Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?

Oleh : Prof. Dr. H. Dadan Wildan, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI

Siapa pun, terutama orang Sunda, sepakat bahwa Tragedi Bubat merupakan peristiwa sejarah yang sangat menarik, bukan hanya dari sudut pandang sejarah, melainkan juga sastra. Apalagi, jika diangkat ke layar lebar, lebih seru. Dari sisi sejarah menarik karena faktanya melibatkan dua kerajaan besar di nusantara yang berkembang pada abad ke-14, yakni Kerajaan Galuh di tatar Sunda dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Dari sudut sastra, peristiwa itu dapat dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang menguras emosi, antara percintaan, romantisme, harga diri, dan tragedi.

Banyak sekali penulis yang mengabadikan peristiwa ini sejak abad ke-15 hingga saat ini. Beberapa naskah yang menceritakan tragedi ini dengan sebutan Perang Bubat dan dalam versinya masing-masing, seperti Kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, serta naskah-naskah Pustaka Wangsakerta.

Sementara itu, di dalam Naskah Negara Kretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca, peristiwa itu tidak tercatat dengan jelas. Saya menduga, tentu saja penulis istana Majapahit tidak akan mencatat peristiwa yang telah mencoreng nama baik raja, mahapatih, dan negerinya sendiri ke dalam dokumentasi resmi kerajaannya.

Saat ini, banyak sekali karya sastra yang menggambarkan Tragedi Bubat, yang lebih banyak mengekspresikan reka peristiwa dengan penafsiran penulis disertai keindahan nilai sastra. Sebut saja Kang Yoseph Iskandar. Ia menulis dengan tuturan yang pro Sunda mengenai “Perang Bubat” di majalah Mangle sekitar tahun 1987. Baru-baru ini, Aan Merdeka Permana menulis buku dengan judul Perang Bubat: Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Melihat judulnya saja, tentu ada sisi lain yang diangkat penulis, yakni “rekaan” baru adanya percintaan antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka, sebelum Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Dyah Pitaloka. Gajah Mada, dinisbatkan ke dalam tokoh Ramada, seorang pegawai rendahan di Keraton Kerajaan Galuh, lalu mengembara dan pada kemudian hari menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit dengan nama Gajah Mada. Kebenarannya? Wallahu a’lam.

Langit Kresna Hariadi menulis buku yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat. Sementara Hermawan Aksa menulis khusus tentang Dyah Pitaloka dengan judul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit. Tentu saja, para penulis ini tidak akan berani menyebut karyanya sebagai karya sejarah. Lebih tepat karya sastra yang berlatar belakang tokoh sejarah, bukan peristiwa sejarah.

Denting pedang, cinta, tragedi

Tidak dapat dimungkiri bahwa Tragedi Bubat merupakan salah satu episode sejarah yang sangat penting, berkesan, menguras emosi, dan menjadi bagian dari sejarah tatar Sunda.

Kisah ini, selain berisi peristiwa tragis yang menyisakan luka teramat dalam dan dendam sejarah bagi orang Sunda, sekaligus juga mengakhiri karier gemilang dari seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang monumental, Gajah Mada. Dari berbagai versi yang muncul tentang tragedi ini, saya ingin mengetengahkan versi yang paling banyak diceritakan dalam berbagai naskah dan karya sastra hingga saat ini, yang juga dengan mudah dapat ditemukan di berbagai situs web di internet.

Tragedi Bubat adalah tragedi yang tragis antara Kerajaan Galuh dan Kerajaaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14. Saya tidak berani menyebut angka tahun dengan pasti, mengingat terdapat beberapa angka tahun yang variatif, ada yang menyebut peristiwa itu terjadi pada tahun 1350, 1357, hingga 1360. Yang jelas, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana yang bertahta di Kerajaan Galuh dan Prabu Hayam Wuruk yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. Tokoh sentral dalam peristiwa ini, yaitu Dyah Pitaloka (putri cantik Kerajaan Galuh), Hayam Wuruk, dan Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit. Gajah Mada saat itu sedang gencar-gencarnya mewujudkan sumpahnya sendiri, Sumpah Palapa.

Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin mempersunting Putri Dyah Pitaloka yang juga dikenal dengan panggilan Citraresmi. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri cantik ini setelah melihat lukisan sang putri yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman terkenal saat itu, Sungging Prabangkara.

Selain itu, ada niat lain dari Hayam Wuruk, yakni untuk mempererat tali persaudaraan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh di tatar Sunda. Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka tanpa menimbulkan hambatan yang berarti. Keluarga Kerajaan Majapahit menyadari bahwa pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya, juga berasal dari tanah Sunda.

Hayam Wuruk mengirim surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka dan menghendaki upacara pernikahannya dilangsungkan di Keraton Majapahit. Sesungguhnya, dengan mudah dapat dipahami jika dewan kerajaan negeri Sunda keberatan –bukan pada lamarannya, melainkan pada pesta pernikahan yang diminta dilangsungkan di Majapahit.

Hyang Bunisora Suradipati, sang Mangkubumi Kerajaan Galuh, berpendapat, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang ke pihak pengantin lelaki. Sesuatu yang dianggap melanggar tradisi yang berlaku di tanah Sunda saat itu. Bisa juga, Hyang Bunisora, yang dianggap luhung elmu pangaweruh, berprasangka, jangan-jangan keinginan Hayam Wuruk merupakan strategi menjebak Kerajaan Sunda agar takluk di bawah kekuasaannya.

Hubungan antara Kerajaan Galuh dan Majapahit saat itu, sesungguhnya berjalan baik dan relatif erat. Apalagi, rasa persaudaraan di antara kedua kerajaan itu sudah ada dari garis leluhurnya. Oleh karena itu, Maharaja Linggabuana tidak terlalu risau terhadap berbagai prasangka. Dengan kharisma dan wibawa sang raja yang sangat besar, ia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit untuk memenuhi harapan Hayam Wuruk.

Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama putri kesayangannya, Dyah Pitaloka, beserta rombongan terbatas ke Majapahit. Perjalanan yang cukup jauh, dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, tentu bukan perkara mudah. Dari Kawali ke Cirebon, lalu berlayar ke ujung timur Pulau Jawa. Tiba di Majapahit, para tamu agung Kerajaan Galuh itu ditempatkan di Pesanggrahan Bubat –yang sampai sekarang Bubat, masih dalam perdebatan, apakah di Trowulan atau di tempat lain. Mahapatih Gajah Mada dengan senang hati menerima kedatangan rombongan calon pengantin rajanya –lepas dari kisah cinta rekaan Aan Merdeka Permana antara Gajah Mada ketika muda dan Dyah Pitaloka.

Kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat tiba-tiba mengusik niat licik Gajah Mada. Bagaimanapun, sumpahnya di hadapan sang Raja untuk menguasai nusantara harus terlaksana. Negara-negara yang berada jauh di ujung barat yang terbentang hingga Tumasik (Singapura) telah tunduk di bawah kekuasaannya. Demikian pula kerajaan-kerajaan yang terbentang jauh ke timur hingga Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara Barat, juga dengan mudah menyerah. Namun, mengapa Kerajaan Galuh yang hanya sepenggalan dari Kerajaan Majapahit tak dapat ditaklukkan? Kita dapat membayangkan kegalauan hati sang Mahapatih.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang. Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan bersenjata lengkap, berjumlah besar, dan para bhayangkara yang tangguh, berhadapan dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan pengiring calon pengantin yang berjumlah sedikit dan tidak membawa persenjataan untuk perang, kecuali aksesori untuk kawinan. Namun, heroisme Ki Sunda ditunjukkan hingga titik darah penghabisan.

Dapat dibayangkan, pertempuran yang tidak seimbang itu tentu berakhir dengan tragis. Denting pedang, keris, dan kujang, serta romantisme cinta dan tragedi dramatis menghiasi episode senja di tanah Bubat itu. Maharaja Linggabuana gugur bersama para menteri dan pejabat kerajaannya yang setia. Sang calon pengantin, Dyah Pitaloka, juga menemui ajalnya. Terdapat versi yang berbeda tentang wafatnya Dyah Pitaloka. Ada yang menyebut gugur karena bertempur dengan pasukan Majapahit, ada pula yang lebih tragis menggambarkannya dengan bunuh diri, mempertahankan harga diri dan kehormatan kerajaan. Cerita lain yang lebih heroik, Dyah Pytaloka berduel dengan Gajah Mada meskipun akhirnya gugur. Sang putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan keris Singa Barong berlekuk 13. Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri Kerajaan Tarumanegara yang bernama Prabu Jayasinga Warman. Syahdan, akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia.

Dendam sejarah yang amat mendalam di kalangan kerabat negeri Sunda hingga rakyat jelata, tertanam dalam memori kolektif selama berabad-abad. Saya lebih suka menyebut peristiwa itu dengan “Tragedi Bubat”, bukan “Perang Bubat”. Karena fakta yang terjadi, bukan perang antara pasukan dua kerajaan besar, melainkan tragedi antara sekelompok pengiring pengantin yang terlibat kesalahpahaman dan Mahapahatih Kerajaan Majapahit!. Akibat dari tragedi ini, tertanam larangan adat, Esti larangan ti kaluaran (tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda). Dalam arti lain, dilarang menikah dengan orang Jawa. Bahkan, sejak 64 tahun merdeka, di tanah Sunda tidak ditemukan Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Hemat saya, rencana Pemprov Jawa Barat untuk membuat film kolosal “Perang Bubat” dengan anggaran Rp 6 miliar dari APBD, untuk saat ini, kurang tepat. Lebih baik dana itu digunakan untuk rehabilitasi infrastruktur korban gempa bumi, perbaikan sarana pendidikan, peningkatan kesejahteraan rakyat, atau pembenahan destinasi pariwisata yang lebih bermanfaat. Lain waktu, mungkin saja. Kita tunggu tanggal mainnya!

sumber koran PR

Baca juga : Biarkan Perang Bubat Berlanjut

About these ads

30 comments on “Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?

  1. alamendah
    Januari 7, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Pernah beberapa kali membaca sekilas tentang kisah Tragedi Bubat ini.
    Meski tujuan pembuatan filme itu baik tetapi menilik biaya yang diperlukan keknya kita berlu berfikir ulang; Sarana pendidikan saja masih sangat tidak layak, kok.

  2. sangsaka
    Januari 8, 2010

    Perlu kang, kalo udh jadi DVD originalnya tolong taro d meja kuring :mrgreen:

    ——————–
    Kopral Cepot : :roll:

  3. ABDUL AZIZ
    Januari 9, 2010

    Sebenarnya perlu juga Kang, hanya tentang kebenaran sejarahnya yang mungkin bakal menimbulkan perdebatan. Jangankan sejarah lama, yang terjadi setelah reformasi saja masih seueur nu teu jelas.

    Hatur nuhun Kang.
    Salam

    ———————–
    Kopral Cepot : Sanes teu aya nu ngajelaskeun …. tapi seueur nu disumputkeun … sesah para pangurus nagara teu jujur mah :( seueur sumput salindungna

  4. nusantaraku
    Januari 10, 2010

    Setuju dibuat film sejarah-sejarah nusantara.
    Namun, dibuat dengan benar, dikumpul dari berbagai ahli sejarah, antropologi, seni-budaya untuk memfilmkannya. Filmnya haruslah unik, sehingga bisa dibuat film-film sejarah ala “Jet Li”. Dan bagusnya seperti film-film Jet Li.

  5. sikapsamin
    Januari 10, 2010

    Iya yah…yang menarik itu tuh…Bubat teh palih mana nyak?!?
    Jangan2 spt cerita Aji Saka…datang Dari India utk membunuh raja Dewata Cengkar yang suka makan daging manusia ‘ceunah’. Tapi bekas kerajaannya dimana, memerintah th berapa… Teu jelas pisan…?!?
    Blm lagi soal bhs Sansekerta konon juga dari India, tapi disono teu aya nu nyarios sansekerta, malah bhs officialnya bhs Inggris. Kumaha coba.
    Mungkin yang betul2 Dari India ya Boneka…

    Tapi setuju dg kang Abdul Aziz, catatan/sejarah Reformasi ajah seueur nu teu jelas…
    Mendingan bikin film soal BLBI/CENTURY, mungkin malah bisa memperjelas RAIBnya kamana…?!?
    Dari sini diharapkeun, sekolah2 gratis…kitu.
    Akur to, enak to, setuju to…Ha..ha..ha..

    ————————-
    Kopral Cepot : Heu … Heu … Heu … betul …. betul … betul ;)

  6. حَنِيفًا
    Januari 10, 2010

    Mantab’s surantab tuh kalau ada and jadi …
    Jangan lupa @Kang, Sayah berdomisili dekat BUBAT-mbandung lho :mrgreen:

  7. wardoyo
    Januari 11, 2010

    Setuju sekali kang, banyak yang harus dipertimbangkan untuk membuat film roman sejarah seperti itu. Bukan masalah biayanya. Dan sebaiknya jangan pakai biaya APBD (pasti nanti ada pesan sponsornya yang bakalan menyulut kontroversi).
    Jaman keterbukaan seperti sekarang semua serba boleh kok. Kenapa harus tidak setuju.

    Mengenai lokasi Tragedi Bubat, sepertinya di daerah sekitar Tuban –
    ada wilayah yang sekarang disebut BABAT (mungkin setelah 400 tahun ada perubahan toponim dari Bubat menjadi Babat)… wallahu alam.

    —————-
    Kopral Cepot : Penjajakan dah mulai oleh Wagub JABAR Kang Dede

  8. Parakawi
    Januari 13, 2010

    Tragedi Bubat adalah cerita perang pena antara Bali dengan Mataram. Mereka bukan peristiwa sejarah. Lihat: Meluruskan Penyimpangan Sistematis Sejarah Majapahit. Bila Bali mengeluarkan informasi itu (Pasundan Bubat), maka Mataram kemudian memunculkan informasi bahwa Majapahit keturunan dari Pajajaran (Babad Tanah Jawi).

    Informasi dari Bali dan Mataram itu bukan mengacu pada data sebenarnya. Mereka membuat agar mereka didukung oleh komunitas Pasundan dalam peperangan yang terjadi pada mereka.

    Penulis Kidung Sunda pun tidak mengetahui peristiwa tersebut. Dengan kata lain mereka mengarangnya. Hal ini karena di Kidung Sundayana salah satu dari 3 Kidung Sunda, penulis mengidentifikasi Hayam Wuruk dengan Putra Keling. Putra Keling dalam prasasti hanya mengacu pada Ranawijaya (Raja Majapahit Terakhir / Raden Patah).

    Maka wajar bila Naskah Negara Kretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca, peristiwa itu tidak dicatat. Dugaan anda bahwa penulis istana Majapahit tidak akan mencatat peristiwa yang telah mencoreng nama baik raja, mahapatih, dan negerinya sendiri ke dalam dokumentasi resmi kerajaannya adalah salah. Di Nagarakrtagama, Prapanca mengecam dengan keras para pendeta Istana baik golongan Buddha maupun Siwa yang tidak mengikuti dharmanya sebagai pendeta. Perbuatan itu mencoreng kerajaan kalau dibandingkan dengan peristiwa itu. Karena pada saat itu para pendeta berada di hirarki tertinggi (Kasta utama)

    ——————
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu tambahan info nyah … sebuah pencerahan yg berarti ;)

  9. Parakawi
    Januari 13, 2010

    Bila kita mengacu pada pencarian pelurusan sejarah seperti tersebut diatas, Film Perang Bubat pantas difilmkan. Dalam pikiran bawah sadar kita telah tertanam “virus” pemikiran Kern dan Krom peneliti sejarah awal Majapahit dari Belanda. Virus tersebut adalah informasi salah bahwa: Jawa menjajah luar Jawa dan Sunda. “Virus” itulah yang harus dienyahkan. Hal ini karena ‘virus’ tersebut hanyalah devide et impera. Karena Kern dan Krom menyembunyikan informasi penting tentang kesatuan Nusantara yang ditulis Prapanca.

    • kopral cepot
      Januari 13, 2010

      Sering sering mampir sinih mas .. lagie butuh sharing ;)

      hatur tararengkyu

      • Parakawi
        Januari 13, 2010

        Muhun.

  10. ujang rustandi
    Februari 2, 2010

    Sakedahna mah mmg kedah dibuktoskeun heula leres henteuna eta sajarah teh.Paparkeun tikawit sejarahna karajaan masing2. Kawit ngadegeunanana, timana asalna, kumaha cariosna,dll. Tp kedah aya kaluyuan/ kasepakatan nu sae saleres2na ti dua daerah masing2, margi ieu sajarah teh sanes ukur kanggo ngukur atanapi ngaributkeun mana nu sae mana nu awon,tp pikeun ngabuktoskeun ka sadaya jalma nu aya di alam jagat, yen Endonesa oge gaduh Film kolosal nu kedah diperhetangkeun sdm2na/budaya2na/sastra2na/sareng sajabina.

  11. ujang rustandi
    Februari 2, 2010

    Salam kanggo saderek2 urang Sunda, ulah hilap kana Purwadaksina. ka para pakar filolog : hatur nuhun kana perjuanganana nu tos sanggem ngagugah urang sunda nu tos jarongjon kana kahirupanana tapi hilap kana purwadaksina. Mugi2 sadere2k urang Sunda faham kana hartosna semboyan nu aya diperbatasan yen Siliwangi teh Rakyat Jawa Barat/ Rakyat Jawa Barat teh Siliwangi.
    Pami saur urang Endonesa ayeuna mah, sudah saatnya kita (orang sunda) membuktikan diri bahwa orang sunda itu ber”martabat” tak pernah berburuk sangka terhadap sesamanya, baik terhadap lawan apalagi terhadap kawan, tak prnah menzolimi terhadap sesamanya.
    Kalau ada pejabat urang sunda nu korupsi di wilayahna masing2, sanes urang sunda nu sajati..tapi kudu matiiii. Sabab urang sunda nu sajati mah hirupna sauyunan tara pahiri iri, silih mikanya’ah teu silih begal pati. cam keun/tengetkeun lagu “Manuk Dadali” laguna urang Sunda. Hapunten ka saderek2 urang sunda upamina tea mah kalimatna karaos aya nu teu nyarambung, margi pribados mah sakola oge ukur tamatan SMP. Sareng rumaos seueur poekeun keneh bahasa Sundana. Teu hilap pribados ngahaturkeun kasanggemanana ka saderek2 urang Sunda, utamina nu aya di Banten, Pandeglang, Rangkasbitung, Labuan, Tangerang, Sukabumi, Cianjur, Depok Bogor, Cileungsi, Bekasi, Karawang, Cikampek, Purwakarta, Subang, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Sumedang, Banjar, Ciamis, Tasik, Garut, Bandung, Rancaekek, Majalaya, Pangalengan, Ciwidey, Cililin, Cimahi, pikeun miwara tanah pusaka, mangga gera kedalkeun seni budayana nu nyangkut kana sajarah urang Sunda…ulah caricing wae atuh!! Tong pedah lieur neangan duit pikeun sapopoena, Insya Allah pami sadaya saderek2 urang Sunda tos uninga kana Purwadaksina mah, moal lieur teuing ngemutan pikeun kaperyogian sadidinten, tp emutan pikeun hirupna katurunan saderek2 urang Sunda nu nyebar di alam jagat.

    ——————
    Kopral Cepot : Hatur nuhun kana kasumpingan sareng uaran nana mugia diperhatoskeun ku sadaya urang sunda … hayu ah urang sareundeuk saigel sapihnean dina ngajunjung “martabat” Sunda.

  12. itempoeti
    Februari 4, 2010

    perlu jika itu bisa menjadi pelajaran untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dengan penuh maaf dan kearifan…
    tak perlu jika itu hanya akan memelihara dendam yang tak berkesudahan…

  13. dildaar80
    Maret 19, 2010

    salam kenal..numpang lewat…

  14. Ping-balik: Melanjutkan Perspektif Tragedi Bubat « Biar sejarah yang bicara ……..

  15. adipatirogha
    April 23, 2010

    Saya, sebagai orang perfilman di negeri ini, akan menyayangkan cerita besar seperti ‘Tragedi Bubat’ difilmkan dengan hanya memakan biaya Rp. 6M. Laskar Pelangi saja menelan biaya Rp. 9M, tapi itu bukan film kolosal. Mau semiskin apa, film kolosal sebesar Rp. 6M itu…..apa itu hanya akal2an Pemda aja menjadi ajang korupsi….
    BTW, utk film kolosal, Rp. 6M sangat minim, tapi untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, lebih-lebih Jawa Barat, angka itu angka yg lumayan besar.
    Mungkin saran gw untuk tetap melekatkan sejarah ke anak-anak atau siapapun bisa melewati komik. Dulu, di Bandung, bisa menghadirkan seorang R.A. Kosasih yang bisa membuat komik epik Mahabarata dgn indah.
    Kenapa, tidak dengan Tragedi Bubat sekarang….Bikin komiknya, cari cukong2 Jawa Barat untuk menginvest dengan cara berjanji membeli beberapa ribu ekslempar komik ini, (siapa tau ada investor yg kgk mau beli kucing dalam karung, jadinya jaminan membeli beberapa ribu ini bisa dijadikan jaminan ke bank untuk pinjem duit)
    Beritu-ribu komik yg sudah secara tidak langsung dimiliki sang cukong, bisa didistribusikan ke sekolah-sekolah dan perpustakaan di penjuru negeri tercinta ini. Nah, jadinya, anak-anak tau sejarahnya, para komikus terangkat namanya, publisher happy, para cukong bisa nyombong kalau dia “has made a difference to this country” selain nyogok para birokrat….hehehehehe
    That’s my two cents….

    Wassalam

  16. Asep Sutisna Asus
    Mei 8, 2010

    Tos lami sim kuring ngantos2 carita Perang Bubat dijantenkeun film kolosal teh. Ulah hilap efek visualna anu canggih ulah katinggal bohongna.

  17. Ronny
    Agustus 21, 2010

    Kutipan dari Kopral Cepot :
    Saya lebih suka menyebut peristiwa itu dengan “Tragedi Bubat”, bukan “Perang Bubat”. Karena fakta yang terjadi, bukan perang antara pasukan dua kerajaan besar, melainkan tragedi antara sekelompok pengiring pengantin……..

    saya sambungkan ya ini dikutip juga :

    ……. dengan Pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan bersenjata lengkap, berjumlah besar, dan para bhayangkara yang tangguh.

    yaaa….. jelaslah gak kuat.

    Coba kalau sama pasukan kerajaannya, belum tentu begitu kejadiannya. sampai sebelum tragedi bubat majapahit kan tidak bisa menundukan Galuh. Why …… ?????

    karena Gajah Mada tidak mampu he he he he

    • dildaar80
      Desember 5, 2010

      Naskah yang membicarakan proses terjadinya perang Bubat hanyalah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana

      Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda.

      http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda

      Analisa: Dalam perjalanan menuju Majapahit, rombongan Sunda terdiri dari 2.000 kapal (jadi orangnya ada berapa? kalau 1 kapal 100 orang berarti orangnya sekitar 200.000 orang). Perang Bubat kalau benar2 terjadi memang sebuah hal yang patut disesalkan. Tapi harap diingat jumlah pasukan bersenjata yg mengiringi rombongan pengantin Sunda itu sekitar 150 ribu sampai 200 ribuan dihitung scr kasar dari jumlah kapal mereka.

      Tapi setidaknya hal yang harus diperhatikan ialah pasukan Majapahit tidak menyerbu rombongan pengantin tetapi memang perangnya janjian/kesepakatan dua pihak antar prajurit Sunda dengan prajurit Majapahit di medan/lapangan bernama Bubat. Perang ini bukan antara prajurit Majapahit dengn rombongan sipil Sunda tanpa senjata. Perang yg fair/jujur/adil.

      Dalam perang ada yg menang dan ada yg kalah. Rombongan sipil yg tdk ikut berperang (kaum ibu-ibu) sesuai kepercayaan lama mereka (Hindu atau Sunda Wiwitan) bunuh diri menyusul suami atau ayah2 mereka jadi bukan dibantai.

    • dildaar80
      Desember 19, 2010

      Bang Ronny, menurut Kidung Sundayana jumlah rombongan Sunda itu 200 kapal, nah jadi orangnya berapa kalau satu kapal 50 orang? 10.000.

      Apa itu sedikit pd jaman dahulu..?

    • yosep supriatna
      Agustus 18, 2011

      satuju pisannn cuy!!!!!

  18. yana yance
    Januari 23, 2011

    Bubat sama aja dengan Bobat tapi apakah perang ini benar ada apa cuma bobat?
    Bobat adalah kata yang bersal dari bahasa Indramayu Karang ampel artinya BOHONG>

  19. Ping-balik: Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan? | bengkelimprovisasi

  20. yosep supriatna
    Agustus 18, 2011

    Tidak ada yang bisa mengalahkan pajajaran termasuk gajah bengkak majapahit cuy!!!!!1

  21. irfan
    Maret 5, 2012

    akan jadi sentimen suku yang lenih runcing. dilihat dari karakter sosial, budaya, tatanan adat dll.sebaiknya jgn di film kam

  22. doktertoeloes malang
    Maret 6, 2012

    perang bubat atau TRAGEDI bubat (menurut Prof Dr H Dadan Wildan) intinya adalah mempersunting menjadikanya yang semula sebagai permaisuri sang putri dyah pitaloka (tidak pakai rieke) atau citraresmi ,atas insiatif sang patih berubah menjadi selir (keputusan yang mendasar ,atas pertimbangan sumpah sang patih -politik praktis ,atau cinta sang patih , inipun tidak ada prasasti peninggalan yang valid). kemudian terjadilah tragedi bubat (suatu tempat yang diperkirakan di kawasan trowulan ,inipun masih berupa tafsiran2 yang tidak solid). sang putri dyah pitaloka (ti – ada rieke nya) menurut ukuran wanita indonesia sangat cantik seperti geulis sunda pada umumnya. menurut hemat saya hal seperti ini lebih mengarah menjurus SUBJEKTIFITAS SESEORANG. kembali akan difimkan atas dasar prasasti2 peninggalan yang tidak cukup ,tetapi dilain sisi memang amat perlu kalau boleh dibilang mutlak untuk mengungkap sejarah bangsa ini, demi anak keturunan generasi berikutnya. dengan kata lain setuju difimkan TETAPI musti memakai judul BUKAN ” PERANG ATAU TRAGEDI BUBAT “, tentang cerita film didalamnya boleh atau syah2 saja seperti halnya kejadian tragedi bubat yang kita tahu bersama. banyak cerita atau film2 kita yang meceritakan sejarah atau kisah2 nyata yang lain ,tetapi menggunakan judul titel yang tidak sama persis .anggaran 6 (enam) milyar bagi saya adalah kecil kalau memang benar2 untuk melestarikan dan mengungkap sejarah bangsa indonesia kita ini atau kemaslahatan kita bersama. jangan sekalipun kita meninggalkan sejarah ” katanya orang bijak”. (mantan wartawan kampus :doktertoeloes malang).

  23. sunda jaya
    Juli 26, 2013

    ini tuh harus di buatkan film nya ,, biar semua anak muda yang ada di seluruh penjuru indonesia tau ” SIAPA YANG MENJADI PECUNDANG ‘
    wassalam
    putra SOEMEDANG LARANG

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 7, 2010 by in Kumpulan Artikel Sejarah and tagged , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Buat Tamuku oleh Yan Yan Budiman April 16, 2014
    Mantapks
    Yan Yan Budiman
  • Komentar di SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 5/Habis) oleh apud April 15, 2014
    hehehe,, figuritas, individualitas dibumbui humanisme . sinkronisasi sejarah yg brutal, melebarkan jalan kpd plularisme semu opini manusia,.. semu ,semu dan semu ,seakan akan sangat ilahiyah,ruhiyah, wajibul wujud yg sangat fana ... ahmad bin abdullah alias muhammad saw tdk pernah menjadikan dirinya figur sesembahan, inti ajaran islam adalah ketaatan, krn td […]
    apud
  • Komentar di Achmad Yani Tumbal Revolusi oleh leli naipospos April 15, 2014
    wlau telah lama berlalu tp ini akan selalu dekt di ingatan, sbagai pengangum beliau yg hanya tahu dr crita d sekolah tp beliau sangat melekat d hati saya, saya sngt mengangumi beliau, Indonesia berbangga krn memiliki jendral sprt beliau, Insya Allah surga menjadi tempat beliau disana, aamiin
    leli naipospos
  • Komentar di Unduh e-Book Sejarah oleh Adit April 14, 2014
    trima kasih banyak admin,,, sangat membantu,,, tapi tolong diupload lagi dong Biografi - M.Natsir Di Panggung Sejarah Republik – Lukman Hakim (Editor) soalnya gak bisa,,,, trima kasih atas perhatiannya
    Adit

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: