Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara
Sisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.
Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.
Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.
Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.
Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser
Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.
Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)
Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.
Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.
Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.
Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.
Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.
Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.
Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.
Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.
Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.
Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.
Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.
“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.
Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.
Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.
“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.
Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.
Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.
sumber :
- http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html
(Up-date ; 7 Mei 2009)
Tanggapan Dari syariffuddin hutabarat : Tentang Agama Sisingamangaraja XII
Suatu kehormatan bagi saya mendapat tanggapan dan respon terhadap apa yang ditulis di blog ini, khususnya berkenaan dengan sejarah pahlawan nasional Sisingamangaraja XII dan apresiasi dari Bang Syariffudin Hutabarat terhadap tulisan ini maupun terhadap pribadi yang empunya blog, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dari tiga tanggapan yang diberikan oleh Bang Syariffudin, dua tanggapan terakhir saya masukan dalam update posting ini.
Tanggapan kedua dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.
saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.
saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam
Tanggapan ketiga dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam
Kopral Cepot mencoba merespon.
@ Bang Syariffudin ; tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja, meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agama apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan.
Kopral Cepot ; Tanks atas sarannya.. tapi jujur ajach bang, aku bukan sejarawan aku hanya orang yang mau dan sedang belajar sejarah. Secara pribadi aku tidak punya kepentingan apa2 terhadap agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII atau siapapun juga. Tetapi aku sangat menghargai dan saluuut terhadap ‘daya juang’ dari para pahlawan kita. berkenaan dengan posting ini aku ambil dari ;
– http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html
Jadi skali lagi aku hanya “sang pembelajar”
@ Bang Syariffudin Hutabarat : anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII.
Kopral Cepot : Memang aku tak layak menulis sejarah bukan hanya sejarah Sisingamangaraja XII saja sejarah yang lainnya juga aku tak layak bang. skali lagi aku hanya “sang pembelajar”. Setiap posting sejarah di serba sejarah aku berupaya untuk mencantumkan referensi baik berupa buku sejarah maupun hasil pencarian yang dibantu oleh mbah google. Kalo aku boleh jujur…. aku tuh berterima kasih sama mbah google yang telah membantu aku “sang pembelajar”.
@ Bang Syariffudin Hutabarat : kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan republik Indonesia
Kopral Cepot : he he he he … emang sih aku terlalu memaksakan diri untuk menulis sejarah di “serba sejarah” ini. Tapi klo aku engak memaksakan diri, kapan aku bisa belajar… ?
@ Bang Syariffudin Hutabarat : ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
Kopral Cepot : ……….. ? pusing jawabnya
@ Bang Syariffudin Hutabarat : tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
Kopral Cepot :Terima kasih sarannya bang, tapi maaf dah terlanjur di posting di internet. kalo menurut aku pembaca internet itu pinter-pinter, bisa milih dan milah mana yang benar mana yang salah. kalo kebetulan tulisan aku salah… yang jangan diterima tapi kalo bener mudah-mudahan bermanfaat. Sesuatu yang “kontroversial” bisa mengasah otak kita untuk cerdas… dan kecerdasan awal dari pencerahan umat.
demikian tanggapan dari “sang pembelajar” KOPRAL CEPOT. dan beribu-ribu terima kasih buat Bang Syariffudin atas saran dan kritikannya, ini membuat aku semakin giat untuk belajar sejarah.
Aku tunggu balik responya… salam
kalau alasannya cuma karena ada bulan, matahari, bintang bersegi delapan, kelewang diaplikasikan islam. Bintang Yahudi seginya enam, Jepang dan Mesir percaya Dewa Matahari, bulannya penuh (pernama) jadi bukan sabit. bukan kelewang tapi parang kali…ah anda itu yang salah disatu-satuin…jadi makin salah kan.
Sisimangaraja itu agamanya Malim (Agama Bumi)…, bukan juga pele begu…bukan juga Kristen…persaudaraan dengan Aceh karena aceh juga satu rumpun Batak, yaitu Batak Gayo dan Angkola. Kalo mau dibilng Islam hebat tidak begitu caranya…cari bukti kongkrit…
———————————————————————–
Kopral Cepot : “Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon”….. Artinya memang butuh penelusuran lebih lanjut…. Terlepas dari itu semua kan yang hebat Sisingamangaraja XII -nya….
bagi bang kopral cepot,,maaf kalau saya agak mengkritik tulisan anda.
saya seorang mahasiswa UNPAD bandung yang masih duduk di semester I.Ilmu sejarah.
saya asli orang batak,dan selama saya hidup memangkul marga saya yaitu SIREGAR DONGORAN,baru kali ini saya mendengar ada yang berkata kalau “kemungkinan besar sisingamangaraja XII adalah beragama islam”.bukan maksud saya untuk mencari masalah,tapi bila abang ingin menulis tentang suatu sejarah(walaupun abang bukan sejarawan)abang harusnya memiliki bukti yang konkrit.
setahu saya Sisingamangaraja XII agamanya adalah “PARMALIM”yakni agama leluhur orang batak.selain itu,saya punya bukti dari buku Apostel NOmensen yang pernah berkunjung ke BAKKARA.disana Ompu I DR.I.LNomensen pernah berbincang-bincang dengan Sisingamangaraja XII,bahkan menyangkut agama juga sempat dibicarakan(buku M.pasaribu tentang APostel di tanah batak)dan Sisingamangaraj tetapu kukuh dengan pendiriannya yakni tetap memeluk agama leluhurnya yaitu PARMALIM.namun beliau tidak melarang agama Kristen untuk menyebar di tanah batak dan tidak melarang pemeluknya untuk memeluk agama kristen.
satu lagi nee bang kopral cepot..
di tanah batak pernah terjadi insiden yang dikenal dengan nama”TINGKI NI PODARI”ini adalah perang antara orang batak melawan pasukan Imam Bonjol.pada masa itu,bangsa batak sangat kesusahan akibat perang tersebut.melalui sedikit bukti yang saya paparkan ini,,kiranya bang cepot mau untuk “MERALAT”tulisan abang.karna kita gak mau bang ada perang ntar..
hehehehe..
oya,,mohon untuk di posting ya bang..
kLO mau lebih jelasnya,,silahkan abang bertandang ke kampus saya di DJATINANGOR.Pak Kuntowidjoyo adalah dosen saya.
saya sangat berharap pembicaraan ini tidak menimbulkan konflik karna berita yang simpang siur.
salam hormat saya..
HORASS..
Samuel P.siregar dongoran
Pak Kuntowijoyo yang mana.. krn (1) Dr. Kuntowijoyo adl dosen UGM dan (2) beliau sudah meninggal ..
Kalo Kampus Djatinangor itu mah tanah lahir saya atuh ngak harus tandang2 segala ..
“saya seorang mahasiswa UNPAD bandung yang masih duduk di semester I. Ilmu sejarah” … selamat belajar .. moga sukses
hahahaha,,,,sory LAe KOpral..maksud saya pak Kunto yang dosen di UNPAD,,bukan yang di UGM..
saya salah orang,,habisnya saya terfokus kepada pembahasan ini,,jadi salah dhee..
saya minta maaf dhe,,saya ralat..
tapi saya salut ma lae kopral..jangan berhenti menulis dan mengangkatnya ke atas,,karna melalui hal seperti ini kita di paksa untuk menggali kembali sejarah kita..ini dapat mengangkat sejarah kembali agar tak dilupakan oleh masyarakat INDONESIA yang udah mulai mengesampingkan sejarah..seperti yang dikatan BUNG KARNO”JAS MERAH”yaitu “JANGAN SEKALI KALI MELUPAKAN SEJARAH”
Sejak kapan pulak Sisingamangaraja Beragama Islam?
Seharusnya anda itu malu menyebut2 agama islam itu pada raja sisingamangaraja.
memang negara kita ini negara islam, tapi kita sendiri juga tau bagaimana islam itu sebenarnya.
Sedangkan putrinya saja yang hidup bersaksi kalau ayahnya (sisingamangaraja xii) tidak islam.
Dalam silsilah batak (Struktur Keturunan Raja Batak) Aceh merupakan tanah dari keturunan si Raja Batak yang diberikan kepada anak-anaknya untuk berketurunan banyak. Aceh (Batak Gayo), ini dapat dibuktikan dengan rumah adat asli suku gayo di aceh.
Jadi selow-selow aja bos, kami gk mau raja sisingamangaraja itu dikatakan menganut agama islam, kristen, atw lainnya, karena memang itulah budaya pada masa beliau.
Jangan terlalu berambisi!!
——————————————————————–
Kopral Cepot : Emang bang… selow n nyante ajach… karena yang musti kita teladani itu spirit perjuangannya…… dan tanks dah berbagi disini..
terjemahan bahasa belanda ke indonesia salah tuh:
“GEEN FANATIEK = BUKAN FANATIEK
“OEFENDE GEEN DRUK OP ZIJN OMGEVING=TIDAK MENEKAN/MEMAKSAKAN (ISLAM)PADA LINGKUNGANNYA
KATA “GEEN” DALAM BAHASA BELANDA ARTINYA TIDAK
mengapa tiba2 sisingamangaraja itu harus dijadikan islam?
nama/gelar mangaraja adalah gelar hindu.
bisa juga yang anda katakan benar..tapi tidak perlu membawa-bawa HINDU dalam kerajaan sisingamangaraja..pada bangsa batak zaman dulu juga sudah dikenal istilah gelar “RAJA”mulai dari “SARIBU RAJA”membuktikan gelar RAJA sudah ada sejak lama,belum tentu sebelum hindu datang ke indonesia gelar “RAJA sudah ada di Indonesia”khusnya bagi kerajaan batak..
kakek saya atau opung saya bergelar “BAGINDA”..ini setara dengan raja,,namun dengan wilayah kekuasaan yang mesih kecil atau masih raja dari satu atau beberapa kampung..bila gelar”RAJA”dipakai untuk mereka yang memiliki kekuasaan yang amat sangat luas..ini sudah ada sejak kurang lebih 300 M.yakni “SARIBU RAJA”..
jadi belum dapat dipastikan kalau gelar RAJA yang di sandang oleh RAJA SISINGAMANGARAJA I-XII berasal dari gelar RAJA hindu..
thx..
bukan mau cari masalah bozz,,cuma berbagi pengetahuan..
wallah memang sisinga mangaraja raja batak kanibal pemakan manusia itu sudah insyaf
beliau masuk islam disunat sampai dua kali (sunat pertama tidak mempan punya ilmu kebal).
kemudian diangkat menantu oleh che.mamat dari malaka.terus kawin lagi sama amoy muslimah halimah alias ha lin nio.terus ke aceh kawin dengan cut reke dan nikah lagi dengan puan salini setelah itu pada saat wafat juga mengucap dua kalimat syahadat.walau sempat menyesal karena belum bikin haji.
Jangan gitu dong bang…
jangan sembarangan nulis kalau gak ada bukti yang konkrit… boleh menebak, tapi pake bukti, jangan cuma katanya…. katanya aja..
sertain juga sumbernya ya…
wasalammuaalaikum…
Rudy siahaan, manado, sulawesi
———————-
Kopral Cepot : Maaf bang… aku dah kasih sumber tulisannya, yang lainnya aku baca di buku “Menemukan Sejarah” Karangan Mansyur Suryanegara. Kalo ada kontroversi sejarah saya kira tugas bersama untuk terus menggali sumber-sumber sejarah dan koreksi sejarah berdasar pada fakta yang lebih otentik dan dipertanggung jawabkan sejatinya akan merekontruksi ulang sejarah itu sendiri. tanks komentarnya..
astaghfirullohaladziim, habib itu keturunan nabi kog gini.
habib ali tu.namanya ja habib tp sperma yahudi.orang arab sebelum masuk islam makan kadal padang pasir,kubur hidup2 anak perempuannya,homosex, satu perempuan tidurin rame2.nyembah batu di ka’bah sambil telanjang.merampok pedagang asia.datang ke asia bikin onar aja.knapa nabi diturunkan diarab karena arab pakhng rusak adabnya
salam,
tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja,meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agapa apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan,ada bebarapa masukan untuk anda :
1.anda harus tau saat jaman itu bahasa dan tulisan yang dipergunakan bahasa melayu dan tulisan arap sebagai bahasa pengantar resmi antar kerajaan,kalau yang dipakai bahasa batak tidak akan terjadi komunikasi dua arah dan menurut teori komunikasi bahasa yang dipakai adalah bahasa yang dimengerti dua belah pihak.
2.Kalau Sisingamangaraja XII menganut agama Islam apa peninggalan situs-situs seperti tempat ibadah mesjid di Bakkara yang ada sampai sekarang sebagai bukti,tidak mungkin seorang raja menganut kepercayaan tampa ada tempat ibadahnya
3.Mengenai simbol bendera,bulan dan matahari penuh anda harus tau artinya dalam tatanan sosiologi batak,pedang Sisingamangaraja bentuknya memang demikian ( bagi yang mengerti arti simbol bendera Sisingamangaraja tolong di jelaskan di situs ini)
4. Kalau Sisingamangaraja menganut islam,sosiokultur orang batak khususnya di bakkara tidak ada miripnya dengan saudara muslim di tempat yang menganut ajaran islam
5.Secara psikologi orang yang tertekan atau di serang dan tidak bisa menghadapi tekanan secara alamiah akan meminta tolong,mungkin dengan teori tersebut Sisingamangaraja merasa tidak sanggup menghadapi gempuran persenjataan Belanda yang lebih modren saat itu dan meminta tolong ke Aceh gayo dan secara sosiokultural masih ada hubungan kekerabatan.
Kita tidak mungkin minta tolong ke orang yang kita tidak kenal dan itu mustahil,apakah kita minta tolong ke seseorang memaksakan pengubahan kepercayaan setelah kita di tolong,kecil kemungkinannya, mungkin itulah teori yang mendasari kenapa Sisingamangaraja minta tolong ke Gayo
6.Secara pakayan yang dikenakan Sisingamangaraja hanya ulos dan menunjukkan aurat,apakah seorang muslim menunjukkan aurat? kalau sisingamangaraja seorang muslim kenapa tidak mengganti penampilan seperti raja – raja muslim yang tidak menampilkan aurat.
7.Sewaktu Sisingamangaraja gugur dalam pertempuran, Belanda tidak memasang nisan sebagai tanda seorang muslim di kuburannya,apalagi Sisingamangaraja di kuburkan secara militer yang menghormati kepercayaan orang yang dikuburkan
8. Sampai sekarangpun setelah kuburannya di pindahkan ke Soposurung di Balige kuburannya pun tidak ada nisan sebagai pertanda muslim,yang ada hanya simbol-simbol budaya orang batak dan menandakan Sisingamangaraja XII sebagai raja orang Batak
Mungkin itu masukan kepada saudara kopral untuk dikaji lebih jauh sebelum menulis dan menyimpulkan Sisingamangaraja XII sebagai muslim dan bila itu belum dijalankan janganlah menulis sesuatu itu berdasarkan katanya dan itu subjektif dan menyesatkan, di dalam tulisan ilmiah hukumnya haram menyesatkan pikiran orang dan bukan mencerahkan
Saya mungkin agak keras sedikit tapi itulah sedikit yang harus dilakukan sebelum menulis dan mengambil kesimpulan
salam……
—————–
Kopral Cepot : terima kasih atas masukan2 nya…
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.
saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.
saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam
kasian kopral cepot, lagi belajar sudah ada yang coba mematahkan smangatnya.
sebaiknya dibimbing saja bang hutabarat, biar dia tidak mengulangi “sejarah yang salah” dan semakin lurus seperti yang anda inginkan.
berbagi itu rugi bukan?
buat kopral cepot, jangan takut salah, lebih baik salah daripada tidak sama sekali…
salam piss ah
http://www.jejakannas.wordpress.com
——————
.. tanks dah berkungjung n slam buat anak2 Subang
Kopral Cepot : sory nih baru dimoderasi 18 mei komentnya masuk spam, napa yah? klo ngak “iseng” liat spam kayane ngak di approve trus nanti disangka apa-apa kaya Bang Hutabarat
thaks ya atas artikelnya aku makin tau banyak makasih 1 kali lagi !!!!!!!!
artikel menarik SM XII itu muslimkah? kalo pake logika artikel diatas bisa saja Raja SM XII itu sudah islam, namun yang menarik, bukankah sudah lumrah buat seseorang yg menjadi muslim (mualaf) orang tersebut akan mengganti nama pribadinya menjadi nama yang berbau islami? apalagi jaman tersebut orang muslim banyak pake nama beenuansa ARAB
kalau benar SM XII sudah masuk islam, adakah yang sodara-sodara sekalian bisa memberitahu nama muslim dari Sisingamangaraja XII?
kenapa benderanya tidak berwarna hijau dan ada tulisan arabnya? bukankah semua kerajaan bercirikan Islam berwarna hijau lalu ada tulisan Arab?
Terimakasih
apa pun agama sisingamaraja itu aku gak peduli,
toh juga gak ngaruh buat aku,
kalo memang ada diantara kita yang merasa terganggu dengan tulisan ini,
berbincanglah dengan baik,
jangan langsung main ngecap sesat,
jangan pake emosi…
hargai usaha penulis untuk menulis,
jadilah warga negara yang baik,
katanya mo menghargai jasa pahlawan…
ya menurut aku cara penulis ini sudah enunjukkan kepeduliannya untuk menghargai,
ya…dengan cara menelusuri siapa sisingamangaraja itu,
gak salahkan ????
perlu kita ingat…
rata2 sejarah itu adalah kebohongan yang disepakati,
maaf aklo pendapatku salah…
tapi menurut aku begitulah,
intinya aku sebagai batak…
masih curiga dengan ke-batak-an ku…
gimana gak gak curiga, jangan kan sejarah sisingamangaraja,
sejarah batak sendiri aja banyak yantg ngawur dan gak masuk akal !!!
semangat terus “sang pembelajar” !!!
————-
Kopral Cepot : Hatur Tangkyu Bang Moenthe
buat bang moentho carlo…
maaf bang,,kalau abang memang orang batak,,pasti tulisan bang cepot berpengaruh..
kenapa??
ini menyangkut raja yang sanagt besar di kalangan batak..
benar juga yang abang bilang,,gagg ada salahnya membicarakan tentang itu,,tapi kita mesti respect bang..biar semuanya jelas..
mengenai kebatakan abang,,kalau memang abang ragu,,silahkan tinggalkan kebatakan abang..karna orang batak itu sangat hormat akan marga yang disandangnya..bila abang bilang kebatakan abang simpang siur,,harusnya abang ikut juga peduli dengan mencari sumber-sumber tentang kabatakan abang..sejarah itu tidak ada yang disepakati dan direkayasa..saya seorang mahasiswa sejarawan..saya sanagt tersinggung..tapi tidak apa-apalah.. saya anggap kita sama-sama belajar..doakan lah bang supaya saya bisa jadi seorang sejarawan yang hebat,,biar nanti saya bisa membantu abang mencari “KEBATAKAN”abang itu..
ingat bang,,salah satu petuah orang batak”INGOT BONAPASOGIT MU”yang artinya,,jangan lupakan darimana kau berasal,,sukses atau tidak,,ingat akan kampung halaman mu..
salam..
HORASS>.
Samuel P.Siregar Dongoran
blog ini 100% bohong
baca sejarah makannya tolol
sejak kapan sisingamangaraja orang silomo
dasar lo orang mandailing asal bacot
dah kebanyakan ngerokok shisa arab sih makannya begitu
boy,,gagg usah ngomong keq gitu..bang cemot kopral hanya menulis apa yang dia ketahui,,untuk itu,,mari kita sama-sama meluruskan nya.biar gagg simpang siur..
akupun orang batak nya bang..tapi gagg usah pardarah panas gituu..
kita orang terpelajar,,mesti ditanggapai secara baik dan benar..
tubjukkan orang batak itu adalah suku yang hebat..bukan dengan otot saja,,tapi dengan otakk..\
sebuah artikel bernas dan mencerahkan…..
saya salut dengan usaha anda……..
apapun tanggapan dari pembaca…maka kalo emmakai bahasa Bang Hutabarat…ada satu kepercayaan (terutama bagi saya pribadi)….bahwa apapun itu pasti akan mendapat respon yang baik pro maupun kontra…….bukankah tak pernah kita temui…sesuatu itu disetujui semua atau ditolak semua….semua mendukung dan semua menolak…gak ada ituh……. bagi saya setiap usaha untuk menelusuri “kebenaran” sejarah adalah sesuatu yang patut kit hargai…..jika ada “ketidakserasian” dengan data kita jangan asal menyalahkan juga….bang Hutabarat juga tidak memberikan referensi terkait usaha menolak argumen bang Kopral Cepot yang di bebrapa bagian tulisannya sudah menyebut data dan referensi…..Ingatlah tak ada “kebenaran tunggal” dalam sejarah……..yang ada adalah tingkat validitas yang lebih dari yang lain yang mana hal itu berdasarkan data dan bukti referensi yang lebih kuat……semoga….
Semangat bang Kopral……saya mendukung anda….
maksud saya gaya bahasa Bang Hutabarat itu adalah permintaan beliau untuk memperhatikan beberapa hal jika ingin menyimpulkan sesuatu yang disarankan pada penulis….jadi yah saran itu kembali lagi pada beliau tapi dengan yang saya ajukan bahwa akan selalu ada dua kutub dalam merespon sesuatu…..itu sudah sesuai dengan kaidah kan?……
Yups satujuuuuh … hatur tangkyu atas apresiasinya ..
Ingatlah tak ada “kebenaran tunggal” dalam sejarah maka dari itu pandangan terhadap sejarah musti Argumentatif dan Obyektif .. disinilah ruang dimana kita musti berpikiran terbuka … sehingga sejarah bukan berada dalam ranah yang “rigid” terutama dalam hal ‘penilaian’.
Saya pribadi tidak menyalahkan Bang Hutabarat krn saya paham atas “Mazhab” sejarah Sisingamangaraja XII yang beliau yakini.. so.. sesuai misi serbasejarah “Kucoba hargai masa lalu ..” apapun kenyataannya ..
Sekali lagi hatur tangkyu
sekalian Kopral Cepot saya bisa minta tolong
apakah Kopral Cepot punya referensi terkait Agoes Salim, mantan menteri luar negeri era Soekarno
lagi butuh nie Kopral
salam kenal dari saya Tommy Surabaya
Coba Mas Tommy baca2 dlu ini :
http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/27/the-grand-old-man-jalan-perjuangan-h-agus-salim/
Sapa tau ada yg dicari
kok pada pusing sih mikirin sejarah.
toh juga sekarang sudah merdeka krn perjuangan mreka.
menurut saya ga perlu diperdebatkan dan menimbulkan perdebatan yang tak ada habisnya.
jadi sebaiknya pikirin aja apa yg ada sekarang dan masa depan, jangan menoleh ke masa lalu yang telah berlalu.
begitu menurut pandangan bagudung tano
horas kawan…….
saya sangat jengkel dengan pernyataan anda itu menurut sejarah sisingamngaraja tidak menganut agama manapun selain agama batak asli dan setelah sisingamangaraja wafat barulah keturunannya dibaptis oleh nomensen dan menjadi seorang kristen.
jadi anda harus menghargai sejarah yang benar dong.
saya sebagai orang batak sangat kesal dengan ini.
horas……….
TUHAN BERKATI…
Keturunan Raja Si Sisingamangaraja dan keluarganya masih banyak yang hidup, salah satunya Raja Tonggo Sinambela. Yang bisa bertutur banyak tentang keluarganya. Begitu juga dengan kerabat mereka yang lainnya di Laguboti.
Membaca posting diatas, saya jadi tersenyum. Mau ngapain ini si Kopral. Masih Kopral saja sudah begini, bagaimana dia bila sudah jadi perwira. Cerita apa lagi yang mau disuguhkan
——————-
cuman mau baca API SEJARAH … baca Perang Batak hal 237 – 241 … tar saya posting di sini .. hatur tararengkyu
Kopral Cepot : Ngak mau ngapa-ngapain Bang
Bagi para komentator, untuk menyanggah suatu pendapat haruslah didukung data yg valid dari permasalahan yg hendak disanggah/digugat. Barulah akan lahir dialog yg mencerdaskan. Dan para pembaca dapat menilai pendepat mana yg benar.
bukan pendapat mana yang benar akan tetapi pendapat mana yang lebih valid dengan data dan fakta yg dibawa pada saat berargumen
Semestinya, kalau masih banyak hal yang perlu distudi mengenai keagamaan Raja Sisingamangaraja, jangan menulis dengan judul yang sudah definit seberti tulisan anda ini. Katanya ‘pembelajar’; kalau pembelajar biasanya mengajukan suatu pertanyaan, dan bukannya memberikan suatu pernyataan karena apa yang disampaikan tentunya masih membutuhkan klarifikasi dari ‘yang sudah belajar’
Kalau anda sudah menulis yang definit, itu sudah suatu tesis dan bukan sekedar cara mencari tahu suatu fakta sejarah. jadi mohon agar lebih bijak dalam menulis karena di masyarakat kita kejalasan dan diskusi tentang agama seseorang nampaknya bisa menjadi alat perpecahan dan pertikaian, bukannya alat perdamaian.
Salam Damai
Hatur tararengkyu … silahkan “Ahu” baca2 dlu di blog ini supaya mengerti ada apa di blog ini .. karena membaca satu tulisan di blog ini tidak bisa memberikan satu kesimpulan terhadap sang pemilik blog.
Berkenaan dengan Agama Sisingamangaradja XII silahken diskusi di sini http://serbasejarah.wordpress.com/2009/09/28/mempersoalkan-agama-sisingamangaraja-xii/
Salam Damai
Ping-balik: Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII « Biar sejarah yang bicara ……..
Tentang masalah ini (1) cepat atau lambat akan terbukti nanti (2) Di antara yang memperlambat ialah keinginan untuk mempertahankan pemahaman lama terhadap jati diri Sisingamangaraja dan fakta bahwa Batak dan Habatahon (hal ihwal tentang Batak) ditulis “hanya” oleh orang yang pro terhadap anggapan bahwa Sisingamangaraja itu bukan muslim. (3) Tidak ada sejarawan Muslim yang sudah tertarik dan memulai pekerjaan tentang hal penting ini, paling tidak sampai hari ini September 30, 2009.
Sepengetahuan saya sejarawan Muslim yang menggali tentang kesejarahan Sumatera Utara sudah dipelopori oleh H. Muhammad Said.
Tulisannya mengenai sejarah mencapai ratusan di surat kabar. Di antaranya diterbitkan secara bersambung. HMS juga selalu menyampaikan makalah pada kegiatan ilmiah, utamanya seminar menyangkut sejarah. Misalnya menyangkut seminar masuknya Islam ke Indonesia berlangsung di Medan dan Banda Aceh. Selain itu, seminar tentang sejarah pers tiga jaman di Jakarta, Seminar Sejarah Tuanku Tambusai di Medan dan lain-lain… (Tinggal siapa yang melanjutkan rintisan dari H. Muhammad Said)
Sejarawan Muslim yang lain adalah Prof. Mansur SN yang sekarang menerbitkan buku API SEJARAH … Hanya pak Mansur bukan orang Batak
Btw .. Pak Shohibul A Siregar Hatur tangkyu silaturahminya ..
(1) Saya juga baca buku pak HM Said itu. Juga masih ada yang lain, misalnya karya Bapak Dada Meuraxa dan Bapak HM Joesoef Sou’yb. Tetapi dalam tataran akademis, sejarawan didefinisikan secara ketat.
(2) Api Sejarah karya Prof Mansur SN saya belum baca. Mudah-mudahan dapat menyumbang maksimal untuk bangsa dan terimakasih untuk beliau (meski belum baca).
(3) Sesungguhnya orang Batak atau bukan yang menulis tentang Sisingamangaraja menurut saya tidak penting dipersoalkan. Saya kemukakan itu adalah sekedar menunjukkan bahwa pemahaman terhadap jati diri Sisingamangaraja selama ini didominasi oleh apa yang diinginkan oleh para missionaris yang pernah bekerja di sana (Tanah Batak).
(4) Tidak semua missionaris itu menyepelekan metode ilmiah. Saya temukan misalnya Harry Parkin ketika membahas tentang Malim (Agama Batak kuno, katakanlah begitu). Ia sendirian di antara “penguasa opini” yang menyebut ‘malim” itu bukan berasal dari kosa kata Batak yang mana pun. Itu Bahasa Arab untuk memaksudkan guru agama yang lazim digunakan di tengah masyarakat muslim di Sumatera.
(5) Anda bisa merasakan reaksi terhadap posting Anda hingga Anda meminjam ungkapan teman “argumen lawan argumen”. Telah saya terima hal serupa beberapa waktu berselang untuk posting saya di ‘nBASIS. Nice try, friend. Terimakasih Kopral.