Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara
Sisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.
Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.
Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.
Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.
Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser
Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.
Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)
Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.
Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.
Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.
Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.
Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.
Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.
Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.
Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.
Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.
Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.
Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.
“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.
Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.
Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.
“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.
Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.
Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.
sumber :
- http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html
(Up-date ; 7 Mei 2009)
Tanggapan Dari syariffuddin hutabarat : Tentang Agama Sisingamangaraja XII
Suatu kehormatan bagi saya mendapat tanggapan dan respon terhadap apa yang ditulis di blog ini, khususnya berkenaan dengan sejarah pahlawan nasional Sisingamangaraja XII dan apresiasi dari Bang Syariffudin Hutabarat terhadap tulisan ini maupun terhadap pribadi yang empunya blog, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dari tiga tanggapan yang diberikan oleh Bang Syariffudin, dua tanggapan terakhir saya masukan dalam update posting ini.
Tanggapan kedua dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.
saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.
saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam
Tanggapan ketiga dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam
Kopral Cepot mencoba merespon.
@ Bang Syariffudin ; tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja, meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agama apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan.
Kopral Cepot ; Tanks atas sarannya.. tapi jujur ajach bang, aku bukan sejarawan aku hanya orang yang mau dan sedang belajar sejarah. Secara pribadi aku tidak punya kepentingan apa2 terhadap agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII atau siapapun juga. Tetapi aku sangat menghargai dan saluuut terhadap ‘daya juang’ dari para pahlawan kita. berkenaan dengan posting ini aku ambil dari ;
– http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html
Jadi skali lagi aku hanya “sang pembelajar”
@ Bang Syariffudin Hutabarat : anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII.
Kopral Cepot : Memang aku tak layak menulis sejarah bukan hanya sejarah Sisingamangaraja XII saja sejarah yang lainnya juga aku tak layak bang. skali lagi aku hanya “sang pembelajar”. Setiap posting sejarah di serba sejarah aku berupaya untuk mencantumkan referensi baik berupa buku sejarah maupun hasil pencarian yang dibantu oleh mbah google. Kalo aku boleh jujur…. aku tuh berterima kasih sama mbah google yang telah membantu aku “sang pembelajar”.
@ Bang Syariffudin Hutabarat : kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan republik Indonesia
Kopral Cepot : he he he he … emang sih aku terlalu memaksakan diri untuk menulis sejarah di “serba sejarah” ini. Tapi klo aku engak memaksakan diri, kapan aku bisa belajar… ?
@ Bang Syariffudin Hutabarat : ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
Kopral Cepot : ……….. ? pusing jawabnya
@ Bang Syariffudin Hutabarat : tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
Kopral Cepot :Terima kasih sarannya bang, tapi maaf dah terlanjur di posting di internet. kalo menurut aku pembaca internet itu pinter-pinter, bisa milih dan milah mana yang benar mana yang salah. kalo kebetulan tulisan aku salah… yang jangan diterima tapi kalo bener mudah-mudahan bermanfaat. Sesuatu yang “kontroversial” bisa mengasah otak kita untuk cerdas… dan kecerdasan awal dari pencerahan umat.
demikian tanggapan dari “sang pembelajar” KOPRAL CEPOT. dan beribu-ribu terima kasih buat Bang Syariffudin atas saran dan kritikannya, ini membuat aku semakin giat untuk belajar sejarah.
Aku tunggu balik responya… salam
salam ….salam untuk saudara2ku.
terimakasih bpk/ibu/sdr/sdri : alexa – panjenengan membuat saya MELEK SEJARAH , sekali lagi terimakasih dan akan saya telusuri blog ” batara sitorus ” – dari saya yang ingin belajar sejarah dan ingin benar2 belajar sejarah .
Sdr Liang Meng setiap manusia mempunyai sejarah dan kita tidak harus takut apalagi emosi memanggapi kebenaran sejarah. Di tanah Jawa Maharaja Diraja yang menurunkan raja raja Jawa dan sebagian Raja Raja di tanah Nusantara adalah Ken Arok seorang mantan Perampok, Penjudi, Perebut istri orang dan pengkhianat bagi Rajanya.
Apakah kita harus marah dan mengingkarinya,…….. saya kira terlalu naif
Harapan saya sama untuk kasus SSM XII VS Nommensen karena itu juga fakta Sejarah.
@dear all : sekedar berusaha membenarkan sejarah yang dipaparkan. sisingamangaraja adalah tokoh agama seperti PAUS… dia adalah pemimpin agama parmalim yang menyembah Debata mulajadi na boloni. agama ini mirip sekali dengan agama yahudi, termasuk mereka tidak makan babi (perlu dicatat agama pertama yang mengharamkan babi adalah yahudi). orang israel pun menyembah Tuhan Yang awal dan akhir(kurang lebih sama dengan arti Debata mulajadi nabolon). jadi apabila alasan sunat nya sisingamangaraja dijadikan alasan dia menjadi islam, saya rasa tidak tepat karena seperti saya bilang diawal saya katakan bahwa agama parmalim mempunyai kesaamaan dengan yahudi, dan seperti kita tahu bahwa yahudi juga bangsa bersunat. masuknya pengaruh tulisan arab pada cap sisingamangaraja dikarenakan saat itu melayu dan aceh menggunakan tulisan arab jawi atau arab gundul, sehingga untuk menyatakan pengakuan kepemimpinannya, maka ia harus juga membuat cap yang dibuat menggunakan bahasa arab. selain itu perlu diketahui juga bahwa panglima perang sisingamangaraja XII adalah seorang muslim aceh yang notabene adalah ipar nya ato dalam bahasa batak adalah lae nya.
dan alasan mendasar kenapa sisingamangaraja XII menolak belanda adalah karena sebagai pemimpin agama dia tidak mau membuat rakyat tanah batak menjadi kristen.
“Opputta Naparjolo Martukkothon Salagundi,
Pinukkani Naparjolo ipaihut-ihut Naparpudi”
Perumpaan Batak yang berarti, hasil cipta, karya dan karsa termasuk dalam hal budaya dari pendahulu, menjadi tradisi yang dilestarikan generasi penerus.
Bicara Kepercayaan Parmalim, saya teringat di tetangga kampung kami yang masih ada penganut Parmalim. Saya berasal dari Kampung Lumban Pea Ambarita, Desa Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Simalungun. Walau berdomisili di Simalungun, kami masih melestarikan tradisi Toba. Sudah delapan generasi dari Op Mamontang Laut, hingga ke saya, nenek-moyang kami menghuni Sihaporas, sekitar 5 km sebelah tenggara Sipolha, atau 9 km dari Parapat.
Kampung tetangga,yakni B-8 (dekat perkebunan teh Bahbutong) dan Pansur Onom, masih ada beberapa, tidka lebih dari 100 KK, penganut Parmalim. Mereka biasanya beribadat Sabtu. Kaum laki-laki mengenakan pakaian tradisional sorban putih di kepala (seperti dikenakan umat seprti Hindu Bali), ada pun perempuan mengenakan sarung, dan saat berdoa tangan posisi menyembah.
Paramalim seperti saudara kita muslim, menganal haram dan halal. Mereka tidak mengonsumsi daging anjing, babi, hewan yang telah mati (tanpa disembelih), dan sebagainya.
Secara umum (walau tidak dapat digeneralisasi), mereka baik-baik, sopan-santun, ramah dan beradat, tidak terlalu suka hura-hura dan apalagi mabuk-mabukan (walaupun meminum tuak).
Mengingat keadaan ini, saya teringat pula pada tradisi Raja Sisimangaraja. Mengenai Sisimangaraja (bapak saya bertutur, sesungguhnya bukan Sisingamangaraja yang terdapat kata Singa artinya, Singa yang merajai) melainkan Raja Sisimangaraja (Raja serba Merajai).
Nama Sisingamaraja diduka untuk menguatkan lobi kepada pemerintah untuk mengegolkan gelar Pahlawan Nasional.
Kenapa Sisimangaraja menjadi Pahlawan nasional? Jawabannya karena beliau melawan Belanda.
Selain unsur politik dan perebutan kekuasaan, ada yang dipertahankan Sisimangaraja, yakni kepercayaan Parmalim. Parmalim berasal dari kata alim, seprti halnya alim-ulama. Beliau sendiri mengatakan tidak memiliki agama, karena agamanya di atas semua agama.
Mungkin itu yang membuat Penjajah Belanda kebakaran jenggot, sehingga terus mengejar Parmalim, karena menghambat penyebaran agama Kristen di tanah Batak. Senjata inilah yang belakangan dikembangkan sebagian kaum Islam, menyebut Sisimangaraja adalah Islam (sesungguhnya tidak).
Bapak saya pun, mendiang Jahya Ambarita, mantan prajurit TKR/TRI (legiun veteran), tidak pernah dibaptis. Beliau mantan kepala desa Sihaporas. Meski tak pernah dibaptis, beliau pelopor pembangunan jalan, sekolah termasuk tiga gereja Katolik di desa terdekat: Gereja Katolik Pansur Onom sebelum pindah dari Gereja Katolik Kebun Gadong/Ubi, dan Gereka Katolik Sihaporas.
Bapak saya, termasuk kami anak-anaknya raji ke gereja. Kami keluarga besar, 14 bersudara, 10 laki- 4 wanita. Bahkan abang-abang ada vorhangir dan sintua di gereka Katolik. Walau penetua gereja, kami tetap meneruskan tradisi leluhur, seperti kalau musim bercocok tanam mengadakan doa dan ritual agar Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Maha Pencipta) memberkati benih, saat padi bunting mengadakan ritual pula agar hasil panen bagus, dan saat panen raya, mengadakan pesta sembari mengucap syukur kepada Debata.
Tradisi itu masih saya ingat, ketika SD sampai SMP. Namun sepeninggal ayah, ritual itu jarang. Jika hingga tahun 1992, Sihaporas masih desa unggulan yang swasembada bahkan pengekspor produk hortikultura seprti jahe, cabai, kol, tomat, dan jagung. Kini, warga Sihaporas sudah tidak berjaya lagi, kalau tidak mau disebut menderita.
Saya tentu saja tidak mengatakan serta-merta karena tidak lagi meneruskan tradisi, tapi juga karena pengaruh kapitalisme PT Inti Indorayon Utama (PT Toba Pulp Lestari) dengan Round-up-nya meracuni tanah sehingga menjadi tandus.
Kembali ke Parmalim. Mengutip dari Parmalim.com, Parmalim adalah nama sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dibilang agama yang terutama dianut di provinsi Sumatra Utara. Agama Parmalim adalah agama asli suku Batak.
Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak Dahulu Kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”).
Ayah saya, memang masih meneruskan tradisi. Tapi dia pun tidak mau disebut Parmalim, dan dia mengaku Katolik, walau tak di Baptis.
Ayah sangat arif dan bijksana, bukan saja terhadap anak-anaknya dan manusia, juag perlakuan terhadap hutan. Bahkan sebagi orang tua, mereka sering pergi ke hutan ‘mangalompas” atau melepas binatang ke hutan, seperti tradisi melarung sesajen Hindu Bali. Ayah melarang anak-anak menebang pohon yang amat besar.
Dari fakta-fakta tadi, saya melihat, tidak ada alasan bagi pemilik agama-agama yang diakui pemerintah Indonesia untuk menyebut Parmalim jahat, sesat dan harus dibubarkan.
Kalaupun mereka terkucilkan, karena mata dan pikiran kita kagung dibutakan oleh penjajah Belanda, dan kaum kapitalis. Pengusaha misalnya, tentu sangat senang menebang kayu/pohon besar karena secara ekonomis menguntungkan. Lalu mereka memprovokasi masyarakat dengan menyebut, tidak boleh memberi sesajen kepada kayu besar, berdalih agama untuk tujuan ekonomi.
Saya penganut agama Katolik, tapi buat saya, seprti tertulis dalam Injil “Johanes 14:6, Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Pasal ini, seperti diperbarui dalam Konsili Vatikan II, bukan berarti semua orang yang beragama Katolik akan masuk surga. Bukan. Orang masuk surga bukan karena agama/KTP, tetapi berdasarkan iman-ibadah, dan perbuatan-amal.
Saya mau mengatakan, kita boleh beragama apapun, dan mengikuti tren apa pun, tetapi jangan serta-merta lupakan budaya, apalagi menistakannya. Sekarang kita banyak latahnya. sampai-sampai membuat nama anakpun dimodernisasi, kebarat-baratan. Tidak salah sih, tapi kasihan saja, adat tradisi, yang belum tentu buruk-negatif semua, ditinggalkan begitu saja.
Mengutip Tukul Arwana, seakan-akan Wong Deso (parhuta-huta: Toba) sesuatu yang memalukan, yang diharamkan. Padahal, 7o persen penduduk negeri ini tinggal di pedesaan. Dan kalau mereka tidka ada, orang-orang berduit di gedongan sana, dari mana mau makan nasi, sayur-mayur dan lauk-pauk??
Sekali lagi, saya bukan antimodernisasi, bukan antikemajauan, bukan pula antiEropa dan Amerika, tetapi anti terhadap paham yang sok kebarat-baratan di sisi lain mengindak-injak tradisi leluhurnya. Ini yang salah. Seperti kata pepatah, “Panas Hari, Lupa Kacang Akan Kulitnya”.
Saat orang-orang Amerika dan Barat mulai makin cinta hal-hal tradisi dan alami, kita orang Timur malah sebaliknya. Maka wajarlah bila ketahanan budaya bangsa ini sangat rentan. Dan wajar pulalah, jika lagu-lagu dan kebudayaan Indonesia banyak dijiplak negara lain. Alhasil, pusaka bangsa kita kini banyak dimuseum-museum di luar negeri.
Lihatlah Korea, Jepang, Cina dan India, sekarang menjadi kekuatan ekonomi-teknologi Dunia, tetapi mereka tetap melstarikan nbilai-nilai tradisi.
Mudah-mudahan yang belum islam diberikan hidayah.
orang tolol saja tau bahwa sy lebih tau tentang isi kantong sy, baca itu feith freedom siapa yang punya karakter bodoh, dibodoh-bodohi, pemerkosa, wong fei hung yang islam, dll, yang maniak dengan kelebihan2 orang2 terkenal, dikit2 sdh islam… dasar…..
( FAITH THE COMPLIE ) …saudaraku ” benson ” , anda telah berbagi pengetahuan kepada saya . meskipun secara ” tidak langsung dalam suasana tidak tepat ” ..terimakasih ” saudaraku BENSON “….. ceritakan kepada saya yang lebih2 lagi ( lebih banyak , lebih lengkap , lebih sempurna ) dari komentar2 anda dan saya tidak akan bosan ( apalagi jemu ) untuk membacanya .
wah ini blog yg paling primitif ([padahal komunitas Internet itu menurut kopral cepat pintar2 , tapi anda sndiri mencontohkan sebaliknya)
Sisingamangaraja itu seorang pahlawan. Anda mau dekatkan dia ke Hal agama melalui cap stempelnya, saya rasa sangat aneh…… Sudah jelas cap stempelnya itu bagian dari pemikiran original dari dirinya. (bukan mau mengadu domba ya, tapi cara berfikir pembuat blog ini agak memble)
Agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII agama asli Batak. Namun sudah sejak zaman Belanda terdengar isu bahwa menjelang tahun 1880an Sisingamangaraja memeluk agama Islam. Yang pertama menyebarkan desas-desus bahwa Singamangaraja XII telah menjadi seorang Muslim adalah para penginjil RMG (Rheinische Missions-Gesellschaft). Mereka tiba pada kesimpulan tersebut karena pada saat itu Singamangaraja XII mulai menyalin kerjasama dengan pihak Aceh. Hal itu dilakukannya karena ia mencari sekutu melawan para penginjil RMG yang pengaruhnya di Silindung menjadi semakin terasa dan yang menjalin hubungan erat dengan pemerintah dan tentara Belanda. Namun alasan utama maka para misionaris RMG menyebarkan isu bahwa Singamangaraja telah menjadi seorang Muslim adalah untuk meyakinkan pemerintah Belanda untuk menganeksasi Tanah Batak. Atas permintaan penginjil RMG, terutama Ludwig Ingwer Nommensen, tentara kolonial Belanda akhirnya menyerang markas Singamangaraja XII di Bangkara dan memasukkan Toba dan Silindung ke dalam wilayah jajahan Belanda.
Kontroversi perihal agama Singamangaraja hingga kini tidak pernah reda. Juga sesudah wilayah Batak menjadi bagian dari Hindia Belanda desas-desus bahwa Singamangaraja XII memeluk agama Islam tidak pernah berhenti sampai ada yang menulis bahwa Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam zijn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op zijn omgeving uit om zich te bekeeren (menurut laporan dari penduduk maka sang raja sekitar lima tahun yang lalu memeluk agama Islam, namun ia tidak menjadi seorang Islam fanatis dan tidak berusaha untuk meyakinkan rakyat supaya turut menggatikan agamanya). Kemudian dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog (Departemen Pertahanan), maka Letnan L. van Vuuren dan Berenschot pada tanggal 19 Juli 1907 menyatakan, Dat het vaststaat dat de oude S.S.M. met zijn zoons tot den Islam waren overgegaan, al zullen zij wel niet Mohamedanen in merg en been geworden zijn (Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya).
Selain laporan oleh para misionaris Jerman dan oleh koran-koran Belanda, petunjuk lainnya bahwa Singamangaraja XII beralih agama ke agama Islam termasuk: 1. Singamangaraja XII tidak makan babi; 2. pengaruh Islam terlihat pada bendera perang Singamangaraja dalam gambar kelewang, matahari dan bulan; dan 3. Sisingamangaraja XII memiliki cap yang bertuliskan huruf Jawi (tulisan Arab-Melayu).
Untuk butir 1 dapat dikatakan bahwa bukan hanya Singamangaraja XII yang tidak boleh makan babi, melainkan hal itu berlaku juga untuk semua Singamangaraja sebelumnya. Pantangan makan babi tidak ada kaitan dengan agama Islam melainkan juga berlaku untuk para raja yang beragama Hindu. Dalam hal ini perlu diingatkan bahwa agama asli Batak sangat kuat pengaruh Hindu. Untuk butir 2, kelewang, matahari, dan bulan bukan lambang yang eksklusif Islam. Selain daripada itu perlu diingatkan bahwa kerajaan Singamangaraja XII dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan Islam sehingga tidak mengherankan kalau ia meminjamkan lambang yang juga digunakan oleh para raja Melayu. Khususnya untuk butir 3. cap Singamangaraja telah dianalisis oleh Prof. Uli Kozok [2]. Selain sebuah teks yang memakai surat Batak (aksara Batak) terdapat pula sebuah teks berhuruf Jawi (Arab Melayu) yang berbunyi; Inilah cap maharaja di negeri Teba kampung Bakara nama kotanya hijrat nabi 1304 [?] sedangkan dalam aksara Batak pada cap itu tertulis Ahu ma sap tuan Si Singamangaraja tian Bangkara, artinya “Akulah cap Tuan Si Singamangaraja dari Bangkara”. Berdasarkan analisis empat cap Singamangaraja maka Profesor Kozok tiba pada kesimpulan bahwa keempat cap Singamangaraja masih relatif baru, dan diilhami oleh cap para raja Melayu, terutama oleh kerajaan Barus. Pada abad ke-19 huruf Arab-Melayu (Jawi) umum dipakai oleh semua raja di Sumatra sehingga sangat masuk akal bahwa Singamangaraja XII juga menggunakan huruf yang sama agar capnya dapat dibaca tidak hanya oleh orang Batak sendiri melainkan juga oleh orang luar.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa argumentasi bahwa Singamangaraja XII telah berpindah agama cukup lemah. Sekiranya Singamangaraja memang memeluk agama Islam maka pasti ia akan mengimbau agar rakyatnya juga memeluk agama Islam. Laporan para penginjil seperti L.I. Nommensen bahwa Singamangaraja telah memeluk agama Islam terutama dimaksud untuk mendiskreditkan Singamangaraja dan untuk menggambarkannya sebagai musuh pemerintah Belanda. Oleh sebab itu maka kita harus bersikap sangat berhati-hati terhadap kesimpulan yang sulit dapat dipertahankan.
@ fernando
Laporan para penginjil seperti L.I. Nommensen bahwa Singamangaraja telah memeluk agama Islam terutama dimaksud untuk mendiskreditkan Singamangaraja dan untuk menggambarkannya sebagai musuh pemerintah Belanda.
dan Atas permintaan penginjil RMG, terutama Ludwig Ingwer Nommensen, tentara kolonial Belanda akhirnya menyerang markas Singamangaraja XII di Bangkara.
nah, Pertanyaannya adalah :
siapakah dalang dibalik semua ini ???
bpk/ibu/sdr/sdri : BENSON maupun FERNANDO dengan saya , satu bangsa bang
sa indonesia , satu bahasa dan satu tumpah darah yang jelas adalah ” SAUDA -
RA SAYA ” terimakasih atas berbagi wawasan pengetahuanya.
haahhahah….adong2 saja si cepot ini…
sian dia ma dalan na dohonon mu oppu i Sisingamangaraja XII gabe silom…
tongkin nai dohonon mu oppu i IL Nomenesen gabe parmalim…
ahhh…nga maup tibba tu dolok….ahahhaha
baen ma cepot…dang iattusi ho na hudok on…
ai…bahasa batak pe so iattusi ho…padiladilahon ho mangkatai oppu i Sisingamangaraja XII….ahhaahhahhahah
Kopral cepot, Sejarah adalah sejarah, yang sebenarnya tidak bisa diubah-ubah, Sekali disebut berarti itu akan ada selamanya. Ribuan ton barang mungkin masih ada alat yang dapat menariknya. Tetapi perkataan, baik lisan maupun tulisan, sekali terucap maka tidak ada alat yang dapat menariknya kembali. Jadi janganlah membuat suatu tulisan yang bernada kesimpulan, sementara anda sendiri belum tahu faktanya. Saya sendiri besar di wilayah Bakkara yang merupakan pusat kerajaan Sisingamangaraja, tidak pernah mendengar cerita itu. Ornamen bangunan yang berciri khas Timur Tengah juga tidak ditemukan, juga bahasa. Yang juga perlu anda tahu, putrinya dan anak-anak serta cucu beliau yang saya tahu beragama Kristen Protestan. Tidak ada indikasi bahwa beliau beragama islam.
Saya tak mau banyak komen ttg postingan ini, krn si pemosting jg mengatakan di sedang belajar sejarah, tp saran Saya, postinglah/ungkapkanlah sesuatu yg bnr2 anda kuasai, dan jangan pernh memposting sesuatu yg masih sedang anda pelajari,,, krn belajar sejarah, tak cukup membaca hanya satu buku saja,, minimal anda harus membaca 10 buku yg memang benar2 bisa dijamin keakuratannya,, karna setiap buku bisa jadi beda penulis pasti beda pendapatnya,,, jikalau anda bisa menemukan 7 kesamaan dr 10 buku yang anda baca, brarti isi dr buku tsb sudah dalam kategori akurat,,,
Saran buat Penulis:
Berobat dan Bertobat lah engkau agar nasib mu menjadi baik,sebab engkau telah menulis kebohongan sejarah.
Yang saya tahu bendera Sisingamangaraja itu tdk ad hubungannya dgn timur tengah, sy pernah “dengar” bahwa bendera Sisingamaraja itu melambangkan batak sesungguhnya, bulan dan bintang disamping kiri dan kanan adalah simbol dua keturunan Siraja Batak yaitu Tatea Bulan dan Raja Isumbaon, sedangkan sedangkan kedua pedang melambangkan jiwa org batak yg tak kenal menyerah…….
wehhh cocok buat pengetahuan
Seneng banget bikin konflik ya.. Kaya Ajaran Agamanya.
MANDERA HARAJAON BATAK (BENDERA KERAJAAN BATAK)
Bendera Kerajaan Batak terdiri dari dua warna, putih dan merah. Warna putih yakni pada: bendera bagian atas, dan warna merah meliputi 80% ukuran bendera, dimana pada bagian merah terletak symbol berwarna putih yakni lambang bulan di kanan dan lambang matahari di kiri, serta Piso Solam Debata di tengah.
Makna warna dan lambang bendera:
Putih, “na puti so haliapan, na puti so hapupuran” artinya putih tidak bernoda, putih kesucian, kesalehan dan kealiman.
Merah sebagai symbol Banua Tonga, perlambang dunia, tanah, air, kerajaan, masyarakat Batak.
Gambar bulan dan matahari adalah lambang Keturunan Si Raja Batak.Bulan yakni keturunan Guru Tatea Bulan (tetayang bulan/bulan purnama/bulan na gok) dan Matahari (dengan delapan garis pancaran sinar ke delapan arah mata angin), yakni lambang keturunan Raja Isumbaon. Marga-marga Batak berasal dari garis Keturunan Guru Tatea Bulan (anak pertama si Raja Batak) dan Raja isumbaon, anak kedua.
Piso Solam Debata (Pisau Suci Dewata) atau Gaja Dompak (Bergagang Kepala Gajah), dan mata pisau berbentuk saing gaja (gading gajah) sebagai symbol kewibawaan, kekuatan dan keperkasaan dalam keadilan dan kebenaran.
Hei, kontol juga kau, kau bilang sisimangaraja XII beragama islam, salah kau. yang pasti biar kau tau, agama beliau adalah Pelebegu ( agama tua asli batak ) si mulan jadi nabolon. jangan kau bawa agamamu disini kawan, kau pastikan dulu sebelumnya kalau mau nulis sejarah, jangan hanya ngebacot tanpa fakta yang jelas. dasar kau BODAT ya.
bagus juga di kontol, karena tanpa kontol tak lahir juga nya ente, kontol sekarang kependekan dari kontrol dan toleransi, itu kawan, makanya kata-kata anda itu dari makna sebenarnya sudah tidak wajar masa sekarang/ hari gini klo anda masih makan babi jadi seperti babi lah kau sampai taipun dimakan hehe….he, benar ga tu…
klo anda tidak menerima tanggapan orang carilah data yang benar supaya jangan seperti babi makan tai ok. ya lae tompul (tumpul otak itu ya… klo tidak bisa menanggapi langsung esmosi gitu looo itu sifat orang bodoh atau tumpul asah dulu otak itu dengan belajar budaya batak yaitu somba marhula-hula elek marboru manat mardongan tubu dalam arti sama-sama batak ko saling bertengkar, berarti anda bukan orang batak lagi sudah lebih parah dari yahudi atau israel yang tidak ingin damai atau sudah dilaknatullah, tapi klo anda masih hidup masih ada pintu pertobatan… ok lae dari saudaramu… yang kasihan sama ente.
sepertinya bukanlah konflik bisa jadi semua agama tidak menghendakinya termasuk agama saya . ( yang tidak menghendaki konflik ).
setahu saya ( sejauh ini ) yang membuat konflik ” minoritas minded ” dan itu terbukti secara meyakinkan. memang cocok ” agung : wehhh cocok buat pengetahuan “
saya setuju dengan comentar saudara benson…..! kadang memang kita lupa darimana kita berangkat…..(kacang lupa kulit) tapi aku yakin masing2 kita punya prinsip yg bebeda2 sebagian orang sudah sudah bosan meneruskan adat istiadat dan budaya orang batak karna terlalu berbelit2 ,zaman sekarang orang lebih suka mordrenisasi dan itu tidak patut juga kita salahkan karna zaman semakin maju,canngih dan serba instan,yg harus kita lakukan adalah memelihara,menjaga serta melestrarikan nya terutama kepada anak cucu kita supaya tidak punah oleh zaman yg semakin modren,tq
sangat menakjubkan seorang kopral banyak tahu sejarah pahlawan indonesia apalagi sejarah pahlawan sisingmangaraja wow .
apa kamu keturunan langsung sisingamangaraja?
kamu tau gak sisingamangaraja marga apa?
bisa gak kamu pertanggung jawabkan makalah kamu ini
tolong kamu ralat lg tulisan kamu ini, kamu telah mengada ada.
SISINGAMANGARAJA BELUM MATI !!! TIDAK ADA BUKTI NYATA !! DIA MENGHILANG TANPA SEBAB DAN PERGI ENTAH KEMANA !!! bukan sisingamangaraja XII yang di makamkan tp saudaranya. percaya atau tidak itulah kenyataanya.
dasar kopral sialan
Ping-balik: API SEJARAH ; Mengungkap Yang Tersembunyi dan Disembunyikan « Biar sejarah yang bicara …….