini Raja Sunda beserta permaisuri dan selir di-dharma-kan? Perlu diadakan penelitian lebih lanjut.

Keturunan Sunda juga Menjadi Raja di Majapahit

Akibat psikologis dari peristiwa Bubat yang seperti sengaja ditutupi itu, sampai sekarang menjadikan masyarakat Sunda secara umum memiliki asumsi bahwa dalam peristiwa Bubat itu Raja Sunda beserta seluruh rombongannya gugur tak bersisa. Timbulnya asumsi semacam itu dapat dipahami karena sejak pecahnya peristiwa memilukan tersebut hubungan Majapahit dengan Sunda dapat dikatakan terputus.

Apa yang terjadi di Majapahit tidak banyak diketahui pihak Sunda, demikian sebaliknya. Namun di balik semua asumsi tentang habis tanpa sisanya rombongan Sunda dalam peristiwa Bubat, perlu dilakukan penelitian untuk memperjelas apakah asumsi tersebut memiliki dasar yang bisa dibenarkan secara historis.

Lepas dari benar dan tidaknya asumsi-asumsi seputar habisnya rombongan Raja Sunda dalam pe-ristiwa Bubat, di tengah masyarakat Jawa berkembang cerita-cerita lisan dan catatan historiografi –yang disertai silsilah genealogi keluarga-keluarga bangsawan keturunan Majapahit– yang mengaitkan genealogi sejumlah keluarga feodal Jawa dengan orang-orang Sunda yang terlibat dalam peristiwa Bubat.

Cerita-cerita itu berkembang secara turun-temurun di dalam keluarga-keluarga yang memiliki hubungan dengan raja-raja Majapahit akhir, terutama keturunan Sri Prabu Kertawijaya (Maharaja Majapahit 1447-1451) yang masyhur dikenal dengan nama Prabu Brawijaya V.

Dalam naskah ”Tedhak Poesponegaran” (catatan silsilah genealogis keturunan Kyai Tumenggung Poespanegara, Bupati Gresik pertama, 1688-1696) diperoleh penjelasan bahwa Kiai Tumenggung Poespanegara adalah keturunan kesepuluh Maharaja Majapahit Sri Prabu Kertawijaya.

Dijelaskan dalam naskah tersebut bahwa Sri Prabu Kertawijaya adalah putra Prabu Brawijaya IV Sri Prabu Wikramawardhana dari seorang selir putri Sunda bernama Citraresmi. Dari perkawinan itu lahir Ratu Puteri Suhita dan adiknya Dyah Kertawijaya yang kelak menjadi Sri Prabu Kertawijaya. Tidak ada penjelasan tentang siapa putri Sunda bernama Citraresmi itu kecuali cerita lisan keluarga bahwa putri yang menjadi leluhur keturunan Sri Prabu Kertawijaya itu adalah putri seorang Sunda bernama Sutraja. Senapati Sutraja yang dikisahkan gugur dalam peristiwa Bubat, rupanya meninggalkan se-orang istri yang mengandung yang dijadikan abdi oleh Bhre Paguhan Singhawardhana, ayahanda dari Prabu Wikramawardhana.

Meski tidak ada catatan resmi tentang selir Prabu Wikramawar-dhana bernama Citraresmi yang melahirkan Ratu Stri Suhita dan Sri Kertawijaya, yang pasti nama Ci-traresmi, Suhita, dan Kertawijaya bukanlah nama yang lazim digunakan di Jawa pada masa Majapahit maupun masa sesudahnya.

Sumber lain yang berhubungan dengan orang-orang Sunda yang terkait peristiwa Bubat adalah silsilah genealogi keturunan Aria Damar Adipati Palembang. Dalam semua historiografi Jawa, disebutkan bahwa Aria Damar adalah putra Sri Prabu Kertawijaya dengan seorang perempuan bernama Endang Sasmitapura. Aria Damar dibesarkan oleh ibu dan uwaknya, Ki Kumbarawa di pertapaan Wanasalam (nama hutan di selatan Majapahit). Selama menjalankan tugas sebagai panglima perang Majapahit, Aria Damar dikisahkan memiliki empat istri. Dari istri bernama Sagung Ayu Tabanan lahir putra bernama Arya Jasan yang menurunkan raja-raja Tabanan di Bali.

Dari istri bernama Wahita lahir putra bernama Arya Menak Sunaya yang menurunkan raja-raja Madura. Dari istri bernama Nyi Sahilan lahir putra bernama Raden Sahun Pangeran Pandanarang yang menurunkan bupati-bupati Semarang dan Sunan Tembayat. Dari istri Cina bernama Retno Subanci lahir putra bernama Raden Kusen yang setelah dewasa menjadi Adipati Terung yang menurunkan bupati-bupati di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Dalam silsilah genealogi keturunan Aria Damar diperoleh penjelasan tentang kakek Aria Damar dari pihak ibu, yang bernama Kaki Palupa. Siapakah Kaki Palupa? Dalam cerita lisan dituturkan bahwa Kaki Palupa adalah seorang kepala prajurit Sunda yang selamat dari peristiwa pembunuhan Bubat karena memiliki ilmu bhairawa.

Kaki Palupa dikisahkan tinggal di hutan Wanasalam dan mendirikan pertapaan di sana. Dari pernikahan Kaki Palupa dengan Nyi Palupuy, lahir Ki Kumbarawa dan Endang Sasmitapura. Lepas dari benar dan tidaknya kisah tersebut dengan fakta sejarah, yang pasti nama Palupa, Palupuy, Kumbarawa, dan Endang Sasmitapura bukanlah nama yang lazim digunakan di Jawa pada masa Majapahit maupun masa sesudahnya.

**

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat ditarik sejumlah simpulan dari cerita yang berkaitan dengan peristiwa Bubat yang berhubungan dengan pelacakan jejak sejarah atas peristiwa tragis tersebut.

Pertama, dalam peristiwa Bubat tidak semua pengiring Raja Sunda yang digelari nama anumerta Sri Maharaja Linggabhuwana Sang Mokteng Bubat tersebut, gugur. Sebagian mereka tinggal bersama keluarga raja Majapahit dan keluarga-keluarga keturunan Sunda yang tinggal di Majapahit semenjak masa Sri Kertarajasa –Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh yang berasal dari Ke-rajaan Sunda– merintis berdirinya Kerajaan Majapahit.

Kedua, dengan naik tahtanya Prabu Stri Suhita (Maharani Majapahit 1427 – 1447) yang diteruskan Sri Prabu Kertawijaya (Maharaja Majapahit 1447-1451), tahta Majapahit yang ditegakkan orang Sunda bernama Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh, kembali diduduki oleh raja-raja keturunan Sunda.

Fakta historis terkait sisa peninggalan Prabu Stri Suhita yang terabadikan dalam wujud kompleks Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu dan peninggalan Sri Prabu Kertawijaya dalam wujud kompleks Candi Cetho, menunjukkan ciri aneh yang sangat berbeda dengan candi-candi peninggalan Majapahit lain, baik dalam hal susunan, struktur, ragam hias, simbol-simbol ikonografis, jenis cerita relief, bahkan pantheon dewa-dewa yang justru menunjukkan kemiripan dengan arca Sanghyang Dengdek di Gunung Pulasari Banten, arca Caringin, arca Gunung Raksa, dan arca Pulau Panaitan.

Bernet Kempers (1959), Soekmono (1973) dan Nigel Bullough (1995) yang tidak cukup mengeta-hui bahwa Suhita dan Kertawijaya berdarah Sunda, menyikapi ke- anehan yang terdapat pada Candi Sukuh dan Candi Cetho dengan simpulan bahwa pada era kedua maharaja kakak beradik itu, terda-pat tanda-tanda kebangkitan kembali anasir animisme lama berupa pemujaan arwah leluhur.

Ketiga, di antara puluhan silsilah genealogi yang dimiliki keluarga-keluarga bangsawan Jawa yang mengaku keturunan Majapahit, semuanya bertemu pada tokoh historis Sri Prabu Kertawijaya atau Brawijaya V, yang dalam sejumlah versi digambarkan memiliki 24 orang istri dan 117 orang putra dan putri.

Itu dapat disimpulkan, ibarat pepatah ”mati satu tumbuh seribu”, gugurnya Maharaja Sunda beserta rombongan dalam peristiwa Bubat, tidaklah melenyapkan sama sekali pengaruh Sunda di Majapahit, melainkan malah memunculkan Maharaja-maharaja Majapahit berdarah Sunda seperti Prabu Stri Suhita, Sri Prabu Kertawijaya beserta putra-putra dan cucu-cucunya seperti Bhre Wengker Hyang Purwawisesa (1456-1466), Bhre Pandan Salas (1466-1468), Sri Prabu Singha Wikramawarddhana (1468-1474), Sri Prabu Natha Girindrawarddhana (1478-1486).

Bahkan, saat tahta Majapahit jatuh ke tangan Bhre Wijaya yang muncul dari garis keturunan Bhre Pamotan Sang Sinagara, kekuasaan Majapahit diakhiri oleh serangan yang dilakukan oleh putra dan cucu Sri Prabu Kertawijaya yang berkuasa di Demak: Raden Patah dan Sultan Trenggana.

Sumber : Koran Pikiran Rakyat Edisi Selasa 30 Maret 2010

About these ads

29 comments on “Melanjutkan Perspektif Tragedi Bubat

  1. pagibening
    Maret 30, 2010

    Saya suka cerita ini. Saya pernah memainkan purnadrama perang bubat 3 kali. Karena pusat kerajaan sunda jaman itu ada didaerah V. Prasasti-prasastinya pun masih ada. Biasanya setiap 2 tahun sekali ada pergelaran semalam penuh ditempat V, acara terakhirnya biasanya ada pementasan tentang perang bubat. Sepertinya akan dilaksanakan lagi bulan mei tahun ini. Nama acaranya Nyiar Lumar.

    —————–
    Kopral Cepot : Wah hebat atuh … coba bisa nonton pementasannyah pasti seru .. hatur tararengkyu info nyah ;)

    • Usup Supriyadi
      Maret 30, 2010

      iya, jadi kepengen liat pementasannya . :mrgreen:

  2. sedjatee
    Maret 30, 2010

    Sahabat Sejati…
    Telah ada 83 komentar pada Kuis Sahabat Sejati, termasuk darimu…
    Terima kasih atas partisipasinya, Sahabat Sejati
    Semata itu semua untuk menjalin persahabatan antara kita
    Semoga berkenan untuk selalu menjadi Sahabat Sejati
    Salam sukses dan terima kasih…

    sedjatee

    http://sedjatee.wordpress.com

    • Usup Supriyadi
      Maret 30, 2010

      wah luar biasa atuh mas djati ;)

  3. achoey
    Maret 30, 2010

    Cobi Kopral Cepot main ke Kawali (Ciamis), benar itu dekat rumahnya Pagi Bening (calon istri saya) ada peninggalan2 kerajaan Sunda. Kami sendiri bangga menjadi orang sunda. Orang sunda yang penuh persaudaraan.

    • kopral cepot
      Maret 30, 2010

      Atuh ngantos uleman walimahan Kang Achoey ajah ;)

      Hatur tararengkyu kang

      • yos
        April 4, 2010

        artinya apa tuh mas… heheh

    • abifasya
      Maret 30, 2010

      cocok deh kang acoey saren neg pagibening.

  4. infoaja.com
    Maret 30, 2010

    pantesan orang sunda tuh ngga mau mengakui jawa ya,,,

    • andipeace
      April 3, 2010

      :D tapi banyak orang sunda yang ingin belajar bahasa jawa mas.
      dengan alasan kuat biar kalau dikatain, mereka ngerti :D

      salam hangat dari wong jowo

  5. abifasya
    Maret 30, 2010

    Kumaha ayeuna mah urang sawlakeun ku papada blogger sunda urang ngadamel Film versi sunda na, simkuring siap janten Gajah Mada da mirip saurnamah cobi tingali di diyeu pasti nyebat miripa :lol: :lol:

    http://farhansyaddad.wordpress.com/2010/03/28/penunggu-rumah-kosong/

    tah upami keukeuh teu mirip kumaha pami sim kuring janten Raja Pajajaran we atuk :lol: :) :) :lol:

  6. ilyasafsoh.com
    Maret 30, 2010

    i like it :)

  7. delia4ever
    Maret 30, 2010

    jujur baru ini baca cerita tentang tragedi bubat…
    msih banyak sejarah-sejarah di negara kita yang patut untuk diceritakan kepada generasi penerus..

    salam kenal kapten cepot :)

    • kopral cepot
      Maret 30, 2010

      Hatur tararengkyu … tp maaf sy masih Kopral bukan Kapten :lol:

  8. mesin kasir
    Maret 31, 2010

    Jadi ingat kisah Saur sepuh , waktu putri dari Pajajaran dipinang oleh Raja Majapahit kalo nggak salah. Salam hangat trims info sejarahnya. untuk menambah elmu

  9. tary Sonora
    April 1, 2010

    cerita yg menarik, menambah pemahaman sejarah dari bangsa kita. selama ini dirasa sangat kurang pengetahuan mengenai sejarah2 seperti ini.

    ——————
    Kopral Cepot : Yah … jangan berhenti tuk terus belajar apapun pengetahuannya dan sejarah emang perlu ;)

  10. Hariez
    April 1, 2010

    siang…kang Kopral :D

    kumaha lamun aya bukuekslusifna Kang ? :oops:

    salam hangat

    • yos
      April 4, 2010

      mas haris ki ngomong apa lagi,,,,,
      artinya apa ya, hehehe

  11. Just Revolution
    April 1, 2010

    Sekarang masih banyak “GAJAH MADA2″ yang kurang ajar. Demi kepentingannya embat sana embat sini…

  12. alrisblog
    April 2, 2010

    Menambah perspektif baru tentang pertempuran penuh dendam ini. Salam.

  13. Kakaakin
    April 3, 2010

    Wah, kisah ini baru saya dengar… :)
    *emang dulu kemana aja…* hehe :)

  14. Ping-balik: Mencoba mengembalikan Alexa dengan Pingback « CITRO MADURA

  15. Ping-balik: Sumpah Palapa tidak Terlaksana « Biar sejarah yang bicara ……..

  16. totok soegiharto
    April 24, 2010

    Ass wr wb (kesejahteraan semoga dilimpahkanNya bagiku, bagimu dan bagi kita semua).

    Terima kasih atas tulisan berintikan sejarah dg banyak judul yg berasal dari beragam sumber. Semoga semangat dan jiwa meneliti dan menulis terus bersemayam di dada.

    Tulisan sampeyan tentang Bubat dan Orang2 Sunda di Jawa Timur sangat menambah koleksi pemahaman saya tentang hubungan kekerabatan antar suku di Indonesia.

    Sekali lagi matur nuwun ya….

    Hormat dan salam saya :
    Totok Soegiharto (lahir Surabaya, leluhur dari Palembang dan Gresik, pernah sekolah SMP dan SMA di Malang dan sekarang berkantor dan tinggal tidak jauh dari bekas Istana Kerajaan Pakuan)

  17. Ping-balik: Sumpah Palapa tidak Terlaksana « Adamcreate's Blog

  18. dildaar80
    Desember 4, 2010

    Berbagai Versi Perang Bubat

    1. tidak pernah ada tp ceritanya diciptakan oleh pihak Bali pd abad 17 utk membuat kerajaan Mataram di Yogya sibuk oleh penentangan Sunda sehingga pd waktu itu terjadi perang Mataram-Bali agar pihak Bali bisa menang.
    2. tidak pernah ada tp ceritanya diciptakan oleh Belanda pd abad 17 utk membuat kerajaan Mataram di Yogya sibuk oleh penentangan Sunda atau mencegah bersatunya kekuatan besar Sunda dan Jawa dlm menentang Belanda.
    3. Pernah ada dengan versi yg memposisikan Sunda sebagai korban dan Majapahit sebagai ‘Penjahat’.
    4. Pernah ada dengan versi yg memposisikan Majapahit sebagai korban dan pihak Sunda sebagai ‘Penjahat’.
    5. pernah ada atau terjadi. Masing2 pihak memiliki salah. Perang terjadi secara fair/jujur dan adil. Ada pihak yg kalah dan ada yg menang.

    Pembahasan Berbagai Versi tersebut:

    Ada hasil analisa terbaru, salah satunya mengenai Perang Bubat, oleh Irawan Djoko Nugroho dalam bukunya: “Meluruskan Sejarah Majapahit”. Disebutkan bahwa Perang Bubat di dalam Kidung Sunda dan juga Kakawin Pararaton adalah kisah fiksi yang sengaja ditulis oleh para pujangga Bali pada abad XVII dengan tujuan untuk membendung pengaruh Mataram (Sultan Agung) yang sedang meluaskan wilayah kekuasaannya. Dengan ditulisnya kisah tersebut diharapkan saat itu muncul penentang kuat dari pihak Sunda untuk melawan Mataram.

    Perang Bubat

    Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 masehi.

    Pertempuran yang sangat tidak seimbang tsb dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi – yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

    Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

    Sumber Sejarah yang Meragukan

    Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat ternyata hanya sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali, berjudul Kidung Sunda. Pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920an menemukan beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya.

    Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tsb. ditulis di Jawa atau di Bali.

    Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.

    Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, ratu/permaisuri, dan putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya.

    Perlu di perhatikan pula bahwa catatan peristiwa Perang Bubat tidak terdapat di dalam kitab utama peninggalan Majapahit, Negarakretagama, yang notabene ditulis oleh empu Prapanca sekitar tahun 1365 (satu tahun sepeninggal Gajah Mada). Adalah hampir tidak mungkin jika peristiwa besar sekaliber Perang Bubat dan belum lama terjadi tidak tercatat dalam kitab itu. Hanya disebutkan bahwa desa Bubat adalah suatu tempat yang memiliki lapangan yang luas, dan raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan.

    Rekayasa oleh Penjajah ?

    Perlu dikemukakan bahwa sang penulis Kidung Sunda (yang belum diketahui orangnya) lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

    Sepertinya kita perlu curiga bahwa cerita tentang Perang Bubat dalam Kidung Sunda adalah fiksi belaka dan merupakan rekayasa dari pihak penjajah (Belanda ?) untuk tujuan perpecahan antar suku di pulau Jawa. Bisa jadi syair tersebut diciptakan sendiri oleh ilmuwan Prof. Dr. C.C.Berg atas perintah penguasa kolonial. Hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam.

    Akibat yang fatal yang telah dirasakan oleh bangsa kita atas rekayasa tersebut (kalau memang benar) adalah adanya sikap etnosentrisme orang Sunda terhadap orang Jawa, dan juga pandangan yang sangat negatif orang Sunda terhadap tokoh/figur Gajah Mada (di Jawa Barat hingga saat ini mungkin tidak ditemukan nama jalan; Gajah Mada).

    Semoga bangsa kita tetap bersatu dan tidak ada lagi rasa sentimen kesukuan. Karena sikap etnosentrisme tidak lain adalah hasil dari rekayasa politik pemecah belah si penjajah.

    Sumber-sumber:
    - Perang Bubat, Wikipedia
    - Kidung Sunda, Wikipedia
    - Kitab Negarakretagama (Terjemahan), Maulanusantara, 2008
    - Sejarah Mentalitas Masyarakat Sunda, Vika Chorianti, Unair, Surabaya,2006

    http://www.indonesiaindonesia.com/f/47880-perang-bubat-sekedar-fiksi/

    Penulisan karya-karya sastra tersebut pada saat itu tidak sepenuhnya berdasar kepada data fakta sejarah, namun lebih berdasar kepada pemikiran dan tendensi kepentingan.

    argumentasi tdk ada nama Gajah Mada dan Hayam Wuruk di Jabar itu argumentasi khas org Sunda utk menunjukkan dendam turun-temurun org Sunda thd Gajah Mada dan Hayam Wuruk yaitu tdk ada nama 2 org itu di Jabar.

    emang ada jalan Sri Baduga, jalan Munding laya di Kusuma, jalan …Ciung Wanara di Jateng dan Jatim?

    Nggak ada bukan krn dendam dan benci tapi karena Jateng dan Jatim punya tokoh2 daerah sendiri..he he peace..

    Gajah Mada diklaim oleh banyak daerah

    1. orang NTT (dialog Slamet Raharjo di TVRI malam minggu kemarin mendatangkan tokoh adat NTT yg mengklaim demikian),
    2. diklaim oleh orang Minangkabau (dialog langsung sy dng org Minang);
    3. diklaim oleh… orang Dayak-Kalimantan (sila cari di situs2);
    4. diklaim oleh orang Lampung;
    5. diklaim oleh orang Sidoarjo-Jatim;

    Beberapa novel dan milis-milis malah menyebutkan:
    6. Gajah Mada orang Sunda!!??? ia punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tp ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit

    7. Gajah Mada orang Mongol dsb..banyak versi dan klaim tentang asal usul Gajah Mada..
    8. Cina

    Jawa Tengah tidak pernah mengklaim GM dari daerahnya dan juga tidak pernah diceritakan dlm internet, novel dan sejarahwan sekalipun bhw GM dr daerah Jateng..

    Naskah yang membicarakan proses terjadinya perang Bubat hanyalah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana

    Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda

    Analisa: Dalam perjalanan menuju Majapahit, rombongan Sunda terdiri dari 2.000 kapal (jadi orangnya ada berapa? kalau 1 kapal 100 orang berarti orangnya sekitar 200.000 orang). Perang Bubat kalau benar2 terjadi memang sebuah hal yang patut disesalkan. Tapi harap diingat jumlah pasukan bersenjata yg mengiringi rombongan pengantin Sunda itu sekitar 150 ribu sampai 200 ribuan dihitung scr kasar dari jumlah kapal mereka.

    Tapi setidaknya hal yang harus diperhatikan ialah pasukan Majapahit tidak menyerbu rombongan pengantin tetapi memang perangnya janjian/kesepakatan dua pihak antar prajurit Sunda dengan prajurit Majapahit di medan/lapangan bernama Bubat. Perang ini bukan antara prajurit Majapahit dengn rombongan sipil Sunda tanpa senjata. Perang yg fair/jujur/adil.

    Dalam perang ada yg menang dan ada yg kalah. Rombongan sipil yg tdk ikut berperang (kaum ibu-ibu) sesuai kepercayaan lama mereka (Hindu atau Sunda Wiwitan) bunuh diri menyusul suami atau ayah2 mereka jadi bukan dibantai.

    Versi yang lain mengenai Bubat

    Ada yang janggal menurut saya mengenai sejarah tentang kematian Dyah Pitaloka yang merupakan putri dari Raja Lingga Bhuwana dari kerajaan Sunda, walau cerita itu berdasarkan Pararaton yang notabene adalah sastra peninggalan Jawa namun kalau kita cermati sepertinya ada pemutarbalikan cerita.

    Menurut sejarah yang sedang berlaku saat ini, Dyah Pitaloka atau Citrasemi dilamar oleh Hayam Wuruk untuk dijadikan permaisuri, rencana perkawinan ini diceritakan sebagai perkawinan politik guna menyatukan wilayah Jawa di bawah kekuasaan Majapahit. Oleh Raja Lingga Bhuwana pinangan Hayam Wuruk kepada putrinya yaitu Dyah Pitaloka yang terkenal pandai dan cantik akan diterima dengan satu syarat yaitu status Dyah Pitaloka bukan dijadikan upeti raja, dan sejarah saat ini menyebutkan kalau Hayam Wuruk menyetujuinya. Akhirnya rombongan pengantin berangkat ke Majapahit, namun ketika sampai di Lapangan Bubat terjadi perselisihan karena Patih Gajah Mada mengingkari kesepakatan dan memaksa Raja Lingga Bhuwana menjadikan Dyah Pitaloka sebagai upeti, akhirnya pertarungan pun terjadi, rombongan pengantin Sunda itu ditumpas habis oleh sepasukan prajurit Majapahit dan berakhir dengan bunuh diri oleh Dyah Pitaloka. Konon kecantikan dan kepandaian Dyah Pitaloka sangat tinggi, sampai mpu Prapanca yang mengarang Negarakrtagama mengirimi 2 karya sastra nya. Dari beberapa tulisan menyebutkan, setelah peristiwa itu mengakibatkan hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada merenggang, sampai berujung meninggalnya Gajah Mada.

    BENARKAH DEMIKIAN?

    Ada yang janggal menurut saya!,
    Jika Raja Linggabhuwana memberikan persyaratan kepada Hayam Wuruk bahwa putrinya tidak boleh dijadikan upeti, maka berarti sebelumnya Sunda telah mengirimkan upeti berupa harta benda kepada Majapahit, dengan demikian Sunda telah lama menjadi bawahan Majapahit, dan secara tidak langsung menjawab argumen yang menyatakan bahwa Sunda adalah kerajaan yang tidak pernah dikuasai oleh Jawa.

    Dan sejarah yang menyebutkan bahwa rencana perkawinan tersebut sebagai perkawinan politik itu pun sama tidak benarnya, karena tidak ada suatu alasan apapun yang membuat Hayam Wuruk untuk melakukan itu karena Sunda telah menjadi kerajaan bawahan. Dengan mengacu data tersebut saya menyimpulkan bahwa pada saat itu tidak ada proses peminangan Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka.

    Untuk mendapatkan kesinambungan cerita mengenai peristiwa Lapangan Bubat, saya melakukan pengkajian terbalik yaitu sebagai berikut: untuk mendapatkan posisi lebih kuat atau malah lepas dari kekuasaan Majapahit justru Raja Sunda melakukan siasat politik dengan menjadikan putri nya sebagai upeti pada saat paseban di Majapahit, dengan kemampuan Dyah Pitaloka yang terkenal sangat pintar dan siasat Linggabhuwana yang jitu diharapkan minim Hayam Wuruk mau menerima Dyah Pitaloka menjadi istrinya, entah sebagai selir atau malah permaisuri, dengan demikian secara otomatis Linggabhuwana menjadi mertua dari Raja Majapahit, dan status Sunda lebih dari sekedar kerajaan bawahan, selain itu dengan kecerdasan Dyah Pitaloka yang dibanggakan segenap rakyat Sunda, diharapkan bisa mengambil hati Hayam Wuruk dengan demikian Majapahit bisa dikuasai secara tidak langsung dari sisi politik maupun kehidupan pribadi raja.
    Sedangkan peristiwa sewaktu di Lapangan Bubat dimulai dari beberapa konflik, sebenarnya Lapangan Bubat adalah bukan alun-alun utama dekat keraton, melainkan alun-alun besar untuk segala kegiatan kerajaan kepada segenap rakyat Majapahit dan tidak jauh dari tempat peristirahatan para tamu sebelum diperkenankan menghadap, itupun jaraknya masih jauh agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan effectnya tidak mempengaruhi stabilitas lingkungan kerajaan, dengan kata lain Lapangan Bubat adalah alun-alun di luar kota praja, rencana yang akan dilakukan oleh Linggabhuwana terdengar oleh teliksandi Majapahit dan sampai pula oleh Permaisuri, bahwa rencana Linggabhuwana akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai bagian dari upeti yang akan diserahkan secara mendadak ketika pertemuan agung ,dengan demikian Hayam Wuruk tidak mempunyai cukup alasan untuk menolak, sebab dengan penolakan itu sebagai Raja besar akan melecehkan martabat perempuan yang sebenarnya dengan banyak wanita disekelilingnya sah saja sehingga juga akan memberikan kesan Hayam Wuruk sebagai raja yang tidak bertatakrama dan yang paling memalukan adalah takut karena permaisurinya.

    Dari rencana itu mengundang reaksi keras oleh Permaisurinya, salah satunya menyuruh Mpu Prapanca(pengarang Negara Krtagama) mengirimkan karya sastra yang isinya ajaran keutamaan seorang wanita, yang dikirimkan adalah sebuah karya sastra hal ini mengandung maksud banyak diantaranya bahwa sastra adalah karya seni yang maknanya bisa dimengerti dengan pendalaman perasaan, dengan memberikan karya sastra tersebut permaisuri Majapahit menunjukkan statusnya, dengan sastra tersebut mengandung sindiran tajam yang berarti ancaman, jika Linggabhuwana dan Dyah Pitaloka masih tetap melanjutkan rencananya maka dari sastra tersebut secara tidak langsung mencetuskan bahwa mereka tidak mengerti akan sastra dan secara kasar menyebutkan bahwa Dyah Pitaloka tidak seperti apa yang diagung-agungkan rakyat Sunda karena dari sastra yang dikirimkan permaisuri Majapahit dirinya tidak bisa memahaminya.

    Tatkala sastra sudah dikirimkan namun rombongan dari kerajaan Sunda masih tetap mengarah ke Bubat, semakin memancing reaksi keras oleh permaisuri Majapahit, hal ini sempat dibicarakan pribadi dengan Hayam Wuruk, namun Hayam Wuruk hanya mengambil sikap diam di depan permaisurinya, diamnya Hayam Wuruk ini mengandung maksud bahwa peristiwa ini biar dihadapi oleh permaisurinya, sehingga jika ada kejadian apapun semata-mata adalah sikap permaisurinya untuk menunjukkan baktinya dan permasalahan antar wanita, dari kejadian itu mengundang amarah permaisurinya sampai dirinya akan turun langsung menghadapi Linggabhuwana dan Dyah Pitaloka bagaikan ksatria, namun hal itu dilarang oleh Hayam Wuruk agar ingat posisi permaisuri sebagai wanita utama dengan tidak bersikap seperti pria, sebagai gantinya di utuslah Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit untuk membereskanlah semua, setelah mencapai wilayah lapangan Bubat, dicegatlah rombongan itu dengan sepasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada, disitu terjadi perdebatan yang memaksa Linggabhuwana untuk tidak meneruskan niatnya yang di sejarah sekarang menyebutkan bahwa Gajah Mada mengingkari kesepakatan status Dyah Pitaloka, akhirnya pertarungan tidak bisa dielakkan, karena Linggabhuwana tidak mau mengurungkan niatnya, dan berakhirlah dengan kematian Linggabhuwana disusul bunuh diri oleh Dyah Pitaloka.

    Jika kita mencermati kejadian tersebut ada maksud yang tidak kita sadari, contohnya: Mpu Prapanca disebut dalam penulisan cerita memberikan karya sastranya kepada Dyah Pitaloka sebagai bukti betapa terkenalnya Putri Sunda akan kepandaiannya, tentunya cerita ini dapat dimaklumi karena dengan menyebutkan demikian tidak memojokkan posisi Dyah Pitaloka sebagai seorang putri yang berbakti kepada ayahnya, dan hal itu karena dilihat dari sudut pandang rakyat kebanyakan di kala itu, bisa dibayangkan jika kala itu masyarakat melihat yang datang Mpu Prapanca yang seorang ahli sastra melainkan seorang perwira yang menyerahkan surat ancaman kepada Sunda, maka akan bergolaklah masyarakat Majapahit dan hal itu tentunya tidak dikehendaki oleh Raja Hayam Wuruk.

    Mengapa peristiwa itu harus di Lapangan Bubat jika teliksandi Majapahit telah melaporkannya ke Majapahit, kenapa tidak di tempat lain misal di perjalanan yang jauh dari Majapahit? Dalam memutuskan di mana tempat untuk menyelesaikan masalah itu sebenarnya hal yang sangat enteng, namun perlu dicatat dibiarkannya rombongan ini sampai Bubat adalah untuk memberikan waktu antara Dyah Pitaloka dan Linggabhuwana untuk berpikir ulang mengenai rencananya, selain itu jika prajurit Majapahit melakukan hal itu tentunya di tempat lain akan menimbulkan kesan bahwa Majapahit bertindak gegabah dan Linggabhuwana bisa membangun argument dan alibi bahwa dia pihak yang dirugikan, dari sisi Majapahit merupakan pengeluaran yang dipandang tidak perlu walau Majapahit tidak kekurangan untuk itu, dan jika rombongan Sunda semakin mendekat ke Majapahit akan memberikan kesan kepada Linggabhuwana bahwa rencananya berjalan mulus sehingga dirinya tidak perlu menyiapkan strategy lain, dengan demikian Majapahitpun sudah menang strategy dan secara keadaan Majapahit bisa mengisolasi kekuatan Sunda.

    Mengapa setelah sampai di Lapangan Bubat rombongan Sunda yang sedikit ini harus dihadapi dengan sepasukan Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada?, jawabannya adalah inilah cara Majapahit menghormati lawan dalam berperang, walau serombongan kecil namun yang memimpin adalah seorang Raja, bagaimanapun raja adalah pemimpin kerajaan, apa jadinya kalau rombongan kecil dari Sunda yang dipimpin rajanya meninggal karena mempunyai niat kurang terpuji dan meninggalnya karena berhadapan dengan seorang perwira, bukankah akan memalukan raja itu sendiri sampai alam kubur juga semua rakyat Sunda kala itu, dengan begitu sekecil apa rombongan itu karena sudah dipimpin rajanya langsung maka dianggap sebagai pasukan besar, itulah tata krama keprajuritan yang dilakukan oleh Majapahit kepada musuhnya.

    Mengenai peran permaisuri Majapahit, di sejarah yang berkaitan dengan peristwa Bubat menyebutkan setelah kejadian itu Hayam Wuruk sangat bersedih, setelah beberapa lama Hayam Wuruk menikah dengan Indudewi/Padukasori dari Wengker, jika kita rangkai dengan cerita pembangunan Gapura Bajang Ratu dan pengalihan fungsi Kolam Segaran akan didapatkan cerita yang menguatkan bahwa permaisuri majapahit telah ada jauh sebelum peristiwa Bubat dimana Gapura Bajang Ratu adalah sebenarnya adalah gapura taman peristirahatan yang menyatu dengan kolam Segaran dan Candi Tikus(data bisa dibaca di post saya mengenai perjalanan ke Majapahit).

    Sebenarnya jika kita perdalam, peristiwa Bubat adalah perselisihan antara Permaisuri Majapahit melawan putri Dyah Pitaloka, namun karena peristiwa tersebut dimotori dari ide Raja Linggabhuwana maka yang dilakukan Permaisuri Majapahit adalah menggulung rencana pengkhianatan ini sampai ke akar-akarnya(tumpes tapis), kadang kita tak terpikir atau tak percaya bahwa peristiwa lapangan Bubat ini adalah seorang wanita, namun setidak-tidaknya itulah yang terjadi, penggambaran sosok Durgamahisa suramardini menghancurkan apa yang mengganggu dirinya, perwujudan Uma/parwati dalam sosok keanggunan pendamping Raja Majapahit yang berubah menjadi menyeramkan( mirip disebut triwikrama) menghancurkan habis rombongan itu.

    Lantas mengapa sampai saat peristiwa lapangan Bubat ini dicatat dalam sejarah sebagai kesalahan Majapahit? Jika mau maka Majapahit akan mencatat dalam sebuah prasasti sebagai peringatan keras akan rencana pemberontakan ini, dan saya rasa permaisuri menghendakinya, namun hal itu tidak disetujui oleh Hayam Wuruk secara pribadi karena akan mempermalukan seluruh keturunan dari kerabat Kerajaan Sunda. Sementara kejadian tersebut dicatat lain dalam Pararaton, maka saya mengembalikan validitas Pararaton yang telah ditemukan baik penerjemahan, waktu pembuatan dan ketepatan penulisan sejarahnya.

    Benar tidaknya sudut pandang saya mengenai peristiwa Lapangan Bubat saya kembalikan bagaimana sejarah itu dilihat, walaupun sejarah sekarang berdasarkan Pararaton adalah suatu pertanyaan juga, benarkah Pararaton yang dijadikan acuan adalah yang aslinya atau sesuaikah penterjemahan Pararaton dengan masa lalu atau justru sifat Pararaton sebagai sumber sejarah adalah data bias jika dibanding dengan prasasti.

    Penulisan post ini bukan bermaksud memutarbalikkan fakta yang tentunya akan menyinggung banyak kalangan, seperti halnya ada pihak yang tidak mau mengakui bahwa Gajah Mada sebagai pemersatu nusantara, atau penolakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada sebagai nama jalan karena cerita Dyah Pitaloka, karena tanpa itupun bagi saya Hayam Wuruk adalah Raja besar dari Jawa yang keagungannya sama tinggi dengan Rakai Pikatan yang membangun Candi Prambanan, dengan Gunadharma yang membangun candi Borobudur, dengan Mpu Sindok yang memindahkan Mataram ke Jawa Timur, Dengan Airlangga yang membangun Kahuripan, dengan Bathara Parameswara yang menurunkan Raja-raja tangguh juga sebagai Hayam Wuruk sendiri sebagai titisan Wisnu pemersatu Nusantara hingga asia tenggara.
    beberapa data yang patut dikaji ulang mengenai peristiwa Bubat

    1. Kidung Sunda,
    Bahwa ketika melihat Dyah Pitaloka mati, Hayam Wuruk sedih hatinya dan tak lama setelah itu maka Hayam Wuruk meninggal dunia, yang menjadi pertanyaan adalah jika setelah beberapa saat peristiwa Lapangan Bubat Raja Hayam Wuruk mangkat maka pada usia berapa tahun Hayam Wuruk memiliki anak yaitu Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana, andai saja kidung itu benar seharusnya akan ada masa kekosongan posisi Raja Majapahit karena putri Kusumawardhani masih kecil dan ini tentunya akan jauh lebih heboh.

    Disebutkan bahwa utusan Majapahit ke Sunda hanya menempuh waktu 6 hari dengan menggunakan kapal, jika menggunakan kapal besar kemungkinannya melalui sungai brantas, sementara sungai brantas bermuara di selat surabaya berarti jauh sekali, jika melalui laut selatan mungkinkah? lantas benarkah kejadian tersebut!
    2. simulasi angka tahun sejarah(data diambil dari wikipedia)
    - 1334 Hayam Wuruk lahir (ditandai dengan gempa besar di prabanyu pindah)
    - 1351 peristiwa lapangan Bubat berarti usia Hayam Wuruk 17 tahun(1351-1334=17)
    - 1365 dalam negara krtagama Kusumawardhani sudah menikah dengan Wikramawardhana, jadi usia Kusuma wardhani pada saat peristiwa bubat adalah kurang dari 14 tahun(1365-1351=14), dan usia Hayam Wuruk adalah 31 tahun (1365-1334=31)
    - 1377 Hayam Wuruk menyerang palembang sebagai penundukan atas Sriwijaya, usia Hayam Wuruk 43 tahun (1377-1334=43)
    - 1389 Hayam Wuruk Meninggal di usia 55 tahun(1389-1334=55) dan wikramawardhana menjadi raja

    jika hal di atas benar maka benarkah kutipan dalam pararaton menyebut bahwa Hayam Wuruk meninggal setelah peristiwa bubat karena kesedihan atas meninggalnya Dyah Pitaloka, karena berdasar data tersebut Hayam Wuruk meninggal 38 tahun setelah peristiwa Bubat!!

    http://badailautselatan.multiply.com/journal/item/61

  19. dildaar80
    Januari 16, 2011

    Menyangka Lembu Tal itu adalah perempuan karena nama ‘Lembu’ dimuka namanya adalah sangat keliru karena di naskah-naskah kuno banyak tokoh-tokoh Majapahit bernama awal ‘Lembu’ ternyata laki-laki contoh Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Amiluhur dan seterusnya.

    Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.

    Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.
    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

    Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.

    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.
    Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.

    Berbeda dengan Negarakertagama dan Prasasti Balawi yg ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya yg menyebut memang Wijaya pribumi Jawa Timur. (gelar raden pas tahun itu belum ada/belum menjadi sebutan)

    Kalau Sanjaya dan Wijaya itu orang Sunda kenapa tdk dicandikan di daerah Sunda tetapi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur?

    Ada dua kemungkinan besar:
    1. Iya keduanya ada darah Sunda tetapi tidak maui dicandikan di Jabar yg tidak menghormati mereka bahkan memusuhi. Bukti, ayah Raden Wijaya diracun justru oleh keluarga yg ingin tahtanya. Begitu pula permusuhan thd Sanjaya dlm cerita2 Parahiyangan.
    2. Memang mereka tidak berdarah Sunda alias Jawa.

  20. gogo
    Agustus 2, 2011

    jadi pengin adaptasikan perang bubat ke tv series atau trilogi..

  21. Ping-balik: Sumpah Palapa tidak Terlaksana | TERLARANG

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 30, 2010 by in Kumpulan Artikel Sejarah and tagged , , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: