Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

sisingamangaraja-xiiSisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.

Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.

Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.

Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.

Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.

Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.

Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.

Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.

Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.

Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.

Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.

Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.

“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.

Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.

Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.

“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.

Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.

Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.

sumber :
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

(Up-date ; 7 Mei 2009)
Tanggapan Dari syariffuddin hutabarat : Tentang Agama Sisingamangaraja XII

Suatu kehormatan bagi saya mendapat tanggapan dan respon terhadap apa yang ditulis di blog ini, khususnya berkenaan dengan sejarah pahlawan nasional Sisingamangaraja XII dan apresiasi dari Bang Syariffudin Hutabarat terhadap tulisan ini maupun terhadap pribadi yang empunya blog, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dari tiga tanggapan yang diberikan oleh Bang Syariffudin, dua tanggapan terakhir saya masukan dalam update posting ini.

Tanggapan kedua dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.

saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.

saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam

Tanggapan ketiga dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam

Kopral Cepot mencoba merespon.
@ Bang Syariffudin ; tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja, meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agama apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan.

Kopral Cepot ; Tanks atas sarannya.. tapi jujur ajach bang, aku bukan sejarawan aku hanya orang yang mau dan sedang belajar sejarah. Secara pribadi aku tidak punya kepentingan apa2 terhadap agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII atau siapapun juga. Tetapi aku sangat menghargai dan saluuut terhadap ‘daya juang’ dari para pahlawan kita. berkenaan dengan posting ini aku ambil dari ;
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

Jadi skali lagi aku hanya “sang pembelajar”

@ Bang Syariffudin Hutabarat : anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII.

Kopral Cepot : Memang aku tak layak menulis sejarah bukan hanya sejarah Sisingamangaraja XII saja sejarah yang lainnya juga aku tak layak bang. skali lagi aku hanya “sang pembelajar”. Setiap posting sejarah di serba sejarah aku berupaya untuk mencantumkan referensi baik berupa buku sejarah maupun hasil pencarian yang dibantu oleh mbah google. Kalo aku boleh jujur…. aku tuh berterima kasih sama mbah google yang telah membantu aku “sang pembelajar”.

@ Bang Syariffudin Hutabarat : kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan republik Indonesia

Kopral Cepot : he he he he … emang sih aku terlalu memaksakan diri untuk menulis sejarah di “serba sejarah” ini. Tapi klo aku engak memaksakan diri, kapan aku bisa belajar… ? :D

@ Bang Syariffudin Hutabarat : ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.

Kopral Cepot : ……….. ? pusing jawabnya

@ Bang Syariffudin Hutabarat : tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih

Kopral Cepot :Terima kasih sarannya bang, tapi maaf dah terlanjur di posting di internet. kalo menurut aku pembaca internet itu pinter-pinter, bisa milih dan milah mana yang benar mana yang salah. kalo kebetulan tulisan aku salah… yang jangan diterima tapi kalo bener mudah-mudahan bermanfaat. Sesuatu yang “kontroversial” bisa mengasah otak kita untuk cerdas… dan kecerdasan awal dari pencerahan umat.

demikian tanggapan dari “sang pembelajar” KOPRAL CEPOT. dan beribu-ribu terima kasih buat Bang Syariffudin atas saran dan kritikannya, ini membuat aku semakin giat untuk belajar sejarah.

Aku tunggu balik responya… salam


 

About these ads

577 comments on “Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

  1. Faiz
    April 9, 2014

    Kok gk lengkap
    y gk seru baca kalau gk banyak

  2. veronika hasibuan
    Mei 1, 2014

    Perlu d ketahui..bahwa d aksara org batak itu tidak ada angka..jd panglimany yg dr aceh menuliskan huruf arab sbgai tgl untuk koresponden k pihak belanda dan jerman.agama yg d anut msh agama asli batak kepada Ompu mulajadi nabolon.ini keterangan dr cicitny lsng..stempel dan bendera ini pengaruh sisingamangaraja 11 yg belajar perang d aceh..isu pindah agama ini d buat belanda..kalo mmg sisingamangaraja islam knp ia membentuk ugamo parmalim?klo dia islam pasti panglima2ny dan prajurit jg pindah agama..belajar sama kita belajar..

  3. rikkot putra perawang
    Mei 9, 2014

    Sisingamangaraja XII bukan seorang agama Kristen ataupun Buddha dll. tetapi Agama Sisingamangaraja XII ialah Agama Parmalim/Agama asli Bangso Batak.

    Jadi jangan pernah berpikir kalo Raja Sisingamangaraja XII seorang Agama Muslim, Melainkan menganut Agama Parmalim/Agama Batak.

  4. bataks
    Juni 6, 2014

    Raja Sisingamangaraja XII Belum memeluk agama pada saat itu(Hindu,Budha,Kristen,Islam) tapi masih menganut kepercayaan suku BATAK jaman dulu ,yaitu PARMALIM (Jauh sebelum timbul adanya AGAMA).
    Dan bendera tersebut mengandung ARTI tersendiri bagi kami SUKU BATAK dan tidak ada kaitan dengan ARAB,dll.
    Malah justru sebaliknya SUKU BATAK telah ada didunia sebelum suku ARAB.

  5. satrio utama
    Juni 27, 2014

    BEGINI LAH KALAU MISKIN ILMU, SLLU MERUBAH SEJARAH, MERUBAH MASA LLU, DASAR GOBLOK Y BUAT TULISAN INI..

  6. Harsbell
    Agustus 3, 2014

    Kopral cepot..!!! : jangan terlalu nampak kali kau orang bodoh,,makan itu islam mu…!!!

  7. widyanahar
    Agustus 4, 2014

    kopral cepot, tetaplah menulis, menulis ulang, dengan sumber dan ilmu, seberapapun kaumiliki. asalkan tetap dalam ketinggian budi, kerendahan hati, dan semangat mencari inti sari. buat yang masih suka memaki, cintailah dirimu dan apa saja yg membuatmu nyaman.

  8. al ayubi lubis
    Agustus 6, 2014

    ko jd pada ribut ya…. agama apapun sisingamangaraja itu tdk penting,,,,yg penting kita bisa mengetahui bahwa di daerah medan ada tokoh segagah sisingamangarja,

  9. radja
    Agustus 25, 2014

    oppungku sisingamangaraja kuat…. sakti
    dia bisa saja dtng kpanpun… atau hari ni juga.. ntuk mcbut nyawa yg mylah gunkn atau mgada sejarah prjuangannya..
    trmasuk pnulis diatas.
    byagkan sluruh indonesia adlh jlan2…

    • orang batak
      Desember 19, 2014

      ga segitunya juga kali bang…

  10. vera
    September 8, 2014

    makanya, klo mau buat sesuatu jangan sok tau. saya sebagai orang Batak tersinggung sangat banyak membaca tulisan saudara. kalau mau mbuat tulisan, cari dulu fakta,, jangan jadi nyuruh pembaca internet pande2 memilih apa yang harus dibaca,,,

  11. Bhatara Simatupang
    September 18, 2014

    Mmng kalo kita brbicara sejarah Bangsa Batak baik tokoh maupun adat selalu trbentur dgn Agama. Dr literatur sejarah yg saya baca karangan Lance Castle – Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera ; TAPANULI, d situ d singgung ttng ajaran dan agama yg d jalankan SM RAJA XII agama “PARMALIM” tp coba kita telaah dari segi dan turunan Bahasa dari kata “Parmalim”, “Par”=Pengikut (menyatakan orangnya) sedang “Malim”= orng yg taat beragama yg lbh condong d gunakan pada agama Islam ato d Arab. Karna pada jaman itu banyak wilayah d Nusantara yg sdh masuk ajaran Islam dan beraflisiasi dgn Barus yg jalurnya sangat dekat dgn Toba.Dalam “Hikayat Aceh” pun ini sedikit d jelaskan dan d Hikayat Aceh juga d jelaskan sebelum Dinasti SM Raja(Kerajaan Batak) itu Kerajaan Aru ato Haru sebagai kerajaan maritim yang kuat dan besar d Nusantara, malah salah satu dari Isi sumpah palapa ingin menaklukkan Haru. Malah cerita dari ahli sejarah, bahwa lambang bendera SM Raja yg menggambarkan Bulan dan Matahari adalah Bendera Kerajaan Haru. Sbg prtanyaan untuk agan2 skalian dan sebelum adanya Raja Batak kita ini dari mana asalnya???? Nahhh,, darii sini ketemu titik temu ajaran agama apa yg paling dominan d anut SM Raja.. Mmng agak sedikit ribet dan ruwet, tp dari situ lah kita bisa menelusuri sejarah.. Skali lg saya tekan kan “setiap kita berbica sejarah bangsa batak pasti selalu terbentur agama” karna itu agak sulit kita menelusuri sejarah Bangsa Batak. Padahal dari sgala literatur yg saya baca dan situs2 peninggalan yang ada skrng bahwa Bangsa Batak itu salah satu bangsa yg besar d Nusantara yg mempunyai Aksara Sendiri dan lebih dekat hubungan Aksara dan budayanya pada ke-Maharajaan Sriwijaya. Ini hanya sebagai referensi aja agar kita semua dapat mau menelusuri sejarah dan sebagai pembelajaran kita semua. Dsini saya minta maaf jika ada tulisan saya yg brtentangan dgn sejarah tp ini semua saya kutip dari buku2 sejarah trdahulu dan para peneliti sejarah.

    • orang batak
      Desember 19, 2014

      turunan Bahasa dari kata “Parmalim”, “Par”=Pengikut (menyatakan orangnya) sedang “Malim”= orng yg taat beragama

      ga usah juga dicondong2kan ke agama islam bang…

      emang mau islam dibilang parmalim?
      ga juga kan?

  12. jefry
    September 22, 2014

    lho kok agama yang diklaim?? jangan langsung tersinggunglah… ini sejarah!
    Logika sajalah berpikir, Sumatera ini pernah berjaya Kerjaan Sriwijaya, Kerajaan Moloyu (melayu Jambi). Kemudian sumatera mengalami ekspansi Singosari dipenghujung abad-12 (ekspedisi pamalayu), dan Sumpah Palapa Gadjah Mada. Dari pelajaran yang kita terima, besar pengaruhnya Hindu-Budha. Masuknya Islam di negeri ini ditandai dengan Kerajaan Samudra Passai yang hampir bersamaan dengan kerajaan yg saya katakan tadi. Abad 13. di abad 18, Setahu saya semua Kerajaan Sumatera umumnya sudah menjadi kesultanan (pengaruh Islam). alm pap saya cerita, Kakek buyut saya, penganut Islam, Syariat Pasaribu sudah bisa menulis “semacam agendanya” yg ditulis tahun 1826 dalam aksara Arab.

    Dari nenek saya, asli bangka keturunan bangka, beliau asalnya darimana? ya.. Cina titik…! jangan-jangan nenek moyang dari nenek saya belum punya beragama kali ya..? Artinya mengapa kita harus tersinggung? dan untuk apa dipermasalahkan?? ini sejarah…

    Wajarlah kalo tulisan heroik mengenai Sisingamangaraja XII sedikit sekali saya temui, mungkin ya ini.. karena banyak yang tersinggung!

  13. alexa
    Oktober 14, 2014

    Sejarah VS Ego memang sulit bersatu hehehe,….. kembalikan saja pada akar permasalahan kenapa Belanda menyerang tanah Batak

    1. Info dari Zendeling J.H Meerwadlt melalui buletin Jerman Rheinische Missionsgessellschaft bahwa SSM XII telah menjadi MUSLIM.

    2. Info dari Letnan L. van Vuuren dan Berenshot yang juga memberitakan bahwa SSM XII telah menjadi MUSLIM.

    3. Permintaan Nommensen kepada pemerintah Hindia Belanda untuk menganeksasi tanah Batak yang merdeka.

    4. Pasca perang orang Islam dilarang memasuki wilayah tanah batak

    Yang dicari kebenarannya 4 data di atas itu saja dulu biar ketahuan siapa yang benar atau tidak benar bukannya saling menuduh bla bla bla yang bilang bodatlah yang bilang kunyulah bla bla bla…………. tapi fakta sejarah berkata lain.

    Silahkan dilanjut aku tak ngopi dulu aja

    • ahmad rafli
      Oktober 22, 2014

      BOHONG TU LETNAN L.VAN VUUREN DAN BERENSHOT SSM TIDAK PERNAH MASUK ISLAM DI ORANG BATAK ORANG KRISTEN

  14. alexa
    Oktober 14, 2014

    Lepas dari masalah agama bagus buat bacaan: http://nommensen.wordpress.com/pendahuluan/

  15. PRAPTO RAHARDJO
    November 11, 2014

    Jangan tanyakan mengapa seseorang membencimu sebelum kamu tanyakan dirimu sendiri mengapa kamu peduli akan hal itu.

  16. randy sinaga
    November 12, 2014

    Dari tulisan artikel mu itu pun kau gak tau gimana cara nulis yang sebenarnya.
    Jalan2 dulu kau ketanah batak biar ngerti kau apa yang kau tulis itu kalapa

  17. bona-r
    November 13, 2014

    Biasalah di dunia Islam; men-caplok orang-orang hebat, mereka dianggap muslim!
    Dalam Quran, semua nabi Yahudi juga di’claim selaku umat islam (berarti penyembah Allah), padahal jika mereka masih hidup, lalu ditanyai siapa yang kalian sembah(?), pasti semua menjawab “Yahweh” bukan Allah.
    Ka’bah juga di-claim selaku Bait Suci Arab, padahal aslinya dibangun oleh Maharaja India, 300 tahun sebelum Muhammad.
    Meng-coup adalah soal biasa bagi golongan yang ingin hebat tanpa usaha berat.
    Salam sejahtera.

    • Aji Barang
      November 16, 2014

      ini orang bodoh atau pintar? kalau tak faham alquran maka jangan bicara tentang alquran. baca alquran saja kau tak bias apalagi bicara masalah tafsir dan sejarahnya hah ?

  18. bona-r
    November 13, 2014

    SS-XII pejuang Islam?
    Ngerti nggak arti pejuang Islam? JIHAD!
    Berjuang untuk menegakkan agama islam!
    Lha semua panglimanya SS-XII gak ada yanng Islam!
    Bendera SS-XII pake tulian Arab nggak ukuran! Itu mereka manfaatkan sebagai isim (kalo ngerti isim). Sekarang orang Kristen juga banyak yang pake isim, entah tulsan arab dibakar, lalu airya diminum.
    Mau tahu riwayat yang benar?
    Pokki Naingolngolan (PNN), putra SS-IX ‘tersingkir’ oleh pesaingnya, sehingga merantau sampai ke Bonjol, dendam, lalu masuk Islam. Dendam PNN dia lampiaskan kepada semua orang Batak, sehingga dia menyebarkan agama Islam sampai ke TapSel. Jadilah orang TapSel islam semua, karena (seperti ISIS) mereka dipilih menganut islam atau dibasmi (genocyde adalah metode standard para Khalifah!)
    PNN berhasil membunuh SS-XI, pamannya, demi membalas dendam.
    SS-XII tentu jeri melihat kesaktian PNN, sehingga dia cari pertahanan diri dari aliran yang sama warna dengan PNN, kali ini dia ke Aceh.
    Diberilah ‘isim’ berbentuk bendera itu. (Mirip denganKonstantin, mecatut symbol Salib (A.D.312) supaya menang perang elawan Maxentus!)
    Geituu sejarahnya!
    Jadi SS-XII BUKAN PEJUANG ISLAM, tetapi Pejuang untuk menangkal Penjajahan Belanda di Tanah Batak. Makanya orang Bataklah yang paling tidak kentara sifat bekas terjajahnya.
    Puas? Puas?

    • Aji Barang
      November 16, 2014

      puaslah kau disana ? merasa pintar sendiri

  19. waldy
    November 25, 2014

    Ehe bodat….sama lah kau kayak penulis blog ini. .ga ngerti apa2 yg ada sok tahu tanpa ada bukti…yg ada membalikkan fakta disuruh milah milih mana yg baik dan mana yang buruk.aku ingin penulisnya ini bertanggungjawab sama tulisannya.saya asli orang batak bung….dan tinggal di kota balige dimana makam ss.XII bertempat persis di kota saya.
    Saya ingin sekali mempertemukan anda dengan cicit langsung dari ss.XII.
    Biar hisa kau pertanggung jawabkan tulisan mu ini heang.bujanglah kau miris sekali rasanya baca blog ini.apa apa selalu dikaitkan dengan islam.fuckkkkkk

  20. Bhatara Simatupang
    November 25, 2014

    Horas dongan sa bangso hu,, horas sahabat maya ku. “Hi(o)tang hita saw’ana(nya)kta-{s(c)rivijawa}”.
    Semua kita saling mencari kesalahan n mlibatkan pertentangan agama. Pada dasarnya semua agama itu baik, tetap br-Tuhan Kepada Yang Esa. Disini kita brtukar info tntang sejarah, jk sejarah itu mlenceng mari kita meluruskannya, krna sejarah itu d tasbihkan dengan cerita2 leluhur, data dan fakta.
    Kalo kita bicara SSM XII, seharusnya kita juga hrs mau tau sebelum n sesudah masa SSM XII secara fakta. Yg prlu kita ingat Belanda dtng k nusantara hanya satu tujuan, ingin memonopoli hasil bumi nusantara untuk kemaharajaan belanda dgn cara “de vide et impera”.
    Berbanggalah kita sbg w(b)angsa Batak sbgi salah satu bangsa yg besar d nusantara. Mari kita mncari sejarah leluhur2 kita, dgn mnghilangkan perbedaan agama, kediktatoran pribadi, ke-arogansian kita trhadap sejarah secara data dan fakta bukan analogi. Apapun dari hasil sejarah itu kita hrs dapat menerima karna itu mncerminkan bangsa yg memiliki sejarah peradaban yg tinggi. Kita trtinggal jauh dgn bangsa timur dan barat dlm mencari sejarah krn kita trbentur dgn polemik kereligian yg selalu d tonjolkan. Mari kita menerima hasil dari penggalian sejarah dan belajar untuk memperbaiki kedepannyaa.
    Horas,,,horas,,horass…..
    NB: jika ada info2 tentang sejarah kerajaan d sumatera (sriwijaya) khususnya sumatera utara (batak), mohon infonya d bagi2. Kita bisa bertukar data dan fakta. E-mail; matupangmicra@gmail.com.

  21. waldy
    November 25, 2014

    Sebenarna nga cukup be itindas halakon hita.na ikkon mangalo nama hita..sai sabar do hita torus manghadapi halakon.seakan2 naeng mangislamisasi do halakon mambaen songoni.
    Butima….ale naeng do jumpang nian tu halak sunda heang on (kopral cepot)asa unang palantam hu mussungna.asa ittor niboan langsung tu akka pinompar ni ssm.XII.
    Horassss……

    • Bhatara Simatupang
      November 25, 2014

      Horass lae,,
      Sayapun Batak Toba 100%,tp saya tdk prnah trsinggung dgn apa yg d posting Mr.cepot. Buknya saya membenarkan apa yg d posting, tp itu saya anggap sebgai bahan rujukan untk meluruskan sejarah. Mari kita sama2 saling menggali sejarah leluhur kita, jika ada mlenceng dari sejarah harus kita yg meluruskannya secara fakta dan data dgn mengesampingkan prbedaan agama dan ego. Banyak orang yg mendeskreditkan arti kata “Batak” sbgi arti yg negatif, tp saya tdk prnah trsinggung malah saya menilai mereka itu orang yg sedikit ilmu n tdk tau arti kata “Batak” yg sbenarnya. Jgn heran suatu waktu nanti ada pmberitaan/dtemukan aksara Batak pada sebuah prasasti dari dataran tanah jawa, tp itu tdk bisa kita bilang Batak itu dari tanah jawa. Tp kalo d prasati sriwijaya sdh ada beberapa aksara batak dan bhasa/adat sriwijaya masi ada pada bahasa Batak. Bangsa Batak itu dulunya satu bukan trpecah sperti skarang akibat ulah Belanda. Gelar “Batak” itu bkn pnyebutan yg kita berikan pada diri kita, tp penyebutan orang luar kepada kita. Dulu kita mnyebut diri kita itu “halak hita” (masi satu dan tidak trpecah dlm sub2 batak)……..
      Trlalu panjang utk d jelaskan n lagian ini bkn tmpatnya. Ilmu saya masih trlalu dangkal trhadap sejarah sumatera(sriwijaya) n sumatera utara(batak), saya harap teman2 dpt brbagi ilmu dgn saya dgn mengesampingkan ras, suku, agama dan ego untuk mncari kbenaran sejarah scara data dan fakta. Horas..
      “”Bangsa Batak, bangsa yg paling hitam namanya dlm buku2 diantara bangsa2 d indonesia, karena rakusnya penulis2 asing yang mengaku dirinya specialist dlm kebangsaan orang””.
      -Prada Harahap, 1926

      • alexa
        Desember 4, 2014

        Sebenarnya ada dualisme yang menarik dan sangat berseberangan.

        1. Menurut orang Batak di Forum ini diakui bangsa batak sudah mempunyai akar budaya yang kuat dan etika yang sangat tinggi sebelum kedatangan Belanda (dari para comentator)

        2. Menurut berita Kolonial dan Zendeling sebelum kedatangan Belanda,.. bangsa Batak adalah bangsa babar, liar dan Kanibal.

        Dibutuhkan kejujuran, kerendahan hati untuk mencari akar sejarah yang sebenarnya karena dualisme di atas seperti minyak dan air yang tidak mungkin menyatu.

        • Bhatara Simatupang
          Desember 5, 2014

          Horas,,,,
          Jika benar mnurut saudara begitu seperti apa yg ada di media2 online dan mnurut sbgaian orang begitu, saya tidak bisa mnyangkal pndapat saudara. Tp ada baiknya dsini saya luruskan sedikit.
          1. Mmng benar suku bangsa Batak itu mmpunyai akar budaya yg kuat serta silsilah keturunan yg ga bisa trbantahkan secara data. Sbagaimana dalam adat istiadat Batak ada di kenal “Tarombo” dimana d dlm Tarombo itu seorang Batak dari marga(klan) trtentu bisa mellihat garis silsilah keturunan nya mulai dari 1-20 keturunan sampai sekarang. Sperti saya bisa mnjelaskan keturunan silsilah nenek moyang saya mulai dari raja Batak- Simatupang1 sampai kepada nomor 16 atau kepada generasi saya sekarang. Ini sudah suatu bukti yang kuat. Dimana juga sukubangsa Batak salah satu suku2 bangsa yang ada d nusantara yg mempunyai Aksara Bahasa sendiri bukan aksara melayu atau istilahnya arab gundul. Bahasa2 sriwijaya yg di gunakan masi bisa jg d jumpai dalam bahasa2 Batak. Dan masih banyak bukti yg dpt d teliti kalo akar budaya Batak itu kuat, silsilah yg jelas, aksara yg jelas, budaya yg jelas serta mempunya hirarki kepemerintahan adat pada masa itu.

          2. Seperti yg anda baca pada laporan2 gubernur keresidenan yg ada d sumatera ato laporan dari pada misionaris ato zending2 yg prnanh brkunjung ke tanah Batak dan saya pun tidak bisa membantahnya. Tp sblmnya saya ingin menyakan kepada saudara, kata “Bar-bar dan kanibalisme” dlm sejarah apakah di konotasikan dalam arti negatip??. Hampir semua sejarah suku bangsa d dunia ini mempunya sifat “bar-bar dan kanibalisme” seperti yang kita tau. Sbagaimana kita tau dgn kebudayan yg tidak beradab pada suku mesir kuno,suku india kuno, suku maya aztek, suku asli skotland, suku2 pengembara mongol dll, malah d abad pertengahan pun Jepang masih mempraktekkan sistem k bar-bar an para samurai mereka, tp itu bukan sbgai kemunduran pada budaya mereka sbagaiman kita lihat jepang skrng. Malah dulu kerajaan Pagaruyung yg d pimpin Adityawarman sebagai rajanya menganut sub ajaran hindu eksentrik yg paling ekstrim, ajaran nya yg bnyak brkembang d india, ini masi dpt kita lihat degan patung prasasti Adityawarman yg ada d Museum Gajah Jakarta. Tp itu semua d praktekkan sebelum mereka mengenal “agama samawi (agama wahyu). Begitu jg dgn bangsa Batak.
          Suku bangsa Batak itu bersikap bar-bar terhadap orang asing yg ingin menghancurkan kebudayan leluhur mereka dan ingin mempertahankan diri trhadap gangguan dari luar jd mereka memperaktekkan sikap bar-bar nya agar orang putih(sbtan bagi orng luar) tdk merusak agama leluhur serta k budayan nenek moyang mereka. Sbagaimana banyak pnjelajah dunia pada awal abad 7-12 yg tlha brkunjung k swarnadipa ato pedalamn Barus yg kita kenal skrng dgn tanah batak sblm belanda datang sperti I tsing, junghum, Ibn Batutah, Ibn kardobeh, Tom pires, dan bnyak lg. Malah sebelum masehi pun banyak penjelaajah dari mesir brkunjung k sumatera untuk mndapatkan “Benzoin (kapur barus) untuk pngawetan mumy para firaun. Jd saya sbgai bangsa batak tdk prnah malu dgn konotasi bar-bar pada kehidupan di jaman leluhur bangsa batak dulu.

          Perlu saya tekankan, bahwa Belanda itu masuk ke nusantara dgn cara menginvansi perekonomian para pribumi dan menguras habis SDA dgn cara “de vide et impera”. Sbagai bahan perbandingan saudara coba anda baca “Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera”- Lance Castles. Dsini banyak d tulis memoar2 para demang dan gubernur keresidenan d sumatera yg tidak d publikasikan dan banyak sebab kenapa dari mulai masuk-keluarnya belanda dari sumatera tidak bisa mendirikan Perkebunan (yg kita kenal skrng PTPN) baik sawit, karet, teh, tebu, kopi dll di salah satu daerah keresidenan d sumatera tepatnya d Tapanuli.
          Masih terlalu panjang untuk menjelaskan dgn ruang kecil ini dan saya harap itu bukan sebagai alat untuk mencari pembenaran dari suatu sejarah yg tidak mempunyai bukti secara data dan fakta serta analisa yg kritis.
          Sejarah itu bukan untuk mencari konotasi negatip yg mendiskreditkan, tp sejarah itu mencari siapa kita sebenarnya.
          Seperti yg saya utarakan d atas, tidak ada penjelasan yg saling bertentangan secara fakta dan data, semua d kaji secara ilmiah, dan tidak ada dualisme penjelasan sbagaiman anda bilang seperti air dan minyak, d Indomie saja air dan minyak brsatu mnjadi hidangan yg nikmat (hahahahah intermezo), trgantung wadah dari pnyatuan dua elemant brbeda itu, begitu juga dgn sejarah.
          Horass,,,svasti…

        • alexa
          Desember 5, 2014

          Kalo saya cenderung melihatnya secara politis dimana zending dan Kolonial Belanda sama sama diuntungkan, sebelum Nomensen diusir dari Bakkara bangsa Batak adalah bangsa yang merdeka.

          Baik zending maupun Kolonial mempunyai pendapat yang sama yaitu bangsa Batak akan lebih mudah dikuasai apabila mereka masuk Kristen (lihat laporan Zending yang ditulis kozok)

          Disisi lain Zending tidak akan bisa berbuat banyak di tanah batak seandainya tidak ada back up secara Legas dari Kolonial Belanda untuk itu kenapa Nommensen meminta Kolonial Belanda untuk menganeksasi tanah Batak yang merdeka.

          Dilain pihak Belanda sendiri diuntungkan karena aneksasi dan misi Zending apabila berhasil dipastikan dapat menghambat pengaruh Aceh di wilayah wilayah yang masih independen saat itu seperti tanah Batak.

          Makanya saat SSM XII terdesak meninggalkan Bakkara secara Legas Residen Belanda mengeluarkan beslit rahasia yang melarang orang Islam masuk wilayah tanah batak bahkan bagi orang Batak saat itu yang diketahui membantu atau bahkan masuk Islam dikenakan hukuman kerja paksa atau dibuang,….. sebagai orang Batak pasti saudara bisa bayangkan bagaimana hukum pembuangan itu (lihat tulisan Gerep Nahinan yg menurut saya cukup menarik).

          Dan catatan saya tidak ada yang salah dengan hal itu karena kehidupan selalu dinamis dan setiap bangsa punya sejarahnya sendiri, perihal adanya ritual yang agak eksentrik sebelum keatangan belanda mungkin ini masih erat kaitannya dengan aliran Bhairawa ataupun Tantrayana yang berkembang di Sriwijaya

  22. halashon ambarita
    Desember 3, 2014

    Bapam ma islam..
    Dohot akka babi na di huta nami on pe tokkin nai islam nama dohononmu..

  23. Krisman Padang
    Desember 4, 2014

    a bujang inam ma ba… sibagur tano ma di ho.. islam islam nimmu.. holan masalah babi do annon dang sahat ho tu surgo.. ro ho tu bakkara pajumpang tu oppung si ANGGA bakara, holan ibana do ahli sejarah batak.. te ma di ho kopral…

  24. Bhatara Simatupang
    Desember 6, 2014

    @alexa : betul sperti yg telah saudara kmukakan dan saya mmberi pujian atas luasnya pengetahuan saudara ttng masuknya kolonial belanda n misi para misonaris zending untuk meng aneksasi tanah Batak yg mrdeka.

    Menurt hemat saya dan kalo tidak salah,, Nomensen prtama kali d tugaskan untuk menjalakn misinya di pdalaman Kalimantan. Seblum masuknya Nomensen k tanah Batak sudah ada pendahulunya 2 orang misionaris masuk k tanah Batak dgn membawa misi yg sama. Akan ttpi msyarakatnya tidak menerima dgn trbuka 2 misionaris itu, karna lebih memaksakan mengajarkan ajaran para misionaris itu ketimbang paham akan budaya masyarakat itu. Selang beberapa tahun stelah masuknya 2 misionaris itu baru masuk Nomensen k tanah Batak dgn cara yg lebih santun dr pd 2 misionaris itu. Di tapanuli utara tepat nya kampung saitnihuta (desa orang” sakit) pertama kali Nomensen mngajarkan ajaran nya dengan dalih pengobatan, lambat laun masyarakat bisa menerima dan meninggalkan ajaran agama serta adat budaya para leluhur batak.

    Tp disini kita bukan membahas fokus masalah agama orang batak, mau itu Pellbegu, Parmalim, Parhudamdam, Parsitengka, Parsiakbagi, Kristen atopun Islam. Dsini kita membahas siapa SM Raja XII, jika mmng sejarah SM Raja menlenceng mari kita meluruskannya secara data dan fakta saling bertukar informasi agar sejarah kebudayaan leluhur kita terjaga.
    Trkadang miris saya membaca coment dari sahabat2 yg lain, trlalu memaksakan ego dan ke arogansian. Tp trkadang saya akui, kalo kita menulusuri sejarah leluhaur Batak, baik itu dari Raja Batak, sebelum SM Raja XII atopun sesdhnya pasti selalu trbentur masalah agama yg tidak adanya toleransi dan selalu memaksakan ego tidak secara data ato fakta.

    Tp dsini saya coba mmbhs sedikit mslh SM Raja XII, saya harap saudara” dpt mmberi masukan, tambahan ato kritik yg brarti secara fakta.
    “Mmng benar apa yg d posting kop.cepot, secara data dan literatur buku, baik dari memoar para kolonial belanda, dari surat misionaris dan zending tdk bisa d sangkal. Mnurut hemat saya, dari awal sampai akhir hayat SMR XII ttp brpengang teguh pada ajaran adat istiadat leluhur nya. Seperti lambang bendera yg d gunakan, pada masa kerajaan haru/aru pun ada indikasi sama lambang bendera yg d gunakan dan di Batak pun lambang d bendera yg bergambar bulan dan matahari bisa d indikasikan sbg prwujutan pada guru tateabulan dan guru isombaon. Mmng pada masa SM Raja XII, sdh banyak daerah d sekitar luar toba yg sudah braflisiasi dgn muslim, sperti aceh, barus dan pantai timur sumatera. Jd mnurut hemat saya, dsinilah SMR mmanfaatkan kebesaran leluhur serta nama nya untuk menjalin hubungan,mrekrut bala bantuan dan kerja sama dgn ksultanan aceh, barus dan pantai timur sumatera. Dsini juga SMR mngenal ajaran2 Islam dan sperti kita tau seringnya SMR melakukan kunjungan k Barus. Tp jika skembalinya SMR dari perjalanannya pulang k tanah kelahiran nya dia tetap menjalankan agama serta adat istiadat leluhurnya.”
    Ini sekilas pemahaman sejarah saya ttng SM Raja XII dan masi trlalu panjang untuk mnjelaskan d ruang yg kecil ini. Jika bnyk k keliruan ato k kurangan dlm pemahamn saya, mohon d bantu mluruskan dgn data” dan fakta yg konkrit.
    Horasss,,,

    • alexa
      Desember 8, 2014

      Ini kronologi perang Batak berdasar catatan Nommensen

      Akhir 1877 Desas-desus Aceh akan bersekutu dengan Toba
      17Des 77 Penginjil di Bahal Batu menerima surat dari Silindung bahwa para ulubalang sudah tiba di Bangkara
      Jan. 78 Utusan Singamangaraja datang mengancam misionaris dan orang Kristen
      Akhir Janʻ78 Para Penginjil minta agar Belanda mengirim pasukannya
      1 Feb 78 Pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevel menuju Pearaja
      6 Feb 78 Pasukan dengan 80 tentara dan seorang Kontrolir tiba di Pearaja
      15Feb 78 Pasukan tiba di Bahal Batu bersama dengan penginjil dari Silindung
      16Feb 78 Pengumuman perang dari pihak SSM
      17Feb 78 Metzler disuruh membawa istrinya ke Silindung. Ibu Metzler diantar suaminya dan Johannsen ke Pansur na Pitu
      19Feb 78 Metzler kembali ke Bahal Batu, tetapi tanggal 20 Feb 1878 kembali lagi ke Silindung
      Feb. 1878 Pasukan Singamangaraja menyerang Bahal Batu
      1 Marʻ78 Pasukan tambahan berangkat dari Sibolga
      14Mar 78 Residen Boyle datang bersama 250 tentara dan Kolonel Engels dari Sibolga
      15Mar 78 Silindung dinyatakan menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda
      16Mar 78 Pasukan berangkat ke Bahal Batu. Bahal Batu pun dinyatakan menjadi wilayah Hindia-Belanda
      17Mar 78 Butar, Lobu Siregar dan Naga Saribu diserang (17–20 Maret)
      Maret Pasukan tambahan 300 tentara dan 100 narapidana diberangkatkan
      30Apr 78 Ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda. Lintong ni Huta ditaklukkan
      1 Mei 78 Bangkara diserang
      2 Mei 78 Kampung-kampung di sekitar Bangkara diserang
      3 Mei 78 Raja-raja di Bangkara dipaksa melakukan sumpah setia mengakui kedaulatan Belanda
      4 Mei 78 Pasukan maju ke Paranginan
      5 Mei 78 Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Paranginan
      8 Mei 78 Huta Ginjang, Meat dan Gugur ditaklukkan. Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Gurgur
      11Mei’78 Pasukan menaklukkan Lintong ni Huta Pohan, Panghodia dan Tara Bunga.
      12 Mei 1878 Pasukan kembali ke Bahal Batu melalui Onan Geang-Geang, Pintu Bosi, Parik Sabungan dan Lobu Siregar
      akhir Mei Nommensen membantu Residen di Bahal Batu
      Benteng untuk 80 tentara dibangun di Sipoholon
      27Des’78 Nommensen dan Simoneit menerima penghargaan dari pemerintah Belanda

      Hal yang paling menarik adalah “Kenapa Nommensen dipersona non grata” oleh SMR

      Lihat juga catatan Nommensen: ”Betapa orang Batak Kristen dapat diandalkan tampak jelas sekarang, sebagai orang Islam orang Batak takkan mungkin menjadi rakyat yang patuh pada Belanda.”

    • alexa
      Desember 8, 2014

      Catatan Nommensen lainnya: “Penaklukan Toba amat penting untuk pemerintah Belanda, tetapi lebih penting lagi untuk zending kita. Sekiranya Singamangaraja beserta dengan sekutunya, baik Islam, Aceh, maupun yang lain, berhasil mengusir para penginjil dan menghapus agama Kristen di Silindung maka akibatnya bukan revitalisasi kekafiran melainkan masuknya agama Islam, dan kemungkinan agama Kristen berkembang di sana menjadi hampir sirna.

      Pada masa kekacauan menjelang perang Toba banyak orang kafir di Silindung dan di kawasan arah utara dari Silindung mempertimbangkan untuk masuk Islam. [204] Waktu itulah para penginjil menyadari betapa sedikit mereka peduli pada kekafirannya dan betapa mudah mereka mempertimbangkan langkah yang sedemikian menyesatkan.

      Puji Allah hal itu tidak terjadi. Kemenangan Belanda dalam ekspedisi yang amat cepat dan perluasan kekuasaan mereka hingga ke Danau Toba membawa berkat kepada zending kita, dan sangat penting dalam tiga hal: 1. Pemerintahan di Silindung dilaksanakan secara semestinya sehingga para penginjil dapat beroperasi tanpa ancaman. Pemerintahan Belanda yang ditetapkan di bawah kondisi yang begitu unik, mestinya – di mata penduduk – kelihatan seperti pemerintah yang Kristen atau paling tidak ramah terhadap agama Kristen. Hal itu [Kaitan pemerintah Belanda dengan agama Kristen] merupakan faktor yang begitu menentukan di Silindung yang juga akan berpengaruh di Toba. 2. Hal yang paling penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah zending kita bisa masuk. Memang ada kemungkinan bahwa orang Toba membenci orang Eropa setelah Belanda mengalahkan dan membakar kampung mereka. Namun hal itu tidak terjadi. „Berkat tangan Tuhan,“ demikianlah tulisnya penginjil Nommensen waktu itu.”

      • Bhatara Simatupang
        Desember 8, 2014

        Betul seperti yang saudara paparkan dan tidak jauh brbeda dgn buku “Utusan Damai di Kemelut Perang” karya Prof.kozok serta sbgaimana surat dan laporan dari Nomensen itu tidak terbantahkan dan semua surat2nya masi trsimpan di RMG Bremen, Jerman sebagai cikal bakal HKBP seperti yg di jelaskan Prof.Kozok.
        Dsini dpt kita lihat bahwa sukubangsa Batak itu mmpunyai arti dalam sejarah Nusantara. Kendatipun dlm sejarah sukubangsa Batak itu ada masa2 kelam dalam alur cerita sejarahnya, akan tetapi itu tidak bisa kita gambarkan dgn konotosai arti kata yg negatip. Dsatu sisi kita jg harus dpt menerima alur cerita sejarah pada masa itu dan tidak mnjadi alat untk menilainya secara negatip.
        Sbgaimana kita tau, banyak trdapat catatan2 ato memoar tntang suku Batak pada masa kolonial belanda ato stelah kdatangan Belanda dan ini bnyak trsimpan d Belanda dan Jerman. Akan ttpi sangat d sayangkan bahwa di dlm catatn/memoar trsbt sangat sedikit menceritakan ttng kbudayaan adat mayarakat Batak. Karna d jaman itu banyak pusaka2 Batak yg telah d musnahkan. Bahkan untuk mncari referensi ttng kebudayaan Batak pada masa sblm datang nya belanda pun sangat sedikit, seperti hal nya sejarah SM Raja.
        Sprti yg kita tau saat ini, bahwa sejarah yg mnceritakan SM Raja XII,SMR XI dan SMR X sangat sedikt. Malah ttng SMR I sampai SMR IX pun sejarah nya masih kabur. Tp ada dugaan bahwa makam SMR I sampai SMR V dimakamkan di Barus, akan ttpi pnelitian lbh lanjut untk mncari kbenarannya belum ada.
        Dan dlm hal sejarah, saya masih memfokuskan pmbelajaran sejarah muali pada abad ke 12 ttng sumatera utara fokusnya sukubangsa Batak. Sbgaiman kita tau, bahwa pada abad itu sudah ada kerajaan Batak yg besar, yg dsbt Kerajaan Haru/Aru/Dragonian dan pada abad ini juga muncul Raja Batak yg bisa kita lihat pada Tarombo Batak jika di teliti dan dihitung secara garis keturunan dmana setiap garis turunan silsilahnya dihitung antara 25-30 tahun setiap generasinya. Mnurut catatan2 sejarah dan arca2 prasasti yg ada bahwa Kerajaan Haru itu merpakan kerajaan Batak yang besar sbagaimana juga di ceritakan dalam laporan2 perjalan penjelajah dunia.
        Dan dari sini saya rasa ada pertalian sejarah dgn SMR XII. Dmana Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau SMR XII sbgai pnerus “Tondi” para Sisingamangaraja.
        Ini sekelumit sejarah pada abad ke-12 yg masih saya pahami dan prlu peninjuan lebih lanjut.
        Horass,,,,

  25. Bhatara Simatupang
    Desember 21, 2014

    Betul seperti yg saudara bilang..
    arti kata “malim” itu bukan saya yg mngartikan dan mencodongkan nya kepada agama islam.
    Tapi menurut beberapa profesor dan dari segi turunan bahasa, arti kata “malim” itu lebih identik kepada orang yg taat ber-agama dan lebih ditujukan penyebutannya kepada yg bragama muslim, begitu juga seperti yg d paparkan Dr.Lance Castle di dlm bukunya.
    Asal usul kata malim bagi masyarakat Melayu berasal dari bahasa Arab mualim yang artinya pintar dalam pengetahuan agama.
    Menurut hemat saya,” Parmalim” mulanya adalah grakan spiritual utk mmpertahankan adat istiadat dan kpercayaan leluhur yg trancam dgn agama yg dibawa Belanda. Gerakan ini lalu menyebar ke tanah Batak menjadi gerakan politik sbgai pemersatu orang Batak utk mlawan Belanda.
    Grakan “parmalim” muncul sekitar tahun 1883 di pelopori oleh Guru Somaliang dan menempatkan SMR sbg pemimpin tertinggi
    . Stlh belanda menangkap Guru Somaliang dan wafat nya SMR XII tampuk kpemimpinan parmalim jatuh kpd Raja Mulia Naipospos dan skrng dipimpim oleh Raja Manakkok Naipospos.

    Sbgaimana juga dgn parsitengka, parsiakbagi, parhudamdam, para pengikut nya menamakan agama mereka itu. Agama yg ketiga ini muncul setelah belanda melarang ajaran ato komunitas parmalim.
    Yg jd pertanyaan sblm munculnya “ugamo parmalim” bagaimna khidupn adat istiadat serta budaya religi leluhur orang Batak??

    Horas,,,,,,

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 30, 2009 by in Biografi Tokoh, Kumpulan Artikel Sejarah and tagged , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: