Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 5/Habis)

Oleh : Damar Shashangka

Kekhalifahan pertama Jawa, yang selama ini dicita-citakan oleh Kaum Putihan berhasil berdiri. Raden Patah atau Tan Eng Hwat dikukuhkan sebagai khalifah pertama Demak Bintara dengan gelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Jiem-Boenningrat ( Nama Jiem-Boen, adalah nama China. Saya belum tahu pasti darimana dan mengapa nama itu diambil. : Damar Shashangka )

Praktis, Raden Patah mulai berkuasa dari tahun 1479 Masehi. Begitu naik tahta, wilayah negara Demak Bintara yang dulu diperkirakan kurang lebihnya separuh bekas wilayah Majapahit, terutama wilayah bagian barat yang mayoritas sudah banyak penduduknya yang memeluk Islam, ternyata perkiraan itu salah!

Daerah-daerah yang dapat dikuasai oleh Demak, yang terang-terangan dengan suka rela mengakui kedaulatan Demak Bintara, ternyata hanya sebatas Jawa Tengah sekarang dan pesisir utara Jawa Timur hingga ke Pulau Madura. Selebihnya, tidak ada satu Kadipaten-pun yang mau tunduk tanpa syarat.

Yang sangat mencolok mata, begitu Pangeran Cakrabhuwana meletakkan jabatannya sebagai Akuwu (setingkat Adipati ) di Caruban Larang pada tahun 1479, dan pada tahun itu pula Sunan Gunungjati diangkat sebagai pengganti beliau bahkan dinikahkan dengan putri beliau Nyi Pakungwati, Caruban Larang, secara tegas menolak menjadi wilayah Demak Bintara! Sunan Gunungjati berdalih, secara historis, Caruban Larang dari dulu bukan wilayah Majapahit, tapi wilayah Pajajaran. Dan Caruban Larang berhak menentukan nasibnya sendiri.

Syeh Siti Jenar diam-diam prihatin melihat kekonyolan mereka-mereka yang mengaku sebagai pemimpin umat ini. Namun, ketegangan demi ketegangan yang terjadi antar kaum Putihan sendiri, dita,bah operasi-operasi militer yang harus dilakukan oleh pemerintahan Demak Bintara, membuat Syeh Siti Jenar, sedikit banyak luput dari perhatian Dewan Wali.

Dewan Wali tengah sibuk, tengah kewalahan menghadapi perlawanan-perlawanan sisa-sisa kekuatan Hindhu-Buddha yang beberapa daerah masih nekad melakukan perlawanan. Seandainya Prabhu Brawijaya, mau mengkoordinasikan setiap kekuatan sisa-sisa Majapahit ini, maka Demak Bintara tak akan bertahan lama. Cuma yang dikhawatirkan oleh Sunan Kalijaga, jika memang pengkoordinasian kekuatan itu benar-benar dilakukan, bukan hanya Demak Bintara, bahkan seluruh umat muslim yang kontra Demak-pun jadi terkena imbasnya.

Banjir darah tidak hanya akan terjadi di Jawa, tapi diseluruh wilayah Majapahit, jika sampai Prabhu Brawijaya mengeluarkan komando penyatuan sisa-sisa kekuatan itu. Demi kemanusiaan, yang ‘sadar’, harus mengalah.

Disisi lain-pun, seandainya Raden Patah tidak memandang Dewan Wali Sangha, pasti dia akan melakukan invasi ke Caruban Larang yang kini, setelah dipimpin oleh Sunan Gunungjati, berubah nama menjadi Carbon Girang. Namun mengingat kedudukan kekhalifahan Islam di Jawa masih sangat lemah dan butuh kesatu paduan, untuk sementara Raden Patah memendam niatannya.

Semua dinamika politik ini, tak lepas dari pengamatan Sunan Kalijaga dan Syeh Siti Jenar. Pada awal berdirinya Demak, Sunan Kalijaga yang pernah berjanji kepada Prabhu Brawijaya untuk ikut terjun ke kancah perpolitikan, demi untuk bisa ikut menentukan arah kebijakan Demak Bintara ( baca catatan saya Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ), pada waktu itu memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan dulu. Beliau sekarang lebih terfokus untuk berdakwah keliling, dari satu kota ke kota lain, terutama di pedalaman Jawa demi untuk menghindari sewaktu-waktu Dewan Wali Sangha meminta bantuannya untuk menundukkan daerah tertentu dengan meminjam wibawa beliau.

Sedangkan Syeh Siti Jenar, lebih memfokuskan diri untuk mengajar para santri-santrinya. Terdapat beberapa nama santri beliau yang terkenal, diantaranya Lontang Asmara dan Sunan Panggung.

Waktu berjalan cepat. Pemerintahan Demak Bintara terus disibukkan dengan operasi-operasi militer yang tak kunjung selesai. Praktis, kesejahteraan masyarakat menjadi kurang diperhatikan. Rakyat kecil, yang dulu merasakan taraf hidup yang mapan pada saat Majapahit berkuasa, kini, pelahan-lahan, dibahaw naungan Ke-khalifah-an yang katanya pasti akan memberikan keberkahan, ternyata, malah membawa ke ambang ketidak pastian.

Stabilitas kacau balau. Roda perekonomian-pun terganggu. Banyak investor yang sudah pada hengkang dari Jawa. Jawa setelah Majapahit jatuh, bukannya berubah menjadi surga, namun malah menjadi neraka.

Dan konyolnya, pada tahun 1487 Masehi, Sunan Giri Kedhaton memproklamirkan berdirinya kembali Ke-khalifah-an Giri yang dulu pernah dihancurkan oleh Majapahit ( baca Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka).

Raden Patah, dibuat pusing karenanya.

Carut marut perpolitikan di Jawa membuat Dewan Wali melupakan kasus Syeh Siti Jenar dalam jangka waktu yang lama. Kini ditambah lagi, Carbon Girang mulai ikut-ikutan mencoba menggoyang Pajajaran.

Tahta Pajajaran, telah berganti dari Prabhu Silih Wangi atau Prabhu Niskala Wastu Kancana kepada Prabhu Tohaan sejak tahun 1475. Sunan Gunungjati, mendapati kakeknya, Prabhu Silih Wangi telah lengser, maka kini dia tak lagi sungkan-sungkan untuk mengadakan penyerangan ke wilayah Pajajaran. Namun, Pajajaran sangat kuat dan tertutup. Sehingga, baik invasi militer maupun taktik infiltrasi seperti yang pernah dilakukan kepada Majapahit, tak mampu menembus Pajajaran. Padahal Carbon Girang dibantu oleh Demak Bintara dan Kadipaten Banten. ( Banten adalah wilayah Carbon Girang. Dipimpin oleh Pangeran Sebakingkin, putra Sunan Gunungjati dengan Nyi Kawungten, putri Adipati Banten. Pangeran Sebakingkin kelak dikenal dengan gelar Maulana Hassanuddin. : Damar Shashangka).

Kegagalan taktik infiltrasi sebagian besar dikarenakan di Pajajaran, tidak banyak pejabatnya yang memeluk agama Islam seperti halnya Majapahit dulu. Bahkan diam-diam, beberapa sisa-sisa lasykar Majapahit, menyokong Pajajaran.

Jalan satu-satunya untuk memperlemah Pajajaran hanyalah menguasai pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa Barat, dimana dari pelabuhan-pelabuhan ini, roda perekonomian Pajajaran sebagian besar tertunjang karenanya. Seluruh pesisir utara Jawa Barat, dikuasai dengan paksa oleh Carbon Girang. Praktis, jika dengan kekuatan militer, Carbon Girang tidak mampu menembus Pajajaran, maka jalan satu-satunya adalah melakukan blokade ekonomi!

Melihat perkembangan politik Caruban Larang yang kini berganti nama Carbon Girang sedemikian panas, Syeh Siti Jenar punya niatan untuk memindahkan pesantrennya ke pedalaman Jawa. Beliau berniat untuk menyingkir ke basis kaum Abangan. Carbon Girang hendak beliau tinggalkan. Namun, Syeh Siti Jnear, bukanlah tokoh yang dekat dengan kekuasaan seperti halnya Sunan Kalijaga. Beliau kesulitan melobi hunian baru untuk tempat kepindahan pesantrennya.

Seandainya beliau tidak memikirkan nasib para pendukungnya, bisa saja beliau meninggalkan Jawa. Namun, itu bukan watak orang yang sudah ‘tercerahkan’.

Menginjak awal tahun 1490 Masehi, ketika Pajajaran diperintah oleh Sang Raja Jayadewata (1482-1521 M), Ki Ageng Kebo Kenanga, atau yang terkenal dengan gelar Ki Ageng Pengging, penguasa daerah Pengging ( sekitar Surakarta, Jawa Tengah, sekarang : Damar Shashangka), yang masih berusia 21 tahun, sangat muda, diam-diam menawarkan daerah Pengging sebagai tempak hunian baru kepindahan pesantren beliau.

Mendengar hal itu, Sunan Kalijaga, yang pernah mendapat amanah agar menjaga trah Pengging dan trah Tarub dari Prabhu Brawijaya ( baca Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ), segera memperingatkan Syeh Siti Jenar agar menolak tawaran tersebut. Mengingat penguasa Demak Bintara masih menganggap trah Pengging adalah bahaya laten bagi Demak Bintara. Karena memang sesungguhnya tahta Majapahit, harus jatuh ke trah Pengging, bukan ke Raden Patah. Jika sampai pemerintah Demak tahu ada hubungan khusus antara Syeh Siti Jenar dengan Pengging, dapat dipastikan, Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging, akan dicurigai tengah membangun kembali kekuatan politik Majapahit.

Syeh Siti Jenar yang memang tidak paham peta politik Jawa, segera mempertimbangkan akan hal itu. Dan segera, beliau menolak tawaran Ki Ageng Pengging yang masih muda tersebut. Namun, Syeh Siti Jenar tidak bisa mengelak untuk menyukai sosok Ki Ageng Pengging, yang walaupun masih muda, namun sangat tinggi kedalaman ‘spiritualitas’-nya. Syeh Siti Jenar dibuat kagug karenanya. Tidak hanya beliau, Sunan Kalijaga-pun juga mengagumi pemuda ini.

Walau terpaut usia yang cukup jauh, Syeh Siti Jenar tak segqan-segan mengajak Ki Ageng Pengging berdiskusi masalah ‘spiritualitas’. Walaupun Ki Ageng Pengging pemeluk Shiva Buddha dan Syeh Siti Jenar pemeluk Islam, tapi pada ujung-ujungnya, esensi spiritualitas yang mereka dalami adalah sama.

Seringkali Syeh Siti Jenar memeluk Ki Ageng Pengging dengan penuh kasih. Beliau sudah menganggap, pemuda ini adalah anaknya sendiri, tiada beda dengan Syeh Datuk Pardhun, putra Syeh Siti Jenar sendiri.

Begitu juga Ki Ageng Pengging, juga sudah menganggap Syeh Siti Jenar seolah seperti ayah kandungnya. Maklum, Adipati Handayaningrat IV, ayah kandung Ki Ageng Penggging, memang sudah wafat.

Kedekatan Ki Ageng Pengging dengan Syeh Siti Jenar, menarik minat Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, sahabat-sahabat Ki Ageng Pengging, untuk berguru kepada Syeh Siti Jenar.

Disini perlu diperjelas, yang menjadi murid Syeh Siti Jenar sebenarnya adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, sedangkan Ki Ageng Pengging, walau dekat dengan Sang Syeh, tapi tetap memeluk Shiva Buddha. Hubungan yang indah antara sahabat, ayah angkat, murid dan Guru ini memang seringkali menimbulkan salah pengertian. Kelak, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang terkenal dengan gelar Sunan Butuh dan Sunan Ngerang, murid-murid Syeh Siti Jenar.

Namun, gerak-gerik Ki Ageng Pengging, senantiasa dimonitor oleh mata-mata Demak Bintara. Laporan kedekatan Syeh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging telah masuk ke hadapan Raden Patah, Sultan Demak. Hal ini, perlu diwaspadai. Sebagai seorang pemimpin politik tertinggi Demak, mau tak mau, Raden Patah harus mencurigai kegiatan Ki Ageng Pengging.

Dan laporan serupa, sampai juga ke Kekhalifahan Giri. Sunan Giri, walau telah menjabat sebagai Sultan Giri, namun masih tetap juga menjabat sebagai Pemimpin Dewan Wali Sangha. Kerancauan ini, otomatis membuat Demak Bintara, walau bukan wilayah Giri Kedhaton, namun mau tak mau harus tetap tunduk pada fatwa-fatwa Sunan Giri. Dan fatwa-fatwa Sunan Giri, sangat tipis bedanya dengan perintah-perintah beliau sebagai seorang Sultan. Kalau direnungkan kembali, sebenarnya Raden Patah, tidak memiliki wewenang yang sesungguhnya sebagai Sultan Demak.

Hal inilah yang memicu kelak dikemudian hari, pada masa sesudah Kekhalifahan Demak jatuh, banyak penguasa Kekhalifahan Jawa yang berusaha menyerang Giri Kedhaton dengan kekuatan militer. Karena bagaimanapun juga, sebuah pemerintahan tidak akan bisa mementukan kebijakan secara bebas jika selalu diintervensi penguasa pemerintahan lain dengan berselimutkan fatwa.

Namun, usaha-usaha yang rasional seperti ini, malah dicerca habis-habisan oleh Kaum Putihan dikemudian hari. Mereka menjelek-jelekkan Sultan Hadiwijaya ( Kesultanan Pajang ) dan Panembahan Senopati ( Kesultanan Mataram ) yang menyerang Giri. Pada buku-buku kaum Putihan, yang melimpah ruah dipasaran, kedua penguasa ini sangat-sangat dipersalahkan.

Kelak pada tahun 1679 Masehi, pada saat Kesultanan Mataram diperintah oleh Sunan Amangkurat II, Giri Kedhaton berhasil dihancurkan.

Perkembangan hubungan antara Syeh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, terus diawasi oleh Kesultanan Demak Bintara dan Kesultanan Carbon. Menjalang tahun 1497 Masehi, Sunan Giri, atas nama Pemimpin Dewan Wali Sangha, memerintahkan Sultan Syah Alam Akbar, yaitu Sultan Demak dan Sultan Carbon, yang tak lain Sunan Gunungjati, untuk menangkap Syeh Siti Jenar.

Pemerintahan Demak dan Carbon, merespon perintah Dewan Wali tersebut.

Sultan Demak segera menitahkan Sunan Kudus, Senopati Agung Demak Bintara untuk pergi ke Carbon Girang, membawa pasukan sebanyak 700 orang untuk menangkap Syeh Siti Jenar.

Kedatangan pasukan Demak diwilayah Kasultanan Carbon Girang menggegerkan masyarakat sekitar. Pasukan Carbon ikut bergabung dalam barisan pasukan Demak Bintara.

Pasukan gabungan ini lantas menuju Pesantren Krendhasawa, dimana Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar bermukim. Para santri geger melihat kedatangan pasukan gabungan ini. Seluruh santri diultimatum untuk meninggalkan area pondok Pesantren. Namun, perlawanan terjadi. Perlawanan yang takseberapa. Namun jatuh juga korban dipihak santri Syeh Siti Jenar.

Pondok Pesantren Krendhasawa dikepung ketat. Setelah pasukan Demak Bintara dan Carbon berhasil menguasai keadaan, Sunan Kudus, Senopati Demak Bintara, segera masuk ke Dalem Agung, dimana Syeh Siti Jenar tinggal. Kedua ulama yang berseberangan ini bertemu dalam situasi tegang! Sunan Kudus, dengan menunjukkan surat perintah dari Sultan Demak, meminta Syeh Siti Jenar bersedia ditangkap. Syeh Siti Jenar dengan tenang menyatakan kesediaannya untuk ditangkap.

Pondok Pesantren Krendhasawa selama beberapa hari dalam situasi mencekam. Syeh Siti Jenar masih ada didalam sana. Beliautidak diperkenankan keluar dari kediaman beliau. Status beliau sekarang adalah tahanan negara! Beliau akan diadili di Cirebon, dengan tuduhan telah menggalang gerakan makar kepada pemerintahan yang sah dan telah menyebarkan ajaran menyimpang kepada ummat Islam. Ki Ageng Pengging, menyusul kemudian untuk ditangkap!

Tempat pengadilan belum ditentukan, menunggu kedatangan para Wali dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tengah dalam perjalanan menuju Carbon Girang.

Beberapa hari kemudian Sunan Kalijaga datang lebih dahulu. Diiringi dengan beberapa santri beliau. Sunan Kalijaga, meminta kepada Sunan Kudus agar memperkenankan dirinya bertemu dengan Syeh Siti Jenar. Sunan Kudus tidak memberikan ijin. Tapi, Sunan Gunungjati, meminta Sunan Kudus agar memberikan kelonggaran bagi Sunan Kalijaga. Akhirnya, Sunan Kudus memberikan ijin juga.

Sunan Kalijaga berhasil menemui Syeh Siti Jenar, sosok yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Di Dalem Agung, dimana Syeh Siti Jenar ditahan, mereka berdua berpelukan erat. Meteka berdua bertemu dalam situasi memilukan.

Syeh Siti Jenar, tetap terlihat tegar. Bahkan beliau berpesan kepada Sunan Kalijaga agar terus berjuang menegakkan Islam yang toleran, yang penuh kasih, bukan Islam yang kolot, kaku dan dangkal.

Beberapa hari kemudian, datanglah rombongan Dewan Wali ke Carbon. Mereka langsung menuju ke Istana Pakungwati ( Istana Kasultanan Carbon bernama Pakungwati, mengambil nama dari istri Sunan Gunungjati, Nyi Pakungwati : Damar Shashangka). Dibawah pimpinan Sunan Giri, Para Wali memutuskan untuk mengadili Syeh Lemah Abang dengan mengambil Masjid Agung Sang Ciptarasa sebagai tempatnya.

Syeh Lemah Abang, diiringi Sunan Kalijaga, dengan dikawal pasukan Demak dan Carbon, segera menuju Masjid Agung Sang Ciptarasa. Pengawalan sangat ketat. Seluruh masyarakat Carbon Girang mengawasi dengan hati tercekam.

Ada beberapa kejadian yang tak terduga, beberapa santri Syeh Lemah Abang melakukan perlawanan hendak menerobos blokade militer yang tengah mengawal Sang Syeh. Mereka berhasil ditangkap. Syeh Lemah Abang, ditengah kerumunan pasukan dan masyarakat yang hendak menyaksikan, segera memerintahkan agar seluruh santrinya tenang dan ridlo’. Seluruh pendukungnya diminta agar berserah diri kepada Dzat Penguasa ‘Alam.

Di Masjid Sang Ciptarasa, Sunan Kudus berperan sebagai seorang Jaksa, dan Hakim dipegang oleh Sunan Giri.

Pengadilan berjalan a lot dan lamban. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana. Karena pengadilan ini bersifat tertutup. Situasi Masjid Agung Sang Ciptarasa sangat mencekam. Penjagaan ketat terlihat disana-sini. Pasukan Demak, dibantu Pasukan Carbon, melakukan penjagaan berlapis-lapis. Tidak ada yang boleh memasuki areal Masjid. Siapapun juga!

Hampir seharian penuh, tak ada perubahan situasi. Tetap mencekam. Dan menjelang malam tiba, nampak Syeh Lemah Abang, digiring ke halaman Masjid Sang Ciptarasa. Pasukan semakin diperketat.

Dihalaman Masjid Sang Ciptarasa, Sunan Kudus sendiri yang menjalankan eksekusi hukuman mati. Syeh Lemah Abang, dengan senyum dibibirnya, dengan kepasrahan total kepada Dzat Yang Meliputi Semesta, menyambut detik-detik terakhir hidupnya.

Sunan Kudus, memenggal kepala Syeh Siti Jenar. Kepala sudah terlepas dari badan. Darah menyemburat! Dan Syeh Lemah Abang, wafat saat itu juga!

Namun terjadi keganjilan, diareal Masjid Sang Ciptarasa, begitu Syeh Lemah Abang terpenggal kepalanya, mendadak sontak tercium aroma wangi semerbak yang aneh. Wangi yang bukan datang dari alam manusia. Wangi yang menyeruak dari alam Illahi!

Seluruh yang hadir tercekat. Para Wali yang menyaksikan jalannya eksekusi mati keheranan. Sunan Kudus tertegun. Para Pasukan yang bertugas sebagai penjaga pelaksanaan eksekusi, miris dan ketakutan.

Bahkan lamat-lamat, Para Wali melihat samar dan halus, ditengah-tengah darah yang menggenang disekitar jasad Syeh Siti Jenar, lamat-lamat, muncul empat huruf yang jika dibaca akan berbunyi ALLAH! Cuma sebentar. Dan kejadian gaib ini, sudah membuat beberapa Wali terjajar halus kebelakang!

Kala itulah, mendadak Sunan Kalijaga mengalami ‘Peningkatan Kesadaran’. Batinnya sangat peka. Ada sebuah kekuatan illahi yang menarik ‘Kesadaran’ beliau. Dan Sunan Kalijaga tergetar begitu mendengar suara lamat-lamat, yang syahdu, berasal dari dalam jiwanya. Suara itu adalah suara Syeh Lemah Abang,…

Inilah yang beliau dengar…………..

Kinanti

1.Wau kang murweng don luhung,
atilar wasita jati,
e manungsa sesa-sesa,
mungguh ing jamaning pati,
ing reh pêpuntoning tekad,
santa-santosaning kapti.

2.Nora saking anon ngrungu,
riringa rêngêt siningit,
labêt sasalin salaga,
salugune den-ugêmi,
yeka pangagême raga,
suminggah ing sangga runggi.

3.Marmane sarak siningkur,
kêrana angrubêdi,
manggung karya was sumêlang,
êmbuh-êmbuh den-andhêmi,
iku panganggone donya,
têkeng pati nguciwani.

4.Sajati-jatining ngelmu,
lungguhe cipta pribadi,
pusthinên pangesthinira,
ginêlêng dadi sawiji,
wijanging ngelmu jatmika,
neng kaanan ênêng êning.

Terjemahan

1.Dari yang sampai kepada Jalan Agung, Meninggalkan Pesan Sejati, Wahai manusia semua, Pada saat kematian menjelang, Tekad yang kuat (menggapai Kesempurnaan Sejati ), Dan keteguhan kehendak (menggapai Kesempurnaan Sejati )..

2.Tidak didapatkan karena hanya mendengar semata, Terkecoh ajaran berbelit-belit, Mementingkan keutamaan tubuh (Ilmu Fiqh), Apa yang tertulis dipercayai begitu saja, Padahal itu hanya Ilmu Etika, Belum menyentuh apa yang sesungguhnya.

3.Maka jangan terjebak syari’at, Sangat-sangat mengganggu pencapaian Kesejatian, Terlalu menimbulkan keragu-raguan dan ketidak pastian, Walau tidak yakin benar tetap saja kamu jalani, (Fiqh) itu Ilmu Duniawi, Ketika meninggal tidak berguna.

4.Sesungguh-sungguhnya Ilmu, Berada didalam Kesadaranmu sendiri, Tingkatkan Kesadaranmu itu, Satukan dengan Kesadaran Sejati, Kesempurnaan Ilmu Sesungguhnya, Akan kamu dapatkan dalam keadaan ENENG ( DIAM ) ENING ( HENING).

Sunan Kalijaga menitikkan air mata haru mendapati fenomena luar biasa itu. Dan segera, beliau memerintahkan pasukan Demak, merawat jasad Sang Kekasih Allah tersebut.

Sunan Kudus terpaku. Tak mampu berucap sepatah kata-pun.

Jenasah beliau, dikebumikan di Kampung Kemlaten. Namun dikemudian hari, jenasah beliau dipindahkan ke Giri Amparanjati atas perintah Sunan Gunungjati.

Keharuman nama Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, tidak bisa dihapuskan begitu saja dari benak masyarakat Jawa. Walaupun demikian hebat fitnahan yang dilancarkan kepada beliau sesudah beliau wafat, namun bagi masyarakat Jawa, diam-diam Syeh Siti Jenar tetap sebagai tokoh Agung.

(Tamat)

About these ads

51 Comments on “SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 5/Habis)

  1. Ping-balik: SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 4) « Biar sejarah yang bicara ……..

  2. dBo
    November 26, 2009

    Penulisan Sejarah yang SANGAT-MENCERAHKAN, terutama bagi GENERASI MUDA PENERUS BANGSA…
    Berbekal Sejarah Leluhur Bangsa, menjadikan Arah Langkah Kedepan menjadi Tepat dan Terukur. Artinya akan kearah Kemajuan atau Kemunduran.

    Raden Wijaya memang Pemegang Suksesi Pertama dari Raja Singhasari terakhir KERTANAGARA -”SANG PAHLAWAN BESAR”- http://dbo911.wordpress.com/ .

    Menurut saya, KERTANAGARA lah konseptor/pencetus awal konsep BHINNEKA TUNGGAL IKA dan NAGARA KERTAGAMA.
    BHINNEKA TUNGGAL IKA mampu dijadikan landasan BHINNEKA TUNGGAL ESA, suatu matra yang menjamin kedamaian, kerukunan, ketentraman hidup semua umat berbagai Agama.
    Dapat diterjemahkan dalam Sila Pertama ‘KETUHANAN YANG MAHA ESA’ dari Panca Sila kita.

    Selain itu, sebagai Raja/Kepala Negara, KERTANAGARA memperjelas lagi dalam NAGARA KERTAGAMA, artinya Nagara yang Sejahtera-Tenteram dengan Tata-Aturan Berbagai Agama.
    KERTANAGARA sendiri, sebagai pribadi saat itu sudah berhasil menyerap Tiga Aliran Agama yang ada yaitu Hindu-Syiwa-Budha, dalam perilaku hidup sehari-hari. (Memang saat itu Islam baru mulai merembes masuk Nuswantara, dan blm menjadi Kekuatan-Politik).

    Demikian koment/tanggapan singkat saya, apabila kurang berkenan mohon maaf.

    Sejujurnya, KAGUM dan SALUT atas tulisan ini.

    Salam dan Maju Terus utk kidimas Kopral Cepot, serta Salam Karahayon utk kimas Damar Shashangka.

    Maju Terus…Biar Sejarah Yang Bicara

  3. ruanghatiberbagi
    November 26, 2009

    sebagai pengagum Syeh SIti Jenar, postingan ini menambah wawasan dan pencerahan lebih banyak mengenai beliau, thanks gan

  4. nusantaraku
    November 26, 2009

    Woow…kisah luar biasa..
    Jika kisah ini benar, sungguh keji orang yang selama ini menfitna Syekh Siti Jenar.
    Bahkan beliau berpesan kepada Sunan Kalijaga agar terus berjuang menegakkan Islam yang toleran, yang penuh kasih, bukan Islam yang kolot, kaku dan dangkal.

    Islam yang toleran dan demokratis mampu bertahn di NKRI, tentu tidak lepas dari ruh/semangat-semangat toleran dari para ‘murid’ Syekh Lemah Abang.

    Mantap Kang

  5. KangBoed
    November 27, 2009

    Inilah Ajaran Syeikh Siti Jenar Versi Kircon ;) ;) ;) :lol:
    Salam Damai dan Cinta Kasih

    Hidup adalah satu perjalanan dalam pencarian
    Sadar maupun tidak sadar setiap jiwa ini dituntun kesana
    Ya ya pencarian, pencarian akan hakikat hidup
    Kedamaian, Kesadaran dan Kebenaran yang sejati

    Salah dan benar hanyalah sebuah perjalanan
    Perjalanan mencari sesuatu yang telah lama hilang
    Sesuatu yang sangat dirindukan setelah sekian lama
    Ya dulu kita berkumpul dan bersatu dalam HaribaanNYA

    Alangkah lebih baiknya jika sang diri mulai menyadari akan pencariannya
    Meninggalkan batasan dan ukuran yang selama ini dipakai
    Ya sadarilah pencarian itu tidaklah akan pernah berakhir
    Sampai akhirnya waktu pun sudahlah habis terbuang percuma

    Panca indera bukanlah patokan maupun ukuran kita
    Ingat panca indera hanya untuk perlengkapan di sini
    Ya panca indera hanyalah barang baru yang akan hancur termakan waktu
    Tiada sedikitpun kekekalan dan keabadiannya

    Apa yang kita lihat, Apa yang kita dengar
    Apa yang kita tangkap dari luar diri kita
    hanyalah menimbulkan ilusi dan kepalsuan
    Akal pikiran, logika, Angan angan itulah dunia kepalsuan

    Tetapi ternyata di dalam diri kita ada sesuatu bagian yang lama sekali
    Dia kekal dan abadi dan selalu merindukan jalan pulang
    Dia sebuah daging yang bernama hati Nurani yang terdalam
    Sebagai pancaran dari ruh kita yang kekal abadi

    Ya Hati ini ternyata sungguh dahsyat dan luar biasa
    Disanalah letaknya kedamaian
    Disanalah munculnya cinta dan kasih sayang
    Disanalah terbitnya keikhlasan dan ketulusan

    Sekali lagi hatii, adalah ladang kita yang harus kita bersihkan
    Kita cabuti rumput dan semak belukar yang tumbuh disana
    Bersihkan dengan sungguh sungguh pertobatan
    Sehingga ketika benih cinta kepada Allah ditanamkan maka benih itu akan tumbuh subur

    Benih itu akan tumbuh dan tumbuh menjadi sebuah pohon
    Belajar berbunga dan belajar berbuah walaupun buahnya masih masam
    Kemudian buah itu semakin mengkal dan akhirnya berbuah lebat dan sangat manis sekali
    Berguna bagi semua orang tanpa kecuali ….

    Ya hanya dari sebuah hati yang sudah dibangkitkan dari kematiannya
    Hati yang sudah hidup dan memancarkan sinar kehidupan
    Hati yang terdalam sungguh suatu ukuran yang nyata dalam perjalanan kita
    Yaaaa hati yang hiduuup makin hiduup dan tambah hiduuup

    Salam Sayang Selalu

  6. KangBoed
    November 27, 2009

    RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  7. dedekusn
    November 27, 2009

    Tiasa janten referensi kang, ga usah beli bukunya, tinggal baca we didieu… hehehe :)

    SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430 H
    Semoga segala pengorbanan kita mendapat ridho dan pahala yang berlimpah dari Allah SWT.. Amin

    Sukses kang.

    • حَنِيفًا
      November 28, 2009

      Indem smuahhh,….
      Tapi rumah @kang Kopral, tos jabrig kieu… kamana nu bolakona nya ?! :D

      —————
      Kopral Cepot : yg punya rumah ‘hadir’ :D … cuman mencoba memahami semua komeng yg ada … “sebuah tantangan ada didepan mata”

      • حَنِيفًا
        November 29, 2009

        @Kang Kopral Cepot
        “sebuah tantangan ada didepan mata”
        ________________________
        Insya Allah, pasti Akang mampu menghadapinyah.

        ———-
        Kopral Cepot : Amien .. pidu’ana ;)

      • abifasya
        November 30, 2009

        hadapi…dan terus hadapi

  8. Ndre
    November 27, 2009

    saya baru tahu sekarang.. ya ya ya.. i just knew it. Thanks bro.

  9. bri
    November 28, 2009

    hadiiirrrr…^^
    malam minggu kang…
    baru bisa berkunjung dan silatuhrahmi lagii disinii
    maaf dah lama gak mampiir^^
    apa kabarnya kang?
    semoga sehat..amiin
    piss = damai = cinta = emphaty^^

    ————–
    Kopral Cepot : Maaf’s sy juga jadi jarang berkunjung … koneksi lemoot bawaanya males kemana-mana ;) moga2 bri_ tetep semangat n berprestasi

  10. bri
    November 28, 2009

    hadiiiiiiirrr…^^
    kang kopral met malam minggu

    selamat hari raya idul adha 1430 hijriah
    mohon maaf lahiir dan batin

  11. ruanghatiberbagi
    November 29, 2009

    edisi terakhir ya nih kang, lengkap euy cerita syeh siti jenarnya, keep posting ya kang sukses selalu

    —————-
    Kopral Cepot : hatur tararengkyu :) sukses pake hati

  12. KangBoed
    November 30, 2009

    :roll: juraganna kamana nyaak

    • kopral cepot
      November 30, 2009

      aya we juragan .. teu kamana-mana .. hatur tararengkyu parantos kersa linggih sareng ngampar samak nyuruput cikopi sambi udud .. mangga .. abdimah ngiring ngabandungan wae ;)

      • حَنِيفًا
        November 30, 2009

        dibandungan mah, moal bisa harmaji sigana nehh. :(

        • abifasya
          November 30, 2009

          muhun sakali-kali ulah ngabandungan wae, kena2 urang bandung. sali2 nga-bogoran atuh… ;) ;) ;) (seuri na nyengsol)

        • kopral cepot
          November 30, 2009

          @Kang Haniifa .. “harmaji” hartosna naon nya? ;)

  13. Love4Live
    November 30, 2009

    sebuah tulisan yang kontemplatif…
    kacabenggala masa lalu yg hikmatnya menjadi bekal bagi masa depan.

  14. itempoeti
    November 30, 2009

    rangkaian tulisan ini menjadi anggukan kepala atas apa yang sudah saya dengar selama ini.

  15. yusupman
    November 30, 2009

    selamat pagi…menarik sekali,satu kisah yg cukup komplit..
    salam pershabatan

  16. abifasya
    November 30, 2009

    berbagai pendspat ttg syekh siti jenar baik yg negatif maupun positif seyogyannya tidak membuat para sejarawan memihak salahsatu kelompok, biarlah sejarawan mengalir apa adanya tanpa memihak salsaatunya.
    untung kicepot mah selalu berada ditengah (sebab lamun disisi bisi labuh)

    • kopral cepot
      November 30, 2009

      hatur tararengkyu kang Abi … Biarlah sejarah yang bicara

  17. sikapsamin
    November 30, 2009

    Dalam kaitan Hari Raya Qurban Kali ini, ada Fenomena yang baik untuk bahan RENUNGAN kita bersama, yaitu :

    Banyak SAPI-KURBAN yang BERONTAK/MENGAMUK ;
    Banyak DAGING-KURBAN yang MEMBUSUK .

    Tanda-tanda apa kiranya?!

    MARI KITA RENUNGI BERSAMA…

    Salam…RENUNGAN SEJARAH

  18. sikapsamin
    November 30, 2009

    Mohon maaf mas Kopral, tambah sedikit komen…

    Dalam posting sebelumnya, “Misi Peng-ISLAM-an Nusantara”, dalam suatu komen sudah saya ekspresikan kekaguman saya terhadap SYEKH SITI JENAR.

    Dalam posting ini, makin jelas peran seorang SYEKH SITI JENAR MENENTANG BENTUK2 KONSPIRASI-KEBUSUKAN…

    Salam…JAS MERAH
    Salam…JAKET MERAH (hadiah dari mas Itempoeti)

  19. ABDUL AZIZ
    Desember 4, 2009

    Assalamu’alaikum,
    Tokoh kontroversial ini memang menarik. Ada yang menganggap sebagai wali yang murtad, yang keluar dari Agama Islam, seperti yang diungkapkan dalam bukunya Achmad Chodjim ( Syekh Siti Jenar : Makna “Kematian” ). Ada juga yang mempertanyakan apakah Syekh Siti Jenar itu memang nama seseorang yang pernah hidup di dalam sejarah, terutama sejarah Indonesia ( Jawa ). Hal ini pernah diungkapkan Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam kata pengantar buku Ashad Kusuma Djaya ( Syekh Siti Jenar : Membuka Pintu Makrifat )
    Sayang saya belum baca tulisan Akang di sini, terlalu panjang. Tapi saya akan copy.
    Terima kasih, mohon maaf baru bisa mampir lagi. Ini pun tak sempat baca-baca.
    Wassalam.

  20. tomyarjunanto
    Desember 10, 2009

    Sebuah pembabaran sejarah yang menarik
    Syeh Siti Jenar & Sunan Kalijaga adalah Sedulur Tunggal Wirid, mengajarkan sejatinya ilmu yang lungguh ing cipta pribadi

  21. busana muslim
    Desember 10, 2009

    Lalu kenapa ya dalam bebrapa kisaha dan bahkan sempat ada filmnya wali songo, syekh siti jenar ini di anggap sebagai seraong yang murtad kealura daria jaran Islam, setealh membaca artiekl ini sepertinya terbalik 180 derajat, wallahu alam bissowab..

  22. nining
    Desember 13, 2009

    Semoga yang kagum sama Syekh Siti Jenar segera mendapat hidayah Alloh SWT, amin.

    ———————–
    Kopral Cepot : Kucoba hargai masa lalu …. Biar sejarah yang bicara … temukan hikmah dan pembelajaran supaya kita tak tergelincir di hari ini atawa hari esok.

  23. wijoyo
    Desember 13, 2009

    mohon maaf kalo mau menulis artikel or sejarah yang berhubungan dengan keimanan dan kepercayaan, mohon direnungkan dengan tenang, dicari sumber yang benar dan disesuaikan dengan kepercayaan yang terkandung dengan artikel tersebut.juga mohon petunjuk pada SANG PENGUASA, supaya barokah manfaat. JANGAN HANYA NGAWUR DAN ASAL MENDESKREDITKAN SALAH SATU PIHAK AJA….

    ——————
    Kopral Cepot : Coba baca bagian pertamanya Bro … barokah manfaat kita temukan dengan cara BELAJAR.

  24. nirwan
    Desember 14, 2009

    hehehe … ini postingan yg bagus … :D Menarik dan tetap menarik ketika dibaca dua atau tiga kali. Tentu, namanya juga sejarah, akan ada banyak distorsi. Tapi, betulkah Syech Siti Jenar sehebat dan sedalam itu? Itu yang paling menggelitik saya. :D Dan, alangkah sangat bagusnya kalau saja tulisan ini juga dikomparasi dengan sejarah pemikiran Islam dalam kurun waktu sebelum dan pada saat Kyai Jenar dan sembilan wali itu hidup. Mungkin saja, kita bisa menatap di bahagian mana “Indonesia” itu dalam lingkup besar pemikiran Islam. Hatur tenkiu kang cepot… :)

    —————
    Kopral Cepot : Komparasi pemikiran Islam? .. ide menarik krn sejarah Islam Indonesia tentunya tdk mandiri .. hatur tangkyu kembali ;)

  25. jack sparrow
    Februari 4, 2010

    w0ii kang.. punten atuh sekalian diartikan 4 suara lamat2 sitijenar trhdp kali jaga! pliss y4w! hatur nuhun ah.. tha..tha..

بسم الله الرحمن الرحيم

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: