Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

sisingamangaraja-xiiSisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.

Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.

Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.

Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.

Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.

Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.

Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.

Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.

Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.

Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.

Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.

Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.

“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.

Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.

Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.

“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.

Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.

Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.

sumber :
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

(Up-date ; 7 Mei 2009)
Tanggapan Dari syariffuddin hutabarat : Tentang Agama Sisingamangaraja XII

Suatu kehormatan bagi saya mendapat tanggapan dan respon terhadap apa yang ditulis di blog ini, khususnya berkenaan dengan sejarah pahlawan nasional Sisingamangaraja XII dan apresiasi dari Bang Syariffudin Hutabarat terhadap tulisan ini maupun terhadap pribadi yang empunya blog, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dari tiga tanggapan yang diberikan oleh Bang Syariffudin, dua tanggapan terakhir saya masukan dalam update posting ini.

Tanggapan kedua dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.

saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.

saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam

Tanggapan ketiga dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam

Kopral Cepot mencoba merespon.
@ Bang Syariffudin ; tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja, meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agama apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan.

Kopral Cepot ; Tanks atas sarannya.. tapi jujur ajach bang, aku bukan sejarawan aku hanya orang yang mau dan sedang belajar sejarah. Secara pribadi aku tidak punya kepentingan apa2 terhadap agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII atau siapapun juga. Tetapi aku sangat menghargai dan saluuut terhadap ‘daya juang’ dari para pahlawan kita. berkenaan dengan posting ini aku ambil dari ;
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

Jadi skali lagi aku hanya “sang pembelajar”

@ Bang Syariffudin Hutabarat : anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII.

Kopral Cepot : Memang aku tak layak menulis sejarah bukan hanya sejarah Sisingamangaraja XII saja sejarah yang lainnya juga aku tak layak bang. skali lagi aku hanya “sang pembelajar”. Setiap posting sejarah di serba sejarah aku berupaya untuk mencantumkan referensi baik berupa buku sejarah maupun hasil pencarian yang dibantu oleh mbah google. Kalo aku boleh jujur…. aku tuh berterima kasih sama mbah google yang telah membantu aku “sang pembelajar”.

@ Bang Syariffudin Hutabarat : kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan republik Indonesia

Kopral Cepot : he he he he … emang sih aku terlalu memaksakan diri untuk menulis sejarah di “serba sejarah” ini. Tapi klo aku engak memaksakan diri, kapan aku bisa belajar… ? :D

@ Bang Syariffudin Hutabarat : ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.

Kopral Cepot : ……….. ? pusing jawabnya

@ Bang Syariffudin Hutabarat : tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih

Kopral Cepot :Terima kasih sarannya bang, tapi maaf dah terlanjur di posting di internet. kalo menurut aku pembaca internet itu pinter-pinter, bisa milih dan milah mana yang benar mana yang salah. kalo kebetulan tulisan aku salah… yang jangan diterima tapi kalo bener mudah-mudahan bermanfaat. Sesuatu yang “kontroversial” bisa mengasah otak kita untuk cerdas… dan kecerdasan awal dari pencerahan umat.

demikian tanggapan dari “sang pembelajar” KOPRAL CEPOT. dan beribu-ribu terima kasih buat Bang Syariffudin atas saran dan kritikannya, ini membuat aku semakin giat untuk belajar sejarah.

Aku tunggu balik responya… salam


 

About these ads

543 comments on “Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

  1. sakti
    Februari 10, 2010

    BUAT PEMILIK POSTING YANG TOLOL DICAMPUR BEGO YANG TEBAL!{terlihat dari kualitas tulisanya}.
    buat posting itu, pake mikir panjang donk!,
    terbukti kau bukan orang yang berwawasan luas dan berpola pikir besar, bisa dilihat dari tulisanmu yang condong keagamamu, tapi agamamu sendiri tidak kau pahami, belajar lagi ya….
    JANGAN TAU RITUAL agamamu DOANK, TAPI DI PAHAMI JUGA COY!jangan mau jadi katak dalam tempurung, ya!
    SESEORANG DIBENARKAN BUKAN KARENA AGAMA YANG DIANUT,
    TAPI DIBENARKAN KARENA IMAN! iman kepada apa/siapa?
    bukan kristen/ islam, yahudi,dll.
    tapi kepada ALLAH, TUHAN YANG MENCIPTAKAN BUMI DAN JAGAT RAYA INI.

    • endang seminar
      Agustus 18, 2010

      seseorang dibenarkan karna Islam, karna Islam agama yang benar..numpang nimbrung..hehehh

  2. eksa
    Februari 11, 2010

    Dalam mengkaji fakta sejarah, selama ada data yang bisa dipertanggungjawabkan, semuanya sah kok untuk dikemukakan. Namun, ingat, berbicara sejarah, kita akan menemukan para aktor yang senantiasa berusaha mendapatkan kekuasaan. Sejarah identik dengan kekuasaan, ok!

    ———
    Kopral Cepot : Betul Betul Betul (Ipin Upin Mode On*) ;)

  3. maruli
    Februari 24, 2010

    jangan hanya ingin kau buat seleramun dengan mengatakan sm raja 12 islam!tulisanmu hanya menonjolkan golonganmu!apa kau ga berpikir sama agama parmalim yg sampai skrg di huta tinggi kec laguboti masih berdiri smpai skarg rumah ibadah parmalim,agama yg dianutnya.kau blum tau peperangan sm raja 10(tewas dlm peperangan) mlwn kaum paderi(muslim)di pimpin tuanku rao masuk dari sipirok sana untuk meng islamkan tapanuli bagian utara.apa berhasil?di daerah siborong2 sana ada nama desa parik sabungan yg artinya parit pertumpahan.dimana wktu itu pasukan berkuda tuanku rao dibuat perangkap parit.dan pertumpahan darah pun terjadi bgitu hebat dngan ganasnya pasukan rao membunuh org yg gamau pengikut tuanku rao.apa dngan kekerasan itu kau bilang sm raja 12 islam.ntar marah arwah leluhurnya dicabut nyawamu…..

  4. SAHAP HUTABARAT
    Maret 15, 2010

    bagaimana kalau pahlawan nasional agama islam kita buat tulisan bahwa dia bukan beragama islam?jadi sama2 O”on dong kita.ha ha ha

  5. dedi
    Maret 17, 2010

    au orang batak

    • roy
      Mei 21, 2010

      au pe lae orang batak do bah….

      boado ,,setuju doho na islam Raja ta i??

  6. matahari aja
    Maret 25, 2010

    horas…. , manjua jua……
    saudaraku semua saya telah baca semua tulisan ini , semua kalian intinya mengagumi perjuangan pahlawan nasional kita sisingamangaraja . memang disini ada persamaan 40 % antara agama yang dianut sisingamangaraja yaitu parmalim dan islam .
    agama sisingamangaraja adalah parmalim yang dulu awal menyelamatkan orang batak dari ajaran agama parpalabegu atau yang dinamakan kepercayaan . dulu sisingamangaraja itu bergelar singaraja dan itu didapat ( dulu gelar seperti nabi atau rasul ) setelah sudah mulai dikenal ajaran itu muncullah persatuan dan kesatuan yang harus ada pemimpinnya . jadi selain dia dulu jadi penyebar agama baru untuk menyelamatkan saudaranya terjadilah pemerintahan kecil yang harus ada pemimpin.adanya gelar sisingamangaraja itu disaat perjuangan melawan penjajah . belanda mulai takut dengan ajaran sisingamangaraja itu karna didalamnya ada nilai kesatuan yang kuat . makanya belanda mulai membunuh pentolan sisingamangaraja paling bawah dimulainya , dan diadu dombalah serta dipaksa masuk ajaran kristen pada saat itu.
    sisingamangaraja tidak pernah memaksa atau menghalangi saudaranya ikut agama apapun . saya tau bagian itu karna kakek saya ajaran sisingamangaraja sampai matinya . dan yang bisa menentukan dan diakui turut andil siapa akan gelar sisingamangaraja itu adalah kami keturunannya . sisingamangaraja 13 anaknya yang tidak dikenal sejarah itu pun kakek saya ikut andil penyaksian dan doa pada maha kuasa tuhan . jadi sisingamangaraja itu adalah awal dari gelar ajaran parmalim sebagai penerusnya . bila ingin belajar coba dengan dasar kitab parmalim dan istiadatnya .

  7. Nova Sinambela
    Maret 25, 2010

    Aduh, plis deh, jangan nulis tentang Ompung aq dengan semena-mena, cukup tulis tentang perjuangannya tanpa harus membicarakan agama, karena topik agama itu terlalu sensitif untuk disentuh.

    Thx.

    • roy
      Mei 21, 2010

      yah ,,,,
      jgn bicarakan agama Nya….
      kita bicarakan saja jasa jasa Nya ……

  8. Arwan DJ
    April 15, 2010

    Dari kamu dapat informasi tentang Sisingamangaraja XII??? Apa kamu mengenal seluk beluk daerah perkampungan dalam dimana tempat Sisingamangaraja dibesarkan turun temurun dari Generasi Sisingamangaraja I??? Apa kamu sadar kalo sejarah Sisingamangaraja masih berlanjut sampai sekarang??? Dalam Buku Cerita Rakyat yang menjadi Legenda tentang Sisingamangaraja XII bahwa keturunannya yang laki² di ungsikan Tangan Kanan atau orang Kepercayaan Sisingamangaraja XII atas perintah langsung untuk bersembunyi ke tempat lain yang sampai sekarang ga ada satu pun yang mengetahuinya!!! Dua orang saksi Hidup tersebut yang bisa mengambil tindakan atas Opini History kamu yang mengatakan bahwa Agama Sisimangaraja XII itu Islam atau bukan!!! KAU JANGAN MACAM² DENGAN SUKU BATAK, APALAGI DENGAN SUKU BATAK PEDALAMAN YANG MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG

  9. naval
    Mei 14, 2010

    to all of you..
    mau agama apa aja urusan masing2…
    kenang sejarahnya…
    jangan memperkeruh suasana…
    Merdeka
    dan Horasssss

    • roy
      Mei 21, 2010

      horasss juga bah LAe

      tetap ma ate t kenang Raja TA i

  10. TKI
    Mei 19, 2010

    Kalaupun dia Islam, tidak akan menambah kebesaran Allah SWT yang Maha Besar.
    Kalaupun dia bukan Islam, tidak akan mengurangi penghormatan dari kami yang telah hidup di era kemerdekaan. Lebih baik menghormati Sisingamangaraja daripada menghormati para wakil rakyat penipu rakyat.
    MERDEKA !

    • Mat MUN_D
      Mei 19, 2010

      SATUJU……….. ALLOHUAKHBAR…….

      • roy
        Mei 21, 2010

        jangan asal setuju aja kau……….
        udah yakin bahwa itu benar???
        kalau udah harus ada bukti lah….

        pakai BOROKKOBOR lagi..
        ga malu kau….

    • roy
      Mei 21, 2010

      bagus komentar nya……
      agama apapun Dia kita harus tetap menghormati nya & harus tetap mengenang jasa2 Nya…………………..

  11. roy
    Mei 21, 2010

    saya tidak yakin bahwa sisingamangaraja12 itu menganut agama islam,,,saya sebagai orang batak yang menganut agama kristen protestan mengatakan bahwa sisinga mangaraja12 itu tidak mempunyai agama yang kita anut di abad 21 ini….
    sekian komentar saya…

  12. morex
    Mei 24, 2010

    mimpi kali lu…..!!!

    sisingamangaraja I sampai XII itu agamanya malim….!!!!

    bukan silom…..!!!

  13. Babiat Bosi
    Juni 5, 2010

    Rajai……..Rappakdo dohot au…………..

  14. Wahyu Siregar
    Juni 17, 2010

    Saya rasa anda harus berhati2 bila mengungkapkan tulisan yang belum memiliki bukti kebenaran yang valid dan sahih.. anda berkata agama Sisingamangaraja mungkin pelbegu, tapi kemungkinan besar islam, dengan mengungkapkan dalil dan bukti yang ditampilkan oleh penulis yang condong pada agama tertentu, bahkan dia mungkin bukan orang batak, kalaupun batak, belum tentu mengerti kehidupan Ompung Sisingamangaraja itu… Raja Napatar Sinambela, cucu Sisingamangaraja bilang kalau agama Sisingamangaraja itu agama Batak asli, bukan parmalim apalagi islam, sebab parmalim ada untuk menghormati SSM semacam nabi mereka. bila menuangkan bukti tentang stempel kerajaan yang berbahasa arab, hal ini bisa dimengerti sebab SSM menjalin hubungan dengan aceh yang fasih berbahasa arab, jadi sebagai sebuah penghormatan..

    saya juga menganjurkan bila menulis tentang orang besar, apalagi pahlawan nasional yang keluarganya pun masih ada, anda harus hati2, jangan sampai tendensi pribadi masuk di sini. carilah sumber yang terpercaya, terdekat dengan kenyataan, misalnya pakar historis batak, antropolog batak, dsb.. anda bisa saja dituntut oleh keluarga besar Ompu i Sisingamangaraja XII. juga lebih baik statemen yang diberikan bukan berkaitan dengan hal yang sensitif.

  15. zinedine zian
    Juni 18, 2010

    ngiring komen ah…

    sebenarnya tidak perlu kita mempertentangkan sebuah kepercayaan….
    dengan melihat pola perjuangan dan landasan seseorang kita akan tau untuk siapa mereka berjuang walaupun dengan sebilah bambu runcing yang menjadi saksi di hari nanti…..

  16. Markus Siringoringo
    Juli 6, 2010

    Heii kawan!!!!!!!!!!!!anda harus hati2 memposting tulisan anda. Sisingamangaraja jangan kau sebut sebagai tokoh pejuang islam yang gigih..tolong hormati jasa2nya sbg pahlawan nasional..jangan membawakan agama. itu fitnah namanya…. ingat kawan!!!! fitnah lebih kejam dari pembunuhan. saya asli dari bakkara n sejak lahir smpi besar saya disana..jadi saya blum pernah mendengar Sisingamangaraja itu islam..yang saya tau beliau parmalim…jadi kalau anda ragu2 dengan tulisan anda mending di hapus aja…karena ini dapat menyebabkan perdebatan di antara org batak…salam

  17. adjie
    Juli 7, 2010

    .. kalo anda yakin sang pangeran muslim dgn bukti visual…..silahkan tapi kalo ia agamanya parmalim/siloam…silahkan tapi yg pasti sang pangeran tidak suka permusuhan dan saling benci sesama saudara seindonesia…sekian n tengkyu

  18. Rina Sinambela
    Juli 23, 2010

    Ngaco ne orang yang bikin artikel….!
    Lebay..!

  19. GEREP
    Juli 24, 2010

    Saya amat awam tentang sejarah. Tetapi karena topik ini saya nilai amat hangat, daya tariknya pun membuat saya (mohon izin) tertarik untuk ikutan beri komentar.

    Mungkin pertama-tama Kopral Cepot perlu diberi beberapa pertanyaan kunci sehubungan dengan tulisannya ini. Di antaranya tentang sumber-sumber dan metode yang dia gunakan untuk penulisan. Tentang sumber memang adar 2 blog yang dicantumkan, selain menyebut beberapa nama dan lembaga, termasuk RMG (lembaga misi yang mengutus Ompui Nommensen.

    Kecuali itu beberapa hal yang amat menarik perhatian, dan mungkin diskusi kritis sebaiknya diarahkan untuk menilainya (menyanggah atau menerima). Sebab tampaknya pokok masalahnya ada pada beberapa pernyataan kunci yang di antaranya ialah:

    (1) Situasi sosial, ekonomi dan politik semasa era Sisingamangaraja XII yang oleh Kopral Cepot digambarkan dengan kalimat panjang ini:

    “Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun…”

    Dalam kalimat ini terkandung penggambaran situasi politik yang di dalamnya Si Singamangaraja XII tidak hidup seperti di ruang hampa yang tak dipengaruhi oleh kepentingan politik yang besar dari luar. Memahami kerangka ini akan sangat membantu memahami pernyataan-pernyataan yang dituturkan Kopral Cepot pada bagian-bagian berikutnya.

    (2) Amat diperlukan argumen dan penuturan fakta untuk secara objektif menilai (menolak atau menyetujui) pernyataan Kopral Cepot berikut ini:

    “Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan…”

    Tentulah hal ini yang paling banyak mengundang protes. Itu terlihat dari komentar yang masuk, melulu soal ini. Tetapi Kopral Cepot harus “dibungkan” hanya dengan argumen dan pembuktian atas kesalahan pernyataannya.

    (3) Juga kalimat berikutnya:

    “Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa…”

    Memang seolah semakin tak “termaafkan” rasanya Kopral Cepot ini (bagi yang tak setuju). Sekali lagi ia hanya dapat “dibungkam” dengan pembuktian bahwa ia sudah membuat pernyataan bohong.

    (4) Posisi pernyataan berikut tak kurang pentingnya dinilai:

    “Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat…”

    Memang menjadi agak membingungkan pula. Sungguh. Mengapa Sisingamangaraja XII menyebut Hijrah Nabi, dan Nabi yang dimaksudkan itu tampaknya mudah diinter-pretasikan. Apakah bendera dan cap (stempel) kerajaan asli Sisingamangaraja XII yang digunakan sebagai dasar pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, itu perlu diposisikan. Untuk kesekian kalinya Kopral Cepot perlu “dibungkam” dengan argumen dan data.

    (5) Kemudian, berdasarkan pernyataan Kopral Cepot, jika Mohammad Said dalam bukunya Sisingamangaraja XII hanya sekadar menduga bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim, didasarkan pada informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea, tetapi mengapa kemudian informasi yang lebih tegas diperdapat dari majalah Rheinische Missions Gessellschaft (1907) yang diterbitkan di Jerman?

    Jika bukan Kopral Cepot yang bohong atau sumber-sumber Kopral Cepot tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, rasanya tidak mungkin RMG membuat informasi yang kurang akurat tentang hal ini, karena menyangkut sebuah tantangan dalam tugas “penggembalaan” tentunya. Namun untuk kesekian kalinya pula Kopral Cepot perlu ditagih tentang akuraditas dan validitas sumber ini.

    (6) Tentang kebenaran fakta dalam kalimat ini perlu ditilik sumber-sumbernya:

    “Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh….”

    Akhirnya, meskipun Kopral Cepot dengan merendah menyatakan dirinya bukan ahli sejarah, melainkan seorang pembelajar, namun sebaiknya pada tempatnya ia diberi bukti-bukti yang menyanggah semua pernyataan-pernyataan kontroversialnya itu.

    Atau mungkin saja kesalahan terletak pada ketidak-validan sumber-sumber yang digunakan Kopral Cepot, atau soal metode kerja yang tidak tepat.

    Atau, sebaiknya dinyatakan saja bahwa hal ini memang cuma urusannya orang-orang ahli sejarah.

    Mohon maaf, dan terimakasih untuk kita semua. Horas.

  20. Gerep
    Juli 25, 2010

    Jika ada yang sudah membaca buku karya WB Sidjabat “AHU SISINGAMANGARAJA” tentu sudah amat akrab dengan isi tulisan Kopral Cepot. Karya Sidjabat bertalian erat dengan upaya penyanggahan pernyataan pada buku Mohammad Said “Dari Halaman-Halan terlepas mengenai Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII).

    Posisi Kopral Cepot ada di pihak yang berseberangan dengan WB Sidjabat, dan merupakan orang kesekian yang mengulangi pernyataan Mohammad Said dengan metode dan argumen-argumennya.

    Keberagamaan Sisingamangaraja XII dalam “diskusi” WB Sidjabat dan Mohammad Said pada intinya tertumpu pada interpretasi terhadap beberapa indikator penting seperti pola kehiduoan sehari-hari Sisingamangaraja XII dan para pengikut terdekatnya, hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan sekitar, simbol-simbol penting seperti bendera, stempel kerajaan, dan lain-lain.

    Kalau saya tidak salah, WB Sidjabat dan Mohammad Said beserta semua orang yang berada pada kedua kubu pemikiran itu juga menggunakan bahan-bahan telaahan dari masa lalu, yang pada umumnya bersumber dari pihak pemerintahan Belanda, Petugas dan lembaga keagamaan, serta para ahli di belakang hari. Generasi kita sekarang, terutama mereka yang berkesempatan melakukan telaahan serius, tentulah dapat menggunakan dan mengkritisi serta menginterpretasi bahan-bahan yang tersedia di pusat-pusat pemeliharaan data sejarah dalam negeri maupun di Belanda dan jerman serta tempat-tempat lainnya. Untuk menyebut beberapa contoh saja, sebutlah misalnya:

    (1) O.J.H.Draaf van Limbung Strum, yang mengisahkan kebijakan AP Gordon (1849), Asisten Residen Mandailing Angkola, yang berkaitan dengan hal-hal menyangkut komunitas agama, Islam dan Kristen. pada masanya.

    (2) Beslit Rahasia Gubernur Jenderal Pemerintahan Belanda (No 1,3 Juni 1889) tentang pelarangan orang tertentu menjabat Kepala Desa atau pegawai. Peraturan atau kebiasaan diskriminatif terhadap pemeluk agama pun demikian kental. Dari sini kemudian muncul kisah dua orang Residen Tapanuli (Westenberg dan Barth) yang bertindak sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, Arnheim , 1966). Sekaitan dengan itu pula muncul kisah Kepala Kampung Aman Jahara Sitompul (1903) di Janji Angkola (sekarang Kecamatan Purbatua, Kab Tapanuli Utara) yang melaklukan perlawanan terhadap isi surat rahasia itu (Christelijke Zending en Islam in Indonesia”, dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden). Juga dalam karya Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.

    (3) Koleksi G.A.J Hazeu dan Nota Lulofs 11 Juli 1915 yang termuat dalam karya Lance Castle) tentang upaya-upaya lanjutan Belanda memecah belah, antara lain tentang upaya memvakumkan hubungan perdagangan antara daerah Singkel dan Dairi (Surat Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909). Penting juga menganalisis kejadian pada tahun 1915 tatkala Lulofs memberikan instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan di sebelah Utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup.

    (4) Rekomendasi van Der Tuuk. R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962, hlm 81-84). H.N. vander Tuuk adalah missionaris (1851- 1857) yang menetap di tanah Batak atas utusan Lembaga Bijbel. Di antara hasil kajiannya kemudian beliau memberikan beberapa rekomendasi untuk memperlancar tugas-tugas para missionaris itu di tanah Batak.

    (5) Buku-buku karya Gottfried Simons, seorang tokoh yang pernah bertugas sebagai Zendeling Jerman di Sumatera (1896-1907) yang dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft) antara lain ialah (a) Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (b) Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926). Reformbewegungen in Islam (artikel).

    Kopral Cepot seakan dengan “enteng” menyebut Sisingamangaraja XII itu beragama Islam. Memang untuk sebagian orang pastilah berat menerima pernyataan itu dan hal itu pun juga bukan hal baru.

    Residen Tapanuli dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 mengutip catatan harian seorang zendeling bernama Muller. Alkisah, seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban dalam urusan menyangkut enam orang Batak pelebegu yang menyatakan keinginannya masuk Islam. Muller berusaha, tetapi tidak berhasil menarik mereka dari Islam. meskipun keenam orang tersebut diancam akan dibuang. (Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916). Catatan ini terdapat pada Koleksi G.A.J Hazeu. Disitu dilaporkan pula, adanya 5 orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang kemudian dapat diterjemahkan sebagai usaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak. Kepada mereka itu (dituduh telah menyebarkan agama Islam) dikenai hukuman dengan satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. (Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916).

    Lance Castle juga melaporkan kejadian para petani di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut (Laporan penelitian anggota Dewan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917).

    Karena diperkirakan topik hangat ini masih akan berlangsung lama, maka hal-hal yang patut disikapi ialah aturan-aturan dasar dalam mengemukakan pendapat serta sikap menghadapi perbedaan pendapat.

    Hal itu diharapkan dapat mengeliminasi perpecahan di antara sesama anak bangsa. Bagaimanapun juga, kebenaran tentang yang dipermasalahkan ini hanya satu dan itu cepat atau lambat pastilah terbuka secara luas kelak.

    Hendaknya pula soal status keberagamaan Sisingamangaraja XII tidak menjadi faktor yang merenggangkan di antara sesama anak bangsa, khususnya di antara orang Batak, apa pun agamanya.

    Kopral Cepot, bagaimana pun juga, menurut saya telah berusaha menerangkan sesuatu dan sesuatu itu baginya tampaknya sama dengan sesuatu yang lain, yang perlu diselidiki dan diwartakan. Kesimpulan ini saya ambil berdasarkan telaahan saya terhadap hampir seluruh tulisan yang pernah dibuat oleh Kopral Cepot dalam blognya http://serbasejarah.wordpress.com ini.

    Saya tidak tahu apakah saran ini bermanfaat atau tidak. Dengan segala hormat dan tanpa maksud menggurui, saya ingin Kopral Cepot mencoba mendapatkan dan menelaah bahan-bahan yang saya kemukakan di atas.

    Menurut saya bahan-bahan itu lebih dari cukup untuk menggambarkan bagaimana pertentangan-pertentangan yang terjadi di tanah Batak dalam hal agama dan keberagamaan khususnya sekitar periode Sisingamangaraja XII.

    Terimakasih. Horas.

  21. Sjaiful A Rangkuty
    Juli 25, 2010

    Marilah kita melihat kedepan dan hanya menoleh kebelakang…..agama apun yg di anut oleh pahlawan Nasional in,yg jelas alm gigih melawan penjajah….dan penjajah tertunya tdk akan ditoleransi bangsa indonesia…walaupun dlm disebagian benak2 rakyat indonesia msh mengendap di kepala mereka?….

  22. Ping-balik: PERTANYAAN-PERTANYAAN MINGGU PAGI, PEKAN TERAKHIR JULI 2010 « GEREP NAHINAN

  23. osingkertarajasa
    Agustus 2, 2010

    lanjuuuut bang cepooooot………………..

  24. josua sinaga
    Agustus 3, 2010

    sebelum membuat pernyataan terlebih dahulu pikirkan ap efeknya dikemudian hari…
    jangan sembarangan membuat suatu coment…. bila tida dapat di pertanggung jawabkan….
    sekrang zaman da maju pemikirnan juga harus maju… jangan asal bunyi… ngerti…
    nter gue makan loe…

  25. natsir alexander
    Agustus 14, 2010

    kok macam ramai betul disini? aneh nian yang menyanggah tulisan kopral cepot?
    kalau semisal mereka punya bukti yang menyanggah kopral cepot yo sampaikanlah…

    aneh benar orang macam kini, kok macam sensi nian kalau sisingamangaraja ini diklaim sebagai muslim??

    mungkin baru senang kalau sisingamangaraja tuh bukan muslim, atau kristen, atau buddha dan semacamnya? begitu hoi kawan2 diatas??
    toh saya pikir tulisan kopral cepot sudah sangat ilmiah, beliau sudah memberikan dalil dan fakta sejarah yang ada. so what?
    maju terus kopral cepot!!
    kalau benar, yo ayo sampaikan

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 30, 2009 by in Biografi Tokoh, Kumpulan Artikel Sejarah and tagged , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    ya,tapi kami orang toba trauma dengan islam,pasukan islam membantai tanah batak,dan kami tidak takluk dengan pedang.dio bakkara bangga dengan keislam anya,itu boleh saja.tapi alangkah baiknya anda belajar cari sejarah pengislaman tanah batak,walaupun kontroversial tapi jelas lebih mendekati dari pada sejaran yang di tulis pemerintah
    pstruct
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    betul sekali poang,kita tau siapa yang tukang klaim,bagaimana mungkin sisingamangaraja itu islam,apakah begitu bodohnya ompui lupa tanah batak di bantai islam,yang jauuuuuuh lebih mengerikan dari belanda.
    pstruct
  • Komentar di Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah oleh hendriwibowo Juli 29, 2014
    Habis baca artikel Makasih artikelnya. Lebih membuka mata saya bahwa, jadi tertarik menelisik lebih jauh. Beberapa dokumen lain dari wikipedia, unesco, ternyata mendukung fakta liputannya natgeo bahwa perang diponegoro ternyata skalanya besar dan masif. Thxs buat artikelnya -yang Lebih membuka mata saya bahwa perang ini lebih dari sekedar urusan patok jalan. […]
    hendriwibowo
  • Komentar di Cerita Amriki di PRRI dan CIA di Permesta oleh Tri Jtamadji Juli 28, 2014
    Oh...ternyata gitu to? Selama ini banyak rakyat kita yang di benaknya ( hasil pelajaran resmi ) bahwa mereka adalah murni memberontak demi memisahkan dari NKRI. Namun harus diakui, suka atau tidak suka , ya memang runyam kalau tentara ( secara institusi) masuk ke dunia politik.
    Tri Jtamadji

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: