Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Gerakan Dakwah Akomodatif

Masih lanjuten dari seri ; Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia

Gerakan dakwah akomodatif memiliki hubungan simbiosis mutualisma dengan negara, gerakan dakwah yang bukan menjadi “benalu” negara tetapi turut serta memperlengkapi pranata sosio politik. Bagi gerakan dakwah ini memandang bahwa umat Islam memiliki hak yang sama dengan elemen bangsa yang lainnya untuk membangun tatanan masyarakat dan negara yang dicita-citakan oleh the founding father yaitu menuju masyarakat adil dan makmur. Gerakan dakwah ini tidak mencita-citakan Negara Islam, tetapi Islam bisa dijadikan salah satu alternatif untuk menjawab persoalan bangsa yang heterogen dan majemuk karena Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin.

Gerakan dakwah akomodatif diusung oleh “kalangan menengah” yang mengeyam pendidikan tinggi baik di dalam negeri maupun luar negeri (barat dan timur). Pemerintah Orde Baru memberikan keleluasaan bahkan beasiswa untuk kalangan muda Islam di awal tahun 1970-an agar bisa “merasakan” pendidikan di negeri paman Sam (AS) (Harvard University, Chicago University, Mc Gill University Canada dll ) atau Timur Tengah (Universiatas Al-Azhar Kairo, Universitas Madinah, Universitas di Iran, dll)

Dimulai dasawarsa tahun 1970-an telah muncul sebuah generasi baru Islam – hasil pendidikan Timur dan Barat yang berusaha untuk : (1) merumuskan kembali dasar-dasar teologi politik Islam; (2) mendefinisikan ulang cita-cita (sosial-politik) Islam; dan (3) merekontruksi kembali format pendekatan politik Islam.

Yang paling menonjol dari ketiga model pemikiran itu adalah bahwa komunitas politik Islam tak lagi menginginkan cita-cita politik, yang bersifat legalistic dan formalistic, sebagaimana yang diperjuangkan oleh generasi Islam pendahulu. Alih-alih, lepas dari bagaimana hal itu diartikulasikan, mereka cenderung untuk merumuskan cita-cita politik yang lebih “melebar” sifatnya- merujuk pada nilai-nilai (Islam) universal seperti keadilan, demokrasi, persamaan dan lain-lain.

Gerakan Dakwah Akomodatif memandang bahwa melakukan akomodasi secara proporsional terhadap pikiran-pikiran universal islam seperti itu, penting bagi negara. Hal itu terutama akan meningkatkan legitimasi cultural negara. Karena legitimasi cultural hanya akan didapat melalui tindakan-tindakan akomodasi kepentingan sebagian masyarakat. Dalam konteks Indonesia (umat Islam adalah Mayoritas bangsa Indonesia), hal itu berarti keharusan untuk mengakomodasi kepentingan umat Islam secara memadai.

Gerakan Dakwah Akomodatif memiliki perspektif konsep : “ Indonesia bukan negara agama (theocratic state), tetapi juga bukan negara sekuler”.

Pada Tahun 1990-an, kelas menengah Muslim sebagai komunitas penggagas gerakan dakwah akomodatif, memperoleh kembali pengaruh ekonomi dan politik mereka, sebuah proses yang terwujud dalam pembentukan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Pemerintah menghadapi aktivisme Muslim dengan strategi. mencoba mengkooptasi organisasi-organisasi dakwah Islam akomodatif. Para pemuka muslim dibujuk untuk bergabung dengan partai berkuasa, Golkar, yang menampilkan diri sebagai wahana paling efektif bagi kepentingan Muslimin. Soeharto mendukung beberapa tuntutan dari masyarakat Muslim, termasuk pendirian Bank Islam dan Peradilan Islam, diperkenankannya Jilbab dll, Perjalanan Haji Presiden Soeharto ke Mekkah juni 1991 harus juga terlihat dalam kacamata ini.

Nurcholis Madjid menyatakan bahwa tahun-tahun terakhir Orde Baru ditandai dengan sikap akomodatif negara terhadap aspirasi-aspirasi Islam . Lebih lanjut Cak Nur menyebutkan bahwa agama merupakan satu institusi politik yang paling penting dalam system Pancasila. Sebab, dari agamalah para politisi coba memusatkan atau mencari legitimasi mereka secara langsung atau pun tidak. Agama dipergunakan sebagai sumber bagi ketajaman-ketajaman moral dan keputusan-keputusan terhadap rakyat, yang merupakan basis dari masyarakat Indonesia.

Tumbangnya Orde Baru tahun 1998-an memberikan dampak terhadap menipisnya peran intelektual Islam di pemerintahan yang berujung dengan Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie Presiden masa transisi (“ikon” ICMI yang berhasil mengadakan penghijauan di Istana), tidak dipercayai lagi oleh rakyat (DPR) untuk memimpin negara selanjutnya. Meskipun pasca Habibie adalah Gus Dur yang menurut Muhaimin Iskandar tampilnya Gus Dur sebagai presiden adalah kemenangan Islam Kultural, pada kenyataannya “keislaman” Gus Dur tersebut tidak memberikan dampak pada perubahan sosio politik secara mendasar di tanah air ini.

Kira-kira ada dua agenda besar dari gerakan dakwah akomodatif yang dilaksanakan baik secara organisasi melalui organisasi masa Islam, partai-partai Islam, yayasan Islam maupun LSM Islam yang bersifat inklusif atau eksklusif maupun dakwah personal adalah (1) Islamisasi Negara dan (2) Islamisasi Masyarakat.

Islamisasi Negara

Ada dua kubu aktualisasi pemikiran Islam tentang “Islamisasi Negara” yang setidaknya muncul kembali pada masa “keramahan” pemerintahan Orde Baru terhadap islam awal tahun 1990-an sampai masa reformasi sekarang ini (2004). Pertama kubu gerakan dakwah Islam yang mencita-citakan diterimanya kembali Piagam Jakarta produk konstitusinal the founding father bangsa Indonesia sebagai dasar negara yaitu dengan mencantumkannya kembali “ kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi para pemeluknya”. Kubu yang memperjuangkan tujuh kata ini memanfaatkan masa reformasi dengan “mendaur ulang” partai-partai politik Islam di masa lalu saat berkiprah di pemilu pertama 1955, diantaranya Masyumi Baru, PBB, PSII 1905 termasuk PAN yang inklusif. Perjuangan Islam secara konstitusional oleh kelompok konstitusionalis hampir-hampir membuahkan hasil dengan disetujuinya Amandemen UUD 1945 tetapi disaat-saat proses amandemen suara pembela tujuh kata ini “nyaris tak terdengar”.

Kedua, adalah gerakan dakwah yang menganut paham “Politik Garam”. Pemikiran politik Islam ini banyak digagas oleh kalangan Intelektual Islam Indonesia sejak tahun 1970-an oleh Cak Nur kemudian bola salju ini menggelinding diantara para mahasiswa lulusan negeri paman sam dan Australia diantaranya Amien Rais, M. Dawam Rahadjo, Kuntowijoyo, dan lain-lain meskipun dengan format pemikiran yang beragam. Buah karya dari para Intelektual Islam ini melahirkan adanya “keramahan” Orde Baru pasca tahun 1990-an dengan “penghijauan” di dua kabinet terakhir pemerintahan Soeharto lewat ICMI yang dikomandani Habibie.

Pasca reformasi gagasan “Politik Garam” menjadi barang dagangan yang di pakai oleh partai politik “Islam” yang lebih terbuka (Inklusif) semisal PAN dan PKB juga PKS, “Politik Garam” selanjutnya diusung oleh Cawapres dari PAN yaitu Amien Rais-Siswono yang dengan sangat menyesal impian “Politik Garam”-nya ini kandas setelah kalah suara dengan capres-cawapres lainnya. Secara umum kedua kubu gerakan dakwah ini oleh kalangan pemikir Islam disebut sebagai Gerakan Dakwah Struktural.

Islamisasi Masyarakat

Gerakan dakwah kultural begitulah biasanya disebut yaitu suatu upaya yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat islam untuk menciptakan “kesalehan diri” dan “kesalehan masyarakat”. Cita-cita yang umum di dengungkan adalah terciptanya masyarakat madani atau civil society.

Sesungguhnya pada proses Islamisasi Masyarakat kita tidak bisa melihatnya secara linier dikarenakan kompleksifitas masyarakat dan beragam pemikiran tentang Islam sehingga pada tataran masyarakat atau Umat Islam ini dakwah ibarat benang kusut yang sulit dicari ujung pangkalnya (lihat bab sebelumnya tentang benang kusut dakwah). Sehingga sulit untuk menentukan siapa pemain utama yang bergerak dalam tataran Islamisasi Masyarakat.

Secara umum dalam konteks gerakan dakwah yang bersifat akomodatif dimana hubungan islam dan negara (Pemerintahan RI Orde Baru – Orde Reformasi) bersifat saling melengkapi dan saling mengisi atau simbiosis mutualisma, terbagi pada beberapa kelompok diantaranya :

  • Kelompok yang mengedepankan simbol-simbol islam sebagai identitas dalam kehidupan bermasyarakat sosial, budaya dan ekonomi.
  • Kelompok yang mengedepankan nilai-nilai islam yang lebih universal untuk menunjukan bahwa islam tidak “ortodoks” islam tidak “kumal dan lusuh” tetapi menujukan diri sebagai “Islam Modernis”.
  • Kelompok yang mengedepankan aspek “individualis”. Yaitu kelompok yang membina “kesalehan diri” yang memandang bahwa negara telah memberikan kelonggaran untuk mengekspresikan keislaman seseorang.

Islam Transnasional

Ketika sebagain kelompok Islamis “tidak pernah” menyerukan restorasi kekhalifahan. Sebaliknya, mereka berusaha menetapkan sebuah Islamisasi negara atau Islamisasi di dalam tatanan masyarakat nasional mereka sendiri. Bagaimanapun pengecualian utama dari pola ini adalah perkembangan pemikiran dan aksi dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang cikal bakalnya datang dari Timur Tengah.

Karena restorasi kekhalifahan merupakan “kewajiban bagi seluruh Muslim di dunia”, maka mendesak bagi dilaksanakannya agitasi politik, dan Hizb Al-Tahrir menjadi partai barisan depan yang akan memajukan revolusi kekhalifahan. Istilah partai “barisan depan” ini muncul sebagai basis dari deklarasi Groupe Islamique Armee’ (GIA) di AlJazair yang mengumumkan bahwa ia telah menetapkan kembali pemerintahan kekhalifahan pada Agustus 1994.

Hizb Al-Tahrir (HT) telah menjadi gerakan transnasional, beroperasi di Palestina, Yordania, Jazirah Arabia, Maghrib, Inggris, Malaysia dan Indonesia, juga tempat-tempat lain. Sejak 1980-an, ia telah aktif secara khusus di kampus-kampus di berbagai negara termasuk di Indonesia muncul di akhir tahun 1980-an dan tumbuh subur di kampus terutama IPB Bogor dan selanjutnya ke seluruh kamus lewat jaringan Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Di Indonesia sebenrnya secara terang-terangan baru muncul pada masa reformasi meski ide gerakan ini sebelumnya atau masa Orde Baru dirintis dengan menggunakan strategi Dakwah Sirriyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nama yang senantiasa berkibar dalam setiap event halaqah, seminar, buku-buku, demontrasi dan lainnya untuk menyuarakan penegakan kembali al-Khilafah meskipun demikian dalam konteks lokal dan nasional, HTI termasuk pada salah satu kelompok Islam yang intens menyuarakan pemberlakuan Syari’at Islam pada hukum RI.

Juru Bicara HTI Ir. H. Muhammad Ismail Yusanto, M.M., memahami bahwa cita-cita menegakan Khilafah yang telah runtuh pada tahun 1924 (Khilafah Ustmani) bukan perkara yang bersifat Utopis asalkan umat Islam memiliki persatuan. Mengambil pendapat Syekh Muhammad Ismail dalam kitab al-fikru al-Islamy, ada tiga bentuk kekuatan yang harus dibangun, yakni kekuatan madiyah (materi) (al-quwwah al-madiyah), kekuatan maknawiyah (al-quwwah al-ma’nawiyyah), dan kekuatan ruhiyah (al-quwwah al-ruhiyah). Dengan tiga kekuatan tersebut maka insya Allah kemuliaan akan datang kembali.

______________

Teruntuk Saudara-ku

Menengok kebelakang untuk melangkah kedepan, mencari kerumitan di masa lalu untuk mendapat kejelasan bekerja hari ini dan merencanakan pekerjaan masa akan datang, mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat untuk berbuat kebenaran yang memperkecil deviasi kesalahan, mengurai benang kusut perjalanan hidup untuk menenun benang menjadi pakaian yang menyelamatkan kebutuhan hidup, bukan bermaksud membuat nasi menjadi bubur tetapi agar kita waspada, hati-hati dan teliti untuk tetap membuat nasi menjadi nasi.

Dulu kini dan masa datang adalah pragmen waktu tanpa pembatas, tak ada sekat atau hijab, tak ada jurang atau penghalang yang memisahkan atau dipisahkan, dulu kini dan yang akan datang adalah hitungan dari perjalanan dengan beragam intonasi kata, “koma”, “tanda tanya”, “tanda seru”, “titik dua” juga “tanda kutip”. Perjalanan hidup dibatasi oleh jeda, pertanyaan, peringatan, dan ketidak mengertian akan perjalanan serta hidup itu sendiri.

Ingatlah saat dimana waktu diri kita secara munfarid menginjakan kaki diatas sajadah, saat tangan menengadah dan lisan mengucapkan Takbiratul Ihram saat qolbu meniatkan-menyengajakan untuk menghadap kepada Allah, saat seluruh diri tak membawa masa lalu hanya khusu untuk sholat fardu dan ingatlah saat diantaranya lisan membacakan al-fatihah saat bermohon ”ihdina shirotol mustaqiem”Ya Allah tunjukilah (beri hidayah) diri ini untuk hidup dalam jalan yang lurus, jalan dari kelompok manusia yang diberi nikmat oleh-Mu, bukan jalan dari kelompok manusia yang di murkai-Mu dan bukan pula jalan dari kelompok manusia yang telah sesat dengan kesesatan yang jauh dari-Mu. Ingatlah bahwa diri kita telah memintanya, bermohon dan berdo’a untuk dikabulkan dengan “amien”.

Maka selanjutnya saat kita kembali dari mi’raj ruhani menginjakan kaki keluar dari “sajadah” kembali ke dunia nyata, saat diwajibkan untuk mengadakan taroqi-perjalanan untuk memilah dan memilih mana jalan kenikmatan, jalan kemurkaan dan jalan kesesatan, saat memberikan kepastian untuk berlakulampah tidak pada jalan salah, saat memproklamasikan jati diri untuk berpijak pada hukum Ilahi maka pastikanlah itu hanya untuk berbakti. Dan pastikanlah berbakti bukanlah menghadapakan diri KETIMUR atawa KEBARAT. Bukan kata Orang Timur atau pendapat Orang Barat, bukan oleh hukum Timur atau oleh asumsi Barat tapi….

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al-Baqarah : 177)

sambung lagiee ….

Referensi bisa diklik disini…

About these ads

7 comments on “Gerakan Dakwah Akomodatif

  1. حَنِيفًا
    Desember 18, 2009

    @Kang Kopral Cepot
    Hatur tengkiu infonyah,
    Tapi mesti dibaca berulang-ulang, maklum sayah mudah lupa susah ingat :(

  2. Dangstars
    Desember 19, 2009

    Gerakan dakwah akomodatif :P
    Gara-gara kurang gaul neh :D jadi baru tahu ini :P
    Terimakasih Kang atas informasinya
    Diharep info berikutnya :)

  3. Anak Adam
    Desember 19, 2009

    salam kenal kang cepot…

    Hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah tidak semuanya digunakan di Indonesia, padahal warga muslimnya banyak.

  4. dBo
    Desember 19, 2009

    Pengungkapan ‘Pergulatan’ memaknai Sangkan Paraning Dumadi, memaknai Jati-Diri serta memaknai Hyang Murbeng Dumadi.

    Dari Alam ”Tan Kena Kinaya Apa”, dicoba ditransformasikan kedalam huruf, kata, kalimat dan ungkapan.

    ”Ma Ga Ba Tha Nga” adalah ungkapan tentang sebuah ‘Matra’ utk bertoleransi dlm transformasi tsb disertai kesadaran thd analogi/penggambaran yang bagus sekali oleh ‘Idries Syah’ dlm bukunya ”MERABA GAJAH DALAM GELAP”

    Saya sangat apresiasi membaca tulisan2 semacam ini.

    Rahayu…

  5. Alwi Jindan
    Desember 19, 2009

    Salam kenal..sma gerakan akan mengalami sukses jika memiliki pemimpin yg dpt memandu kpd ksadaran atas apa yg hrs dihadapi dewasa ini. Hizbu tahrir yg telah eksis sbgai pendobrak kejumudan beragama,akan lbh terlihat berwibawa bila bs mencontoh negara islam lain yg mampu menangkis negara adidaya berkat kemampuan yg terlahir dari jiwa terpimpin oleh seorang pemimpin tunggal yg mengelobal.terimakasih uda mampir di blog saya..

    ————-
    Kopral Cepot : Sama2 … hatur tararengkyu ;)

  6. wardoyo
    Desember 20, 2009

    Bercermin kepada sejarah Islam di masa lalu, saya seringkali berpikir :
    Tidak semua orang bisa tawadlu seperti Abu Bakar.
    Tidak semua orang tegas seperti Umar.
    Tidak semua pemurah seperti Usman.
    Tidak semua cerdas seperti Ali.
    Tidak semua pemberani seperti Khalid.
    Tidak semua kaku dan sederhana seperti Ibn Umar.
    Tidak semua cerdik seperti Amru.
    Tidak semua licik seperti Yazid.
    Tidak semua amanah seperti Umar b Abdul Aziz.
    Tidak semua tekun seperti Bukhari, Muslim dan Syafi’i.
    Tidak semua toleran seperti Kalijaga.
    Tidak semua permisif seperti Soekarno.
    Jadi, bagaimana wajah Islam ideal yang paling sedap dilihat??
    Salam.

  7. Gerakan Perubahan
    Maret 23, 2010

    terimakasih atas infonya. perlu pencerahan seperti ini buat orang2 seperti saya dan banyak lagi orang2 di luar sana

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 18, 2009 by in Buku dan Aku, Wacana Kini and tagged , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: