Bermula dari penelusuran pemikiran Hatta tentang Demokrasi yang pada tulisan “Hatta dan Demokrasi Kita ” tertulis : hampir semua tokoh nasionalis radikal seperti Radjiman Widjodiningrat, Cipto Mangunkusumo, Soewardi Soerjaningrat, Douwes Dekker, Armijn Pane, Sanusi Pane, dan Mohammad Yamin adalah anggota Theosophy. Tergelitik untuk menelusuri jejak perkumpulan teosofi di Indonesia karena bagaimanapun perkumpulan ini banyak mempengaruhi para tokoh nasionalis pendiri bangsa termasuk Soekarno.

Masa kecil Sukarno di Surabaya diwarnai dengan gemblengan dalam perpustakaan teosofi lantaran ayahnya, Sukemi, adalah anggota aktif Theosophy. “Bapakku seorang teosof. Karena itu, aku boleh memasuki peti harta ini (maksudnya perpustakaan). Aku menyelam lama sekali ke dunia kebatinan ini. Dan di sana aku bertemu dengan orang-orang besar. Cita-cita mereka adalah pendirian dasarku…,” demikian ditulis Sukarno suatu ketika. Akibatnya, kecenderungan pemikiran Sukarno yang sinkretis-mencampur-adukkan berbagai isme seperti Nasakom-adalah pancaran dari pendidikan teosofinya itu. Baca entri selengkapnya »

Tersebutlah sebuah risalah yang hadir di suatu hari pada tahun 1960. Adapun risalah yang ditulis di majalah Panji Masyarakat itu adalah karya Mohammad Hatta, yang mengakibatkan Sukarno berang. Majalah itu dilarang terbit. Tulisan berisi kritik terhadap Demokrasi Terpimpin itu mungkin menjadi salah satu renungan terbaik perihal demokrasi yang pernah kita miliki. Agaknya, Hatta kecewa dengan tabiat dan pembawaan flamboyan Sukarno, yang mempermainkan tata negara. Tetapi harapannya tidak ciut: “Demokrasi bisa tertindas sementara, karena kesalahannya sendiri. Tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsafan,” demikian tutur Hatta.

Penilaian politik yang dikemukakan oleh Bung Hatta ini mendapat perhatian penuh dari peminat-peminat politik, baik didalam dan diluar negeri. Hanya sayang pada waktu itu selain “Pandji Masyarakat” dilarang terbit dan keluar pula larangan membaca, menyiarkan bahkan menyimpan buku itu. Satu pikiran yang briliant dari salah seorang Proklamator Kemerdekaan dilarang keras untuk dibaca dan diancam hukuman barang siapa kedapatan menyimpan  buku tersebut. Baca entri selengkapnya »

Ada satu artikel menarik yang bersumber dari apakabar@clark.net berkaitan dengan berbagai konspirasi menjelang meletusnya Gerakan 30 September 1965. Artikel ini memberi sudut pandang baru mengenai siapa yang bermain sekaligus yang punya hajat di balik gerakan yang bermuara pada kejatuhan Presiden Sukarno pada 1966 tersebut.

Sudut pandang baru yang dimaksud adalah keterlibatan jaringan intelijen binaan Van der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur di era penjajahan Belanda, dalam merajut persekutuan badan intelijen Amerika CIA dan badan intelijen Inggris MI-6. Sejauhmana validitas dan akurasi tulisan ini, kami serahkan sepenuhnya pada penilaian sidang pembaca. Ikuti kisah selengkapnya di bawah ini.

Semasa penjajahan Belanda di Indonesia, ada seorang pejabat pemerintahan kolonia Belanda yang namanya cukup sohor di kawasan Jawa Timur Dial ah Chr Van der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur. Baca entri selengkapnya »

Bosscha, terutama bagi generasi sekarang, terlanjur identik dengan tempat peneropongan bintang di Lembang, lima belas kilometer di utara Bandung. Di mesin pencari (search engine) di internet, sama saja. Mengetik kata “Bosscha”, yang tersaji pertama pada kita adalah artikel-artikel yang berhubungan dengan observatorium tertua di Indonesia tersebut, selain tulisan yang menampilkan biografi tokoh kelahiran Den Haag, Belanda, 15 Mei 1865 itu. Padahal, untuk mengenal Karel Albert Rudolf Bosscha –demikian nama lengkapnya– orang mesti datang ke perkebunan teh Malabar, Pangalengan, sekitar lima puluh kilometer di selatan Bandung. Di sana, di tempat yang paling ia cintai itu, tercecer banyak cerita yang acap luput tercatat dalam buku-buku sejarah.

“Anda boleh tidak percaya, tetapi para pekerja perkebunan yang sudah tua seperti saya ini percaya Bosscha masih ada di sini. Setiap jam sembilan pagi ia duduk di kursi itu, berjemur sambil membaca koran sebelum mulai berkeliling mengawasi para pekerjanya,” begitu kata Upir (56), penunggu makam Bosscha sambil menunjuk kursi kayu di sebelah timur monumen makam. baca lanjutannya

Dijual secara lelang, patung perunggu bersejarah setinggi 8 meter. Patung karya seniman Saptoto tersebut saat ini berdiri megah di kawasan wisata bertaraf internasional di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Kepada peminat bisa silahkan mengirimkan penawaran melalui email : bungasejati@gmail.com

Sold by auction, historic bronze statue as high as 8 meters. Sculpture by artists such Saptoto currently stands grandly in the area of international tourism in the village of Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Pacitan. To the enthusiasts could please send offers via email: bungasejati@gmail.com baca informasi selengkapnya

Menggugat (Pelajaran) Sejarah

Posted: Juli 16, 2010 by kopral cepot in Blog n Me
Tag:, ,

oleh : Sujiwo Tejo

Teman-teman, jika pun revolusi sudah saatnya harus terjadi, mari kita berdoa agar peristiwa itu berlangsung dengan sangat damai dan indah. Dan sehabis itu kita dapat bersekolah dan kuliah dengan lebih tenang, karena para orangtua lebih leluasa mecari membuat dan mencari lapangan kerja. Anak-anak kecil kembali riang di atas-atas pematang sawah dengan matahari pagi yang syahdu.

Baca entri selengkapnya »

Abad 20 M Mahatma Gandhi memberi inspirasi bagi perjuangan di negeri-negeri jajahan dalam memperjuangkan melepas belenggu penjajahan tak terkecuali para pejuang pergerakan di tanah air Indonesia. Mahatma Gandhi, yang terlahir di India tanggal 2 Oktober 1869 dengan nama Mohandas Karamchand Gandhi, dikenal sebagai figur yang memperjuangkan kemanusiaan dengan konsep ahimsa –tanpa kekerasan-. Melalui perjuangannya, kasta Sudra – yaitu golongan kelas bawah atau budak di India -yang sebelumnya dikucilkan, mulai mendapat perlakuan yang lebih manusiawi. Gandhi juga memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang sebelumnya sangat tertindas di India. Melalui perjuangannya yang tak kenal lelah, akhirnya India memperoleh kemerdekaan dari Inggris. Baca entri selengkapnya »

Mengagas Sunda Masa Depan

Posted: Juli 9, 2010 by kopral cepot in Wacana Kini
Tag:, ,


*Oleh H. M. Didi Turmudzi

MASYARAKAT Sunda memerlukan strategi kebudayaan (culture strategy) untuk menyongsong masa depan. Strategi kebudayaan ialah sesusun agenda atau rancangan kebijakan yang memungkinkan wawasan dan pengetahuan budaya direalisasikan dalam perubahan tatanan kehidupan bersama ke arah yang lebih baik. Strategi ini bersifat holistik dalam cakupannya dan bersifat jangka panjang dalam jangkauannya.

Harus diakui, gagasan seperti ini bukan gagasan baru. Paling tidak, selama ini sempat tercetus aspirasi kolektif untuk merumuskan visi Sunda masa depan, khususnya ketika kita mulai memasuki milenium baru. Pada masa kepemimpinan Gubernur R. Nuriana, misalnya, elemen-elemen masyarakat Sunda pernah bertemu dan bertukar pikiran mengenai berbagai aspek kesundaan. Namun, dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh forum-forum seperti itu masih memerlukan langkah-langkah sosialisasi yang lebih jauh agar substansinya benar-benar menjadi muatan pikiran bersama dan pada gilirannya dapat menjadi inspirasi bagi perumusan kebijakan publik. Baca entri selengkapnya »

Indonesia adalah negara yang bersejarah. Banyak sekali tragedi atau peristiwa yang terjadi di negeri Indonesia. Mulai dari masa prasejarah, masa kerajaan, masa kolonial hangga masa kemerdekaan mewarnai sejarah panjang negeri kita ini.

Sebagai warga Indonesia, sudah sepantasnya bagi kita untuk mengenali sejarah- sejarah yang telah terjadi di negeri kita ini. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menjadikan sejarah itu sebagai sebuah refleksi untuk melangkah ke depan menggapai cita-cita.

Istilah sejarah lokal di Indonesia kerap digunakan pula sebagai sejarah daerah, sedangkan di Barat disamping dikenal istilah local history juga community history, atau neighborhood history, maupun nearby history.

Baca entri selengkapnya »

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran , maka hendaklah ia melawan kemungkaran itu dengan jalan revolusi. Jika tidak mampu, maka lawanlah dengan menggalang aksi solidarity, dan kalau tidak sanggup, maka lawanlah dengan tulisan. Dan menjadi blogger  itu adalah selemah-lemah ideologi.”

Hanya satu kata pada kemungkaran yaitu LAWAN !!!, Melawan tidak menunggu usia veteran saat sudah tidak memiliki kue peran dalam kekuasaan,  melawan bukan ajang narsis demi eksis di ruang fesbukis, melawan tak pandang zaman sepanjang jalan jajahan dipenuhi semak belukar kaum barbar, melawan tak menunggu pintar dengan selusin gelar dari meja belajar, melawan adalah nurani imani dan ideologi modal dasar melahirkan nyali yang memaksa diri melakukan aksi.

Baca entri selengkapnya »

Ditutupnya layanan GeoCities (Free) oleh Yahoo! bukanlah berita baru, terhitung sejak 26 Oktober 2009 layanan ini tak bisa diakses kembali, banyak link yang sudah di “Bookmark” menjadi sia-sia saat dibuka karena yang di dapat jawaban “Sorry, GeoCities has closed” :( , sungguh disayangkan padahal banyak artikel yang bermanfaat telah banyak di posting sebelum era nge-Blog atawa mikroblog menjamur seperti sekarang ini.

Hari ini tanpa sengaja saat “tanya-tanya” Mbah nGoogle si baek banget, kaget bin ngarenjag’s ternyata artikel yang pernah nongol di “Geocities” kembali nampang di “Reocities“. Alhamdulillah ternyata artikel-artikelnya masih utuh dan salah satunya ada di sini ….

Baca entri selengkapnya »

‘Imaduddin Abdurrahim (alm), pada tahun 1962 bersama enam rekan aktifis Islam, ia menyatakan kekecewaannya kepada Bung Hatta.  “Kami, para pemuda Islam, sangat kecewa kepada Bapak, karena kami menganggap Bapak tidak bertanggung jawab kepada bangsa ini …. Bapak meninggalkan kursi kewakilpresidenan. Padahal, Bapak tahu kalau Sukarno tidak pernah mendengarkan perkataan orang lain kecuali kalau Hatta yang bicara. Sekarang, setelah Bapak meninggalkan dia, dia jadi merajalela. Buku Bapak mengenai Ilmu Klasik itu saja dilarang.”

“Saya bangga pada kalian, karena walaupun kalian insinyur, kalian tetap memperhatikan politik …. Untuk menjadi pemimpin politik, orang tidak perlu pintar-pintar seperti kalian. Orang yang pandai omong berapi-api tetapi bohong bisa menjadi pemimpin politik …. Yang penting adalah bagaimana mendidik kader yang betul-betul bertanggung jawab, pintar, ikhlas, bertakwa dan sebagainya.”

Baca entri selengkapnya »

Kini, alhamdulillah, saya mulai bisa melepaskan PKS dari hati saya, dari pikiran saya, dan saya malah merasa plong. Selamat tinggal PKS. Pembicaraan dan pikiran mengenai PKS sudah sama sekali tidak menarik minat saya lagi, sudah sama seperti ketika membicarakan partai-partai politik yang lain. Dengan hati yang yakin, mantap dan ringan, dengan menyebut asma Allah Ta’ala, saya menyatakan menutup blog ini. (PKS Watch)

Di tahun 2006 saya pernah “dibisiki” seorang teman tentang blog yang bikin geger anak-anak PKS setidaknya ditingkat “akar rumput”, blog yang kemudian saya coba buka-buka karena penasaran ada apa di blog ini ?. “DOS” admin dari PKS Watch banyak menyajikan tulisan-tulisan yang saya yakin bisa “memerahkan telinga” para petinggi elit partai yang menjunjung tinggi “kepedulian”, “kebersihan” dan “profesional” dan juga tentunya pro dan kontra atas setiap tulisan dan komentar mewarnai blog dengan rating yang tinggi yang membuat iri para blogger di jamannya ;) , saya juga sempet kepikiran untuk memiliki blog semacam ini hanya saat itu belum punya nyali :P .

Baca entri selengkapnya »

“Sjahadan antara boedak-boedaknya Toean Van Der Ploegh, ada djoega satoe orang prampoean moeda, Rossina namanja jang teramat tjantik dan manis parasnja, dan dalem antero bilangan Betawi tiada ada lagi seorang prampoean jang boleh disamaken padanya. Maskipoen Rossina asal toeroenannja orang Bali, koelitnya tiada hitem, malahan poetih koening sebagai koelit langsep. Oemoernja moeda sekali, belon anem belas taoen.

Apabila Njonja Van der Ploegh pergi melantjong atau pergi di gredja, Rossina selamanja di adjak boeat bawa tempat siri. Dimana tempat ia liwat, senantiasa Rossina dipandeng dan dipoedji orang kerna eloknya. Pakeannya tiada sebrapa bagoes, sedang sadja, jaitoe badjoe koeroeng poetih pendek sampai diwates pinggang dan kain batik, aken tetapi pinggangnja jang langsing ada teriket dengan pending mas, taboer berliant.

Baca entri selengkapnya »

Halaman: 1 2 3 4 5

Penumpasan DI/TII termuat dalam Rencana Pokok (RP) dan Rencana Operasi (RO), sebagai berikut : pada tahun 1958 merupakan tahun kebangkitan pemikiran Kodam III/Siliwangi ke arah pemulihan keamanan di Jawa Barat yang lebih efektif dan efisien. Kemudian lahirnya konsep Perang Wilayah (sudah disahkan dengan Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 merupakan manifestasi dari Undang-undang Dasar 45, pasal 30 ayat 1, yang menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara. Sementara itu penelitian anti gerilya berjalan terus, dan diantaranya keluarlah Rencana Pokok 211 (RP 211) yang berbunyi “Membatasi gerak dari lawan”.

Menyesuaikan dengan mobilitas DI/TII, maka keluarlah pada waktu itu Rencana Operasi 212 pada 1 Desember 1959. Kemudian bulan Pebruari 1961 dikeluarkan Rencana Operasi 2121 (RO 2121) yang merupakan percepatan dari RO 212, isinya berupa kebijaksanaan bahwa pemulihan keamanan untuk wilayah Jawa Barat akan diselesaikan dalam jangka waktu itu, hanya sampai tahun 1965. Tetapi dalam RO 2121 jangka waktu itu hanya sampai dengan tahun 1962.

Baca entri selengkapnya »