Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara
Ada tulisan menarik dari pakar Sejarah/ guru besar sejarah UNPAD, Prof. Nina Herlina Lubis mengenai Sejarah Penjajahan Kerajaan/ Negara di Negeri Indonesia. Meskipun dulunya waktu Belanda datang belum terbentuk negara Indonesia tercinta ini. Menarik dari kesimpulan tulisan yang dimuat oleh koranPikiran Rakyat satu tahun lalu (8 Maret 2008) ini adalah. Belanda memerlukan 300 tahun untuk menaklukkan Indonesia, bukan Indonesia di jajah selama 350 tahun.
Judul Asli Tulisan yang dimuat di PR ; Tanggal 8 Maret 2008
Oleh Nina Herlina L.
“Wij sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!” (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.
Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya “waktu yang lebih baik” dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942 Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa “Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun”. Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, “Indonesia dijajah selama 350 tahun!” Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, “Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!” Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, “Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen.”
Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.
Kedatangan penjajah
Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.
Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.
Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.
Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.
Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.
Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).
Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.
“Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.
Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).
Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.
Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.
Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.
Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.
Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.
Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.
Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.
Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.
Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.
Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.
Analisis
Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).
Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.
Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara. ***
Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat/Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Unpad.
Aku bukan masa lalu, tapi masa lalu membawaku ke masa depan ~kopralogic~
Attention ! Serbasejarah dengan admin Kopral Cepot hanya menulis di blog ini, tidak buka lapak di blogspot, multiply atau lainnya... Hatur tangkyu ;)
Blog pada WordPress.com. Tema: Suburbia oleh WPSHOWER.
Terima kasih telah membantu saya dan teman-teman menjawab soal.
………..
Kopral cepot : Semoga bermanfaat buat semua..
iya betul juga.. sejarah harus diluruskan.
maju terus ya
oya mas…
penting sekali anda menuliskan dari mana referensinya?
————————————-
Kopral Cepot : Udah kok di tulis di atasnya… ini tulisannya
Prof. Nina Herlina Lubis Sejarawan UNPAD yang dimuat di Koran PR 8 Maret 2008….. Untuk semua posting kami berusaha pula untuk mencantumkan referensinya.. Tanks atas perhatiaanya
Ping-balik: Kini ku berdamai dengan “kompeni” « ~ Continuous Improvement ~
300 tahun Belanda berusaha menguasai seluruh Indonesia atau 350 tahun Belanda menjajah Indonesia itu adalah persoalan waktu, yang jelas selama waktu proses kolonialisme itu berjalan Belanda telah membuat bangsa Indonesia sengsara dan menderita. Aspek spasial dan aspek temporal penjajahan Belanda di Indonesia memang tidak bisa digeneralisir atas semua wilayah, karena terdapat perbedaan kurun waktu yang berbeda beda. Tetapi rasa solidaritas dan nasionalisme itulah yang mengikat adanya persamaan pandangan bahwa penjajahan yang dirasakan oleh saudara saudara kita suku bangsa yang lain adalah penjajahan bagi kita semua. Saya rasa apa yang diungkapkan oleh Prof. Nina Herlina Lubis adalah benar, tetapi Sukarno lebih punya kepentingan politik nasionalisme positif pada saat mengatakan bahwa bangsa ini dijajah selama 350 tahun oleh Belanda, dan ini adalah upaya yang dilakukan agar tercipta emosi kebangsaan sebagai bangsa yang harus tetap mempertahankan kemerdekaanya sampai kapanpun.
Kalau kita melihat dalam sejarah bangsa dalam perspektif spasial semata saya khawatir hanya akan menimbulkan semangat kedaerahan semata, dan tak merasa apa yang dirasakan oleh saudara saudara suku bangsa yang lain sebenarnya adalah masalah bagi kita semua.
———————————-
Kopral Cepot : Memang ade prespektif obyektif berdasar fakta dan data, ada prespektif subyektif berdasar kepentingan dari orientasi sejarah. Atas komentar anda secara kepentingan politik maka sah-sah saja untuk menyatakan bahwa “bangsa ini dijajah selama 350 tahun oleh Belanda” tetapi kepentingan politik biasanya temporal artinya masih bisa diperbaharui. Tetapi klo fakta sejarah adalah hal yang tak bisa berubah dan diubah.. So Obyektifitas sejarah saya rasa tidak akan meruntuhkan kesadaran akan keterikatan kita sebagai “satu kesatuan bangsa” tinggal bagaimana “komunikasi sejarah” yang bisa dipastikan tidak menimbulkan diintegrasi kesadaran
Menurut saya bukan persoalan waktu, kalau semenjak tahun 1500an dari sabang sampai merauke sudah menjadi “Negara Indonesia” yang terdiri atas “Bangsa Indonesia” maka kita bisa berkata “Bangsa Indonesia” sebagai obyek dalam hal ini. Atau sudah ada perjanjian antar raja-raja pulau,.. yuk kita jadi bangsa, yuk bersatu yuk.. (Saya belum membahas kata kerjanya, menjajah, menguasai dsb). Wong kata “Indonesia” baru muncul awal abad ke-20, melalui peristiwa 20 Mei 1908, 28 Oktober 1928, dsb. Mungkin yang lebih tepat adalah, Belanda telah membuat orang Jawa (mataram), orang Aceh, orang Maluku, dsb sengsara dan menderita.
Hanya melempar ide.
Ping-balik: Ketika gratis = gratis dan mereka tidak mengenal 3,5 abad | Ihwanul Iman's Weblog
makasih yaa udh nge bantu bikin pr!!
ho ho ho . . . . . .
TQ KOPRAL COPOT . . . EH SALA KOPRAL CEPOT . . . . LMYAN BWAT NAMBAH PENGETAHUAN
ho ho ho ho ho . . . . .
Menarik apa yang tertulis di atas. Bila benar berarti selama ini bangsa kita mengakuinya hanya sebagai wujud pembenaran untuk kelemahan dan ketidakmajuan bangsa dalam kancah persaingan internasional. Hal yang memalukan kalau kita hanya mencari justifikasi atas ketidakmampuan kita membawa bangsa kita maju. Semoga ini menjadi semangat pemecut bagi seluruh bangsa, bahwa kita tidak sebodoh itu hingga bisa di jajah hingga lebih dari lima generasi. Kami di Lombok juga tidak mendapatkan cerita kekuasaan Belanda yang begitu panjang, malah lebih banyak konfrontasi dengan Kerajaan Bali selama ratusan tahun. Kalau boleh, dimana saya bisa meminta referensi tentang perang melawan penjajah yang terjadi di Lombok. Karena saya tidak pernah memiliki referensi yang bagus tentang hal itu.
———-
Kopral Cepot : komen yg mencerahkan … sebagai anak bangsa yang peduli akan sejarah bangsanya.. btw untuk referensi perang yang terjadi di Lombok.. saya sendiri belum banyak menemukan .. semoga kita bisa berbagi referensi … hatur tangkyu.
dulu itu kotanya kecil2 dan tidak banyak. Ada sebuah kampung yang dikuasai pendatang. Padahal kampung itu menjadi tujuan orang dari gunung dari. Sudah bisa diartikan dikuasai pendatang londo itu.’
Yang masih dihutan di sekitar kampung itu otomatis menjadi sumber uang londo tadi.
Ping-balik: Dijajah 350 Tahun Hanya Mitos « Biar sejarah yang bicara ……..
trimz..
tulisan anda telah membuka wawasan saya..
seharusnya tulisan ini di masukan kedalam buku sejarah indonesia,agar generasi baru kita tidak mempunyai pemikiran yang salah..
Aceh memang keren .. hohoho
wah bagus nih artikel thx banget Sob.
Keep Posting !!!!
kok sy gk bs share ke fb yah?? dibilang spam…
saYa pernah berfikir searah dengan ArtiKeL ini…. haNya saja, artikeL ini menambaH wawaSan sanya uNtuk beraNi membuAt kesimpulan dari keadaan sejarAh nASional yang terjadi
Hindia Belanda dikuasai raja dari tahun berapa…? sampai dengan tahun berapa…?
ada yang bisa jawab ga??? saya mau tanya…Hindia Belanda dikuasai raja dari tahun berapa…? sampai dengan tahun berapa…? terimakasih sebelumnya atas jawabannya.
semoga ya kita bisa meluruskan sejarah,
tapi cara gimana kita meluruskan buku-buku pendidikan sejarah disekolahan.
ijin ikutan nimbrung…
@ kang arif: kayaknya kita sepemikiran ni kang. bila ni dibiarkan terus menerus kayaknya anak cucu kita bakal salah kaprah dalam sejarah nich.
@kang kopral cepot: kira2 apakah pemutar balikan sejarah ini masih ada kaitannya dg sekutu kupret wong londho yo yang masih ingin menancapkan jajahannya di nusantara ini.?? maturnuwun
————
Kopral Cepot : sebenarnya bukan “pemutar balikan sejarah” tapi lebih pasnyah adl politisasi sejarah … ketika sejarah dijadikan alat untuk kepetingan tertentu … solusinya adalah “pe-logis-an” sejarah bahwa sejarah itu butuh penjelasan. Hatur tararengkyu
Ulasan yang amat menarik tentang sejarah penjajahan di Indonesia apalagi ditulis oleh pakarnya, Guru Besar Ilmu Sejarah Prof. Nina Herlina Lubis. Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara. Memang ketika di sekolah kita mengetahui bahwa Indonesia diajah oleh Belanda selama 350 tahun dan dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun.
Pengertian penjajahan itu menurut Anda apa ? Penjajahan itu bukan Belanda. Penjajahan itu bukan Jepang. Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea pertama berbunyi : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
Jadi penjajahan itu hakekatnya adalah nafsu serakah menguasai hak-hak orang lain/pihak lain/bangsa lain. Nafsu serakah yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Nafsu serakah ini harus dihapus dari muka bumi ini. Itulah makna penjajahan. Trims sharingnya. Artikel ‘Belanda Tidak Pernah Menjajah Ratusan Tahun di Indonesia’ ini menambah wawasan kita untuk memahami sejarah Indonesia dengan lebih dalam. Salam sukses.
————-
Kopral Cepot : Stubuh .. salam sukses kembali n hatur tararengkyu
saatnya kita bangkit dari dalam lubang penjajahan
I LIKE THIS
Tulisan yang sangat bagus kang…
Sekaligus dengan adanya tulisan ini dapat mengubah paradigma kita,,bahwa Indonesia bukanlah negara terjajah…
Harus semangat lagi untuk membangun Indonesia.
sesuatu yang sangat berharga untuk mengetahui sejarah yang sebenarnya