Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

sisingamangaraja-xiiSisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.

Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.

Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.

Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.

Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.

Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.

Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.

Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.

Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.

Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.

Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.

Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.

“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.

Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.

Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.

“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.

Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.

Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.

sumber :
- http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

(Up-date ; 7 Mei 2009)
Tanggapan Dari syariffuddin hutabarat : Tentang Agama Sisingamangaraja XII

Suatu kehormatan bagi saya mendapat tanggapan dan respon terhadap apa yang ditulis di blog ini, khususnya berkenaan dengan sejarah pahlawan nasional Sisingamangaraja XII dan apresiasi dari Bang Syariffudin Hutabarat terhadap tulisan ini maupun terhadap pribadi yang empunya blog, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dari tiga tanggapan yang diberikan oleh Bang Syariffudin, dua tanggapan terakhir saya masukan dalam update posting ini.

Tanggapan kedua dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII karena tidak punya data dan bukti dan masih mengutif “identik” dan itu menyesatkan,anda tidak layak untuk mempersepsikan sejarah kalau anda tidak punya data dan bukti karena itu akan merusak tatanan yang susah ada,apakah anda sudah siap di tuntut keluarga suatu hari kelak kalau tulisan anda menyimpang dari kebenaran yang di yakini keturunannya yang masih hidup saat ini.

saya bertanya pada saudara kopral cepot, tolong jelaskan masyarakat mana yang meyakini Sisingamangaraja islam dari suku aceh,kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan data dan fakta yang bisa di pertanggung jawabkan berarti anda sudah memfitnah dan menyesatkan banyak orang dan itu hukumnya haram dalam ranah tulisan ilmiah.
Saudara kopral tidak menulis novel yang pelaku dan tempat kejadiannya fiktif,tapi anda menulis tentang Raja Sisingamangaraja XII sebagai pahlaawan Nasional Indonesia sebagai pelaku sejarah yang mengusir penjajah Belanda dari bumi batak.

saudara kopral jangan bermain-main dengan sejarah???
saudara kopral berhati-hatilah dalam mempersepsikan sejarah,bersifat ilmiahlah sedikit jangan seperti nenek moyang kita dulu yang tidak mengenal tatanan ilmiah dan kita generasi sekarang merobahnya, buatlah diskusi yang hangat,elegan biar saling membangun.
salam

Tanggapan ketiga dari Bang Syariffudin Hutabarat
salam,
kenapa tanggapan saya yang kedua tidak di posting dan merubah tanggapan anda,ada apa ini?
kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan repupblik Indonesia dan itu aset bangsa yang harus di hargai dan ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.
tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih
salam

Kopral Cepot mencoba merespon.
@ Bang Syariffudin ; tulisan anda tidak ilmiah dan tidak ada bukti autentik disertakan dalam tulisannya dan semuanya asumsi,bisa benar dan lebih parah bisa menyesatkan, anda kopral cepot harus belajar sosiologi budaya batak di Bakkara tempat raja Sisingamangaraja, meneliti tentang budaya orang batak, dan meneliti literatur di perpustakaan di negeri Belanda sebagai tambahan literatur,mewancarai keturunannya yang masih hidup sebagai saksi sejarah,setelah itu semua sudah lengkap baru anda menulis tentang agama yang dianut Sisingamaraja XII,terlepas menganut agama apa tapi ada bukti ilmiah yang bisa dibuktikan dan diperdebatkan.

Kopral Cepot ; Tanks atas sarannya.. tapi jujur ajach bang, aku bukan sejarawan aku hanya orang yang mau dan sedang belajar sejarah. Secara pribadi aku tidak punya kepentingan apa2 terhadap agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII atau siapapun juga. Tetapi aku sangat menghargai dan saluuut terhadap ‘daya juang’ dari para pahlawan kita. berkenaan dengan posting ini aku ambil dari ;
– http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

Jadi skali lagi aku hanya “sang pembelajar”

@ Bang Syariffudin Hutabarat : anda tidak layak untuk menulis sejarah Sisingamangaraja XII.

Kopral Cepot : Memang aku tak layak menulis sejarah bukan hanya sejarah Sisingamangaraja XII saja sejarah yang lainnya juga aku tak layak bang. skali lagi aku hanya “sang pembelajar”. Setiap posting sejarah di serba sejarah aku berupaya untuk mencantumkan referensi baik berupa buku sejarah maupun hasil pencarian yang dibantu oleh mbah google. Kalo aku boleh jujur…. aku tuh berterima kasih sama mbah google yang telah membantu aku “sang pembelajar”.

@ Bang Syariffudin Hutabarat : kalau saudara kopral cepot belum siap untuk menulis sesuatu secara ilmiah jangan dipaksakan dan anda menulis tentang sosok Pahlawan kemerdekaan republik Indonesia

Kopral Cepot : he he he he … emang sih aku terlalu memaksakan diri untuk menulis sejarah di “serba sejarah” ini. Tapi klo aku engak memaksakan diri, kapan aku bisa belajar… ? :D

@ Bang Syariffudin Hutabarat : ingat jangan main-main dengan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya dengan segala peristiwa yang terjadi saat itu.

Kopral Cepot : ……….. ? pusing jawabnya

@ Bang Syariffudin Hutabarat : tulisan anda jangan di posting di internet karena akan di baca seantero jagad dan janganlah penulis kontroversial yang tidak ada juntrugannya dan mamfaatnya dan itu tidak akan mencerahkan umat,terimakasih

Kopral Cepot :Terima kasih sarannya bang, tapi maaf dah terlanjur di posting di internet. kalo menurut aku pembaca internet itu pinter-pinter, bisa milih dan milah mana yang benar mana yang salah. kalo kebetulan tulisan aku salah… yang jangan diterima tapi kalo bener mudah-mudahan bermanfaat. Sesuatu yang “kontroversial” bisa mengasah otak kita untuk cerdas… dan kecerdasan awal dari pencerahan umat.

demikian tanggapan dari “sang pembelajar” KOPRAL CEPOT. dan beribu-ribu terima kasih buat Bang Syariffudin atas saran dan kritikannya, ini membuat aku semakin giat untuk belajar sejarah.

Aku tunggu balik responya… salam

59 Tanggapan ke “Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih”


  1. 1 Bukan Batak Oktober 7, 2009 pukul 6:34 am

    dari banyaknya tanggapan yang ditampilkan, kok tidak ada yang logis yah…semuanya memaksakan menolak kalau Sisingamangaraja XII itu bukan Islam, seperti yang ditampilkan dalam tulisan bung Cepot. Kalau dibaca lagi, padahal sumber-sumbernya sudah akurat benar. Bung Cepot banyak mengambil data dan bahan dari banyak sumber, tapi bagi Batak yang fanatik itu, tetap tak mau ikhlas kalau Sisingamangara XII itu menganut Muslim. Memangnya kalau raja Batak itu mesti Kristen? Memangnya tanah Batak itu kampungnya Kristen? Kalau mau dibaca sejarah lagi, munculny Kristen di tanah Batak itu, hanya bualan Belanda dan pendeta Jerman saja. Mereka datang ke tanah air sambil menyebarkan misionaris Barat. Jadi sebelum belanda datang, orang-orang Batak banyak yang menganut Islam. Kenapa sejarah harus di protes? oh ya, memang orang Kristen suka protes ya…makanya ada protestan, demonstran (eh salah ya)…sorry jangan marah donk…ntar main bunuh lagi, kayak protap…

    • 2 samuel siregar Oktober 11, 2009 pukul 1:26 am

      njeng,,jangan nyari perkara kauu..
      yang bilang sisingamangaraja XII kristen siapa??
      dia itu agama parmalim,,jadi qau jangan kambing hitam kan kristen..kami cuma gagg mau agama sisingamangaraja dibilang islam,,karna kenyataan beliau adalah parmalim..
      BUKAN KRISTEN DAN BUKAN ISLAM…
      ngerti kau njeng,,klo ngajak ribut,,ku ladeni kau..dmana kau??
      biar ku datangi..

      • 3 torasham November 14, 2009 pukul 6:52 pm

        menurut Harry Parkin, The Fruit of Toba Batak Belief in High God….
        Parmalim lebih condong ke arah Islam. Koskata Malim sendiri diambil dari kosakata Arab.
        Tapi saya butuh bahan lainnya untuk menguatkan apa Agama asli Sisingamangaraja…

    • 4 m ikhsan daulay November 23, 2009 pukul 8:28 am

      Mengapa Batak Banyak Yang Menolak Menjadi Muslim, Hal ini terkait dengan Trauma Orang Batak Atas Serangan Tuanku Rao dan Pasukan Muslim dari Sumatera Barat menyerang, membakar dan membunuh secara sadis orang-orang batak. Hal ini mempersepsikan Islam itu Kejam dan Sadis di dada orang batak…. > GENOSIDA BANGSA BATAK.

      Belanda dan lembaga Zending yang mengetahui hal ini segera memberikan bantuan kepada masyarakat- mengambil hati masyarakat sehingga masyarakat mulai percaya kepada Belanda dan secara perlahan2 masyarakat mulai beralih menjadi protestan.

      SEANDAINYA SERANGAN SADIS INI TIDAK TERJADI, SAYA HAKUL YAKIN BATAK ITU AKAN DIDOMINASI OLEH KAUM MUSLIM….

      SADARLAH TEMANNNNN….

  2. 5 Hafid Algristian Oktober 10, 2009 pukul 9:29 pm

    makasii, mas. terus terang saya sebagai orang awam, berhadap siapapun bisa menyediakan informasi yang valid dan disampaikan dengan bahasa yang ilmiah tanpa tendensi..
    salut buat semua yang ada di sini ;)

  3. 6 halak hita Oktober 11, 2009 pukul 11:41 pm

    @bukan batak:eh kambing,kalo ngebacot pke otak.jgn ngata2in suku orang,kyk gk diajarin orang tuamu aja.hati2 kalo komen,jgn kyak anjing rumah,menggonggong di dlm rmh,kalo kluar rmh trbirit2 smbil trberakberak.jgn suka mghina suku org.kalo aku knal kau udh silet lidah kau itu.BANCI..

  4. 7 Liston Manuhutu Oktober 14, 2009 pukul 1:38 pm

    Saya sangat menyambut tulisan Kopral cepot, tentang Sisingamangaraja adalah pejuang Islam!
    Anda boleh berkepala dingin menanggapi komentar-komentar orang BAtak terutama yang bukan Islam, hal wajar kalau Orang mempertahan kan keyakinannya, mereka selalu meminta bukti yang otentik bahwa Sisingamangaraja adalah Islam (itu tidak terlalu susah), kalau mau mereka menerima bukti atas dasar tulisan orang-orang Islam dan sama-sama menganalisanya (masalah belum tentu juga selesai) perdebatan dengan orang Batak tidak ada selesainya, mereka akan mempertanyakan hal-hal yang menurut keyakinannya benar lagi. Yang jelas kalau berbicara tentang Orang batak berhubungan dengan Islam mereka akan elergi karena sangat mendalamnya pengaruh Keristen melalui Nomensen (Jerman), Coba Perhatikan Tulisan tentang “Orang Batak keturunan Jahudi”, dan tulisan “Kalau tidak ada Nomensen mungkin Orang Batak masih memakai cawat/kolor”.
    Ini disebabkan Orang Batak terperangkap dengan dengan Buku “Tuanku Rao”.
    Tetapi maukah Orang Batak membaca Buku “SEJARAH RAJA-RAJA BARUS” oleh Dr.Jane Drakard diterbitkan Gramedia Pustaka Utam
    Buku tersebut diatas cukup anda buat sebagai jawaban yang selalu memintak bukti.Tetapi saya yakin mereka pasti tidak menerima karena menyangkut Islam.

    —————-
    Kopral Cepot : Hatur tangkyoe bang ;) .. saya pernah baca tulisan tentang “Orang Batak keturunan Jahudi” … lumayan juga responnya :)
    oyaa… tulisan Samuel Hutagalung S.Ag tentang “Sejarah Islam di Tanah Batak” sepertinya bisa mewakili untuk mewakili cara berpikir mereka. Buku “SEJARAH RAJA-RAJA BARUS” sy belon baca.. tar cari dlu ;) . skali lagi hatur tararengkyu.

    • 8 torasham November 14, 2009 pukul 6:33 pm

      siapa bilang sih batak = kristen?
      saya batak dan sangat suka akan Islam.

      Dalam sejarah dibutuhkan: bukti premier dan sekunder.
      Menurut Victor. M. Vic bukti premier bisa diambil dari tulisan2, simbol2 ataupun bukti2 tertulis lainnya.
      Sedangkan bukti sekunder bisa diambil dari cerita pelaku sejarah ataupun saksi mata. Bukti sekunder bisa juga terjadi bila ada orang yg mengutip narasumber langsung.
      Dalam hal ini, blog ini adalah bukti sekunder karena mengutip dari narasumber langsung dimana sumber asli mengambil bukti premier.
      Berdasarakan hal ini, buku Tuanku Rao karangan Parlindungan Siregar tidak bisa dijadikan sebagai pegangan sejarah, karena mengambil dari desas-desus.

      Sedangkan untuk desas-desus lainnya yg menyatakan bahwa orang batak keturunan Yahudi sangat konyol, karena orang2 nusantara pun mempunyai adat yg sama dg adatnya orang yahudi.
      Dikisahkan, adat yahudi kuno bila memberi sesuatu kepada orang lain dg tangan kanan, demikian juga orang jawa, madura saya yakin semua orang nusantara adatnya macam ini. Banyak bukti lainnya adat orang yahudi mirip dg adat orang2 dinusantara.
      sedangkan alasan karena intermarriage yg membuat wajah yahudi menjadi wajah melayu jg konyol.
      Bisa dilihat dari bangsa Aceh (bukan suku). Sudah ribuan berabad-abad orang india melakukan intermarriage dg penduduk lokal (jmn Samudra Pasai) namun masih bisa dilihat dari ciri2 fisik mereka. Sudah ratusan tahun, orang2 Turki, Arab, Cina dan Eropa intermarriage dg orang2 lokal, tpi jejaknya masih keliatahan sampe sekarang. Kalau penduduk Aceh masih terlihat, mengapa penduduk batak tidak? karena memang tidak ada orang yahudi yg kemari…

  5. 9 hmcahyo Oktober 23, 2009 pukul 9:49 am

    apapaun yang dikatakan orang… tulisan anda keren :D

  6. 10 bunda faiz November 13, 2009 pukul 10:55 am

    yap betul bang. Sisingamangaraja XII itu beragama Islam. bang coba tulis tentang Sisingamangaraja XII yang berkaitan dengan Khilafah Islam yang saat itu berada di Turki Utsmani.setau saya ada hubungannya deh.Tulisan abang bagus bgt. Alhamdulillah.Tak usah pedulikan omongan orang2 yang mengedepankan emosinya,bukan pemikirannya.Perubahan hakiki akan terjadi apabila pemikiran manusia2nya cemerlang dan shahih (cemerlang dan diiringi wahyu dari Allah SWT).Semangat deh buat kopral cepot, ALLAHU AKBAR !!!

    ————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu bunda .. tetep semangat :D

    • 11 torasham November 14, 2009 pukul 6:37 pm

      tidak ada hubungan antara Sisingamangaraja dg kekhalifahan Utsamaniyah Turki. Kalau bangsa Aceh ada… bisa dilihat dari inskripsi2 Islam kuno yg berserakan di tanah Aceh. Kaligrafinya khas kaligrafi periode ini. Di museum belanda jg terdapat peninggalan2 lainnya yg menyatakan hubungan Aceh dg Utsmaniyah (Ottoman Empire).
      Bunda Faiz bilang jangan kedepankan emosi, tapi tulisan anda adalah bentuk dari emosi karena tidak memiliki bukti.

  7. 12 inel November 14, 2009 pukul 4:22 am

    bosss…..tolong di revisi lagi lah sisingamangaraja tuh buka beragama Islam melainkan dia itu, masih aliran kepercayaan dahulunya…………

    Jangan merekayasa sejarah bos ketahuan malu sendirikan………..

    soalnya saya ada darah keturunan sisingamangaraja juga…….

    • 13 torasham November 14, 2009 pukul 6:40 pm

      butuh lebih banyak bukti daripada sekedar pengakuan seorang keturunan…

      Opung saya bilang, kalau kami juga keturunan Sisingamangaraja. Tapi tetap saya butuh lebih banyak bukti daripada pengakuan opung saya, makanya tidak pernah saya mengaku kalau saya keturunan beliau.

  8. 14 benni siregar November 22, 2009 pukul 9:05 pm

    semangat belanda untuk memutus hubungan sumbar dan aceh (dengan kristenisasi tanah batak) masih terasa sampai sekarang walau kita sudah merdeka. kenapa sih semangat itu masih dipelihara??? ayo dongz.. yg sudah biarkan berlalu. mari kita bangun bersama tanah batak (baik islam, kristen, palbegu, animisme…. dll) jangan di permasalahkan lagi. Ok bosss????

  9. 15 m ikhsan daulay November 23, 2009 pukul 8:20 am

    TULISAN INI SAMA KONYOLNYA DENGAN TOPIK MICHAEL JACKSON JADI MUSLIM, LADY DIANA JADI MUSLIM… TULISAN INI HANYA MENGGAMBARKAN KEIDIOTAN PENULISNYA BUKAN MENCERMINKAN ISLAM SECARA KESELURUHAN TAMPAKNYA PENULIS TIDAK MAU MENERIMA KEHEBATAN ORG LAIN YANG BUKAN SEAGAMA….

    ya islam-islam, kristen, katolik, budha, hindu, konghucu atau apapun yang penting punya jiwa bela bangsa wajib kita apresisasi…

    semoga indo nesia yg bhineka semakin jaya…\

    Hidup Indonesia…

    Kita Menjadi Bangsa Besar Karena Keanekaragaman Budaya, Pikiran dan “Opini Konyol” dari berbagai komponen…

  10. 16 cyber_kn1ght November 26, 2009 pukul 9:52 am

    wah dusta aja tuh… haha loe jangan asal ngomong mau buat semua jadi islam…jangankan sisingamangaraja…loe pernah dengar MUSA menurut islam tuh agamanya islam..padahal MUSA tuh jelas2 agamanya YAHUDI… dan kalian bodoh banget diboongi ustad,,,dan kalian mau membohongi orang batak??? mana ada yang percaya..loe udah pernah ke makam sisingamangaraja lum>>> di atas makamnya ada tanda salib, loe sendiri tau donk arti tanda salib tuh apa??? and keturunan nya aja masih banyak koq..dari marga si nambela.dan masih banyak yang masih hidup dan tau banyak ttg tuh…

    masalah perang dengan padang, bikin batak takut, sorry coiiii orang batak ga pernag takut ama padang,,, loe tau ga kristen dulu masuk batak, dan islam payah masuk ke tanah batak, karena ga mau ikut orang arab yang bodoh. yang ga jelas ngomongnya… masa pedagang arab aja dipercaya sich…pedagang mana ada yang jujur…teuuuuu

  11. 17 Nico Desember 2, 2009 pukul 12:05 pm

    selamat karena masih banyak genarasi muda yang mencintai budaya leluhurnya. Yang jelas Sisingamangaraja XII bukan Muslim, tetapi banyak dipengaruhi oleh Muslim. Demikian juga halnya dengan agama Parmalim. Pada dasarnya agama parmalim tidaklah murni agama Batak, di sana terdapat percampura antara paham Muslim, Hiduisme, dan konsep-konsep Batk Toba arkhais. Ajaran Teologis mereka yang utama ialah Debata Mulajadi Na Bolon, pencipta segala sesuatu.

  12. 18 raja sng Desember 4, 2009 pukul 2:47 am

    kami org batak amat paham teradisi kami,,karna kami lahir dan dibentuk oleh tradisi kami(batak),,kami pelaku karna kami yg mengamalkan trasisi batak bukan narasumber seperti kutipan anda yakni “H.Mohammad Said” entah sipa dan dari negara mana ??

    konseb BABi sdah jelas menjelaska semua ini ,,,coba anda jelaskan BABI-BATAK-ujung2nya singamangaraja jadi islam ???

    bagi batak asli,,bukan batak dalle(asl batak)babi adalah keharusan dalam setiap upacar….yg terahir kita bicara batak secara umum bukan batak di wilayah sumatra timur aja……wajar kalw batak di sumatra timur ad yg beragama muslim karna mereka terkonta minasi dengan batas wilayah ACEH(musli)…jd jangan anda jadikan hanya batak di sumatra timur menjadi patokan. karna pusatnya di samosir sekitar.

    tolong sumber2 anda diperjelas biar kami kaji lebih jauh,,,,,

  13. 20 raja sng Desember 4, 2009 pukul 3:05 am

    Untuk kali pertama, turunan langsung Sisingamangaraja XII menghadiri ritual Sipaha Lima di Hutatinggi,Kec Laguboti, Kab Toba Samosir,Sabtu (28/7).

    Kenyataan ini cukup menyentak, pasalnya kini tak satu pun turunan Sisingamangaraja XII yang masih menganut Ugamo Malim atau Agama Parmalim. Sabtu siang itu, seorang pemuda menghampiri Raja Marnangkok Naipospos, pimpinan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi, yang sedang duduk mengamati persiapan puncak ritual Sipaha Lima. Setelah menyalami Raja Marnangkok sembari membungkuk, pemuda itu pun bergeser. Satu per satu kerabat Raja Marnangkok didekati, seraya memberi hormat. Keakraban dan kehangatan suasana kemudian terbangun di antara mereka.

    Raja Marnangkok sendiri langsung tercenung, tapi tak lama. Kemudian, kepada SINDO dan rombongan seniman dari Medan yang hadir untuk melihat langsung ritual Sipaha Lima, Raja Marnangkok berkata, ”Kalian kenal siapa dia? Dia itu cicit Sisingamangaraja (XII).” Ya, pemuda berusia 35 tahun tersebut tak lain adalah Raja Tonggotua Sinambela, generasi ke-15 Raja Batak Sisingamangaraja. Nama Tonggotua, menurut Raja Marnangkok, adalah nama pemberian Raja Ungkap Naipospos, pimpinan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi generasi kedua.

    ”Secara emosi, keluarga kami cukup dekat. Makanya bapak saya (Raja Ungkap) yang memberi dia nama. Kami tetap menghormati turunan Sisingamangaraja XII. Kami sering bersilaturahmi.Kalau tidak keluarganya yang datang ke sini (Hutatinggi), kami yang berkunjung. Namun, kali ini berbeda. Ini pertama kali turunan Sisingamangaraja XII menghadiri ritual Sipaha Lima. Terus terang ini dilema bagi kami,karena dia (Raja Tonggotua Sinambela) beragama Kristen,” terang Raja Marnangkok. Seharusnya, lanjut pimpinan Parmalim Hutatinggi yang sekarang berusia 68 tahun ini, Raja Tonggotua Sinambela turut didaulat memandu ritual Sipaha Lima.

    Sebab, dia punya pertalian darah langsung dengan Sisingamangaraja XII. Namun, ini tak mungkin diwujudkan karena ritual Sipaha Lima adalah ritual keagamaan. ”Kalau turunan Sisingamangaraja XII masih ada yang menganut Ugamo Malim, kakek saya Raja Mulia Naipospos pasti akan menyerahkan tampuk pimpinan keagamaan kepada turunan Sisingamangaraja XII. Kakek saya diberi mandat oleh Sisingamangaraja XII untuk memimpin Ugamo Malim karena saat itu belum ada turunan Sisingamangaraja XII yang dipandang mampu,” paparnya.

    Meski cukup gelisah, Raja Marnangkok tidak ekspresif menunjukkannya. Hanya, di luar sepengetahuan para pengikut ritual, dia menggelar pertemuan dengan seluruh Ulu Punguan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi. Ulu Punguan adalah para pimpinan keagamaan di wilayah persebaran Parmalim, mereka ada puluhan orang.

    dah jels dari kutipan diatas dpat kita simpulkan bahwa sisingamangaraja tuch bukan islam….tp parmalim…..

    jadi jangan asal meng ISlamkan org….

    jaman sekarang semua serba diislamkan…..mau jadi pejanbat negara harus islam…peraturan negar harus praturan yg bersyariah islam…tw kenapa banyak org batak masuk islam yah itu,,,,demi karir,,,ini fakta.

    negara republik aja pengen dibuat jadi negara islam
    mau dibilang apa juga semua dah pd tw ,,,negara ini


  1. 1 Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII « Biar sejarah yang bicara …….. Lacak balik pada September 28, 2009 pukul 2:38 pm

Tinggalkan Balasan




pesan tentang rasa keadilan yang terlukai ……….

Ngaran kaula ”Kopral Cepot”

JANGAN PAKSA AKU TUK SAMA ... KARENA AKU sudah BERBEDA

kaula ngan mere beja ... kaula teu maksa kudu sarua... sugan beja ti kaula aya guna

Sejarah adalah perjalanan hidup dan kehidupan manusia, dengan belajar sejarah bukan hanya MENGHARGAI SEJARAH, tetapi sejarah bisa menjadi "spion" bagi arah hidup dalam menatap kedepan. Tulisan ini memuat resensi dari buku-buku sejarah, analisa pribadi, dan hasil diskusi dengan beberapa teman yang punya "minat" sejarah serta hasil tanya2 ama mbah google. Bila ada yang membutuhkan untuk kepentingan yang bermanfaat silahkan untuk copy paste sesuai dengan etika dan itikad baik. Semoga bermanfaat...

"Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia telah hilang tanpa lelah sampai engkau meraihnya" .... "takkan terikat waktu jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi"

Diskusi “sukasejarah.org”

sukasejarah

kucoba hargai masa lalu....

Photobucket SmileyCentral.com

Thema Tulisan

Tulisan Sebelumnya

RSS comments anyar tangkyu :)

Jejak tamu hari ini

Pencari Jejak Sejarah

  • 148,417 Jejak Pembaca
free counters
Site Rank
My site's rank is:
Rank
What's your
Site Rank?
BandungTopBlog.com
Update Batagor Internet Sehat http://bacablog.com
IP Bookmark and Share blogarama - the blog directory Add to Technorati Favorites Submit your website to 20 Search Engines - FREE with ineedhits!

Nu ngeTOP di Serbasejarah